Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Sultan

Halaman: [1] 2 3 ... 14
1
Proposisi / Re:Problem Konversi
« pada: Januari 03, 2018, 02:15:28 AM »
Konversi hukum kausalitas ilmiah ke dalam bahasa logika :

C = A adalah sebab bagi B
-C = A bukanlah sebab bagi B

• ((A → B)↑(-A → -B)) → -C
• ((A → B)^(-A → -B)) → C

Konversi ke dalam bahasa sehari - hari :

• Jika bukan ((jika A maka B) dan (jika bukan A maka bukan B)), maka A bukan sebab bagi B
• Jika (jika A maka B) dan (jika bukan A maka bukan B), maka A adalah sebab bagi B

2
Renungan / Re:Haram Merasa Salah
« pada: Januari 03, 2018, 02:12:51 AM »
Perbudakan yang dibungkus dengan baju "membela kebenaran" tentunya bukanlah pembela kebenaran.
Di dalam term "pembela kebenaran" terdapat kalimat "kebenaran"; suatu hal yang sudah pasti bernilai benar.
Bila dirangkaikan dengan kalimat "pembela", maka hasilnya adalah "pembela suatu hal yang sudah pasti bernilai benar.
Seseorang baru dapat disebut pembela kebenaran jika ia membela suatu hal yang sudah pasti bernilai benar atau sudah dipastikan kebenarannya.
Bila seseorang membela suatu hal yang belum jelas kebenarannya atau bahkan membela suatu hal yang hakikatnya bernilai salah, maka dapatkah ia disebut sebagai pembela kebenaran ?
Tidak tentunya.

Jika kita ingin menjadi pembela kebenaran, maka sebelumnya kita harus menganalisa dan mengkritik pendapat - pendapat kita sendiri terlebih dahulu dengan berbagai pendekatan; "apakah pendapat - pendapat ini sudah benar berdasarkan parameter kebenaran yang telah ditetapkan ?"
"Apakah pendapat - pendapat ini sudah logis; selaras dengan kaidah dan hukum - hukum logika ?"
Bila jawabannya adalah "Ya", maka pendapat - pendapat kita yang bersangkutan sudah siap, layak, wajar, dan patut atau pantas untuk dibela.
Bila jawabannya adalah "Tidak", maka pendapat - pendapat kita yang bersangkutan tidak layak dan patut atau pantas untuk dibela.

Misalnya kita telah berpegang pada satu aksioma yang kebenarannya bersifat mutlak atau niscaya dan "gamblang" atau "jelas" dengan sendirinya bagi akal kita yaitu hukum non-kontradiksi (salah satu hukum logika formal);
"Setiap hal adalah hal itu sendiri dan bukanlah bukan hal itu sendiri"
Atau dengan ungkapan lain :
"Setiap hal itu sama dengan dirinya sendiri dan pasti memiliki perbedaan dengan sesuatu yang selain dari dirinya sendiri".
Kita akan pantas dan layak untuk disebut sebagai pembela kebenaran jika kita berpegang teguh pada aksioma ini dan menepis berbagai sanggahan keliru yang mencoba untuk membantah aksioma ini.

Berdasarkan pemaparan ini, saya lebih berkenan untuk menyebut kritikan tersebut sebagai "Kritikan terhadap perbudakan yang dibungkus dengan baju "membela kebenaran"" daripada menyebutnya sebagai "kritik terhadap pembela kebenaran" meskipun ini hanyalah masalah perbedaan penyebutan dan rasa perkenan atau tidak perkenan terhadap penyebutan yang digunakan bila masih berada dalam "satu makna".
Namun dalam sudut pandang yang lebih luas persoalan ini berada dalam "wilayah kewenangan definisi".

3
Kupas Logika / Re:Kesatuan Wujud Makhluk dengan Khalik
« pada: Januari 02, 2018, 06:42:14 PM »
Sebagian filosof meyakini bahwa tiada wujud selain Tuhan. Dengan kata lain, segala sesuatu selain itu sebenarnya tidak ada, kecuali ilusi belaka.

Kutipan [1]:
==========================================
Sebagian filosof mengatakan bahwa sujud hanya berlaku bagi Tuhan, sedangkan selainnya bukanlah wujud.

==========================================

Tetapi Mulla Shadra menyangkalnya[2] :
============================================
Menanggapi hal ini, Shadra memberikan sebuah jawaban, oleh karena “wujud” merupakan realitas satu-satunya yang real, maka negasi dari wujud itu sendiri adalah tidak ada (not being). Oleh sebab itu, bila segala sesuatu selain Tuhan itu bukanlah wujud, maka sudah tentu segala sesuatu itu tidak mungkin ada. Jelaslah ini sebuah kontradiksi yang nyata.
============================================

Dengan demikian, Shadra menyatakan bahwa sesuatu selain Tuhan adalah juga wujud, berarti makhluk itu wujud. Sedangkan Shadra telah menyakinib ahwa wujud adalah realiatas tunggal.

Realitas wujud adalah satu-satunya yang tunggal .[3]

Tuhan adalah wujud
Makhluk adalah wujud

Apakah dapat disimpulkan bahwa makhluk adalah Tuhan atau Tuhan adalah makhluk? Tentu tidak. Karena penyimpulan seperti itu melanggah hukum logika dasaryang ketiga, dimana midlte term seharusnya bersifat universal, setidak-tidaknya dalam salah satu premis. Atau, apakah Tuhan dan Makhluk merupakan satu kesatuan wujud? Secara logika hal ini mustahil. Siapakah yang dapat menjelaskan pertentangan dalam filsafat Mulla Shadra ini?
 1. M. Said, Mulla Shadra,  hal. 35
 2. M. Said Marsaoly, Mulla Shadra,  hal. 35
 3. Mulla Shadra,  hal. 34

• Tuhan adalah Wujud
• Makhluk adalah Wujud

Tuhan adalah Wujud dan makhluk adalah Wujud = Tuhan dan makhluk adalah Wujud.

Wujud = Ada sehingga selain dari wujud/ada adalah "bukan ada" atau "tidak ada"; negasi dari wujud/ada.


1. A : Setiap ada adalah ada
2. E : Setiap ada bukanlah tidak ada (ketiadaan)
3. A :  Setiap yang tidak ada adalah yang tidak ada
4. E : Setiap yang tidak ada bukanlah ada

Keempat proposisi di atas adalah kebenaran aksiomatis; mustahil terdapat pertentangan atau kontradiksi di dalamnya dan keempat proposisi di atas juga merupakan turunan dan perpanjangan dari 4 hukum atau aksioma logika formal; hukum identitas, hukum kontradiksi, hukum non-kontradiksi, dan hukum tiada jalan tengah.
Selama "ketunggalan wujud" atau suatu gagasan bahwa "wujud adalah realitas tunggal atau wujud adalah "satu - satunya yang ada"" yang berasal dari Mulla Sadra dipahami berdasarkan keempat proposisi di atas, maka konsep Mulla Sadra yang bersangkutan niscaya benar dan mustahil salah serta mustahil pula berkontradiksi atau bertentangan.
Sebab postulat - postulat aksiomatis bersifat niscaya benar dan mustahil salah serta mustahil berkontradiksi atau bertentangan.
Tegasnya, jika konsep Mulla Sadra yang bersangkutan ditafsirkan menurut pengertian saya di atas, maka tidak ada pertentangan atau kontradiksi di dalamnya. Dan jika konsep Mulla Sadra yang bersangkutan tidak ditafsirkan menurut pengertian saya di atas, maka bisa jadi terdapat kontradiksi atau pertentangan di dalamnya dan bisa juga tidak.

Apakah Tuhan = Makhluk dan Makhluk = Tuhan ?
Tentu saja "tidak" berdasarkan keyakinan - keyakinan yang telah kita sepakati.
Namun Tuhan dan Makhluk berada dalam satu kategori, yaitu "Ada"/Wujud :

• Tuhan itu Ada
• Makhluk itu Ada
• Tuhan itu Ada dan Makhluk itu Ada
• Tuhan dan Makhluk itu Ada

Hendak ditafsirkan seperti apa gagasan tentang "kesatuan wujud antara Tuhan dengan Makhluk" yang berasal dari Mulla Sadra ini ?
Apakah bermakna Allah = Makhluk dan Makhluk = Allah ?
Jika tafsirannya seperti demikian, maka tentu saja hal ini adalah sebuah kekeliruan dan kemustahilan berdasarkan keyakinan - keyakinan yang telah kita sepakati.
Apakah bermakna Allah dan makhluk berada dalam satu kategori yaitu "Ada" atau dengan ungkapan lain Allah dan Makhluk itu sama - sama Ada ?
Jika tafsirannya seperti demikian, maka hal ini bernilai benar sesuai dengan keyakinan - keyakinan yang kita sepakati. Tidak ada kekeliruan logis dan pertentangan atau kontradiksi di dalamnya.

Dengan demikian keliru atau tidaknya dan bertentangan atau berkontradiksi atau tidaknya gagasan tentang "kesatuan wujud antara Tuhan dengan Makhluk" dari Mulla Sadra tersebut bergantung pada interpretasi - interpretasinya.

4
Komentari Gambar / Re:Letto - Permintaan Hati (Time Traveller)
« pada: Januari 02, 2018, 02:57:36 AM »
Apakah dunia itu paralel tapi kesadaran cuma ada 1? Artinya, walaupun terdapat "saya yang lain" pada dunia paralel yang jamak, namun hanya ada 1 pengalaman yang dapat disadari?

Kesadaran hanya dapat berpijak pada "saat ini".
Sejauh mana pun kesadaran berpijak tetaplah berada dalam batasan "saat ini".
Kesadaran tidak dapat berada di luar saat ini sebab hal apa pun yang berada di luar batasan "saat ini" bukanlah apa yang tengah kita persepsi. Sementara kesadaran tidak dapat menyadari hal - hal yang tak tersadari (di luar saat ini).
Menyadari hal - hal yang tak tersadari adalah sebuah kemustahilan karena hal tersebut adalah kontradiksi :

A = Menyadari
-A = Tidak menyadari

• A ^ -A = Menyadari dan tidak menyadari = kontradiksi : absurditas

Bila ada seseorang yang dapat kembali ke masa lalu sehingga seluruh kesadarannya berpijak pada masa lalu, sesungguhnya apa yang dianggap oleh pengamat lain sebagai masa lalu sebenarnya adalah masa kini bagi dirinya. Sebab dimana pun kesadaran kita berpijak, di situ adalah masa kini bagi kita.
Dengan demikian masa lalu, masa kini, dan masa depan hanyalah konsep dan berada dalam batasan persepsi.
Sesuatu disebut sebagai masa lalu atau masa depan, karena kesadaran kita tidak sedang berpijak pada ruang lingkup masa lalu atau masa depan.
Sedangkan sesuatu disebut masa kini, karena kesadaran kita berpijak pada objek - objek yang tengah kita persepsi.

Secara umum waktu terasa berjalan secara linier; dari masa lalu kemudian bergerak secara lurus ke depan secara kontinu.
Padahal, hakikatnya hanyalah lompatan kesadaran dari satu kuanta ke kuanta lain dan dari satu frame ke frame lain.
Tiap - tiap kesadaran berpijak pada satu kuanta. Atau dengan kata lain "satu kesadaran untuk satu waktu" atau "rangkaian waktu yang terdiri dari satu masa kini".


5
Kupas Logika / Re:Menurut Ilmuwan
« pada: Januari 02, 2018, 02:26:46 AM »
 
Benarkah itu merupakan ad Judiciam bagi ilmuwan yang menggeluti dunia astronomi?

Benar.

Kutip
Kira-kira observasi semacam apa yang dilakukan ilmuwan tsb sehingga bisa menjadi ad Judiciam baginya?

Entahlah. Yang pasti Hukum Gravitasi Universal Newton menjadi argumentum Ad Judiciam bagi Sir Isaac Newton karena rumus hukumnya :

F=G∙m1m2r2

Hukum Gravitasi Universal Newton

Kutip
Teori disusun dengan metode induksi, meneliti sebagian kasus untuk digeneralisasi pada kasus-kasus lainnya. Apakah tehnik semacam ini pantas disebut ad Judiciam?
Sudah dijawab oleh Kang Asep.

6
Teori Umum / Re:Keterbatasan Bahasa Lisan
« pada: Januari 02, 2018, 01:56:53 AM »
Untuk bahasa simbolis yang memuat tanda kurung biasannya tanda kurungnya dihilangkan dulu menggunakan hukum De Morgan dan Involusi agar lebih mudah diucapkan, walau mungkin tidak semua bisa diperlakukan begitu.

~ (A ∧ ~A)  ≡  ~A ∨ ~~A  ≡  ~A ∨ A

-(A ^ -A) = 1
-A ^ --A = 0
-A ^ A = 0

-A ^ --A ≡-A ^ A ≡0 ≡0
(-A ^ --A) ^ (-A ^ A)≡0 ^ 0 ≡0
-(A ^ -A) ≡A↑-A ≡1
-(A ^ -A) ^ A↑-A ≡1 ^ 1 ≡1

(-A ^ --A) dan (-A ^ A) adalah absurditas sehingga keduanya tidak ekuivalen dengan -(A ^ -A) atau A↑-A yang merupakan tautologi.
Silahkan dicek sendiri tabel kebenarannya.

(-A ^ --A) dan (-A ^ A) tidak ekuivalen dengan -(A ^ -A) sehingga ketiga - tiganya tidak dapat diberlakukan Hukum De Morgan

7
Keranjang Sampah / Re:Keterbatasan Bahasa Lisan
« pada: Januari 02, 2018, 01:55:54 AM »
Untuk bahasa simbolis yang memuat tanda kurung biasannya tanda kurungnya dihilangkan dulu menggunakan hukum De Morgan dan Involusi agar lebih mudah diucapkan, walau mungkin tidak semua bisa diperlakukan begitu.

~ (A ∧ ~A)  ≡  ~A ∨ ~~A  ≡  ~A ∨ A

-(A ^ -A) = 1
-A ^ --A = 0
-A ^ A = 0

-A ^ --A ≡-A ^ A ≡0 ≡0
(-A ^ --A) ^ (-A ^ A)≡0 ^ 0

(-A ^ --A) dan (-A ^ A) adalah absurditas sehingga keduanya tidak ekuivalen dengan -(A ^ -A) yang merupakan tautologi.
Silahkan dicek sendiri tabel kebenarannya.

(-A ^ --A) dan (-A ^ A) tidak ekuivalen dengan -(A ^ -A) sehingga ketiga - tiganya tidak dapat diberlakukan Hukum De Morgan

8
Filsafat / Re:Wilayah
« pada: Desember 27, 2017, 12:57:17 AM »
Jawablah dengan jujur !

1). Apakah benar ketiadaan tidak memiliki wilayah ?
2). Apakah benar keberadaan memiliki wilayah ?
3). Apakah benar keberadaan berasal dari ketiadaan ?


4) Jika ada berasal dari dari ketiadaan, maka ada sesuatu berasal dari yang tidak berwilayah. benar ?
5) Jika ada sesuatu yang tidak berwilayah, maka ada yang berwilayah berasal dari yang tidak berwilayah. benar ?
6) Jika point 5 benar, maka "wilayah" berasal dari "bukan wilayah". benar ?
7). Apakah benar yang tidak memiliki wilayah harus memiliki wilayah bagi kehadiran wilayah lainnya ?
8). JIka B berwilayah. dan berasal dari A. maka B termasuk wilayah A. benar ?
9). Jika B = "setiap yang berwilayah", maka A mustahil "tidak berwilayah", karena wilayah B termasuk pada wilayah A. benar ?
10). Jika B = keberadaan dan A adalah ketiadaan, maka mustahil B berasal dari A. benar ?

1. Benar
2. Benar
3. Tidak benar
4. Benar
5. Benar
6. Benar
7. Tidak benar
8. Benar
9. Benar
10. Benar

9
Kupas Logika / Re:setiap A adalah B xor C
« pada: Desember 26, 2017, 12:48:53 AM »
mohon petunjuk!

jika:
  • sebagian A adalah B
  • sebagian A adalah C
  • setiap B bukan C
  • tidak ada A yang bukan B sekaligus bukan C

maka apakah pernyataan dibawah ini benar:
  • setiap A adalah B xor C
:confuse:

A : Sebagian A adalah B
I : Sebagian A adalah C
E : Setiap B bukan C
• Tidak ada A yang bukan B sekaligus bukan C :

I : Sebagian A adalah B
E : Setiap B bukan C
O : Sebagian A bukan C

I : Sebagian A adalah C
E : Setiap C bukan B
O : Sebagian A bukan B

O : Sebagian A bukan C dan bukan B

Jika tidak ada A yang bukan B sekaligus bukan C, maka proposisi yang benar adalah :

O : Sebagian A bukan B Xor bukan C

Jika ternyata ada A yang bukan B sekaligus bukan C, maka proposisi "O : Sebagian A bukan B Xor bukan C" bernilai salah.

10
Meditasi / Re:Kekuatan Semangat
« pada: November 26, 2017, 03:31:51 PM »
A : Setiap semangat adalah kesenangan
I : Sebagian kesenangan adalah semangat
O : Sebagian kesenangan bukan semangat

Di dalam semangat ada kesenangan.
Di dalam kesenangan pun ada semangat.
Bagaimana caranya untuk menyenangi tugas dan kewajiban - kewajiban ?
Dengan bersemangat untuk melakukan tugas dan kewajiban - kewajiban.
Bagaimana caranya supaya bersemangat untuk mengerjakan tugas dan kewajiban - kewajiban ?
Dengan berkonsentrasi dan fokus terhadap keutamaan dan kepentingan - kepentingan dari tugas dan kewajiban yang harus dikerjakan.

Premis Minor A : Setiap orang yang bersemangat adalah orang yang penuh energi positif
Premis Mayor A : Setiap orang yang penuh energi positif itu senang beraktifitas
Konklusi A : Setiap orang yang bersemangat itu senang beraktifitas

Jika seseorang bersemangat dalam mengerjakan tugas dan kewajiban - kewajibannya, maka ia akan senang dengan tugas dan kewajiban yang dikerjakannya.

"Sukarela atau terpaksa dalam melaksanakan tugas dan kewajiban" ada 4 opsi untuk menentukan tingkat kebaikan atau keburukan dari 2 pilihan di atas :

• Keduanya sama - sama baik
• Keduanya sama - sama buruk
• Salah satu baik
• Salah satu buruk

Jika salah satu lebih baik dari salah satunya lagi, maka salah satunya lagi lebih buruk dari salah satu yang lebih baik.

Jika salah satu lebih buruk dari salah satunya lagi, maka salah satunya lagi lebih baik dari salah satu yang lebih buruk.

Pilihan saya jatuh pada "lebih baik sukarela dalam melaksanakan tugas dan kewajiban":

A : Anda adalah orang yang bersemangat
A : Setiap orang yang bersemangat itu sukarela dalam melaksanakan tugas dan kewajiban

Konklusi :

A : Anda adalah orang yang sukarela dalam melaksanakan tugas dan kewajiban

Anda dapat sukarela dalam melaksanakan tugas dan kewajiban jika anda adalah orang yang bersemangat terhadapnya.

Jika seseorang bersemangat terhadap tugas dan kewajiban, maka ia akan melakukan tugas dan kewajibannya dengan sukarela.

A : Setiap orang yang bersemangat terhadap tugas dan kewajiban adalah orang yang sukarela dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya
A : Setiap orang yang tidak bersemangat terhadap tugas dan kewajiban adalah orang yang terpaksa dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya

Pilih menjadi orang yang bersemangat dan sukarela dalam tugas dan kewajiban atau orang yang tidak bersemangat dan terpaksa dalam tugas dan kewajiban ?
Saya pilih menjadi orang yang bersemangat dan sukarela dalam tugas dan kewajiban. Sebab orang yang bersemangat dan sukarela dalam tugas dan kewajiban lebih baik dari orang yang tidak bersemangat dan terpaksa dalam tugas dan kewajiban.

11
Meditasi / Re:Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« pada: November 18, 2017, 08:26:59 AM »
Saya membicarakan hal ini juga atas dasar pengalaman pribadi mengenai persoalan ini.
Di dalam kehidupan sehari - hari, saya lebih memilih untuk menutup mulut rapat - rapat dari membicarakan hal - hal yang bersifat tinggi bagi kebanyakan orang di sekitar lingkungan saya. Demi menjaga hubungan baik.
Beberapa orang teman ada yang mengetahui aktifitas - aktifitas saya di grup ini, di forum medialogika.org, dan tentang Kang Asep.
Ketika ada pertanyaan - pertanyaan dari mereka mengenai hal tersebut, biasanya saya hanya menjawab "rahasia" atau "suka - suka". Begitu pula ketika ada pertanyaan - pertanyaan yang serupa dari nenek saya.
Tetapi di antara semua teman - teman saya ada salah satu teman yang mengerti dan paham dengan baik mengenai aktifitas - aktifitas saya di grup dan di forum.
Dan ketika ia mengkonfirmasi pada saya mengenai siapa Kang Asep itu maka barulah saya berterus terang padanya bahwa Kang Asep adalah guru saya walaupun hanya sedikit.

Ada juga orang - orang tertentu yang merasa mengerti dan menguasai suatu persoalan filosofis - idealis namun memberikan penjelasan - penjelasan yang keliru.
Terhadap mereka saya hanya mengambil sikap diam, menganalisis penjelasan - penjelasan mereka, kemudian tersenyum simpul.
Salah satu orang yang saya maksud adalah paman saya sendiri.
Ketika paman sedang berkunjung ke Pracimantoro dalam rangka mudik untuk lebaran tahun 2016 lalu, pada suatu kali ia pernah berbicara pada saya selepas saya berkata padanya bahwa saya memiliki minat terhadap filsafat dan hobi berfilsafat :

"Filsafat itu bisa bikin gila, Karena sifatnya tinggi dan ilmunya dalem" ujarnya.

Kemudian saya pun membatin :

"Sebelum paman menjelaskannya saya sudah tahu kalau filsafat itu bersifat tinggi dan materi - materinya terlalu dalam bagi kebanyakan orang.
Namun saya tidak setuju kalau filsafat itu bisa membuat orang menjadi gila.
Tetapi saya tidak mau jadi berdebat sama paman jika saya mengatakan bantahannya".

Lalu saya pun tersenyum simpul, kemudian pergi dari hadapannya.

12
Meditasi / Re:Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« pada: November 18, 2017, 08:25:11 AM »
Begitulah Kang Asep apabila kita berbicara tentang hal - hal yang bersifat tinggi bagi kalangan umum pada orang - orang yang tingkat keilmuannya tidak selevel dengan kita. Apalagi di dalam kehidupan sehari - hari.
Orang - orang yang kita ajak bicara akan cenderung sok mengerti, sok paham, sok pragmatis, terlebih lagi apabila mereka membantah perkataan - perkataan mereka dengan pernyataan - pernyataan sok pragmatis seperti pada obrolan antara Kang Asep dengan Indri.
Terkadang tindakan kita ini menimbulkan rasa bersalah dan penyesalan yang sering muncul dikemudian;
"Harusnya tadi itu aku tidak membicarakan persoalan ini ke dia. Soalnya dia bukan orang yang cocok untuk membicarakan persoalan ini",
" Lebih baik mengalah saja lah... daripada nantinya obrolan ini malah mengganggu hubungan baik kita berdua. Ternyata dia bukan orang tepat buat masalah ini",
"Biar aku simpan sendiri saja pengetahuan berharga ini. Percuma bila dibicarakan pada orang - orang ini; tidak ada yang bisa mengerti".

Kebanyakan orang itu hanya memfokuskan pikiran, dan hidup mereka secara lebih meluas lagi, pada hal - hal yang bersifat pragmatis semacam uang, pekerjaan, pasangan, dan persoalan - persoalan kehidupan sehari - hari lainnya.
Dengan begitu secara sendirinya mereka telah mengkondisikan diri untuk cenderung berpikir pragmatis dan berpandangan pragmatis pula terhadap sesuatu; menjadikannya sebagai bagian dari diri mereka; karakter mereka.
Kebiasaan untuk cenderung berpikir dan berpandangan pragmatis tersebut sedemikian menyatu dengan diri mereka hingga mereka sulit untuk memahami berbagai hal idealis - filosofis yang kita sampaikan padanya.


Hal - hal yang bersifat filosofis - idealis adalah sesuatu yang "tak biasa" bagi kaum pragmatis.
Berbicara mengenai persoalan - persoalan filosofis - idealis pada mereka lebih banyak berakhir dengan cara - cara yang buruk; ketidaknyambungan, pertengkaran, perdebatan, penyesalan, rasa bersalah, dan lain sebagainya.

13
Keranjang Sampah / Re:Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« pada: November 18, 2017, 08:23:19 AM »
Mas Sultan:
Begitulah Kang Asep apabila kita berbicara tentang hal - hal yang bersifat tinggi bagi kalangan umum pada orang - orang yang tingkat keilmuannya tidak selevel dengan kita. Apalagi di dalam kehidupan sehari - hari.
Orang - orang yang kita ajak bicara akan cenderung sok mengerti, sok paham, sok pragmatis, terlebih lagi apabila mereka membantah perkataan - perkataan mereka dengan pernyataan - pernyataan sok pragmatis seperti pada obrolan antara Kang Asep dengan Indri.
Terkadang tindakan kita ini menimbulkan rasa bersalah dan penyesalan yang sering muncul dikemudian;
"Harusnya tadi itu aku tidak membicarakan persoalan ini ke dia. Soalnya dia bukan orang yang cocok untuk membicarakan persoalan ini",
" Lebih baik mengalah saja lah... daripada nantinya obrolan ini malah mengganggu hubungan baik kita berdua. Ternyata dia bukan orang tepat buat masalah ini",
"Biar aku simpan sendiri saja pengetahuan berharga ini. Percuma bila dibicarakan pada orang - orang ini; tidak ada yang bisa mengerti".

Kebanyakan orang itu hanya memfokuskan pikiran, dan hidup mereka secara lebih meluas lagi, pada hal - hal yang bersifat pragmatis semacam uang, pekerjaan, pasangan, dan persoalan - persoalan kehidupan sehari - hari lainnya.
Dengan begitu secara sendirinya mereka telah mengkondisikan diri untuk cenderung berpikir pragmatis dan berpandangan pragmatis pula terhadap sesuatu; menjadikannya sebagai bagian dari diri mereka; karakter mereka.
Kebiasaan untuk cenderung berpikir dan berpandangan pragmatis tersebut sedemikian menyatu dengan diri mereka hingga mereka sulit untuk memahami berbagai hal idealis - filosofis yang kita sampaikan padanya.


Hal - hal yang bersifat filosofis - idealis adalah sesuatu yang "tak biasa" bagi kaum pragmatis.
Berbicara mengenai persoalan - persoalan filosofis - idealis pada mereka lebih banyak berakhir dengan cara - cara yang buruk; ketidaknyambungan, pertengkaran, perdebatan, penyesalan, rasa bersalah, dan lain sebagainya.

14
Komentari Gambar / Re:Seni Menulis Saya
« pada: November 18, 2017, 08:18:31 AM »
gambanya kecil. sebenarnya dapat ditampilkan lebih besar, seperti berikut :





Untuk memperbesar gambar seperti di atas bagaimana caranya Kang Asep ?

15
Komentari Gambar / Kontradiksi Kebenaran
« pada: November 17, 2017, 07:00:48 PM »


Halaman: [1] 2 3 ... 14

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan