Penulis Topik: Nyaya  (Dibaca 148 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Nyaya
« pada: Juli 26, 2017, 09:09:54 PM »
Dapat dikatakan Nyaya adalah sistem logika dalam Hinduisme. Lihat posisi Nyaya dalam struktur filsafat India :

Nyaya.png [2]

Ajaran Nyaya didirikan oleh Maharsi Aksapada Gotama, yang menyusun Nyayasutra, terdiri atas 5 adhyaya (bab) yang dibagi atas 5 pada (bagian). Kata Nyaya berarti penelitian analitis dan kritis. Ajaran ini berdasarka pada ilmu logika, sistematis, kronologis dan analitis. [1]

Dalam logika Aristoteles setiap susun pikiran secara formal terdiri dari tiga prposisi yang terdiri dari premis minor, mayor dan konklusi. Sedangkan dalam Naya, secara formal susun pikiran terdiri 5 proposisi, yang disebut :

1) Keyakinan (Prameya)
2) Alasan (Samsaya)
3) Contoh (Sakya)
4) Aplikasi (Prayojana)
5) Kesimpulan (Vyudasa)

Contoh :

1) Prameya : setiap malaikat akan mati
2) Samsaya : karena dia bernyawa
3) Sakya : Setiap yang bernyawa akan mati, contohnya manusia
4) Prayojana : Jadi, manusia itu akan mati
5) Vyudasa : Karena itu malaikat juga akan mati

Contoh lain :

1) Setiap kambing tidak bertelur
2) karena dia berdaun telinga
3) setiap yang berdaun telinga tidak bertelur, contohnya kelinci
4) jadi, kelinci tidak bertelur
5) karena itu, kambing juga tidak bertelur

Kunci nya terlak pada contoh. Jika ditemukan contoh yang membatalkan peniapan pada sakya, maka keyakinannya bernilai salah atau tak logis.

Sistem logika Nyaya ini pertama kali diperkenalkan kepada saya oleh seorang kawan di forum Buddhis. Intinya sama saja dengan logika Aristoteles, tetapi logika Nyaya ini lebih terasa cita rasa sastra nya. Itu seperti gaya berbeda dalam menggunakan nalar.

Bandingkan dengan sistem logika Aristoteles yang lebih simpel :

1) malaikat itu bernyawa
2) setiap yang bernyawa akan mati
3) jadi, malaikat akan mati

sebenarnya dalam susun pikiran Nyaya ,  Nomor 4 dan 5 hanyalah pengulangan nomor 1 dan 2. Jadi, dua nomor terakhir itu sebenarnya diilangkan. Dapat dipergunakan sebagai penguat dan uji konsistensi. Contoh susun pikiran yang tidak konsiseten :

1) Tahlilan itu bid`ah
2) karena itu perkara baru
3) setiap perkara baru adalah bid`ah, contohnya HP
4) tapi, HP tidak bid`ah
5) karena itu, tahlilah bukan bid`ah


Sungguh ajaib, bahwa kemunculan sistem Logika Hinduisme yang disebut Nyaya muncul hampir bersamaan dengan kemunculan Logika Yunani, yakni kurang lebih pada 4 abad sebelum Masehi.  Nyaya yang kemudian disusun dalam sebuah kitab yang disebut Nyayasutra dan Logika Yunani yang disusun dalam kitab Logicae, itu memiliki intisari ajaran yang sama. Bedanya logika Aristoteles dibukukan ketika Aristotelesnya masih hidup, sedangkan logika Nyaya baru dibukukan 2,5 kemudian, sejak disusunnya ilmu tersebut dalam tradisi lisan.

Nyayasutra diusun oleh Maharesi Gautama. Sedangkan Logicae oleh Aristoteles. Apakah Aristoteles telah belajar dari Maharesi Gautama ataukah sebaliknya, kitab Aristoteles telah sampai kepada Maharesi Gautama kemudian ditranslate ke dalam bahasa sansekerta ? Tidak tahu. Tapi rasanya tidak demikian. Walaupun intisari ajarannya sama, tetapi gaya logika nya menunjjukan tanda bahwa antara Maharesi Gautama dan Aristoteles tidak saling meniru. Salah satu perbedaan gaya nya adalah dalam bentuk syllogisme seperti yang dicontohkan di atas.

_____________
1) https://id.wikipedia.org/wiki/Sad_Darshana
2) https://www.slideshare.net/aeneas92/nyaya-pptx-baru-15682663
« Edit Terakhir: Juli 26, 2017, 09:12:19 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
867 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 01, 2013, 06:51:47 PM
oleh Sandy_dkk

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan