Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Kang Asep

Halaman: 1 [2] 3 4 ... 653
16
Komentari Gambar / Lebaran
« pada: Juni 14, 2018, 05:13:35 PM »

17
Komentari Gambar / Kerjane Terbukti
« pada: Juni 14, 2018, 09:05:34 AM »

18
Politik / Gerakan Dialektika Logika Masyarakat
« pada: Juni 14, 2018, 04:34:23 AM »
Gerakan Dialektika Logika Masyarakat
Edisi : 14 Juni 2018, 04:30:25

Salah satu dari Gerakan Dialektika Logika adalah membentuk masyarakat yang peka terhadap kontradiksi-kontradiksi politik. Pernyataan-pernyataan calon pemimpin tentang janji-janji atau rencana-rencana mereka yang akan dilakukan apabila terpilih jadi calon pemimpin dapat dikelompokan kepada pernyataan-pernyataan politik. Tetapi, seringkali tampak terjadi pertentangan pernyataan mereka sebelum dan sesudah terpilih, sehingga pertentangan itu disebut sebagai kontradiksi politik. Sederhananya yang dimaksud kontradiksi politik di sini adalah kontradiksi pernyataan politikus secara internal atau eksternal. Kontradiksi Internal berarti dengan dirinya sendiri. Sedangkan kontradiksi eksternal berarti dengan pihak luar.

"Logika bekerja mulai pada kontradiksi-kontradiksi". Karena itu, untuk dapat menerapkan Logika pada bidang politik, tentu langkah awalnya adalah dengan mengamati politik serta pernyataan-pernyataan para politikus. Karena teori politik dan pernyataan-pernyataan politikus merupakan material syllogisme, yang diperlukan untuk untuk melahirkan konklusi-konklusi, juga untuk mengidentifikasi kontradiksi politik.

Tidak semua orang peka terhadap adanya kontradiksi politik. Walaupun seorang politikus membuat pernyataan yang bertentangan dengan pernyataannya sendiri sebelumnya, namun orang-orang seolah tidak peduli, tidak tahu, lupa dengan pernyataan sebelumnya atau tidak sadar akan adanya pertentangan tersebut. Ini namanya tidak peka terhadap kontradiksi politik.  Namun sebagian orang lagi sangat peka dengan adanya kontradiksi-kontradiksi tersebut, sehingga lahirlah masyarakat yang berdialektika logika, yakni mereka yang mengajukan pertanyaan dengan mengkonfirmasikan kontradiksi-kontradiksi politik tadi. Gambaran dialektika logika masyarakat ini dapat dilihat dalam sebuah film komedi yang diperankan Aamir Khan berjudul PK.

Apa yang tampak kontradiksi, belum tentulah kontradiksi. Sebelum dikonfirmasikan kebenarannya dan diklarifikasi, maka hal yang tampak kontradiksi tadi harus dianggap sebagai asumsi saja[1]. Misalnya, saya mendapati informasi bahwa sebelum menjadi gubernur, Anies Baswedan menyatakan menolak reklamasi[4].

Kutip[2]
--------------
Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, pada masa kampanye Pilkada DKI 2017 telah dengan tegas menyatakan bahwa mereka menolak reklamasi di pantai utara Jakarta.
==========

Tetapi, setelah menjadi gubernur, Anies malah melanjutkan proyek reklamasi itu[3].  Sehingga saya mengidentifikasi adanya kontradiksi. Walaupun Anies tidak menyatakan "tidak menolak reklamasi", namun ini dapat diambil dari fakta yang dilakukan. Faktanya Anies melanjutkan proyek Reklamasi. Dengan melanjutkan berarti dapat disimpulkan "tidak menolak reklmasi", sehingga terbentuknya kontradiksi.

A]> Anies Baswedan menolak reklamasi
E]> Anies Baswedan tidak menolak reklamasi

Pernyataan tersebut bukanlah pernyataan Anies Baswedan, melainkan disimpulkan dari pernyataan maupun tindakan Anies.

Mana yang benar, menolak atau tidak menolak ? Tentu pertanyaan ini butuh jawaban. Kita mengidentifikasi hal tersebut sebagai kontradiksi, tapi tunggu dulu ... Identifikasi tersebut bukan untuk memvonis bahwa Anies Baswedan tidak konsisten atau memiliki konsep yang kontradiktif, tapi sebagai landasan untuk konfrimasi dan klarifikasi. Karena telah melakukan tindakan yang tampak tidak selaras dengan pernyataan sebelumnya, maka Anies perlu memberikan klarifikasinya terkait hal itu. Ini agar tidak membingungkan masayarakat dan juga agar Anies sendiri terlihat clear dan konsisten.

Empat Hal yang perlu Diperhatikan dalam Gerakan Dialektika Logika Masyarakat adalah sebagai berikut :

Pertama-tama, informasi yang saya terima tersebut belum tentu benar. Tetapi juga belum tentu salah.

Kedua. Walaupun belum tentu benar-salahnya, dugaan adanya kontradiksi politik perlu diungkapkan dalam bentuk pertanyaan, sehingga membentuk masayarakat yang berdialektika logika.

Ketiga, jika memang apa yang diduga kontradiksi tadi memang kenyataan kontradiksi, maka hal itu diharapkan menjadi bahan koreksi, mengarahkan orang-orang untuk konsisten atau memperbaiki keyakinan-keyakinannya yang kontradiksi.

Keempat, pertanyaan kritis tentang kontradiksi-kontradiksi sebaiknya ditanyakan langsung kepada pihak yang bersangkutan. Tetapi jika tidak, pertanyaan-pertanyaan itu dapat diajukan kepada siapapun yang bersedia mendengarkan, karena barangkali mereka dapat memberikan jawabannya atau menyimpannya dan menjadikan pertanyaan dia pula, sehingga akhirnya suatu pertanyaan menjadi pertanyaan masal. Inilah yang dimaksud dengan Masyarakat Yang Berdialektika Logika.

____________
1) Lihat dalam tulisan berjudul Asumsi Kontradiksi
2) Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Janji Anies-Sandi Hentikan Reklamasi dan Perkembangan Terkini", https://megapolitan.kompas.com/read/2017/10/10/15281411/janji-anies-sandi-hentikan-reklamasi-dan-perkembangan-terkini.
Penulis : Andri Donnal Putera
3)

19
Komentari Gambar / Putri Cantik
« pada: Juni 13, 2018, 08:56:57 AM »

20
Diskusi Umum / Sulit Diidentifikasi
« pada: Juni 13, 2018, 08:30:20 AM »

kalau sudah begini, susah kan diidentifikasinya ?

21
Komentari Gambar / Segenggam Bunga
« pada: Juni 13, 2018, 07:44:31 AM »

22
My Journal / Menulis karena Cinta
« pada: Juni 12, 2018, 12:54:16 PM »
Gembira kami rasakan saat kami berjumpa kembali, setelah 20 tahun lamanya berpisah.

Wina, dia adalah sahabat saya semasa sekolah dahulu. Dialah yang mencomblangi saya dengan Giawitri, sehingga terjadilah kisah cinta antara saya dengan Gia.

Melepas rindu, kami berbincang, bercanda ria, seperti masa masa sekolah dahulu. Kami ungkap kembali cerita-cerita lama, hingga tiba-tiba Wina berkata,"Dulu aku comblangi kamu sama Gia. Aku jadi tukang pos, nganterin surat-surat kamu ke dia, surat dia ke kamu. Sekarang kalau dipikir aku heran, kok mau-maunya aku kalian suruh-suruh begitu. Padahal dikasih upahpun tidak. He..he.."

Saya mengeluarkan dompet, mengeluarkan uang 100 rb dan memberikannya pada Wina, dengan nada canda saya bilang,"Nih upah kamu jadi mak Comblang."

Wina mengambil uang itu sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dalam hati saya bergumam,"Hah.. Dasar ibu-ibu, sekarang aja semuanya dinilai uang. Cinta adalah uang. Uang adalah cinta. Dulu kamu tak mengerti soal uang. Dan setelag kamu ngerti soal uang, kamu lupa tentang bagaimaba itu cinta. Kamu comblangi kami, karena kamu suka itu, kamu cinta itu. Kamulah sebenarnya penulis skenario kisah cinta saya dengan Giawitri. dan kamu sendiri yang pertama kali menikmati kisah cinta kami. Kamu menikmati kelucuan dan romantisme cinta kami berdua."

Sepeti Wina, ketika dia remaja melakukan sesuatu untuk saya karena cinta. Sama sekali, tidak berpikir soal upah. Demikian pula saya, sejak dahulu saya menulis bukan dengan harapan akan suatu upah, tapi semata karena cinta. Apabila cinta ini sirna, niscaya pena saya akan berhenti dan tertegun karena dihadang tanya,"Mengapa aku harus menulis ? Untuk apa menulis ? Berapa untungnya ? Adakah upah yang aku dapatkan ? Berapa banyak orang memberi apresiasi pada tulisan saya ? Mengapa saya saya harus bersusah payah menulis dan membagikannya pada orang lain ?" Tapi saya tidak atau belum kehilangan cinta ini, sehingga tak perduli dengan semua tanya itu.Saya menulis tidak untuk apapun, melainkan hanya karena Cinta. Dan semoga saya tak pernah kehilangan cinta ini.

23
Renungan / Antara Kebodohan dan Ilmu
« pada: Juni 12, 2018, 07:09:45 AM »

24
Berita / Delapan Proyek Mangkrak yang Diselesaikan
« pada: Juni 11, 2018, 01:35:59 PM »

25
Politik / Selfie di Atas Perstasi Jokowi
« pada: Juni 11, 2018, 01:33:49 PM »














26
Politik / Sampai Kiamat
« pada: Juni 11, 2018, 09:57:35 AM »

27
Politik / Sabdo Pandito
« pada: Juni 11, 2018, 09:47:08 AM »







28
Humor Tak Bohong / Selera Humor
« pada: Juni 10, 2018, 12:19:57 AM »

29
Puisi / Berpaling
« pada: Juni 10, 2018, 12:05:26 AM »




30
Humor Tak Bohong / Bukan Semuanya Jangan
« pada: Juni 09, 2018, 11:24:52 PM »

Halaman: 1 [2] 3 4 ... 653

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan