Penulis Topik: Logika Pada Zaman Keemasan Islam  (Dibaca 4941 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« pada: Juni 02, 2012, 05:08:02 AM »
Sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa di mana disitu pelajaran Logika tumbuh berkembang secara pesat, maka bangsa itu menjadi bangsa yang maju dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi maupun filsafat. Namun bangsa di mana ilmu Logika tidak cukup berkembang, bahkan dilarang, diharamkan, para ahli logika dibunuh, sekolah-sekolah yang mengajarkan logika dibakar dan dihancurkan, maka bangsa itu akan menjadi bangsa yang terbelakang. (A. Rochman, SEJARAH LOGIKA,  No.12341)

Buah tangan Aristotes diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada sekitar Abad 7 Masehi, dan kemudian diberinya nama ilmu al-Mantiq.

Mantiq itu berasal dari akar kata nathaqa, yang bermana “berpikir”. Nathiqun berarti “yang berpikir”, Mantuqun artinya “yang dipikirkan”. Mantiqun bermakna “alat berpikir”.

Khalifah Makmun Al-Rasyid dari daulat Abbasyiah di Bagdad, telah memerintahkan Abu Abdi Yasua untuk menerjemahkan Logika kedalam bahasa Arab.  Tetapi penerjemahan ke dalam bahasa Arab tersebut bukan yang pertama. Karena sebelumnya Yohana bin Patrik telah terlebih dahulu menerjemahkan Logika ke dalam bahasa Arab yang diberinya nama “Maqulat Asyarat li Aristu” yang berarti “kategori Aristoteles”. Tetapi pada waktu itu, para penejermah tidak pernah menyalin Logika secara sempurna, karena naskah-naskah Aristoteles itu tidak mudah untuk didapatkan, akibat dari fatwa dari Dewan Geraja di barat yang mengaharamkan mempelajari Logika, sehingga naskah-naskah Logika dibakar dan pusat-pusat pendidikan Logika dihancurkan. Bab-bab yang paling pokok dari Logika telah dinyatakan sebagai bab-bab terlarang karena dianggap “mengganggu keimanan geraja”.

Secara perlahan, para penulis Arab menemukan kembali naskah kuno dari buah tangan Aristoteles dan menghimpunnya, sehingga naskah Logika menjadi semakin lengkap. Kemudian seorang ulama bernama al-Kindi disebut-sebut sebagai yang pertama kali menghimpun naskah Logika secara agak lengkap.

Kendatipun naskah yang dihimpun oleh al-Kindi disebut paling lengkap pada waktu itu, tetapi naskah-naskah itu masih diluar dari naskah-naskah Logika yang terlarang. Salah satu ketidak lengkapan naskah al-Kindi itu salah satunya terbukti tidak memuat syllogisme dan material syllogisme yang terdapat dalam bab analytica. Padahal bab tersebut merupakan bab paling pokok dalam logika. 

Pada abad ke-9, ditangan Ishak bin Husain, naskah Logika telah disalin sepenuhnya ke dalam bahasa Arab. Tetapi konversi istilah-istilah Logika ke dalam bahasa Arab masih menimbulkan masalah, masih kacau, karena belum adanya keseragaman. Penyempurnaan terakhir terhadap istilah-istilah Logika di dalam bahasa Arab itu dilakukan oleh Abu Mashar Al-Farabi.

Selain menyalin buah karya Aristoteles dalam bidang Logika, al-Farabi juga menyalin buku-buku Aristoteles dalam bidang ilmiah, serta menambahkan banyak komentar di dalamnya. Di masa al-Farabi itu kemudian Logika  mencapai kegemilangannya. Naskah-naskah buah tangan al-Farabi kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, hingga bangsa Eropa menyebut al-Farabi sebagai “Guru Kedua” setelah Aristoteles. Al-Farabi pernah berkata, “Seandainya saya hidup di zaman Aristoteles, tentu saya akan menjadi muridnya yang terbesar”.

karya Aristoteles dalam bidang ilmu berpikir itu disalin ke dalam bahasa Arab pada masa pemerintahan Daulat Abbasiyah &50-1258 M) di Baghdad, diberi nama : Ilmu Al-Mantiq. Bermula disalin oleh Al-Kindi(801-886 M) dan disempurnakan istilah-istilahnya (dalam bahasa Arab) oleh Al-Farabi (874-950 M). Nama yang diberikan kepada ilmu itu bermakna : Ilmu Tentang Alat Berpikir. (Joesoef Sou`yb, Logika, hal. 4)

Setelah al-Farabi, risalah Logika diteruskan oleh Ibnu Sina yang telah menulis buku berjudul Kitabul Syifa, terdiri dari 18 jilid tebal berisikan pembahasan Logika dengan referensi tafsir Logika al-Farabi. Buah karya ibnu Sina dalam bidang Logika itu kini telah tersimpan di perpustakaan Oxford dan telah berkali-kali dicetak dalam bahasa Latin.

Buah tangan al-Farabi kemudian menjadi standar pelajaran Logika di benua Eropa. Sedangkan buah tangan Ibnu Sina menjadi standar pelajaran Logika di benua Amerika pada pada ke 17.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline molecullarafric

Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #1 pada: Januari 08, 2014, 09:10:24 AM »
saya selalu bertanya-tanya berkaitan masa keemasan Islam dengan Aliran Mutazillah


sebaiknya bagaimana sikap kita mengenai aliran Mutazillah ini?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #2 pada: Januari 08, 2014, 09:47:24 AM »
coba Anda kemukakan dulu, intisari dari ajaran Mu`tazilah itu seperti apa. saya tidak cukup mengetahui tentang Mu`tazilah tersebut, sehingga belum dapat memberikan penilaian!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 12
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #3 pada: Januari 08, 2014, 07:02:35 PM »
Sekedar sharing http://waskitozx.wordpress.com/makalah/makalah-pendidikan-islam/makalah-akidah/aliran-mutazilah-sejarah-tokoh-dan-ajaranya/

Quote (selected)

Aliran Mu’tazilah

Aliran m’tazilah merupakan salah satu aliran teologi dalam islam yang dapat dikelompokkan sebagai kaum rasionalis islam, disamping maturidiyah samarkand. Aliran ini muncul sekitar abad pertama hijriyah, di kota Basrah, yang ketika itu menjadi kota sentra ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam. disamping itu, aneka kebudayaan asing dan macam-macam agama bertemu dikota ini. dengan demikian luas dan banyaknya penganut islam, semakin banyak pula musuh-musuh yang ingin menghancurkannya, baik dari internal umat islam secara politis maupun dari eksternal umat islam secara dogmatis.

mereka yang non islam merasa iri melihat perkembangan islam begitu pesat sehingga berupaya untuk menghancurkannya. adapaun hasarat untuk menghancurkan islam dikalangan peneluk islam sendiri,

dalam sejarah, mu’tazilah timbul berkaitan dengan peristiwa Washil bin Atha’ (80-131) dan temannya, amr bin ‘ubaid dan Hasan al-basri, sekitar tahun 700 M. Washil termasuk orang-orang yang aktif mengikuti kuliah-kuliah yang diberikan al-Hasan al-Basri di msjid Basrah. suatu hari, salah seorang dari pengikut kuliah (kajian) bertanya kepada Al-Hasan tentang kedudukan orang yang berbuat dosa besar (murtakib al-kabair). mengenai pelaku dosa besar khawarij menyatakan kafir, sedangkan murjiah menyatakan mukmin. ketika Al-hasan sedang berfikir, tiba-tiba Washil tidak setuju dengan kedua pendapat itu, menurutnya pelaku dosa besar bukan mukmin dan bukan pula kafir, tetapi berada diantara posisi keduanya (al manzilah baina al-manzilataini). setelah itu dia berdiri dan meninggalkan al-hasan karena tidak setuju dengan sang guru dan membentuk pengajian baru. atas peristiwa ini al-Hasan berkata, “i’tazalna” (Washil menjauhkan dari kita). dan dari sinilah nama mu’tazilah dikenakan kepada mereka.

untuk mengetahui corak rasional kaum mu’tazilah ini dapat dilihat dari ajaran-ajaran pokok yang berasal darinya, yakni al-ushul al-khamsah. Ajaran ini berisi at-tauhid, al-’adlu, al-wa’du dan al-wa’idu, al-manzilah baina al-manzilataini dan amar ma’ruf nahyi munkar.

dalam hal attauhid (kemahaesaan Tuhan), merupakan jaran dasar terpenting bagi kaum mu’tazilah, bagi mereka, tuhan dikatakan Maha Esa jika ia merupakan dzat yang unik, tiada sesuatupun yang serupa dengan Dia. oleh karena itu, mu’tazilah menolak paham Antropomorphisme/al-tajassum, yaitu paham yang menggambarkan tuhan menyerupai makhluknya, misalnya Tuhan Bertangan dsb. untuk menghindari paham ini, mu’tazilah melakukan interpretasi metaforis terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang Dzonni : yadullah (Tangan Allah), berarti kekuasaan Allah, Wajhullah (Wajah Allah), Berarti keridhaa-Nya Dsb.

mereka juga menolak paham beatific vision, yaitu pandangan bahwa tuhan dapat dilihat dai akhirat nanti (dengan mata kepala). satu satunya sifat tuhan yang betul-betul tidak mungkin ada pada makhluk-Nya adalah sifat qadim. paham ini mendorong mu’tazilah untuk meniadakan sifat-sifat Tuhan yang mempunyai wujud sendiri diluar dzat Tuhan.

pandangan rasional mu’tazilah.

( Dalam Makalah )

MAKALAH ILMU KALAM TENTANG ALIRAN MU’TAZILAH DALAM PANDANGAN ILMU KALAM

BAB I

PENDAHULUAN

Pemikiran-pemikiran para filosof dari pada ajaran dan wahyu dari Allah sehingga banyak ajaran Islam yang tiddak mereka akui karena menyelisihi akal menurut prasangka mereka Berbicara perpecahan umat Islam tidak ada habis-habisnya, karena terus menerus terjadi perpecahan dan penyempalan mulai dengan munculnya khowarij dan syiah kemudian muncullah satu kelompok lain yang berkedok dan berlindung dibawah syiar akal dan kebebasan berfikir, satu syiar yang menipu dan mengelabuhi orang-orang yang tidak mengerti bagaimana Islam telah menempatkan akal pada porsi yang benar. sehingga banyak kaum muslimin yang terpuruk dan terjerumus masuk pemikiran kelompok ini. akhirnya terpecahlah dan berpalinglah kaum muslimin dari agamanya yang telah diajarkan Rasulullah dan para shahabat-shahabatnya. Akibat dari hal itu bermunculanlah kebidahan-kebidahan yang semakin banyak dikalangan kaum muslimin sehingga melemahkan kekuatan dan kesatuan mereka serta memberikan gambaran yang tidak benar terhadap ajaran Islam, bahkan dalam kelompok ini terdapat hal-hal yang sangat berbahaya bagi Islam yaitu mereka lebih mendahulukan akal dan

Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menasehati saudaranya agar tidak terjerumus kedalam pemikiran kelompok ini yaitu kelompok Mu’tazilah yang pengaruh penyimpangannya masih sangat terasa sampai saat ini dan masih dikembangkan oleh para kolonialis kristen dan yahudi dalam menghancurkan kekuatan kaum muslimin dan persatuannya.

Bermunculanlah pada era dewasa ini pemikiran mu’tazilah dengan nama-nama yang yang cukup menggelitik dan mengelabuhi orang yang membacanya, mereka menamainya dengan Aqlaniyah… Modernisasi pemikiran. Westernasi dan sekulerisme serta nama-nama lainnya yang mereka buat untuk menarik dan mendukung apa yang mereka anggap benar dari pemkiran itu dalam rangka usaha mereka menyusupkan dan menyebarkan pemahaman dan pemikiran ini. Oleh karena itu perlu dibahas asal pemikiran ini agar diketahui penyimpangan dan penyempalannya dari Islam, maka dalam pembahasan kali ini dibagi menjadi beberapa pokok pembahasan

BAB II

PEMBAHASAN

A. Munculnya golongan atau kelompok Mu’tazilah

Sejarah munculnya aliran mu’tazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran mu’tazilah tersebut muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah, tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal, kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru, dan akhirnya golongan mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya. Sehingga kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar diwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah).

Secara harfiah kata Mu’tazilah berasal dari I’tazala yang berarti berisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri secara teknis, istilah Mu’tazilah menunjuk ada dua golongan.

Golongan pertama, (disebut Mu’tazilah I) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuh sebahai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawan-lawannya, terutama Muawiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Zubair. Menurut penulis, golongan inilah yang mula-mula disebut kaum Mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri dari pertikaian masalah khilafah. Kelompok ini bersifat netral politik tanpa stigma teologis seperti yang ada pada kaum Mu’tazilah yang tumbuh dikemudian hari.

Golongan kedua, (disebut Mu’tazilah II) muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang di kalangan Khawarij dan Mur’jiah akibat adanya peristiwa tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Mur’jiah tentang pemberian status kafir kepada yang berbuat dosa besar. Mu’tazilah II inilah yang akan dikaji dalam bab ini yang sejarah kemunculannya memiliki banyak versi.

B. Tokoh-Tokoh Aliran Mu’Tazilah

Wasil bin Atha.

Wasil bin Atha adalah orang pertama yang meletakkan kerangka dasar ajaran Muktazilah. Adatiga ajaran pokok yang dicetuskannya, yaitu paham al-manzilah bain al-manzilatain, paham Kadariyah (yang diambilnya dari Ma’bad dan Gailan, dua tokoh aliran Kadariah), dan paham peniadaan sifat-sifat Tuhan. Dua dari tiga ajaran itu kemudian menjadi doktrin ajaran Muktazilah, yaitu al-manzilah bain al-manzilatain dan peniadaan sifat-sifat Tuhan.

Abu Huzail al-Allaf.

Abu Huzail al-‘Allaf (w. 235 H), seorang pengikut aliran Wasil bin Atha, mendirikan sekolah Mu’tazilah pertama di kotaBashrah. Lewat sekolah ini, pemikiran Mu’tazilah dikaji dan dikembangkan. Sekolah ini menekankan pengajaran tentang rasionalisme dalam aspek pemikiran dan hukum Islam.

Aliran teologis ini pernah berjaya pada masa Khalifah Al-Makmun (Dinasti Abbasiyah). Mu’tazilah sempat menjadi madzhab resmi negara. Dukungan politik dari pihak rezim makin mengokohkan dominasi mazhab teologi ini. Tetapi sayang, tragedi mihnah telah mencoreng madzhab rasionalisme dalam Islam ini.

Abu Huzail al-Allaf adalah seorang filosof Islam. Ia mengetahui banyak falsafah yunani dan itu memudahkannya untuk menyusun ajaran-ajaran Muktazilah yang bercorak filsafat. Ia antara lain membuat uraian mengenai pengertian nafy as-sifat. Ia menjelaskan bahwa Tuhan Maha Mengetahui dengan pengetahuan-Nya dan pengetahuan-Nya ini adalah Zat-Nya, bukan Sifat-Nya; Tuhan Maha Kuasa dengan Kekuasaan-Nya dan Kekuasaan-Nya adalah Zat-Nya dan seterusnya. Penjelasan dimaksudkan oleh Abu-Huzail untuk menghindari adanya yang kadim selain Tuhan karena kalau dikatakan ada sifat (dalam arti sesuatu yang melekat di luar zat Tuhan), berarti sifat-Nya itu kadim. Ini akan membawa kepada kemusyrikan. Ajarannya yang lain adalah bahwa Tuhan menganugerahkan akal kepada manusia agar digunakan untuk membedakan yang baik dan yang buruk, manusia wajib mengerjakan perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan yang buruk. Dengan akal itu pula menusia dapat sampai pada pengetahuan tentang adanya Tuhan dan tentang kewajibannya berbuat baik kepada Tuhan. Selain itu ia melahirkan dasar-dasar dari ajaran as-salãh wa al-aslah.

Al-Jubba’i.

Al-Jubba’I adalah guru Abu Hasan al-Asy’ari, pendiri aliran Asy’ariah. Pendapatnya yang masyhur adalah mengenai kalam Allah SWT, sifat Allah SWT, kewajiban manusia, dan daya akal. Mengenai sifat Allah SWT, ia menerangkan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat; kalau dikatakan Tuhan berkuasa, berkehendak, dan mengetahui, berarti Ia berkuasa, berkehendak, dan mengetahui melalui esensi-Nya, bukan dengan sifat-Nya. Lalu tentang kewajiban manusia, ia membaginya ke dalam dua kelompok, yakni kewajiban-kewajiban yang diketahui manusia melalui akalnya (wãjibah ‘aqliah) dan kewajiban-kewajiban yang diketahui melaui ajaran-ajaran yang dibawa para rasul dan nabi (wãjibah syar’iah).

An-Nazzam

An-Nazzam : pendapatnya yang terpenting adalah mengenai keadilan Tuhan. Karena Tuhan itu Maha Adil, Ia tidak berkuasa untuk berlaku zalim. Dalam hal ini berpendapat lebih jauh dari gurunya, al-Allaf. Kalau Al-Allaf mangatakan bahwa Tuhan mustahil berbuat zalim kepada hamba-Nya, maka an-Nazzam menegaskan bahwa hal itu bukanlah hal yang mustahil, bahkan Tuhan tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat zalim. Ia berpendapat bahwa pebuatan zalim hanya dikerjakan oleh orang yang bodoh dan tidak sempurna, sedangkan Tuhan jauh dari keadaan yang demikian. Ia juga mengeluarkan pendapat mengenai mukjizat al-Quran. Menurutnya, mukjizat al-quran terletak pada kandungannya, bukan pada uslūb (gaya bahasa) dan balāgah (retorika)-Nya. Ia juga memberi penjelasan tentang kalam Allah SWT. Kalam adalah segalanya sesuatu yang tersusun dari huruf-huruf dan dapat didengar. Karena itu, kalam adalah sesuatu yang bersifat baru dan tidak kadim. [1]

Al- jahiz

Al- jahiz : dalam tulisan-tulisan al-jahiz Abu Usman bin Bahar dijumpai paham naturalism atau kepercayaan akan hukum alam yang oleh kaum muktazilah disebut Sunnah Allah. Ia antara lain menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan manusia tidaklah sepenuhnya diwujudkan oleh manusia itu sendiri, malainkan ada pengaruh hukum alam.

Mu’ammar bin Abbad

Mu’ammar bin Abbad : Mu’ammar bin Abbad adalah pendiri muktazilah aliran Baghdad. pendapatnya tentang kepercayaan pada hukum alam. Pendapatnya ini sama dengan pendapat al-jahiz. Ia mengatakan bahwa Tuhan hanya menciptakan benda-benda materi. Adapun al-‘arad atau accidents (sesuatu yang datang pada benda-benda) itu adalah hasil dari hukum alam. Misalnya, jika sebuah batu dilemparkan ke dalam air, maka gelombang yang dihasilkan oleh lemparan batu itu adalah hasil atau kreasi dari batu itu, bukan hasil ciptaan Tuhan.

Bisyr al-Mu’tamir

Bisyr al-Mu’tamir : Ajarannya yang penting menyangkut pertanggungjawaban perbuatan manusia. Anak kecil baginya tidak dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di akhirat kelak karena ia belum *mukalaf. Seorang yang berdosa besar kemudian bertobat, lalu mengulangi lagi berbuat dosa besar, akan mendapat siksa ganda, meskipun ia telah bertobat atas dosa besarnya yang terdahulu.

Abu Musa al-Mudrar

Abu Musa al-Mudrar : al-Mudrar dianggap sebagai pemimpin muktazilah yang sangat ekstrim, karena pendapatnya yang mudah mengafirkan orang lain.Menurut Syahristani,ia menuduh kafir semua orang yang mempercayai kekadiman Al-Quran. Ia juga menolak pendapat bahwa di akhirat Allah SWT dapat dilihat dengan mata kepala.

Hisyam bin Amr al-Fuwati

Hisyam bin Amr al-Fuwati : Al-Fuwati berpendapat bahwa apa yang dinamakan surga dan neraka hanyalah ilusi, belum ada wujudnya sekarang. Alas$an yang dikemukakan adalah tidak ada gunanya menciptakan surga dan neraka sekarang karena belum waktunya orang memasuki surga dan neraka.

KESIMPULAN

Secara harfiah Mu’tazilah adalah berasal dari I’tazala yang berarti berpisah. Aliran Mu’taziliyah (memisahkan diri) muncul di basra, irak pada abad 2 H. Kelahirannya bermula dari tindakan Wasil bin Atha (700-750 M) berpisah dari gurunya Imam Hasan al-Bashri karena perbedaan pendapat. Wasil bin Atha berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin bukan kafir yang berarti ia fasik

Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar aliran Mu’tazilah yang menolak pandangan-pandangan kedua aliran di atas. Bagi Mu’tazilah orang yang berdosa besar tidaklah kafir, tetapi bukan pula mukmin. Mereka menyebut orang demikian dengan istilah al-manzilah bain al-manzilatain (posisi di antara dua posisi). Aliran ini lebih bersifat rasional bahkan liberal dalam beragama.

Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional dan cenderung liberal ini mendapat tantangan keras dari kelompok tradisonal Islam, terutama golongan Hambali, pengikut mazhab Ibn Hambal. Sepeninggal al-Ma’mun pada masa Dinasti Abbasiyah tahun 833 M., syi’ar Mu’tazilah berkurang, bahkan berujung pada dibatalkannya sebagai mazhab resmi negara oleh Khalifah al-Mutawwakil pada tahun 856 M.

Perlawanan terhadap Mu’tazilah pun tetap berlangsung. Mereka (yang menentang) kemudian membentuk aliran teologi tradisional yang digagas oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (935 M) yang semula seorang Mu’tazilah. Aliran ini lebih dikenal dengan al-Asy’ariah.
Di Samarkand muncul pula penentang Mu’tazilah yang dimotori oleh Abu Mansyur Muhammad al-Maturidi (w.944 M). aliran ini dikenal dengan teologi al-Maturidiah. Aliran ini tidak setradisional al-Asy’ariah tetapi juga tidak seliberal Mu’tazilah.
 

Offline molecullarafric

Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #4 pada: Januari 08, 2014, 07:24:05 PM »
terima kasih kang Radi sudah mendahului memberikan penjelasan, jujur saya sendiri juga bingung kalo mesti memberikan penjelasan komprehensif ttg aliran pemikiran Mu'tazillah ini dimulai darimana kalo pake saya sendiri

Quote (selected)
dalam hal attauhid (kemahaesaan Tuhan), merupakan jaran dasar terpenting bagi kaum mu’tazilah, bagi mereka, tuhan dikatakan Maha Esa jika ia merupakan dzat yang unik, tiada sesuatupun yang serupa dengan Dia. oleh karena itu, mu’tazilah menolak paham Antropomorphisme/al-tajassum, yaitu paham yang menggambarkan tuhan menyerupai makhluknya, misalnya Tuhan Bertangan dsb. untuk menghindari paham ini, mu’tazilah melakukan interpretasi metaforis terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang Dzonni : yadullah (Tangan Allah), berarti kekuasaan Allah, Wajhullah (Wajah Allah), Berarti keridhaa-Nya Dsb.

mereka juga menolak paham beatific vision, yaitu pandangan bahwa tuhan dapat dilihat dai akhirat nanti (dengan mata kepala). satu satunya sifat tuhan yang betul-betul tidak mungkin ada pada makhluk-Nya adalah sifat qadim. paham ini mendorong mu’tazilah untuk meniadakan sifat-sifat Tuhan yang mempunyai wujud sendiri diluar dzat Tuhan.




Munculnya golongan atau kelompok Mu’tazilah


Golongan pertama, (disebut Mu’tazilah I) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuh sebahai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawan-lawannya, terutama Muawiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Zubair. Menurut penulis, golongan inilah yang mula-mula disebut kaum Mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri dari pertikaian masalah khilafah. Kelompok ini bersifat netral politik tanpa stigma teologis seperti yang ada pada kaum Mu’tazilah yang tumbuh dikemudian hari.

Golongan kedua, (disebut Mu’tazilah II) muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang di kalangan Khawarij dan Mur’jiah akibat adanya peristiwa tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Mur’jiah tentang pemberian status kafir kepada yang berbuat dosa besar. Mu’tazilah II inilah yang akan dikaji dalam bab ini yang sejarah kemunculannya memiliki banyak versi.




Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar aliran Mu’tazilah yang menolak pandangan-pandangan kedua aliran di atas. Bagi Mu’tazilah orang yang berdosa besar tidaklah kafir, tetapi bukan pula mukmin. Mereka menyebut orang demikian dengan istilah al-manzilah bain al-manzilatain (posisi di antara dua posisi). Aliran ini lebih bersifat rasional bahkan liberal dalam beragama.

Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional dan cenderung liberal ini mendapat tantangan keras dari kelompok tradisonal Islam, terutama golongan Hambali, pengikut mazhab Ibn Hambal. Sepeninggal al-Ma’mun pada masa Dinasti Abbasiyah tahun 833 M., syi’ar Mu’tazilah berkurang, bahkan berujung pada dibatalkannya sebagai mazhab resmi negara oleh Khalifah al-Mutawwakil pada tahun 856 M.




untuk paragraf kesimpulan yg di bold ini mungkin yang banyak jadi pegangan kaum Muslim era Modern(termasuk saya salah satunya) ini untuk memberikan tuduhan bahwa aliran Mutazilah ini adalah cikal bakal dari yg sekarang disebut Islam Liberal, sekuler, ato islam nominal. bahkan saya pernah berdiskusi langsung dengan orang JIL(Jaringan Islam Liberal) sendiri mereka sering mention masalah Mutazilah ini sbg argumentasi historis mereka tentang perkembangan Islam


secara gamblang aj kalo dari sepenangkapan saya:

Aliran Mutazilah adalah aliran yang menuhankan akal, serta mengenyampingkan Syariat yang bertentangan dengan Akal, dengan dalil mereka menganggap Islam Agama untuk orang berakal


untuk itulah saya ingin lebih mencari kepastian dgn mendengar pendapat ikhwan2 disini mengenai Aliran Mu'tazilah ini
« Edit Terakhir: Januari 09, 2014, 03:01:15 AM oleh molecullarafric »
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #5 pada: Januari 09, 2014, 04:03:47 AM »
Mu`tazilah adalah aliran yang menuhankan akal. benarkah? itu hanya asumsi kita terhadap mereka. stigma orang-orang di luar mu`tazilah terhadap kaum mu`tazilah. hoax yang digemari para penikmat isue.  saya tidak melihat "unsur menuhankan akal" pada kaum mu`tazilah.

coba saya tanya, kepada siapapun yang menganggap mu`tazilah menuhankan akal, apa arti dari "menuhankan" ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline molecullarafric

Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #6 pada: Januari 09, 2014, 04:56:31 AM »
Kang Asep, sudah saya akui dalam post sebelumnya kalau itu Asumsi saya, dan bahkan merupakan Opini Third Hand(tangan ketiga) bukan lagi Second Hand(tangan kedua)

ceritanya saya dan teman diskusi saya yang JIL itu berdiskusi cukup panjang mengenai bentuk keislaman yang sesuai dengan jaman Modern, dia(si orang JIL) menyatakan bahwa bentuk Islam yang tepat adalah Islam yang membebaskan akal untuk penafsiran yang dinamis. maka ia mencontohkan Aliran Mutazilah ini sebagai argumentasinya, dimana ia menyatakan kebebasan berfikir yang menyerap prinsip2 sekuler dan rasionalitas barat itu adalah penyebab kemajuan umat islam pada masa Abbasiyah

sebagai contohnya dari segi aliran Tafsir ialah Qadariyah yg membuat saya membaca2 lagi buku2 Karen Armstrong dll... dimana aliran ini menyatakan bahwa Manusia menciptakan sendiri Takdirnya, yang bersandar pada dalil2 ayat serta hadits 'kebebasan yang diberikan Allah kepada manusia'





mengenai menuhankan akal, disini saya artikan ala kadarnya sesuai persepsi yang saya tangkap, yaitu mengganti dalil2 Al-Qur'an dan Hadits yang merupakan 'perpanjangan tangan Allah' jika dianggap bertentangan dengan akal, atau Tafsir dari suatu dalil harus berlandaskan Akal... jadi dengan kata lain menganggap akal lebih penting dari dalil

 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #7 pada: Januari 09, 2014, 05:22:23 AM »
coba bidik, dalam bentuk proposisi, satu saja, ajaran mu`tazilah mana yang dianggap sebagai ajaran yang salah.

misalnya, "kebebasan berpikir merupakan hak muslim", apakah ini ajaran mu`tazilah yang dianggap keliru ?

atau coba tunjukan yang mana ?!
« Edit Terakhir: Januari 09, 2014, 05:24:25 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #8 pada: Januari 09, 2014, 06:27:23 AM »
nampaknya yang dibicarakan disini adalah aliran saya nih....  :not speak:
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 12
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #9 pada: Januari 09, 2014, 09:22:20 AM »
nampaknya yang dibicarakan disini adalah aliran saya nih....  :not speak:

Wah
 

Offline Sandy_dkk

Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #10 pada: Januari 09, 2014, 09:35:13 AM »
Kutip dari: molecullarafric

==============================
Aliran Mutazilah adalah aliran yang menuhankan akal (mengganti dalil2 Al-Qur'an dan Hadits yang merupakan 'perpanjangan tangan Allah' jika dianggap bertentangan dengan akal, atau Tafsir dari suatu dalil harus berlandaskan Akal... jadi dengan kata lain menganggap akal lebih penting dari dalil), serta mengenyampingkan Syariat yang bertentangan dengan Akal, dengan dalil mereka menganggap Islam Agama untuk orang berakal

aliran ini menyatakan bahwa Manusia menciptakan sendiri Takdirnya
==============================
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #11 pada: Januari 09, 2014, 10:54:32 AM »
sayangnya, itu hanya penilaian dari pihak luar. saya ingin kalimat yang dikutip langsung dari  pernyataan para tokoh Mu`tazilah itu sendiri.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #12 pada: Januari 10, 2014, 09:45:55 AM »
jika ada seseorang yang mengaku mu'tazilah, namun menyangkal semua tuduhan yang dialamatkan padanya, maka mungkin pengakuannya sebagai seorang mu'tazilah tidak akan diakui, sehingga semua penjelasannya tentang mu'tazilah pun masih dianggap "penilaian pihak luar".


contohnya pada syiah.

A: semua syiah adalah penyembah Ali.
B: siapa bilang? saya syiah, tapi saya bukan penyembah Ali!
A: jika anda bukan penyembah Ali, berarti anda bukan syiah, anda hanya mengaku saja!

maka percuma lah penjelasan B bahwa syiah bukan penyembah Ali, karena dianggap hanya mengaku saja sebagai syiah, bahkan mungkin B akan dianggap sebagai "korban kebohongan syiah".


orang2 diluar syiah menetapkan sebuah himpunan syiah, yang mana mereka menetapkan sendiri sifat orang2 yang masuk ke dalam himpunan khayalan mereka tsb, jadilah himpunan syiah mereka adalah himpunan kosong, yang tidak memiliki anggota, karena tidak ada satupun yang merasa masuk ke dalam himpunan syiah khayalan tsb.


orang2 diluar mu'tazilah telah menetapkan sifat2 orang mu'tazilah seenak perut mereka sendiri, orang mu'tazilah sendiri tidak bisa memberikan konfirmasi, karena jika mereka membantah, berarti mereka bukan mu'tazilah.



saya adalah mu'tazilah!
tapi jika saya mengoreksi setiap tuduhan yang dialamatkan kepada mu'tazilah, mereka menuding saya bukan mu'tazilah, hanya mengaku saja, karena paham yang saya anut tidak sesuai dengan paham himpunan mu'tazilah khayalan mereka.
kejadiannya tepat 1 minggu yang lalu, saat saya berkumpul dengan kawan2 lama saya pada majelis salafy.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #13 pada: Januari 10, 2014, 10:27:29 AM »
ya. himpunan kosong!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline molecullarafric

Re:Logika Pada Zaman Keemasan Islam
« Jawab #14 pada: Januari 11, 2014, 09:36:39 PM »
he he tambah bingung saya, jadi malah tambah pertanyaan rasanya...
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1593 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 25, 2012, 10:10:45 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1892 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 02, 2012, 05:09:42 AM
oleh Kang Asep
6 Jawaban
8158 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 28, 2015, 01:12:01 AM
oleh Ziels
3 Jawaban
1376 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2013, 12:00:57 PM
oleh Awal Dj
1 Jawaban
1317 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 12, 2013, 11:41:22 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
736 Dilihat
Tulisan terakhir September 02, 2013, 09:10:03 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
469 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2015, 04:16:02 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
641 Dilihat
Tulisan terakhir April 29, 2015, 08:16:48 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
206 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 30, 2016, 09:01:45 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
108 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 29, 2016, 09:16:50 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan