Penulis Topik: Pikiran Yang Damai  (Dibaca 156 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Pikiran Yang Damai
« pada: Mei 06, 2018, 02:59:20 AM »
(Kondisi Pikiran Yang Harus Disyukuri[Yang Kedua])

Rumusan Masalah :
Terkadang atau bahkan seringkali, seseorang mengalami pikiran yang damai, begitu tenang dan damai. Namun karena itu sering dialaminya, maka dia memandang hal itu sebagai hal biasa saja atau bahkan mengira bahwa orang lain juga mengalami hal yang sama dengan dirinya. Karena itu, ia menjadi kurang bersyukur. Bagaimana agar kita dapat selalu mensyukuri pikiran yang damai ? Mengapa harus mensyukurinya ? Apa gunanya ?

Tujuan :
1) memberikan gambaran pikiran yang damai
2) mengapa pikiran menjadi damai ?
3) Menjelaskan hubungan kedamaian pikiran dan tidur nyenyak
4) menjelaskan manfaat mensyukuri pikiran yang damai
5) menjelaskan cara mensyukuri kedamaian pikiran
==================

Mari kita renungkan kembali bahwa negeri kita saat ini telah bebas dari penjajahan asing, perang telah berarkhir dan kita hidup di negeri yang merdeka. Kita dapat keluar di malam hari, berjalan di mall atau di pasar-pasar tanpa khawatir bom akan jatuh, atau peluru-peluru yang akan berjatuhan. Kita aman.

Ada cukup makanan di tengah masyarakat kita, sehingga kita tidak kekurangan sandang dan pangan, tidak harus berebut makanan seperti yang terjadi di negeri-negeri miskin.

Orang-orang jahat terkekang, tidak bisa leluasa mekakukan kejahatannya, jangankan memukul, bila seseorang menarik kerah baju Anda tanpa izin Anda, maka bisa anda pastikan esok ia masuk penjara. Anda perlindungan.

Ada kedamaian, keamanan, dan kecukupan sandang pangan di negeri kita, tidak kah cukup semua ini untuk membuat kita bersyukur.

Masalahnya, sebagian orang gemar mengatakan "negeri kita belum merdeka, masih dalam penjajahan antek-antek asing, kemiskinan merajalela, mencari kerja susah, makan buat sehari-haripun susah, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas, para pejabat korup" dan sebagainya. Seolah tak ada yang dia bisa lihat, kecuali kebusukan.

Ternyata di negeri yang kaya raya ini banyak yang merasa miskin. Hidup di negeri merdeka namun merasa terjajah.  sebagian orang hidup di dalam rumah-rumah yang nyaman dan damai, sebagiannya lagi merasa jauh dari kenyamanan dan jauh dari kedamaian.

Ini bukan soal mana yang benar, apakah negeri kita benar sudah merdeka ataukah belum merdeka ? Filsafat bisa dibikin jungkir balik, benar salah bisa diputar balik, tapi yang jelas orang-orangnyang ada di sekitar kita ada yang dianugerahi kedamaian dalam hidupnya dan ada yang masih jauh dari suasana damai tadi. Bila Anda termasuk orang damai, tanpa kesedihan, tanpa kegelisahan, tanpa ketakutan, tanpa kemarahab, tanpa kejengkelan dan tanpa kebingungan, maka Anda patut bersyukur. Bagaimana cara menysukurinya? yaitu dengan berbelas kasihan pada mereka yang belum damai, bukan dengan mengejek atau menyombongkan diri dengan berpikir "aku lebih baik dari mereka."

Rasa syukur dengan berbelas kasih pada mereka yang hidup dalam kejengkelan, kemarahan,  dan kegelisahan, akan membawa pikiran pada kondisi yang lebih luhur, sedangkan kesombongan justru akan menodai kedamaian itu sendiri.

"Barang siapa yang taat Allah dan RasulNya, niscaya ia bersama orang-orang yang diberi nikmat dari golongan para nabi, para syuhada da orang-orang shaleh". Nabi dan orang-orang shaleh adalah mereka yang memiliki pikiran yang damai, mereka tidak sombong dan tidak pernah mengatakan " aku lebih baik dari mu, aku lebih baik dari mereka". Akan tetapi para nabi dan orang-orang shaleh sangat berbelas kasihan pada mereka yang belum damai dalam hidupnya. Alquran menggambarkan rasa belas kasih Muhanmad saw pada umatnya,"Telah datang rasul dari bangsamu sendiri. Berat benar penderitaanmu dia rasakan dan sangat mengharapkan kebahagiaan bagimu, dia lemah lembut dan penyayang terhadap kaum mukmin". Ayat tersebut bukannya menggambarkan bahwa nabi saw tengah menderita, melainkan menunjukan rasa empati, belas kasih yang dalam, sehingga seolah penderitaan umat beliau rasakan, dan harapannya tak lain adalah kebahagiaan umat. Sebenarnya berbelas kasih pada mereka yang menderita, selalu mengharapkan kebahagiaan bagi sesama, itulah cara mensyuk
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
3178 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 23, 2013, 07:50:11 AM
oleh Kang Asep
Pikiran

Dimulai oleh Kang Asep Definisi

0 Jawaban
1711 Dilihat
Tulisan terakhir November 27, 2013, 04:05:20 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1415 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 15, 2013, 06:19:37 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1160 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 22, 2014, 10:34:40 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1141 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 19, 2014, 10:08:44 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
437 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 11, 2015, 03:01:52 PM
oleh ratna
0 Jawaban
877 Dilihat
Tulisan terakhir April 17, 2015, 04:13:11 PM
oleh comicers
0 Jawaban
436 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 14, 2015, 07:05:19 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
251 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 04, 2016, 12:40:52 AM
oleh Sultan
0 Jawaban
176 Dilihat
Tulisan terakhir September 13, 2016, 09:56:25 PM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan