Penulis Topik: Soal Pemberitaan Bashar dan Al Arifi  (Dibaca 1117 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Soal Pemberitaan Bashar dan Al Arifi
« pada: Juli 30, 2013, 07:58:26 PM »
standar janda anda akhirnya keluar juga sep
sebelumnya anda ribet mikirin nasib Bashar yang seolah-olah diperlakukan tidak adil oleh media
kini giliran ada media yang memperlakukan orang secara tidak adil (al-arifi) anda gak ribet nih
anda gak ribet nulis, sebaiknya fars news, irib tanya langsung ke al-arifi..benar gak dia melakukan itu, baru bikin tulisan
kagak ada sep tulisan anda yang kayak gitu

asep...asep..saya kira anda agak lempeng, gak jauh beda ternyata


Padahal saya mencoba mengatakan, mari kita bersikap sama terahdap Al Arifi maupun Bashar dan tidak boleh diskriminatif. Apa hal ini salah?

Sudah saya katakan bahwa saya setuju dengan etika :

Kutip dari: kang_asepr
setuju. secara etika, seharusnya media tersebut melakukan konfirmasi, cek dan ricek dulu, apabila hal itu menyangkut nama baik.


Adapun perkataan saya yang mungkin dianggap tentang ketidak adilan media :

Kutip dari: kang_asepr
banyak ribu media memberitakan bahwa bashar assad seorang syiah dan mengaku diri sebagai tuhan, minta disembah lagi. ada tidak jurnalis yang mau cek n ricek dengan lansung mengkonfirmasikannya ke bashar Assad? enggak kan, tapi langsung maen muat begitu aja. di mana ada wartawan bertanya ke Assad "Apakah Anda seorang syiah?" lalu Bashar mengiyakan, atau "apakah Anda adalah Tuhan?" lalu Bashar membenarkan ?

Itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan saya yang membutuhkan jawaban. Bukan tuduhan bahwa Bashar telah diperlakukan tidak adil oleh media. Hanya terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya sendiri menjawab “tidak ada jurnalis yang melakukan cek & ricek terhadap Bashar” jawaban ini adalah berdasarkan apa yang saya ketahui sendiri bahwa memang saya tidak menemukan fakta ada jurnalis yang melakukan cek & ricek. Tapi saya tidak menutup kemungkinan dari adanya jurnalis yang melakukan hal itu diluar pengetahuan saya. Oleh karena itu, disiilah perlunya diskusi, bila pengetahuan saya keliru atau tidak lengkap, Anda atau yang lainnya bisa melengkapinya. Tapi sejauh ini, tampaknya Anda dan yang lainnya sepakat bahwa memang tidak ada jurnalis yang melakukan cek & ricek terhadap Bashar. Dan inilah yang dimaksud dengan ketimpangan media, dan inilah yang dimaksud dengan pelanggaran etika secara massal. Sebagaimana yang saya katakan :

Kutip dari: kang_asepr
tapi pelanggaran terhadap etika ini kini sudah menjadi pelanggaran masal media masa.

Artinya, saya menggap hal yang sama, baik terhadap al Arifi maupun Bashar, media sama-sama telah melakukan hal yang tidak etis. Jika kita hanya mempermasalahkan berita Al Arifi, tapi tidak mempermasalahkan berita soal Bashar, maka inilah yang disebut dengan diskriminasi. Benar atau tidak?

Saya memang tidak pernah mempermasalahkan soal berita Al Arifi sebelumnya. Seperti Raihan tidak pernah mempermasalahkan berita soal Bashar. Baik saya atau Raihan, tidak berarti setuju dengan pemberitaan Al Arifi maupun Bashar. Tetapi, bila sebelumnya Raihan mengetahui bagaimana sepak terjang pemberitaan Bashar dan saya tahu bagaimana sebelumnya sepak terjang pemberitaan Al Arifi, tapi Raihan tidak pernah mempermasalahkan berita Bashar, dan saya tidak pernah mempermasalahkan berita Al Arifi, maka saya maupun Raihan berarti telah melakukan diskriminasi. Benar atau tidak?

Tapi jika Raihan memang tidak tahu soal Bashar sebelumnya, sehingga tidak mempermasalahkannya, dan saya tidak mengetahui soal Al Arifi sebelumnya, sehingga tidak mempermasalahkannya, maka apakah kami dianggap diskriminasi kepada media?

Sekarang saya tanya, dalam aturan jurnalistik, apakah semua pemberitaan harus dikonfirmasikan kepada yang bersangkutan? Aturan dari mana itu?

Saya telah membuat berita tentang bayi ditusuk 90 kali oleh ibunya. Kejadian ini terjadi di Cina. Sebagai media kecil, saya tidak mampu melakukan cek n ricek, tidak pula mampu mewawancara ibunya yang jauh di negeri orang. Tapi saya muat berita tersebut, maka apakah saya melanggar undang-undang dan etika pers? Tidak! Selama saya menyertakan sumber beritanya, serta tidak mencampur adukan antara fakta dan opini. Fakta bahwa memang dari sumber yang saya baca demikian adanya berita. Kalau saya membuat kesimpulan sendiri, menilai dan berpendapat tentangnya tanpa dipisah-pisahkan dari kalimat berita, maka inilah yang melanggar kode etik jurnalistik.

Sekarang, saya bisa memuat berita tentang Al Arifi. Jika saya menampilkan foto penyanyi dangdut tersebut bersama al Arifi, maka saya melanggar kode etik pers, bahkan undang-undang pers. Kenapa? Karena saya tahu, bahwa ada informasi lain yang membantah foto tersebut. Tapi bila saya belum mengetahuinya, saya bisa membuat di forum saya bahwa Al Arifi telah berfoto dengan seotang biduan berdasarkan sumber yang diposting oleh HMA. Dan saya tidak bisa dituntut ke pengadilan, karena saya tidak melanggar etika, maupun undang-undang pers. Dan bila dikemudian hari ada bantahan, saya sebagai insan pers tidak harus meminta maaf, karena telah memberikan dan melayani hak jawab.

Jadi, untuk memahami kebenaran dan keadilan dalam menyampaikan informasi itu butuh juga pemahaman tentang aturan perundangan-udangan pers nasional dan internasional, sehingga kita tidak begitu saya menuduh ini berdusta dan itu berdusta. Walaupun media-media tersebut tidak melakukan konfirmasi kepada Al Arifi, belum tentu media tersebut melanggar undang-undang dan etika, bergantung kepada banyak faktor. Demikian pula, pemberitaan soal Assad, tidak berarti pelanggaran undang-undang jurnalistik.

Dalam apa yang saya paparkan, saya tidak menuduh media telah melanggar kode etik dan undang-undang jurnalistik terhadap pemberitaan Bashar. Perhatikan kalimat-kalimat saya berikut :

Kutip dari: kang_asepr
  ada tidak jurnalis yang mau cek n ricek dengan lansung mengkonfirmasikannya ke bashar Assad? enggak kan, tapi langsung maen muat begitu aja. di mana ada wartawan bertanya ke Assad "Apakah Anda seorang syiah?" lalu Bashar mengiyakan, atau "apakah Anda adalah Tuhan?" lalu Bashar membenarkan ? tidak ada.

Dari mana bisa ditafsirkan saya telah menuduh media berbuat tidak adil pada Bashar. Saya hanya mengatakan bahwa media telah “maen muat” berita begitu saja tanpa klafirikasi langsung ke Bashar, sebagaimana kepada Al Arifi. Jika hal itu bisa dianggap benar, maka mengapa yang dilakukan terhadap Al Arifi dianggap keliru?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline wa2nlinux

Re:Soal Pemberitaan Bashar dan Al Arifi
« Jawab #1 pada: Juli 30, 2013, 08:30:18 PM »
ini mungkin bisa jadi jawaban kang, banyaknya  foto dan video yang dengan mudah difabrikasi

https://plus.google.com/photos/103208110742791515693/albums/5788407651473375217
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
8 Jawaban
17813 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 20, 2013, 05:30:59 AM
oleh wa2nlinux
1 Jawaban
1008 Dilihat
Tulisan terakhir November 27, 2012, 06:33:25 PM
oleh Kang Asep
9 Jawaban
6405 Dilihat
Tulisan terakhir April 13, 2013, 11:39:58 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
2195 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 03, 2013, 11:38:36 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1905 Dilihat
Tulisan terakhir April 24, 2013, 07:57:27 PM
oleh Abu Zahra
10 Jawaban
4717 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 30, 2015, 10:15:56 AM
oleh Monox D. I-Fly
4 Jawaban
828 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 14, 2015, 09:55:48 PM
oleh Sandy_dkk
6 Jawaban
1517 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 21, 2016, 08:50:14 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
302 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 13, 2016, 02:03:37 PM
oleh kang radi
4 Jawaban
440 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 19, 2016, 03:15:57 PM
oleh kang radi

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan