Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Sultan

Halaman: [1] 2 3 ... 13
1
Meditasi / Re:Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« pada: November 18, 2017, 08:26:59 AM »
Saya membicarakan hal ini juga atas dasar pengalaman pribadi mengenai persoalan ini.
Di dalam kehidupan sehari - hari, saya lebih memilih untuk menutup mulut rapat - rapat dari membicarakan hal - hal yang bersifat tinggi bagi kebanyakan orang di sekitar lingkungan saya. Demi menjaga hubungan baik.
Beberapa orang teman ada yang mengetahui aktifitas - aktifitas saya di grup ini, di forum medialogika.org, dan tentang Kang Asep.
Ketika ada pertanyaan - pertanyaan dari mereka mengenai hal tersebut, biasanya saya hanya menjawab "rahasia" atau "suka - suka". Begitu pula ketika ada pertanyaan - pertanyaan yang serupa dari nenek saya.
Tetapi di antara semua teman - teman saya ada salah satu teman yang mengerti dan paham dengan baik mengenai aktifitas - aktifitas saya di grup dan di forum.
Dan ketika ia mengkonfirmasi pada saya mengenai siapa Kang Asep itu maka barulah saya berterus terang padanya bahwa Kang Asep adalah guru saya walaupun hanya sedikit.

Ada juga orang - orang tertentu yang merasa mengerti dan menguasai suatu persoalan filosofis - idealis namun memberikan penjelasan - penjelasan yang keliru.
Terhadap mereka saya hanya mengambil sikap diam, menganalisis penjelasan - penjelasan mereka, kemudian tersenyum simpul.
Salah satu orang yang saya maksud adalah paman saya sendiri.
Ketika paman sedang berkunjung ke Pracimantoro dalam rangka mudik untuk lebaran tahun 2016 lalu, pada suatu kali ia pernah berbicara pada saya selepas saya berkata padanya bahwa saya memiliki minat terhadap filsafat dan hobi berfilsafat :

"Filsafat itu bisa bikin gila, Karena sifatnya tinggi dan ilmunya dalem" ujarnya.

Kemudian saya pun membatin :

"Sebelum paman menjelaskannya saya sudah tahu kalau filsafat itu bersifat tinggi dan materi - materinya terlalu dalam bagi kebanyakan orang.
Namun saya tidak setuju kalau filsafat itu bisa membuat orang menjadi gila.
Tetapi saya tidak mau jadi berdebat sama paman jika saya mengatakan bantahannya".

Lalu saya pun tersenyum simpul, kemudian pergi dari hadapannya.

2
Meditasi / Re:Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« pada: November 18, 2017, 08:25:11 AM »
Begitulah Kang Asep apabila kita berbicara tentang hal - hal yang bersifat tinggi bagi kalangan umum pada orang - orang yang tingkat keilmuannya tidak selevel dengan kita. Apalagi di dalam kehidupan sehari - hari.
Orang - orang yang kita ajak bicara akan cenderung sok mengerti, sok paham, sok pragmatis, terlebih lagi apabila mereka membantah perkataan - perkataan mereka dengan pernyataan - pernyataan sok pragmatis seperti pada obrolan antara Kang Asep dengan Indri.
Terkadang tindakan kita ini menimbulkan rasa bersalah dan penyesalan yang sering muncul dikemudian;
"Harusnya tadi itu aku tidak membicarakan persoalan ini ke dia. Soalnya dia bukan orang yang cocok untuk membicarakan persoalan ini",
" Lebih baik mengalah saja lah... daripada nantinya obrolan ini malah mengganggu hubungan baik kita berdua. Ternyata dia bukan orang tepat buat masalah ini",
"Biar aku simpan sendiri saja pengetahuan berharga ini. Percuma bila dibicarakan pada orang - orang ini; tidak ada yang bisa mengerti".

Kebanyakan orang itu hanya memfokuskan pikiran, dan hidup mereka secara lebih meluas lagi, pada hal - hal yang bersifat pragmatis semacam uang, pekerjaan, pasangan, dan persoalan - persoalan kehidupan sehari - hari lainnya.
Dengan begitu secara sendirinya mereka telah mengkondisikan diri untuk cenderung berpikir pragmatis dan berpandangan pragmatis pula terhadap sesuatu; menjadikannya sebagai bagian dari diri mereka; karakter mereka.
Kebiasaan untuk cenderung berpikir dan berpandangan pragmatis tersebut sedemikian menyatu dengan diri mereka hingga mereka sulit untuk memahami berbagai hal idealis - filosofis yang kita sampaikan padanya.


Hal - hal yang bersifat filosofis - idealis adalah sesuatu yang "tak biasa" bagi kaum pragmatis.
Berbicara mengenai persoalan - persoalan filosofis - idealis pada mereka lebih banyak berakhir dengan cara - cara yang buruk; ketidaknyambungan, pertengkaran, perdebatan, penyesalan, rasa bersalah, dan lain sebagainya.

3
Keranjang Sampah / Re:Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« pada: November 18, 2017, 08:23:19 AM »
Mas Sultan:
Begitulah Kang Asep apabila kita berbicara tentang hal - hal yang bersifat tinggi bagi kalangan umum pada orang - orang yang tingkat keilmuannya tidak selevel dengan kita. Apalagi di dalam kehidupan sehari - hari.
Orang - orang yang kita ajak bicara akan cenderung sok mengerti, sok paham, sok pragmatis, terlebih lagi apabila mereka membantah perkataan - perkataan mereka dengan pernyataan - pernyataan sok pragmatis seperti pada obrolan antara Kang Asep dengan Indri.
Terkadang tindakan kita ini menimbulkan rasa bersalah dan penyesalan yang sering muncul dikemudian;
"Harusnya tadi itu aku tidak membicarakan persoalan ini ke dia. Soalnya dia bukan orang yang cocok untuk membicarakan persoalan ini",
" Lebih baik mengalah saja lah... daripada nantinya obrolan ini malah mengganggu hubungan baik kita berdua. Ternyata dia bukan orang tepat buat masalah ini",
"Biar aku simpan sendiri saja pengetahuan berharga ini. Percuma bila dibicarakan pada orang - orang ini; tidak ada yang bisa mengerti".

Kebanyakan orang itu hanya memfokuskan pikiran, dan hidup mereka secara lebih meluas lagi, pada hal - hal yang bersifat pragmatis semacam uang, pekerjaan, pasangan, dan persoalan - persoalan kehidupan sehari - hari lainnya.
Dengan begitu secara sendirinya mereka telah mengkondisikan diri untuk cenderung berpikir pragmatis dan berpandangan pragmatis pula terhadap sesuatu; menjadikannya sebagai bagian dari diri mereka; karakter mereka.
Kebiasaan untuk cenderung berpikir dan berpandangan pragmatis tersebut sedemikian menyatu dengan diri mereka hingga mereka sulit untuk memahami berbagai hal idealis - filosofis yang kita sampaikan padanya.


Hal - hal yang bersifat filosofis - idealis adalah sesuatu yang "tak biasa" bagi kaum pragmatis.
Berbicara mengenai persoalan - persoalan filosofis - idealis pada mereka lebih banyak berakhir dengan cara - cara yang buruk; ketidaknyambungan, pertengkaran, perdebatan, penyesalan, rasa bersalah, dan lain sebagainya.

4
Komentari Gambar / Re:Seni Menulis Saya
« pada: November 18, 2017, 08:18:31 AM »
gambanya kecil. sebenarnya dapat ditampilkan lebih besar, seperti berikut :





Untuk memperbesar gambar seperti di atas bagaimana caranya Kang Asep ?

5
Komentari Gambar / Kontradiksi Kebenaran
« pada: November 17, 2017, 07:00:48 PM »



6
Komentari Gambar / Struktur Kebenaran
« pada: November 17, 2017, 11:29:37 AM »



7
Komentari Gambar / Menampilkan Diri
« pada: November 17, 2017, 11:24:48 AM »



8
Komentari Gambar / Seni Menulis Saya
« pada: November 17, 2017, 11:18:49 AM »



9
Komentari Gambar / Berbuat Baik atau Tidak Berbuat Jahat
« pada: November 17, 2017, 11:14:24 AM »



10
Komentari Gambar / Cerdik dan Tulus
« pada: November 17, 2017, 11:05:04 AM »



11
Komentari Gambar / Hidup dan Kesenangan
« pada: November 17, 2017, 11:00:11 AM »



12
Fallacy / Re:Kunci Untuk Terhindar Dari Circular Argumen
« pada: November 17, 2017, 09:37:04 AM »

Kemudian apakah contoh di bawah ini adalah Circular Argumen :

X : "Mengapa A ?"

Y : "Karena bukan B".

X : "Mengapa Bukan B ?"

Y : "Karena C".


Contoh dengan variabel bermakna :

X : "Mengapa kamu adalah laki - laki ?"

Y : "Karena saya bukan perempuan".

X : "Mengapa kamu bukan perempuan ?"

Y : "Karena alat kelamin saya berbentuk "demikian"".

???

Kutip dari: Kang Asep
bukan.

Kenapa A ?
Karena B.
Kenapa B ?
Karena C.

Ternyata C adalah A, maka apakah contoh di atas adalah circular argumen Kang Asep ?

Sama halnya seperti :

Kenapa A ?
Karena B.
Kenapa B ?
Karena A.

Ternyata A adalah C, maka (.....) ?

Kutip dari: Kang Asep
Bukan. Tapi apabila dijadikan argumen, "karena C adalah A",maka itu namanya circular.

Contoh :

Dia adalah penyair. Kenapa ?
Karena dia tukang sajak

ternyata tukang sajak itu adalah penyair.

Itu bukan circular argument.

Tapi bila kemudian ditanya, "kenapa dia tukang sajak ?"

lalu dijawab, "karena dia adalah penyair", maka itu adalah circular argument.

Baik Kang Asep, terima kasih atas jawabannya ????. Tidak ada pertanyaan lagi.

Saya akan kembali menyimak ????.

Saat ini ada pertanyaan lagi Kang Asep.

Bila penyair = tukang sajak dan tukang sajak = penyair atau dengan kata lain antara penyair dengan tukang sajak itu saling mendefinisikan maka contoh di atas adalah Circular Argumen ?

Kutip dari: Kang Asep
circular.

Berarti suatu pernyataan kausalitas adalah Circular Argumen jika pernyataan akhirnya mendefinisikan pernyataan awalnya dan bukan Circular Argumen jika pernyataan akhirnya tidak mendefinisikan pernyataan awalnya ?

Pernyataan dalam tulisan di atas sebenarnya bermaksud "variabel".

Kutip dari: Kang Asep
bukan seperti itu.

sesuatu disebut circular bukan karena saling mendefinisikan, tapi karena argumen dan konklusinya melingkar.

A = B

kenapa A ?
karena B

ini bukan circular

kenapa A ?
karena B
kenapa B ?
karena A

ini yang disebut circular.

Jika :

A = C
C = A

Kenapa A ?
Karena B.
Kenapa B ?
Karena C.

maka, Ini adalah circular dan jika tidak demikian, maka ini bukan circular.

Definisi dari variabel A dan C di atas bukankah menjadi salah satu dari kriteria melingkar (circular) atau tidaknya pernyataan di atas ?

Atau bagaimana Kang Asep menjelaskan persoalan ini dalam konteks yang lebih luas; circular argumen, dengan contoh apa pun ?

Kutip dari: Kang Asep
sudah cukup.  saya melihatnya itu pertanyaan - pertanyaan yang sama berulang-ulang. jadi, jawabannya akan begitu-begitu juga. Tapi bila merasa itu adalah pertanyaan yang berbeda, simpan saja dulu. dan coba tanyakan lain waktu.  kita ganti topik saja !

Baiklah.

Yang terpenting saya sudah mendapat kunci untuk terhindar darinya, yaitu jangan menggunakan konklusi - konklusi yang berekuivalensi dengan argumen yang digunakan.
Ini berbicara mengenai hal yang berbeda; kunci untuk terhindar dari Circular Argumen.

13
Fallacy / Kunci Untuk Terhindar Dari Circular Argumen
« pada: November 17, 2017, 09:34:29 AM »
Apakah bentuk formal dari circular argumen dan petitio principi adalah seperti ini :

Circular Argumen :

- X adalah Y sebab X bukan Z

- X adalah Y sebab X adalah Z

- Jika X bukan Z, maka X adalah Y

- Jika X adalah Z, maka X adalah Y

Petitio Principi :

- X adalah Y. Sebab jika X, maka Z

- X bukan Y. Sebab jika tidak X, maka tidak Z

- Jika (jika X, maka Z), maka X adalah Y

- Jika (jika tidak X, maka tidak Z), maka X bukan Y

???

Apakah ini adalah syarat atau kriteria dari Circular Argument dan Petitio Principi :

Circular Argument :

- Sebab dan konsekuensi di-isi dengan variabel subjek yang sama dalam sebuah pernyataan kausalitas

Petitio Principi :

- Menggunakan hipotetical proposition pada sebab dalam sebuah pernyataan kausalitas

- Tidak memiliki kejelasan mengenai mana salah satu subjek yang hendak dibuktikan di antara 2 atau lebih subjek dalam sebuah pernyataan kausalitas

???

Menyimak ????.

Atau bukan seperti itu bentuk formal dan syarat atau kriteria dari Circular Argument dan Petitio Principi ?

Bila bukan seperti itu bentuk formal dan syarat atau kriteria dari Circular Argument dan Petitio Principi, maka saya akan menanyakannya kepada anda seperti apa bentuk formal dan syarat atau kriteria dari Circular Argument dan Petitio Principi dan saya tidak akan meralat pernyataan saya.

Salah satu tujuan dari pertanyaan di atas adalah untuk melengkapi catatan saya mengenai berbagai tes yang pernah dilakukan oleh Kang Asep pada saya.

Seingat saya berbagai tes yang pernah dilakukan oleh Kang Asep pada saya selama saya bergabung dengan grup Logika Filsafat ini adalah :

1. Tes Definisi
2. Tes Kontradiksi
3. Tes Tautology
4. Tes Petitio Principi
5. Tes Circular Argumen

Saya pun berasumsi bahwa tidak menutup kemungkinan pada kesempatan - kesempatan selanjutnya Kang Asep akan menguji saya dengan berbagai tes baru.
Oleh sebab itu catatan ini menjadi penting bagi saya untuk menjadi bahan kewaspadaan serta bahan perkiraan mengenai tes - tes baru apa lagi yang akan dilakukan pada saya oleh Kang Asep pada kesempatan - kesempatan selanjutnya.
Jadi, saya tidak perlu merasa kaget lagi karenanya.

Selain itu, jawaban dari pertanyaan ini menjadi penting untuk mengetahui bentuk pokok/baku dari sekian banyak Circular Argument dan Petitio Principi yang ada.
Dan tidak menutup kemungkinan terdapat sebagian orang yang bingung mengenai penjelasan Circular Argument :

X : "Mengapa tidak B bukan C ?"

Y : "Karena B adalah C".

X : "Mengapa B adalah C"

Y : "Karena tidak B bukan C".

Bagaimana jika kemudian ada yang bertanya :

"Bagaimana jika B adalah C karena A ?"

Kutip dari: Kang Asep
Bukan Circular

Sultan :
—-------------
 X adalah Y sebab X bukan Z
===========

Pernyataan tersebut bukan cirular. Tetapi ignoratio elenchi. Karena antara konklusi dan argumen tidak nyambung. Prinsip dasar logika yang ke-5 menyatakan bahwa bila salah satu premis menidak,maka konklusi harus menidak pula.  Dalam pernyataan tersebut, konklusi tidaklah menidak, sehingga ignore, kecuali bila term "bukan Z" bersifat meniada.

Contoh 1 :

X = saya
Y = akan menjadi presiden
Z = politikus

 A tidak Y, karena X bukan Z

itu berarti

X bukan Z
Setiap Z bukan Y
Jadi, X adalah Z

argumentasi tidak valid, konklusinya tidak logis.

Contoh 2 :

saya adalah laki-laki, karena saya bukan perempuan.

Saya bukan perempuan
setiap perempuan bukan laki-laki
Jadi, saya adalah laki-laki

argumentasi tidak valid. Pasal no. 6 aturan dasar syllogisme menyebut, premis yang sama-sama menidak tidak dapat melahirkan kesimpulan apapun.

Tapi seperti yang saya katakan, bila ""bukan perempuan" bersifat meniada, maka argumentasinya valid.

Saya adalah yang bukan perempuan
setiap yang bukan perempuan adalah laki-laki
Jadi, saya adalah laki-laki

konklusi logis.

Tetapi syllogisme yang sah dan logis tersebut menjadi circular argumen, jika kemudian argumentasinya dibolak-balik.

Saya laki-laki karena saya bukan perempuan. Saya bukan perempuan, karena saya laki-laki.

Saya adalah laki-laki
setiap laki-laki bukan perempuan
jadi, saya bukan perempuan.

Valid dan logis, tapi dibolak-balik dengan yang pertama tadi, makanya disebut dengan circular.

Bentuk sederhananya dari circular argument adalah :

Contoh 3 :

Kenapa A ?
Karena B
kenapa B ?
Karena A

terus begitu tanpa ujung. Kata Joeseof Souyb di dalam bukunya, "bagaikan menghasta kain sarung".

Kadang lingkarannya pendek, kadang panjang. Tapi intinya tetap melingkar.

Contoh 4 :
Kenapa A ?
Karena B
kenapa B ?
Karena C 
Kenapa C ?
Karena D
kenapa D ?
Karena A

balik lagi ke argumen yang pertama, itu melingkar.

Tentu saja, manusia tidak dapat mengetahui seluruh sebab ilmiah dari segala sesuatu. Karena itu, tentu tidak dapat selalu menjawab pertanyaan "mengapa" Tapi, pertanyaan "mengapa" dalam dialektika logika, tidak selalu menanyakan sebab ilmiah dari suatu pernyataan, melainkan menyakan premis-premis. Dan pertanyaan mengapa dapat ditanyakan terus hingga menemukan aksioma atau atom-atom logic, di mana suatu kebenaran sudah jelas, bersifat analitis, sehingga tidak diperlukan argumentasi atau pembuktian apapun lagi untuk diterima sebagai kebenaran.

Secara aturan, circular argumen tidak melanggar hukum syllogisme. Karena itu bukannya tidak logis, akan tetapi tidak berguna. Karena sejatinya antara argumen dan kesimpulan adalah itu-itu juga, seperti hubungan terjemah.

Contoh 5 :

Ini adalah buku. Mengapa ?
Karena itu the book
mengapa itu the book ?
karena itu buku

tidaklah keliru, memang benar , buku = the book. Tapi tidak berguna, karena yang ditanyakan bukanlah terjemahan, melainkan argumen. Tentu hal itu berguna, bila si penanya menanyakan padanan kata atau terjemahan.

14
Filsafat / Re:Konsep vs Konsep : Prima Causa vs Non-Causa
« pada: November 17, 2017, 06:31:35 AM »
Yang namanya Kontrari, apabila salah satu proposisi bernilai benar, maka itu berarti kontradiksi. dengan kata lain, dalam kontrarari itu termuat kontradiksi. jadi, jangan mengatakan "tidak ada kontradiksi" dalam suatu kontrari, bila salah satunya bernilai benar. Kecuali bila baru diketahui salah satunya bernilai salah, tapi belum diketahui lainnya bernilai benar, atau dua-duanya tidak diketahui nilai benar-salahnya, maka tidak dapat dipastikan ada kontradiksi, juga tidak dapat dipastikan tak ada kontradiksi.

Baik kang Asep _/\_ :-).

15
Filsafat / Re:Konsep vs Konsep : Prima Causa vs Non-Causa
« pada: November 17, 2017, 03:23:15 AM »
5. Kutipan dari The Legend :

The Legend:
g sangat mengerikan.”
(Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101, Tipitaka Pali).

“Bila ada Sang Maha Kuasa yang dapat mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaanya kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka yang maha kuasa itu diliputi kesalahan, sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja.”
( Mahabodhi Jataka No.528 )

Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap Brahma adalah ketidakadilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Bhuridatta Jataka, Jataka 543]


[Tradisi Mahayana]

Salah satu dari Mahayana Sutra, yaitu Lankavatara Sutra, berisi dialog antara Sang Buddha dengan Mahamati.

Dalam dialog tersebut, Sang Buddha menyatakan bahwa konsep Tuhan yang berdaulat, atau Atman adalah imajinasi belaka atau perwujudan dari pikiran dan bisa menjadi halangan menuju kesempurnaan karena ini membuat kita menjadi terikat dengan konsep Tuhan Maha Pencipta. Kutipan dari sutra tersebut sebagai berikut:
"Semua konsep seperti penyebab, suksesi, atom, unsur-unsur dasar, yang membuat kepribadian, jiwa pribadi, roh tertinggi, Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pencipta, adalah imajinasi belaka dan perwujudan dari pemikiran manusia.

Tidak, Mahamati, doktrin Tathágata dari rahim ke-Tathágata-an tidaklah sama dengan filosofi Atman."
(Lankavatara sutra, bab VI)

"Asumsi bahwa suatu Tuhan (isvara) adalah penyebab, dan lain sebagainya, bersandar atas kepercayaan salah dalam suatu diri yang kekal;
tetapi kepercayaan itu haruslah ditinggalkan, jikalau seseorang sudah dengan jelas mengerti bahwa segala sesuatu adalah tunduk pada penderitaan.
[Vasubhandu, Abhidharmakosa, 5, 8 (vol. IV, p. 19); Sphutartha, p. 445,26.]

----
Konsep ketuhanan dalam agama Buddha.
1. Tidak perlu berdoa kepada objek ketuhanan tersebut
2. Tidak pernah marah, benci atau dendam dengan agama apapun
3. Tidak eksklusif, artinya ketuhanan dalam agama Buddha itu universal sifatnya. Jadi, mau percaya atau tidak dengan "ketuhanan buddhis" tidak masalah. seorang ateis bisa masuk "surga"
4. bukan pencipta
5. bukan pemberi takdir atau mengontrol kehidupan manusia/makhluk lainnya
6. bukan maha kuasa
7. bukan maha segalanya

Beberapa Konsep dalam ajaran Buddha yang dapat dipilih dan dijadikan konsep Ketuhanan :
1. Nibbana
2. Adi Buddha
3. Dharmakaya
4. Tahtagathagarbha
5. Brahmavihara
6. Niyama

---------  Akhir Kutipan --------

1. “Bila ada Sang Maha Kuasa yang dapat mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaanya kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka yang maha kuasa itu diliputi kesalahan, sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja.”
( Mahabodhi Jataka No.528 )

2. Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap Brahma adalah ketidakadilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru.” [Bhuridatta Jataka, Jataka 543]

3. "Semua konsep seperti penyebab, suksesi, atom, unsur-unsur dasar, yang membuat kepribadian, jiwa pribadi, roh tertinggi, Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pencipta, adalah imajinasi belaka dan perwujudan dari pemikiran manusia".

Tanggapan :

1. Tetapi bagi saya, penciptaan dualisme kebahagiaan - penderitaan dan perbuatan baik - perbuatan jahat bukanlah suatu kesalahan pada diri Tuhan.
Sebab, segala dualisme negatif - positif bersifat saling melengkapi satu sama lain, bukan saling meniadakan. Segala dualisme negatif - positif menjadi salah satu komponen pelengkap dari apa yang saya sebut sebagai "Struktur Besar Kehidupan". Tanpa dualisme negatif - positif atau yang di dalam terminologi Tao disebut sebagai "Yin dan Yang", dapat dipastikan bahwa "Mekanisme Besar Kehidupan" tidak akan dapat berjalan. Sebab struktur besar kehidupan beserta mekanismenya, dibentuk dari dualisme negatif - positif disamping juga dibentuk dengan komponen - komponen lain. Dan "kerusakan" dari struktur besar kehidupan beserta mekanismenya, terbentuk dari koordinasi "kerusakan" dari struktur - struktur kecil kehidupan beserta mekanismenya.

2. Jawaban utamanya sudah saya paparkan dalam jawaban nomor 1 di atas. Hanya ada sedikit tambahan.

Bagi saya, Tuhan tidak jarang memberkati. Tetapi Tuhan memberkati banyak makhluk dan juga memberikan berkat tertentu kepada makhluk - makhluk tertentu. Baik dengan berkat yang "kasat mata" atau pun berkat yang tidak "kasat mata".

Kebohongan, kejahatan, dan ketidak-tahuan yang merajalela adalah bagian dari dualisme negatif - positif yang penting bagi terbentuknya struktur besar kehidupan beserta mekanismenya.

Di dunia ini, kebenaran dan keadilan memang tak selalu menang dari kepalsuan. Tetapi diakhirat nanti, kebenaran dan keadilan akan benar - benar menghancurkan kepalsuan.
Konsep balasan surga dan neraka yang diciptakan Tuhan membenarkan hal ini.
Dan oleh karenanya bagi saya Tuhan itu adil.

3. Bagi saya Tuhan itu bukan imajinasi dan perwujudan pemikiran manusia belaka.
Tetapi imajinasi dan pemikiran manusia tentang Tuhan itu adalah salah satu bentuk rasa penasaran, keingintahuan, dan kerinduan manusia terhadap Tuhan.
Tuhan itu nyata, kuasa, dan perbuatan - perbuatannya pun nyata.


Kutip dari: The Legend
Anda melihat jawaban saya absrud. Pernyataan anda yang ini dibawa ke grup buddhis juga dianggap absrud.

Anda melihat pernyataan saya absrud, karena anda berkeyakinan harus berujung kepada Tuhan (maha sebab), sedangkan dalam ajaran Buddha maha sebab itu tidak ada. Jadi kedua hal ini tidak bisa dipertentangkan.

Dalam agama Buddha sendiri juga mempunyai logikanya sendiri, yang disebut logika jalan tengah (middle way).  Logika jalan tengah tidak kaku seperti logika yang diajarkan di sini.

Saya kasih contoh sederhana
Dalam sutra Nirvana tertulis
Sifat Buddha adalah kekal.
Master Huineng pernah menyatakan Sifat Buddha adalah tidak kekal.

Silakan menganalisa dengan logika yang diajarkan di sini, pernyataan itu kontradiksi atau tidak.

Catatan : sifat buddha tidak ada sebagian. 

Hamid @Pashter1922 @KangAsep
Yang lain juga boleh menyatakan pendapatnya.
Kutip dari: The Legend
Mas

Pertanyaan yg di atas koq tidak dijawab?

Sutra nirvana
Sifat Buddha kekal

Master Hui neng mengatakan
Sifat Buddha tidak kekal.

Apakah kedua pernyataan tersebut kontradiksi ?

Catatan :

Sifat Buddha tidak ada sebagian.

A : Sifat Buddha itu kekal
E : Sifat Buddha tidak kekal

Tidak ada kontradiksi dalam kedua proposisi tersebut.

Tetapi kedua proposisi tersebut mengandung kontrari yang bersifat :

(1) Mustahil sama - sama benar

(2) Mungkin sama - sama salah

Halaman: [1] 2 3 ... 13

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan