Penulis Topik: Mendalami Masalah Kebahagiaan dan Penderitaan  (Dibaca 16 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 179
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Mendalami Masalah Kebahagiaan dan Penderitaan
« pada: November 12, 2017, 03:43:09 PM »
Quote (selected)
Kang Asep:
Mengejar Kebahagiaan
Edisi : 24 Oktober 2017, 20:24:07

Karaeng yama, [24.10.17 06:56]
—-------------------
Konsepnya luar biasa kang. Tapi cara untuk mengubah apa yg sudah tertanam di pikiran yg susah. Karena sebagian besar orang melakukan sesuatu tujuannya adalah hasil bukan tercapainya melakukan susuatu tersebut.

Konsep akang=keikhlasan berbuat

Hari ini saya bangun pagi-pagi, knapa bangun pagi2 ???
"ya, krna tujuan saya bangun pagi-pagi". Sayapun bersyukur krna tujuan tercapai

Saya berangkat ke kampus dan tiba dengan selamat. Saya kembali bersyukur krna tujuan saya tercapai.

Saya kemudian mengikuti ujian dan menyelesaikannya tepat waktu. Saya kembali bersyukur

Apakah nanti saya lulus atau tidak. Tidaklah menjadi beban dihati dan pikiranku karena bukan itu tujuanku.

Tujuannku adalah melaksanakan sesuatu karena ingin melaksanakannya bukan untuk memperoleh hasil.

Jika hasil di peroleh, maka sayapun bersujud dan bersyukur karna allah menyayangiku.

Apakah seperti ini konsep yang kang asep maksudkan ??
=============

Betul.

Saya bekerja tentu dengan harapan untuk memperoleh upah. Tentu saya tak mau bekerja di suatu perusahaan tanpa diberi upah.  Ini bukan apa yang disebut dengan "pamrih", melainkan saya harus bekerja dengan benar. Dan upah yang layak merupakan indikasi proses kerja yang benar.

Apabila saat ini, saya bekerja tanpa upah, maka akan buruk akibatnya bagi diri saya sendiri, bagi keluarga dan bahkan bagi perusahaannya juga.  Karena itu, suatu perbuatan yang baik tentu harus dengan mempertimbangkan "apa akibatnya" atau "apa hasilnya".  Kita harus melakukan perbuatan-perbuatan yang akibatnya baik serta menghindari perbuatan-perbuatan yang akibatnya buruk. Tetapi, ketika kita mulai berbuat, maka kita sepenuhnya harus fokus pada perbuatan itu sendiri, melupakan harapan dan keinginan akan hasil yang akan dicapai. Sampai atau tidak pada hasil tersebut, sama saja. Dengan cara itu perbuatan disempurnakan.

Kita berbuat karena ingin mendpatkan akibat yang baik dari perbuatan itu. Tetapi justru akibat terbaik itu akan didapatkan apabila perbuatannya disempurnakan. Dan perbuatan yang sempurna itu terjadi ketika sudah tidak peduli pada hasilnya.

Seperti orang yang mengejar kebahagiaan dan berkata, "Aku ingin bahagia". Tetapi justru untuk mendapatkan kebahagiaan itu, dua kata yang harus dihilangkan darinya, yaitu "aku" dan "ingin", maka yang tertinggal adalah bahagia.

Semua orang yang menderita berpikir, "aku ingin bahagia". Kemudian setiap agama di dunia ini menawarkan jalan kebahagiaan, janji untuk memenuhi apa yang dia inginkan, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.  Sementara "aku" dan "ingin" merupakan paradigma dari penderitaan. Karena itu, ketika penderitaan lenyap, maka tiada "aku" dan "ingin". Sehingga intisari dari tuntunan agama-agama dalam menuntun manusia ke jalan kebahagiaan itu adalah dengan menghapus "aku" dan "ingin".

Orang yang mengejar kebahagiaan itu seperti orangyang tertarik pada kupu-kupu cantik dan berusaha untuk mendapatkannya. Karena itu dia mengejar kupu-kupu itu. Tapi, kupu-kupu sulit ditangkap. Ia selalu terbang menjauh ketika hendak ditangkap. Dia takut oleh orang yang mengejarnya. Semakin dikejar, semakin cepat terbang jauh ke dalam hutan, hingga orang yang mengejar merasa lelah dan berhenti mengejar. Dia tak lagi ingin mengejar dan menangkap kupu-kupu tadi. Orang itu terdiam di bawah sebuah pohon. Tiba-tiba saja kupu-kupu menghampiri dan hinggap di bahunya.

Demikian pula, sebagian orang menderita dan lelah karena mengejar kebahagiaan. Satu-satunya cara agar dia bahagia adalah "berhenti mengejarnya".  Orang menderita karena selalu menginginkan kebahagiaan. Ketika keinginannya itu berhenti, maka kebahagiaan itu menepi.

Pertanyaannya, "jika kebahagiaan hanya dapat diperoleh dengan cara berhenti menginginkannya, lalu mengapa banyak orang menawarkan jalan kebahagiaan ?"

Kebahagiaan dan penderitaan itu terletak di dalam diri. Seyogianya, kebahagiaan itu juga harus dicari dan penderitaan itu juga harus disingkirkan dari dalam diri.

Banyak orang yang mencari kebahagiaan dengan mengejar sesuatu yang ada di masa depan dan menderita karena suatu hal yang ada di masa lalu.
Banyak orang yang mencari kebahagiaan dengan mengejar apa yang belum dimilikinya dan menderita karena sesuatu yang tidak dimilikinya.
Tetapi sangat sedikit orang yang bahagia dengan kondisinya saat ini dan bahagia dengan apa yang telah dimilikinya.
Padahal, dengan bersyukur atas kondisi saat ini dan dengan apa yang telah dimiliki, seseorang sudah dapat bahagia dan menyingkirkan penderitaan akibat dari ketidakpuasan.

Ketidakpuasan dan keinginan adalah 2 sumber penderitaan.
Dan sebenarnya, dengan melenyapkan paradigma ketidakpuasan dan mencukupkan diri dengan kondisi saat ini, seseorang sudah dapat melenyapkan penderitaan, serta bahagia.

Maka dari itu, secara lebih lanjut lagi kebahagiaan dan penderitaan yang dialami oleh seseorang itu sama - sama bukan disebabkan oleh faktor - faktor eksternal. Melainkan disebabkan oleh faktor - faktor internal dari diri seseorang.
Bukan karena kualitas - kualitas duniawi ; harta, tahta, dan wanita, seseorang dapat bahagia.
Bukan juga karena kualitas - kualitas duniawi ; harta, tahta, dan wanita, seseorang dapat menderita.
Tetapi secara lebih dalam dan radikal, seseorang dapat bahagia dan menderita karena paradigmanya sendiri terhadap kehidupan.
Sebab paradigma (cara pandang) seseorang, menentukan apa yang akan dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh seseorang.

Paradigma seseorang tentang harta, tahta, dan wanita yang membuat seseorang dapat bahagia.
Paradigma seseorang tentang harta, tahta, dan wanita yang membuat seseorang dapat menderita.

Oleh karena hal itu, supaya kita bahagia, maka kita harus membentuk suatu "paradigma kebahagiaan" bagi diri kita sendiri.
Dan bila kita mau menyingkirkan penderitaan kita, maka segera lenyapkanlah "paradigma penderitaan" itu dari pikiran kita.

Sebenarnya pemahaman ini lebih dimengerti oleh kalangan praktisi kebatinan, spiritualis, meditator, dan psikolog.
Tetapi demi memudahkan pemahaman kita semua terhadap pengertian ini, jika ada pertanyaan tentang hal ini, saya bersedia untuk menjawabnya.

http://medialogika.org/renungan/3-renungan/?wap


Beri daku mata penderitaan, maka menderitalah daku jua
Beri daku mata kebahagiaan, maka
maka bahagialah daku jua

Bukan pisau itu yang menusuk daku
Namun pikiran inilah yang menusuk ku
Bukan setumpuk emas itu yang buat ku kaya
Tapi rasa memiliki inilah yang mengkayakan daku

Di segenap harta milik
Pada jejeran tahta
Dalam seisi harem
Di dalamnya segenap hati terletak
Padanya terbentuk segala bangunan emosi

Dimana ada kepemilikan
Di baliknya pula terletak kehilangan
Tiada kepemilikan
Maka tak ada kehilangan
« Edit Terakhir: November 12, 2017, 03:45:01 PM oleh Sultan »
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 179
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Mendalami Masalah Kebahagiaan dan Penderitaan
« Jawab #1 pada: November 15, 2017, 05:07:19 PM »
Kutip dari: Kang Asep
"sudut pandang positif yang tulus" itu maksudnya bagaimana ?

Artinya adalah "langsung" dan tanpa paksaan Kang Asep.

Kutip dari: Kang Asep
contoh sudut pandang langsung bagaimana ? dan contoh sudut pandang tak langsung itu bagaimana ?

Salah satu contohnya itu seperti "cinta pada pandangan pertama".

Ketika kita sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seseorang, berbagai macam ungkapan rasa cinta dan penilaian positif tentang orang yang kita cintai timbul secara serentak dengan begitu saja di dalam benak kita.
Respon ini bersifat spontan dan alami; tidak dibuat - buat; iklas dan tanpa paksaan.

Kutip dari: Kang Asep
ok. ????

Dan salah satu contoh dari sudut pandang tak langsung adalah filsafat tentang suatu hal.

Filsafat kita termasuk sudut pandang kita juga.
Sebelum filsafat kita terumuskan; menjadi satu konsep yang utuh, sebelumnya melewati berbagai kontemplasi, penyusunan konsep, penulisan, dan sebagainya terlebih dahulu. Tidak bersifat spontan dan tidak timbul secara utuh begitu saja di dalam benak.

Kutip dari: Kang Asep
A. setiap sudut pandang langsung adalah paradigma kebahagiaan.
O. sebagian sudut pandang langsung bukanlah paradigma kebahagiaan

mana yang benar ?

Proposisi O.

Kutip dari: Kang Asep
jika kita memiliki sudut pandang langsung, maka kita memiliki paradigma kebahagiaan. benar ?

Belum tentu Kang Asep.

Kutip dari: Kang Asep
jadi, apa syarat untuk memiliki paradigma kebahagiaan, selain dari "memilki sudut pandang langsung" ?

Sudut pandang positif.

Kutip dari: Kang Asep
tadi mas Sultan mendefinisikan, bahwa sudut pandang langsung itu adalah sudut pandang tulus + positif.  jadi, kenapa harus ditambahkan lagi "positif" ?

Kang Asep, [13.11.17 14:03]
"sudut pandang positif yang tulus" itu maksudnya bagaimana ?

Mas Sultan, [13.11.17 14:04]
Artinya adalah "langsung" dan tanpa paksaan, Kang Asep.

Struktur pemikirannya seperti ini kang Asep :

I : Sebagian sudut pandang positif yang tulus adalah sudut pandang langsung

I : Sebagian sudut pandang langsung adalah sudut pandang positif yang tulus

Kutip dari: Kang Asep
sebagian sudut pandang positif yang tulus bukan sudut pandang lansung. benar ?

Benar.

Kutip dari: Kang Asep
jika demikian, "sudut padang langsung" bukanlah definisi dari "sudut pandang positif yang tulus" dan saya belum mendapatkan definisi dari sudut pandang positif yang tulus. saya memerlukan definisi ini untuk memahami maknanya dengan benar. maka saya tanyakan ulang, apa itu definisi "sudut pandang positif yang tulus ?"

Sudut pandang positif yang tulus adalah sudut pandang tentang kebajikan yang tidak dibuat - buat mengenai suatu hal.

Kutip dari: Kang Asep
ok. ????

jika kita memiliki sudut pandang positif yang tulus, maka kita memiliki paradigma kebahagiaan. benar ?

Benar.

Kutip dari: Kang Asep
setiap orang yang memiliki paradigma kebahagiaan, maka pasti dia bahagia. benar ?

Benar.

Kutip dari: Kang Asep
mengapa sebagian orang tidak memiliki sudut pandang positif yang tulus ?

Karena sebagian orang memiliki sudut pandang yang tidak positif dan tulus.
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
1061 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 16, 2012, 06:00:44 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1142 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 20, 2013, 10:43:13 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1335 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 18, 2015, 12:08:41 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
823 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 16, 2014, 04:08:04 AM
oleh kijafar
1 Jawaban
392 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 08, 2015, 07:10:59 AM
oleh ratna
1 Jawaban
905 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 08, 2016, 12:17:08 AM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
366 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2016, 04:31:41 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
227 Dilihat
Tulisan terakhir September 15, 2016, 01:36:19 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
322 Dilihat
Tulisan terakhir September 16, 2016, 07:23:58 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
138 Dilihat
Tulisan terakhir November 16, 2016, 03:09:58 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan