Penulis Topik: Hukum Kausalitas  (Dibaca 10905 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Hukum Kausalitas
« pada: Pebruari 06, 2012, 02:08:54 PM »
Setiap keterangan menduga yang mempunyai ciri "jika-maka", terikat oleh hubungan kausal, yakni hubungan sebab akibat. Pengantar itu merupakan sebab, dan pengiring itu merupakan akibat.

Bentuk umum :
Jika A, maka C

atau

Jika A adalah B, maka A adalah C.

Keterangan di belakang kata "jika" disebut pengantar (antcident), dalam hubungan kausal disebut sebab. Sedangkan kata di belakang "maka" adalah pengiring (consequen), dalam hubungan kausal disebut akibat.

Jika matahari terbenam, maka hari mulai malam.

Hubungan kauslitas memiliki dua sifat :

1. bersifat kemestian
2. bersifat kemungkinan

kausalitas yang bersifat kemestian itu artinya dengan adanya diri pengantar, maka mesti terlahir diri pengiring.

contoh :

Jika matahari terbenam, maka hari mulai malam


Sedangkan kauslitas yang bersifat kemungkinan itu adalah ketika adanya diri pengantar (antcedent), ada kemungkinan terlahir diri pengiring, tapi tidak dipastikan.

Contoh :

Jika besok hujan, maka saya tak akan masuk kantor.

Faktanya, jika besok ternyata hujan, mungkin saja saya tetap pergi ke kentor. Inilah contoh kemestian yang bersifat kemungkinan.

Hubungan kausalitas yang bersifat kemestian itu berpangkal kepada tiga sumber :

1. Kemestian berdasarkan akal.
Contoh : Jika Balok adalah suatu benda, maka pastilah balok memiliki luasan.

Hubungan kemestian ini adalah kemestian yang dibenarkan akal karena terbukti benar secara alamiah atau logika

2. Kemestian berdasarkan hukum
Contoh : Jika adzan shubung terdengar, maka kewajiban shalat shubuh tiba.

Hubungan kausalitas tersebut terjadi karena adanya hukum agama Islam. Sedangkan bagi mereka yang tidak beragama Islam tentu hubungan kausal tersebut tidak mengikat baginya. Inilah yang dimaksud denga kemestian berdasarkan hukum.

3. Kemestian berdasarkan kebiasaan.

Contoh : Jikalau hendak pergi sekolah, maka anak-anak berpamitan pada orang tua.

Hukum kaulitas yang terdapat pada kalimat itu adalah menurut suatu kebiasaan.

Dua sifat kemestian dan tiga landasan kemestian tersebut harus difahami dan dihafal sebaik-baiknya sebelum Anda mempelajari bab lebih lanjut yaitu Hipotetical syllogisme.

Sumber : A. Rochman, LOGIKA,  No.12371
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
2271 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 03, 2013, 05:48:30 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
1405 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 11, 2013, 11:05:42 AM
oleh ratna
4 Jawaban
1614 Dilihat
Tulisan terakhir November 19, 2014, 02:29:45 PM
oleh Sandy_dkk
2 Jawaban
925 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 18, 2016, 02:41:55 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
796 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 10, 2015, 07:55:32 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
659 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 16, 2016, 01:36:21 AM
oleh Ziels
0 Jawaban
461 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 09, 2016, 03:13:02 PM
oleh Sultan
2 Jawaban
692 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 14, 2016, 04:32:05 PM
oleh Sultan
2 Jawaban
567 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 24, 2016, 04:34:28 PM
oleh Sultan
3 Jawaban
960 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 11, 2016, 01:29:36 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan