Penulis Topik: Nilai Proposisi  (Dibaca 355 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Nilai Proposisi
« pada: Oktober 17, 2016, 01:33:15 PM »
Kajian Pusat Logika : Kelompok II
Judul : Nilai Proposisi
Tujuan :
1) memahami nilai proposisi
2) memahami para meter nilai proposisi
3) memahami nilai proposisi yang bersifat subjektif
4) memahami nilai proposisi yang bersifat objektif
5) dapt memberikan contoh nilai proposisi yang bersifat subjektif
6) dapat memberikan contoh nilai propsisi yang bersifat objektif

Nilai Proposisi adalah benar atau salah. tidak ada propsisi netral, dan tidak ada nilai proposisi yang benar sekaligus salah. dari mana kita mengetahui nilai benar-salah tersebut ? apa parameternya ? dan siapa yang menentukan nilainya ?

Nilai dari suatu proposisi adalah produk Definisi. karena itu, parameter nilai benar-salah adalah definisi. adapun definisi bersifat subjektif. karena setiap orang memiliki Wilayah Kewenangan Definisi.  Proposisi yang bernilai "benar" berarti selaras dengan suatu definisi. dan nilai "salah" berarti terjadi ketidak-selarasan antara proposisi dengan definisinya. Nilai proposisi itu bersifat objektif. tetapi bergantung pada definisi yang bersifat subjektif. karena itu dari sudut pandang ini, seringkali dikatakan bahwa nilai kebenaran sesuatu itu bernilai subjektif. sebenarnya yang subjektif definisinya, bukan nilai proposisinya. sebab, jika setiap nilai proposisi itu subjektif, maka tidak ada suatu pendapatpun yang bisa disebut objektif.

Jacobus Ranjabar, S.H, M.Si. dalam bukunya "Dasar-dasar Logika", Hal. 67. dia mengatakan :
=======
Manusia yg mempunyai pengetahuan itu, mengakui hubungan sesuatu dengan sesuatu. ia mengeluarkan pendapat (melalui bahasa) atas beberapa dasar, yang merupakan syarat supaya orang dapat berpikir. dasar itu boleh disebut aksioma berpikir. Adapun tiap-tiap pendapat itu didasarkan pada sikap mental subyek yang tahu, bahwa demikianlah halnya, pendapat lain tak mungkin, itu disebut keyakinan.

Keyakinan bersifat subyek, jadi selalu bersifat subyektif juga. Menurut subyek yang tahu ketika itu, tak ada alasan apapun untuk berpendapat lain. Oleh karena itu, ada kemungkinan juga bahwa ia keliru, artinya ternyata bahwa memang ada alasan, yang kemudian baru diketahui, bahwa pendapat lain tidak hanya mungkin, melainkan harus lain. Itu pembetulan keyakinan, yg ternyata dulunya keliru, dan sekarang menjadi keyakinan baru.
========

intisari yang dikatakan oleh Jacobus menunjukan bahwa nilai benar-salah bersifat subjektif. dengan kata lain benar-salah bergantung definisinya. ini seakan bertentangan dengan pendapat bahwa nilai benar-salah bersifat objektif. ada dua pendapat yang bertentangan :

A) setiap nilai proposisi bersifat subjektif
O) sebagian nilai proposisi tidak bersifat subjektif

mana yang benar ? yang benar adalah sebagian nilai proposisi tidak bernilai subjektif. dengan kata lain, sebagian nilai propsisi itu bernilai objektif.

contoh :

X = bilangan genap.

A) 6 adalah X => benar
B) 5 adalah X => salah


nilai benar-salah tersebut bernilai objektif. tetapi jika kita mengubah definisi X, maka nilai benar-salah pun akan berubah.

X = bilangan ganjil

A) 6 adalah X => salah
B) 5 adalah X => benar

perubahan nilai pada proposisi A dan B pada contoh di atas, tidak menunjukan subjetifitas nilai propsisi, tetapi menunjukan subjektifitas definisi.

lalu, nilai proposisi seperti apa yang dapat disebut subjektif ? yaitu, dua proposisi yang tampak bertentangan karena mengacu pada definisi yang berbeda.

misalnya, dua orang berdebat, yang satu meyakini bahwa "6 adalah X", sedangkan temannya meyakini bahwa pernyataan tersebut keliru. yang satu bersikukuh propsisi tersebut bernilai benar dan lainnya terus menerus menyangkalnya. mereka berdua memperdebatkan hal yang seharusnya diperdebatkan. mereka tidak sadar bahwa benar salah bergantung definisinya. dan mereka berdua  mendefinisikan X secara berbeda. karena itu terjadi pertentangan pendapat yang menjadi potensi perdebatan. jika sudah begitu, mustahil akan sampai pada titik temu, karena nilai kebenaran yang dipertahankan oleh pihak masing-masing bersifat subjektif, mengacu pada definisi yang berbeda. sedangkan nilai kebenaran yang bersifat objektif adalah mengacu pada definisi yang sama.

subjektifitas ini tidak hanya terjadi pada dua orang yang berdebat, tetapi bisa terjadi pula pada seorang diri. ketika seseorang meyakini bahwa "6 adalah X" bernilai benar, sekaligus salah, maka itulah subjektifitas.

Jadi, nilai proposisi yang objektif adalah yang mengacu pada satu definisi. sedangkan nilai proposisi yang subjektif adalah yang mengacu pada dua definisi yang tidak hanya berbeda, tetapi bertentangan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Nilai Proposisi
« Jawab #1 pada: Desember 22, 2016, 08:00:26 AM »
Kutip dari: Sahl Abbad
Pernyataan yang tidak diketahui nilai benar atau salah tidak dapat disebut proposisi.

Pertanyaan :
1. Pernyataan yang mungkin saja benar dan mungkin juga salah termasuk proposisi bukan?Kalau bukan,pengetahuan nilai benar atau salah berarti menjadi syarat mutlak untuk menetapkan bahwa sebuah pernyataan bisa disebut proposisi.Benarkah demikian?
3.Menurut saya,proposisi itu adalah pernyataan yang karakteristiknya mengandung dua kemungkinan,benar atau salah meski dalam beberapa keadaan sudah bisa dipastikan kebenaran dan kesalahannya ataupun belum. Mengacu pada hal tersebut,pernyataan" Setiap A adalah B."  menurut saya termasuk proposisi.Bagaimana dg pendapat saya ini kang?

lagi-lagi, problem ini terjadi karena keterbatasan bahasa. coba kalo kita pisahkan Nilai Proposisi = NP. nilai Benar = B. Nilai Salah = S.

jika kita tidak mengetahui apakah suatu pernyataan memiliki NP, itu berarti kita tidak tahub bahwa pernyataan tersebut proposisi atau bukan. tetapi, jika kita tahu bahwa suatu pernyataan itu memiliki NP, berarti kita tahu bahwa pernyataan tersebut merupakan proposisi, walaupun kita tidak tahu apakah nilai pernyataan tersebut B atau S.

contoh :

Basyar Asad adalah syiah.

saya tidak tahu, apakah benar basyar Asad itu syiah atau bukan. tapi pasti pernyataan tersebut memiliki NP. walaupun saya tidak tahu B atau S. maka pernyataan tersebut adalah proposisi.

Setiap A adalah B

saya tidak tahu, apakah pernyataan tersebut B atau S, bahkan saya tidak tahu apakah memiliki nilai NP, maka pernyataan tersebut tidak saya ketahui apakah proposisi atau bukan. karena bisa jadi definisi.

13 adalah angka sial

saya tidak tahu, apakah itu proposisi atau definisi, maka saya tidak tahu apakah itu memiliki NP atau tidak.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags: kelompok ii 
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
10 Jawaban
2025 Dilihat
Tulisan terakhir November 14, 2015, 10:22:55 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
619 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 17, 2015, 12:44:03 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
443 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2015, 12:26:00 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
409 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 29, 2015, 09:00:54 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
388 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 17, 2015, 06:15:12 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
523 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 28, 2015, 08:08:54 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
447 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 25, 2016, 01:02:02 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
265 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 31, 2016, 12:06:44 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
277 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 08, 2016, 12:04:11 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
373 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 22, 2016, 11:26:17 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan