Penulis Topik: Lenyapnya Keceriaan  (Dibaca 38 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Lenyapnya Keceriaan
« pada: Maret 29, 2018, 12:06:02 PM »
Lenyapnya Keceriaan
Edisi : 26 Maret 2018

Ada seorang pemuda yang sehari-hari nya terlihat senantiasa ceria, selalu bercanda ria dengan teman-temannya. Namun suatu pagi, keceriaan itu lenyap. Wajahnya tampak murung, tanpa senyum yang biasa menghias wajahnya. Langkahnya lemah seperti kurang tenaga. Keceriaan lenyap, karena pagi itu baru saja dia bertengkar dengan istri nya. Bukan hanya pagi itu, namun sejak pagi itu, setiap hari dia tidak pernah terlihat ceria lagi. Masalah dengan istrinya semakin berlarut-larut.

Pemuda itu bukan satu-satunya orang yang kehilangan keceriaan. Pak Nurdin juga sudah sejak lama tidak terlihat ceria kembali. Sekarang dia selalu terlihat sedih dan murung, sejak kepergian anaknsi mata wayangnya untuk selamanya. Siapakah yang tak akan pilu hatinya, satu-satunya anak yang begitu dicintai nya, kini telah tiada. Anaknya sakit DBD dan tidak terobati.

Tahun lalu, saya masih sering mendengar gelak tawa pak Nurdin dengan tawa yang lepas menggelegar. Hari-hari dia jalani dengan suka cita. Kini tak ada lagi keceriaan di wajahnya.

Bukan hanya orang tua yang dapat kehilangan keceriaan dalam hidup, tetapi anak kecil bisa kehilangan keceriaan dalam jangka waktu lama. Seperti yang terjadi pada Yanti. Sejak ibunya pergi ke Arab Saudi untuk menjadi PRT di sana, Yanti tidak lagi mau melompat-lompat dan bermain kejar-kejaran dengan temannya. Di kelas maupun di lapangan ketika mengikuti pelajaran olahraga, Yanti hanya duduk dengan tatapan mata yang kosong. Kisah Yanti pernah saya sampaikan dalam tulisan berjudul "Kesedihan seorang anak perempuan".

Sedangkan dalam kisah berjudul "wanita Yang Putus Asa" saya ceritakan kisah kesedihan seorang perempuan karena ancaman orang-orang terhadap nya akibat utang piutang.

Sebenarnya, lebih banyak orang yang telah saksikan kehilangan keceriaan dalam hidupnya. Namun tentunya tidak dapat saya ceritakan semuanya. Amatlah saya berbelas kasihan pada mereka yang mengalami kesedihan dalam hidupnya, namun seringkali tidak dapat melakukan apapun untuk membantu. Karena sebenarnya kunci kebahagiaan ada pada diri mereka masing-masing, tak ada pada saya ataupun orang lain selain mereka sendiri.

Seringkali memang, kesedihan itu dipicu oleh hal-hal yang bersifat eksternal. Kekurangan sandang, pangan, papan serta kehilangan orang yang dicintai, menjadi alasan seseorang untuk bersedih. Namun, tidak ada yang menyebabkan seseorang larut dalam kesedihan, kecuali dirinya sendiri.

Datang dan Pergi, mendapat dan kehilangan, bertemu dan berpisah, tertawa dan menangis adalah hukum kehidupan yang tidak dapat dihindari. Karena itu, biarkan semua itu muncul dan berlalu mengikuti jalannya sendiri. Tidak perlu dipertahankan, karena tak ada yang dapat dipertahankan. Bila hendak menangis, maka menangis lah, namun jangan selama nya menangis. Tersenyumlah, tertawalah saat semestinya tersenyum dan tertawa. Karena senyuman atau tangisan bukanlah sebuah dosa, tetapi larut dalam tawa dan tangis, itulah yang termasuk pada perbuatan dosa.

Hari-hari bahagia adalah hari-hari di mana kita dapat berpikir benar, berkata benar dan berbuat benar. Dan hari-hari menyedihkan adalah hari-hari di mana kita berpikir salah, berkata salah dan berbuat salah. Kesedihan atau kegembiraan, merupakan karma perbuatan masing-masing orang. Dan setiap orang adalah pewaris dari perbuatannya sendiri. Karena itu, bila kita merasa sedih, jangan mencari penyebabnya di luar diri kita sendiri. Namun periksalah dengan seksama, apa yang salah di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita sendiri sehingga kita harus menanggung kesedihan seperti itu. Hanya dengan cara berbenah, menata hati dan pikiran, maka kita akan berhenti dari kesedihan yang berlarut-larut untuk membangun kembali keceriaan hidup kita.

Di dalam tarikan dan hembusan nafas, di dalam perut, jantung atau paru-paru, di situ tidak ditemukan apa yang disebut dengan kesedihan. Kesedihan itu adalah hantu yang ada di dalam kepala kita. Di dalam kepala itu seseorang berpikir,"aku telah kehilangan orang yang kucintai" atau "harta milikku telah lenyap" atau "aku telah dihina" atau "aku merasa terancam". Isi kepalanya selalu tentang aku, aku dan aku serta apa yang dimiliki si aku. Karena itu jiwanya terkoyak, saat harta miliknya rusak, dan bahkan jiwanya hilang saat orang yang dicintainya menghilang.

"Betapa dunia ini menyenangkan aku, karena itu aku ingin bersama dunia ini selamanya, tak ingin pergi meninggalkan dunia ini dan ingin ditinggalkan dunia." Inilah hal yang ada dalam kepala, yang menjadi akar kesedihan setiap orang. Padahal dunia ini tidak akan pernah dapat dipertahankan, tidak bisa diandalkan dan tidak dapat dipegang erat-erat. Bumi senantiasa berputar, siang dan malam datang silih berganti, matahari terbit dan tenggelam, selalu begjtu selama berjuta tahun lamanya, dan di bumi ini tidak ada manusia yang hidup abadi, kelahiran dan kematian menjadi ciri khas nya. Dan kita hanyalah setitik debu di tengah jagat raya yang Maha Luas.

Dengan hidup tanpa melekati sesuatu, tanpa enggan pergi atau ditinggalkan, berarti hidup dalam keikhlasan, tanpa kesedihan, tanpa ketakutan dan kegelisahan. Dia orang yang menikmati siang dan malam dengan sempurna, yang membiarkan segala sesuatunya datang dan pergi mengikuti jalannya, serta menerima sepenuhnya kehidupan maupun kematian.

Mereka yang belum dapat menerima kematian sepenuhnya, akan hidup dalam ketakutan. Dia lari dari kematian, seolah-olah kematian dapat ditolak. Namun usia tua dan sakit menghampirinya, menunjukkan bahwa kematian mengejarnya. Sejauh mana dia mencintai dunia ini, maka sejauh itu dia takut pada kematian. Sejauh mana seseorang mengejar kesenangan dunia, sejauh itu dia mengalami kesedihan.

Setiap makhluk akan gentar di hadapan bahaya yang mengancam. Tetapi sesungguhnya tidak ada yang lebih menakutkan dari ketakutan itu sendiri. Karena itu, relakan lah segala sesuatunya terjadi agar hidup tanpa ketakutan.

 Manusia akan sedih bila kehilangan sesuatu yang dicintainya, tetapi sejatinya tak ada kehilangan yang lebih menyedihkan kecuali hilangnya kedamaian itu sendiri. Karena itu lepaskan apa yang dicintai, agar kedamaian tidak hilang bersamanya.

Jika sudah mengerti bahwa tidak ada hal yang lebih menakutkan kecuali ketakutan itu sendiri, maka janganlah menciptakan menakuti diri sendiri dengan cara membayangkan hal yang buruk-buruk. Jika sudah tahu bahwa hilangnya kedamaian, lebih buruk dari kehilangan apapun, maka jangan biarkan kedamaian hari ini terusik dengan cara merisaukan hari esok.

Bila hal terburuk telah terjadi dimasa lalu, maka biarkan itu tetap di masa lalu. Jangan dibawa hingga hari ini. Jika esok harus terjadi sesuatu yang sangat buruk, maka biarkan esok saja terjadi, jangan ditarik ke hari ini. Setiap hari, setiap saat ada bebannya masing-masing. Hidup ceria berarti kita fokus pada beban hidup saat ini, di sini saja.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan