Tulisan Terbaru

Halaman: [1] 2 3 ... 10
1
Filsafat / Segala Sesuatu Adalah Keseluruhan Dari Bagian - Bagiannya
« Tulisan terakhir oleh Sultan pada Hari Ini jam 07:34:38 PM »
Jika tidak ada rambut dalam dzat Tuhan yang Maha Ada dan Maha Kaya, maka bagaimana manusia sebagai ciptaan-Nya, yang berasal dari-Nya atau disebabkan oleh-Nya dapat memiliki rambut ?

Mungkinkah dari "ketiadaan rambut" dapat memunculkan rambut ?

Kutip dari: Kang Asep 16-02-2018, 1.46 PM
tidak tahu.

Pertanyaan saya,
apakah rambut ekuivalen dengan zat rambut ?
apakah berambut = memiliki zat rambut ?
apa bedanya dzat dengan zat ?

Rambut adalah keseluruhan atau himpunan yang terdiri dari banyaknya elemen atau zat penyusun rambut (zat rambut).
Rambut tidak lain adalah elemen atau zat penyusun rambut itu sendiri.
Tak ada rambut tanpa elemen atau zat penyusun rambut dan tak ada elemen atau zat penyusun rambut tanpa ada rambut.
Rambut ekuivalen dengan zat rambut.

Saat kita sedang "menunjuk" rambut, tidak lain kita sedang "menunjuk" elemen atau zat - zat penyusun rambut.
Saat kita sedang "menunjuk" elemen atau zat - zat penyusun rambut, tidak lain kita sedang "menunjuk" rambut.

Seperti samudera yang merupakan keseluruhan dari banyaknya setetes air.

Apakah berambut = memiliki zat rambut ?
Ya.

Apa bedanya antara dzat dengan zat ?

Dzat itu bersifat keseluruhan sementara zat itu bersifat partikular.

Kutip dari: Kang Asep 16-02-2018, 9.00 PM
dzat adalah tempat berdirinya sifat. zat adalah materi.

jika rambut ekuivalen dengan zat rambut, bagaimana dengan rumah dan zat rumah, apakah ekuivalen ?

Ya

====================

Kutip dari: Hamid Assagaf 16-02-2018, 2.56 PM
Jika karena manusia punya rambut maka Tuhan punya rambut itu keliru.
JIka mengatakan karena manusia memilki rambut maka Tuhan punya zat rambut juga keliru. Tuhan Tunggal tidak bisa dibagi bagi.

Kepemilikan rambut pada manusia bukanlah "penyebab" bagi kepemilikan rambut pada Tuhan.
Kepemilikan rambut pada manusia tidak berhubungan secara korelatif (biimplikasi) dengan kepemilikan rambut pada Tuhan.
Tetapi kepemilikan rambut pada manusia berhubungan secara implikatif (implikasi) dengan kepemilikan rambut pada Tuhan.

Jika ada rambut pada manusia, maka ada rambut manusia pada Tuhan dan jika tidak ada rambut manusia pada Tuhan, maka tidak ada rambut pada manusia.
Hal ini benar dan selaras dengan aksioma kausalitas bahwa segala sesuatu tidak dapat menjadi penyebab atau akibat dari negasinya sendiri dengan ekspresi tautologi ¬(A⇔¬A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika A, maka bukan A, ekuivalen dengan tautologi, atau ¬(¬A⇔A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika bukan A, maka A, ekuivalen dengan tautologi (selama Tuhan ditetapkan sebagai penyebab bagi keberadaan manusia).

Jika ada rambut pada manusia, maka ada elemen atau zat - zat penyusun rambut manusia pada Tuhan dan jika tidak ada elemen atau zat - zat penyusun rambut manusia pada Tuhan, maka tidak ada rambut pada manusia.
Hal ini benar dan selaras dengan aksioma kausalitas bahwa segala sesuatu tidak dapat menjadi penyebab atau akibat dari negasinya sendiri dengan ekspresi tautologi ¬(A⇔¬A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika A, maka bukan A, ekuivalen dengan tautologi, atau ¬(¬A⇔A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika bukan A, maka A, ekuivalen dengan tautologi (selama Tuhan ditetapkan sebagai penyebab bagi keberadaan manusia).

Tuhan itu bersifat tunggal dan tak terbagi - bagi dalam artian Ia "hanyalah diri-Nya sendiri"; Tuhan adalah Tuhan dan bukanlah bukan Tuhan (contoh dari Hukum Non-Kontradiksi).
Tiada Tuhan selain Tuhan itu sendiri.
Ini adalah pemahaman ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan yang saya yakini secara 100%.
Pemahaman ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan ini merupakan kebenaran mutlak dan bersifat aksiomatis (terbukti dari dirinya sendiri dan jelas dengan sendirinya), selaras dengan hukum non-kontradiksi, dan bukan sekedar spekulasi belaka.

Pemahaman ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan seperti apa yang mustahil ?
Yaitu pemahaman tentang ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan dengan pengertian bahwa Tuhan tidak memiliki bagian - bagian.
Kenapa pemahaman tentang ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan dengan pengertian bahwa Tuhan tidak memiliki bagian - bagian itu mustahil ?
Karena pemahaman tentang ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan dengan pengertian bahwa Tuhan tidak memiliki bagian - bagian itu bertentangan dengan aksioma bahwa "segala sesuatu adalah keseluruhan dari bagian - bagiannya".

Sesuatu tidak lain adalah keseluruhan dari bagian - bagiannya dan keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu tidak lain adalah sesuatu itu sendiri.
Tak ada sesuatu tanpa keseluruhan dari bagian - bagiannya dan tak ada keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu tanpa ada sesuatu itu sendiri.
Sesuatu ekuivalen dengan keseluruhan dari bagian - bagiannya.

Bila tidak ada keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu, maka tidak ada sesuatu.
Bila tidak ada sesuatu, maka tidak ada keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu.
Meyakini bahwa sesuatu itu ada tetapi tidak ada bagian - bagiannya, sesuatu itu ada tetapi tidak memiliki bagian - bagian, atau sesuatu itu ada tetapi tidak ada keseluruhan dari bagian - bagiannya ekuivalen dengan meyakini bahwa sesuatu itu ada sekaligus tidak ada alias kontradiksi.

Perumpamaannya itu seperti sebuah garis.
Garis itu terdiri dari banyaknya titik - titik dan garis adalah keseluruhan dari banyaknya titik - titik.
Garis tidak lain adalah keseluruhan dari banyaknya titik - titik.
Meyakini adanya garis sekaligus meyakini tidak ada banyaknya titik - titik atau keseluruhan dari banyaknya titik - titik ekuivalen dengan meyakini bahwa garis itu ada sekaligus tidak ada alias kontradiksi.

Atau perumpamaannya seperti bilangan 10.
Tak ada 10 tanpa 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 dan tak ada 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 tanpa ada 10.
10 tidak lain adalah 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 dan 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 tidak lain adalah 10.
10 ekuivalen dengan 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1.
Meyakini 10 itu ada sekaligus meyakini tidak ada 1atau tidak ada 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 ekuivalen dengan meyakini 10 itu ada sekaligus tidak ada alias kontradiksi.
2
Proposisi / Re:Kontradiksi Implikasi
« Tulisan terakhir oleh Purnama pada Hari Ini jam 12:02:35 PM »
Jika ada 2 proposisi yang kontradiksi, maka hubungkan saja keduanya dengan operator "Atau", maka proposisi majemuk baru akan selalu bernilai benar.
3
Kupas Logika / Re:Ekuivalen Tapi Tak Lazim
« Tulisan terakhir oleh Purnama pada Hari Ini jam 11:58:22 AM »
Kutip
"Jika kamu cantik, maka aku suka kamu. Jika kamu baik, maka aku suka kamu"

Apa operator yang menghubungkan dua implikasi tsb? Apakah "Dan" ?
4
Berita / Re:Presiden Ke Tanah Asmat
« Tulisan terakhir oleh James Wiguna pada April 16, 2018, 02:35:36 PM »
Liat Bu Iriana ikutan joget bareng mereka itu bahagia banget loh hahaha engga malu dan juga gengsi. Salut Bu!
Semoga kunjungan Presiden Jokowi ini bisa memberikan dampak positif ya bagi Suku Asmat ini!
5
Diskusi Umum / Re:Soal Mengerti
« Tulisan terakhir oleh James Wiguna pada April 16, 2018, 02:21:05 PM »
Mungkin saya akan pingsan di tempat kali kang kalau denger mereka berdebat seperti itu hahaha
Bikin pusing. Saya bacanya aja pening, gimana dengerin langsung hahahaha
6
Komentari Gambar / Re:Latihan Silat Asad
« Tulisan terakhir oleh Monox D. I-Fly pada April 15, 2018, 06:49:39 PM »
Silat Asad = Silat Singa?
7
Proposisi / Re:Kontradiksi Implikasi
« Tulisan terakhir oleh Kang Asep pada April 15, 2018, 03:33:24 PM »
betul.
8
Proposisi / Re:Kontradiksi Implikasi
« Tulisan terakhir oleh Purnama pada April 15, 2018, 09:36:52 AM »
Pernyataan "jika A maka B atau –B" bukan hanya tidak kontradiksi, bahkan itu adalah sebuah tautologi, kebenaran mutlak.
9
Kupas Logika / Ekuivalen Tapi Tak Lazim
« Tulisan terakhir oleh Kang Asep pada April 15, 2018, 12:30:40 AM »
A = Kamu cantik
B = Aku suka kamu
C = Kamu baik

Jika A, maka B
Jika C, maka B

Jadi, Bagaimana kesimpulan nya ?

"Jika kamu cantik, maka aku suka kamu. Jika kamu baik, maka aku suka kamu"

Pernyataan tersebut ekuivalen dengan :

"Kamu tidak cantik dan tidak baik atau saya suka kamu".

Hanya saja ekuivalensi nya ini terasa tak lazim dalam bahasa sehari-hari.
10
Proposisi / Kontradiksi Implikasi
« Tulisan terakhir oleh Kang Asep pada April 15, 2018, 12:29:00 AM »
Kontradiksi Implikasi
Edisi : 11 April 2018

Suatu hari Mr. Towel berkata pada tetangganya,"jika kamu bersikap kasar pada saya, maka saya akan bersikap kasar padamu.". Tapi keesokan harinya, Mr. Towel berkata lagi pada tetangganya itu,"jika kamu bersikap kasar pada saya, maka saya tidak akan bersikap kasar pada kamu."

Pertanyaan, apakah benar perkataan Mr. Towel kontradiksi, absurd atau inkonsisten ?

Jawabannya "tidak benar". Sama sekali perkataan Mr. Towel tidak kontradiksi. Hal ini dapat dibuktikan dengan Tabel kebenaran ataupun Tablo. Jadi, mana dong kontradiksi nya ? Kontradiksi adalah sebagai berikut :

Kontradiksi pertama :
1)  jika kamu bersikap kasar pada saya, maka saya akan bersikap kasar pada kamu
2) ‎kamu bersikap kasar dan saya tidak bersikap kasar

Kontradiksi kedua :
1) jika kamu bersikap kasar pada saya, maka saya tidak akan bersikap kasar pada kamu
2) ‎kamu bersikap kasar pada saya, dan saya bersikap kasar pada kamu

Supaya memudahkan pembahasan, mari kita ubah dulu ke dalam bentuk variabel ABC.

A = kamu bersikap kasar pada saya
B = saya bersikap kasar pada kamu.

Yang tampak kontradiksi :

Jika A, maka B
Jika A, maka - B

Tampak kontradiksi karena terdapat variabel B dan - B. Padahal dua implikasi di atas tidak kontradiksi. Kedua Proposisi di atas dapat disimpulkan bahwa jika A, maka B atau - B.

Jika A maka B
Sebanarnya A tapi tidak B

Dua Proposisi tersebut barulah kontradiksi.

Jika A, maka tidak B
Sebenarnya A dan B.

Dua Proposisi di atas juga kontradiksi.

Jika A  maka B atau - B

Jadi. Jika kamu bersikap kasar pada saya, maka saya akan bersikap kasar pada kamu atau saya tidak bersikap kasar pada kamu.
Halaman: [1] 2 3 ... 10

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan