Penulis Topik: Enam Hukum Dasar Logika  (Dibaca 5857 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Enam Hukum Dasar Logika
« pada: Maret 27, 2012, 04:39:05 AM »
Nomor : PST-KI/Log-011/127
Judul : Enam Hukum Dasar Logika
Edisi : 5 Nopember 2016
Tujuan :

1) mengenal dan hafal enam hukum dasar logika
2) memahami fungsi enam hukum dasar logika
3) dapat menganalis pelanggaran terhadap enam hukum dasar logika dalam modus berpikir
4) dapat mengidentifikasi modus berpikir yang sah
5) dapat menarik kesimpulan yang benar dari suatu premis
===========

dari 64 Modus Berpikir, ada modus berpikir yang sah dan ada yang tidak sah. modus berpikir yang sah adalah modus berpikir yang sesuai dengan dengan enam hukum dasar logika, atau tidak melanggar enam hukum dasar logika, sehingga argumetasinya disebut valid Konklusi yang dihasilkannya disebut logis. karena itu, untuk mengetahui mana modus berpikir yang sah dan yang tidak, mana argumentasi yang valid dan mana yang tidak, mana konklusi yang logis dan mana yang tidak, perlu diidentifikasi dengan enam hukum dasar logika. enam hukum dasar ini bukan hanya perlu dimengerti, tapi juga perlu dihafal, untuk memudahkan dalam melakukan analisa suatu modus berpikir.

enam hukum dasar logika, dikelompokan menjadi tiga, yaitu :

  • Hukum Azas
  • Hukum Peniapan
  • Hukum Kwalitas

masing-masing kelompok terdiri dari dua hukum, sebagai berikut :

Hukum Azas (Rules Of Principle)
  • Setiap Susun Pikiran (syllogisme) hanya boleh terdiri dari tiga proposisi saja
  • Setiap Susun Pikiran hanya boleh terdiri dari tiga term saja

Hukum Peniapan (Rules Of Distribution)
  • Midle term mestilah bersifat universal, setidak-tidaknya di dalam salah satu  premisse
  • Term yang tidak bersifat universal tidak boleh menjadi universal di dalam kesimpulan. dan sebaliknya.

Hukum Kwalitas (Rules Of Qwality)
  • Premisse yang sama-sama negasi atau sama-sama partial, tidak boleh melahirkan kesimpulan apapun
  • jika salah satu premisse bersifat negasi atau partial, maka kesimpulanpun harus bersifat negasi atau partial juga.

Penjabaran dan contoh dari penggunaan Hukum Dasar Logika ini terdapat dalam topik : Tujuh Langkah Menarik Kesimpulan dari Premis
« Edit Terakhir: November 05, 2016, 03:41:30 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Enam Hukum Dasar Logika
« Jawab #1 pada: April 07, 2012, 03:49:10 PM »
Buat yang ingin belajar logika di sini saja.

@Kang Asep

Bisa tolong dibantu menjelaskan 6 hukum logika kang?

Hukum Azas (Rules Of Principle)
Setiap Susun Pikiran (syllogisme) hanya boleh terdiri dari tiga proposisi saja
Setiap Susun Pikiran hanya boleh terdiri dari tiga term saja

Hukum Peniapan (Rules Of Distribution)
Midle term mestilah bersifat universal, setidak-tidaknya di dalam salah satu  premisse
Term yang tidak bersifat universal tidak boleh menjadi universal di dalam kesimpulan. dan sebaliknya.

Hukum Kwalitas (Rules Of Qwality)
Premisse yang sama-sama negasi atau sama-sama partial, tidak boleh melahirkan kesimpulan apapun
jika salah satu premisse bersifat negasi atau partial, maka kesimpulanpun harus bersifat negasi atau partial juga.

akan saya jelaskan satu persatu :

Hukum Pertama : Setiap Susun Pikiran (syllogisme) hanya boleh terdiri dari tiga proposisi saja

Setiap orang membuat kesimpulan, maka pastilah orang itu mempunyai alasan atau argumen. argumen dari setiap kesimpulan itu terdiri dari dua buah proposisi. kesimpulan itu sendiri dihitung sebagai satu proposisi. jadi, jumlah seluruhnya dalam susun pikiran (syllogisme; argumen + kesimpulan) tersebut adalah tiga proposisi. jumlah ini tidak pernah berkurang dan tidak lebih.

Benuk umum syllogisme yang terdiri dari tiga proposisi :

1. setiap A adalah B
2. setiap B adalah C
3. Jadi : Setiap A adalah C

contoh :

1. al-Quran adalah wahyu
2. wahyu itu dari allah
3. al-Quran dari allah

bentuk umum syllogisme yang terdiri dari empat proposisi

1. setiap A adalah B
2. Setiap A adalah C serta D dan F bagi G
3. Setiap A adalah B tentang C serta D dan F bagi G

contoh :

premis 1 : Al Quran itu menjelaskan segala sesuatu
premis 2 : Al Quran itu petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

kesimpulan : Al Quran itu menjelaskan segala sesuatu tentang petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

contoh tersebut diambil dari postingan sdr. ilalang di sini => http://myquran.org/forum/index.php/topic,76139.msg2154812.html#msg2154812

sebenarnya apa yang diposting oleh sdr. iilalang itu terdiri dari empat proposisi. kalau dipulangkan ke dalam bentuk aslinya adalah sebagai berikut :

1. al-Quran itu menjelaskasn segala sesuatu
2. al-Quran itu petunjuk
3. al-Quran itu rahmat
4. al-Quran itu kabar gembira

nah, penggunaan empat proposisi tersebut sebenarnya bukan salah. tetapi, sebuah kesimpulan aslinya hanya bisa mengambil dari dua proposisi saja. kendatipun seorang ahli dapat menyimpulkan dari sangat banyak proposisi, tapi sebenarnya terlebih dahulu dipulangkan ke dalam bentuk asli dari syllogismenya terlebih dahulu, yakni masing-masing hanya terdiri dari tiga proposisi.

Sementara sekian dulu. nanti saya lanjut.  insya Allah.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Enam Hukum Dasar Logika
« Jawab #2 pada: April 08, 2012, 05:25:29 AM »
Sebuah kesimpulan juga merupakan sebuah proposisi yang terdiri dari 1 subjek dan 1 predikat. subjeknya berasal dari premis minor. dan predikatnya berasal dari premis mayor. jadi, sebuah proposisi hanya memerlukan 2 proposisi sebagai premis. jikalau lebih dari dua proposisi, maka tidak ada tempat untuk menempatkan subjek dan predikat lebihannya itu pada kesimpulan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Enam Hukum Dasar Logika
« Jawab #3 pada: April 08, 2012, 05:25:54 AM »
Hukum Kedua : Setiap susun pikiran (syllogisme) hanya boleh terdiri dari tiga term.

yaitu,  minor term, midle term dan major term.

apabila lebih dari tiga term, maka melanggar hukum logika tersebut dan termasuk kepada Fallacy.

contoh susun pikiran tiga term :

1. al-Quran adalah al-dzikr
2. al-dzikr adalah lauh mahfuzh
3. al-Quran adalah lauh mahfuzh

term 1 = al-Quran
term 2 = al-dzikr
term 3 = lauh mahfuzh

contoh 4 term :

1. al-Quran menjelaskan segala sesuatu
2. mie ayam adalah sesuatu
3. al-Quran itu menjelaskan mie ayam
 (contoh diambil dari postingan sdr. ilalang).

term 1 = al-Quran
term 2 = menjelaskan sesuatu
term 3 = petunjuk
term 4 = sesuatu

susun pikiran 4 term adalah susun pikiran yang tidak sah, mengandung pemukauan. kadang terliha seakan-akan benar, padahal isinya salah.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Enam Hukum Dasar Logika
« Jawab #4 pada: April 08, 2012, 05:26:17 AM »
Hukum Ketiga : Midle term mestilah bersifat universal, setidak-tidaknya di dalam salah satu  premisse

universal artinya meniap/menyeluruh. biasanya ditandai dengan kata setiap atau seluruh, kadang-kadang tanpa tanda itu. tapi bila sudah mengenali sifat setiap proposisi, maka mudah mengenalinya.

contoh :

1. Nabi Muhammad adalah rasulullah
2. setiap rasulullah membawa risalah allah
3. Jadi : nabi Muhammad membawa risalah allah

disitu, midl termnya adalah rasulullah. pada premisse pertama, midle termnya bersifat partial. jika pada term kedua bersifat partiap pula maka tidak boleh melahirkan kesimpulan apapun. contoh :

1. Musa adalah nabi
2. Muhammad adalah nabi
3. Jadi : Musa adalah muhammad

Premissnya benar, tapi mengapa kesimpulannya menjadi salah? itu karena melanggar hukum logika yang ketiga itu. seharusnya midle termnya universal. tapi midl term pada kedua premisse di atas bersifat partial, maka mengakibatkan kesimpulan yang salah.

midle term pada premisse di atas adalah "nabi". dari mana diketahui kedua midl term tersebut bersifat partial? dari sifa proposisi.

dari keempat bentuk proposisi itu, sifatnya adalah sebagai berikut :

(A). universal partial
(E). Universal universal
(I). partial partial
(O). Partial universal
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Enam Hukum Dasar Logika
« Jawab #5 pada: April 09, 2012, 07:04:44 AM »
Hukum Keempat : Term yang tidak bersifat universal tidak boleh menjadi universal di dalam kesimpulan. dan sebaliknya.

contoh yang melanggar hukum ini adalah :

1. al-Quran adalah kitab
2. Injil adalah kitab
3. Jadi: al-Quran adalah injil

Kesimpulan tersebut salah karena melanggar hukum keempat. term "injil" yang bersifat universal (karena ia berbentuk proposisi A), di dalam kesimpulan jadi bersifat partial. ini tidak sah.

al-Quran adalah kitab
(U)                      (P)

Injil adalah  kitab
(U)                (P)

jadi : al-Quran adalah injil
         (U)                      (P)

U = Universal
P = Partial

Perhatikan bahwa term "injil" pada premis mayor yang bersifat U, menjadi P pada kesimpulan. hal ini tidak dibenarkan.


contoh lainnya :

1. al-Quran adalah kitab (U-P)
2. al-Quran adalah al-dzikr (U-P)
3. Jadi, semua kitab adalah al-dzikr (U-P)

term "kitab" yang bersifat P pada term minor, menjadi U pada kesimpulan. ini juga tidak sah.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
1661 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 12, 2012, 09:10:35 PM
oleh kang radi
10 Jawaban
4448 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 02, 2013, 06:46:38 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
489 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 29, 2015, 02:14:40 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
704 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 29, 2015, 06:27:41 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
338 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 31, 2016, 12:04:10 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
659 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 16, 2016, 01:36:21 AM
oleh Ziels
0 Jawaban
460 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 09, 2016, 03:13:02 PM
oleh Sultan
2 Jawaban
692 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 14, 2016, 04:32:05 PM
oleh Sultan
2 Jawaban
567 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 24, 2016, 04:34:28 PM
oleh Sultan
3 Jawaban
725 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 27, 2016, 12:25:08 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan