Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Kang Asep

Halaman: [1] 2 3 ... 653
1
Psikologi / Bekerja
« pada: Hari Ini jam 07:00:55 AM »
(Lima Obat Galau[1])

Nadia menelepon saya, dia menceritakan bahwa dirinya sudah lima hari lamanya mengurung diri dalam kamar, karena sedang bersedih mengenai sesuatu. "Saya tidak akan keluar rumah hingga kesedihan saya berlalu." demikian kata Nadia.

Jika tidak mendengarnya sendiri, niscaya saya tidak percaya ada orang gemar mengurung diri berlama-lama, larut dalam kesedihan. Jika Anda tidak termasuk yang bertabiat seperti itu, Anda beruntung, maka bersyukurlah. Tapi juga jangan mengejek mereka karena kejelekan tabiatnya. Sesungguhnya mereka lemah, perlu dibantu dengan belas kasih, bukannya malah diejek.

Saya berkata pada Nadia,"Kesedihanmu tidak kunjung pergi, karena kamu menggenggam erat-erat kesedihan itu di dalam kamarmu. Jangan begitu, biarkanlah kesedihanmu pergi mengikuti jalannya sendiri."

"Jadi, yang saya lakukan ini salah ?" tanya Nadia.

"Salah", jawab saya.

" jadi, apa yang harus saya lakukan ?" tanya Nadia.

"Keluarlah dari kamarmu dan bekerjalah ! Move on ! Dengan begitu kesedihanmu akan cepat berlalu." saya memberi saran.

"Bagaimanakah kiranya saya akan bekerja dalam keadaan hati terluka ?" tanya Nadia.

"Bekerja itulah yang akan mengobati luka hatimu. Bagaimana luka hatimu akan sembuh, bila kamu diam saja di kamarmu dan tidak mencari obat ?" saya balik tanya.

"Jadi, dengan bekerja kesedihan saya akan lenyap ?" tanya Nadia, menjawab pertanyaan saya dengan pertanyaan lagi.

"Benar." jawab saya.

"Rasanya, kalau sedang sedih saya enggan melakukan apapun, pengen diam, pengen merenung, pengen melamun, pengen nangis aja dalam kamar, kang." keluh Nadia.

Saya menanggapi,"Karena kamu ingin menikmati kesedihanmu, terus berusaha menikmati kesedihanmu, namun gagal dan selalu gagal, sehingga membuat keadaanmu larut dalam kesedihan. Kamu sepeti mengejar bayang-bayang atau menolak datangnya malam. Sementara, siang dan malam datang dan pergi silih berganti, tak ada yang bisa menghalangi. Biarkan malam menjelang, sambutlah pagi esok hari dengan penuh keceriaan. Malam tidak perlu ditentang, siang tak perlu diundang. Biarkan bumi ini berputar mengikuti hukumnya. Tidak perlu ditunggui, sementara siang dan malam silih berganti, kamu bekerjalah ! Jika kamu diam,
Kesedihanmu bertambah panjang. karena semakin banyak pekerjaan yang kamu lalaikan, membuat kamu kecewa terhadap dirimu sendiri, dan tambah menggelisahkan.  Cobalah kamu mulai bekerja ! kerjakan apa yang mesti dikerjakan, walaupun dengan hati terluka dan linangan air mata. Dengan cara begitu, kamu berjalan menuju kebahagiaan."

2
Komentari Gambar / Gerombolan Harimau
« pada: Juni 21, 2018, 07:52:29 AM »

3
Teori Umum / Daya Paksa Argumen
« pada: Juni 21, 2018, 07:19:00 AM »
Kita menggunakan argumentum ad judiciam maupun argumentum ad verecundiam, kita tidak dapat memaksa orang lain untuk menerima pendapat kita.  Tetapi, argumen itu sendiri memiliki daya paksa, sehingga jika tidak dengan sukarela, maka orang akan dipaksa oleh kekuatan argumen itu sendiri untuk menerimanya sebagai kebenaran. Dengan demikian, tidak perlu dan jangan memaksa orang lain menerima pendapat kita, karena itu tidak berguna. Jika harus dipaksa, maka biarkan kekuatan argumen itu sendiri yang memaksanya.

Semua orang , cepat atau lambat akan tunduk pada kebenaran, apakah dengan sukarela atau terpaksa. Karena kebenaran itu memiliki kekuatan untuk memaksa. Misalnya, argumentum ad judiciam yang kebenarannya bersifat mutlak, pastilah membuat orang mengakui dan menerima kebenarannya, entah secara terpaksa atau rela hati. Karena dia tidak dapat menemukan celah untuk menyangkal. Problemnya, kita tidak selalu mampu membantu orang lain untuk mengerti sesuatu sebagai argumentum ad judiciam. Jika kita selalu mampu menunjukan setiap pendapat kita sebagai ad judiciam, niscaya pendapat kita akan selalu diterima dan diakui orang lain, tak perduli apakah dia menerimanya secara terpaksa atau sukarela. Kita tidak memaksa, tidak harus memaksa, bahkan tidak boleh memaksa. Tetapi kekuatan argumen tidak dapat dihadang, tidak bisa ditolak oleh siapapun yang berakal sehat.

Jika pendapat kita merupakan argumentum ad judiciam, namun ditolak oleh orang lain sebagai kebenaran, maka itu artinya orang tersebut bodoh, gila, kafir atau berarti kita bodoh, karena tidak mampu menunjukan pendapat kita sebagai ad judiciam. Dengan kata lain, jika pendapat kita tadi ditolak orang lain, maka dia bodoh atau kita bodoh. Jika pendapat kita benar, sementara kita tidak bodoh dan dia juga tidak bodoh, maka pastilah akan muncul daya paksa dari argumen, yang akan memaksa dia menerima dan mengakui kebenaran pendapat kita.

Seperti setiap api memiliki daya bakar. Akan tetapi, api tidak membakar, apabila kita tidak menyalakannya. Persoalan apinya kecil dan mutu bahan bakarnya jelek sehingga tidak terbakar, bukanlah suatu bukti bahwa api tidak memiliki daya bakar. Demikian pula Setiap argumen yang benar , pastilah memiliki daya paksa. Jika kebenaran itu ditolak atau diingkari, tidaklah menunjukan bahwa argumen tidak memiliki daya paksa.

Walaupun setiap argumen memiliki daya paksa, namun setiap orang juga memiliki daya tolak, sebagai konsekuensi dari kehendak bebas. Dia dapat dipaksa oleh suatu kekuatan argumen untuk menerima dan mengakui suatu kebenaran, namun tidak ada yang dapat mengubah keyakinannya, kecuali keputusannya sendiri. Oleh karena itu, argumen sekuat apapun hanya akan dapat berakhir pada perubahan suatu keyakinan, jika orang telah memutuskan untuk berubah. Keputusan adalah otoritas masing-masing orang. Namun tidak ada orang yang memutuskan untuk mengingkari kebenaran, kecuali karena kekafiran.

Argumen yang memiliki daya paksa itu, bukan saja argumentum ad judiciam, melainkan juga aegumentum ad verecundiam, ad hominem maupun ad ignoratium, walaupun kadar kekuatan daya paksa masing-masing argumen tersebut berbeda. Seperti hal nya api, terdapat perbedaan daya bakar antara api lilin, api kompor, dan api matahari, seperti itu pula perbedaan daya paksa masing-masing jenis argumen. Argumentum ad judiciam menempati posisi pertama, sebagai argumen yang memiliki daya paksa paling kuat.

Walaupin daya paksa argumentum ad judiciam paling kuat, sepeti paling kuatnya api matahari di antara api-api lainnya, akan tetapi saya tidak pernah terbakar oleh api matahari, justru api lilin pernah membakar jari telunjuk saya. Demikian pula, walaupun argumentum ad judiciam adalah argumentasi yang paling kuat, namun bila seseorang setiap harinya dijejali dengan hoax, maka hoax itulah itulah yang akan memaksa dia menerima dan mengakuinya sebagai kebenaran.

Dengan demikian, tidak perlu marah atau kesal saat argumen kita ditolak orang lain, apalagi memaksa orang lain mengakui kebenarannya. Yang penting, sampaikan saja argumen yang harus kitasampaikan. Besar atau kecil, kuat atau lemah, cepat atau lambat, bila argumen kita benar, maka akan memaksanya mengakui dan menerima kebenaran itu. Dan tentunya kekuatan daya paksa argumentum dapat mengalahkan daya paksa argumentum ad verecundiam.

4
Politik / Menjalin Dialog dengan Israel
« pada: Juni 19, 2018, 05:49:22 PM »
"dalam menyelesaikan konflik antar negara, kita harus mengedepankan dialog" apa prinsip ini benar ?

Tapi survei saya di twitter menunjukan, kebanyakan orang berpendapat bahwa menjalin dialog dengan Israel bukanlah tindakan yang benar.


Jika itu pendapatnya, berarti konsekuensinya, semestinya negara menutup semua hubungan diplomatik dengan Israel. Benar ?

5
Humor Tak Bohong / Re:Sibuk Chat
« pada: Juni 19, 2018, 09:47:13 AM »
he..he..

6
Proposisi / Kontradiksi Keyakinan
« pada: Juni 19, 2018, 09:31:25 AM »
Kontradiksi Keyakinan
Edisi : 19 Juni 2018, 09:30:44

Setiap keyakinan pasti memiliki kontradiksinya. Karena itu, jika suatu keyakinan benar, maka pasti keyakinan yang berlawanan dengannya salah. Pemahaman akan prinsip ini penting, agar kita tidak menganut konsep yang absurd, yang membenarkan semua keyakinan walaupun satu sama lain saling bertentangan.

Contoh 1 :
Saat saya diduga menderita penyakit jantung, saya membaca diinternet bahwa konsumsi obat jantung tidak boleh bersamaan dengan konsumsi buah pisang. Tapi saya ragu dengan kebenaran informasi tersebut, lalu saya bertanya kepada dokter, "dok bolehkah saya makan pisang ?"

Dokter tersenyum, "Ya boleh kalau suka. Emang kenapa ?"

"Soalnya saya baca diinternet, obat jantung tidak boleh dikonsumsi barengan pisang, dok. Apa benar ?" tanya saya.

"Ah.. Enggak.... Selama saya kuliah kedokteran, gak pernah saya diajarin kayak gitu. Makan aja kalau mau."

Disini terdapat kontradiksi :
A) Setiap obat jantung boleh dikonsumsi bareng pisang
I) Sebagian obat jantung tidak boleh dikonsumsi barang pisang

Mustahil dua-duanya benar. Tapi saya tidak dapat melakukan penelitian ilmiah sendiri untuk membuktikan kebenarannya. Karena itu, saya memilh untuk percaya saja bahwa apa yang dikatakan dokter itu benar. Karena tidak ada yang lebih layak untuk dipercayai tentang informasi sesuatu, kecuali pihak yang dianggap ahli di bidangnya. Dengan meyakini bahwa pernyataan dokter tersebut benar, maka tentu saya harus meyakini bahwa informasi yang saya dapati diinternet keliru.

Namun, .. Pengalaman berkata lain. Setiap kali saya makan pisang, terjadi gejala yang mengkhawatirkan pada diri saya. Ada sensasi yang tak menyenangkan, bergerak dari tubuh menuju ke arah kepala,  membuat seolah-olah pembuluh darah saya hendak pecah, dan hampir pingsan. Hal itu memang sering terjadi sebelumnya. Namun saya tidak pernah sadar bahwa itu efek dari makan pisang. Tapi setelah mendapati informasi dari internet itu, saya jadi memperhatikan "apa yang terjadi" setelah makan pisang. Dan gejala yang sama memang selalu terjadi setiap kali saya makan pisang, sehingga menyimpulkan bahwa gejala tersebut terjadi disebabkan oleh kombinasi obat jantung dengan pisang. Lalu saya memutuskan untuk berhenti makan pisang. Dan gejala aneh itu tidak lagi terjadi.

Apa nama gejala yang muncul ? Saya tidak tahu. Sebut saja gejala Y. Di mana gejala Y selalu terjadi, ketika gejala X terjadi. Sementara Y tidak pernah ditemukan lagi, sejak X tidak terjadi. Di mana X adalah mengkonsumsi obat jantung dengan pisang. Dengan demikian, berlandas kepada prinsip kausalitas ilmiah, maka dapat disimpulkan bahwa X merupakan sebab bagi Y.  Dengan demikian, keyakinan saya berubah, yakni yang benar adalah informasi yang saya peroleh dari internet. Dengan meyakini kebenaran proposisi I, maka tidak mungkin lagi membenarkan propsisi A.

Secara sederhana, sebenarnya saya telah melakukan penelitian kecil bidang ilmiah . Akan tetapi, sebuah hasil penelitian ilmiah yang besar saja, boleh untuk diragukan serta diuji kembali kebenarannya, maka apalagi sekedar penelitian kecil yang berdasar kepada observasi dan eksperimen kecil. Bisa saja ada orang lain yang melaporkan "saya makan obat jantung, dan saya juga makan pisang, tapi saya baik-baik saja." Perlu riset lebih besar untuk mengetahui kebenaran lebih lanjut, mengingat obat jantung itu juga bermacam-macam. Tidak mustahil satu jenis obat jantung bukanlah masalah untuk dikonsumsi bersama pisang, tapi yang lainnya dapat menimbulkan masalah. Dengan demikian, apabila diantara pembaca ada yang merupakan pasien penyakit jantung, maka tidak perlu untuk begitu saja mempercayai apa yang saya laporkan, tapi lihat, rasakan, amati dan lakukan eksperimen sendiri. Pengalaman adalah guru terbaik bagi Anda. Dan pengalaman Anda akan lebih meyakinkan Anda dari pada apa yang dikatakan saya atau dokter Anda.


Contoh 2 :

Lihat tulisan saya berjudul "Bukan Berarti Tak Salah", yang menjelaskan dua ijtihad yang bertentangan. Namun pihak-pihak tertentu membenarkan keduanya dengan alasan "satu ijtihad tidak dapat membatalkan ijtihad lainnya", dengan demikian hukum kontradiksi menjadi lumpuh, di mana orang dapat bertentangan keyakinan satu sama lain, namun semuanya benar. Kontradiksi dalam kasus tersebut adalah :

A) para Sahabat harus shalat sebelum sampai di Bani Quraidzah
E) para Sahabat tidak harus shalat sebelum sampai di Bani Quraidzah

atau

A) para Sahabat boleh shalat sebelum sampai di Bani Quraidzah
E) para Sahabat tidak boleh shalat sebelum sampai di Bani Quraidzah

Mustahil keduanya benar. Jika A benar, maka E pasti salah dan sebaliknya. Keyakinan yang bertentangan mustahil sama-sama haq, pastilah salah satunya batil, karenanya mesti batal.  Soal nabi saw tidak menegur atau tidak menyalahkan, bukan berarti tak salah, tapi bisa karena dimaafkan.

Contoh 3 :
Rustam pergi ke desa Palintang. Saat waktu shalat dhuhur tiba, dia hendak shalat, namun tidak mengetahui ke mana arah kiblat. Akhirnya Rustam berijtihad shalat dengan menghadap ke arah selatan, yang di kiranya kiblat. Namun pada saat ashar tiba, seseorang memberitahu arah kiblat yang benar. Rustam menyadari bahwa sebelumnya dia shalat ke arah kiblat yang salah.  Dengan demikian kontradiksinya :

A) Arah kiblat shalat dhuhur Rustam adalah benar
E) Arah kibat shalat dhuhur Rustam tidaklah benar

Tidaklah mungkin proposisi A dan E, duanya-duanya sama benar. Jika mengakui keduanya benar, itulah yang dimaksud keyakinan yang absurd.

Tapi, apakah shalat dhuhur Rustam sah ? Shalatnya sah. Apakah shalat dhuhurnya batil ? Ya gak batil. Tapi bila setelah diberitahu arah kiblat yang benar, Rustam masih shalat ke arah kiblat yang salah, maka shalatnya tidak sah, yang dia lakukan itu batil.  Perlu diperhatikan bahwa kontradiksi dua keyakinan di atas, bukanlah soal "sah atau tidak sahnya shalat dhuhur Rustam", tapi soal "benar atau tidaknya arah kiblat shalat Dhuhur Rustam".  Salah memang belumlah tentu tidak sah, apalagi batil. Tapi "jika tahu salah, dan masih melakukannya, maka itulah yang menjadikannya tidak sah dan batil".

Kontradiksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

A) Shalat harus menghadap Ka`bah
E) Shalat tidak harus menghadap Ka`bah

mana yang benar ? Jika Anda membenarkan A, maka mesti menyalahkan E. Akan tetapi, kacamata logika tidak sedangkal itu dalam menafsirkan kontradiksi, karena sebagaimana di dalam materi berjudul "Delapan Wahdah" disebutkan, apabila terjadi perbedaan syart, maka tidak dapat disebut kontradiksi. Misalnya, "Jika mengetahui arah Ka`bah, maka shalat harus menghadap Ka`bah". Dengan demikian, dua proposisi berikut tidaklah kontradiksi :

1) jika Rustam mengetahui arah Ka`bah, maka Rsutam harus shalat  menghadap Ka`bah
2) Rustam tidak mengetahui arah Ka`bah dan Rustam tidak harus shalat menghadap Ka`bah

Karena ada syart "mengetahui", maka shalatnya Rustam mengahadap ke arah lain selain Ka`bah tidaklah menjadikannya salah, batil maupun kontradiksi. Karena itu, suatu ijihad yang salah, setelah diketahui bahwa itu salah, maka wajib ditinggalkan, diganti dengan ijihad baru yang benar.

Prinsip lain yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah, "sesuatu yang salah tetap salah, walaupun hal itu belum diketahui salah". Akan tetapi, "orang mengetahui salahnya sesuatu, namun masih juga melakukannya, maka dia memiliki dua kesalahan, yaitu salah dari perbuatan itu sendiri dan kesalahan dari keingkaran akal terhadap kebenaran."

Seorang perempuan pernah berkata pada saya, "Saya sering mendengar ustadz, bahwa shalat itu wajib bagi yang mengetahui. Bila seseorang tidak tahu wajibnya shalat, maka dia tidak berdosa walaupun tidak shalat. Jadi tolong, kamu jangan mengajarkan agama pada saya, agar saya tidak berdosa. Jika saya tidak tahu, maka saya tidak akan berdosa, walaupun saya tidak melakukan ibadah apapun. Kalau kamu makin banyak ngomong agama, maka saya semakin repot,harus begini dan begitu, dan jadi berdosa bila tidak mengerjakannya."

Mendengar ucapan seperti itu saya tertawa. Saya bilang, "Kamu tahu atau tidak tahu wajibnya shalat, kamu berdosa bila tidak shalat. Seperti orang mencuri harta orang lain, apakah dia tahu bahwa itu salah atau tidak, tetap saja bersalah, tahu itu dosa atau tidak, tetap saja berdosa. Seperti juga kamu akan mendapat banyak manfaat dari shalat, apabila kamu mengerjakan shalat, tak perduli kamu mengetahui manfaat-manfaat itu ataukah tidak. Kamu akan mendapat manfaat dari puasa, tak perduli apakah kamu mengetahuinya atau tidak. Jika kamu tidak shalat atau tidak puasa, maka kamu akan mengalami kerugian, tak perduli kamu tahu atau tidak apa saja kerugiannya. Dengan demikian, ketidaktahuannmu tidak membebaskanmu dari salah dan dosa. Hanya saja, bila kamu tahu, tapi kamu tidak mengerjakannya, maka dosa dan kesalahanmu bertambah akibat mengingkari akal mu sendiri. Karena itu, janganlah menolak untuk diajari agama, justru semestinya kamu harus giat belajar agama sebagai jalan keselamatan dan kebahagiaan mu di dunia dan akhirat."

Contoh 4 :

Ketika tasyahud dalam shalat, ada orang yang suka menggerak-gerakan jari telunjuknya, dan ada pula yang tidak menggerakannya, sehingga  kontradiksinya adalah :

A) jari telunjuk harus digerak-gerak saat tasyahud
E) jari telunjuk tidak harus digerak-gerak saat tasyahud

Mungkin tidak kedua keyakinan tersebut benar ? Tidak mungkin.

Namun ternyata ada seorang imam berijtihad bahwa "menggerakan telunjuk" atau "tidak menggerakan telunjuk" pada saat tasyahud, keduanya boleh.  Dengan demikian, apakah berarti kedua keyakinan di atas sama-sama benar ? Tidak demikian. Jika keduanya boleh, berarti yang benar itu adalah proposisi (E), bukan (A).  Dengan demikian hukum kontradiksi tetap bekerja, tidak lumpuh walaupun pada sesuatu yang disebut dengan "khilafiyah".

Untuk menjaga kerukunan antara umat beragama, dan antar umat seagama yang beda mazhab, tentu satu sama lain tidak boleh untuk saling menyalahkan. Jangankan dengan seagama beda mazhab, yang beda agama sekalipun kita tidak boleh saling menyalahkan dalam arti berbantah-bantahan. Saya menghormati teman-teman saya, walaupun dia memiliki keyakinan yang kontradiksi dengan saya. Dia meyakini bahwa Allah itu banyak. Sedangkan saya meyakini bahwa Allah itu esa. Jika saya yakin Allah itu esa, maka saya tidak dapat membenarkan keyakinan yang menyatakan banyak Allah. Jelas, keyakinan seperti itu harus saya nyatakan salah. Tapi menyalahkan itu maksudnya, sekedar menilai salah keyakinan orang lain tanpa disertai dengan argumentasi logis dan cara yang baik. Demikian pula, Anda tidak perlu khawatir untuk menilai salah keyakinan yang kontradiktif dengan keyakinan Anda. Karena memang semestinya begitu. Yang tidak boleh itu adalah menyalahkan dan mencari-cari kesalahan orang lain dengan cara yang tidak bijaksana, sehingga menimbulkan perselisihan.

Contoh 5 :
Lihat tulisan saya berjudul : "Perdebatan Mengharukan antara Abu Bakar dengan Fatimah". Dalam kasus ini diungkapkan pertentangan pendapat antara Abu Bakar Shidiq r.a dengan Sayyidah Fatimah r.a tentang Tanah Fadaq. Walaupun kontradiksi, namun ada pihak yang tidak mau menyalahkan salah satunya. Menurut mereka, "Abu Bakar benar, karena beliau adalah sahabat nabi saw yang mulia dan dijamin masuk sorga. Fatimah pun benar, karena beliau adalah putri kesayangan nabi saw." orang-orang ini khawatir berdosa, apabila menyatakan pendapat Fatimah atau Abu Bakar sebagai pendapat yang salah. Padahal imam Ali memberi nasihat, “wahai Harits! Cara berpikirmu itu terbalik, bila engkau melihat sahabat secara lahiriahnya, maka engkau bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Ketahuilah, bahwa kebenaran dan kebatilan itu tidak dapat dikenali dengan kepribadian orang, kenalilah kebenaran itu sendiri, sehingga engkau dapat mengenali juga orang-orangnya. Dan kenali juga kebatilan sehingga engkau dapat mengenali orang-orangnya.”

Kriteria benar-salah bukan karena dia sahabat atau putri nabi, tapi karena sesuai dengan parameternya. Karena itu, jika seseorang meyakini pendapat Sayyidah Fatimah benar, mestilah meyakini bahwa pendapat Abu Bakar salah. Dan sebaliknya. Tidak dapat mengklaim kedua-keduanya benar, kecuali karena gila atau bodoh atau adanya "Pelebur Kontradiksi", yaitu argumen yang menjelaskan bahwa bentuk-bentuk kontradiksi tersebut sejatinya tidak kontradiksi karena tidak terpenuhinya "Delapan Kesatuan Arti". Tanpa adanya Pelebur Kontradiksi, maka sama sekali tidak ada alasan untuk membenarkan dua keyakinan yang kontradiksi.

7
Pelajaran Bahasa / Menyederhanakan Formula
« pada: Juni 19, 2018, 06:35:25 AM »
Dalam menulis karangan ilmiah, tidak semua istilah perlu didefinisikan. Istilah-istilah mana saja yang perlu didefinisikan, berikut formulanya.

Kutip : [1]
--------------------
1. Kata-kata dikenal untuk benda-benda yang dikenal, contoh : Mobil, kereta api, gunung, sungai, padi, pisang ambon, minyak kelapa, dan sebagainya.
2. Kata-kata dikenal untuk benda-benda yang tidak dikenal, seperti : bom atom, robot, komputer, dan sebagainya.
3. Kata-kata tak dikenal untuk benda-benda yang dikenal, contoh : pangkur, pawaka, dukan, candrasa, serdawa, bromocorah dan sebagainya.
4. Kata-kata tak dikenal untuk benda-benda tak dikenal. Contoh : amil asetat, hirdrosol, pirometer, dan sebagainya.

Jika anda menggunaakn kata-kata yang termasuk kategori (3) dan terutama (4), maka harulsh disertakan penjelasan sebagai definisi.
==================

Formula di atas dapat disederhanakan dengan definisi berikut :

"Jika menggunakan istilah yang tidak dikenal, maka definisikan".

Persoalannya, wawasan masing-masing pembaca tentang istilah-istilah tidaklah sama. Istilah yang dikenal oleh seseorang, belum tentu dikenal oleh yang lainnya. Karena itu, untuk memudahkan kita memilah istilah-istilah kepada "dikenal" dan "tidak dikenal" adalah dengan menentukan target pembaca. Misalnya, istilah-isilah seperti term, syllogisme, premis, konklusi, dsb, itu termasuk kepada istilah-istilah tak dikenal, bila target pembacanya adalah pemula dalam bidang ilmu logika. Tapi bila targetnya pembacanya adalah anggota kelas IV Logika atau member lama Grup Logika Filsafat, maka istilah-istilah tadi termasuk pada kategori "telah dikenal".  Apabila target pembacanya adalah masyarakat umum seperti halnya koran, maka di sini yang dijadikan kriteria untuk memilih istilah "dikenal" dan "tak dikenal" tentu "wawasan masyarakat pada umumnya".

___________
1) Mukayat D. Brotowijoyo, "Penulisan Karangan Ilmiah", Hal. 60

8
Kupas Logika / Kontradiksi Karena Perbedaan Klasifikasi
« pada: Juni 18, 2018, 08:34:25 AM »
Terhadap kelompok orang yang melakukan serangan terhadap TNI - POLRI di Papua, ada yang mengelompokannya ke dalam TERORIS dan ada juga yang mengelompokannya kepada BUKAN TERORIS. Hidayat Nurwahid mengelompokannya kepada teroris[1]. Sedangkan pemerintah atau media menyebutnya "Kelompok Kirminal Bersenjata" (KKB), serta tidak memasukannya ke dalam kelompok Teroris. Perbedaan klasifikasi ini, berarti kontradiksi :

A) KKB adalah Teroris
E) KKB bukanlah Teroris

Mana yang benar ?

Sah-sah saja orang membuat klafisikasi yang berbeda, selama definisinya berbeda. Definisi yang sama, mestilah klasifikasinya sama.Dan kita sebagai bangsa Indonesia, tentu harus mengklasifikasikan teroris atau bukan teroris menurut definisi yang ditetapkan oleh undang-undang yang sah. Jika menggunakan definisi yang sama, tapi bentuk proposisinya bertentangan, maka itu sah sebagai kontradiksi, di mana mustahil dua-duanya bernilai benar.  Karena itu, mari kita selidiki, mana yang klasifikasi yang benar dan mana yang keliru.

Direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC) Robi Sugara, KKB tidak dapat dikelompokan ke dalam terorisme karena dilihat dari dampak dan sasarannya. Jika KKB melakukan aksi teror di wilayah lainnya selain papua serta menyamaratakan aparat, maka barulah disebut terorisme[2].

Jika demikian, apa dong definisi teroris dan terorisme ?

Menurut Hidayat Nurwahid, berdasarkan UU terorisme yang baru saja disahkan, semestinya KKB ini masuk ke dalam kelompok terorisme. Lalu bagiamana definisi terorisme menurut UU yang baru saja disahkan tersebut ? Berikut definisinya :

"Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan," bunyi definisi itu sebagaimana dibacakan oleh Muhammad Syafi`i[3].

Dengan demikian pendapat Hidayat Nurwahid benar,  KKB papua adalah teroris. Di dalam definsisi tersebut, tidak ditemukan syarat "melakukan aksi teror di wilayah lain" dan "menyamaratakan aparat" seperti yang dikatakan oleh Robi Sugara. Jika tidak ingin mengelompok KKB ke dalam terorisme, berarti undang-undangnya harus direvisi.

_________
1) 2) http://news.akurat.co/id-84351-read-mengapa-kelompok-bersenjata-di-papua-tak-disebut-teroris
3) Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul UU Antiterorisme Disahkan, Akhirnya Begini Definisi Terorisme yang Disepakati, http://jateng.tribunnews.com/2018/05/25/uu-antiterorisme-disahkan-akhirnya-begini-definisi-terorisme-yang-disepakati. Editor: iswidodo

9
Politik / Chat Porno
« pada: Juni 18, 2018, 07:53:55 AM »
Chat Porno
(Mencoba Menyelami Struktur Berpikir Polisi)
Edisi : 18 Juni 2018, 07:49:48

"Ada permintaan resmi dari pengacara untuk di-SP3, lewat surat. Setelah itu dilakukan gelar perkara. Maka kasus tersebut dihentikan karena menurut penyidik kasus tersebut belum ditemukan peng-uploadnya," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal kepada detikcom, Sabtu (16/6/2018)[1].

Pertanyaannya, jika memang ditemukannya pengupload merupakan syarat sah untuk mengkasuskan chat porno HRS, maka mengapa HRS harus dijadikan tersangka sebelum ditemukannya pengupload tsb ?

Rizieq sendiri ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan chat porno pada Mei 2017. Polisi menetapkan Firza Husein sebagai tersangka kasus yang sama pada 15 Mei 2017. Keduanya menjadi tersangka setelah chat antara diduga Rizieq dan Firza tersebar melalui situs baladacintarizieq.com. Keduanya membantah tuduhan skandal tersebut[2].

Saya jadi bertanya, ini struktur berpikir polisi itu bagaimana ? Untuk mengetahui jawaban pertanyaan tersebut, saya butuh jawaban atas pertanyaan tentang kontradiks-kontradiksi berikut :

Kontradiksi pertama :

A) Penetapan HRS sebagi tersangka adalah sah
E) Penetapan HRS sebagai tersangka tidaklah sah

Mana yang benar ?

Jika E benar, sedangkan polisi telah menetapkan HRS sebagai tersangka, berarti polisi telah bersalah. Jika E benar, padahal penguploadnya tidak ditemukan, maka "tidak ditemukannya pengupload" tidak dapat dijadikan alasan penghentian kasus chat porno tsb. Logika ini benar, bukan ?

Kontradiksi kedua :

1) Jika ditemukan penguploadnya, maka penetapan HRS sebagai tersangka adalah sah
2) ditemukan penguploadnya, tapi penetapan HRS sebagai tersangka tidaklah sah

mana yang benar ?

Kontradiksi ketiga :

1) Jika tidak ditemukan penguploadnya, maka penetapan HRS sebagai tersangka tidaklah sah
2) tidak ditemukan penguploadnya, tapi penetapan HRS sebagai tersangka adalah sah

Mana yang benar ?

Adakah yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ? Belum ada. Jawaban yang saya temukan malah seperti berikut : "tanya aja ke google, gratis kok". Sudah saya tanyakan. Faktanya, google tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tersebut. Bisakah Anda bantu saya menjawab pertanyaan tersebut ? Apakah google dapat membantu Anda menjawab pertanyaan tersebut ? Silahkan dicoba !
__________
1) https://news.detik.com/berita/4070949/ini-alasan-polisi-hentikan-kasus-chat-porno-habib-rizieq
2) https://news.detik.com/berita/4070949/ini-alasan-polisi-hentikan-kasus-chat-porno-habib-rizieq

10
Kupas Logika / Disoraki
« pada: Juni 17, 2018, 09:12:51 AM »
Ini adalah satu contoh lagi tentang anlisis logika ...

Saat mendengar kabar bahwa Djarot disoraki, Anies berkomentar, "Kalau kita menghormati, pasti kita dihormati juga.[1]" Kalimat ini menimbulkan asumsi bahwa Anies menganggap tindakan warga yang menyoraki Djarot merupakan sikap tak hormat warga pada Djarot sebagai akibat dari sikap tak hormat Djarot pada warga. Apakah asumsi ini benar ?

Pada kesempatan lain, Anies Baswedan juga disoraki oleh warga, seperti yang terjadi di Istana Bogor[2]. Anies tidak mempermasalahkan hal itu, dan menganggapnya sebagai hal biasa saja[3]. Tapi apakah Anies tidak berpikir bahwa sorakan tersebut merupakan "sikap tak hormat warga sebagai akibat sikap tak hormat dia pada warga", sebagaimana rule yang dia terapkan pada kasus Djarot ?

Jika menghormati, maka pasti dihormati. Dengan demikian, jika warga tidak menghormati seorang pejabat, berarti pasti pejabat tersebut tidak menghormati warganya. Dan jika warga  meyoraki pejabat, berarti warga tidak bersikap hormat pada pejabat tersebut.  Dan ternyata warga menyoraki Anies yang merupakan pejabat. Dengan demikian berarti Anies tidak menghormati warga. Atau warga tidak menghormati pejabat.  Apakah argumen ini valid ?


Mari kita ubah konsep tersebut ke dalam bentuk ekspresi logika :

Variabel :

A = pejabat menghormati warga
B = warga menghormati pejabat
C = Warga menyorki pejabat

Argumen :

(A→B)∧(¬B→¬A)∧(C→¬A) ∧ (C) ⊨ B  ∨  ¬A


Mari uji validitas argumentasinya dengan tablo :



Argumentasi terbukti valid.  Pertanyaan, siapa yang mengakui bahwa sorakan warga itu merupakan "sikap tak hormat warga akibat sikap tak hormat pejabat" ? Jika ada yang tidak mengakuinya, berarti dia memiliki argumen lain. Nah.. Itu yang saya ketahui, apa argumen lainnya itu ?

Hidayar Nurwahid menafsirkan sorakan warga itu sebagai sikap tak adil dari Istana. "Ketika Pak Jokowi dikasih kartu kuning kan langsung diambil (diamankan) tuh. Ini kenapa (Anies dan Sandiaga disoraki warga) dibiarkan. Padahal itu juga jelas sangat mencederai Istana," kata Hidayat saat menggelar acara open house di rumah dinasnya, Kemang, Jakarta Selatan[4].

Sama seperti para logicer, Hidayat mencoba mengungkap kontradiksi untuk untuk menunjukan ketidakonsistenan. Semua orang menggunakan kontradiksi sebagai alat untuk mengkritik. Namun bagaimanakah kebenaran kontradiksi tersebut dibuktikan dengan metodologi yang benar ? Bagaimana metoda yang harus dilakukan agar hasil uji validtas argumen tidak dapat lagi dibantah ?

Dengan tablo semantik, Anda dapat mencoba mengalisis konsep serta menguji argumentasi pada kontradiksi-kontradiksi yang diungkap oleh para politisi seperti yang diungkapkan oleh Hidayat Nurwahid. Namun sebelum melangkah kepada kasus kontradiksi-kontradiksi lainnya, catat dulu kontradiksi-kontradiksi berikut :

Kontradiksi Pertama :

A) sorakan warga menunjukan sikap tak hormat warga
I) sorakan warga tidak menunjukan sikap tak hormat warga

Kontradiksi Kedua :

A) sikap tak hormat warga menunjukan sikap tak hormat pejabat
I) sikap tak hormat warga tidak menunjukan sikap tak hormat pejabat

Anda harus menegaskan, diantara kontradiksi-kontradiksi tersebut, mana yang Anda yakini benar. Karena dua keyakinan yang kontradiksi, mustahil sama-sama benar. Penegasan keyakinan-keyakinan ini, akan menjadi dasar untuk melakukan analisis logika selanjutnya.

Metoda ini tidak membawa kita untuk mudah memvonis orang lain, melainkan membawa kita untuk tabayun, berusaha untuk mengerti orang lain, memperjelas konsep, menegaskan keyakinan, serta membuat keyakinan kita bergerak dalam alur pemikiran yang pasti, serta dapat menilai , siapa diantara politisi kita yang konsisten dalam perkataannya dan siapa yang tak konsisten, dengan suatu penilaian yang dapat dibuktikan dengan metoda logika, bukan dengan penilaian yang bersifat subjektif. Semua orang juga bisa menuduh orang lain inkonsisten. Tapi tidak semua orang dapat membuktikan tuduhannya dengan baik.
________
1) 2) http://www.tribunnews.com/nasional/2018/06/16/anies-disoraki-orang-berseragam-suryo-prabowo-seperti-itu-kelakuan-tamu-yang-ngaku-pancasilais
3) https://nasional.inilah.com/read/detail/2462585/disoraki-warga-anies-buat-saya-biasa-saja
4) https://www.suara.com/news/2018/06/16/145705/anies-disoraki-warga-pks-sayangkan-sikap-istana

11
Komentari Gambar / Rumah Antik
« pada: Juni 17, 2018, 07:02:21 AM »

12
Diskusi Umum / Re:Menangkal Faham Radikal
« pada: Juni 15, 2018, 12:21:46 AM »
itu melaksanakan apa memaksakan? sengaja ya?

memaksakan.

13
Proposisi / Mengidentifikasi Kontradiksi
« pada: Juni 15, 2018, 12:15:18 AM »
Semboyan yang sering saya ulang-ulang dalam kajian-kajian Logika adalah "Logika Bekerja mulai dari kontradiksi-kontradiksi".  Oleh karena itu, mengidentifikasi kontradiksi merupakan langkah yang paling awal dalam melakukan analisis logis. Karena pertama, setiap keyakinan itu memiliki kontradiksinya. Kedua, perdebatan yang benar mesti berdasrakan kepada suatu kontradiksi.

Terkadang saya menemukan suatu perdebatan, tapi tidak mengetahui kontradiksi yang menjadi dasar perdebatan itu. Bagi pihak yang sedang berdebat itu sendiri, tentu saja sudahsemestinya tahu sejak awal. Tapi saya, ibarang orang yang sedang berjalan melewati orang yang sedang berdebat ketika perdebatan sudah berjalan cukup lama, maka di situ saya perlu suatu metoda untuk mengetahui pokok yang menjadi dasar perdebatan dari mereka, apabila saya tertarik untuk menyimak dan mengetahui dalam perdebatan tersebut, siapakah yang argumentasinya valid.

Contoh perdebatan antara Rocky Gerung dengan Teddy Gusnaidi.

Debat [1]
--------------
Rocky :  Benar harus benar. Tak boleh ada keraguan. Tidak boleh ada kecuali.
Tedy : Anda malah ragu, bahkan tidak bernyali ketika diminta patahkah argumen hukum saya. Begitu cara menyusun argumen hukum. Bahkan sejak dari judul.
===========

Dari dialog tersebut, dapatkah Anda temukan, dapat ditarik beberapa proposisi :

1) Nilai kebenaran suatu pendapat itu  boleh ada kecuali
2) Anda ragu
3) Anda tidak bernyali
4) cara menyusun argumen

Setiap proposisi di atas, pasti memiliki kontradiksinya. Namun, kontradiksi mana yang menjadi pokok perdebatan antara Tedy dengan Recky ? Apakah mereka berdua berdebat tentang "Cara Menyusun Argumen". Saya dapat menggunakan asumsi bahwa pokok perdebatan mereka bukan tentang "cara menyusun argumen". Dan dari empat proposisi di atas, tidak ada yang merupakan pokok dari perdebatan. Untuk dapat melakukan analisis logika, maka saya terlebih dahulu harus menemukan, kontradiksi yang merupakan pokok perdebatan mereka. Karena itu, kemudia saya menelusuri kembali dialog mereka. Kemudian saya menemukan tuduhah Teddy yang ditujukan pada Rocky, tercantum dalam judul tulisan Teddy, "ROCKY GERUNG CS, SELAIN TIDAK PUNYA LEGAL STANDING, MEREKA JUGA TIDAK BERHAK MENGKLAIM ATAS NAMA RAKYAT UNTUK UJI MATERI UU PEMILU".

Tuduhan itu bernada negatif, dan ini diketahui sebagai awal dari pertentangan-pertentangan pendapat selanjutnya. Misalnya pertentangan pendapat tentang "Anda ragu" dengan "Anda tidak ragu" terlihat tidak lebih penting dari soal "Anda berhak uji materi" atau "Anda tidak berhak uji materi". Dan yang terakhir ini, merupakan pertentangan pendapat yang terjadi lebih awal, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kontradiksi yang menjadi pokok perdebatannya adalah sebagai berikut[2] :

 A) ROCKY GERUNG BERHAK UJI MATERI UU PEMILU
 E) ROCKY GERUNG TIDAK BERHAK UJI MATERI UU PEMILU

Sekarang kontradiksi telah terindentifikasi. Namun, status dari hasil identifikasi tersebut tetaplah sebagai "asumsi" yang menjadi bahan untuk dikonfirmasikan serta diklarifikasikan kepada pihak yang bersangkutan. Jika dapat saya tanyakan, maka saya akan bertanya kepada mereka "benarkah ini yang menjadi dasar pokok perdebatan kalian ?" Konfirmasi dan Klarifikasi selalu diperlukan untuk kepastian.  Tetapi, apabila tidak dapat saya tanyakan langsung karena satu dan lain hal, maka saya dapat menjadikan asumsi tersebut sebagai dasar untuk penyelidikan selanjutnya.

Saya bukan ahli politik, bukan pakar hukum tata negara, tidak tahu siapa itu Rocky Gerung, tidak tahu isi UU Pemilu, tidak mengerti aturan soal UU Pemilu, bagaimana itu UJI Materi UU,  dan banyak hal lagi yang tidak saya ketahui. tetapi saya adalah ahli logika, yang tahu caranya mengidentifikasi kontradiksi, serta tahu cara menguji validitas argumen-argumen. Tetapi dalam kesempatan ini, tujuan dari tulisan ini adalah memberikan contoh dari cara mengidentifikasi kontradiksi yang menjadi pokok perdebatan, bukan untuk memberikan contoh soal uji validitas argumen. Untuk teori dan contoh-contoh uji validitas argumen, Anda bisa membacanya pada tulisan-tulisan saya berjudul :

1)> Validitas Argumen
2)> Menguji Validitas Argumen Pada Ungkapan Filsafat
3)> Menguji Validitas Argumen Politik Dengan Counter Model
4)> Sintaksisme

_____________
1) 2)

14
Diskusi Umum / Re:Menangkal Faham Radikal
« pada: Juni 14, 2018, 11:01:50 PM »
Yang memaksanakan keyakinan beragama dengan cara kekerasan.

15
Proposisi / Memperjelas Konsep
« pada: Juni 14, 2018, 09:31:15 PM »
Salah satu manfaat ilmu logika dalam kehidupan sehari-hari adalah untuk memperjelas konsep. Seseorang seringkali menyampaikan ide-ide atau konsepnya, kemudian orang lain terburu-buru menilainya benar atau salah, walaupun konsepnya belum jelas, terutama dalam segi kamiyah nya, yaitu apakah yang dimaksud oleh seseorang dari term yang disebutkan itu "seluruh" atau "sebagian". 

Sebagai contoh, Fahri Hamzah berkata, "Siapa yang radikal dalam sejarah ? Bukan orang beragama. Radikalisme itu produk komunis dan sekuler. Tuduhan bahwa orang beragama (Islam) radikal, muncul belakangan." Sampai di sini, apakah konsep Fahri Hamzah ini sudah jelas ? Belum. Untuk memperjelasnya, Fahri Hamzah perlu menjawab pertanyaan khas logika tentang kamiyah qadhiyah (kuantitas proposisi) berikut :

E ) Setiap orang beragama itu tidaklah radikal
I ) Sebagian orang beragama itu radikal

Untuk itu, kemudian saya menanyakan hal itu kepada Fahri, sekaligus membuat survei juga untuk mengetahui pendapat twips lainnya[1]. Fahri tidak menjawab pertanyaan tersebut. Tapi survei dipilih oleh tiga orang, di mana 2 dari 3 orang, meyakini bahwa (I) sebagian orang bergama itu radikal. Dengan demikian, menurut mayoritas orang (dalam survei) pendapat pertama (E) adalah pendapat yang salah.

Jika Fahri menjawab pertanyaan tersebut, maka Fahri memperjelas konsepnya tentang "siapa radikal". Tapi karena Fahri tidak menjawabnya secara langsung, maka tidak diketahui jelasnya konsep Fahri itu yang mana. Karena belum mendapatkan jawaban langsung, saya dapat menggunakan asumsi bahwa pendapat Fahri adalah proposisi (E). Sehingga semestinya dia tidak akan mengakui adanya seorang yang beragama, namun dia bertindak radikal.

_________

Halaman: [1] 2 3 ... 653

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan