Penulis Topik: Kebijaksanaan Sokrates  (Dibaca 268 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kebijaksanaan Sokrates
« pada: November 14, 2016, 07:08:00 PM »
Nomor : PST.KI/Fil-004/6766
Edisi : 14 Nopember 2016
Judul :  Kebijaksanaan Sokrates
Tujuan :
1)   Mengenal sejarah awal ilmu logika
2)   Mengenal sejarah awal metida dialektika logika
3)   Mengenal Kebijaksanaan Sokrates
4)   Mengetahuia kriteria orang yang bijaksana
========================

Chaerepon telah lama menjadi kawan karib Sokrates. Dia mengenal baik, bagaimana karakteristik Sokrates, keramahannya, pengetahuannya, kebijaksanaannya dan sebagainya. Sokrates merupakan sahabat terbaik bagi Chaerepon. Ini berarti, Sokrates adalah guru bagi Chae. Peribahasa mengatakan guru terbaik adalah sahabat yang bijsakana. Lebih dari sekedat sahabat yang bijaksana, Chaerepon menganggap Sokrates adalah orang yang paling bijaksana dari semua orang bijaksana yang pernah ditemuinya.

Suatu hari terbetik suatu pertanyaan dalam hati Chaerepon, “adakah orang yang lebih bijaksana dari Sokrates ?” tapi siapakah orang yang dapat menjawab pertanyaan ini ? “O iya. . aku akan bertanya pada Oracle di kuil Dewa Apollo di Delphi.” Chae pun pergi ke kuil itu. Di sana dia bertemu dengan para Pythia, yaitu sekelompok wanita yang menghuni dan melayani Dewa Apollo di kuil tersebut.

“Apa maksud kedatanganmu, Tuan ?” Tanya

“saya ingin berjumpa dengan Oracle.” Demikian jawab Chae.

Oracle adalah para imam wanita di kuil tersebut, mereka bekerja untuk melayani umat dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan umat tentang sesuatu. Adapun pertanyaan umat yang ditanyakan kepada para Oracle, akan ditanyakan kembali kepada Dewa Apollo di tempat pemujaan. Di tengah kuil tersebut ada lubang besar menuju bumi, dengan kedalaman yang tidak diketahui. Lubang yang bercahaya, karena magma bumi. Para oracle menunggu “bisikan gaib” yang muncul dari lubang tersebut. Demikian pula, pertanyaan Chaerepon diajukan kepada Dewa Apollo.

Setelah menunggu beberap saat, suara bergema dari lubang besar itu. Dia berkata, “Sophocles bijaksana, Euripedes lebih bijaksana, namun yang paling bijaksana dari semuanya adalah Sokrates.” Bisikan gaib ini, kemudian disampaikan oleh Oracle kepada Chaerepon.

“Jadi, tidak ada yang lebih bijaksana dari Sokrates ?  wow. Ini berita luar biasa.” Demikian gumam Chaerepon. Diapun bergegas pulang menemui Sokrates. Dan segera menceritakan apa yang dia dengar dari Oracle di Delphi.

Mendengar berita itu, Sokrates merasa terkejut. Sama sekali Sokrates tidak merasa dirinya bijaksana. Sokrates berujar, “saya paling bijaksana ? mengapa saya ? memangnya saya siapa ?” Sokrates tidak mempercayai ramalan Oracle dari kuil Dewa Apollo. Tetapi, Chaerepon sangat yakin bahwa itu benar. Karena sejak lama, Chaere pun menilai bahwa Sokrates adalah orang yang arif bijaksana, dan belum menemukan yang lebih bijaksana darinya.

“Bailah Chae.. akan saya buktikan bahwa ramalan tersebut tidaklah benar. Saya, sama sekali tidaklah bijaksana.” Kata Sokrates.

Untuk membuktikan bahwa ramalan tersebut tidak benar, lalu Sokrates pergi menemui para Sofis, yaitu orang-orang yang dianggap bijaksana pada waktu itu. Sokrates ingin memperlihatkan pada Chaerepon bahwa ramalan Oracle Delphi itu tidaklah benar, dengan mencari orang yang lebih bijaksana, setidaknya dalam pandangan Charepon.

Kaum Sofis adalah kaum terpelajar yang rata-rata berasal dari luar Athena. Mereka memiliki keahlian dalam seni debat, retorika dan sastra. Mereka seperti para pengacara yang pandai memutar balikan fakta. Kaum Sofis inilah yang digelari para bijaksana. Seseorang yang mendapat gelar bijaksana, mereka akan segera kaya raya. sebab mereka akan menjadi guru bagi kaum terpelajar, pengacara dan guru para politikus. Mereka mengambil upah dari “kebijaksanaan” mereka.

Bagi kaum sofis, setiap orang adalah ukuran hukum. Kebenaran dan keadilan tergantung kepiwaian mereka di dalam menyentuh perasaan public. Kebenaran bagi kaum Sofis ini relative, tidak ada kebenaran yang objektif.  Konsep “semua kebenaran relative” merupakan produk kaum sofis . Prinsip ini telah menimbulkan kemerosotan moral bangsa Yunani. Karena hal-hal salah dan buruk sekalipun,dapat disulap menjadi terlihat benar. 

Socrates mulai menemui orang-orang di kota, dan mengajak mereka berdiskusi tentang berbagai persoalan. Sokrates tidak beretorika, tidak mendasarkan pemikirannya kepada hal-hal yang berbau mitologi. Berbeda dengan kaum Sofis, Sokrates mendasarkan  pemikirannya kepada hal-hal yang rasional dan logis, serta meneguhkan kebenaran yang objektif. Bagi Sokrates, tidak semua kebenaran itu relative, melainkan ada yang objektif. Dengan cara itu dia menjalin dialog dengan orang-orang biasa maupun kaum Sofis.  Dia membangun diskusi mulai dari persoalan-persoalan sederhana, sesuai dengan pengetahuan setiap orang yang diajaknya berbicara. Dan Sokrates memulainya dengan mengajukan pertanyaan mengenai definisi tentang hal-istilah-istilah yang sudah akrab dan lazim digunakan, seperti  apa itu cinta, keadilan, kebenaran, kebahagiaan, keberanian, dan sebagainya. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Sokrates, orang-orang di dorong untuk berpikir dengan cermat, logis dan rasional, didasarkan pada fakta-fakta yang nyata, bukan sekedar keyakinan semata.

Sokrates seorang yang jujur, ramah, rendah hati serta humoris. Dia berkeliling kota tidak dengan maksud untuk memamerkan kepandaiannya, dan mengajari orang-orang. Karena itu, Sokrates tidak mengajarkan apapun pada orang lain. Dia hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan, seperti murid yang ingin tahu banyak hal, lalu mengajukan banyak pertanyaan pada gurunya. Tetapi, justru dengan pertanyaan-pertanyaan Socrates itu, orang-orang jadi banyak belajar.

Pertanyaan-pertanyaan Sokrates, telah mndorong orang-orang untuk berpikir ulang tentang keyakinan yang selama ini telah dipegang kuat-kuat oleh bangsa Yunani yang mempercayai dewa-dewi. Banyak orang yang tercerahkan, dan lalu mengakui kebijaksanaan sokrates. Tetapi tidak pula sedikit, orang yang tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan Sokrates. Karena pertanyaan-pertanyaan itu seperti menggugat keyakinan mereka, melucuti dan menelanjangi pakaian mereka. Akhirnya mereka menciptakan permusuhan sengit terhadap Sokrates. Sokrates berkata, “Aku pergi menemuia orang-orang yang terkenal dengan kebijaksanaannya. Setelah berdiskusi dengan mereka, saya mengetahui bahwa mereka tidaklah bijaksana. Dalam pandangan banyak orang, para Sofis ini terihat bijaksana, terutama dalam pandangannya sendiri. Tetapi sebetulnya tidak bijaksana. Kemudian aku mencoba menunjukan padanya bahwa dia tidak bijaksana. Lalu dia dan pengikutnya membenciku.”


Metoda Tanya-jawab Sokrates tersebut disebut Dialektika Logika. Dengan metoda ini, baik si penanya maupun si penjawab, keduanya akan sama-sama mendapatkan pelajaran berharga, dan berujung pada pengakuan bersama, “ternyata saya tidak tahu, anda tidak tahu, jadi siapa yang tahu?” atau “ternyata saya bodoh, anda juga bodoh. Jadi, siapa yang pintar ?” atau “ternyata anda tidak bijksana, dan saya tidak bijaksana. Jadi, siapa yang bijaksana ?” dengan dialektika logika ini, akhirnya semua pihak jujut dengan keadaan dirinya jadi merendah, jauh dari kesombongan,  tidak ada yang merasa lebih tahu, lebih pintar, lebih cerdas, lebih suci dan bijaksana dari pihak lainnya.

Akhirnya Sokrates menyadari, bahwa dirinya disebut bijaksana oleh Orakel Dewa Apollo bukanlah karena Sokrates serba tahu, tetapi karena Sokrates sadar bahwa  dirinya tidak tahu. Sehingga jauhah Sokrates dari merasa dirinya merasa bijaksana. Sedangkan mereka yang merasa bijaksana, pada dasarnya adalah orang-orang yang tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu. Sokrates berkata, “Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia hanyalah sedikit. Dan tampaknya para Dewa menyebut namaku untuk menjadikan aku sebagai contoh bagi umat manusia, bahwa jika di antara kalian ada orang yang paling bijaksana, itulah dia orang yang menyadari bahwa dirinya tidak bijaksana.” 

Sokrates mengajarkan kepada kita bahwa menjadi bijaksana bukanlah menjadi serba tahu apalagi merasa tahu segalanya. Menjadi bijaksana adalah sadar bahwa diri kita tidak tahu. dan bukan sekedar perasaan tidak tahu, tetapi kita tahu di mana letak ketidak-tahuan kita. Dialektika Sokrates adalah cikal bakal ilmu logika yang disusun oleh Aristoteles. karena itu, ilmu logika pun seperti halnya dialektika Sokrates, ia akan mengantarkan kita kepada kesadaran akan ketidak-tahuan. Jika kita tidak sampai pada kesadaran akan ketidak-tahuan, rasa malu untuk mengaku tahu, maka pertanda kita belum benar-benar menggunakan logika atau proses kita dalam mempelajari ilmu logika, belumlah usai.
« Edit Terakhir: Januari 03, 2017, 11:51:27 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
939 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 15, 2012, 11:22:51 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2026 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 09, 2013, 10:13:31 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1841 Dilihat
Tulisan terakhir September 06, 2015, 02:44:53 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
206 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 03, 2017, 07:57:47 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
57 Dilihat
Tulisan terakhir September 25, 2017, 09:16:49 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan