Penulis Topik: Haram Merasa Salah  (Dibaca 49 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Haram Merasa Salah
« pada: Januari 02, 2018, 04:18:14 PM »
Haram Merasa Salah
Edisi : 02 Januari 2018, 16:16:05

Saya sering melihat perdebatan sengit di jalan raya karena persoalan sengit seperti senggolan sedikit yang bahkan tidak menimbulkan goresan ataupun luka. Hanya karena kendaraannya tersenggol sedikit, hatinya yang terluka parah. Jadi pertengkaran yang kadang membuat orang hampir pukul-pukulan.

Di persimpangan jalan, saya melaju lurus. Bersamaan dengan itu, motor lain hendak belok kiri. Hampir menabrak saya. Namun dia tarik rem dengan tepat, sehingga tabrakan dapat dihindari. Namun, pemuda tersebut menjadi marah dan kemudian mengejar saya, lalu menabarkan motornya ke motor saya. Hampir saja saya terjatuh.

"Hei.... Ada apa ini ?" tanya saya.

Dengan mata melotor, pemuda itu berkata, "yang bener ngejalanin motor nya, anjing ! Aing mau lewat, kamu menghalangi."

"Ok.. Ok.. Saya minta maaf." demikian saya katakan.

Pemuda kasar dan tak tahu sopan santun, umur belasan tahun. Tidak peduli kalau saya orang yang lebih tua, yang mungkin seusia dengan bapaknya. Namun begitu berani mencaci maki. Namun saya akan lebih malu lagi, bila berperilaku seperti anak berdarah mudah. Maka saya pilh minta maaf dan mengalah.

Saya melanjutkan perjalanan sambil tersenyum-senyum sendiri karena merasa geli mengingat kelakukan pemuda tadi. Sebenarnya kami sudah selamat, terhindar dari tabrakan. Dia bukannya bersyukur, malah mengejar saya dan menabarakan motornya. "Lha,, kalau mau ditabrakan, ngapain tadi ngerem ?" gitu pikir saya.

Lain waktu, saya sedang melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba "brak !" motor saya ditabrak mobil sedan. Saya menepi untuk melihat kondisi motor saya, tampaknya bagian belakang motor saya mengalami kerusakan. Pengemudi mobil sedan itu juga menepi. Saya menghampirinya. Sang pengemudi sedan gemetaran, terlihat ketakutan. Dengan nada suara bergetar, dia berkata, "Mohon maaf... Mohon maaf... Tidak sengaja, saya melamun, pikiran saya sedang kalut."

"Siapa nama bapak ?" tanya saya.

Dia menyebutkan namanya. Saya tidak ingat siapa namanya, tapi sebut saja Heri. Lalu saya menyodorkan tangan saya, mengajak salaman. "Salam kenal pak Heri, saya Asep."

Kami bersalaman. "Silahkan bapak melanjutkan perjalanan dan berhati-hatilah, pak !"

Bapak tersebut tertegun. Sepertinya dia mengira saya akan marah padanya. Tapi ternyata saya hanya mengajaknya bersalaman saja. Saya bersyukur bahwa saya tidak diberi perasaan marah dalam kasus ini, mengingat dahulu saya juga sering merasa kesal di jalanan karena merasa dirugikan orang lain. Namun seiring dengan banyaknya pengalaman, saya menyadari bahwa bersikap sabar adalah lebih baik dari pada marah, jengkel dan lalu berusaha untuk menyudutkan orang lain. Lagi pula, kalau dari sudut pandang diri sendiri, kita akan terlihat selalu benar dan orang lain selalu terlihat salah. Padahal sejatinya, tidak lah mustahil kita memang yang salah. Dalam kasus ditabrak mobil sedan tadi, sebenarnya tak mustahil kesalahan ada pada saya, karena melaju terlalu lambat. Tapi yang jelas, tidak ada kerugian yang berarti, sehingga tidak perlu dipermasalahkan.

Pada umumnya, masing-masing pihak tak merasa salah, tidak mau mengaku salah dan mau mengalah. Melihat dari sudut pandangnya, kemudian menuduh pihak lain yang salah. Bahkan saya pernah melihat seorang gadis tersenggol mobil sedan putih, hingga gadis itu terjatuh dengan motornya dan tangannya berdarah-darah. Namun pengemudi sedan tidak terima salah, dan balik menuduh salah serta minta ganti rugi pada si gadis dengan menunjukan lecet pada mobil sedannya. Saya merasa prihatin terhadap kejadian itu, apalagi saya melihat sendiri kejadiannya bahwa mobil sedan itu belok kanan secara tiba-tiba, menyalip motor si gadis kerudung hitam. Saya menghampiri dan menyampaikan kesaksian saya. Namun pengemudi sedan tidak mau mengakui kebenaran kesaksian saya.

Kemarahan membuat hilangnya rasa belas kasihan. Kerudung si gadis dan wajahnya, penuh dengan debu. Sementara darah terus menerus mengalir dari tangannya yang terluka, namun bukannya mengasihani, pengemudi sedan itu malah mencaci maki habis-habisan pada si gadis kerudung hitam. Dia juga berkata, "kalau saya nuntut, kamu gak bakalan sanggup mengganti kerusakan mobil saya." padahal hanya luka gores kecil, tapi dia menganggap hal itu lebih berharga dari jari-jemari indah si gadis kerudung yang terluka parah.

Saya menawarkan bantuan pada si gadis kerudung hitam, karena kasihan. Bukannya ingin ikut campur, tapi saya tidak akan dapat tidur nyenyak di malam hari, apabila tidak melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya katakan, bahwa apabila si gadis mau melanjutkan perkara tersebut ke kantor polisi, maka saya siap untuk menjadi saksi. Namun si gadis ketakutan dan memilih membiarkan si pengemudi sedan pergi meninggalkannya dalam keadaan terluka. Saya tak dapat berbuat apa-apa lagi, karena itu sudah keputusan si gadis.

Egois, tak berbelas kasih, haram merasa salah, selalu menyalahkan orang lain, itulah fenomena yang sering saya lihat. Sebenarnya hal serupa terjadi dalam dunia debat dan diskusi.

Kutip :[1]
-----------------
Nah kalau Pembela kebenaran itu wajar suka marah atau sedikit-sedikit tersinggung ketika dikritik keyakinannya. Ia akan membela kebenaran [baca : apa yang ia anggap benar] sekuat tenaga dengan cara apapun sampai titik darah penghabisan. Mana ada dalam pikirannya sedikit saja kalau apa yang ia yakini bisa keliru. Tidak ada itu, haram bagi mereka merasa ada yang bisa salah dalam keyakinannya. Ya bagus kalau keyakinannya itu memang sudah benar tetapi kalau hakikatnya ternyata keyakinannya itu keliru maka orang ini tidak lain telah diperbudak oleh kekeliruannya. Mau jadi seperti ini?. Saya pribadi tidak akan mau diperbudak seperti ini apalagi perbudakan yang dibungkus dengan baju “membela kebenaran”.
================

_____________
1) http://bit.ly/2losCEP
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 203
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 27
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Re:Haram Merasa Salah
« Jawab #1 pada: Januari 03, 2018, 02:12:51 AM »
Perbudakan yang dibungkus dengan baju "membela kebenaran" tentunya bukanlah pembela kebenaran.
Di dalam term "pembela kebenaran" terdapat kalimat "kebenaran"; suatu hal yang sudah pasti bernilai benar.
Bila dirangkaikan dengan kalimat "pembela", maka hasilnya adalah "pembela suatu hal yang sudah pasti bernilai benar.
Seseorang baru dapat disebut pembela kebenaran jika ia membela suatu hal yang sudah pasti bernilai benar atau sudah dipastikan kebenarannya.
Bila seseorang membela suatu hal yang belum jelas kebenarannya atau bahkan membela suatu hal yang hakikatnya bernilai salah, maka dapatkah ia disebut sebagai pembela kebenaran ?
Tidak tentunya.

Jika kita ingin menjadi pembela kebenaran, maka sebelumnya kita harus menganalisa dan mengkritik pendapat - pendapat kita sendiri terlebih dahulu dengan berbagai pendekatan; "apakah pendapat - pendapat ini sudah benar berdasarkan parameter kebenaran yang telah ditetapkan ?"
"Apakah pendapat - pendapat ini sudah logis; selaras dengan kaidah dan hukum - hukum logika ?"
Bila jawabannya adalah "Ya", maka pendapat - pendapat kita yang bersangkutan sudah siap, layak, wajar, dan patut atau pantas untuk dibela.
Bila jawabannya adalah "Tidak", maka pendapat - pendapat kita yang bersangkutan tidak layak dan patut atau pantas untuk dibela.

Misalnya kita telah berpegang pada satu aksioma yang kebenarannya bersifat mutlak atau niscaya dan "gamblang" atau "jelas" dengan sendirinya bagi akal kita yaitu hukum non-kontradiksi (salah satu hukum logika formal);
"Setiap hal adalah hal itu sendiri dan bukanlah bukan hal itu sendiri"
Atau dengan ungkapan lain :
"Setiap hal itu sama dengan dirinya sendiri dan pasti memiliki perbedaan dengan sesuatu yang selain dari dirinya sendiri".
Kita akan pantas dan layak untuk disebut sebagai pembela kebenaran jika kita berpegang teguh pada aksioma ini dan menepis berbagai sanggahan keliru yang mencoba untuk membantah aksioma ini.

Berdasarkan pemaparan ini, saya lebih berkenan untuk menyebut kritikan tersebut sebagai "Kritikan terhadap perbudakan yang dibungkus dengan baju "membela kebenaran"" daripada menyebutnya sebagai "kritik terhadap pembela kebenaran" meskipun ini hanyalah masalah perbedaan penyebutan dan rasa perkenan atau tidak perkenan terhadap penyebutan yang digunakan bila masih berada dalam "satu makna".
Namun dalam sudut pandang yang lebih luas persoalan ini berada dalam "wilayah kewenangan definisi".
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
632 Dilihat
Tulisan terakhir September 01, 2012, 07:17:51 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1539 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 28, 2013, 04:45:43 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
1202 Dilihat
Tulisan terakhir April 12, 2013, 10:34:35 AM
oleh Awal Dj
3 Jawaban
1455 Dilihat
Tulisan terakhir September 09, 2013, 10:17:39 AM
oleh kang radi
1 Jawaban
640 Dilihat
Tulisan terakhir November 15, 2015, 10:00:21 PM
oleh Monox D. I-Fly
3 Jawaban
2492 Dilihat
Tulisan terakhir September 25, 2015, 10:39:15 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
563 Dilihat
Tulisan terakhir September 12, 2014, 02:29:11 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
160 Dilihat
Tulisan terakhir September 03, 2016, 09:17:10 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
517 Dilihat
Tulisan terakhir September 16, 2016, 07:23:58 PM
oleh Sultan
0 Jawaban
56 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 11, 2017, 03:35:01 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan