Penulis Topik: Hukum Akal Sehat  (Dibaca 1372 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Hukum Akal Sehat
« pada: Maret 15, 2015, 10:06:49 AM »

Hukum Akal Sehat
Edisi : 19 Oktober 2017, 05:56:21

Ada orang berkata, "Untuk memahami agama, tidak dibutuhkan ilmu logika". Benarkah ?

Bandingkan dengan pernyataan-pernyataan berikut :

1) untuk memahami agama, tidak dibutuhkan ilmu matematika
2) untuk memahami agama, tidak dibutuhkan teknologi
3) untuk memahami agama, tidak dibutuhkan ilmu psikologi
4) untuk memahami agama, tidak dibutuhkan ilmu fisika

Apakah itu semua benar ? Jika untuk memahami agama semua disiplin ilmu tersebut tidak dibutuhkan, maka untuk apa kita belajar matematika, logika, fisika ?

Ketika seseorang hendak menjadi hakim yang harus memutuskan perkara bagi waris secara adil, bukankah itu dibutuhkan ilmu matematika ? Bagaimana dengan hukum bayi tabung, halal atau haram ? Bagaimana pula dengan praktik meditasi, apakah itu termasuk pada praktik syirik atau bukan ? Lalu, ada juga kasus donor jantung, donor mata, kloning makhluk hidup, bagaimana hukum semua itu ? Selain itu, kalau kita berada di planet Mars atau di bulan, ke mana kita menghadap ketika shalat ? Bagaimana kita tahu, apakah suatu produk makanan itu mengandung lemak babi, apabila tidak mengujinya di laboratorium ilmiah ?

Mari kita belajar dari kasus warisan unta :
--------------------
sebelum meninggal, ada seseorang menulis surat wasiat sebagai berikut:

"Saya memiliki 17 unta, dan saya punya 3 anak laki-laki. Bagilah unta saya tersebut kepada anak-anakku, sehingga anak sulung saya, mendapat setengah dari seluruh unta saya (17), anakku yang kedua, mendapatkan 1/3 dari seluruh unta saya (17) dan putra bungsu saya, mendapatkan 1/9 dari seluruh Unta saya (17)."

Setelah orang tersebut meninggal, anak-anaknya kemudian membaca surat wasiat tersebut, dan mereka sangat bingung, dan berkata, "bagaimana kita bisa membagi 17 unta ini.?"

kemudian mereka datang kepada Imam Ali (AS), dan meminta pendapat imam ali (as).

Imam Ali (AS) berkata, "baiklah, aku akan membagi 17 unta tersebut, sesuai dengan surat wasiat yang disebutkan."

kemudian Imam Ali (AS) berkata, "Aku akan meminjamkan satu untaku, sehingga totalnya menjadi 18 (17 +1 = 18), dan memungkinkan untuk membagi unta tersebut, sesuai surat wasiat."

Anak sulung, mendapat 1/2, dari 18 unta = 9
anak Kedua, mendapat 1/3, dari 18 unta = 6
anak Bungsu, mendapat 1/9, dari 18 unta = 2

jumlah unta = 17 (9 + 6 + 2 = 17)

Kemudian Imam Ali (AS) berkata, "Sekarang, aku akan mengambil untaku kembali."
==============

Jadi, untuk dapat menjadi hakim bagi waris yang adil, bukankah di situ diperlukan logika matematika yang kuat ? Lalu, bagaimana orang berkata, "untuk beragama tidak butuh ilmu logika ?"

Imam Ali adalah orang yang cerdas, yang dapat menjawa setiap pertanyaan dan sepanjang hayatnya tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban, "aku tidak tahu". Dia menjawab pertanyaan apapun dengan benar, walaupun pertanyaan itu dilakukan untuk sekedar mengolok-ngolok atau menguji pengetahuan dan kecerdasan imam Ali. Seandainya imam Ali tidak dapat menjawabnya, orang Yahudi dan Nasrani akan berkata, "Sahabat Muhammad adalah seorang yang bodoh." Tapi imam Ali dapat menjawab segala pertanyaan dalam segala bidang disiplin ilmu. Mari simak lagi contohnya :

-----------------
Bilangan Bulat dan bilangan Pecahan

Suatu Hari, seorang Yahudi datang kepada Imam Ali (as.), untuk menguji kecerdasan Imam Ali (as.), “aku akan bertanya kepadanya, sebuah pertanyaan yang sulit untuk ia jawab, aku yakin, dia tidak akan mampu menjawabnya dan aku akan memiliki kesempatan untuk mempermalukannya di depan semua orang Arab”.

orang yahudi itu bertanya, “Imam Ali, katakan kepadaku tentang sebuah angka, yang ketika kita, membagi angka tersebut, dengan angka 1 sampai 10, jawabannya yaitu selalu bilangan bulat, dan bukan bilangan pecahan?”

Imam Ali (as.) menjawab, “hitunglah jumlah hari dalam setahun, dan kalikan dengan jumlah hari dalam seminggu, dan Anda akan memiliki jawaban Anda.”

lalu Orang Yahudi itu, menghitung jawaban Imam Ali (as), yang diberikan kepadanya.

Kemudian, ia menemukan hasilnya sebagai berikut:
- Jumlah Hari dalam 1 Tahun = 360 (kalender Arab)
- Jumlah Hari dalam 1 Minggu = 7
- hasil perkalian dari dua angka diatas = 360×7 = 2520

Sekarang buktikan …

2520 ÷ 1 = 2520
2520 ÷ 2 = 1260
2520 ÷ 3 = 840
2520 ÷ 4 = 630
2520 ÷ 5 = 504
2520 ÷ 6 = 420
2520 ÷ 7 = 360
2520 ÷ 8 = 315
2520 ÷ 9 = 280
2520 ÷ 10 = 252
============

juga tentang kisah lima roti
---------------
Zar Bin Hobeish, menceritakan kisah ini: Dua pengembara duduk bersama dan mereka makan roti. pengembara pertama, mempunyai 5 roti; pengembara kedua, mempunyai 3 roti. lalu datanglah Pengembara ketiga, melintas di depan mereka, dan atas permintaan dari pengembara pertama dan pengembara kedua, pengembara ketiga ini diajak untuk bergabung dan menikmati roti mereka. lalu Para pengembara memotong masing-masing roti yang jumlahnya 8, menjadi tiga bagian yang sama. Masing-masing dari pengembara tersebut, makan delapan potongan roti.

Pada saat pengembara ketiga meninggalkan keduanya, ia mengeluarkan uang sebesar 8 dirham, dan diberikan kepada kedua pengembara tersebut, yang telah menawarkan makanan kepadanya. Setelah menerima uang, kedua pengembara itu, mulai berselisih tentang pembagian uang tersebut. Pengembara pertama dengan 5 roti, meminta bagian, berupa uang lima dirham. Pengembara kedua dengan tiga roti, bersikeras membagi uang, menjadi dua bagian yang sama (masing-masing 4 dirham ).

Perselisihan ini akhirnya dibawa kepada Imam Ali (as.).
Imam Ali (as.) meminta pengembara kedua, yang punya 3 roti, untuk menerima uang tiga dirham, karena pengembara pertama, yang punya lima roti, telah lebih adil kepada anda. Pengembara kedua, menolak dan mengatakan bahwa, ia akan bersikeras untuk mendapatkan uang empat dirham.

lalu Imam Ali (as.) menjawab, “Anda hanya berhak memiliki satu dirham. Anda berdua memiliki 8 roti (5+3). Setiap roti dipotong, menjadi tiga bagian yang sama. Oleh karena itu, Anda memiliki 24 bagian yang sama, 8×3 = 24. Tiga roti anda(pengembara yang kedua) menjadi 9 bagian, kemudian dari 9 bagian roti tersebut, telah Anda makan 8 porsi, dan anda hanya memberikan 1 porsi, untuk pengembara ketiga. (3×3)=9; 9-8 = 1.

pengembara pertama, yang memiliki 5 roti, kemudian dipotong menjadi 3 bagian yang sama, jadi 15 porsi. Ia makan 8 porsi, dan sisanya, yaitu 7 porsi, diberikan kepada pengembara ketiga.(5×3)=15; 15-8 = 7.

Jadi, pengembara kedua, harus mendapatkan satu dirham, dan pengembara pertama, harus menerima tujuh dirham.“
=============

Lalu bagaimana ada orang-orang bisa berkata, "untuk beragama tidak butuh ilmu matematika, tidak butuh ilmu logika ?

Sebelum persoalan tersebut dikupas lebih jauh, maka perhatikan perbedaan term-term berikut :

tidak menggunakan ilmu logika Aristoteles
enggan menggunakan ilmu logika Aristoteles
tidak mengerti ilmu logika
enggan menggunakan ilmu logika
tidak menggunakan logika
enggan menggunakan logika
menyangkal kebenaran ilmu logika
menyangkal logika

Masalah yang akan saya soroti pada kesempatan ini adalah mengenai "menyangkal logika dan ilmu logika" yang berarti penyangkalan terhadap "Hukum Akal Sehat".

Selama cara penafsiran seseorang terhadap ilmu agama tidak bertentangan dengan logika, maka ilmu logika tidak dibutuhkan olehnya. Tetapi, jika terjadi penalaran terhadap proposisi-Proposisi agama atau kitab suci, maka disitu jelas ilmu logika berperan penting untuk meluruskan. Dan awal mula perjuangan saya menyebarkan ilmu logika, karena menemukan fakta-fakta bahwa banyak orang atau kelompk yang membuat tafsiran-tafsiran terhadap kitab suci yang bertentangan dengan dengan hukum akal sehat, yaitu Logika.


Ada orang yang selalu menyangkal pentingnya peranan dan manfaat ilmu logika dalam memahami ilmu agama.  Agama seolah-olah menjadi penghalang bagi dia untuk mengerti dan setuju dengan ilmu logika.  Penyangkalan terhadap logika atas nama agama adalah mustahil, kecuali sesatnya agama orang itu. Untuk mengerti agama, memang seseorang tidak harus mempelajari ilmu logika, tetapi jelas harus menggunakan logika. Dan Logika dipelajari dalam ilmu logika.

Orang tadi berkata, "saya tidak butuh ilmu logika dalam memahami Agama Allah, tetapi cukuplah dengan akal sehat yang dianugrahkan Allah kepada saya." he...he.... Pertanyaannya, siapa yang dapat menilai dengan benar bahwa dia menggunakan akal sehat ? Dirinya sendiri ? Bagaimana cara dia membuktikannya ? Apakah dia dapat membuktikannya secara ilmiah atau logis ?

Walaupun dikatakan padanya bahwa ilmu logika adalah pintu gerbang segala ilmu, dunia akademi telah mengakuinya, dan tidak ada suatu cabang ilmu yang dapat mengabaikan ilmu ini, penyangkalan terhadap ilmu logika adalah mustahil, penggunaan ilmu logika adalah sebuah kemestian, tetapi orang itu tetap menyangkalnya, tidak setuju bahkan menentang kebenaran ilmu logika. Menurut dia, dalam memahami ilmu agama sama sekali tidak dibutuhkan ilmu logika. Dengan alasan, "Jika ilmu logika itu dibutuhkan dalam mempelajari ilmu agama, niscaya Rasul Allah akan mengajarkannya. Dan dengan memperhatikan para ulama salafu shaleh, cukup bagi mereka mempelajari agama itu dari al Quran dan Hadits. Tidak ada diantara para sahabat Nabi saw dan para tabiin yang memberi contoh bahwa mereka mempelajari ilmu logika. Jadi, keharusan mempelajari ilmu logika dalam beragama adalah suatu hal yang aneh, nyeleneh, tidak masuk akal, dan mengada-ada."

itu terdengar seperti "Nabi saw tidak pernah dakwah melalui whatsapp. Jika dakwah melalui whatsapp itu penting, pasti nabi memcontohkannya. Tidak ada satupun dari pada sahabat yang menggunakan whatsapp dalam mengajarkan agama. " suatu pemikiran yang konyol. Dakwah memang tidak harus dilakukan melalui chat messenger. Tetapi, ketika ajaran yang salah, seperti faham Islam radikal menyebar melalui medsos dan chat messenger, maka munculah "keharusan" atau "peran penting"dakwah melalui medsos. Logika pada mulanya tidak dibutuhkan. Tetapi, banyak penjahat yang menipu umat dengan melakukan manipulasi kata-kata. Kejahatan seperti ini akan mudah terbongkar oleh mereka yang mengerti ilmu logika. Disitulah kemudian dirasakan peran pentingnya ilmu logika.
,
Jika Anda menganggap Rasul Allah tidak menggunakan ilmu logika Aristoteles dalam beragama, maka Anda benar. Tapi jika Anda mengatakan Rasul Allah melarang kita menggunakan Logika Aristoteles dalam usaha memahami ajaran Allah dan RasulNya, maka Anda salah. Sebab, Allah dan RasulNya tidak pernah mengeluarkan larangan itu. Yang melarang dan mengharamkannya adalah Ibnu Taimiyah, yang tidak maksum dan belum tentu pendapatnya benar, kecuali mereka yang memang setuju dengan pendapat dan fatwa-fatwanya. Karena itu, Anda boleh tidak menggunakan ilmu logika dalam beragama, dan keputusan Anda itu bukannya tidak rasional, tapi penyangkalan Anda terhadap ilmu logika, itulah yang tidak rasional. Jika Anda mengharamkan ilmu logika, maka Anda mengharamkan apa yang Allah dan RasulNya tidak mengharamkan. Jika Anda mengatakan bahwa hukum-hukum logika itu keliru, maka perlu menunjukan bukti-buktinya dengan jelas.

Allah jelas memerintahkan manusia untuk menggunakan akal. Dan dia murka kepada orang yang tidak mempergunakan akalnya[1]. Sedangkan logika itu adalah Hukum Akal yang dieksplisitkan. Soal makna "mempergunakan akal" itu harus jelas cara yang benar dan kriterianya. Jika tidak, maka semua orang bisa mengklaim dengan seenaknya bahwa dirinya atau orang-orang pada kelompoknya telah menggunakan akal sehat dalam membuat sebuah keputusan. Tapi di sisi lain, dia tidak dapat menjelaskan "apa itu akal sehat, bagaimana cara yang benar dan kriteria di dalam menggunakan akal sehat itu ?" Akhirnya soal "bentuk dari menggunakan akal sehat" ini ditafsirkan berbeda-beda oleh masing-masing penafsir menurut selera mereka masing-masing. Karena itu, kita perlu menyelidiki Hukum dan Ketentuan Akal Sehat ini. Aristoteles telah membantu kita menyelidiki tentang hukum akal sehat ini dan menuangkannya dalam karya tulisnya, yang sekarang kita sebut sebagai "Ilmu Logika".

Hukum Akal Sehat itu adalah hukum Allah, sunnatullah. Ia merupakan bagian dari hukum Allah. Karena itu, Hukum Akal sehat ini dapat kita selidiki pada alam, yaitu pada diri sendiri, tepatnya pada pikiran yang berpikir. Lihat, perhatikan, dan amati pikiran sendiri oleh diri sendiri! Anda akan melihat bahwa pikiran tunduk pada hukum-hukum tertentu dalam berpikir, tidak bisa "asal berpikir". Ada syarat dan ketentuan untuk dapat dikatakan "berpikir dengan benar". Hukum-hukum yang harus dipatuhi agar pikiran tetap berpikir benar, maka itulah Hukum Akal Sehat.

Setelah dilihat, diperhatikan dan diamati, kemudian buat analisa, rumuskan masalah, ambil prinsip yang umum, buat hipotesa, lakukan eksperimen dan buatlah kesimpulan sebagaimana seharusnya yang dilakukan dalam prosedur ilmiah. Maka kesimpulan-kesimpulan ilmiah yang Anda lakukan terhadap data dan fakta gerakan dan sifat pikiran kaitannya dengan hukum-hukum yang mencegah pikiran dari dari kekeliruan berpikir itulah yang disebut Logika, atau hukum akal sehat yang diungkapkan dalam bentuk teori-teori. Sampai di sini, mana yang dimaksud dengan akal sehat dan mana yang bukan, menjadi jelas ukurannya, bersifat objektif, dapat dibuktikan secara ilmiah dan tidak lagi orang bisa mengklaim dengan seenaknya soal mana yang menggunakan akal sehat dan mana yang tidak.

___________________
 1)   Lihat Surah Yunus : 100

« Edit Terakhir: Oktober 18, 2017, 08:10:10 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Purnama

Re:Hukum Akal Sehat
« Jawab #1 pada: Desember 01, 2017, 08:05:46 PM »
Cerita tentang Imam Ali yang menjawab beberapa pertanyaan matematika tsb Kang Asep ambil dari kitab/buku apa?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Hukum Akal Sehat
« Jawab #2 pada: Desember 02, 2017, 08:46:30 AM »
dari buku "Untaian Kecerdasan sayyidina Ali bin Abi Thalib", Karya Muhammad Ridha al Hakimi yang diterjemahkan oleh Hussain al Kaff dan diterbitkan oleh Yayasan Al Jawad.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1086 Dilihat
Tulisan terakhir April 16, 2013, 03:42:02 PM
oleh Awal Dj
3 Jawaban
1623 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 29, 2015, 12:21:53 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
781 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 25, 2014, 03:07:36 PM
oleh aten
4 Jawaban
1485 Dilihat
Tulisan terakhir November 19, 2014, 02:29:45 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
425 Dilihat
Tulisan terakhir April 02, 2015, 12:49:26 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
368 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 29, 2015, 04:20:39 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
472 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 16, 2016, 01:36:21 AM
oleh Ziels
0 Jawaban
336 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 09, 2016, 03:13:02 PM
oleh Sultan
2 Jawaban
499 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 14, 2016, 04:32:05 PM
oleh Sultan
2 Jawaban
392 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 24, 2016, 04:34:28 PM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan