Penulis Topik: Argumentasi  (Dibaca 56 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Argumentasi
« pada: Oktober 30, 2017, 08:13:03 AM »
SK : Argumentasi
====================
1. Bahan Pikiran
2. Empat Jenis Argumen
3. Memahami Kedudukan Argumen
4. Kesalahan Menempatkan Argumentasi
5. Bukan Argumen
====================

1. Bahan Pikiran
Edisi : 28 Mei 2017, 15:57:38

dalam Logika, terdapat empat jenis bahan pikiran (material syllogism) :

Pertama : Argumentum Ad Judiciam (Dalil yang sangat meyakinkan)
Kedua : Arguentun Ad Verecundiam (Dalil yang kokoh)
Ketiga : Argumentun Ad Hominem (Dalil yang menyentuh perasaan)
Keempat : Argumentum Ad Ignoratium (Dalil yang memukau)

2. Empat Jenis Argumen
 Edisi : 18 Oktober 2017, 20:26:46

Tujuan : mengenali perbedaan empat jenis argumen dan contoh-contohnya
==============

apa itu argumen ? Argumen adalah alasan dari suatu pendapat. Dalam bidang ilmu logika khususnya, Argumen adalah premis dari suatu Konklusi.

Setiap Syllogisme terdiri dari 3 Proposisi.

1) Setiap A adalah B
2) Setiap B adalah C
3) Jadi, setiap A adalah C

dua proposisi pertama disebut argumentasi dan yang terakhir disebut Konklusi. Argumentasi, disebut juga dengan Bahan Pikiran.

 Terdapt empat jenis argumen, yaitu :

1) Argumentum Ad Judiciam
2) Argumentum Ad Verecundiam
3) Argumentum Ad Hominem
4) Argumentum Ad Ignoratium

1) Argumentum Ad Judiciam

Ini merupakan jenis argumentasi yang terkuat. Semua manusia yang berakal sehat niscaya mengenali dan mengakui kebenarannya. Contoh 1 :

Setiap benda memiliki bentuk.

Pernyataan ini benar. Dan tidak dapat disangkal oleh siapapun. Disebut dengan kebenaran mutlak karena bukti kebenarannya terkandung di dalam term subjeknya sendiri. Serta tidak ada celah untuk dapat mempersalahkannya.

Contoh 2:

setiap manusia hidup itu bernyawa
setiap yang bernyawa akan mati
jadi, pasti setiap manusia hidpu akan mati

2) Argumentum Ad Verecundiam

Ini merupakan argumentasi yang dilandaskan pendapat orang lain atau para ahli. Seseorang mempercayai suatu pendapat itu benar, karena pendapat tersebut dikemukakan oleh seorang ahli di bidangnya, tanpa dia membuktikan sendiri kebenarannya, maka pendapat tersebut disebut argumentun ad verecundiam.

Contoh 1:
Para ahli kitab, yaitu yang menguasai ilmu yang teradapat dalam kitab-kitab, meyakini bahwa apa yang tertulis di dalam kitab-kitab itu benar, walaupun mereka tidak membuktikan sendiri kebenarannya. Ketika berargumentasi, mereka menggunakan apa yang tertulis dalam kitab-kitab tersebut sebagai Dalil.

Contoh 2 :

Kutip dari: Sandy_dkk pada Juni 20, 2013, 03:03:50 AM
========
seorang teman pernah menceritakan pengalamannya kepada saya. Dia tak berbakat menulis puisi. Dulu, ketika masih di bangku SMA, dia coba-coba menulis puisi tentang alam. Kemudian, karya itu dia tunjukkan kepada teman sekelasnya, yang kebetulan punya hobi sama dan lebih senior mengenai puisi. Begitu membaca, sang teman menertawakan isi puisi itu.

Karena merasa dilecehkan, teman saya menulis lagi sebuah puisi sepulang dari sekolah. Di bawah judul ia tulis: "oleh: WS. Rendra." ketika keesokan harinya puisi itu ia tunjukkan kepada temannya, sang teman tampak terkagum. Seraya membaca, kepalanya sering bergeleng dan mulutnya sering berdecak kagum. Sang teman pun membuat eksplanasi tentang puisi itu, menghubungkan kata yan satu dengan kata yang lain, kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, dan bait yang satu dengan bait yang lain.

Setelah mendengar komentar panjang lebar, barulah teman saya mengaku bahwa dialah sebenarnya penulis puisi itu. Sang teman pun sangat terkejut. Dengan kesal dan wajah marah setengah malu, ia membuang kertas bertuliskan puisi itu sambil berkata, "sialan! Kenapa tidak kamu katakan itu dari tadi?"
=========

itu adalah Humor Ad Verecundiam, untuk menngambarkan bahwa baik, buruk, benar, salah bukanlah berdasrkan pembuktian, atau fakta dan data, melainkan karena dianggap dibuat atau dinyatakan oleh pihak yang berwenang atau ahlinya. Pada kenyataannya, argumentasum ad verecundiam itu mungkin benar, mungkin pula salah. Karena itu disebut dengan kebenaran relatif.


3) argumentum ad hominem

argumentum ad himinem ini adalah pendapat-pendapat yang digunakan untuk menyentuh perasaan atau memukul lawan. Termasuk di dalamnya seni sastra dan retorika.

Dahulu terdapat pertentangan pendapat antara dua kelompok muslim, yang satu kelompok meyakini bahwa kekuasaan Allah terbatas, dan lainnya meyakini bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas. Atas pertentangan pendapat tersebut, khalifah memanggil dua ulama ke istana untuk melakukan debat terbuka di hadapan raja dan disasikan oleh publik.

Bertanya Ulama muktazilah yang meyakini bahwa kekuasaan Tuhan terbatas (ulama I), Ulama yang meyakini bahwa kekuataan Tuhan tidak terbatas (Ulama II), "jika kekuasaan Tuhan tidak terbatas, bisakah Tuhan menciptakan siang dan malam secara bersamaan ?"

ulama II menjawab, "Bisa, contohnya seperti yang terjadi pada mata Tuan."

Kebetulan ulama I matanya buta sebelah. Argumentasi ini seolah membuktikan kebenaran pendapat ulama II, tapi sebenarnya tidak, melainkan hanya memukul perasaan lawan bicara saja. Inilah argumentum ad hominem.

4) argumentum ad ignoratium

ini jenis argumentasi terlemah. Disebut juga argumentasi palsu dan bersifat menipu. Contoh :

Seorang janda dilamar oleh seorang pria. Wanita itu menolaknya, dengan alasan khawatir si pria hanya mencintainya saja, tapi tidak mencintai putranya yang masih kecil. Si pria berargumen. "tidak mungkin saya tidak mencintai anakmu. Karena aku mencintai kamu. Sedangkan kamu mencintai anakmu, jadi pastilah aku mencintai anakmu." jika dikembalikan ke dalam bentuk susun pikiran, menjadi :

Aku mencintai kamu
kamu mencintai putramu
jadi, aku mencintai putramu

sepintar lalu terlihat benar. Padahal isinya kebohongan. Kepalsuannya akan lebih terliat bila susun pikirannya diubah :

Aku jatuh cinta pada kamu
tapi kamu jatuh cinta pada Herman
berarti, aku jatuh cinta pada Herman

atau,

kamu memukul saya
dan saya memukul Dodi
berarti kamu memukul Dodi

itulah argumentum ad ignoratium

empat jenis argumen tersebut sama dengan Empat Kebenaran Argumen, yaitu :

1) Kebenaran Mutlak
2) Kebenaran Relative
3) Kebenaran Rasa
4) Kebenaran Palsu

lihat lebih lanjut dalam artikel berjudul  Empat Kebenaran Argumen

3. Memahami Kedudukan Argumen
 Edisi : 23 Mei 2017, 17:04:35

Ketika saya menceritakan perjumpaan saya dengan beberapa makhluk halus yang mengaku sebagai roh orang yang meninggal dunia, maka saya dihadapkan pada berbagai sikap. salah satunya adalah sikap meragukan, tidak percaya atau menyangkal bahwa makhluk halus tersebut sebagai ruh. karena mereka meyakini bahwa ruh manusia tidak dapat bergentayangan, tidak dapat menampakan diri, sedang sibuk mempertanggung-jawabkan amal perbuatannya dan sebagainya.

Meyakini bahwa makhluk-makhluk halus tersebut adalah jin Qarin bukanlah sesuatu yang salah, dilihat dari sudut pandang logika. Keyakinan berlandas kepada Argumentum Ad Verecundiam. Tetapi seringkali yang salah adalah penempatan keyakinan tersebut. Seandainya Argumentum Ad Verecundiam di tempatkan pada tempatnya yang sesuai, maka bukan masalah. Apa itu Argumentum Ad Verecundiam ? kalo bahasa sederhananya Argumentum Ad Verecundiam itu adalah "Kebenaran Katanya". Kata siapa itu jin Qarin ? "kata guru saya", "kata Hadis", "kata ulama" dan lain sebagainya. Tapi kalau guru Anda mengatakan bahwa makhluk halus tersebut jin Qarin dan guru saya mengatakan itu arwah, maka mengapa nilainya perkataan guru anda jadi benar, sedangkan nilai perkataan guru saya jadi salah, padahal dua-duanya juga "katanya". Inilah kebenaran Argumentum Ad Verecundiam.

Menempatakan argumentum Ad Verecundiam pada tempat yang salah adalah Anda berpikir bahwa orang lain mesti menerima kebenaran pendapat Anda yang berlandas pada argumentum ad verecundiam tersebut. Sebab alasan anda untuk percaya pada sumber keilmuan yang anda percayai itu belum tentu dimiliki oleh orang lain. Karenanya, menempatkan argumentum ad verecundiam adalah mengakui adanya kemungkinan. dari manapun sumber keilmuan Anda, jika itu statusnya argumentum ad verecundiam, maka harus diakui adanya kemungkinan bahwa keyakinan tersebut bisa jadi "benar", bisa pula "salah". Dengan demikian, orang yang memahami kedudukan argumentum Ad Verecundiam akan menghargai pendapat orang lain, walaupun bertentangan dengan dirinya. karena walaupun dia yakin pendapatnya benar, tapi ada kemungkinan salah. sedangkan walaupun dia meyakini pendapat orang lain salah, harus mengakui ada kemungkinan benar. ini yang disebut dengan Kebenaran Relatif.

Tetapi, Logika berdiri di atas kebenaran yang mutlak, yang pasti benar berlandaskan akal yang sehat. Karena itu, dalam kasus soal makhluk halus ini, cobalah untuk memilah, mana kebenaran yang mutlak dan mana yang relatif. di atas argumentun ad verecundiam itu ada argumentun ad judiciam, maka itulah kebenaran mutlak. Semisal, "jika benar makhluk halus tersebut bukan arwah orang meninggal, maka tentu keyakinan bahwa makhluk halus tersebut sebagai ruh orang meninggal mustahil benar." ini adala kebenaran mutlak. "makhluk harus tersebut adalah arwah atau bukan arwah". ini juga kebenaran mutlak, di mana akal yang sehat mustahil dapat menyangkalnya.

Jadi, keyakinan bahwa "hantu itu adalah arwah orang yang meninggal" bukanlah keyakinan mutlak, melainkan keyakinan relatif. Mereka yang tidak menghormati pandangan keyakinan tersebut berarti tidak menempatkan argumentum ad verecundiam pada tempatnya yang sesuai atau belum mengerti kedudukan argumen. Anda tidak dapat berpikir logis selama anda belum mengerti kedudukan argumen-argumen.

4. Kesalahan Menempatkan Argumentasi
 Edisi : 20 September 2017, 08:19:52



5. Bukan Argumen
 Edisi : 30 Oktober 2017, 08:07:18

Aflah al-Humaidi, [29.10.17 18:53]
Bagaimana dg argumen:
Kalau pancasila itu berhala, demokrasi itu produk kufur, dan sistem negara Indonesia adalah thoghut... Singkatnya semua dilarang dalam agama...

Lalu mengapa masih menggunakan fasilitas dan menjalankan sistemnya?

bagaimana menurut Kang Asep, dan member lain, mengenai argumen semacam itu?

Kang Asep, [29.10.17 18:57]
Di situlah justru kontradiksinya. walaupun orang memiliki keyakinan yang kontradiksi seperti itu, kita harus memahaminya sebagai "hak dia untuk berkeyakinan".  mereka menganut keyakinan-keyakinan yang kontradiktif, karena ketidaktahuan, karena kebodonan dan pembodohan. karena itu mereka semestinya dikasihani dan dibantu untuk mengerti. seperti nabi, ketika ditimpuki batu oleh sekelompok orang, nabi berdoa, memohonkan hidayah bagi mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.  kita harus melihat "semua orang sedang dalam proses belajar". jadi, beri ksempatan orang lain untuk belajar. dan sebagai logicer, kewajiban kita adalah menyadarkan kontradiksi-kontradiksi di dalam keyakinan mereka sendiri.

Aflah al-Humaidi, [29.10.17 18:58]
Maksud saya, apakah berargumen seperti demikian itu, tergolong fallacy atau tidak?

Kang Asep, [29.10.17 19:06]
bukan fallacy. tapi itu pertanyaan.

saya : benarkah babi itu haram ?
teman : benar.
saya : lalu, kenapa kemarin ada ustadz membawa kepala nya ?
teman : ah masa ? gak mungkin pak Ustadz bawa-bawa kepala babi. 
saya : bukan kepala babi, tapi kepalanya sendiri. he..he...
teman : ah dasar kau .. ku kira serius.

itu hanya bercanda. tapi intinya, pertanyaan tadi menanyakanh sebuah konsekuensi. JIka kau yakin bahwa babi itu haram, maka semestinya kau tidak makan babi.  tapi jika kau makan babi, itu indikasi bahwa implikasinya bernilai bohong atau kau menganut keyakinan yang kontradiktif.".

demikian pula pertanyaan, "jika kau yakin bahwa sistem kafir itu haram untuk digunakan, semestinya kau tidak pergi ke kecamatan untuk mengurus KTP.  tapi jika kau mengurus KTP, maka itu berarti implikasinya bohong atau Anda menganut keyakinan kontradiktif."

Kang Asep, [29.10.17 19:21]
Itu bukan argumen, tapi pertanyaan untuk menggali argumen.  Sokrates sering menggunakan pertanyaan seperti itu, telah banyak saya posting contoh-contohnya. tapi kalau ada yang menafsirkan pertanyaan sebagai argumen, ya repot jadinya. sistem dialektika logika tak berfungsi nantinya.

Aflah al-Humaidi, [29.10.17 19:23]
Jadi, maksud Kang Asep, pertanyaan semacam itu bukan argumen tapi penguji argumen? Seperti metode dialektika socrates?

Kang Asep, [29.10.17 19:23]
benar.

Aflah al-Humaidi, [29.10.17 19:23]
O ya, saya paham sekarang

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
5534 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 11, 2012, 12:19:22 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1231 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 30, 2013, 07:46:49 PM
oleh ratna
1 Jawaban
1229 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 20, 2013, 03:37:13 AM
oleh molecullarafric
4 Jawaban
1177 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 24, 2014, 10:07:51 PM
oleh ratna
1 Jawaban
1025 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 27, 2015, 11:17:48 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
595 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 19, 2015, 03:54:12 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
345 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 02, 2016, 06:58:27 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
238 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 13, 2016, 07:52:57 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
143 Dilihat
Tulisan terakhir September 18, 2016, 10:12:41 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
139 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 14, 2017, 05:38:51 AM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan