Penulis Topik: Logis  (Dibaca 401 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Logis
« pada: November 10, 2016, 04:13:41 PM »
Tujuan :
1)   Memahami arti dari "Logis"
2)   Memahami essensi dari konklusi
3)   Memahami perbedaan nilai “benar” dengan “Logis”
4)   Dapat memberikan contoh sesuatu yang logis, tapi salah
5)   Dapat memberikan contoh sesuatu yang tidak logis, tapi benar
6)     Memahami Problem yang terjadi dalam dunia diskusi terkait istilah "logis"
=============



Apa itu logis ?

Orang-orang mendefinisikan “logis” secara berbeda-beda. Berdasarkan prinsip Wilayah Kewenangan Definisi, tentu setiap orang boleh mendefinisikan “logis” dengan apapun, yang penting diterapkan pada wilayahnya sendiri dan konsisten. Sekurang-kurangnya terdapat lima kelompok pengertian “logis” yang berbeda, yaitu :

1)   Benar
2)   Masuk akal
3)   Rasional
4)   Berdasar pengetahuan
5)   Real
6)   Konsekuensi pasti dari fakta
7)   Konsekuensi pasti dari suatu pernyataan

Sebagaimana saya katakan, bahwa ketujuh definisi tersebut sah-sah saja, tidak bernilai benar maupun salah. Tetapi, kita tidak dapat mempergunakan semua definisi tersebut, karena akan menimbulkan kebingungan.  Adapun, dalam forum ini, logis didefinisikan dengan pengertian yang ke-7, yaitu  konsekuensi pasti dari suatu pernyataan. Hal ini terutama mengacu pada nilai Konklusi.

Contoh 1:

1)   Setiap A adalah B
2)   Setiap B adalah C
3)   Jadi, setiap A adalah C

Kalimat nomor 3 diatas merupakan konsekuensi pasti dari pernyataan 1 dan 2. Karena itu nilai pernyataan ke-3 tersebut disebut “logis”.

Logis tidak berarti benar. Dalam contoh di atas, kalimat ke-3 disebut konklusi logis, tetapi tidak bernilai benar maupun salah. Karena premis-premisnya tidak diketahui, apakah bernilai benar atau salah. Bahkan sesuatu yang logis, bisa jadi salah. Apabila premis-premisnya bernilai salah, maka konsekuensinya pun berisi proposisi yang bernilai salah, walaupun logis.

Benar juga tidak berarti logis. Contoh :

1)   Radit mencintai Susi
2)   Susi mencintai anaknya
3)   Jadi, Radit mencintai anak susi

Nilai ketiga proposisi di atas bisa saja semuanya benar, tetapi bila kalimat ketiga dimaksudkan sebagai konklusi, maka nilainya tidaklah logis.

Ringkasannya,

1)   benar atau salah merupakan essensi dari proposisi
2)   logis atau tidak logis adalah essensi dari konklusi
3)   Logis belum tentu benar, apalagi salah
4)   Ada konklusi logis yang proposisinya salah
5)   Ada konklusi logis yang proposisinya benar
6)   Ada konkusi yang tidak logis, tetapi propsisinya benar
7)   Ada konklusi yang tidak logis, dan proposisinya salah

Adapun alasan-alasan tidak digunakannya definisi lain untuk istilah “logis” adalah sebagai berikut :

Jika “logis” di definisikan sebagai “benar”, maka Logis = benar. Dengan demikian tidak ada perbedaan antara logis dengan benar. Essensi sebuah proposisi adalah benar atau salah, ini berarti dapat dikatakan “logis” atau “tidak logis”. Karena itu, untuk kemudahan membedakan nilai proposisi dengan nilai konklusi, maka “benar” dan “logis” perlu memiliki definisi yang berbeda,

Jika “logis” didefiinsikan sebagai “masuk akal”, maka biasanya hal ini akan diikuti oleh pertanyaan, “akalnya siapa?” karena, apa yang dirasa masuk akal oleh kita, belum tentu masuk akal bagi orang lain. Dan sebaliknya. Semua orang yang mendefinisikan “logis” dengan “masuk akal”, tidak pernah dapat mendefinisikan atau memberikan criteria yang jelas apa itu “mausk akal”, sehingga tampaknya istilah “masuk akal” ini sejenis “perasaan dapat mengerti”, yang sifatnya subjektif. Dengan demikian, tidak cocok dipergunakan dalam struktur bangunan ilmu logika dan filafat.

Jika logis diartikan sebagai rasional, maka perhatikan contoh berikut :

Contoh 2 :

Implikasi : Saya yakin, jika kamu tidak membayar utang pada saya, padahal kamu mampu bayar, maka rezeki kamu akan pindah 10 kali lipat pada saya dari jumlah utang kamu

Kenyataan : kamu tidak membayat utangmu

Konklusi, maka rezeki kamu akan pindah ke saya 10 kali lipat dari jumlah utangmu

Konklusi tersebut logis, tapi tidak rasional. Jika rasional, pastilah bank akan membiarkan nasabahnya tidak membayar utang.

Sebenarnya, untuk medefinisikan istilah “logis” dengan “konsekuensi pasti dari suatu pernyataan”, tidak perlu saya mengemukakan alasan-alasan mengapa tidak memilih mendefisikan yang lainnya. Alasan-alasan ini sekedar pelengkap saja dan sebagai peringatan pada anda yang mepergunakan definisi yang berbeda dengn yang saya tetapkan, bahwa dengan definisi lain itu anda akan dihadapkan pada berbagai kendala yang membingungkan dalam mempelajari logika dalam alam filsafat yang lebih luas nantinya.

Dalam tanya jawab seputar "logis", sering terjadi masalah sebagaimana contoh berikut :

Dialog Satu :
Teman : Kentut itu membatalkan wudhu. tapi yang dibasuh tidak duburnya, melainkan wajah. itu logis enggak ?
Saya : bukannya logis dan bukannya tidak logis
Teman : bagaimana ini ? kalo logis, berarti bukannya tak logis. kalo tak logis, berarti bukannya logis.
Saya : maksudnya itu bukan konklusi, jadi tidak memiliki nilai logis maupun tak logis.

Dialog Dua :
Saya : saya ke sini untuk mencari Bendo
Teman : Apakah dia itu laki-laki ?
saya : bukan laki-laki dan bukannya bukan laki-laki (perempuan)
Teman : Hah.. bagaimana ini ? kalo bukan laki-laki, ya pasti bukannya bukan laki-laki. kalo bukiannya bukan laki-laki, berarti laki-laki.
Saya : maksud saya, Bendo itu sejenis kopiah, bukan manusia. jadi tidak disebut laki-laki atau perempuan.

Bandingkan dialog satu dan dua ! beberapa hal yang perlu dicermati :

1) pernyataan "Bukan A dan Bukannya bukan A" disebut tetralemma. nanti akan ada pembahasannya secara khusus.
2) tetramlemma itu muncul dari pikiran yang terkurung dualisme seperti "logis dan tidak logis", "benar dan tidak benar"
3) untuk nilai proposisi ada nilai "benar" dan "salah", ada istilah yang digunakan sebagai lawan dari nilai benar, yaitu "salah". tetapi untuk inilai konklusi, tidak ada istilah yang digunakan untuk istilah "logis", kecuali bentuk negasinya, yaitu "tidak logis". dan ini menjadi problem yang sering mengacaukan alam pemikiran.
4) Tidak ada jawaban yang relevan untuk pertanyaan yang tidak relevan. Seprti pertanyaan Teman dengan Bendo. Dalam dunia diskusi, seringkali orang bersikukuh bahwa pertanyaannya benar, dan memaksa kita untuk memilih salah satu dari jawaban yang sebenarnya semuanya salah. jika kita memilih salah satu jawaban, maka kita bersalah. jika kita menjawab dengan jawaban lain yang tidak sesuai dengan pertanyaan, maka akan dipandang tidak relevan dengan pertanyaan. jika kita jawab tidak tahu, maka akan dipandang bodoh. padahal sebenarnya pertanyaannya itulah yang bodoh.

empat persoalan yang diuraikan di atas, sering terjadi berkaitan dengan istilah "logis" dan "tak logis". Untuk dapat mengatasi persoalan ini, anda perlu benar-benar memahami terlebih dahulu rumusan masalahnya dengan cara meyelami permasalahan ini dalam dialog-dialog filsafat.
« Edit Terakhir: Juli 30, 2017, 04:46:19 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
3629 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 17, 2015, 05:28:58 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
3568 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 04, 2013, 07:57:21 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
671 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 15, 2013, 08:30:28 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1222 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 11, 2014, 01:59:51 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
619 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 26, 2015, 10:29:07 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
582 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2015, 07:09:56 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
813 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 26, 2015, 12:01:45 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1061 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 28, 2015, 08:27:37 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
520 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 22, 2015, 07:42:36 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
113 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 25, 2018, 04:39:24 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan