Penulis Topik: membedakan implikasi dan biimplikasi  (Dibaca 14 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
membedakan implikasi dan biimplikasi
« pada: November 08, 2017, 08:11:53 AM »
SK : Implikasi
====================
1. Menguji Kebenaran Implikasi
2. Cara Membaca Tabel Implikasi
3. Membedakan Implikasi Dengan Biimplikasi
4. Ternyata
====================

3. Membedakan Implikasi Dengan Biimplikasi
Edisi : 05 Nopember 2017, 07:44:49

Hamid Assagaf, [04.11.17 23:53]
Jika hujan saya tidak pergi ke pasar.
1. Hujan --> Tidak ke pasar
2. Hujan --> ke pasar
3. Tidak hujan --> tidak ke pasar
4. Tidak hujan --> ke pasar.

Tabel implikasi nomor 2 dan 3 jadi tertukar karena q bernilai negatif?

Kang Asep, [05.11.17 00:15]
tidak tertukar, cuma memberi urutan kalimat yang berbeda saja.

1. hujan —> ke pasar (B-S)
2. hujan —> tidak ke pasar (B-B)
3. tidak hujan —> tidak ke pasar (S-B)
4. tidak hujan —-> ke pasar ( S-S)

urutan penulisannya boleh dibolak, balik.

Hamid Assagaf, [05.11.17 01:29]
Sebetulnya bukan urutannya yang saya pertanyakan tapi nilainya.
S-B --> S

Kang Asep, [05.11.17 01:31]
jika nilainya S-B, maka kesimpulannya B, bukan S.

S-B — > B.

ternyata tidak hujan dan tidak ke pasar.

berarti pernyataan, "jika hujan, maka tidak ke pasar" tidaklah bohong, alias bernilai benar.

Hamid Assagaf, [05.11.17 01:38]
S-B --> tidak hujan tidak ke pasar tetap bernilai benar?
Dalam bahasa sehari hari ketika kita mengatakan jika hujan tidak ke pasar, itu juga bermaksud jika tidak hujan akan ke pasar.

Kang Asep, [05.11.17 01:44]
penafsiran bahasa sehari-hari seperti itu adalah bentuk kekeliruan dan tidak semestinya dilestarikan, karena dapat menimulkan terjadinya kesalahan-tafsir. sama seperti kalau orang mengatakan "sebagian nabi adalah laki-laki", lalu ditafsirkan bahwa itu berarti menyatakan "sebagian nabi adalah perempuan".

bagaimana seorang ayah berkata pada anaknya, "jika kamu naik kelas, maka ayah akan memberimu hadiah".

ternyata anak tidak naik kelas, tapi ayahnya memberi si anak hadiah (S-B). apakah si ayah harus disebut sebagai pembohong ? tentu tidak. tapi jika si anak naik kelas, tapi ayahnya tidak memberi hadiah, maka barulah dapat dikata, si ayah telah berbohong.

Hamid Assagaf, [05.11.17 01:51]
Contoh 1 sering disalahpahami. Contoh 2 tidak serta merta dikatakan pembohong, orang akan berasumsi ada alasan lain sehingga si ayah memberi hadiah karena si ayah melebihkan bukan mengurangi hak si anak.

Kang Asep, [05.11.17 01:51]
rumusnya sama S-B-> B

Hamid Assagaf, [05.11.17 01:52]
Bahasa sehari yang dimaksud yang sesuai tata bahasa tentunya. Ketika dikatakan sebagian artinya tidak semua

Kang Asep, [05.11.17 01:55]
ada perbedaan antara "sebagian" dan "tidak semua". 

contoh 1 :
tidak semua kelereng yang kau miliki berwarna kuning

ini berarti sebagian kelereng kau berwarna kuning dan sebagiannya tidak berwarna kuning.

contoh 2 :
sebagian kelereng kau berwarna kuning

tidak tidak brarti sebagiannya lagi tidak berwarna kuning. bisa jadi, sebagiannya lagi berwarna kuning juga.

betul atau tidak, syed  ?

Hamid Assagaf, [05.11.17 02:01]
Jika seluruh kelereng saya kuning maka saya tidak akan mengatakan sebagian. Saya paham selama ini jika meniap maka sebagiannya juga. Saya tidak sedang menggugat ini. Saya hanya mempermasalahkan penggunaan kata sebagian tidak cocok untuk mewakili kata ini. Saya sedang mencoba mencari kata lain yang tidak bertabrakan dengan bahasa sehari2.


Setengah dari kelereng saya berwarna kuning

Sebagian itu setengah seperempat dll

Tapi saya sangat terbantu dengan penjelasan terakhir kang Asep itu penjelasan yang sangat penting dan jitu

Hamid Assagaf, [05.11.17 01:54]
Contoh komunikasi:
X: "Apakah kamu akan datang ke rumah saya besok?"
Y: "Jika hujan saya tidak datang ke rumah kamu".

Kang Asep, [05.11.17 02:01]
Dalam logika, semuanya harus jelas, harus diungkapkan. Tidak boleh disembunyikan, dan difahami berdasarkan semantik, asumsi, kebiasaan, dll.

 "jika hujan, maka saya tidak datang ke rumahmu dan jika tidak hujan, maka saya akan datang"

dengan demikian, maka bila ternyata tidak hujan, dan dia tidak datang, berarti dia telah berbohong.

Jadi, bila hanya menyatakan "jika hujan, maka tidak datang", jangan lngsung ditafsirkan "jika tidak hujan, maka datang". Itu sperti  "ahli terawangan" jadinya. Bahasa logika harus diketahui dari dhahirnya, dari apa yang diungkapkan, bukan apa yang tersembunyi dalam batin.


Dalam logika, ada kode khusus untuk membuat pernyataan seperti, yaitu dengan menggunakan kata "hanya jika".

Hanya jika hujan, maka saya tidak datang ke rumahmu.

Itu berarti, jika tidak hujan, maka saya datang ke rumahmu.

Pernyataan seperti ini disebut biimplikasi atau ekuivalensi.

Beda dengan pernyaaan tanpa menggunakan kata "hanya",melainkan "jika" saja" seperti "jika hujan, maka saya tidak datang ke rumahmu". Ini berarti menunjukan implikasi, bukan ekuivalensi. Lihat di dalam buku logika mengenai pasal "hukum kemestian".

Hamid Assagaf, [05.11.17 02:16]
 setuju


Hamid Assagaf, [05.11.17 02:07]
Ketika ada pernyataan sebagian kelereng berwarna kuning, Kesalahan  kebanyakan dari kita adalah BERASUMSI sebagian lainnya tidak kuning.

Kang Asep, [05.11.17 02:07]
itu asumsi yang salah. Karena itu gunanya logika adalah untk meluruskan asumsi-asumsi yang salah seperti itu. saya coba dengan contoh yang lainnya lagi. ini supaya lebih jelas saja.

Sekarang syed menyimpan semua kelerang yang syed miliki di dala saku celana. Lalu syed meperlihatkan sebagian kelerng kepada saya.

Terlihatlah oleh saya dengan jelas, apa warna kelereng milik syed Hamid yang diperlihatkan, yaitu warna kuning. Tapi saya tahu, bahwa syed hamid masih menyimpan sisa kelreng dalam saku. Tapi tidak saya lihat warnanya, karena tertutup kain. Lalu saya berkata, "sebagian kelereng syed hamid berwarna kuning". Maka apakah pernyataan saya ini benar atau salah ?

Hamid Assagaf, [05.11.17 02:14]
Benar.  Tapi ini karena yang membuat statement adalah kang Asep yang hanya mengetahui setengah kelereng saya. Sedangkan problem ini muncul karena yang menyatakan sebagian adalah mereka yang sudah tahu persis bahwa semua kelerengnya berwarna kuning.

Kang Asep, [05.11.17 02:19]
iya. Karena itu seringkali orang melihat "kesia-siaan".  Jika tahu semuanya kuning, kenapa harus dikatakan sebagaian ? Begitu komentar orang.  Justru di situ problemnya, pertama tidak semua orang tahu. Kedua, jika pun tahu, sebenarnya tidak sia-sia.  Untuk yang terakhir ini, nanti saya carikan contoh kegunaannya. Bahwa walaupun kita tahu seluruhnya benar, kita harus menyatakan sebagiannya benar. Karena ada bagian lain yang tidak perlu untuk diungkapkan.

Hamid Assagaf, [05.11.17 02:21]
Nahh itu dia. Saya sedang mencari cari apa tujuan seseorang mengatakan sebagian ketika dia tahu seluruhnya. Adakah alasan selain riak berlaku jujur.

Kang Asep, [05.11.17 02:27]
Pada umumnya, menyatakan "sebagian benar" dari seuatu yang seluruhnya benar, itu karena tidak mengetahui kedaaan yang sebagian lagi.  Jarang kasusnya, pernyataan "sebagian" tersebut dinyatakan dalam kndisi orang mengetahui kebenaran seluruhnya.  Tapi saya pernah menemukan beberapa kasusnya.  Kadang memang, mencari contoh kasus itu tidaklah mudah.

Hamid Assagaf, [05.11.17 02:34]
Betul sekali.

Teladan Abadi, [05.11.17 06:48]
Menyimak penjelasan tentang makna sebagian, perbedaan "sebagian" dan "tidak semua", serta perbedaan penggunan "jika" dan "hanya jika". Menjadi teranglah apa yg kemarin saya pertanyakan sama Kang Asep.

Contoh yg diberikan betul2 mantap.

Kang Asep :

Salah satu contoh harus menyatakan "sebagian", walaupun tahu bahwa seluruhnya benar, adalah dalam tanya-jawab dialektika logika.

Saya : mana yang benar, E. Setiap kelerengmu tidak berwarna kuning, atau I) Sebagian kelerengmu berwarna kuning ?
Teman : sebagian kelereng saya berwarna kuning

Padahal si teman tau, bahwa seluruh kelerengnya berwarna kuning. Tapi dia harus mengatakan bahwa "sebagian kelereng saya berwarna kuning", karena itu adalah pilihan yang terdapat dalam kontradiksi. Jika menjawab dengan jawaban "seluruh kelereng saya berwarna kuning" merupakan jawaban yang tidak relevan dengan pertanyaan, walaupun proposisinya bernilai benar. Berhubung saya tidak menanyakan "apakah kelereng yang kamu miliki itu sebagaian atau seluruhnya yang berwarna kuning ?" melainkan menanyakan, mana yang benar diantara dua proposisi yang kontradiksi E atau I.

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
7 Jawaban
2168 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 29, 2013, 04:40:10 PM
oleh Sandy_dkk
7 Jawaban
2007 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 30, 2013, 10:12:21 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
649 Dilihat
Tulisan terakhir April 04, 2015, 07:40:37 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
583 Dilihat
Tulisan terakhir April 07, 2015, 11:23:17 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
330 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 29, 2015, 10:53:05 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
400 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 29, 2015, 09:00:54 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
453 Dilihat
Tulisan terakhir September 09, 2015, 08:14:01 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
515 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 01, 2015, 07:49:38 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
152 Dilihat
Tulisan terakhir November 04, 2016, 10:12:49 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
43 Dilihat
Tulisan terakhir September 29, 2017, 08:08:15 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan