Penulis Topik: Gaya Debat Hebat Jokowi  (Dibaca 877 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Asep

Gaya Debat Hebat Jokowi
« pada: April 27, 2014, 08:07:33 PM »
Dengan berbekal ilmu logika, saya merasa memiliki kemampuan handal dalam berdebat. jika diumpamakan jurus silat, saya dapat mengalahkan lawan debat dalam dua tiga jurus saja. kadang, perdebatan alot dilakukan, tapi saya memiliki metodologi yang jelas sampai akhirnya dapat memenangkan perdebatan. Tapi, cara debat saya itu akhirnya di kritik oleh salah seorang guru saya, Abah Thantan, beliau mengatakan, "yang kita inginkan bukanlah mematahkan argumentasi orang, lalu patah pula hatinya." dengan kritikan guru saya itu, saya jadi tersadar dengan kesalahan saya selama ini. memanglah benar saya selalu dapat mematahkan argumentasi orang lain, dan ternyata benar, hati orang lain ikut patah bersama patahnya argumentasi. lalu saya berusaha mengubah kebiasaan saya itu. tapi apa yang sudah menjadi tabiat bertahun-tahun, tidaklah mudah untuk diubah. walaupun begitu, saya terus belajar. dan sepertinya, ada sosok pemipin yang patut untuk dijadikan contoh, yaitu Jokowi. beliau mempunyai prinsip "menyerbu tanpa mengerahkan pasukan, menang tanpa mempermalukan." teorinya mudah, praktinya sangat susah. saya sudah bertahun-tahun mencoba  mempraktikan teori tersebut, tapi masih belum cukup terampil menjalankannya. sedangkan Jokowi, tampaknya bukan sekedar mengerti teorinya, tapi juga mampu melaksanakannya.

Kutip dari: jokowicenter.com


ADA yang menarik dari gaya kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Gubernur kelahiran Solo yang akrab dengan panggilan Jokowi ini mengedepankan jalan musyawarah untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Jokowi menyelesaikan banyak persoalan dengan mengajak warga duduk bersama sambil menikmati makan siang. Cara ini belum pernah dilakukan para pemimpin Jakarta sebelumnya.

Salah satu contoh diplomasi makan siang yang berakhir dengan baik adalah ketika orang nomor satu di DKI Jakarta ini mengajak makan bareng warga Petukangan Selatan, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Setelah itu, sengketa panjang terkait dengan ganti rugi lahan untuk proyek Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2) berakhir happy ending. (Kompas, 3 Desember 2013).
Padahal, sejak 2010, warga menolak nilai ganti rugi Rp 3,5 juta-Rp 8 juta per meter persegi yang ditetapkan pemerintah. Setelah warga diajak makan siang bersama Jokowi, mereka merasa diwongke atau dimanusiakan pemimpinnya. Nilai ganti rugi diberikan tanpa perubahan apa pun. Rakyat bahagia, pemimpin senang. JORR W2 pun akhirnya dapat dikerjakan.

Jokowi juga pernah mengundang warga di sekitar Waduk Pluit dan Waduk Ria Rio serta pengusaha pemotongan unggas. Jokowi paham, berbagai persoalan tidak akan dapat diselesaikan bila tak ada komunikasi intens antara pemimpin dan rakyatnya.
Belum lama ini Jokowi bersama wakilnya, Basuki T Purnama, menggelar makan siang bersama dengan DPRD DKI Jakarta di rumah dinas Gubernur DKI. Ketua DPRD DKI Jakarta Ferrial Sofyan menyambut baik ajakan Gubernur Jokowi.

Diplomasi makan siang ini merupakan bentuk komunikasi politik yang bagus antara eksekutif dan legislatif. Sebelumnya banyak anggota DPRD DKI berkomentar melalui media. Pertemuan yang direncanakan digelar dua bulan sekali itu akan mendekatkan komunikasi Gubernur DKI dan jajarannya dengan DPRD DKI Jakarta. Yang pasti, hal itu akan dapat menghindari kesalahpahaman.
Dalam falsafah Jawa, ada peribahasa “nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake“, yang artinya “menyerbu tanpa perlu mengerahkan pasukan, menang tanpa mempermalukan”.

Jokowi percaya, ia dapat menyelesaikan persoalan tanpa melalui cara-cara kekerasan. Ia mengedepankan sikap merendahkan hati tanpa perlu mempermalukan. Kalau kita bandingkan dengan cara-cara rezim sebelumnya, pendekatan Jokowi kali ini lebih manusiawi.
Pada prinsipnya, orang Jawa memiliki sikap andhap asor (rendah hati) dan tidak suka mempermalukan orang lain. Dalam setiap persoalan, diupayakan agar kita mencapai keinginan tanpa harus membuat orang lain merasa dikuasai atau dikalahkan.

Jokowi percaya ada sewu dalan (seribu jalan) untuk mencapai tujuan tanpa harus menempatkan orang lain sebagai lawan. Ungkapan menang tanpa ngasorake sangat tepat untuk menciptakan harmoni dalam masyarakat. Semua diarahkan untuk menghindari timbulnya konflik. Ini berkaitan erat dengan ungkapan wani ngalah luhur wekasane (berani mengalah luhur pada akhirnya).

Jokowi paham betul falsafah Jawa menang tanpa ngasorake harus dipraktikkan dalam kepemimpinannya. Dalam menyelesaikan persoalan, Jokowi tidak ingin rakyatnya merasa kalah atau dipermalukan. Bila rakyat diwongke, dimanusiakan, persoalan lebih mudah diselesaikan. Itulah makna diplomasi makan siang yang dilakukan Jokowi.
 
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
1092 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 01, 2013, 11:57:25 AM
oleh Kang Asep
5 Jawaban
9847 Dilihat
Tulisan terakhir September 05, 2013, 11:08:13 AM
oleh Sandy_dkk
2 Jawaban
1160 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 16, 2013, 09:41:24 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1952 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 29, 2014, 06:06:33 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
579 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 11, 2015, 12:20:12 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
1455 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 29, 2015, 11:53:14 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
294 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 03, 2017, 07:57:47 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
359 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2017, 07:44:54 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
66 Dilihat
Tulisan terakhir November 07, 2017, 05:09:18 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
70 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 11, 2018, 06:02:23 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan