Penulis Topik: prosedur Berlogika  (Dibaca 1135 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
prosedur Berlogika
« pada: Juli 01, 2013, 07:03:40 AM »
Sang Buddha tidak mengajarkan teori Logika seperti Aristoteles. tapi, hal itu tidak berarti Logika tidak perlukan di dalam mempelajari ajaran sang Buddha. mungkin orang berpikir, "Bila teori logika seperti itu dibutuhkan untuk mempelajari dhamma, pastilah sang Buddha akan mengajarkannya. tapi faktanya, orang bisa memahami dhamma tanpa perlu mempelajari teori Logika Aristoteles". ini adalah sebuah rumusan permasalahan. para pengikut agama lain juga berpikir sama, "nabi kita tidak mengajarkan teori logika, jadi Logika Aristoteles secara praktis tidak dibutuhkan."

dalam logika digunakan cara-cara yang praktik dengan rumusan yang formal untuk menguji apakah sesuatu itu benar atau salah. karena essensi dari setiap proposisi itu sendiri adalah "benar" atau "salah". dalam menguji kebenaran, logika selalu fokus pada satu persatunya proposisi.

"Logika (Aristoteles) tidak dibutuhkan dalam mempelajari dhamma".

ini adalah sebuah proposisi, yang hanya memiliki satu kemungkinan "benar " atau "salah", tidak mungkin benar juga salah. tetapi bagaimana cara mengetahui apakah pernyataan tersebut benar atau salah?

prosedur di dalam Logika untuk menguji kebenaran sebuah proposisi/konklusi adalah dengan mengetahui argumentasinya. sebagai contoh.

Setiap A adalah C. < ---- ini adalah sebuah proposisi, yang belum diketahui apakah bernilai true (benar) or false (salah)

untuk mengetahuinya harus ditanyakan, "kenapa?" kenapa orang bisa mengatakan bahwa "Setiap A adalah C".

misalnya jawabannya adalah "karena A adalah B" ini adalah premis minor. dengan menyatakan premis minor, secara otomatis kita mengetahui premis mayornya. premis mayor dari argumentasi tersebut adalah "setiap B adalah C". premis ini seharusnya diakui oleh si pemilik premis minor tadi. kalau tidak, berarti orang tadi telah sesat berpikirnya. pertanyaan yang seharusnya adalah "Apakah benar setiap B adalah C?" jika jawabannya "ya", berarti proposisi "Setiap A adalah C" merupakan proposisi yang bernilai true (benar), bila jawabannya "tidak" berarti proposisi tadi bernilai false (salah).

apabila dirunut ke dalam bentuk syllogisme formal sebagai berikut :

setiap A adalah B
Setiap B adalah C

kesimpulan (terbukti benar) : Setiap A adalah B

Setiap A adalah B
Sebagian B adalah C
Kesimpulan (tidak terbukti benar) : setiap A adalah C

pada dasarnya rumusan logika sesederhana itu. rumus pokoknya adalah AAA. rumus pokok ini juga disebut intisari logika. artinya, kalau kita memahami dan menguasai satu rumusan ini saja, berarti menguasai logika secara keseluruhan. ini mudah. yang sulit adalah bagaimana menerapkan rumusan sederhana itu ke dalam berbagai proses berpikir yang biasa kita lakukan sehari-hari. salah satunya adalah ketika orang berpikir "Logika tidak dibutuhkan dalam mempelajari dhamma", maka logika bisa diterapkan di dalam proses berpikir ini, sehingga menjadi terang benderang, apakah pemikiran tersebut benar atau tidak.

sebelum menguji kebenaran segala macam bentuk proposisi, maka terlebih kita harus memilah proposisi tersebut ke dalam bentuk term subjek dan predikat, dan memastikan kita memahami maknanya dengan benar. "Logika" adalah term subjek. "yang dibutuhkan dalam memahami dhamma" adalah term predikat.

sekarang kita sudah memahami dengan jelas, apa itu logika. masalahnya, apakah kita sudah memahami dengan jelas, apa itu "yang dibutuhkan" dan apa itu "dhamma" ? pertanyaan ini adalah prosedur pertama dalam berlogika. bila sudah memahami dengan terang makna masing-masing term, maka berlanjut ke prosedur kedua, yaitu menemukan argumentasi dari proposisi / konklusi tersebut.

sementara sekian dulu dari saya. silahkan bila ada yang ingin menanggapi.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
5 Jawaban
4144 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 09, 2013, 11:06:02 PM
oleh kang radi
35 Jawaban
7579 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 18, 2013, 11:37:48 AM
oleh Kang Asep
Nabi adam berlogika

Dimulai oleh arya « 1 2 » Kupas Logika

15 Jawaban
3285 Dilihat
Tulisan terakhir April 29, 2015, 08:42:23 PM
oleh Kang Asep
10 Jawaban
5265 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 21, 2013, 04:43:23 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
621 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 15, 2015, 10:14:24 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan