Penulis Topik: Pidato Jumat Umar  (Dibaca 1608 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Pidato Jumat Umar
« pada: Januari 21, 2014, 08:51:16 PM »
Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Abbas mencatat pidato Jum`at Umar bin Khatab tentang peristiwa pembaiatan Abu Bakar di Saqifah Bani Saidah Senin, tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, pada saat Rasul belum dimakamkan.

Dalam Pidato Jum`at itu, Umar berkata :

Dan setelah duduk, seorang pembicara mengucapkan syahadat dan memuji Allah sebagaimana layaknya, kemudian melanjutkan : “Amma ba`du, kami adalah Anshar Allah dan psaukan Islam, sedang kamu, wahai kaum Muhajirin, pada hakikatnya adalah kelompok kami, karena kalian hijrah ke Madinah dan bercampur dengan kami.”

Coba lihat, mereka hendak memutuskan kita dari asal-usul kita!

Tatkala pembicara kaum Anshar tersebut selesai berpidato saya hendak berbicara, karena saya telah menyiapkan pidato dalam pikiran saya, yang sangat menggembirakan hati saya. Saya hendak mendahului Abu Bakar, dan hendak menangkis kata-kata kasar pembicara kaum Anshar tadi. Maka berkatalah Abu Bakar, “Pelan, wahai Umar!”. Saya tidak suka menyakiti hatinya, dan dengan demikian, lalu ia berbicara.

Ia(Abu Bakar) lebih berilmu dan lebih patut dari saya, secara spontan dan lebih afdhal dari yang dapat saya lakukan. Abu Bakar berkata, “Kebaikan yang kalian katakan tentang diri kalian, patut. Tetapi orang-orang Arab tidak menerima selain kepemimpinan Quraisy. Mereka adalah orang-orang Arab yang paling mulia, dari segi keturunan, maupun dari segi tempat tinggal mereka. Kami adalah orang pertama dalam Islam. Kami adalah sahabat Rasul yang pertama, keluarga dan walinya. Dan diantara kaum Muslimin keturunan kami di tengah-tengah, keturunan kami yang mulia, dan kami adalah saudara Rasul yang paling dekat. Sedang kamu, kaum Anshar, adalah saudara-saudara kami dalam Islam, dan kawan-kawan kami dalam agama. Kalian menolong kami, melindungi kami dan menunjang kami, mudah-mudahan Allah membalas kebaikan kalian. Maka kami adalah pemimpin (umara), sedangkan kalian adalah pembantu (wuzara, menteri). Orang-orang Arab tidak akan tunduk kepada kepada orang Quraisy. Tentu sebagian kamu mengetahui sabda Nabi, Para Pemimpin adalah dari orang Quraisy Maka janganlah kalian bersaing dengan saudara-saudara kalian kaum Quraisy yang telah mendapat anugrah dari Allah.

Saya, Umar, dan Abu Ubaidah adalah kerabat Rasul. Saya relakan kepada kalian satu dari dua orang. Pilihlah, siapa yang kalian senangi! Kaum Quraisy lebih dekat kepada Rasul Allah dari pada kalian. Maka, inilah Umar bin Khatab yang nabi berdoa untuknya, Ya Allah! Kuatkanlah imannya! Dan yang lain adalah Abu Ubaidah, yang oleh Rasul Allah disebut yang terpercaya dari umat ini, pilihlah orang yang kalian kehendaki, dan baiatlah kepadanya!”

Sambil berkata demikian, ia ( Abu Bakar ), mengangkat tangan saya (Umar) dan tangan Abu Ubaidah bin al Jarrah yang duduk diantara kami berdua. (Abu Bakar dan Umar). Dan tidak ada perkataan yang lebih tidak saya sukai dari ini. Demi Allah, saya lebih suka bangun dan memenggal kepala saya sendiri, bila perbuatan ini tidak berdosa, daripada memerintah umat, di mana Abu Bakar adalah seorang dari padanya.

Kami berdua menolak[1] dengan mengatakan, “Kami tidak menyukai diri kami melebihi Anda. Anda adalah sahabat Nabi  dan orang kedua dari yang dua[2]. Sementara Anda masih hidup, siapa yang dapat menggeser Anda dari kedudukan Anda yang telah ditentukan oleh Rasul ?”

Seorang Anshar berkata, “Saya adalah orang yang sudah tua. Biarkan kami mengangkat pemimpin di antara kami, dan seorang pemimpin lain di antara kalian, wahai kaum Quraisy.[3]. ”

Suasana menjadi hangat dan suara-suara menjadi keras[4]. Untuk menghindari perpecahan selanjutnya, saya berkata, “Bentangkan tangan Anda, Abu Bakar!” ia membentangkan tangannya, lalu saya membaiatnya. Kaum Muhajirin mengikuti saya, kemudian kaum Anshar.



Sampai di sini, berakhirlah Pidato Jum`at Umar bin Khatab[5].
 1. menolak untuk dijadikan kandidat khalifah
 2. dalam gua pada waktu hijrah
 3. Dalam Thabari disebutkan bahwa orang Anshar ini adalah Hubab bin Mundzir. Dan umar menjawab Hubab dengan berkata, “Demi Allah, dua pedang tidak akan masuk ke dalam satu sarung. Orang Arab tidak akan tunduk kepada kalian, karena Nabi adalah seorang dari kaum Muhajirin. Tentang ini kami mempunyai bukti yang jelas. Hanya yang murtad yang menolak orang Muhajirin sebagai pemimpin pengganti Nabi”
 4. Setelah mendengarkan pidato Abu Bakar yang menggunakan dalil “kedekatan dengan Rasul Allah” dan “Pemipin harus dari Quraisy”, tampaknya kaum Anshar menyadari bahwa yang lebih selaras dengan argumen-argumen Abu Bakar itu adalah Ali bin Abi Thalib, sehingga mereka berteriak-teriak, “Kami tidak akan membaiat yang lain, kecuail Ali.”
 5. Lihat dalam : O. Hashem, SAQIFAH, Hal. 209-215
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Pidato Jumat Umar
« Jawab #1 pada: Januari 23, 2014, 04:06:18 PM »
Catatan kaki yang no 4 yang dibold merah itu keterangan dari siapa ya Kang? Ibnu ishaq, abdullah bin Abbas, Umar? kemudian manakah hubungan kekerabatan yang lebih dekat, Ali bin abu Tholib ataukah Abbas bin Abdul mutholib?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Pidato Jumat Umar
« Jawab #2 pada: Januari 23, 2014, 05:22:52 PM »
^ itu adalah asumsi saya terhadap maksud tulisan O. Hashem.

di halaman 215, O. Hashem, penulis buku itu mengatakan, "pada saat itu Abdurrahman angkat bicara dan menyebut nama Ali dan suasana menjadi seru tatkala orang berteriak : Kami tidak akan membaiat yang lain kecuali Ali". inilah yang dimaksud Umar taktala ia mengatakan "pertengkaran menjadi hangat dan suasana menjadi keras". jadi, ini adalah tafsiran O. Hashem terhadap maksud pidato Umar.

adapun kaitannya dengan dalil Abu Bakar, adalah tulisan O. Hashem pada halaman 210 : berisi dalil kedekatan dengan Rasul dan keharusan dari Quraisy. sedangkan di halaman 2011 : berisi cerita selanjutnya, ketika Abu Bakar berdialog dengan Ali bin Thalib tentang hak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib di mana intinya Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abu Bakar, Bila Abu Bakar berargumentasi kepada kaum muslimin dengan dalil seperti itu, niscaya Ali bin Abi Thaliblah yang lebih selaras dengan dalil tersebut. dan hal ini saya tuangkan ke dalam catatan kaki tersebut dengan gaya bahasa saya sendiri. jadi, catatan kaki tersebut merupakan asumsi saya terhadap maksud tulisan O. Hashem.
« Edit Terakhir: Januari 23, 2014, 05:30:39 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Pidato Jumat Umar
« Jawab #3 pada: Januari 24, 2014, 04:53:57 PM »
Dari narasi pidato Umar di atas dapat ditengarai bahwa umat muslim di saqifah terbagi menjadi dua kubu, yakni kubu Anshar dan kubu Muhajirin. Kubu Anshar berniat mengangkat kepemimpinan setelah kepemimpinan Nabi saw ( Seorang Anshar berkata, “Saya adalah orang yang sudah tua. Biarkan kami mengangkat pemimpin di antara kami, dan seorang pemimpin lain di antara kalian, wahai kaum Quraisy) Jika di tempat pengurusan jenazah mulia Nabi saw diberitakan hanya sedikit sahabat yang hadir, maka besar kemungkinan, mayoritas sahabat berada di saqifah, baik dari kalangan Anshar maupun dari kalangan Muhajirin.

Pertanyaannya, mengapa dari sekian banyak sahabat dari kalangan Anshar maupun dari kalangan Muhajirin tidak ada yang menyampaikan hadits Ghadir Khum? Bahkan ketika Abu Bakar menyampaikan argumentasi tentang keutamaan Qurays dibanding yang lain dalam hal kepemimpinan, kemudian kedekatan hubungan kekerabatan sebagai argumentasi berikutnya.

 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Pidato Jumat Umar
« Jawab #4 pada: Januari 24, 2014, 07:52:57 PM »
nah, itu. pertanyaan kang Ratna juga menjadi pertanyaan saya. katanya, ada 120 ribu sahabat yang mendengarkan pidato Nabi pada suksesi Imam Ali di ghadir khum. tapi pada saat di Saqifah, kok gak da yang mengingatkan ke persoalan suksesi itu ? rasanya tidak mungkin kalau semua orang lupa dan bermaksud mengkhianati nabi saw. hanya, ada riwayat tentang 11 orang sahabat yang bersaksi tentang sabda nabi di ghadir khum setelah wafatnya Utsman bin Affan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
884 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2013, 08:52:15 AM
oleh Awal Dj
13 Jawaban
2868 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 17, 2014, 02:47:37 PM
oleh Abimanyu
0 Jawaban
841 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 15, 2014, 08:20:13 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1318 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 16, 2014, 05:08:57 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1110 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 17, 2014, 08:48:22 AM
oleh Abu Zahra
14 Jawaban
2653 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 11, 2014, 07:45:20 PM
oleh Sandy_dkk
1 Jawaban
726 Dilihat
Tulisan terakhir September 28, 2015, 07:09:04 PM
oleh Ziels
0 Jawaban
530 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 31, 2016, 03:53:52 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
278 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 20, 2016, 07:46:24 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
250 Dilihat
Tulisan terakhir April 15, 2017, 09:58:34 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan