Penulis Topik: Perkembangan Logika Timur dan Barat  (Dibaca 44 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Perkembangan Logika Timur dan Barat
« pada: Juni 07, 2018, 04:27:37 PM »
Bahasa manusia sangatlah rumit. Dalam pembicaraan sehari-hari, cara seseorang menyampaikan isi hatinya, tidak sesederhana syllogisme ABC dalam logika Tradisional Aristoteles, sehingga walaupun dasar-dasarnya bertumpu pada logika tradisional tersebut, namun seiring berkembangnya zaman, ilmu logika di belahan Timur dan  Barat telah mengalami banyak perkembangan. Walaupun para ahli logika mengatakan " Logika Arostoteles sudah sempurna sejak awal dan tidak dapat ditambahkan agak sedikitpun", namun kesempurnaan yang dimaksud seumpama sempurnanya 7 nada lagu, di mana selama berabad-abad, nada lagu tidak dapat ditambahkan untuk satu tangga nada saja. Namun, bagaimana manusia menciptakan lagu dan jenis musik, itu terus berkembang. Atau seperti penemuan angka 0 hingga 9, itu sudah lengkap. Tak ada yang dapat menambahkan lagi satu angkapun dan itu menjadi dasar untuk semua perhitungan matematis. Akan tetapi, rumus matematika tak pernah berhenti untuk berkembang. Seperti itu pula Logika, sejatinya rumus dasarnya hanya satu, yaitu AAA dengan bentuknya yang sederhana sepeti berikut :

A) Setiap A adalah B
A) setiap B adalah C
A) jadi, setiap A adalah C

Saya menyebutnya rumus sakti, karena dengan menguasai satu rumua itu saja, berarti menguasai keseluruhan pelajaran logika. Akan tetapi, satu rumus itu apabil di kupas, ternyata menyangkut keseluruhan teori logika.

Sebagai perbandingannya pada bidang akuntansi, bahwa membuat laporang keuangan perusahaan itu terangkum seluruhnya dalam neraca. Adapun neraca rumusnya sederhana sekali, yaitu Harta = Hutang + Modal. Namun faktanya rumus sederhana ini apabila diuraikan dengan detail laporan keuangan satu perusahaan, dapat menjadi 1000 halaman laporan keuangan.

Bandingan lainnya, Imam Ali bin Abi Thalin mengatakan "alam semesta ini dirangkum dalam al Quran. Al Quran dirangkum dalam ak fatihah. Dan Alfatihah dirangkum dalam basmalah. Dan basmalah dirangkum dalam huruf Ba". Dengan demikian, siapa yang mengetahui rahasia huruf Ba ini berarti, menguasai seluruh isi Al Quran, dan berarti mengetahui rahasia-rahasia yang ada di langit dan di bumi.

Perbandingan-perbandingan tersebut untuk menggambarkan makan dari "Kesempurnaan logika Aristoteles" bahwasannya apa yang disebut Logika Timur atau Barat, Logika Tradisional atau Modern, Logika Proposisional atau Predikat, semua itu adalah penjabaran dari Logika Aristoteles. Lagipula, pada awalnya naskah-naskah yang sampai ke tangan para ahli logika Barat, itu adalah manuskrip-manuskrip naskah logika Timur yang tersisa pada zaman kegelapan di Timur Tengah. Ketika terjadi arus penentangan dan pengharaman ilmu logika dari ulama-ulama Timur Tengah zaman dulu , sehingga sekolah-sekolah ilmu logika dihancurkan, naskah-naskahnya dibakar dan dicampakkan ke tempat sampah, para ilmuwan Barat memungutnya dan menjadikannya sebagai warisan berharga, sehingga ilmu pengetahuan berkembang pesat di belahan dunia Barat, khususnya di Eropa. Tapi para ilmuwan Barat tidak melupakan jasa ulama-ulama Timur sebagai pihak yang berjasa atas perkembangan ilmu pengetahuan di belahan Barat, sehingga menyebut Al Farabi sebagai Guru Kedua, dan menjuluki Ibnu Sina sebagai guru Ketiga. Julukan ini khusunya terkait bidang ilmu logika, sehingga menyebut Aristoteles sebagai Guru Pertama.

Sebagaimana para ilmuwan Barat, telah memungut manuskrip-manuskrip logika yang tersisa setelah umat manusia di  Timur menganggapnya sampah, demikian pula pada awalnya Al Farabi mendapatkan naskah-naskah warisan Aroatoteles dalam kondisi tidak utuh. Sangat banyak naskah-naskah logika Aristoteles yang telah lenyap, setelah sebelumnya bangsa Yunani membakar naskah-naskah logika dan menghukum mati para guru yang mencoba menghidupkan kembali ajaran Logika Aristoteles. Tetapi di Timur Tengah kondisinya masih aman, sehingga Alfarabi leluasa untuk mengumpulkan serpihan-serpihan naskah logika yang tersisa dan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Arab, sampai akhirnya apa yang terjadi di Yunani terjadi pula di Timur Tengah, yaitu arus penentangan dan pengharaman terhadap ilmu logika dari para tokoh yang merasa imannya terusik oleh kebenaran Logika.

Mengingat begitu banyaknya naskah Ariatoteles yang telah lenyap, maka tidaklah mustahil bahwa apa yang disebut temua baru dalam logika modern adalah sesuatu yang sebenarnya telah termaktub dalam naskah-naskah logika Arostoteles yang telah raib tadi. Seperti temuan Hukum De Morgan, yang ditemjkan oleh ahli logika Barat bernama De Morgan, itu memang tidak ditemukan dalam buku-buku logika Tradisional Aristoteles, akan tetapi kita tidak tahu apa yang ditulis Aristoteles di dalam banyak naskah yang hilang itu. Hukum De Morgan adalah hukum yang terdapat dalam Logika Proposisional.

Di belahan dunia Barat, ilmu Logika berkembang menjadi logika proposisional dan logika predikat yang cenderung penggunaannya lebih banyak pada bidang matematika, elektronika dan komputer. Sedangkan di belahaman Timur Tengah, ilmu logika mengalami perkembangannya di tangan ulama-ulama muslim yang penggunaanya cenderung kepada filsafat agama dan kemudian lebih dikenal dengan Ilmu Mantiq. Akhirnya, Logika Barat dan Timur memiliki gaya dan karakteristik yang berbeda. Misalnya doktrin tentang - tabel kebenaran, tablo semantik, teknik Resolusi - tidak ditemukan dalam Logika Timur. Dan sebaliknya, doktrin tentang -"Delapan Wahdah" , Jadal dan Mughalathah - berkembang di Timur Tengah pada dan setelah masa Al Farabi, di mana banyak bab dan fashal yang tidak ditemukan dalam Logika Barat. Logika Timur dan Barat berkembang dalam jalurnya masing-masing, tapi keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi.

Kita dapat mempelajari logika modern tanpa harus terlebih dahulu belajar logika Tradisional, tetapi dengan belajar logika Tradisional kita dapat memahami asal usul dari logika Modern. Seperti Logika Timur dan Barat yang saling melengkapi, antara logika Tradisional dan Modern juga bersifat saling melengkapi. Ilmu pengetahuan memang saling melengkapi satu sama lain. Karena itu agak mengherankan apabila ada yang mempertentangkan antara logika Timur dan Barat.

Dalam buku-buku sejarah logika tidak dijelaskan dari siapa Alfarabi mendapatkan naskah - naskah ilmu logika untuk pertama kalinya. Ada yang menyebutkan itu diperoleh dari seorang ahli logika Yunani beragama Kristen di sebuah sekolah Logika di Irak. Kebenaran kisah-kisah ini perlu ditelusuri kembali. Karena pada sebagian kisah menggambarkan bahwa ilmu Logika masuk ke dalam dunia Islam sebagai barang asing yang seolah Islam pengetahuan Islam tak sempurna, sehingga ada keilmuan baru yang harus ditambahkan ke dalam Islam dan ini menjadi dasar bagi penolakan sebagian ulama Islam terhadap ilmu logika Aristoteles yang diwakili oleh Ibnu Taimiyah yang menulis buku "Fashihatu Ahli Iman Fi Raddi Mantiqi Yunani." (Kefasihan Ahli Iman dalam menangkis Logika Yunani). Tetapi saya menemukan, jauh sebelum masa Al Farabi, cicit dari Rasulullah yang bernama Imam Jakfar Shadiq dalam menjawab pertanyaan muridnya tentang atheisme, ia berkata "Aristoteles telah menjawab pertanyaan mereka (atheis)" menggambarkan bahwa keluarga nabi saw tidak asing dengan keilmuan Aristoteles. Sementara ayah dan kakek mereka, termasuk imam Ali Bin Abi Thalib telah mengklaim "menguasai ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang". Bila benar demikian keilmuan keluarga suci nabi saw, maka tentu tidaklah mustahil bahwa keilmuan Alfarabi dalam bidang ilmu logika bersumber dari keluarga suci nabi saw. Dan apalagi apabila kita membaca riwayat kejeniusan orang-orang dari keturunan nabi ini, maka sulit untuk kita dapat katakan bahwa mereka tak tahu menahu soal ilmu logika. Kasus-kasus yang telah mereka pecahkan menunjukan bahwa keluarga suci nabi ini adalah memiliki logika yang super, sehingga makna dari " sempurnanya Islam", bukan hanya karena banyaknya kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama, tapi karena adanya ulama itu sendiri, khususnya ulama dari keturunan Nabi saw yang ilmunya meliputi orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang. Sehingga hipotesa saya, ilmu logika di bawa ke dunia Islam oleh AlFarabi tidak melewati tangan asing, melainkan melalui keluarga suci nabi saw, yakni sumber ilmu Islam itu sendiri.

Tidak dipungkiri bahwa di Barat para ahli logika non muslim telah berkontribusi mengembangkan ilmu logika. Tapi sejarah mencatat bahwa pada awalnya, para ilmuwan Barat berkiblat pada ulama-ulama Islam di Timur.

Kita juga dapat bercermin pada kasus Enstein dengan teori relativitasnya. Di mana, Enstein telah mencapai temuan baru dalam bidang fisika dengan teori-teorinya. Namun jauh sebelum hal itu ditemukan oleh Enstein, para ulama Timur sudah tak asing lagi dengan teori relativitas, mereka tahu kesalahan dalam teori-teori Enstein, sehingga salah seorang ulama bernama Ayatullah Borroujerdi telah menyampaikan kritikan-kritikannya melalui surat kepada Enstein, dan kemudian terjadi surat menyurat antara Ayatullah Boroujerdi dengan Enstein dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal itu menunjukan keakraban ulama-ulama Islam dengan dunia matematika dan fisika. Tidak sedikit penemu-penemu ilmu yang dikagumi oleh para ilmuwan barat. Namun sebagaimana sifatnya para ulama, yang tawadhu dan jauh dari sifat riya, maka saat mereka mencapai temuan-temuan baru dalam bidang ilmu pengetahuannya, mereka tidak mencari popularitas dengan itu dan tidak membutuhkan pengakuan dunia dengan apa yang disebut dengan hak paten. Sehingga sekarang, ilmu pengetahuan dan teknologi di Barat terlihat jauh berkembang.

Di Barat populer dengan temuan-temuan produk terbaru dari teknology. Sementara di belahan Timur Tengah lebih populer dengan bom yang meledak di mana-mana. Namun, apabila kita menggali lebih jauh, maka khazanah keilmuan di belahan Timur itu tak kalah mengagumkan. Kita dapat menemukan pondasi dari teknology Barat berasal dari Timur Tengah. Sebagai contohnya Ilmu Algoritma yang digunakan dalam bidang pemerograman, kaitannya segala bentuk teknology, itu pada mulanya ditemukan oleh seorang ilmuwan muslim bernama al Khawarizm. Dan kita tidak tahu, sekarang ini di tengah ledakan-ledakan bom di Timur Tengah, khasanah keilmuan semacam apa yang masih tersimpan secara istimewa.

Seperti itu pula, saya saat ini melihat ilmu logika di dunia Barat jauh lebih berkembang dari pada di Timur atau saya tidak cukup tahu, bagaimana perkembangan ilmu logika di belahan Timur. Karena setahu saya pada awalnya, ilmu logika Timur hanya sebatas pada kitab kecil yang bernama Sulamun Nawarah, yang tipis dan bisa saya beli dengan harga Rp. 2.500. Tapi ternyata saya keliru. Kitab-kitab ilmu mantiq sangatlah banyak, mukai dari kitab untuk pemula hingga untuk tingkat lanjut. Salah satu member Logika Filsafat pernah memberi tahu pada saya bahwa dia punya kitab mantiq yang isinya hanya membahas Dilalatul Lafdzi (Bab Term) dan itu terdiri dari kirang lebih 400 halaman, sementara bab Term dalam buku-buku ilmu logika Barat, paling berkisar antara 20 atau 30 halaman saja. Kitab kitab lainnya yang berisi ilmu Logika Timur (mantiq) diantaranya kitab Danesh Maneh Karya Ibnu Sina, Asas Al Inqibas karya Nashirudin Thusi, Mantiq Syifa karya Ibnu Sina, Jauhar Al Nadhid karya Allamah Alhilli, Mantiq Luwin Karya Mulla Shadra, Mantiq Shuri karya Dr. Muhammad Khansari, Mantiq Korburi karya Sayyid Ali Asghar dan masih banyak lagi, dan itu berisi bab-bab yang berbeda satu sama lain. Belum lagi naskah-naskah mantiq Karya Alfarabi sebagai pelopor pertama ilmu mantiq, saya tidak mengetahui sebanyak mana naskah-naskah beliau yang tentu menjadi rujukan ilmuwan-ikmuwan mantiq selanjutnya. Dari situ saja dapat kita lihat bahwa betapa luasnya kajian ilmu mantiq, sehingga pandangan bahwa logika Barat lebih berkembang dari logika Timur perlu diuji kembali kebenarannnya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
4108 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 19, 2013, 10:07:38 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2449 Dilihat
Tulisan terakhir November 12, 2012, 10:35:25 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
2130 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 15, 2013, 10:52:25 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
2659 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 12, 2013, 09:19:36 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1286 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 23, 2013, 09:04:30 AM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
2145 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 01, 2013, 09:02:49 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
4923 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 11, 2013, 03:54:52 PM
oleh Kang Asep
11 Jawaban
2025 Dilihat
Tulisan terakhir September 10, 2015, 12:35:35 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
610 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2015, 10:31:18 AM
oleh comicers
0 Jawaban
79 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 05, 2018, 03:38:53 PM
oleh mustikasari

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan