Penulis Topik: Konversi Bahasa Antara Bahasa Logika dan Bahasa Sehari-hari  (Dibaca 1465 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9384
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 428
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Konversi Bahasa Antara Bahasa Logika dan Bahasa Sehari-hari
« pada: September 26, 2012, 10:16:34 PM »
“menyampaikan kata-kata itu tidak perlu banyak”.

Kalimat tersebut merupakan bahasa Anthymeme, yaitu bahasa Logika tak baku atau bahasa sehari-hari. Tapi untuk menguraikan struktur fakta yang terkandung di dalam kalimat tersebut, kita perlu mengkonversinya ke dalam bahasa Logika.

Perhatikan kalimat tersebut, mana subjek dan mana predikatnya?

“menyampaikan kata-kata” apakah ini subjeknya? Subjek kalimatnya bisa hal tersebut bisa jadi bukan, bergantung maksud dari si pembuat pernyataan. Bisa jadi, yang menjadi subjeknya adalah “kita”, sehingga kalimat lengkapnya adalah “kita tidak perlu banyak-banyak menyampaikan kata-kata.” Tapi apabila “menyampaikan kata-kata” yang kemudian dianggap subjek, maka sifatnya berubah menjadi “kata benda” yaitu “penyampaikan kata-kata”. demikian pula dengan “perlu banyak”, harus difahami fungsinya sebagai kata benda, yaitu “yang perlu banyak”. Kalo menurut bahasa logika baku, itu berbunyi “penyampaian kata-kata itu bukan yang perlu banyak”.

Dengan membendakan kata kerja yang dijadikan subjek, maka kita dapat menyoroti lingkungan jenis dan lingkungan golongan diri sesuatu itu. lingkungan jenis adalah kumpulan berbagai macam bentuk yang bersatu dalam suatu himpunan atas suatu kesamaan sifat. (A. Rochman, LOGIKA,  No.12631)

Dengan demikian “yang perlu banyak” adalah adalah suatu lingkungan jenis. Tetapi di dalam jenis ini tidak terdapat golongan “penyampaian kata-kata”. Sampai di sini, kita dapat melihat suatu kejelasan struktur realitas dengan menguraikan lingkungan jensi dan golongan sesuatu itu.

Demikianlah gambaran, bagaimana mengkonversi bahasa sehari-hari ke dalam bahasa Logika Baku untuk memperjelas struktur fakta yang terkandung dalam bahasa sehari-hari itu. Dan uraiannya melalui bahasa logika masih panjang lagi.

Dari uraian di atas kemudian hal ini menimbulkan pemikiran, “Bukankah kadang-kadang kata-kata perlu disampaikan secara banyak?”

Kata-kata perlu disampaikan dalam jumlah banyak.
Kata-kata tidak perlu disampaikan dalam jumlah banyak.

Keduanya tampak bertentangan. Tapi sebenarnya tidak, sebab predikat kalimat itu memiliki perbedaan makna di dalam “tempo”. Kepada jenis mana sebenarnya kata-kata itu dikategorikan, kepada “yang perlu disampaikan dalam jumlah banyak” atau bukan kepada “yang perlu disampaikan dalam jumlah banyak” ?

Masuknya “penyampaian kata-kata” ke dalam jenis “yang perlu banyak” adalah setelah memenuhi suatu persyaratan bahwa jumlah informasi yang perlu disampaikan memang banyak. Dan ketika “penyampaian kata-kata” tersebut masuk ke dalam jenis bukan “yang perlu banyak”,  berarti jumlah informasi yang perlu disampaikan tidaklah banyak. Jadi, “jumlah informasi” menjadi faktor penentu, apakah kata-kata yang disampaikan itu harus banyak atau harus sedikit.

“Jumlah informasi banyak” bukan satu-satunya faktor penentu terhadap masuknya “penyampaian kata-kata” ke dalam jenis “yang perlu banyak”. Bila di pandang dari sudut lain, yaitu kebutuhan “penyampaian kata-kata” tersebut kepada “metoda bertahap”, maka walaupun jumlah informasinya banyak, tapi “penyampaian kata-kata” itu hanya perlu sedikit saja. Adapun jumlah tahapan informasi yang perlu disampaikan adalah berdasarkan taraf berpikir atau tahap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Sampai di sini, kita memahami sebab yang saling bergantung yang kalau diuraikan melalui bahasa logika akan tampak rumit, tapi kalau dikonversi kembali ke dalam bahasa sehari-hari adalah  “Untuk memenuhi kebutuhan informasi seseorang, kata-kata yang disampaikan tidaklah perlu banyak, melainkan cukup sedikit saja, namun jelas, mudah dicerna, dan dapat diertima, disesuikan dengan tahap pengetahuan dan taraf berpikir penerima informasi tersebut.” sebenarnya kalimat ini merupakan makna atau tafsir dari kalimat pertama bahwa “menyampaikan kata-kata itu tidak perlu banyak.”
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1350 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 25, 2012, 10:11:57 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
1722 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 22, 2012, 08:46:25 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1141 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 18, 2012, 10:25:23 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1338 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 11, 2015, 12:34:22 AM
oleh Monox D. I-Fly
4 Jawaban
2677 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 28, 2015, 11:55:54 AM
oleh Sandy_dkk
1 Jawaban
696 Dilihat
Tulisan terakhir September 16, 2014, 05:10:33 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
411 Dilihat
Tulisan terakhir April 10, 2015, 10:48:57 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1074 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 15, 2015, 10:05:19 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
570 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 09, 2015, 04:41:13 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
14884 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2016, 02:43:48 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan