Penulis Topik: Mengapa Harus Belajar Logika  (Dibaca 18 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Mengapa Harus Belajar Logika
« pada: Desember 06, 2017, 01:18:55 PM »
SB : Cinta dan Logika
====================
1. Mengapa Harus Belajar Logika
1.1. Bahasa Logika

Jumlah Karakter : 9.626
Kira-kira : 5 halaman A5
====================

1. Mengapa Harus Belajar Logika
Edisi : 06 Desember 2017, 11:49:27

CAK IPUNG, [10.11.17 14:22]
Anak saya yang SMA kelas 2 bertanya pelajaran matematika.

Untuk apa mencari Y??? Untuk apa yang tidak ada itu dicari?

Padahal saya cuman mencari uang yang jelas di depan mata dan itu saya butuhkan?

Kang Asep, [10.11.17 14:33]
Pada kesempatan ini, saya tidak bemaksud untuk menjawab pertanyaan anak Cak Ipung. Lagi pula Cak Ipung tidak bermaksud mencari jawaban atas pertanyaan anaknya dari saya. Tapi pertanyaan anaknya Cak Ipung mengingatkan saya pada pertanyaan-pertanyaan serupa yang pernah diajukan pada saya . Pertanyaan serupa ini, sudah sering ditanyakan di grup Logika Filsafat, sejak yang versi whatsapp.  Dan ini juga merupakan pertanyaan yang sering saya ajukan dulu, ketika saya kuliah tentang kalkulus.  Dan pertanyaan seperti itu juga ditanyakan terhadap persoalan ilmu logika, ada yang bertanya, "mengapa kita harus belajar logika yang rumit ? Mengapa kita harus memikirkan vaiabel ABC dan tabel kebenarannya ? Tidakkah kita dapat hidup dengan sederhana, di desa, dengan damai, tetapi cukup sandang dan pangan ?

Sebenarnya sudah sering saya memberikan jawaban dari pertanyaan tersebut dengan jawaban yang panjang lebar. Dan mengulanginya lagi memberi jawaban dengan sabar pada kesempatan lain. Tapi, bila saya sedang tidak ingin menjawab dengan penjang lebar, maka jawaban saya pendek, "jika Anda belum mengerti mengapa kita harus belajar ilmu logika, maka tidak usahlah belajar. Jika Anda sudah mengerti di mana pentingnya ilmu logika bagi hidup Anda, maka silahkan datang kembali, temui saya, dan mari kita belajar bersama !"

Sebelum membeli sesuatu, sudah barang tentu orang mengetahui apa manfaat barang tersebut baginya sehingga dibeli. Apabila saya menawari anda sebuah barang untuk Anda beli, sudah pasti Anda ingin tahu dulu, apa manfaat barang itu untuk Anda. Karena Anda tidak ingin mengeluarkan uang Anda untuk sesuatu yang Anda tidak tahu gunanya. Tapi, ketika saya bekerja di sebuah toko ATK, saya tidak perlu banyak memberi penjelasan kepada pelanggan, tentang apa manfaat masing-masing barang di toko tersebut.  Pemilik toko hanya menyediakan barang-barang keperluan ATK. Mereka yang membeli barang-barang tersebut, berarti sudah mengerti kegunaannya. Tidak perlu saya jelaskan lagi. Tapi ada satu dua orang yang melihat benda asing baginya, lalu dia bertanya, "Ini fungsinya buat apa ya ?"

"Oh.. Membuka biji stapler." saya jawab.

"biji stpaler itu yang bagaimana ya ?" tanya dia lagi.

"Itu biji hekter, kan pake atom atau etona, digunakan untuk menjepit kertas. Nah, kalau mau dibuka lagi, bisa pakai itu." jawab saya.

"lho.. Kenapa harus pakai ginian, kan jepit kerjas gampang  tinggal cabut aja ?" tanyanya lagi.

"pake itu lebih gampang, tinggal tekan, capitannya terbuka dan cabut."

"Pake jari tangan juga bisa kan ? Lebih prakti malah."

"iya." jawab saya.

Dalam batin saya, "kalau tak mengerti gunanya, ya sudah gak usah beli. Ribet amat sih ni orang."

Intinya orang itu ingin mengerti apa kegunaan alat itu tapi dengan cara berusaha menunjukan bahwa alat itu tak berguna. Demikian pula, sebagian orang ada yang ingin mengerti kegunaan logika, tapi dengan cara berusaha menunjukan kalau logika itu tak berguna, sehingga mengajukan banyak pertanyaan yang tidak fungsinal dan efektif.

Apabila orang diajak untuk belajar ilmu logika, tentu ingin mengetahui dulu apa manfaat ilmu logika tersebut baginya. Karena itu, saya menyusun buku "Pengantar Ilmu Logika", yang berisi tentang gambaran manfaat-manfaat ilmu logika, motivasi belajar ilmu logika atau alasan-alasan mengapa harus belajar ilmu logika. Jika setelah membaca buku tersebut orang mengerti alasan "mengapa harus belajar ilmu logika" maka mari  lanjutkan "belajar bersama".  Tapi bila masih belum mengerti, maka dia tidak harus belajar atau bergabung dengan kami di komunitas para pemikir logic. Silahkan cari dan temukan alasan bagi dirinya sendiri, di mana pentingnya ilmu logika untuk hidupnya. Setelah menemukan alasan-alasannya tersebut, maka ingatlah pada komunitas Para Pemikir, di mana di situ para pemikir logic berkumpul, lalu bergabunglah !

1.1. Bahasa Logika
 Edisi : 06 Desember 2017, 11:00:34

Russel : dalam percobaan yang dilakukan secara serius  tidaklah selayaknya kita tempuh dengan menggunakan bahasa biasa. Sebab susunan bahasa biasa itu selain buruk, juga bermakna ganda arti. Oleh karena itu saya bermaksud meyakinkan bahwa sikap bersikeras atau kepala batu untuk tetap menggunakan bahasa biasa dalam mengungkapkan pemikiran kita adalah penghalang besar bagi kemajuan filsafat(3) (Drs. Rizal Mustansyir, Filsafat Analitik, Hal.  40)

Bahasa biasa juga disebut dengan "Bahasa Sehari-hari". Keterbatasn dalam bahasa sehari-hari, memaksa kita untuk berbicara dengan bahasa logika. Dalam bahasa sehari-hari, orang dapat berkata, "jika saya lapar, maka saya makan".  Tapi seperti kata Russel, itu bisa ganda arti atau ganda makna. Karena apabila dia tidak makan berarti dia tidak lapar. Tapi apabila dia makan, apakah sudah pasti dia lapar ? Belum tentu. Pernyataan "jika-maka" dalam bahasa sehari-hari selalu ganda makna. Karena itu, diperlukan bahasa logika, untuk menghindari kesalahan ungkapan dan penafsiran. Terkait dengan contoh tadi, ada dua makna :

1) jika saya lapar, maka saya makan. Tapi jika saya makan, belum tentu saya lapar.
2) jika saya lapar, maka saya makan. Dan jika saya makan, berarti saya lapar.

Untuk menyatakan meksud yang kedua, dalam bahasa logika digunakan "jika dan hanya jika", yakni "jika dan hanya jika lapar, maka saya makan".  Dalam bahasa sehari-hari, orang tidak terbiasa mengatakan "jika dan hanya jika". Bahasa seperti ini hanya ditemukan dalam bahasa logika dan matematika. Bisa saja bahasa logika ini diterapkan di dalam sehari-hari, terutama kalau lawan bicara adalah sesama logicer. Tapi penggunaan "jika dan hanya jika" tidak pernah saya dengar atau baca dalam  pidato-pidator resmi, orasi-orasi atau surat menyurat di perkantoran.

Contoh lainnya yang tidak ditemukan dalam bahasa sehari-hari adalah penggunaan "atawa", "Dan Atau", "Bukan Dan" serta "bukan atau".  Masih banyak bahasa-bahasa logika yang tidak ditemukan padanan katanya dalam bahasa sehari-hari, tapi kita ambil sedikit contoh saja.

Misalnya,

Rizal : Mana kah wanita cantik yang kau sukai, Nabilah Ratna Ayu atau Indiana Massara ?
Kang Asep : dua-duanya cantik dan saya sukai

Rizal : di mana kang Asep sekarang berada, di Bandung atau di Jakarta ?
Kang Asep : Di Bandung.

Pertanyaan pertama dan kedua sama-sama menggunakan kata "atau". Tapi itu bisa ganda makna, untuk pertanyaan pertama :

1) Rizal bermaksud mempersilahkan saya memilih salah satu dan tak bisa atau tak boleh keduanya saya pilih sebagai "yang cantikd an saya sukai".
2) Rizal bermaksud mempersilankan saya memilih salah satu atau keduanya.

Demikian pula untuk pilihan kedua, Bandung dan Jakarta, apakah dua-duanya bisa dipilih secara bersamaan ataukah tidak. Untuk memahaminya, dalam bahasa sehari-hari harus dilihat dari konteksnya. Dari dua pernyataan di atas, melihat konteksnya jelas bahwa maksud pertanyaan pertama itu adalah "dan atau", sedangkan pertanyaan kedua itu adalah "xatau" alias "Xor".  Tapi, konteks tidak selalu dapat dilihat. Seperti Contoh berikut :

Contoh Pertama :
ayah : ayah punya dua hadiah. Pertama dalam kemasan hijau. Dan kedua dalam kemasan merah. Mana yang kamu inginkan , dalam kemasan hijau atau merah ?

Anak terdiam, dia bertanya-tanya, apakah dia boleh memilih keduanya ?

Coba kalau dalam bahasa logika, si ayah berkata, "mana hadiah yang ingin kamu pilih, kemasan hijau xatau merah ?" maka itu pasti artinya "hanya dapat dipilh salah satu".

Contoh Kedua :

Tedi berkata, "Kang Asep, besok atau lusa saya akan mampir ke rumah kang Asep."

Saya bertanya-tanya, apa maksud Tedi. Apakah maksudnya jika esok ke rumah saya, maka lusa tidak datang. Jika lusa datang makan esok tidak. Atau bisa saja esok datang, pun juga lusa. Ataukah dia akan datang kapapun dia hendak datang ?

Ada banyak arti, ada banyak penafsiran.  Tapi kalau tedi berkata, "esok xatau lusa saya akan mampir ke rumah kang Asep", itu berarti jika esok datang ke rumah, maka lusa tak akan datang. Jika esok tak datang, maka lusa pasti datang. Jika esok dan lusa tidak datang, berarti Tedi berbohong.

Contoh ketiga :

"Saya adalah seorang guru atau seorang seniman".

Ternyata saya seorang guru, tapi bukan seniman. Maka pernyataan di atas tidaklah bohong.
Ternyata saya seorang seniman, dan bukan seorang guru. Maka pernyataan di atas tidak pula bohong.
Tapi bagaimana bila saya saya seorang guru sekaligus seorang seniman, apakah pernyataan di atas bohong ?

Itu bisa multitafsir. Bisa jadi dikatakan bohong, bisa jadi tidak bohong. Bahasa Logika berguna untuk menghindarkan kesalahan penafsiran seperti itu, dengan penggunakan "xatau" untuk pilihan ekslusif, serta "dan atau" untuk non ekslusif"

"Saya adalah guru xatau seniman".

Ternyata saya adalah guru sekaligus seniman. Berarti pernyataan di atas bohong.

Tapi istilah "xatau" juga "dan atau" tidak ditemukan dalam bahasa sehari-hari. Sedangkan mengetahui kejelasan maksud di dalam bahasa filsafat khususnya, sangatlah penting. Karena itu Russel mengatakan "sikap bersikeras atau kepala batu untuk tetap menggunakan bahasa biasa dalam mengungkapkan pemikiran kita adalah penghalang besar bagi kemajuan filsafat."

Jadi, untuk menyelami dunia filsafat lebih jauh, Anda harus terbiasa menggunakan bahasa logika dan jangan berkeras kepala untuk tetap menggunakan bahasa sehari-hari saja. Untuk mengerti bahasa logika, tentu kita perlu mempelajari logika tersebut.

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
7 Jawaban
2107 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 10, 2017, 01:05:48 PM
oleh yakubcahaya
0 Jawaban
923 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 25, 2012, 09:17:02 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
6597 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 05, 2012, 04:14:12 PM
oleh Kang Asep
12 Jawaban
2845 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 03, 2012, 12:52:28 AM
oleh Kang Asep
32 Jawaban
9203 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 28, 2017, 01:42:02 AM
oleh Kang Asep
9 Jawaban
12568 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 23, 2013, 03:12:25 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
1486 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 13, 2013, 05:42:55 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
640 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 01, 2013, 02:41:46 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
496 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2016, 12:42:09 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
75 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 12, 2017, 01:03:42 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan