Penulis Topik: Nikmat Yang Agung  (Dibaca 74 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9274
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Nikmat Yang Agung
« pada: September 28, 2017, 07:32:58 PM »
Daftar Isi
====================
1. Kebahagiaan
1.1. Tiga Jalan Kebahagiaan
1.2. Hari dan Jam Bahagia Bagiku
1.3.Jalan Sesat Menuju Kebahagiaan
1.4. Kebahagiaan Semu
1.5. Kedamaian
1.5.1. Melaksanakan Tugas
2. Nikmat Yang Agung <<<<<<<<
3. Surga Dan Neraka
3.1. Tujuh Neraka
3.1.1. Tujuh Kejahatan Anggota Badan
3.1.2. Tujuh Tahap Penderitaan
3.2. Tujuh Surga
3.2.1. Tujuh Kesenangan
====================

2. Nikmat Yang Agung
Edisi : 28 September 2017, 19:19:04

Ada seseorang yang merenungi nasibnya sendiri, kemudian dia bertanya, "Bagaimana saya dapat hidup tentram dan bahagia, apabila selalu kekurangan sandang pangan ?"

saya berkata :
---------------------
Isa as berkata, "janganlah engkau khawatir, bagaimana engkau akan berpakaian, karena engkau telah diberi badan. Janganlah engkau khawatir, bagamana esok makan, sebab engkau telah diberi hidup."

Sedangkan Buddha berkata, "Dunia ini cukup menyediakan apa yang dibutuhkan, tetapi tidak cukup menyediakan apa yang diinginkan." dan pada kesempatan lain, ia berkata, "Rezeki akan datang kepada mereka yang menjalankan kesucian."

Adapun imam Ali berkata,"bila rezeki telah dibagi-bagi (menurut Qadha Allah), mengapa kita perlu mengkhawatirkannya."
===============

"Jadi, " saya katakan, "Anda dapat tetap tentram dan bahagia, walaupun hidup Anda dilanda kemiskinan yang berat. Akan tetapi, karena ketidak-tahuan, sekarang Anda membayangkan bahwa hal itu tidaklah mungkin, seperti Anda membayangkan orang yang jempolnya terjepit pintu, namun orang itu tertawa riang. Dalam bayangan Anda hal itu tak logis, tidak mungkin. Kalau jempol tangan terjepit, Anda akan membayangkan wajahnya meringis, atau menangis, dan atau mengaduh."

Apakah anda merasa khawatir karena hari ini tak ada sedikitpun makanan yang tersedia sedangkan anda tidak memiliki uang sama sekali ? Bagaimana kiranya memenuhi kebutuhan pendidikan anak Anda ? Bila kita sangat miskin, bagaimana kita dapat membayangkan kehidupan keluarga yang ceria dan berseri-seri ?

Kita dapat meyakinkan diri bahwa Tuhan telah memberi kita hidup. Dan tidaklah seseorang dapat hidup, kecuali Tuhan telah memberinya rezeki untuk hidup. Jika Tuhan berkehendak seseorang untuk melangsungkan hidupnya, niscaya Tuhan akan tetap memberinya rezeki. Pohon-pohon yang tidak dapat berpindah tempat, Tuhan memberinya rezeki. Kodok yang hidupnya di darat, Tuhan memberinya rezeki berupa nyamuk, makhluk yang terbang. Kita manusia, yang diciptakan dengan wujud yang sempurna, diberi akal dan pikiran yang cerdas, bagaimana kita masih khawatir bahwa kita tidak akan mendapatkan rezeki ?

Tetapi fakta yang telah saya saksikan, beberapa orang menjalani hidup begitu miskin, sehingga tidak memiliki rumah tinggal dan bahkan tidak sanggup untuk sewa rumah. Di abad modern begini, mereka harus hidup berpindah-pindah tempat dari satu hutan ke hutan lain, seperti manusia zaman purba. Bukannya karena mereka gemar di hutan, dan bukan tak ingin hidup bermasyarakat, tapi karena kemiskinan. Mereka memilih tinggal di dalam hutan, karena dapat tidur di antara semak-semak, dibahwah pohon-pohon, atau di dalam gua-gua tanpa diusir orang. Dan mereka makan dari akar-akaran, pucuk-pucukan, serta buah-buahan yang dpat mereka temukan di hutan.

Sebagian orang hidup sebagai gelandangan di kota-kota besar, dan mereka harus makan dari sisa sisa makanan yang dibuang ke tempat sampah. Mereka hidup tidak layak. Tidakkah kita bertanya, mengapa hal ini bisa terjadi pada diri mereka ? Tuhan memberinya rezeki, karena itu mereka tetap hidup. Tapi mengais rezeki dari tong sampah, mencari sisa-sisa makanan yang dibuang orang, adalah suatu hal yang menyedihkan. Dunia ini masih menyediakan tempat tinggal bagi mereka, karena itu mereka masih bisa tidur dan bergerak. Tapi tinggal di kolong-kolong jembatan, atau tidur di emper-emper toko, dan kadang diusir-usir orang merupakan hidup yang memprihatinkan. Mereka juga masih berbusana, dengan pakaian yang mirip kain lap, kotor dan sobek-sobek. Apakah kita tak bertanya, bagaimana bisa di negeri yang katanya merdeka dan subur makmur ini, masih kita dapati orang yang bernasib demikian ? Bukankah Tuhan menyayanginya ? Tidakkah Tuhan memberinya petunjuk ke jalan kemuliaan sehingga dia dapat hidup dengan layak ? Mereka mereka hidup dalam kesengsaraan ?

Sejenak saya teringat lagi kepada seorang yang terbaring lemah di ruang VIP di rumah sakit. Dia ini makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Siang malam merasakan kesakitan yang sangat, hati penuh dengan kecemasan. Bila diperhatikan wajahnya pucat pasi, menandakan dia sering menahan rasa sakit. Dia mengalami sesi kehidupan yang penuh dengan kesengsaraan.  Rumahnya yang megah, sekarang harus dia tinggalkan. Walaupun tinggal di ruang VIP, tak seindah rumahnya sendiri. Dia tidak dapat bergerak secara leluasa, karena tubuhnya lemah, dan banyaklah tali, selang dan kabel yang mengikat tubuhnya. Terpenjara dalam pembaringannya. Sanak saudara, karib kerabat, semua berdatangan untuk menjenguknya sembali membawa bermacam-macam makanan. Namun, tak satupun makanan itu dapat dsentuhnya. Tubuhnya tidak sanggup menerima makanan-makanan itu, kecuali makanan yang dimasukan lewat selang yang dailirkan langsung ke perutnya. Saya termenung, bahwa segala harta benda yang dimiliki, tidaklah dapat membebaskan seseorang dari kesengsaraan.

Sekarang ingatan saya melayang lebih jauh ke belakang. Seorang yang jasmaninya sehat walafiat. Dia juga tidak kekurangan sandang dan pangan.   Saya hitung, kendaraan pribadi yang dimilikinya ada 12, memiliki dua rumah, dan tanah yang luas. Namun, saya melihat hari-harinya dipenuhi dengan kegelisahan, kegelisahan dan kegelisahan. Dalam satu minggu, haruslah dia menyediakan uang 500 juta rupiah untuk berbagai keperluan, mengurus harta dan perusahaannya. Belum lagi anak si mata wayangnya, jajannya itu dalam seminggu tidakla kurang dari 50 juta rupiah. Dan seringkali dia terliaht jengkel dengan permintaan anaknya yang mengada-ada. Sekali pernah terlihat dia membanting HP dengan wajah yang merah padam, sambil bersungut-sungut, "Anak tak tahu diuntung, saya kirim dia ke Kediri, biar dia sekolah yang bener di sana, eh.. Sekarang malah pengen kawin. Usianya saja baru 15 tahun." si anak bersikukuh pengen menikah. Dan kemauan si anak susah untuk dibantah. Apabila keinginannya tak dipenuhi, si anak akan melakukan tindakan-tindakan yang lebih menjengkelkan lagi. Entah karena salah didikan atau karna salah pergulan, yang jelas kelakuan si anak tak jarang membuat stres bapaknya yang konglomerat. D situ, saya berpikir bahwa menjadi seorang konglomerat dengan tubuh yang sepenuhnya sehat, bukan jaminan bebas dari kecemasan, kegelisahan, kebingungan, perselisihan, kemarahan dan sebagainya. Itu semua adalah penderitaan. Bahkan tak jarang, mereka yang dianggap konglomerat justru berbuat jahat. Dan tidaklah seseorang berbuat jahat, kecuali karena jiwanya terjebak dalam kesengsaraan.

Orang miskin, orang kaya, orang melarat atau konglomerat, orang yang sakit tubuhya maupun yang sehat, semua mengalami kesengsaraan, penderitaan batin. Tetapi diantara mereka ada yang dianugerahi oleh nikmat yang agung dari Tuhan. Apakah mereka itu rakyat atau pejabat, orang melarat atau konglomerat, mereka selalu berdoa, "Tunjukanlah kami kepada jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang diberi nikmat.." dan lalu, setelah mereka mendapat petunjuk, mereka menempuh jalan orang-orang shaleh, yaitu jalannya orang-orang yang diberi nikmat. Kekayaan bukanlah sebab dari turunnya nikmat ini. Kemiskinan tidaklah menjadi sebab hilangnya nikmat ini. Tahukah Anda, apa sebab datang dan hilangnya nikmat ini ?

Telah saya renungkan dalam-dalam, bahwa tentu hidup di dunia ini kita butuh sandang dan pangan. Karena itu, kita harus berikhtiar untuk mendapatkannya. Tetapi, tidak perlu untuk mengambil lebih dari apa yang kita butuhkan. Jangan menghabiskan umur kita untuk mengejar dunia yang tidak dapat menjamin kebahagiaan, dan tidak menjadi sebab turunnya nikmat yang agung. Carilah nafkah seperlunya. Sisanya, marilah kita berjalan di jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang shaleh. Mereka yang dapat fokus pada hidup saat ini di sini, melihat datang dan perginya segala sesuatu dengan ikhlas, menerima setiap apa yang tiba, merelakan segala yang berlalu, inilah yang menjadi sebab turunnya nikmat yang agung. Namun terkadang nikmat ini turun kepada mereka yang hidupnya melarat, sehingga orang-orang tidak melihatnya. Karena untuk dapat melihat nikmat yang agung, tidak dapat dilihat oleh mata kepala, melainkan oleh mata hakikat. Terkadang orang-orang shaleh yang dianugerahi nikmat ini juga mendapatkan musibah sakit seperti halnya nabi Ayub as. Bagi yang memiliki ketajaman batin, akan melihat bahwa sakit yang dialaminya itu tak ada bedanya dari nikmat. Tetapi, bagi yang tumpul mata hatinya, akan melihat kesakitan ini sebagai bentuk kesengsaraan.

Sebagian orang berpikir, nikmat dan kebahagiaan ada di dalam kehidupan yang berlimang harta. Lalu mereka terobsesi, berjuang keras untuk mencapai sukses. Dan sukses yang mereka maksud adalah menjadi "kaya". Seorang teman mencurahkan isi hatinya, "Aduhai... Teman-temanku, kebanyakan telah sukses, mereka memiliki rumah mewah, kendaraan bagus dan berhasil dan wirausahanya. Entah kapan saya bisa seperti itu ? Bila saya ada di antara mereka, rasanya minder" tergambarlah kesedihan dan penyesalan akan kondisi hidupnya saat ini.

Saya berkata kepadanya, "hai Teman, aku prihatin dengan keadaanmu, bukan karena kamu belum sukses seperti teman-temanmu, tapi karena kamu menyesali hidupmu saat ini. Hai Teman, jangan minder berada di antara teman-temanmu yang sukses, mencapai kemajuan dalam hidup keduniawian. Bukan rasa minder yang harus kamu miliki, tetapi rasa suka cita, turut serta berbahagia atas kemajuan yang diraih oleh teman-temanmu. Mereka telah mendapatkan bagiannya. Dan kamu telah mendapatkan bagianmu. Rezeki telah dibagi-bagi menurut kadarnya. Nikmati dan syukuri sepenuhnya apa yang kau daptkan, dan jangan sekali-kali menyesalinya. Kesedihan yang kamu rasakan, karena harta yang kamu miliki tidak sebanyak harta teman-temanmu, menunjukan kamu telah kehilangan kebahagiaan. Kamu tidak bergembira dengan apa yang telah Tuhan berikan kepadamu saat ini ! Jangan seperti itu, takutlah Teman ! Jika aku memberimu uang satu juta rupiah secara cum-cuma, tentulah kamu akan bergembira dan sangat berterima kasih. Karena kamu pikir, itu merupakan kebaikan yang besar. Tak ada hujan, tak ada angin, bukan upah, apalagi bayar utang, tiba-tiba saya memberimu uang, murni karena belas kasih ketika kamu sangat membutuhkannya. Tentulah dapat kamu bayangkan, rasa syukur dan gembira hati yang kamu rasakan. Lalu, bagaiman kamu tidak bergembira hati dengan dengan sepenuh syukur terhadap apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada mu ? Padahal Dia telah memberimu hidup, nikmatnya udara yang dapat kamu hisap dengan bebas, tubuh yang sehat, pikiran yang waras, Dia menganugerahimu istri yang cantik, dan anak yang sehat, lalu di mana rasa gembira dan syukur mu pada Sang Maha Pemberi ? Jangan sekali-kali merasa bersedih dengan sedikitnya harta yang kamu miliki. Kamu pikirkan, bagaimana kiranya perasaanku, setelah aku memberimu uang satu juta rupiah, bukannya bergembira dan berterima kasih, kamu malah terlihat bersedih dan berkata, `mengapa hanya satu juta, aku ingin lima juta`. Jadilah orang yang bersyukur. Tuhan berfirman, jika kamu bersyukur, Aku tambah nikmat untuk mu. Tapi apabila kamu mengkufurinya, niscaya adzabku pedih`.

Tak terbetik dalam hati saya, ketika melihat seseorang mengendari kedaraan bagus, `pengen seperti dia, memiliki kendaraan bagus, bisa nyetir mobil, bawa keluarga ke sana kemari, enak. Kapan saya punya mobil kayak gitu`. Saat berkunjung kepada kawan yang rumahnya megah, tidaklah saya berpikir `bagus sekali ini rumah, pengen banget saya punya rumah seperti ini, tapi rumah saya skarang jelek. Kapan saya punya rumah sebagus ini` tidak. Pikiran-pikiran seperti ini saya anggap sebagai sebagai noda bagi pikiran. Bila saya melihat kawan memiliki mobil yang bagus, saya hanya berpikir, `alhamdulillah, kawanku memiliki mobil yang bagus, saya turus senang, turut gembira, semoga itu bermanfaat baginya dunia dan akhirat.` bila melihat rumah teman yang megah, saya hanya berpikir `senang rasanya, temanku telah memiliki rumah yang mewah, sebagai hasil dari kerja keras dia. Semoga Tuhan memberkahi penghuni rumah ini`, tak ada pikiran untuk membanding-bandingkan harta benda milik orang lain dengan harta benda milik saya sendiri, jangan sekali-kali kita berpikir, `saya lebih baik dari orang lain` atau sebaliknya `orang lain lebih baik dari saya` juga tak perlu berpikir ` saya lebih buruk dari orang lain` atau `orang lain lebih buruk dari saya` juga tak usahlah berpikir bahwa `saya sama dengan orang lain`. Lenyapkan pikiran yang gemar membanding-bandingkan. Inilah jalan yang lurus, jalannya orang-orang shaleh, jalannya orang-orang yang diberi nikmat yang agung oleh Tuhan yang Maha Esa."

Mendengar nasihat saya yang panjang lebar, teman saya tersenyum dan menunduk sambil berkata lirih, "O.. Gitu ya... Iya sih bener juga." entahlah, saya tidak yakin apakah dia mengerti apa yang saya sampaikan ataukah tidak. Saya hanya berdoa, semoga Allah memberi cahaya di dalam hatinya, sehingga sampailah dia pada kebahagiaan yang hakiki.


Selanjutnya >>> Surga Dan Neraka
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
2226 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 10, 2013, 09:27:55 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
4332 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 22, 2013, 08:52:06 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
4307 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 10, 2013, 02:03:53 PM
oleh comicers
0 Jawaban
828 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 02, 2014, 05:12:00 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
744 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 25, 2014, 06:28:22 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
3357 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 27, 2016, 09:47:43 AM
oleh danijaya
2 Jawaban
931 Dilihat
Tulisan terakhir September 13, 2015, 08:55:10 PM
oleh Monox D. I-Fly
3 Jawaban
1589 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 16, 2014, 09:54:00 AM
oleh Asep
2 Jawaban
517 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 20, 2016, 10:59:23 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
165 Dilihat
Tulisan terakhir April 22, 2017, 04:40:51 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan