Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Kang Asep

Halaman: 1 2 [3] 4 5 ... 653
31
Pantun / Kamu Saja
« pada: Juni 09, 2018, 02:33:51 PM »

32
Politik / Presiden Terhebat
« pada: Juni 09, 2018, 02:19:08 PM »

33
Politik / Tentang The Terror Factory
« pada: Juni 09, 2018, 02:04:03 PM »
Daftar Isi
====================
1. Terror F B I
1.1. Fokus F B I Terhadap Terorisme
1.2. Pencipta Teroris
1.3. Menggarap Orang Gila
1.3.1. Kriteria Yang Direkrut Untuk Menjadi Aktor Plot
1.3.2. Contoh Orang Gila Yang Digarap F B I
1.3.2.1. Mendapat Bayaran Dari F B I
1.3.2.2. F B I Melatih Teroris
1.3.2.3. Drama F B I
1.3.2.3.1. Teater Keamanan Nasional
1.3.2.3.2. Drama Happy Ending
1.3.2.3.3. Bantahan  F B I Terhadap Hasil Investigasi Aaron
1.4. Alasan F B I Selalu Tahu Rencana Aksi Teror
====================


Tentang The Terror Factory
(Cerita Fahri Hamzah[1])
Edisi : 09 Juni 2018, 14:00:17


Di twitter, Fahri Hamzah bercerita tentang laporan hasil investigasi wartawan Amerika bernama Aaron yang mengungkapkan bahwa sebenarnya FBI itu merupakan pencipta teroris. Munculnya aksi-aksi terorisme di Amerika adalah drama yang dibuat oleh FBI sendiri. FBI penjahatnya dan FBI pula penumpas penjahatnya. Sebuah cerita seru dari Fahri Hamzah.

Namun apakah laporan Aaron tersebut benar ? Kalau pertanyaan tersebut ditujukan kepada saya, maka saya berbohong jika menyatakan "benar" atau "salah". Bila harus jujur, maka jawaban saya adalah "tidak tahu".  Jika seseorang  mengatakan bahwa laporan Aaron tersebut benar, tentu dia punya alasannya atau dia  berbohong. Dengan demikian, jika seseorang tidak memiliki alasan yang benar atas pernyataannya tentang kebenaran sesuatu, maka dia berbohong. Pertanyaan, apakah Anda punya alasan untuk menilai laporan Aaron tersebut benar ? Atau apakah Anda memiliki alasan untuk menilainya salah ? Apakah alasan Anda ? Bagaimana ilmu logika dapat diterapkan untuk mengalisis kebenaran laporan-laporan jurnalistik seperti itu ?



1. Terror F B I
Edisi : 09 Juni 2018, 13:27:09


1.1. Fokus F B I Terhadap Terorisme
Edisi : 09 Juni 2018, 13:27:44


1.2. Pencipta Teroris
Edisi : 09 Juni 2018, 13:29:07


1.3. Menggarap Orang Gila
Edisi : 09 Juni 2018, 13:30:25


1.3.1. Kriteria Yang Direkrut Untuk Menjadi Aktor Plot
Edisi : 09 Juni 2018, 13:33:23


Apakah aktor plot ini adalah teroris ?

1.3.2. Contoh Orang Gila Yang Digarap F B I
Edisi : 09 Juni 2018, 13:34:20


1.3.2.1. Mendapat Bayaran Dari F B I
Edisi : 09 Juni 2018, 13:34:52


1.3.2.2. F B I Melatih Teroris
Edisi : 09 Juni 2018, 13:42:00


@Fahrihamzah

Jadi, "FBI melatih teroris", ini benar atau bohong ?

Saya yakin, Anda meyakininya sebagai hal benar. Yang Anda anggap bohong itu adalah pernyataan perang pemerinta Amerika terhadap terorisme. Benar ?


1.3.2.3. Drama F B I
Edisi : 09 Juni 2018, 13:38:23


1.3.2.3.1. Teater Keamanan Nasional
Edisi : 09 Juni 2018, 13:43:26


1.3.2.3.2. Drama Happy Ending
Edisi : 09 Juni 2018, 13:43:33


1.3.2.3.3. Bantahan  F B I Terhadap Hasil Investigasi Aaron
Edisi : 09 Juni 2018, 13:45:11


1.4. Alasan F B I Selalu Tahu Rencana Aksi Teror
Edisi : 09 Juni 2018, 13:31:51



34
Diskusi Umum / Terjadi dalam Kuasa Allah
« pada: Juni 09, 2018, 05:12:43 AM »

Jika semua terjadi dalam kuasa Allah, maka konspirasi itupun terjadi dalam kuasa Allah. Benar ?

35
Proposisi / Semua Pejuang
« pada: Juni 09, 2018, 01:37:55 AM »

@Fahrihamzah

Jika semua pejuang adalah radikal, maka apakah semua radikal berarti pejuang ? Apakah setiap teroris itu adalah pejuang ? Dan Apakah setiap perjuang itu berjuang dengan benar ?

36
Proposisi / Hukum Rangka Pikiran Ketiga
« pada: Juni 09, 2018, 12:54:37 AM »
Hukum Rangka Pikiran Ketiga (TKTB) memuat ketentuan sebagai berikut :

1) Premis minor mesti menegas (affirmatif)
2) Mesti meliput (universal) setidak-tidaknya pada salah satu premis.

contoh :

Premis minor : setiap Rasul Allah menerima Wahyu
Premis mayor : Setiap Rasul Allah adalah ahli sorga
konklusi : sebagian yang menerima wahyu adalah ahli sorga.

Dalam contoh ini premis minor menegas dan kedua premis meliput, maka memenuhi ketentuan Hukum Rangka Pikiran Ketiga.

Contoh bila premis minor menidak

premis minor : Setiap Rasul Allah bukan pendusta
premis mayor : setiap Rasul Allah itu jujur.
Konklusi : Setiap pendusta tidak  jujur.

Susun Pikiran ini tidak sah karena melanggar Hukum Peniapan, yaitu Hukum Aristoteles yg ke 4. Perhatikan bahwa term "jujur" di dalam premis yang bersifat partial berubah menjadi universal dalam konklusi. Ini adalah pelanggaran.

Contoh lain :

premis minor : Setiap emas bukan kayu
premis mayor : setiap emas adalah logam
Jadi : setiap kayu bukan logam

Konklusi bernilai benar, tapi tak logis. Karena term "logam" yang tadinya partial jadi universal. Ini adalah modus KTBT - AAA. Modus berpikir seperti ini melanggar hukum logika dan termasuk pada modus berpikir yang tak sah.

Jika konklusinya dapat bernilai benar, lalu mengapa modus berpikir seperti ini harus dianggap melanggar dan  tak sah ? Karena, modus berpikir yang sah itu harus logis dan benar, bila diterapkan pada seluruh kasus. Perhatikan bahwa walaupun pada kasus di atas, konklusi bernilai benar, tapi lain lagi jika diterapkan pada kasus berikut :

premis minor : Setiap kelinci tidak bertelur
premis mayor : Setiap kelinci adalah hewan
kesimpulan : Setiap yang berterlur bukan hewan

Pada kasus ini,  selain tak logis, konklusinya juga bernilai salah.

Contoh lain :

premis minor : sebagian siswa tidak naik kelas
premis mayor : setiap siswa berhak mendapatkan pendidikan
kesimpulan : setiap yang naik kelas tidak berhak mendapatkan pendidikan

37
Komentari Gambar / Dapat Dua
« pada: Juni 09, 2018, 12:43:09 AM »

38
My Journal / Logika Politik
« pada: Juni 07, 2018, 04:55:13 PM »
Bagaimana cara menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan dengan metoda tablo ?

Contoh pernyataan :

Jika saya dapat membuat kajian Logika Politik, maka saya dapat memberi kontribusi untuk membangun politik sehat. Tetapi hanya jika saya memahami persoalan-persoalan politik, maka saya dapat membuat kajian Logika politik. Dan saya memang memahami persoalan-persoalan politik.

Bagaimana kesimpulan dari pernyataan tersebut ? Anda bisa membuat kesimpuan dengan modus ponen. cobalah simpulkan dengan metoda tablo.

Langkah Pertama : Ubahlah pernyataan-pernyataan tersebut ke dalam variabel.
Langkah kedua : Buatlah tablo
Ketiga : Perhatikan variabel apa saja yang cabangnya tidak tertutup.
Langkah Keempat : Apabila dua variabel yang tak tertutup terdapat pada dua cabang berbeda, berarti hubungannya disjungsi.
Langkah Keilma : Apabila variabel yang tak tertutup tersebut berada pada satu sabang yang sama, berarti hubungannya konjungsi.


39
Komentari Gambar / Bangga Pada Presiden
« pada: Juni 07, 2018, 04:33:37 PM »

40
My Journal / Soal Hukum dan Kebijakan dalam Kasus Perumahan
« pada: Juni 07, 2018, 04:30:02 PM »
Edisi Curhat : 6 Juni 2018

18 tahun lamanya kami hidup mengontrak, sudah sangat ingin memiliki rumah sendiri. Kami mencoba membeli rumah secara kredit, tapi selalu gagal, ditolak oleh pihak bank. Karena gaji saya terlalu kecil. Seringkali pihak marketing menyarankan agar kami merekayasa slip gaji, tapi saya dan istri gak mau melakukan hal seperti itu, karena takut akan dosa akibat berbohong. Tapi kami tak patah arang, terus berusaha untuk mendapatkan rumah yang kami impikan. Dan kali ini, kami gagal kembali membeli rumah secaea kredit, bukan karena gaji kami terlalu kecil, tapi karena terlalu besar. Serba salah, gaji kecil salah. Gaji besar juga salah.

Sebenarnya gaji kami tidaklah besae, apalagi terlalu besar, tapi hanya sedikit lebih besar dari sebelumnya. Tapi kali ini kami mencoba mengambil rumah subsidi dari pemerintah. Salah satu syaratnya, gaji tak boleh lebih dari 4 jt. Sementara gaji saya, lebih sedikit dari itu.

Rumah subdisi diperuntukan bagi masyarakat miskin, masyarakat dengan penghasilan rendah. Sehingga memberikan rumah pada kami, dengan penghasilan lebih sedikit dari 4 jt, dianggap tidak tepat sasaran. Padahal, saya baru saya mendapatkan gaji sejumlah itu tiga bulan terakhir ini. Mengapa kondisi lainnya tidak diperhatikan, bahwa kami telah belasan tahun mengontrak, dengan penghasilan kecil dari upah sebagai guru honor, sejak zaman upah honor masih Rp. 30.000 perbulan. Dengan honor sekecil itu, saya berangkat mengajar, menempuh perjalanan 10 km, dengan semangat mengajar anak negeri dan harapan suatu waktu akan diangkat menjadi PNS. Tapi harapan tinggal harapan, setelah belasan tahun mengajar, saya hanya mendapatjan janji-janji, tak pernah diangkat dengan honor tak lebih dari Rp. 500 rb. Dan sekarang, saya dinyatakan tak berhak mendapatkan rumah murah subsidi pemerintah, karena dianggap mampu, hanya karena saya baru saja mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak. Walaupun begitu, faktanya kami tidak mampu membeli rumah selain rumah subsidi yang DP nya bisa terjangkau oleh kami. Untuk Kredit rumah non Subsidi, dari mana bisa dikatakan bahwa kami mampu ? Apa sekarang saya harus balik lagi jadi guru honorer agar bisa kredit rumah subsidi ? Mengapa kebijakan pemerintah ini membuat kami jadi serba salah ?

Saya sering mengajukan Kredit perumahan sejak setelah saya memutuskan berhenti dari profesi guru honorer dan beralih bekerja di perusahaan kecil, dengan gaji 1.3 jt. Namun saya selalu ditolak dengan alasan gaji terlalu kecil. Dan setelah 7 tahun, gaji neningkat menjadi 2.5 jt.  Untuk terakhir kalinya saya mengajukan kredit rumah subsidi. Dan kali ini tampaknya kami diterima, hingga sudah keluar SP3. Kami sangat senang, dan hampir setiap pekan kami libur kerja kami melihat rumah yang sedang dalam proses pembangunan. DP telah kami bayar. Dan kami bayangkan, usai lebaran ini, kami bisa menempati rumah impian kami.

Sementara itu, istri saya terus menghitung-hitung, bagaimana dari mana bayar biaya akad, dari mana nanti akan bayar cicilan rumah, dan bagaimana biaya untuk membangun dapur. Karena rumah subsidi itu tanpa disediakan dapur. Melihat kecemasan pada wajah istri, saya jadi berpikir keras, bagaimana untuk memperoleh penghasilan tambahan. Akhirnya saya curhat di medsos tentang masalah kami. Tak disangka, ada orang baik hati menawari saya pekerjaan dengan gaji yang menarik. Saya pun setuju dan mulai pindah kerja. Saya kumpulkan uang, untuk biaya pindah ke rumah baru usai lebaran ini. Tapi tak terduga, marketing perumahan tiba-tiba dan sangat cepat memberi kabar bahwa rumah sudah diberikan pada pembeli lain. Dengan alasan sekarang gaji saya sudah besar, jadi tidak berhak lagi mendapatkan rumah subsidi. Saya termenung, dengan keraguan, benarkah pekerjaan baru yang saya dapatkan ini sebuah keberuntungan ? Saya ambil tawaran kerja yang baru, agar kelak lancar bayar cicilan rumah, tapi kakau tahu bahwa malah akan jadi hambatan untuk mendapatkan rumah, niscaya saya tak akan ambil pekerjaan baru ini. Biar dengan gaji lebih sedikit, tapi diperkenankan memiliki rumah yang kami impikan.

Sekarang harapan kami untuk segera mendapatkan rumah baru pupus sudah. Sementara usia kami tak muda lagi. walaupun mulai hari ini kami bisa menabung untuk DP rumah non subsidi, namun faktor usia akan jadi alasan berikutnya untuk penolakan.

Mengetahui pembatalan itu, istri saya bersedih. Berulang kali dia berkata,"Harus bagaimanakah kita ?"

Saya bilang,"Kita akan mengajukan gugatan hukum ke pengadilan terkait hal ini." Walaupun saya bukan ahli hukum, tapi saya punya tekad, untuk mencari kebenaran dan keadilan, berharap pihak berwenang mengevaluasi kembali kebijakan-kebijakannya. Apakah suatu aturan harus dijalankan secara textbook tanpa menimbang hati nurani ? Apakah hakim hakim di negeri ini masih menggunakan timbang rasa dalam memutuskan ataukah hanya semata terpaku pada logika ? Adakah orang yang dapat memberikan solusi atas permasalahan ini ? Saya harus pergi ke pengadilan untuk mengetahuinya. Soal pasal-pasal yang akan dijadikan dasar untuk gugatan, akan saya siapkan.

41
Proposisi / Ittifaqiyah
« pada: Juni 07, 2018, 04:28:43 PM »
(Syartiyah Muttashilah[2])

Syartiyah muttashilah Ittifaqiyah adalah keterangan menduga di mana hubungan Muqaddam dan Taali tidak bersifat mesti, melainkan :

1) hanya kebetulan
2) sebagai perumpamaan
3) kebiasaan
4) Rencana

Contoh kebetulan :
jika kamu dapat THR, maka aku hanya dapat gigit jari

Kebetulan kamu seorang karyawan, sedangkan saya hanya tukang cendol. THR dari mana ?

Sebagai perumpamaan :
Jika kamu bunga, maka aku kumbangnya.

Contoh Kebiasaan :
Jika aku berharap padamu, kau menghindar dariku
Jika aku pergi, kau dagang memberi harapan.

Biasanya begitu. Memang kau cewek PHP.

Contoh Rencana :
Jika bulan lebaran menjelang, maka akan mudik ke kampung halaman

Pernyataan-pernyataan ittifaqiyah sebenarnya di luar pembahasan logika. Karena tidak memiliki konsekuensi logis  yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika muqaddam terjadi atau pun tidak, tidak berpengaruh pada terjadinya taali. Semua itu hanyalah ketak-pastian. Pernyataan menduga yang dapat dimasukan ke dalam mesin logika adalah pernyataan yang sekurang-kurangnya apabila Muqaddam terjadi, tetapi taali tak terjadi, maka dapat dinyatakan sebagai pernyataan bohong. Tetapi ittifaqiyah tidak memiliki kondisi di mana ia dapat dinyatakan bohong atau salah.

Teman : saya bilang ke anak, "jika kamu naik kelas, ayah akan membelikanmu sepeda." Tapi saya tidak membelikannya sepeda. Maka, apakah saya salah ?
Saya : Berarti Anda telah berbohong pada anak Anda.
Teman : saya gak bohong. Itu kan cuma rencana, bukan janji. Namanya rencana bisa berubah.

Boleh saja pernyataan-pernyataan Ittifaqiyah dimasukan ke dalam mesin logika, tapi mesti diasumsikan sebagai Syartiyah Muttashilah Luzumiyah.

Jika malam minggu tiba, aku apel ke rumah mu.

Pernyataan tersebut, merupakan Luzumiyah, bila dapat diambil konsekuensi logisnya. Dan ia merupakan ittifaqiyah, bila tidak dapat diambil konsekuensi nya. Secara alami, pernyataan tersebut Ittifaqiyah. Karena hubungan antara "tibanya malam minggu" dengan "apel ke rumahmu" tidaklah bersifat mesti.

42
Sejarah Logika / Perkembangan Logika Timur dan Barat
« pada: Juni 07, 2018, 04:27:37 PM »
Bahasa manusia sangatlah rumit. Dalam pembicaraan sehari-hari, cara seseorang menyampaikan isi hatinya, tidak sesederhana syllogisme ABC dalam logika Tradisional Aristoteles, sehingga walaupun dasar-dasarnya bertumpu pada logika tradisional tersebut, namun seiring berkembangnya zaman, ilmu logika di belahan Timur dan  Barat telah mengalami banyak perkembangan. Walaupun para ahli logika mengatakan " Logika Arostoteles sudah sempurna sejak awal dan tidak dapat ditambahkan agak sedikitpun", namun kesempurnaan yang dimaksud seumpama sempurnanya 7 nada lagu, di mana selama berabad-abad, nada lagu tidak dapat ditambahkan untuk satu tangga nada saja. Namun, bagaimana manusia menciptakan lagu dan jenis musik, itu terus berkembang. Atau seperti penemuan angka 0 hingga 9, itu sudah lengkap. Tak ada yang dapat menambahkan lagi satu angkapun dan itu menjadi dasar untuk semua perhitungan matematis. Akan tetapi, rumus matematika tak pernah berhenti untuk berkembang. Seperti itu pula Logika, sejatinya rumus dasarnya hanya satu, yaitu AAA dengan bentuknya yang sederhana sepeti berikut :

A) Setiap A adalah B
A) setiap B adalah C
A) jadi, setiap A adalah C

Saya menyebutnya rumus sakti, karena dengan menguasai satu rumua itu saja, berarti menguasai keseluruhan pelajaran logika. Akan tetapi, satu rumus itu apabil di kupas, ternyata menyangkut keseluruhan teori logika.

Sebagai perbandingannya pada bidang akuntansi, bahwa membuat laporang keuangan perusahaan itu terangkum seluruhnya dalam neraca. Adapun neraca rumusnya sederhana sekali, yaitu Harta = Hutang + Modal. Namun faktanya rumus sederhana ini apabila diuraikan dengan detail laporan keuangan satu perusahaan, dapat menjadi 1000 halaman laporan keuangan.

Bandingan lainnya, Imam Ali bin Abi Thalin mengatakan "alam semesta ini dirangkum dalam al Quran. Al Quran dirangkum dalam ak fatihah. Dan Alfatihah dirangkum dalam basmalah. Dan basmalah dirangkum dalam huruf Ba". Dengan demikian, siapa yang mengetahui rahasia huruf Ba ini berarti, menguasai seluruh isi Al Quran, dan berarti mengetahui rahasia-rahasia yang ada di langit dan di bumi.

Perbandingan-perbandingan tersebut untuk menggambarkan makan dari "Kesempurnaan logika Aristoteles" bahwasannya apa yang disebut Logika Timur atau Barat, Logika Tradisional atau Modern, Logika Proposisional atau Predikat, semua itu adalah penjabaran dari Logika Aristoteles. Lagipula, pada awalnya naskah-naskah yang sampai ke tangan para ahli logika Barat, itu adalah manuskrip-manuskrip naskah logika Timur yang tersisa pada zaman kegelapan di Timur Tengah. Ketika terjadi arus penentangan dan pengharaman ilmu logika dari ulama-ulama Timur Tengah zaman dulu , sehingga sekolah-sekolah ilmu logika dihancurkan, naskah-naskahnya dibakar dan dicampakkan ke tempat sampah, para ilmuwan Barat memungutnya dan menjadikannya sebagai warisan berharga, sehingga ilmu pengetahuan berkembang pesat di belahan dunia Barat, khususnya di Eropa. Tapi para ilmuwan Barat tidak melupakan jasa ulama-ulama Timur sebagai pihak yang berjasa atas perkembangan ilmu pengetahuan di belahan Barat, sehingga menyebut Al Farabi sebagai Guru Kedua, dan menjuluki Ibnu Sina sebagai guru Ketiga. Julukan ini khusunya terkait bidang ilmu logika, sehingga menyebut Aristoteles sebagai Guru Pertama.

Sebagaimana para ilmuwan Barat, telah memungut manuskrip-manuskrip logika yang tersisa setelah umat manusia di  Timur menganggapnya sampah, demikian pula pada awalnya Al Farabi mendapatkan naskah-naskah warisan Aroatoteles dalam kondisi tidak utuh. Sangat banyak naskah-naskah logika Aristoteles yang telah lenyap, setelah sebelumnya bangsa Yunani membakar naskah-naskah logika dan menghukum mati para guru yang mencoba menghidupkan kembali ajaran Logika Aristoteles. Tetapi di Timur Tengah kondisinya masih aman, sehingga Alfarabi leluasa untuk mengumpulkan serpihan-serpihan naskah logika yang tersisa dan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Arab, sampai akhirnya apa yang terjadi di Yunani terjadi pula di Timur Tengah, yaitu arus penentangan dan pengharaman terhadap ilmu logika dari para tokoh yang merasa imannya terusik oleh kebenaran Logika.

Mengingat begitu banyaknya naskah Ariatoteles yang telah lenyap, maka tidaklah mustahil bahwa apa yang disebut temua baru dalam logika modern adalah sesuatu yang sebenarnya telah termaktub dalam naskah-naskah logika Arostoteles yang telah raib tadi. Seperti temuan Hukum De Morgan, yang ditemjkan oleh ahli logika Barat bernama De Morgan, itu memang tidak ditemukan dalam buku-buku logika Tradisional Aristoteles, akan tetapi kita tidak tahu apa yang ditulis Aristoteles di dalam banyak naskah yang hilang itu. Hukum De Morgan adalah hukum yang terdapat dalam Logika Proposisional.

Di belahan dunia Barat, ilmu Logika berkembang menjadi logika proposisional dan logika predikat yang cenderung penggunaannya lebih banyak pada bidang matematika, elektronika dan komputer. Sedangkan di belahaman Timur Tengah, ilmu logika mengalami perkembangannya di tangan ulama-ulama muslim yang penggunaanya cenderung kepada filsafat agama dan kemudian lebih dikenal dengan Ilmu Mantiq. Akhirnya, Logika Barat dan Timur memiliki gaya dan karakteristik yang berbeda. Misalnya doktrin tentang - tabel kebenaran, tablo semantik, teknik Resolusi - tidak ditemukan dalam Logika Timur. Dan sebaliknya, doktrin tentang -"Delapan Wahdah" , Jadal dan Mughalathah - berkembang di Timur Tengah pada dan setelah masa Al Farabi, di mana banyak bab dan fashal yang tidak ditemukan dalam Logika Barat. Logika Timur dan Barat berkembang dalam jalurnya masing-masing, tapi keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi.

Kita dapat mempelajari logika modern tanpa harus terlebih dahulu belajar logika Tradisional, tetapi dengan belajar logika Tradisional kita dapat memahami asal usul dari logika Modern. Seperti Logika Timur dan Barat yang saling melengkapi, antara logika Tradisional dan Modern juga bersifat saling melengkapi. Ilmu pengetahuan memang saling melengkapi satu sama lain. Karena itu agak mengherankan apabila ada yang mempertentangkan antara logika Timur dan Barat.

Dalam buku-buku sejarah logika tidak dijelaskan dari siapa Alfarabi mendapatkan naskah - naskah ilmu logika untuk pertama kalinya. Ada yang menyebutkan itu diperoleh dari seorang ahli logika Yunani beragama Kristen di sebuah sekolah Logika di Irak. Kebenaran kisah-kisah ini perlu ditelusuri kembali. Karena pada sebagian kisah menggambarkan bahwa ilmu Logika masuk ke dalam dunia Islam sebagai barang asing yang seolah Islam pengetahuan Islam tak sempurna, sehingga ada keilmuan baru yang harus ditambahkan ke dalam Islam dan ini menjadi dasar bagi penolakan sebagian ulama Islam terhadap ilmu logika Aristoteles yang diwakili oleh Ibnu Taimiyah yang menulis buku "Fashihatu Ahli Iman Fi Raddi Mantiqi Yunani." (Kefasihan Ahli Iman dalam menangkis Logika Yunani). Tetapi saya menemukan, jauh sebelum masa Al Farabi, cicit dari Rasulullah yang bernama Imam Jakfar Shadiq dalam menjawab pertanyaan muridnya tentang atheisme, ia berkata "Aristoteles telah menjawab pertanyaan mereka (atheis)" menggambarkan bahwa keluarga nabi saw tidak asing dengan keilmuan Aristoteles. Sementara ayah dan kakek mereka, termasuk imam Ali Bin Abi Thalib telah mengklaim "menguasai ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang". Bila benar demikian keilmuan keluarga suci nabi saw, maka tentu tidaklah mustahil bahwa keilmuan Alfarabi dalam bidang ilmu logika bersumber dari keluarga suci nabi saw. Dan apalagi apabila kita membaca riwayat kejeniusan orang-orang dari keturunan nabi ini, maka sulit untuk kita dapat katakan bahwa mereka tak tahu menahu soal ilmu logika. Kasus-kasus yang telah mereka pecahkan menunjukan bahwa keluarga suci nabi ini adalah memiliki logika yang super, sehingga makna dari " sempurnanya Islam", bukan hanya karena banyaknya kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama, tapi karena adanya ulama itu sendiri, khususnya ulama dari keturunan Nabi saw yang ilmunya meliputi orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang. Sehingga hipotesa saya, ilmu logika di bawa ke dunia Islam oleh AlFarabi tidak melewati tangan asing, melainkan melalui keluarga suci nabi saw, yakni sumber ilmu Islam itu sendiri.

Tidak dipungkiri bahwa di Barat para ahli logika non muslim telah berkontribusi mengembangkan ilmu logika. Tapi sejarah mencatat bahwa pada awalnya, para ilmuwan Barat berkiblat pada ulama-ulama Islam di Timur.

Kita juga dapat bercermin pada kasus Enstein dengan teori relativitasnya. Di mana, Enstein telah mencapai temuan baru dalam bidang fisika dengan teori-teorinya. Namun jauh sebelum hal itu ditemukan oleh Enstein, para ulama Timur sudah tak asing lagi dengan teori relativitas, mereka tahu kesalahan dalam teori-teori Enstein, sehingga salah seorang ulama bernama Ayatullah Borroujerdi telah menyampaikan kritikan-kritikannya melalui surat kepada Enstein, dan kemudian terjadi surat menyurat antara Ayatullah Boroujerdi dengan Enstein dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal itu menunjukan keakraban ulama-ulama Islam dengan dunia matematika dan fisika. Tidak sedikit penemu-penemu ilmu yang dikagumi oleh para ilmuwan barat. Namun sebagaimana sifatnya para ulama, yang tawadhu dan jauh dari sifat riya, maka saat mereka mencapai temuan-temuan baru dalam bidang ilmu pengetahuannya, mereka tidak mencari popularitas dengan itu dan tidak membutuhkan pengakuan dunia dengan apa yang disebut dengan hak paten. Sehingga sekarang, ilmu pengetahuan dan teknologi di Barat terlihat jauh berkembang.

Di Barat populer dengan temuan-temuan produk terbaru dari teknology. Sementara di belahan Timur Tengah lebih populer dengan bom yang meledak di mana-mana. Namun, apabila kita menggali lebih jauh, maka khazanah keilmuan di belahan Timur itu tak kalah mengagumkan. Kita dapat menemukan pondasi dari teknology Barat berasal dari Timur Tengah. Sebagai contohnya Ilmu Algoritma yang digunakan dalam bidang pemerograman, kaitannya segala bentuk teknology, itu pada mulanya ditemukan oleh seorang ilmuwan muslim bernama al Khawarizm. Dan kita tidak tahu, sekarang ini di tengah ledakan-ledakan bom di Timur Tengah, khasanah keilmuan semacam apa yang masih tersimpan secara istimewa.

Seperti itu pula, saya saat ini melihat ilmu logika di dunia Barat jauh lebih berkembang dari pada di Timur atau saya tidak cukup tahu, bagaimana perkembangan ilmu logika di belahan Timur. Karena setahu saya pada awalnya, ilmu logika Timur hanya sebatas pada kitab kecil yang bernama Sulamun Nawarah, yang tipis dan bisa saya beli dengan harga Rp. 2.500. Tapi ternyata saya keliru. Kitab-kitab ilmu mantiq sangatlah banyak, mukai dari kitab untuk pemula hingga untuk tingkat lanjut. Salah satu member Logika Filsafat pernah memberi tahu pada saya bahwa dia punya kitab mantiq yang isinya hanya membahas Dilalatul Lafdzi (Bab Term) dan itu terdiri dari kirang lebih 400 halaman, sementara bab Term dalam buku-buku ilmu logika Barat, paling berkisar antara 20 atau 30 halaman saja. Kitab kitab lainnya yang berisi ilmu Logika Timur (mantiq) diantaranya kitab Danesh Maneh Karya Ibnu Sina, Asas Al Inqibas karya Nashirudin Thusi, Mantiq Syifa karya Ibnu Sina, Jauhar Al Nadhid karya Allamah Alhilli, Mantiq Luwin Karya Mulla Shadra, Mantiq Shuri karya Dr. Muhammad Khansari, Mantiq Korburi karya Sayyid Ali Asghar dan masih banyak lagi, dan itu berisi bab-bab yang berbeda satu sama lain. Belum lagi naskah-naskah mantiq Karya Alfarabi sebagai pelopor pertama ilmu mantiq, saya tidak mengetahui sebanyak mana naskah-naskah beliau yang tentu menjadi rujukan ilmuwan-ikmuwan mantiq selanjutnya. Dari situ saja dapat kita lihat bahwa betapa luasnya kajian ilmu mantiq, sehingga pandangan bahwa logika Barat lebih berkembang dari logika Timur perlu diuji kembali kebenarannnya.

43
Diskusi Umum / Re:Hidup Kekal
« pada: Juni 03, 2018, 06:45:10 PM »
Jelas, dalam kitab suci seringkali disebut "khoolidiina fiihaa abada". (hidup kekal di dalamnya), menunjukan kekekalan hidup. dan bagaimana itu dapat dinyatakan sebagai tandingan sifat Tuhan ? sementara "sifat Hidup" manusia tidak dikatakan sebagai tandingan sifat Tuhan yang juga memiliki sifat "Al Haya", yaitu sifat Hidup.

44
Renungan / Mematahkan Argumentasi
« pada: Juni 03, 2018, 05:50:40 PM »

45
Proposisi / Re:Istidlal Mubasyir
« pada: Juni 03, 2018, 06:51:10 AM »
Klik aja link yang tersedia pada tulisan tersebut. di situ terdapat contoh-contohnya.

Halaman: 1 2 [3] 4 5 ... 653

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan