Penulis Topik: Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi  (Dibaca 2095 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
« pada: September 07, 2014, 07:33:32 PM »


Kategori : Pengangar Ilmu Logika
Edisi : 14 April 2017
Judul : Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
Tujuan : menjelaskan perbedaan Antara Logika dengan Analogi
===============

Seandainya Anda ingin seseorang mengenal Anda, apa yang mungkin akan Anda lakukan ? bukankah Anda memberitahukan nama Anda kepadanya ?[1]

Para Saksi Yehuwa berupaya meyakinkan orang tentang kebenaran Nama Yehuwa dengan analogi adat kebiasaan manusia. Biasanya, pertama kali mengenalkan diri seseorang menyebutkan namanya sendiri. “Kenalkan, saya Asep!”, misalnya. Dengan demikian, analoginya Tuhanpun tentu menyebutkan nama dirinya ketika dia ingin dikenal oleh manusia. Dan analogi yang serupa, “Manusia saja punya nama pribadi, masa Tuhan tidak?”

Analogi tersebut tampak cukup meyakinkan bahwa pastilah Tuhan punya nama pribadi, karena manusia saja punya nama. Dan pastilah Tuhan menyebutkan nama pribadinya, karena manusia juga menyebutkan nama pribadinya ketika dia ingin dikenal atau berkenalan dengan orang lain. Berargumen menggunakan analogi bukanlah hal yang keliru, tetapi, di dalam ilmu Logika kesimpulan yang logis tidak menggunakan analogi. Analogi adalah suatu metoda pengambilan kesimpulan yang bersifat dugaan berdasarkan kebiasaan umum.

Istilah Analogi tidak digunakan di dalam ilmu logika. Tapi bila dibandingkan dengan struktur ilmu logika, analogi bukanlah suatu jenis argumentasi yang terkuat, melainkan termasuk kepada Argumentum Ad Verecundiam, yaitu yang disandarkan kepada pihak ahli atau dugaan berdasar kebiasaan. Argumenasi jenis ini boleh digunakan, dipercayai atau disepakati sebagai kebenaran, boleh pula tidak. tidak ada alasan bagi akal untuk harus mengakui kebenarannya, juga tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Analogi seperti pendapat para ahli yang di dengar oleh orang awam. orang awam tidak dapat mengukur benar salah nya pendapat para ahli tersebut, tetapi percaya para ahli berkata benar. walaupun sebenarnya tidak mustahil para ahli ini keliru. sehingga, jika anda percaya dengan kredibilitas sang ahli, silahkan mempercayainya. jika tidak percaya, itu tidak mencederai akal sehat Anda. Analogi, masih memiliki kemungkinan meleset dari kebenaran.    Berbeda dengan syllogisme, sebagai metoda pengambilan kesimpulan dalam logika, di mana hasil dari kesimpulan tersebut bersifat pasti dan mustahil dapat dibantah. membantahnya berarti mencederai akal sehat.

Berikut contoh - contoh analogi :

Contoh 1 :
Hari senin sore turun hujan,
selasa sore turun hujan,
maka hari rabu sore pun akan turun hujan”.

Benar atau tidak hari rabu itu akan turun hujan, bisa “ya” bisa “tidak”. Walaupun, jika perkiraan itu terjadi pada musim penghujan, analogi tersebut merupakan dugaan yang kuat.

Contoh 2 :

Badu datang terlambat ke sekolah sehingga ia dimarahi Bu Guru
Kemudian, Rani juga datang terlambat ke sekolah. Dan seperti Badu, iapun dimarahi oleh Bu Guru.
Selanjutnya, Toni pun datang terlambat. Apakah Bu Guru akan memarahi Toni ?

Jawabannya secara analogi : Ya, Toni akan dimarahi. Jika Badu dimarahi karena terlambat, Rani dimarahi karena terlambat, maka Toni pun akan dimarahi karena terlambat.

Menurut analogi, jawaban tersebut benar dan sah, tapi menurut logika jawaban tersebut salah, karena yang benar adalah “belum tentu Toni dimarahi oleh Bu Guru.”

Demikian pula dengan kasus “Nama Yehuwa”.

Semua manusia punya nama pribadi, maka Tuhan punya nama pribadi

Analogi : Benar
Logika : Belum Tentu Benar

Jika manusia ingin dikenal orang, maka pertama yang dia lakukan adalah menyebutkan namanya, maka jika Tuhan ingin dikenal orang, maka pertama yang Dia lakukan adalah menyebutkan namaNya.

Analogi : Benar
Logika : Belum Tentu Benar 

Perlu difahami bahwa nilai “Belum Tentu Benar” tidak bararti “Sudah Pasti Salah”.

Pertanyaannya, mana yang hendak kita jadikan pedoman, Logika atau Analogi ?

Tentu saja kita harus lebih mengedepankan Logika agar terhindar dari kesalahan berpikir. Atau dengan kata lain, penggunaan analogi perlu diiringi dengan pemahaman logika yang baik agar pikiran tetap lurus terjaga.

Berargumentasi dengan analogi bukanlah sesuatu yang salah dan tercela, melainkan boleh dan sah. Mempercayai kesimpulan analogis juga bukan sesuatu yang salah, melainkan boleh dan sah, selama kita menempatkan analogi pada posisinya yang benar sebagai “dugaan yang kuat”, sebagai “Argumentum Ad Verecundiam”. Dengan menempatkan analogi pada tempatnya yang sesuai, maka Anda tidak akan berpegang erat pada argumentasi ini, ketika menemukan argumentasi yang lebih kuat, yaitu Argumentum Ad Verecundiam.

Sebaliknya, jika ada orang yang memilih tidak menggunakan dan tidak mempercayai kesimpulan yang berlandaskan analogi, maka itu bukan sesuatu yang salah dan tercela, melainkan boleh dan sah. Pada dasarnya, orang bebas memilih, apakah dia akan mempercayai suatu kesimpulan analogis atau tidak, dan hal itu tidak membuatnya menjadi salah atau tercela. Tentu orang akan rugi, jika tidak mempercayai kebenaran kesimpulan analogis yang ternyata berisi kebenaran. Tapi juga sebaliknya, dia rugi bila mempercayai kebenaran kesimpulan analogis yang ternyata berisi kebohongan. Resiko kerugian akan ditanggung oleh masing-masing orang tanpa harus dipersalahkan. Karena tidak ada alasan bagi kita  untuk dapat mempersalahkan mereka yang tidak mau mempercayai kebenaran kesimpuan analogis.

Berbeda dengan “Nilai Kesimpulan Logis”,  bila seseorang mengingkari kebenaran kesimpulan logis, maka hal itu tercela baginya, bahkan saya menyebutnya “orang gila”, atau berpikir dia telah mengalami semacam gangguan jiwa. Jika tidak demikian, maka kemungkinan lainnya adalah akibat kebodohan, dan tidak menemukan kemungkinan lain selain gila atau bodoh. Sebagai contoh, bila saya berkata, “Setiap benda yang kasat mata mempunyai bentuk”, maka siapakah orang yang dapat mengingkari kebenaran pernyataan tersebut. Saya rasa tidak ada, kecuali “orang gila”.

Memang sering saya sampaikan bahwa Logika tidak memproduksi nilai benar-salah. tidak memproduksi, bukan berarti tidak mengenali. Logika mengenali nilai benar-salah tersebut. di dalam ilmu logika dijelaskan tentang jenis-jenis argumen, yang salah satunya adalah argumentum ad judiciam, yakni kebenaran mutlak, aksioma yang tak terbantahkan. dan syllogisme adalah salah satu bentuk dari kebenaran yang bersifat mutlak.

contoh :

Panjul adalah manusia
Setiap manusia adalah Hewan
maka, pastilah Panjul itu Hewan

bila premis-premisnya benar, maka konklusinya sudah pasti benar dan harus diakui sebagai kebenaran.

Dalam dunia politik, ada banyak orang menggunakan Analogi sebagai argumen. sebagaimana telah dijelaskan tadi, itu bukan hal yang salah. tetapi, itu menjadi salah ketika analogi ditempatkan sebagai logika, sehingga berpandangan bahwa orang yang tak menerima pendapatnya telah menyalahi logika. ini keliru dan menjadi fallacy.

contoh :

1) Mustahil saya menghina Islam, karena keluarga saya sendiri muslim.
2) Mustahil saya maksiat, saya kan ulama

kata "Mustahil" menunjukan fallacy. karena pada kenyataannya seseorang dari keluarga muslim atau bahkan muslim itu sendiri, tidak mustahil menghina Islam. jika pernyaaan itu sejenis perasaan saja, maka mungkin saja benar. jadi maksudnya, "saya merasa mustahil bagi diri saya untuk menghina Islam." tapi bukan argumentasi logis maupun ilmiah.  demikian juga, biasanya seorang yang disebut ulama itu berakahlak mulia, dan jauh dari maksiat. tapi pada kenyataannya, orang yang dianggap ulama itu bisa saja maksiat. ini disebut Fallacy Of Analogism. dalam panggung politik, memang argumen yang digunakan tidak hanya logika, tetapi juga fallacy, retorika, analogi dan agama juga dipergunakan. semua argumen boleh digunakan, yang penting ditempatkan pada tempatnya yang sesuai, tidak merugikan dan tidak dengan tujuan untuk menipu. dan masyarakat perlu mengenali perbedaan jenis argumen tersebut, agar tidak terjebak ke dalam fallacy.

Dalam buku Ilmu Logika karya Jousoef Souyb, diceritakan tentang seorang pemuka agama Hindu bernama Pandit Dji yang di duga melakukan pembunuhan. Ketika diinterograsi, Pandit Dji berkata, "Mustahil saya membunuh, karena saya seorang Brahmana." Polisi berkata, "Berhentilah bermain fallacy !" karena polisi bekerja berdasarkan fakta, bukan berdasarkan perasaan yang subjektif. "saya mustahil membunuh kekasih saya, karena saya sangat mencintainya." itu adalah sejenis perasaan subjektif, bukan fakta objektif. seperti itu pula kita perlu membedakan antara Analogi dan Logika.

 1. Apa yang Alkitab Ajarkan, Hal. 13, Penerbit Saksi-saksi Yehuwa Indonesia
« Edit Terakhir: April 14, 2017, 07:12:13 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 20
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
« Jawab #1 pada: September 08, 2014, 12:00:22 PM »

Setiap yang ingin di kenal maka harus mengenalkan nama.
Tuhan ingin di kenal
Maka Tuhan harus mengenalkan nama.

Setiap yang kabar yang tertulis di alkitab adalah benar
Kabar Yehuwa nama Tuhan tertulis di alkitab
Maka kabar Yehuwa nama Tuhan adalah benar.

Bagaimana?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
« Jawab #2 pada: September 09, 2014, 09:03:53 AM »
Kutip dari: Ratna
Setiap yang kabar yang tertulis di alkitab adalah benar
Kabar Yehuwa nama Tuhan tertulis di alkitab
Maka kabar Yehuwa nama Tuhan adalah benar.

Bagaimana?

Logikanya benar. Pertanyaannya, benarkah Alkitab mengabarkan bahwa nama Tuhan adalah Yehuwa ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 20
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
« Jawab #3 pada: September 14, 2014, 06:25:24 AM »
Dia berkata, ”Akulah Yehuwa. Itulah namaku.” (Yesaya 42:8)

Jika benar kutipan dari kang Sandy diatas maka benar bahwa Yehuwa adalah nama Tuhan. Sehingga

'Yehuwa adalah sebagian Nama Tuhan'

Adalah kesimpulan logis.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
« Jawab #4 pada: September 14, 2014, 07:24:03 AM »
nah, dalam al-Kitab terjemahan kita bisa melihat bahwa "Yehuwa" adalah nama Tuhan. tapi siapa yang telah menterjemahkan seperti itu? seperti apa metodenya?

apakah benar tulisan Ibrani Kuno

(dibaca dari kanan ke kiri)
sama pelafadzannya dengan tulisan "Yehuwa" dalam pelafadzan Indonesia?
padahal tulisan tsb sudah berabad lamanya tidak lagi digunakan, dan para pelafadznya tidak lagi bisa diminta informasinya? metode seperti apa yang bisa membuktikan kebenaran ini?


apakah tidak mungkin misalnya lafadz ternyata dilafadzkan sama seperti tulisan الله?

apa alasan mereka menolak lafadz الله sebagai nama Tuhan?
(tidak ada rangkaian huruf dalam bahasa Indonesia yang tepat sama pelafadzannya dengan الله, namun menurut saya juga tidak salah jika kita menuliskannya dengan "ALLAH" atau "ALLOH" atau apa saja, jika pelafadzannya tetap mengacu pada tulisan الله).

tulisan mana yang lebih bisa dijadikan rujukan dalam pelafadzan?
apakah tulisan atau tulisan الله?
apa alasannya?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 20
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
« Jawab #5 pada: September 15, 2014, 09:44:59 AM »
Pertanyaaan-pertanyaan kang Sandy itu perlu dijawab, dan saya juga menunggu jawaban-jawaban dari pertanyaan kang Sandy. Semoga ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Jika Tuhan hanya punya satu nama, dan satu-satunya nama itu telah diberitahukan kepada manusia. Maka saya kira analogi suara binatang itu bisa menjelaskan.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
« Jawab #6 pada: September 16, 2014, 10:18:20 PM »
saya sudah mengajukan pertanyaan, "Apa buktinya bahwa Allah adalah nama gelar, bukan nama pribadi Tuhan?" dan juga pertanyaan, "Apa definisi dari Nama Gelar dan Nama Pribadi?" Tapi belum ada jawaban.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Agate

  • Pemikir
  • ****
  • Tulisan: 269
  • Thanked: 4 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Akal merupakan Makhluk yg paling dicintaiNya
    • Lihat Profil
Re:Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
« Jawab #7 pada: Juni 13, 2015, 07:55:55 PM »
Yehuwa setahu saya memang salah satu asma Allah
kalau di arabkan merujuk ke asma Ya Huwa artinya Wahai Dia
Sederhana meliputi segala sesuatu
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
« Jawab #8 pada: Juni 13, 2015, 09:28:11 PM »
saya menyampaikan argumentasi persis seperti yg disampaikan kang @. tapi   mereka punya jawaban lain yg menarik. insya Allah kapan2 saya posting diskusi2 saya dengan kawan2 dark Saksi Yehuwa.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ziels

Re:Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
« Jawab #9 pada: Juni 14, 2015, 07:55:59 AM »
Saya pernah sedikit mengulik "Allah" tapi bukan dari segi arti maupun makna, melainkan dari susunan huruf. Dan yg saya temukan adalah bahwa "Allah" adalah gabungan aliflam-laah semisal al-insaan adalah aliflam-insaan.

Hanya saja pada akhirnya saya tidak tahu apa arti dari "laahu". Apakah sama seperti "lahu" yg berarti "miliknya"? Jija demikian seharusnya huruf "lam" pada Allah berharokat pendek bukan panjang. Atau memang berharokat panjang perlambang penegasan nada, jika demikian, "laahu" diartikan menjadi "miliiiiiknyaaaaa" tapi ini agak terlihat konyol.

Dan bisa juga "laahu" adalah lamalif dan ha.
"Lamalif" berarti tidak, bukan dsb
Sedangkan "hu" umumnya dikrtahui sebagai kata ganti ketiga yaitu "nya"

Secara goresan pena tanpa sentuhan khot kalugrafi dan artistik, lamalif adalah huruf "ha" (yg bundar) dan ujung lancipnya bagian atas sedikit dipanjangkan hngga terbentuk "lamalif"

 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Nilai Kebenaran Antara Logika dan Analogi
« Jawab #10 pada: November 14, 2015, 10:22:55 AM »
apakah benar tulisan Ibrani Kuno

(dibaca dari kanan ke kiri)
sama pelafadzannya dengan tulisan "Yehuwa" dalam pelafadzan Indonesia?
Itu yakin tulisan Ibrani Kuno? Bukan tulisan Fenisia?

(tidak ada rangkaian huruf dalam bahasa Indonesia yang tepat sama pelafadzannya dengan الله,
Awloh?
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1117 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 21, 2012, 04:25:37 PM
oleh Kang Asep
6 Jawaban
2648 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 11, 2015, 11:42:09 AM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
1173 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 04, 2015, 07:55:17 PM
oleh Ziels
1 Jawaban
1392 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 23, 2013, 09:18:36 PM
oleh Sandy_dkk
4 Jawaban
2852 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 21, 2013, 06:47:27 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
480 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 29, 2015, 02:14:40 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1835 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 24, 2015, 05:31:53 PM
oleh Agate
0 Jawaban
288 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 31, 2016, 12:04:10 PM
oleh Kang Asep
Analogi

Dimulai oleh Kang Asep Definisi

0 Jawaban
427 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 05, 2016, 07:59:05 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
193 Dilihat
Tulisan terakhir April 19, 2017, 01:11:28 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan