Penulis Topik: Kentut Bijak  (Dibaca 31 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kentut Bijak
« pada: Maret 29, 2018, 11:55:39 AM »
Kentut Bijak
Edisi : 29 Maret 2018

Di sekolah anak-anak belajar berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Di SD, SMP dan SMA, anak-anak belajar npengetahuan umum. Setelah lulus SMP ada yang melanjutkan sekolah ke kejuruan, sehingga dari situ anak memiliki keahlian khusus.

Di perguruan tinggi orang semakin fokus pada bidang ilmu tertentu, menggali suatu pengetahuan secara lebih mendalam, sehingga dia dapat menjadi seorang ahli yang siap bekerja pada bidangnya.

"Hidup ini mengalir, namun kita harus memilih kita mau menjadi apa ?" Demikian ucap teman saya, seorang jurnalis,"tidak harus semua ilmu kita pelajari. Cita-cita kita menentukan, apa yang mesti kita pelajari sekarang."

Saya teringat dengan Hardi, salah satu kerabat saya. Dia lulusan D3 teknik mesin. Memang dia sendiri yang memilih kuliah di jurusan teknik mesin. Dia senang di bidang tersebut dan ingin menjadi seorang ahli.

Setelah lulus kuliah, dia dihadapkan pada sulit nya mencari pekerjaan. Di kotanya, dia sudah mengajukan lamaran hampir ke setiap pabrikan yang ada, yang kiranya menggunakan mesin-mesin berat. Namun setelah puluhan lamaran dia buat, masih belum ada juga yang terima.

Ayahnya Hardi adalah kepala sekolah di sebuah SMA, menawarkan Hardi untuk menjadi guru honorer di sekolahnya. Namun Hardi menolak. Karena bidang yang harus dipegang Hardi di sekolah, bukan bidang teknik mesin. Beberapa kerabat yang bergerak di bidang UMKM, atau yang punya toko dan sebagainya, juga sempat menawarkan pekerjaan pada Hardi, namun Hardi menolak semuanya dengan satu alasan bahwa pekerjaan yang ditawarkan bukan bidang yang diminati nya.

Saya bilang ke Hardi,"Mas, ngapain sih cari yang susah ? Kalau ada tawaran pekerjaan ya terima aja, apapun bidangnya. Yang penting kan gajinya itu UMR."

Tapi mas Hardi bersikukuh,"ngapain aku capek-capek sekolah D3 teknik mesin, kalau akhirnya mau jadi kasir toko."

Jengkel rasanya lihat sikap Mas Hardi, dia terlalu idealis dan keras kepala. Terkadang juga sikapnya terkesan sebagai bentuk keangkuhan. Saya banyak memberinya nasihat dan mengajari nya prinsip-prinsip hidup, sebelum saya memberi dia uang untuk bekal perjalanan menuju kota lain. Mas Hardi hanya mendengarkan dan iya iya belaka, namun dia tetap pada pendapatnya.

Lain lagi dengan saya, lulus SMA saya tidak punya keahlian khusus. Karena itu mau kerja di bidang apa saja, yang penting halal, mulai dari kuli bangunan, jadi pedagang asongan, sampai jadi guru honorer. Yang penting saya dapat memberi nafkah keluarga.

Tapi Mas Hardi, tekadnya sangat kuat. Dia tidak menyerah dengan keadaan. Dia pindah dari satu kota ke kota lainnya.  Tidak bosan mengajukan lamaran. Sudah empat kota dia jajaki, mulai dari Semarang, Bandung, Surabaya dan Jakarta. Ratusan lamaran dia ajukan, dan dia tidak berputus asa. Benar kata orang-orang yang mengatakan "orang Jawa itu ulet". Rupanya sifat ulet seperti itu merupakan budaya orang-orang suku Jawa pada umumnya.  Padahal, di Bandung saya sering menemukan teman-teman yang putus asa hanya karena dua atau tiga kali lamarannya ditolak perusahaan. Lalu mereka ngedumel, mengutuk pemerintah dan kapok melamar kerja lagi. Tapi mas Hardi, selain usaha keras, dia juga tidak pernah ngomel atau mengutuk pemerintah karena susah cari kerja.

Akhirnya, di kota yang kelima di kota Bekasi, Mas Hardi dapat pekerjaan yang sesuai di bidang teknik mesin. Gaji pertamanya Rp. 5 juta. Karena prestasinya, setahun kemudian jabatan dan gajinya dinaikan jadi Rp. 7 JT. Delapan tahun kemudian, gajinya menjadi Rp. 12 juta. Dan terakhir saya dengar gaji yang dia dapatkan sudah mencapai Rp. 20 juta dengan jabatan yang cukup tinggi di perusahaan nya. Dia sering ditugaskan oleh perusahaan untuk menangani masalah-masalah di cabang perusahaan nya di Jepang, jadi sering mondar mandir ke Jepang. Sukses, mas Hardi. Itu adalah buah kegigihan dia.

Saat lebaran dua tahun lalu, saya berjumpa dengan mas Hardi. Dia berkata pada saya,"yang diharapkan oleh perusahaan dari kita itu adalah kontribusi kita, prestasi kita. Tapi kalau di perusahaan tersebut kita memegang bidang yang bukan keahlian kita, tidak akan banyak kontribusi yang bisa kita berikan. Seperti prinsip kamu dulu, nyuruh saya jadi kasir toko. Memang itu halal dan bermanfaat, tapi bila saya ikuti saran kamu, maka sampai sekarang saya tidak akan tahu apa-apa selain soal uang kembalian, harga barang toko, cara menata barang toko, dsb. Sementara bidang ilmu yang telah susah payah saya pelajari, itu semakin tumpul karena tak ada sarana untuk mengasahnya. Dan 10 tahun kemudian, saya tidak berubah dari posisi kasir toko."

Sekarang terbalik, giliran mas Hardi memberi nasihat, sebelum dia menjejali saku baju saya dengan uang 500 rb rupiah. Ha.. ha... Saya jadi rasa geli. Dulu saya menasihati dia sebelum memberinya uang. Rupanya, siapa yang lebih kaya dan mampu memberi uang, dialah yang berhak memberi nasihat dan prinsip-prinsipnya benar.

Masing-masing orang mempunyai prinsip dan karakter yang berbeda. Prinsip mas Hardi cocok diterapkan bagi dirinya, belum tentu bagi saya. Demikian pula sebaliknya. Ketidakmampuan saya dalam mengikuti prinsip mas Hardi ada banyak alasannya, namun saya sadar bahwa itu dapat dipandang sebagai sikap keras kepala, kebodohan atau bahkan terkesan keangkuhan, seperti kesan yang saya dapatkan pada Mas Hardi ketika dia dulu bersikukuh dengan prinsip nya.

Tapi saya salut dengan kegigihan mas Hardi untuk bekerja di bidang yang dia minati dan sesuai dengan keahlian. Bagi dia, bekerja bukan sekedar soal uang, tapi juga soal juga soal peranan penting yang tidak dapat di dapatkan kecuali mengerjakan sesuatu yang benar-benar dikuasainya.

 Walaupun salut pada Mas Hardi, saya tidak dapat mengikuti jejak mas Hardi, bukan tidak punya keahlian khusus, tapi saya terdesak oleh kebutuhan sehari-hari. Dan banyak alasan lainnya. Sehingga apabila sekarang saya tidak menerima tawaran kerja yang ada, maka entahlah bagaimana keluarga saya dapat makan. Sementara Mas Hardi, dia enggan menikah sebelum memiliki gaji yang mapan. Jadi, saat dia berkelana ke berbagai kota, dia tidak ada beban harus menafkahi keluarga. Jelas, situasinya berbeda.

Sebenarnya prinsip manapun akan terlihat bagus dan benar kalau sudah sukses.

Mas Hardi dapat berkata,"Prinsip saya benar, buktinya sekarang saya sukses". Tapi pihak lain yang prinsip nya berlawanan juga bisa berkata yang sama,"saya bekerja pada bidang bukan keahlian saya, tapi saya sukses".

Ada dokter yang meninggalkan profesinya sebagai dokter lalu bisnis kuliner, dia sukses. Ada arsitek yang menekuni bidang bisnis fashion, dia juga sukses. Dan sebagainya. Prinsip saya terlihat salah di mata Mas Hardi, hanya karena dia merasa sukses saja dengan prinsip nya.

Dan lagi pula orang sukses, seringkali kesuksesan nya sebagai bukti bahwa prinsip nya benar. Dengarkan saja kata-kata Jack Ma yang kira-kira,"sebelum saya sukses, prinsip-prinsip saya tidak terdengar seperti kentut. Tapi setelah saya sukses, kentut terdengar seperti inspirasi."

Jadi, jadilah diri sendiri saja. Jalani hidup dengan sederhana dan penuh percaya diri, tidak perlu terombang ambing dengan prinsip orang lain. Salah satu alasan yang membuat prinsip Anda tidak terlihat bijak, hanyalah karena anda belum terlihat sukses di mata orang lain. Bila Anda sudah terlihat sukses, kelak suara kentut Anda pun akan terdengar bijak. Karena itu bahkan ada yang berpendapat,"jika anda benar, maka anda kaya. Jika Anda tidak kaya, maka anda salah".

Seperti ketika saya menawarkan buku-buki saya ke berbagai penerbit buku, saya sadar bahwa kriteria pertama apakah sebuah buku layak diterbitkan atau tidak adalah dengan melihat popularitas penulisnya, bukan soal kualitas isi bukunya. Walaupun isi buku tidak begitu bagus, asal ditulis oleh orang terkenal , maka akan laku di pasaran.

Bagus atau jelek, bijak atau tak bijak, benar atau salah parameter nya adalah kekayaan, kesuksesan atau popularitas. Tentu saja ini tidak benar. Tapi kita perlu mengenali, bahwa sadar atau tak sadar , demikianlah cara pandang mayoritas orang. Persis seperti ungkapan Jack Ma tentang kentut yang terdengar bijak.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
7 Jawaban
1561 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 04, 2014, 10:23:19 AM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
484 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 26, 2014, 02:25:54 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
463 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 01, 2016, 07:50:11 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
212 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 02, 2016, 10:18:47 PM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
270 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 25, 2017, 02:30:55 PM
oleh raden92

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan