Penulis Topik: Falsum  (Dibaca 41 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9274
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Falsum
« pada: November 01, 2017, 05:18:03 AM »
Struktur Konsep
====================
1. Tautology
2. Absurditas
2.1. Falsum
3. Konsistensi
====================

2.1. Falsum
Edisi : 01 Nopember 2017, 05:11:35

Kontradiksi, Inkonsistensi, Absurditas dan Falsum merupakan istilah-istilah yang identik, dan sulit untuk dibedakan. Tapi sebenarnya ada sedikit perbedaan. Mari kita telaah perbedaannya.

Kontradiksi = pertentangan dua bentuk proposisi yang mustahil dua-duanya sama-sama salah atau sama-sama benar.

Inkonsistensi = koleksi pernyataan yang selalu bernilai salah secara simultan

Absurditas = kondisi di mana nilai-nilai dari proposisi serba salah

Falsum = nilai absurditas

A ∧ ~ A

Proposisi ini kontradiksi, inkonsistens, absurd dan juga falsum.

Setiap proposisi yang kontradiksi pasti inkonsistensi, absurd dan juga falsum. Setiap proposisi yang falsum, maka pasti absurd, inkonsisten dan kontradiksi. Karena itu berarti kontradiksi = inkonsistensi = absurdias = falsum. Yang membedakan hanyalah dalam penempatan.

Ilustrasinya begini :

Khaidar = suami Zaskia
Ayahnya Zidan = Anak pak Slamet
Kepala Sekolah SD Harapan = Suami  Zasia
Ibunya Zidan = Zaskia

itu berarti :

Khaidar = suami Zaskia = ayahnya Zidan = kepala sekolah SD Harapan.

Orangnya sama. Tetapi, Khaidar sebagai suami dan sebagai kepala sekolah itu kan memiliki perbedaan, demikian pula fungsinya sebagai suami dan sebagai ayah ada perbedaan.

Demikian pula dengan istilah kontradiksi, inkonsistensi, absurditas dan falsum, memiliki dzat yang sama, tetapi memiliki fungsi yang berbeda.

Simbol dari Falsum adalah ⊥  yang berarti selalu bernilai salah. Kebalikan dari Tautology yang memiliki simbol ⊤ , yang berarti selalu bernilai benar.

Ada proposisi-proposisi yang kita tidak tahu nilainya, benar atau salah, tapi pasti bernilai benar atau salah.

Setiap A adalah B

kita tidak tahu, apa proposisi tersebut bernilai benar atau salah. Tergantung term yang dimasukan ke dalam variabel. Bila A = emas dan B = logam, maka "setiap A adalah B" bernilai benar.  Tapi bila A = emas dan B = kayu, maka "Setiap A adalah B" bernilai salah. Karena itu, pernyataan yang demikian tidak disebut tautology maupun absurditas, melainkan kontingen.

Bandingkan dengan pernyataan :

Setiap A adalah B atau sebagaian A bukan B.

Pernyataan ini pasti bernilai benar, term apapun yang kepad variabel A dan B.

Contoh :

A = emas
B = logam

Jadi,

Setiap emas adalah logam atau sebagian emas bukan logam

bernilai benar.

A = emas
B = kayu

jadi,

sebagian emas adalah kayu atau sebagaian emas bukan kayu.

Bernilai benar pula.

Berbeda dengan pernyataan :

Setiap A adalah  B dan sebagian A bukan B.

Maka pernyataan ini disebut absurditas, pasti salah dan selalu salah, mustahil benar. Varaibel apapun yang masuk ke dalam A dan B, maka hasilnya akan salah.

Misal :

A = emas
B = logam

jadi,

setiap emas adalah logam dan sebagian emas bukan logam

A = emas
B = kayu

Jadi,

setiap emas adalah kayu dan sebagaian emas bukan kayu

Tetapi hasilnya salah. Akumulasi nilai salah dari seluruh kondisi tadi disebut falsum.

Contoh kasus :

The Legend, [30.10.17 16:34]
-------------------------------
Apa yang disampaikan nagasena bukan kontradiksi. Yang tidak paham corak ajaran Buddha yang mengatakan kontradiksi.

Seperti halnya sutra nirvana mengatakan sifat buddha adalah kekal. Sedangkan Master Huineng mengatakan sifat buddha adalah tidak kekal.
Saya yakin hampir semuanya akan mengatakan hal tersebut kontradiksi.
=====================

Dua proposisi yang bentuknya kontrari :

A = Setiap sifat Buddha adalah kekal
~ A = Setiap sifat Buddha tidaklah kekal

ini mustahil benar dua-duanya. Sehingga jika Y = A ∧ ~ A, maka Y = ⊥. Kemudian jika X = Buddha adala orang yang mencapai penerangan sempurna, maka pernyataan "Jika Buddha adalah orang yang mencapai penerangan sempurna, maka sifat beliau itu kelal dan tidak kekal" kebenarannya sebagai berikut :
---------------------
  X  |  ⊥ | X →  ⊥|
---------------------
  F  |  F   |    T    |
  T  |  F   |    F    |
---------------------

Itu berarti, jika pernyataan "jika Buddha adalah orang yang mencapai penerangan sempurna, maka sifat beliau adalah kekal dan tidak kekal" bernilai benar, hanya jika Buddha bukan orang yang mencapai penerangan sempurna. Tapi jika memang beliau mendapat penerangan sempurna, maka pernyataan tadi bernilai keliru. Hal itu ekuivalen dengan negasinya. Buktinya sebagai berikut :

-----------------------------
  X  |  ⊥ | X →  ⊥|  ~ X   |
-----------------------------
  F  |  F   |    T    |   T     |
  T  |  F   |    F    |    F    |
-----------------------------

« Edit Terakhir: November 01, 2017, 02:27:27 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan