Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Kang Asep

Halaman: [1] 2 3 ... 622
1
Komentari Gambar / Kaki Mungil
« pada: Oktober 21, 2017, 02:20:26 PM »

2
siapa tuh nama penulisnya ? sepertinya dia yang paling tahu arti dari kata "Ketuhanan Yang Maha Esa", apa dia yang merumuskan Pancasila ?

3
Mistisisme / Re:Inilah Meditasi
« pada: Oktober 17, 2017, 01:30:22 PM »

Suatu hari, saya terkena penyakit batuk disertai dengan sesak. Setelah seminggu, belum juga mereda. Sayapun berobat ke dokter. Kata dokter, batuk dan sesak tersebut karena alergi dingin atau debu. Lalu dokter memberi obat dan menyarankan saya istirahat kerja dua hari.

Setelah dua hari saya minum obat tersebut, batuk dan sesak tidak terasa mereda. Malah sekarang pinggang saya terasa panas, menjalar ke kaki. Kata dokter di UGD Uber, gejala seperti itu adalah gejala batu ginjal. Sayapun curiga, apa mungkin saya punya penyakit batu ginjal, atau panas di pinggan itu akibat dari mengkonsumsi obat dari dokter.

Mulanya pinggang saya tidak terasa panas. Hari pertama minum obat, pinggang saya jadi panas banget. Hari kedua, semakin panas. Hari ketiga saya berhenti minum obat, rasa panas di pinggang berkurang.

Bandung, 30 Agustus 2013, pagi hari saya terbangun dalam kondisi tubuh kurang bugar, akibat pekerjaan yang terlalu over, juga karena penyakit batuk, sesak dan pinggang yang panas. Rencananya hari ini saya hendak mengambil cuti kerja. Tapi atasan saya malah menelepon, meminta saya untuk menghadiri acara workshop. Saya tahu, itu acara yang sangat penting. Sayapun berangkat ke Hotel Yaheskiel, menghadiri undangan.

Sebelum masuk ruangan, para peserta workshop berkumpul di loby hotel. Terlihat satu sama lain saling berbincang. Ada juga yang sibuk dengan sms atau telepon. Ada juga yang duduk sendiri dengan santainya. Ada juga yang tampak sendiri dan kaku, seperti saya.

Tidak seorangpun dari peserta workshop itu yang saya kenal. Mereka adalah kumpulan para pengusaha. Dari busana saja sudah dapat terlihat, bahwa mereka berasal dari kaum elite. Hati saya berkata, “seharusnya saya mulai beriteraksi dengan mereka, berkenalan, menjalin komunikasi, sekedar mengakrabkan diri, menjalin persaudaraan atau bahkan mungkin memulai berbisnis dengan mereka.” Tapi anehnya, seperti ada sesuatu yang menghalangi saya untuk melakukannya, atau sepertinya saya terlalu kaku, atau kurang berani untuk berinteraksi, atau mungkin saya kurang percaya diri. Entahlahlah!

Selama mengikuti workshop, konsentrasi saya agak terganggu dengan rasa sakit pada pinggang. Kadang-kadang rasanya seperti mau pingsan, saking sakitnya. Tapi materi-materi workshop itu sangat penting bagi saya, agar saya lebih mampu meningkatkan profit perusahaan.

Jam sebelas, peserta workshop istirahat karena harus menjalankan ibadah shalat jum`at. Bersama yang lain, saya berjalan menuju sebua mesjid. Tapi di perjalanan, rasa sesak dan pinggang yang panas menyerang kuat. Saya berpikir, jika kondisinya seperti ini terus, tampaknya saya tidak akan kuat mengikuti workshop hingga sore hari atau bahkan mungkin saya pingsan ketika shalat jum`at. Sayapun berbalik arah, berjalan menelusuri jalan Pahlawan. Saya pikir, hari ini saya tidak akan melaksanakan shalat jum`at, dan akan menggantinya dengan shalat dzuhur saja.

Sepanjang perjalanan, saya bertemu dengan perempuan-perempaun cantik mojang priangan yang cantik dan seksi abis. Ketika melihat kecantikan mereka, rasanya sangat menyenangkan, mengagumkan, mempesonakan, membuatku merasa melayang-layang di negeri yang indah. Sejenak, perasaan itu sepertinya mampu melenyapkan rasa sakit pada jasmani. Tapi ketika para gadis cantik itu berlalu, saya kembali terpuruk di dalam kesakitan jasmani, malah semakin berat saja rasanya beban sakit yang saya rasakan. Lalu saya berjalan lagi, berjumpa lagi dengan para bidadari, terhibur, merasa senang, kagum, terpesona, dan lalu jatuh lagi ke dalam kesakitan yang parah.

Saya berjalan mulai terengah-engah. Kepala rasanya berkunang. Tenaga tubuh seakan menguap, dan serasa hendak jatuh pingsan. Saya duduk sejenak, dan lalu berpikir, “Sudah waktunya bagi saya untuk menembus segala kesakitan ini melalui jalan meditasi. Karena saya tidak menemukan jalan lainnya. Saya sudah berobat dan sudah beristirahat, kini hanya tersisa satu jalan.

Saya mulai berdiri lagi dengan tegak, menggunakan tenaga yang tersisa. Meditasi itu saya mulai dengan menempatkan perhatian pada jalannya pernafasan. Seperti biasanya, apabila saya menarik nafas secara alami, saya membaca tasbih. Dan ketika saya menghembuskan nafas, saya membaca hamdalah. Seraya mengingat firman Allah :

dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang. (Q.S 20:130)

Ajaib, segala kesakitan yang tadi dirasakan, seperti menguap. Rasa minder, rasa tak percaya diri dan sedih juga telah lenyap. Disinilah titik awal perbuahan mental yang radikal pada diri saya, sehingga kemudian sikap, perilaku dan pandangan terhadap kehidupan dan objek-objek yang terlihat jadi berubah secara drastis.

Meditasi tidak harus dilakukan dengan cara duduk-duduk saja, tapi bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki sambil melihat-lihat. Karena segala perbuatan yang bajik, itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari meditasi.

Saya teringat, ketika seorang master meditasi ditanya oleh murid-muridnya, “apakah tanda kesuksesan meditasi itu?” sang master manjawab, “ia berjalan ketika ia berjalan, dia duduk ketika dia duduk, dia tidur ketika ia tidur, dia makan ketika dia makan.”

Muridnya berkata, “Kalau begitu, apa bedanya dengan orang lain. Bukankah semua orang juga seperti itu?”

“Tidak semua orang. Mereka yang tidak bermeditasi, berjalan ketika makan. Bekerja ketika tidur, bahkan belari ketika ia duduk.” Demikian jawaban sang master. Maksudnya, orang bermeditasi itu harus sepenuhnya memperhatikan apa yang dia lakukan. Kalau melakukan sesuatu, tapi pikirannya melayang-layang ke persoalan lain, maka itu tidak termasuk meditasi, seperti si bapak berpeci kuning tadi.

Saya mulai melangkahkan kaki kanan saya dengan menyebut nama Tuhan, “Allah”, dan ketika kaki kiri saya melangkah, saya menyebut nama Tuhan, “Allah”. Sekarang saya meditasi dengan cara berjalan kaki. Banyak orang berjalan kaki. Di kiri kanan jalan, sepanajang troroar orang-orang berjalan kaki. Sekarang saya memahami bahwa kwalitas langkah kaki dari pejalan kaki itu berbeda-beda. Saya mencoba mengembangkan kwalitas langkah kaki dengan konsentrasi penuh, perhatian penuh. Kemana kesadaran saya jatuh, kepada langkah kaki, atau gerakan nafas, kepada objek itulah perhatian saya dicurahkan sepenuhnya. Itulah yang membedakan pejalan kaki yang bermeditasi dengan pejalan kaki yang tidak bermeditasi.

Sebagian orang tampak mengenakan peci, baju koko dan menaruh sejadah mereka di pundak. Mereka berjalan hendak menuju mesjid, hendak beribadah. Mereka melangkah menuju kebajikan. Oleh karena itu, langkah kaki mereka merupakan bagian dari meditasi tapi mereka tidak menyebut itu dengan istilah meditasi.

Sebagian remaja mengenakan seragam putih abu, berjalan kaki di sepanjang trotoar jalan Pahlawan. Pertanda mereka pulang dari sekolah, sehabis menuntut ilmu. Mereka sedang berjuang demi kebaikan. Maka langkah kaki mereka juga terhitung sebagai meditasi.

Sebagian lelaki tampak sedang berkumpul sambil bersandar atau duduk-duduk. Tampak baju mereka kotor oleh pasir dan semen. Mereka sedang beristirahat dari lelahnya bekerja. Mereka para pekerja bangunan, sedang mencari nafkah bagi keluarga mereka. Mereka juga berjuang demi kebaikan. Maka mereka sedang dalam proses meditasi.

Diantara mereka semua, baik yang mengenakan peci, yang mengenakan seragam putih abu, ataupuan yang berbaju kotor, ada yang sedang mengalami kegembiraan hatinya, ada pula yang sedang diterjang oleh kesedihan. Tampak seorang bapak yang mengenakan peci, berjalan kaki dengan tatap mata yang kosong. Ia berjalan kaki si sepanjang jalan trotoar, tapi jiwanya berada di tempat lain, di sebuah rumah sakit, di mana ibunya yang sudah tua sakit keras, terpaksa ia tinggalkan karena anaknya menelpon, hendak berangkat sekolah dan harus membawa sejumlah uang untuk dibayarkan. Ia pulang untuk mencari pinjaman pada tetangga. Ia merencanakan, sehabis jumatan nanti, kepada siapa ia harus mencari pinjaman. Tapi bagaimana saya dapat mengetahui kisah sedih si bapak ini, padahal si bapak ini tidak bercerita apapun pada saya ? Dia hanya terlihat berjalan tergesa-gesa dengan wajah bingung. Inilah yang disebut dengan pengetahuan batin. Adalah hal yang biasa, setelah mengalami perubahan mental secara radikal melalui praktik meditasi, seseorang dapat melihat perikehidupan seseorang yang telah terjadi dan akan terjadi pada seseorang yang dilihatnya.

Di depan sebuah SMK, tampak sekelompok pelajar sedang bercanda ria. Anak-anak yang pintar, sehat, cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Tampak mereka begitu gembira, tertawa bersama. Saya turut gembira, melihat anak-anak yang gembira. Tak lama lagi mereka akan tiba di rumah masing-masing, masuk ke dalam kamar dan sendirian. Lalu sepi menemani, tanpa tawa dan canda teman-temannya. Dengan perasaannya dia akan menimbang, ketika ia berkumpul dengan teman-teman, bercanda bersama, itulah suatu kondisi yang sanggup membuatnya gembira. Jika hal itu dianggapnya menyenangkan, tentu sepi sendiri akan dirasakannya sebagai hal yang tidak menyangnkan. Sayang sekali, kenapa kegembiraan itu harus berbanding lurus dengan kesedihan yang harus dialaminya. Lalu, untuk menghindari hal-hal yang menyedihkan, mereka akan bergerak, keluar dari kamar dan rumah, mencari hal-hal yang menyenangkan dari pergaulan dan pertemanan. Tak mereka sadari, hal itu tak ubahnya seperti seorang dahaga yang menguk air laut. Bukan lepas dahaga yang dia dapatkan, tapi semakin haus saja dia rasakan. Ini pemikiran yang muncul, ketika saya melihat mereka.

Seorang mojang priangan, dengan mengenakan baju warna krem, dengan reda kerah baju yang teramat manisnya, rok pendek warna hitam, rambut panjang, dan wajah secantik Dina Lorenza, berjalan terburu-buru dengan mengapit tasnya berwarna merah hati, lipstik merah, mak up sesuai dan selop jangkung. Sungguh cantik dan menyenangkan pria yang memadangnya. Tapi saya, tidak seperti sebelum meditasi tadi, bila melihat wanita secantik dan seseksi itu kemudian muncul rasa bergairah, rasa suka, dan damba untuk memilikinya. Tapi sekarang, setelah bermeditasi, tak ada lagi perasaan-perasaan semacam itu. Malah melihat wanita itu aya merasa kasihan padanya. Saya berpikir, untuk tampil cantik seperti itu tidaklah mudah, butuh biaya dan keterampilan. Wanita cukup repot untuk bisa menampilkan dirinya tampak cantik di muka umum, terutama di luar rumah. Sedangkan kalau di rumah, kadang-kadang wanita tidak peduli tampilannya kusut dan acak-acakan, toh Cuma suaminya saja yang memandangnya. Tampil cantik dan seksi, itu dipersembahkan untuk siapa sebenarnya ? Mengapa muncul pikiran-pikiran begini dalam pikiran saya ? Mengapa saya melihat wanita tampil cantik dan seksi malah melihatnya sebagai orang-orang yang tertindas  yang hampir jatuh air mata saya karena merasa kasihan. Ini tak lain karena pengaruh dari praktik meditasi tadi.

Teringatlah saya pada Teh Mayang, kakaknya sahabatku. Dia itu tidak pernah terlihat tampil di muka umum dengan make up. Bahkan dia tidak mengenakan lipstik. Tapi kecantikannya terpancar dari kesederhanaan, tutur kata dan budi pekertinya. Dia tidak sibuk mempermak wajahnya, tapi sibuk menghiasai dirinya dengan akhlak yang mulia. Wanita seperti ini, tampaknya hanya satu diantara sejuta orang.

Tampaknya sekarang saya mengkritisi setiap orang yang saya lihat, lalu mulai tidak suka dan menyalahkan semua orang. Padahal tidak. Saya memang berpikir kritis, tapi tidak menyalahkan mereka semua. Semua itu hanya renungan saya saja, sehingga dari renungan itu terlahir rasa belas kasih terhadap sesama, sebagaimana saya mengasihani diri saya sendiri yang tengah menderita kesakitan.  Jadi, mereka dan saya sama-sama patut dikasihani karena sakit dan menderita. Bedanya, saya telah sadar dengan kesakitan ini sehingga mencari obatnya, sedangkan mungkin mereka belum menyadarinya, sehingga belum mencari obatnya. Saya telah melihat jalan keluar dari kesakitan ini, sedangkan sebagian orang lain belum meihat jalan keluarnya.

Lagu cinta yang merdu mendayu-dayu dianggap orang-orang sebagai hiburan yang nikmat. Akan lain rasanya, setelah melewati pengembangan mental melalui proses meditasi, anda akan mendengar lagu-lagu cinta itu tak ubahnya seperti tangisan pilu seorang anak kecil yang ditinggal mati ibunya. Dan karenanya terlihat begitu memprihatinkan, dan jadi merasa kasihan.

Dengan mengucapkan bismillah, saya melangkahkahkan kaki, hendak bermeditasi dengan cara berjalan-jalan, menjadikan setiap langkah kaki, tarikan dan hembusan nafas saya sebagai dzikrullah wa dizkrul maut. Langkah kaki yang saya lakukan, tidak hanya berarti mengingat, melangkah menuju Tuhan, tapi juga melangkah menuju kematian. Bila jatah umurku adalah 70 tahun, dan sekarang umur saya 35 tahun, berarti umur yang tersisa adalah 35 tahun lagi. Dan apabila satu langkah kaki saya adalah 0,5 detik, maka bila saya melangkah sejauh 120 langkah, umur saya telah berkurang sebanyak 1 menit dari jatah umur 35 tahun. Kita hidup di dunia ini, bagaikan seekor sapi kurban dikelu, ditarik, diarak menuju tempat penyembelihan. Begitulah saya memaknai langkah kaki saya. Pkiran dan kesadaran ini tidak muncul, kecuali setelah saya mengembangkan diri melalui praktik meditasi tadi.

Semakin jauh saya melangkah, semakin khusyuk hati saya di dalam dzikir. Saya tidak lagi tertarik untuk memandang perempuan-perempuan cantik dan seksi yang berjalan di trotoar. Ada yang lebih cantik dan indah dari kecantikan para perempuan ini, yaitu cantik dan indahnya kedamaian hati. Sesungguhnya, kesenangan saya terhadap kecantikan para perempuan ini mengguncang kedamaian. Saya akan berani memandang kembali wanita-wanita cantik itu, setelah seluruh nafsu duniawi tersingkirkan dan hanya melihat wanita-wanita itu hanya sebagai manusia saja, bukan sebagai barang kesenangan yang sedap dipandang mata. Sangatlah bodoh bila saya mau menukarkan kedamaian yang indah ini, dengan kesenangan yang semu. Setelah mata batin saya menjadi tajam, saya tidak bisa lagi melihat para wanita cantik itu sebagai sesuatu yang menarik. Mereka itu sama saja seperti saya, kita semua, hanya mayat berjalan, kumpulan tulang dibalut daging, tidak ada yang menarik, tidak ada yang berharga.

Hati yang begitu damai, membuat seluruh tubuh begitu nyaman. Getaran kebahagiaan karena terlepaskanya ilusi kehidupan, membuat tubuh saya menjadi begitu ringan. Dan rasa sakit berat yang tadi dirasakan, sekarang lenyap entah pergi kemana. Sehat hati, sehat pula jasmani, tiada sedikitpun dirasakan suatu kesakitan, tidak perlu obat, tidak perlu dipijat, hanya perlu dengan bersungguh-sungguh meluruskan Qalbu. Inilah meditasi.

Lalu saya kembali ke hotel. Seorang peserta workshop mengajak saya makan siang dengan ramahnya, “ayo pak! Kita makan siang dulu!”

Kami makan siang pada satu meja. Lalu dia mulai mengajak saya bicara dengan gaya yang tampaknya akrab sekali, mulai dari tanya asal usul hingga ke persoalan bisnis. Tak lama, peserta lainnya bergabung di meja kami hingga penuh. Ajaib, tadi pagi saya datang seperti orang asing, tak kenal siapapun, tak akrab dengan siapapun. Seperti kambing conge yang bengong melihatin sekumpulan kerbau. Sekarang, setelah saya melewaji perjalanan jauh dalam meditasi, karakteristik saya jadi berubah, menarik perhatian orang, sehingga saya dikermuni orang-orang. Dan orang-orang ini adalah para pengusaha. Mereka tertarik dengan prospek usaha, meminta saya mempresentasikannya di sela-sela istirahat workshop. Lalu sebagian diantara mereka tertarik dan berencana untuk menanamkan sahamnya pada perusahaan yang saya kelola. Dalam waktu beberapa menit, saya mendapatkan peluang pengembangan usaha yang besar. Apakah ini kebetulan? Anggaplah kebetulan ! Kebetulan saya berhasil mengembangkan daya mental melalui praktik meditasi, sehingga mengubah karakteristik menjadi lebih baik. Akan tetapi,  Syed Hamid mengatakan, "tidak ada yang kebetulan."

Sebagaimana telah disebutkan, bahwa tidak ada yang kekal. Seseorang hari ini dapat berhasil mengembangkan mental menjadi lebih baik, sehingga memiliki daya mental yang kuat, perangai dan karakteristik yang baik, tapi tidak ada jaminan esok akan tetap baik seperti itu. Walaupun demikian, yang harus kita lakukan adalah berusaha untuk selalu menjadi lebih baik, hari ini lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini. Bila usaha kita gagal dan terjatuh, kita harus bangkit berdiri untuk berjuang kembali. Demikianlah perjuangan yang harus kita lakukan sepanjang hayat dikandung badan.


4
My Journal / Mengembangkan Kesadaran
« pada: Oktober 17, 2017, 08:34:35 AM »
Daftar Isi
====================
1. Konsentrasi
1.1. Objek Konsentrasi
1.2. Landasan Konsenstrasi
1.3. Empat Jenis Pengembangan Konsentrasi
1.4. Memasuki Arus Konsentrasi
2. Mengembangkan Kesadaran

selanjutnya >>> Titik Kesadaran
====================

2. Mengembangkan Kesadaran
Edisi : 18 Oktober 2017, 08:19:12

kesadaran adalah suatu jiwa yang menyadari objek.

Ketika orang tertidur lelap atau ketika dalam keadaan pingsan, orang tersebut dalam kondisi "tidak sadar". Ketika bangun dari tidur, orang menjadi sadar. Apa yang sadar ? Yaitu kesadaran.

Sadar terhadap sesuatu, berarti mengetahui sesuatu itu. Jika mengetahui sesuatu, berarti menyadari sesuatu itu. Pengetahuan hanya dapat muncul di dalam pikiran, hanya jika terdapat kesadaran. Jika manusia tidak menyadari sesuatu, maka dia tidak mengetahui sesuatu itu. Tetapi datangnya pengetahuan ke dalam diri manusia tidak hanya melalui proses sadar itu saja, melainkan juga dapat melalu proses berpikir. Karena itu, menyadari sesuatu dengan memikirkan sesuatu, itu terdapat perbedaan. Ada pengetahuan yang muncul hanya jika melalui proses berpikir. Pengetahuan ini tidak dapat muncul hanya melalui tindakan menyadari. Seperti halnya pengtahuan-pengetahuan logis. Dan ada juga pengetahuan yang muncul cukup hanya dengan proses menyadari. Dan bahkan jusru ada pengetahuan yang hanya bisa muncul, ketika proses berpikir berhenti.

Ketika seseorang sibuk memikirkan objek-objek, maka kesadarannya tertuju pada objek-objek yang dipikirkannya, sehingga dia tidak menyadari objek-objek lain yang sebenarnya ada. Ini seperti Anda diajak bicara oleh ibu Anda, tetapi Anda sibuk dengan gadget Anda, sehingga Anda tidak mendengar ibu Anda bicara. Ketika Anda berhenti memikirkan gadget Anda, Anda kemudian sadar, bahwa ternyata ibu Anda sedang berbicara sesuatu. Ini contoh, bagaimana suatu pengetahuan terhalang dari seseorang karena orang itu sibuk dengan pemikirannya.

Di dalam meditasi, kita mengembangkan kesadaran dengan cara "menghentikan pemikiran". Sejatinya tanaman, tumbuhan, binatang-binatang, bebatuan, ombak lautan yang berdebur, matahari, bulan, bintang, angin, jin dan malaikat, bahkan tubuh kita sendiri, mereka semua berbicara kepada kita. Tetapi, kita sibuk dengan pikiran-pikiran kita. Karena itu kita jadi tidak dapat mendengar mereka. karena itu, mengembangkan kesadaran dalam meditasi, berarti menghentikan proses berpikir hingga kita mendengar dan menyadari "Sabda Alam".  Mendengarkan suara tubuh, bebatuan, tanaman, tumbuhan, binatang-binatang, air yang mengalir, gunung dan lautan, merupakan awal dari kebijaksanaan. Karena untuk dapat hidup dengan benar, kita harus hidup selaras dengan alam. Untuk hidup selaras dengan alam, kita harus mengerti kehendak alam. Mengetahui kehendak alam, berarti mengetahui kehendak Allah. Kesadaran seperti inilah yang dikembangkan di dalam meditasi.


5
Proposisi / Indikasi
« pada: Oktober 09, 2017, 09:03:48 AM »
Daftar Isi
====================
1. Proposisi Hipotesa
1.1. Implikasi
1.1.1.Menguji Kebenaran Implikasi
1.2. Ekuivalensi
1.3. Hukum Kausalitas
1.4. Hukum Kausalitas Ilmiah
1.4.1. Indikasi
2. Proposisi Disjungsi
2.1. Hukum Perlainan
2.1.1. Pengantar Dan Pengiring Pada Disjungsi
2.1.2. Bukan Fallacy
====================

1.4.1. Indikasi
Edisi : 09 Oktober 2017, 08:57:42

Pertentangan pendapat merupakan hal biasa di dalam kehidupan ini. Tetapi, akibat pertentangan pendapat, dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, mulai dari konflik antar individu, antar kelompok masyarakat, kelompok agama hingga akhirnya dapat menimbulkan peperangan. Peperangan tidak akan terjadi, jika kedua pihak sependapat dalam segala hal, tanpa pertentangan. Ada perang, berarti di situ ada pertentangan pendapat. Karena itu, hal "yang biasa" tadi, ternyata dampaknya bisa "luar biasa".

Di sisi lain, banyak orang atau kelompok orang yang bertentangan pendapat dengan pihak lainnya tanpa menimbulkan "perang". Jika perang, pasti di situ ada pertentangan pendapat. Tapi jika bertentangan pendapat, belum tentu perang. Sedangkan menurut hukum kausalitas ilmiah,  "pertentangan pendapat" hanya bisa disebut sebagai "sebab perang", apabila selalu ditemukan pada setiap kasus "perang" dan "perang" selalu terjadi pada setiap terjadi "pertentangan pendapat".  Pertanyaannya, apakah benar setiap terjadi pertentangan pendapat berarti terjadi perang ? Jawabanya "tidak benar".  Ini berarti, berdasarkan hukum kausalitas ilmiah, pertentangan pendapat tidak dapat dikatakan sebagai "sebab" dari perang. Walaupun tidak dapat dikatakan sebagai "sebab", tetapi adanya "perang" tidak dapat lepas dari pengaruh "pertentangan pendapat". Jika "hubungan pengaruh" ini tidak dapat disebut sebagai "sebab", maka apa sebutannya yang tepat ? Ada yang menyebut hubungan seperti itu sebagai "sebab yang tidak sempurna". Oleh karena itu dikatakan "perntentangan pendapat" merupakan sebab perang yang belum sempurna. Namun saya tidak sepakat dengan istilah "sebab yang belum sempurna" tersebut dan tidak ingin mempergunakan istilah seperti itu, melainkan lebih memilih istilah "indikasi". Dengan demikian saya katakan "pertentangan pendapat" adalah "Indikasi perang".

Mari kita coba terapkan kepada berbagai kasus lainnya.

Kasus 1 :

Jika hujan, berarti mendung. Jika mendung, belum tentu hujan. Jadi, mendung adalah indikasi hujan.

Cocok tidak ?

Kasus 2 :

jika pintar, maka naik kelas. Jika naik kelas, belum tentu pintar. Jadi, naik kelas adalah indikasi pintar.

Kasus 3 :
jika Anda menikah, maka Anda dewasa. Jika Anda dewasa, belum tentu Anda menikah. Jadi, menikah adalah indikasi Anda dewasa ?

Silahkan Anda membuat contoh-contoh kasus lainnya !

6
Filsafat / Kebenaran Referensi
« pada: Oktober 09, 2017, 08:16:44 AM »
Daftar Isi
====================
1. Filsafat Ilmu
1.1. Berpikir
1.1.1. Bukan Membayangkan
1.2. Kebenaran Referensi

selanjutnya >>> Filsafat Ketuhanan
====================

1.2. Kebenaran Referensi
Edisi : 09 Oktober 2017, 08:08:44

Buddha mengatakan "tidak harus mempercayai kebenaran sesuatu hanya karena sesuatu itu tertulis dalam kitab suci".

Saya menerima kebenaran pendapat Buddha tersebut dan bahkan menjadikannya sebagai pedoman dalam hidup saya. Tetapi, kalau saya ditanya di dalam sutta mana ada tertulis Buddha mengatakan demikian. Maka saya tidak dapat menunjukan referensinya, karena saya lupa di mana saya membaca pernyataan demikian. Seingat saya sih perkataan seperti itu terdapat dalam sutta kalamma. Tapi, saya kurang yakin. Karena itu, apabila ingin memastikan saya harus mengecek kembali sutta kalama.

Tentu bagi diri saya sendiri, tidak perlu lagi referensi atau mengecek apakah benar sabda Buddha termuat dalam Sutta Kalama ataukah tidak. Tetapi ketika ada pihak yang meragukan bahwa hal itu dikatakan oleh Buddha, dan saya ingin meyakinkan bahwa itu memang perkataan Budda yang termuat dalam Sutta, maka perlu saya tunjukan referensinya yang jelas. Hanya saja, saya tidak selalu berkeinginan untuk menunjukan referensinya, karena hanya bermaksud untuk menyampaikan kebenaran isi, bukan referensi. Jadi, terkadang saya bersikap "apakah anda percaya bahwa Buddha menyatakan demikian dalam sutta ataukah tidak, itu tidak penting bagi saya."  saya dapat katakan, "jika anda tidak percaya bahwa di dalam sutta termuat pernyataan demikian, maka anggaplah saja itu perkataan saya sendiri. Jadi lupakan soal perkataan Buddha, tapi ingatlah perkataan saya `kita tidak harus menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena tertulis dalam kitab suci`". Dengan demikian, saya tidak perlu lagi repot-repot mencari referensi. Tetapi, jika saya bersikukuh bahwa pernyataan demikian dikatakan oleh Buddha, maka tentu saya harus bertanggungjawab untuk membuktikan kebenaran referensinya. Jika saya tidak ingin bertanggungjawab, maka saya tidak boleh bersikukuh, dan biarkan orang lain tidak percaya, jikalau di dalam sutta terdapat perkataan demikian. Langkah selanjutnya adalah menguji kebenaran pendapat itu sendiri, dan bukan menguji kebenaran referensinya.


7
Filsafat / Filsafat Mishbah Yazdi
« pada: Oktober 08, 2017, 07:14:17 AM »
Daftar Isi
====================
1. Sokrates
2. Filsafat Plato
3. Filsafat Aristoteles
4. Filsafat Ki Amar
4.1. Ki Amar
4.2. Penerus Ajaran Filsafat Ki Amar
5. Filsafat Mishbah Yazdi
====================

5. Filsafat Mishbah Yazdi
Edisi : 08 Oktober 2017, 06:36:53

Kutip : [1]
-------------------
Secara umum, pandangan-pandangan filsafat Muhammad Taqi Mishbah Yazdi mencerminkan sosok rasionalis yang sangat berani mendobrak tradisi pemikiran Filsafat para filosuf sebelumnya, yang menurutnya telah menjadi semacam Postulat yang disakralkan. Sebagai bukti ia membuat kavling-kavling pemikiran sesuai cakupan pemahasan masing-masing. Karena itulah, dalam bidang ontologi, ia cenderung transendentalis karena menyakini prinsip ashalat al wujud. Dalam bidang filsafat epistemologi, ia cenderung paripatetis karena tidak menganggap dzauq sebagai salah satu instrumen pengetahuan dan dalam bidang filsafat ketuhanan (teologi) ia cenderung transendentalis, karena menganggap al ilayat al akhash sebagai bagian dari filsafat wujud, dan tidak memperlakukan teks suci sebagai postulat dan Premis yang melampaui argumen.
==============

Pertanyaan :
1. apa yang dimaksud dengan rasionalis ?
2. apakah rasionalis sama dengan logis ?
3. apa yang dimaksud dengan kavling pemikiran ?
4. apa itu ontologi ?
5. apa definisi dari transendental ?
6. apa yang dimaksud dengan epistemologi ?
7. apa itu "Al ilaya al Akhash" ?
8. Apa yang dimaksud dengan filsafat wujud ?
9. apa itu teks suci ? Apa contohnya ?
10. apa yang dimaksud dengan postulat ?
11. Apa artinya melampaui argumen ?


Catatan Kaki :
______________
1) Mulla Shadra, "Jurnal Filsafat dan Mistitisme", hal. 94, Penerbit : RausyanFikr


8
Komentari Gambar / Nyaman
« pada: Oktober 07, 2017, 06:35:31 AM »

9
Proposisi / Kontradiksi dengan Perbuatan
« pada: Oktober 04, 2017, 09:13:05 PM »
Daftar Isi
====================
1. kontradiksi
1.1. Kontradiksi atau Bukan
1.2. Kasus Kontradiksi
1.3. Tafsiran Kontradiktif
1.4. Hipothetical Proposisi Yang Kontradiksi
1.5. [Kontradiksi Dengan Perbuatan]
2. Kontrari
3. Subkontrari
4. Subalternasi
====================

1.5. Kontradiksi Dengan Perbuatan
Edisi : 04 Oktober 2017, 21:05:10

Tujuan :
 - memahami penggunaan istilah "kontradiksi" yang tidak tepat
- berhati-hati dalam menggunakan istilah kontradiksi
- dapat menjelaskan dan memberi contoh antara kontradiksi dan bentuk-bentuk yang hanya mirip dengan kontradiksi
- membedakan antara nilai salah, bohong dan kontradiksi
===================

Istilah kontradiksi sebenarnya untuk menyatakan pertentangan antara bentuk proposisi A dan O, juga antara bentuk E dan I. Tetapi, kemudian terkadang istilah kontradiksi diterapkan pertentangan antar kondisi, perasaan atau perilaku serta pertentangan antara ucapan dengan perilaku :

Contoh 1:

 "Andi mencintai Citra, Tetapi Citra membenci Andi".

1. Andi mencintai Citra
2. Citra membenci Andi

Ada yang menyebut fakta yang demikian itu sebagai kontradiksi. Karena cinta dianggap antonim dari benci. Penggunaan istilah kontradiksi untuk fakta yang demikian itu tidaklah tepat. Istilah yang tepat untuk menyebut pertentangan antara perasaan Andi dengan Citra adalah Kiasmus, bukan kontradiksi. Perhatikan pula contoh-contoh lainnya !

Contoh 2 :

"Perilaku mu kontradiksi dengan ucapanmu. Katamu, Halimah adalah wanita yang baik dan cantik, dan kamu ingin menjadikannya sebagai istrimu, tetapi faktanya kamu sekarang mempersunting Meisya."

Ini tidak dapat disebut kontradiksi, apabila dikembalikan ke dalam dua bentuk proposisi :

A. Kamu harus memilih Halimah sebagai istri
E. Kamu tidak memilih Halimah sebagai istri

syarat kontradiksi tidak terpenuhi, karena terdapat tiga term. Sedangkan kontradiksi itu hanya boleh terdiri dari dua term, tidak boleh kurang maupun lebih.

Term 1 = kamu
Term 2 = harus memilih Halimah sebagai istri
Term 3 = memilih Halimah sebagai istri

Soal "kamu tidak memilih apa yang menurutmu harus kau pilih" tidak menjadikan sesuatu itu sebagai kontradiksi.

Contoh 3 :

"Kamu bilang, lapar dan ingin makan, tapi kutawari makan kau menolak".

Dalam pengalaman sehari-hari, terkadang saya mendengar orang menyebut yang demkian itu kontradiksi. Sedangkan kontradiks itu sejatinya pertentangan keyakinan. Bayangkan, orang yang sedang berpuasa tidak mustahil mengatakan "saya lapar dan ingin makan", tapi soal kemudian dia tidak melakukan apa yang ingin dia lakukan, tidak menjadikannya kontradiksi. Coba lihat bentuk proposisinya :

A. Saya ingin makan
E. Saya tidak makan

lagi-lagi, ini adalah tiga term, bukan dua term, sehingga syarat kontradiksi tidak terpenuhi.

Bandingkan lagi :

A. Saya ingin makan
E. Saya tidak ingin makan

ini hanya ada dua term, dua proposisi, satu bersifat positif dan lainnya negatif, maka jelas ini bentuknya kontradiksi. Karena itu, kalau orang berkata, "saya ingin makan, tapi saya tidak ingin makan", maka jelas kontradiksi. Tapi tidak kontradiksi kalau berkata, "saya ingin makan, tapi saya menolak makan sekarang".

Contoh 4 :

"Kamu bilang harus pergi ke utara, tapi sekarang kau berngkat ke selatan".

A. Saya harus pergi ke utara
A. Saya pergi ke selatan

tak ada kontradiksi.

Contoh 5 :

"Kau sering bilang, bahwa kita ini harus sabar, menghadapi masalah dengan tenang, tapi faktanya sekarang marah, kesal, panik, tidak sabar dalam menghadapi masalah yang kau hadapi."

A. Saya harus sabar menghadapi masalah ini
E. Saya tidak sabar menghadapi masalah ini

dua proposisi di atas tidak kontradiksi.

A. Saya orang sabar
E. Saya bukan orang sabar

Ini baru kontradiksi.

Contoh 6 :

"kamu bilang kamu akan berani menghadapi hukum, tetapi sekarang kau lari dari hukum".

Contoh 7 :

"Anda berjanji, bahwa hari ini Anda akan melunasi hutang Anda pada saya. Tapi kenyataannya, Anda tidak membayar serupiahpun."

Contoh 8 :

"Ayah bilang, kalau aku naik kelas akan membelikanku sepeda, tapi aku sudah naik kelas dan ayah tidak membelikanku sepeda."

premis minor : jika aku naik kelas, ayah membelikanku sepeda
premis mayor : ternyata aku naik kelas
Kesimpulan : jadi, (semestinya) ayah membelikanku sepeda

tapi ternyata, ayah tidak membelikanku sepeda
itu berarti "implikasinya bernilai salah" atau "sang ayah berbohong".

Apakah "kebohongan" adalah kontradiksi ? Jika kebohongan itu kontradiksi, maka kebenaran juga kontradiksi. Sebab, setiap proposisi yang bernilai benar maupun salah, tentu memiliki lawan proposisi yang menjadi kontradiksinya. Karena itu, jika anda berkata benar, maka itu pasti kontradiksi dengan kebohongan. Dan jika anda berkata bohong, maka itu pasti kontradiksi dengan kebenaran. Setiap perkataan bohong, berisi proposisi yang salah. Tetapi proposisi yang salah, tidak berarti berisi kebohongan. Ada perbedaan antara perkataan bohong dengan kontradiksi, juga ada perbedaan antara "salah" dan "bohong".

Semisal, saya katakan "Setiap A adalah B" merupakan proposisi bernilai salah. Tapi saya tidak berbohong. Sedangkan bila saya katakan "jumlah istri saya adalah dua orang", maka proposisi ini bukan saja bernilai bohong, tetapi juga salah.  Karena itu, setiap perkataan bohong pasti memiliki kontradiksinya.  Tetapi setiap kontradiksi, tidak berarti kebohongan. Jadi, di sini perlu membedakan antara nilai proposisi, kebohongan dan kontradiksi.

Pekerjaan logicer adalah mengolah nilai proposisi, mendeteksi kebohongan serta memeriksa kontradiksi, tujuannya adalah untuk meluruskan pikiran. Sebelum memeriksa kontradiksi-kontradiksi pada keyakinan orang lain, tentu lebih berguna bagi seorang logicer untuk terlebih dahulu memeriksa kontradiks-kontradiksi di dalam keyakinnnya sendiri. Karena itu, sebagai seorang pemikir logic, sungguh senang apabila ada orang yang dapat menemukan kontradiksi-kontradiksi di dalam pemikiran saya. Itu berarti dia telah membantu saya untuk memperbaiki diri. Untuk dapt menemukan kontradiksi di dalam pemikiran orang lain, terkadang diperlukan aanlisa yang cerdas dan kerja keras. Karena itu saya akan sangt berterima kasih, dia begitu menyimak dan meperhatikan pemikiran-pemikiran saya  Saya telah memposting ribuan artikel di medialogika.org. Siapapun dipersilakan untuk menganalisa kontradiksi pemikiran-pemikiran yang tertuang dalam tulisan-tulisan yang telah saya posting tersebut. Tetapi, apabila Anda hendak menyatakan sesuatu sebagai kontradiksi, Anda harus hati-hati ! Sebelumnya Anda harus memperhatikan terlebih dahulu definisi kontradiksi serta syarat-syarat sesuatu dapat disebut kontradiksi. Dan perhatikan pula, bagaimana sesuatu dapat dianggap terbukti kontradiksi.

Contoh kasus sederhana :
-----------------
Suatu hari anak saya mendengar caci maki dalam tayangan sinetron, di mana seorang perempuan memaki seorang lelaki dengan menggunakan kata-kata "Dasar kamu !"

anak saya yang masih berumur 4 tahun bertanya, "Yah.... Dasar itu apa sih ?"

saya menjawab, " itu kata-kata yang kasar, kamu tidak boleh berkata seperti itu."

anak saya mengingt dan mematuhinya dengan baik. Tapi setelah dia berumur 5 tahun, saya berkata padanya, "Sebentar lagi kamu masuk Sekolah Dasar."

anak saya protes dan berkata, "ayah bilang gak boleh ngomong `dasar`. Katanya kasar. Kenapa ayah bilang begitu ?"

bukan hanya merasa aneh tetapi anak saya juga terlihat kecewa, karena saya terlihat seperti mengingkari diri saya sendiri, kontradiksi.

Saya tersenyum, "oh.. Maksud ayah bukan begitu ... " saya termenung sebentar memikirkan bagaimana caranya menjelaskannya pada anak saya.
===========

Dalam tingkatan yang lebih pelik, saya telah menghadapi banyak orang yang kecewa, pergi menjauh bahkan boleh dibilang  "melarikan diri", kabur dari saya karena menganggap saya tidak konsisten, kontradiksi atau mengingkari diri saya sendiri. Padahal, jika ada yang dapat menemukan kontradiksi di dalam keyakinan-keyakinan saya, hal yang harus anda lakukan bukannya membenci atau lari menjauh, tapi silahkan sebutkan di mana kontradiksinya dan buktikan. Format pembuktiannya telah saya sediakan. Tetapi sejauh pengalaman saya, anggapan-anggapan bahwa pemikiran, ucapan dan perilaku saya kontradiksi yang terjadi selama ini hanyalah semisal kasus kata "dasar" yang tadi diceritakan.


Selanjutnya >>> Kontrari


10
Komentari Gambar / Cinta Tanpa Kata-kata
« pada: Oktober 04, 2017, 02:10:28 PM »

11
Komentari Gambar / 10
« pada: Oktober 04, 2017, 05:00:11 AM »

12
Filsafat / Konsep Ketuhanan dalam Buddhisme
« pada: Oktober 01, 2017, 06:53:35 PM »
Daftar Isi
====================
1. Keberadaan
1.1. Keberadaan Tak Berawal Itu Ada
1.2. Keberadaan Tak Berawal Itu Hidup Dan Berkehendak Dengan Kekuasaan
1.3. Keberadaan Tunggal Yang Tak Berawal Dan Yang Tak Terbagi
1.4. Kontradiksi Dengan Aksioma
2. Hanya Ada Allah
3. Kehendak Tuhan
4.Melihat Tuhan
4.1. Yang Tak Melihat Tuhan
5. Fungsi Tuhan
5.1. Sumber Ketentraman
5.1.1. Pencipta Alam Semesta
5.1.1.1. Pencipta Manusia
5.1.1.2. Pencipta Langit Dan Bumi
6. Konsep Ketuhanan Dalam Buddhisme
====================

6. Konsep Ketuhanan Dalam Buddhisme
Edisi : 01 Oktober 2017, 18:43:47

A. Setiap Umat Buddha mengakui keberadaan Tuhan yang Maha Esa
O. Sebagian Umat Buddha tidak mengakui keberadaan Tuhan yang Maha Esa

Mana yang benar ? Saya meyakini, yang benar adalah O,  Sebagian Umat Buddha tidak mengakui adanya Tuhan yang Maha Esa. Bagaimana menurut keyakinan Anda ?

Sebenarnya, yang saya dimaksud dengan "sebagian Umat Buddhis" di atas adalah "mayoritas umat Buddhis". Hanya saja, istilah "mayoritas" ini akan mendapat penolakan dari umat Buddhis itu sendiri. Dan saya akan sulit memberikan bukti soal "mayoritas" dan minoritas".  Karena itu, pernyataan saya hendak saya diskusikan adalah "sebagian umat Buddha tidak mempercayai kebeadaan Tuhan", dan bukan "mayoritas". Adapun soal mayoritas, anggaplah sebagai bentuk kesan atau dugaan-dugaan yang masih harus dibuktikan kebenarannya.

 Soal "sebagian umat Buddha tidak mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa", mudah pembuktiannya. Dengan menelusuri tulisan-tulisan, atau diskusi-diskusi Buddhisme di Internet, kita dapat menemukan fakta-fakta bahwa memang umat Buddha tidak mengakui keberadaan Tuhan. Sehingga pernyataan "sebagian Umat Buddha tidak mengakui keberadaan Tuhan", maka pernyataan ini tidak akan dianggap sebagai "tuduhan tak berdasar", "fitnah" atau sesuatu yang perlu untuk diingkari. Berbeda lagi, apabila saya katakan "mayoritas umat Buddha tidak mengakui keberadaan Tuhan", maka akan dapat dituduh sebagai fitnah.

Anggapan bahwa umat Buddha tidak mempercayai keberadaan Tuhan, itu bukan hanya dari saya, tapi siapa yang menyelami Buddhisme, niscaya akan memiliki anggapan yang sama. Itu digambarkan oleh Bikkhu pavorite saya, Bikkhu Uttamo :

"Umat Buddha kadang dianggap masyarakat luas sebagai orang yang tidak bertuhan. Agama Buddha sering pula dikatakan sebagai agama yang tidak bertuhan. Bahkan, pada suatu pertemuan dengan para pemuka agama, saya pernah menerima pernyataan dari pemuka agama lain bahwa Agama Buddha tidak bertuhan." [1]

Nah, seperti kata Bikkhu Utomo "dianggap masyarakat luas". Dan saya adalah bagian dari masyarakat luas itu. Kemudian dari perkataan Bikkhu Uttamo tergambar bahwa anggapan seperti itu merupakan tuduhan yang tak berdasar terhadap keyakinan Buddhisme. Bikkhu Utomo berkata, "Menanggapi pernyataan yang bersifat tuduhan ini, saya jawab dengan pertanyaan lain: `Manakah agama di Indonesia yang bertuhan?`" Jelas terlihat bahwa statement-statement yang menegaskan bahwa Umat Buddha tidak mempercayai keberadaan Tuhan dianggap sebagai "serangan terhadap keyakinan Buddhisme", sehingga kemudian Bikkhu Uttamo merasa perlu menyampaikan argument-argument untuk menangkis statement-statement tersebut.

Sebelum kita mengupas, bagaimana pembelaan Bikkhu Uttamo dalam menangkis tuduhan terhadap keyakinan Buddhisme tadi, saya akan ceritakn dulu sedikit pengalaman saya diskusi dengan kawan Buddhis dan pandangan saya terhadap keyakinan Buddhisme.

Kurang lebih tujuh tahun lamanya, saya menjalin diskusi-diskusi dengan umat Buddhis. Dari situ saya mengetahui bahwa mayoritas umat Buddhis tidak mempercayai adanya sosok Tuhan. Menurut mereka, sosok Tuhan adalah khayalan pikiran manusia. Tetapi, di Indonesia umat Buddha perlu diwadahi oleh suatu kelembagaan formal yang diakui oleh hukum yang berlaku di Indonesia, yang berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena itu, secara formal, umat Buddha mengakui keesaan Tuhan. Jadi, secara formal, kalau saya menuduh umat Buddha tidak mengakui adanya Tuhan yang Maha Esa, maka akan dianggap fitnah. Tetapi, di sisi lain jika saya mengatakan "mayoritas umat Buddha percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa" maka saya merasa bahwa saya telah mengatakan hal bohong. Perlu difahami, bahwa pengakuan pada asas "Ketuhanan Yang Maha Esa" oleh lembaga-lembaga Buddhisme secara formal,  itu suatu bentuk mode aman, agar dapat diakui dan selaras dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kira-kira seperti konsep Taqiyah dalam Syiah, atau Bithonah dari kelompok LDII. Jadi, jika secara resmi, kita tidak dapat mengatakan bahwa Mayoritas Umat Buddha mengingkari Ketuhanan yang Maha Esa. Tetapi Anda dapat berkomunikasi langsung dengan kawan-kawan Buddhis, di dunia nyata, di medsos, dan mulai berbicang soal ketuhanan, niscaya Anda tahu bahwa mereka seperti Atheis, mengingkari adanya Tuhan.

Sebagian mengatakan, "yang kami ingkari hanyalah sosok Tuhan yang personal, yang bisa berbicara, bisa marah, bisa senang, dst. Adapun kami mengakui adanya Tuhan yang tak personal." Inipun sebagai bentuk taqiyah, biasanya disampaikan kepada para penganut agama samawi, untuk mengesankan bahwa mereka tidak mengingkari ketuhanan. Tetapi, kita dapat lihat diskusi-diskusi diantara mereka sendiri, maka kita dapat mengetahui bahwa memang mereka mengingkari keberadaan  yang namanya personal atau non personal.

Ada kelompok minor dari Buddhisme yang mengakui keberadaan Tuhan, yaitu kelompok Maitreya. Dan bahkan karena ini, kemudian sebagian umat Buddhis tidak mengakui kelompok Maitreya sebagai bagian dari Buddhisme, atau terkadang dituduh sebagai aliran sesat.

Akan tetapi, saya sejak dulu selalu tidak setuju dengan keyakinan "tiada Tuhan". Dalam Buddhisme sendiri, seluruh praktik buddhisme adalah "jalan menuju kebebasan" dari kelahiran yang berulang, jalan keluar dari samsara. Ini berarti, menuju kepada "keabadian hal baru" atau "kepuasan tanpa batas", dan hal ini tidaklah mungkin, kecuali ada sumber yang juga abadi tanpa batas. Dan jika ada sumber abadi tanpa batas, maka tak lain itu adalah sosok Tuhan.

Buddha berkata, "Ketahuilah para bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.”( Sutta Pitaka, Udana VIII : 3)

Perhatikan pada kalimat "apabila tidak ada yang tak dilahirkan, maka tidak mungkin kita bebas dari kelahiran". Dengan bahasa lain, "jika tak ada yang tak dilahirkan, mustahil kita mencapai kepuasan abadi, mustahil bebas dari penderitaan, dan mencapai kebhagiaan yang sempurna."

Sekarang kita tanya pada Anda yang muslim, jika sosok yang mempunyai kriteria :

1. tidak dilahirkan
2. tidak tercipta
3. bersifat mutlak

maka sosok apakah itu ?

Jika disebutkan "tak dilahikan, tak tercipta dan bersifat mutlak" niscaya kaum muslimin mengenalinya sebagai Tuhan. Benar ?

Karena itulah, saya atau siapapun Anda yang muslim, jika membaca sabda Buddha pada Sutta Pitaka, Udana VIII : 3 tersebut, tentu akan berkesimpulan bahwa tidaklah benar sang Buddha mengingkari keberadaan Tuhan. Sebaliknya sang Buddha menegaskan keberadaan Tuhan yang bersifat Esa, Tak Berawal, Tak Berakhir, Tak Diciptakan, Tak Dilahirkan dan As Shomad, yakni termpat bergantung segala sesuatu. Bandungkan sabda Buddha di Sutta Pittaka tersebut dengan isi kandungan surah al Ikhlas ! Karena itu, di kalangan ulama Islam, banyak yang meyakini bahwa sang Buddha adalah salah satu dari nabi-nabi Allah yang mengajarkan Tauhid. Sehingga ketika umat Buddha mengingkari keberadaan Tuhan, itu diyakini sebagai bentuk penyimpangan dari ajaran sang Buddha.

Salah satu contoh, bagaimana muslim meyakini bahwa Sang Buddha adalah Nabi Allah. Sebagian muslim yeyakini sang Buddha sebagai Nabi Zulkifli [2]dan sebagiannya meyakini Sang Buddha sebagai Nabi Idris[3]. Saya sendiri meyakini bahwa sang Buddha adalah salah satu dari nabi-nabi Allah, tetapi tidak setuju kalau dikatakan bahwa sang Buddha adalah Nabi Idris maupun Zulkifli. Tidak ada dasar yang jelas untuk mengidentikan antara Buddha dengan Nabi Zulkifli atau Nabi Idris. Bahkan saya berpikir, mereka yang mengidentikan Buddha dengan kedua nabi tersebut, adalah orang-orang yang kurang menyimak sejarah kehidupan sang Buddha. Kalau cukup banyak membaca, kisah kehidupan sang Buddha sejak kelahiran hingga beliau mencapai parinibbana, maka jauhlah kita untuk menyimpulkan bahwa sang Buddha adalah Nabi Idris atau Zulkifli.

Ust. Yusuf Anas pernah berkata, bahwa ada seorang ulama di Iran mengatakan bahwa Buddha itu seorang nabi. Ketika ditanya soal alasannya, jawabannya "karena perilakunya seperti nabi".  Demikan pula, guru spiritual saya, kang Irman, beliau mengatakan "saya meyakini bahwa Buddha adalah salah satu dari nabi-nabi Allah."

Kutip : [3]
-------------
السؤال الأول من الفتوى رقم ( 21004 )
Pertanyaan pertama untuk fatwa Lajnah Daimah no 21004
 
س1 : ما حكم الإسلام فيمن يقول : إن ( بوذا ) نبي؟
Pertanyaan, “Apa hukumnya dalam Islam untuk orang yang mengatakan bahwa Budha itu seorang nabi?”
=========

Tanya jawab ini merupakan gambaran bahwa di kalangan muslim itu banyak orang meyakini bahwa Buddha itu seorang nabi.

Walaupun tidak dapat saya sebutkan nama-nama ulama yang meyakini kenabian sang Buddha, tetapi dapat saya katakan, banyak ulama yang meyakini kenabian sang Buddha. Adapun ulama-ulama dari kelompok Salafi dan LDII mengingkari kenabian sang Buddha. Bahkan ada yang memberi fatwa, bahwa barang siapa yang meyakini Buddha sebagai nabi, maka dia itu kafir. Seperti yang saya dapati dari kelanjutan tanya jawab di atas :

Kutip :
-------------

ج1 : بوذا ليس نبيا ، بل كان كافرا فيلسوفا ، يتنسك على غير دين سماوي ، فمن اعتقد بنبوته فهو كافر .
Jawaban, “Budha itu bukanlah seorang nabi. Yang benar, dia adalah seorang ahli filsafat yang kafir. Dia beribadah tanpa mengikuti tuntunan agama yang berdasarkan wahyu. Siapa saja yang menyakini bahwa Budha itu nabi maka dia adalah orang yang kafir.
=========

Demikian itulah gambaran bagaimana pandangan kaum muslimin terhadap Buddha dan ajarannya. Ada yang meyakininya sebagai nabi, dan sebaliknya ada yang meyakininya sebagai filsuf kafir. Dan saya termasuk orang yang meyakini Buddha sebagai nabi. Selanjutnya, mari kita simak, bagaimana penjelasan Bikkhu Uttamo dalam menangkis tuduhan bahwa "Umat Buddha tidak mengakui keberadaan Tuhan".

Bikkhu Uttamo :
------------
istilah ‘tuhan’ sesungguhnya berasal dari Bahasa Kawi. Oleh karena itu, pengertian kata ‘tuhan’ terdapat dalam kamus Bahasa Kawi. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa ‘tuhan’ berarti penguasa atau tuan. Dan, karena di Indonesia tidak ada agama yang mempergunakan Bahasa Kawi sebagai bahasa kitab sucinya, lalu agama manakah di Indonesia yang bertuhan dan mencantumkan istilah ‘tuhan’ dalam kitab suci aslinya?
========

Maksud Bikkhu Uttamo, seperti di dalam al Quran , tidak terhadap istilah "Tuhan", adanya "rabb", "Allah", atau "ilah". Demikian pula di dalam kita Tripitaka, kitab suci agama Buddha, karena menggunakan bahasa Pali, maka tidak ada istilah "Tuhan". Walaupun di dalam kitab al Quran tidak ada kata "Tuhan", tetapi muslimin mengaku "bertuhan". Karena itu, jangan pula karena di dalam Tripitaka tidak ada kata "Tuhan", lantas menuduh umat Buddha tidak bertuhan.

Pertanyaannya, siapakah yang menuduh umat Buddha tak berTuhan karena di Tripitaka tidak ditemukan istilah Tuhan ? Jika ada orang yang menuduh seperti itu, tentulah sangat konyol. Mari perhatikan, apa alasan sebenarnya orang-orang mengatakan "Umat Buddha mengingkari keberadaan Tuhan". Dan jangan mengupas alasan yang tidak dipergunakan orang.

Bikkhu Uttamo :
--------------
Jika demikian dalam Tipitaka, kitab suci Agama Buddha, tentu juga tidak akan pernah ditemukan istilah ‘tuhan’ karena Tipitaka menggunakan Bahasa Pali yaitu bahasa yang dipergunakan di India pada jaman dahulu. Namun, tidak adanya istilah ‘tuhan’ dalam kitab suci Tipitaka tentunya tidak boleh dengan mudah dan sembarangan kemudian orang menyebutkan bahwa ‘Agama Buddha tidak bertuhan’. Salah pengertian dan penafsiran sedemikian sembrono tentunya berpotensi menjadi pemicu pertentangan antar umat beragama di Indonesia bahkan di berbagai belahan dunia.
===========

Tentu saya tidak berharap terjadinya pertentangan antar umat beragama di Indonesia. Tetapi, setiap orang menginginkan informasi yang benar, bukan yang bohong. Karena tak ada orang yang ingin dibohongi. Kita tidak ingin memicu pertentangan, dan membesar-besarkan perbedaan, tetapi apabila ada dua keyakinan yang kontradiktif, maka kita harus dapat melihatnya sebagai kontradiktif. Itu berarti "melihat apa adanya". Jika keyakinan kontradiktif kemudian dianggap sebagai alternatif, itu berarti tertipu atau terbohongi.

Di salah satu forum diskusi, seorang mengaku diri sebagai "mantan muslim". Dia mengatakan "saya keluar dari Islam, karena di Islam saya diperintahkan untuk berdoa kepada sesuatu yang gak jelas." Dan dalam banyak diskusi-diskusi, seringkali saya merasa bahwa statement-statement mereka melecehkan keyakinan umat Islam. Tapi kemudian saya menepis pikiran negatif ini, bahwa mereka tidak bermaksud untuk melecehkan, hanya mencoba mengungkapkan apa yang merka yakini. Demikian pula saya, sama sekali tidak bermaksud "menyerang" keyakinan Buddhis, tidak pula ingin memicu perselisihan, melainakn hanya mengharapkan informasi yang benar. Dan bila ternyata ada informasi yang tak benar, kewajiban kita semua "meluruskan pandangan". Karena sebagaimana diyakini umat Buddha sendiri, "meluruskan pandangan" adalah salah satu dari kebajikan.

Karena itu, bagi Anda yang Buddhis, dipersilakan mengoreksi atau "meluruskan pandangan" jika di dalam pernyataan-pernyataan saya ada kekeliruan. Tapi bila pernyataan saya benar, maka jangan enggan untuk mengakuinya sebagai kebenaran. Sebab, saya tidaklah menyebut seseorang itu kafir karena dia itu non-muslim, melainkan karena sikapnya yang mengingkari kebenaran.

Bikkhu Uttamo:
--------------
Padahal, dalam Agama Buddha yang menggunakan kitab suci berbahasa Pali, konsep ketuhanan yang dimaksud mempergunakan istilah Nibbana atau lebih dikenal secara luas sebagai Nirvana (Bahasa Sanskerta). Jadi, seseorang tidak akan pernah menemukan istilah ‘tuhan’ dalam Tipitaka, melainkan istilah ‘nibbana’. Nibbana inilah yang sering dibabarkan oleh Sang Buddha di berbagai kesempatan kepada bermacam-macam lapisan masyarakat. Nibbana ini pula yang menjadi tujuan akhir seorang umat Buddha, sama dengan berbagai konsep ketuhanan dalam agama lain yang juga menjadi tujuan akhir mereka masing-masing.
==========

Nah, .. Saya setuju dengan pendapat Bikkhu Uttamo. Sebagaimana digambarkan di dalam Sutta Pittaka, Nibbana adalah Tuhan. Pertanyaan kami, ini adalah taqiyah atau bukan ? Mari kita simak pernyataan-pernyataan umat Buddhis tentang Tuhan :

Pada kenyataannya, Sang Buddha justru menolak teori / pandangan adanya sosok “Maha-Pencipta” dan “Maha-Kuasa” dalam bentuk apapun.[4]

Tidak ada Sang Pencipta, tidak ada Yang Maha Kuasa, tidak ada Yang Memberi Wahyu.

Apa itu Tuhan menurut Ratna Kumara, seorang Buddhis :
------------------
Setelah pencerahan-Nya, Sang Buddha kemudian menembus dan memahami, bahwa sosok-sosok “Maha-Dewa-Yang-Maha” yang sebelumnya banyak dipuja-puji oleh banyak aliran spiritual sebelum Beliau hadir dan ketika Beliau masih hidup, ternyata hanyalah sekumpulan Dewa, dari surga Kamadhatu, Rupadhatu, hingga Arupadhatu. Untuk Dewa lingkup Kamadhatu, watak Dewa disana masih memiliki nafsu dan emosi, sehingga pantas beberapa “Maha-Dewa” yang diyakini sebagai pemilik “kuasa” memiliki watak seperti itu ( pendendam, pemarah, pencemburu, suka berperang, bangga akan “kekuatan” dan “kekuasaan ). Dan Dewa-dewa dari lingkup kamadhatu ini, selain dikenali dari wataknya, dapat dikenali dari satuan hitungan waktu ( missal, sehari semalam disana = 800 tahun waktu manusia, atau sehari semalam disana = 1.600 tahun waktu manusia, maka Tuhan tersebut berarti hidup di alam surga Kamadhatu, tepatnya di alam Nimmanarati dan Paranimmittavasavatti ).
================

Jadi, apa yang disebut Tuhan oleh umat manusia, menurut Ratna Kumara sebenarnya dewa-dewa yang kelak akan mati juga. Jadi, tak ada Tuhan yang kekal, abadi, dan maha pencipta.

Ratna Kumaha menegaskan kembali tiadanya Tuhan :
----------------
Dengan pembagian surga-surga tersebut, Sang Buddha bertujuan memberikan “pencerahan” kepada semua makhluk, bahwa sesungguhnya, apa yang disebut sebagai “Maha-Kuasa” yang “Tunggal”, sesungguhnya tidak ada. Sebab, yang ada hanyalah kumpulan dari para Dewa yang jumlahnya sangat banyak. Dan Sang Buddha, kemudian menunjukkan, bahwa pembebasan dari lautan samsara, bukanlah untuk terlahir di alam-alam “Tuhan” tersebut, tetapi pelenyapan dari keserakahan/nafsu-indriya ( lobha ), kemarahan/kebencian (dosa), dan kebodohan/kegelapan batin ( moha ), ialah saat kita merealisasi   N I B B A N A.
============

Jadi, umat Buddhis sendiri yang seringkali menegaskan "tiada Tuhan", tapi bagaimana ketika ada umat lain mengatakan "Umat Buddha mengingkari keberadaan Tuhan" lantas dikatakan "tuduhan tak berdasar" ?

Ada yang mengatakan "ada Tuhan yang kami akui keberadaannya, dan ada yang kami ingkari. Tuhan yang kami ingkari itu Tuhan yang Maha Pencipta, Yang Maha Kuasa, suka marah dan cemburu. Adapun Tuhan yang kami kami keberadaannya adalah tujuan akhir dari perjalanan spiritual, yaitu Nibbana." Benarkah ?

Kawan-kawan saya yang Buddhis di forum diskusi mengatakan Nibbana itu adalah "kondisi Bathin". Demikian pula dengan pernyataan Ratna Kumara :
---------------------
Meskipun Sang Buddha menolak adanya sosok “Pencipta”, “Maha-Kuasa”, namun, Sang Buddha menunjukkan suatu “Tujuan-Sejati” bagi kehidupan spiritual/rohani yang jauh lebih dalam dan luas daripada sekedar menuju “Penyatuan-Atman-Brahman” ( Jawa : “Manunggaling-Kawula-Lan-Gusti” )  sebagaimana banyak ajaran spiritual mengajarkannya . Apa yang menjadi tujuan-sejati dalam Buddha-Dhamma itu, adalah suatu kondisi batin sebagai hasil realisasi-pembebasan sempurna dari proses tumimbal-lahir, pembebasan dari samsara, yaitu :  N I B B A N A.
=============

Jadi, apa yang didefinisikan sebagai "Tuhan" oleh Bikkhu Uttamo adalah "kondisi Bathin" ? Bagaimana kemudian kondisi Bathin ini disebut "Maha Esa" , "tak dilahirkan", "yang mutlak", sedangkan Buddha berkata "semua bentukan mental tidaklah kekal" ? Bukankah bathin itu mental ? Apakah Tuhan berkondisi ?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut saya tunggu. Syukur-syukur bila Bikkhu Uttamo sendiri yang memberi tanggapan.

Sadhu, Sadhu, Sadhu ! _/\_
___________
1) https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/ketuhanan-dalam-agama-buddha/
2) https://www.isains.com/2015/02/benarkah-buddha-sosok-yang-sama-dengan.html
3) http://ustadzaris.com/budha-itu-nabi
4) https://ratnakumara.wordpress.com/2009/06/22/tuhan-yang-maha-dimata-seorang-buddha/


13
Meditasi / Moment Berpikir
« pada: Oktober 01, 2017, 09:18:10 AM »
Daftar Isi
====================
1. menyalakan api Filsafat
1.1. Kekuatan Berpikir
1.1.1. Berpikir Tanpa Lelah
1.1.2. [Moment Berpikir]
====================

1.1.2.  Moment Berpikir
Edisi : 01 Oktober 2017, 09:12:35

Tujuan :
- memberikan gambaran manfaat meditasi untuk proses belajar
- memberikan gambaran tentang teknis meditasi untuk mengenal "Moment Berpikir"
- mendefinisikan "Moment Berpikir"
- memahami praktik meditasi sebagai bagian dari teknis belajar.
- belajar mengatasi kemalasan melalui praktik meditasi
- mendapatkan pengalaman usaha untuk mendapatkan kesadaran tentang "Moment Berpikir" dari praktik meditasi.
- merumuskan masalah yang ditemukan dalam praktik meditasi serta melaporkannya.

Sasaran Pembaca :
- Pembaca yang telah mengenal teknik dasar meditasi
- Pembaca yang sudah terbiasa dengan praktik meditasi
==========================

A. Pengantar

Dengan menyadari "moment berpikir" Anda akan dapat lebih memaksimalkan dan mengefisienkan energi berpikir Anda.

Kita semua sadar akan pentingnya belajar. Bahkan dalam Islam sudah dikenal populer sabda nabi, "thalabul ilmi faridhatun `ala kulli muslimin wal muslimat". Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi kaum muslimin. "minal mahdi ila lahdi", sejak dari buaian ibunda hingga liang lahat.

Walaupun sadar akan pentingnya belajar, tidak semua orang memiliki semangat yang kuat untuk belajar. Sebagian orang masuk ke dalam kategori pemalas. Tidak sedikit saya saksikan, anak-anak remaja yang putus sekolah bukan karena orang tuanya tidak mampu membiayai, tapi mereka malas belajar. "Belajar" dirasakan oleh mereka sebagai suatu beban. Banyak faktor yang mempengaruhinya, terutama dari faktor mental mereka sendiri, yang lain pengaruh dari teknis belajar yang salah, juga akibat sistem pendidikan yang kurang baik.

Berikut saya kisahkan, salah satu faktor yang mempengaruhi kemalasan siswa dalam belajar :
------------------------
Saya pernah mengajar di sebuah SMK pada bidang pelajaran pemrograman. Tapi di sekolah tersebut tak ada komputer. Trus.. Anak-anak bagaimana belajar pemrograman kalau gak ada komputer ? Itu seperti belajar teori berenang, tapi gak ada kolam renangnya. Belajar nyetir, tapi gak ada kendaraannya. Apa bisa teori diajarkan ? Ya bisa. Tapi jadi sesuatu yang rumit, tidak efektif, dan membosankan. Kalau begitu, ya wajar saja anak-anak jadi malas belajar. Butuh sarana yang baik untuk belajar jadi terasa menyenangkan.

Ada 20 komputer di laboratorium komputer, tapi semuanya rusak. Sekolah tidak memiliki alokasi dana untuk sekedar service komputer, apalagi untuk beli komputer baru. Akhirnya saya inisiatif memperbaiki komputer-komputer rusak itu. Sepulang mengajar pukul 17.00, saya tidak pulang ke rumah, melainkan masuk ke lab komputer dan memperbaiki komputer sepanjang malam. Saya kerjakan hal itu setiap malam hingga 2 minggu lamanya. Saya istirahat tidur di lab hanya 1 atau 2 jam dalam semalam. Pagi-pagi, pulang ke rumah sebentar, untuk mandi dan makan, lalu pergi lagi ke sekolah untuk mengajar. Dan upah yang diberikan sekolah untuk service 20 komputer selama dua minggu hanyalah 300 ribu rupiah. Saya rasa, tidak upah ini tidak berimbang dengan tenaga, waktu dan keahilian. Tetapi, apa boleh buat. Sejak awal saya mengetahui, bahwa sekolah tidak memiliki alokasi dana untuk service. Katanya, upah uang yang diberikan sebagai upah service itu juga dari saku pribadi kepala sekolah. Walau demikian, saya beremangat untuk bekerja keras, demi kelancaran proses belajar mengajar.

Setelah anak-anak mendapatkan sarana yang tepat untuk belajar pemrograman, gairah untuk belajar meningkat. Tetapi, peningkatannya tidak cukup membuat anak-anak dapat disebut "semangat belajar". Masih banyak faktor-faktor lainnya yang menjadi hambatan belajar. Saat di dalam kelas, ada anak yang sering terlihat terkantuk-kantuk, ada juga yang gemar mengobrol dengan temannya, sebagian lagi menyimak dengan serius, tapi tampak bingung, dan sebagiannya tampak gelisah. Sebagai guru, saya harus dapat merespon semua kondisi siswa. Misalnya, saya sengaja menyebut nama siswa  dalam suatu percontohan kasus atau meminta dia memberi suatu contoh dari materi yang sedang dibahas, semata-mata untuk menghilangkan rasa kantuk si anak. Kadang metoda belajar diubah kepada diskusi kelas, dan saya hanya bertindak sebagai moderator. Beragama cara dilakukan, agar siswa merasa senang belajar. Jadi, bukan hanya sarana yang tepat, tetapi juga metoda belajar mengajar harus bagus, sehingga semangat belajar dapat berkembang.

Setelah melakukan perbaikan sarana dan metoda belajar,  semangat belajar siswa lebih berkembang. Tetapi, sebagian siswa masih terlihat sangat malas. Dia sangat sulit mengerti pengajaran. Adanya sarana dan metoda yang baik, di mana membuat siswa lainnya jadi bersemangat, bagi siswa yang ini, semua itu tidak cukup membuatnya semangat. Hal itu karena persoalan-persoalan mental yang sedang dialaminya. Misalnya, keluarga anak ini menghadapi problem yang buruk, pergaulan yang buruk, atau perselisihan yang sedang terjadi dengan pacarnya. Ini juga merupakan problem yang memerlukan penanganan secara khusus. Dan satu faktor khusus yang lebih saya perhatikan adalah mereka menganggap proses belajar sebagai beban. Ketika mereka mulai membaca buku, atau menyimak suatu pelajaran, atau memikirkan rumus-rumus yang rumit, mental mereka langsung ngedrop, serta mengalami ketegangan otot dan syaraf. Hal ini membuat proses belajar menjadi terasa menyakitkan.

Saya memiliki suatu solusi untuk mengatasi masalah-masalah mental yang dihadapi oleh mereka, termasuk teknis untuk meredakan ketegangan-ketegangan otot dan syarat yang menyakitkan. Metoda yang saya gunakan adalah meditasi. Praktik meditasi dapat membangung kekuatan ketenangan dan semangat, merendakan segala bentuk ketegangan mental. Terlebih lagi, meditasi membangun kekuatan berpikir. Dengan praktik meditasi, mereka yang tadinya sangat malas dalam belajar, malas berpikir, kemudian dapat berubah menjadi seseorang yang sangat gemar belajar, bahkan sampai pada titik "gila ilmu pengetahuan". Maksudnya bukan menjadi gila, tapi kata "gila" di sini, menjadi orang yang begitu bersemangat dalam belajar. Itu sebagaimana yang saya alami sendiri.  Di mana sebelumnya saya sangat malas membaca buku, setelah belajar suatu teknik meditasi tertentu, saya jadi sangat gemar membaca, hingga senang mengurung diri hingga berminggu-minggu lamanya dan diam di dalam kamar,  dan yang dilakukan hanya membaca dan menulis tanpa pernah merasa jemu. Bahkan kadang tanpa tidur selama itu. Hal itu, karna saya mengetahui cara charge pikiran. Seperti baterai HP yang sudah low, kemudian bisa dicharge lagi. Demikian pikiran, ketika lelah berpikir, dapat dicharge dengan suatu teknis meditasi, maka kemudian menjadi fresh lagi, dan energi berpikirnya menjadi kuat lagi.

Akan tetapi, sewaktu di SMK itu, tak ada alokasi waktu bagi saya untuk mengajarkan teknis meditasi. Sekolah tidak memiliki program pelatihan meditasi. Maka, solusi yang saya miliki untuk mengatasi kemalasan belajar para siswa tidak dapat saya berikan. Tetapi saya harus tetap mengajar, dengan kondisi para siswa yang dapt dikatakan "kurang semangat belajar".
=============

Kepada Anda yang ingin mengatasi kemalasan dalam belajar, maka saya ingin berbagi salah satu trik belajar agar belajar itu terasa lebih menyenangkan, tidak dirasakan sebagai beban, dan anda dapat lebih mengefisienkan energi pikiran anda untuk keperluan belajar dengan mengenali apa yang disebut dengan "moment berpikir".

Teknis meditasi yang saya paparkan untuk menyadari moment berpikir ini, bisa jadi terkesan ribet dan menyusahkan. Tapi sebenarnya hal sederhana, seperti menjelaskan "bagaimaan caranya mengayuh sepeda". Kalau anda menulisnya tentu akan menjadi panjang lebar, bahasanya rumit baik bagi diri saya sendiri maupun bagi pembaca. Tapi, kalaulah saja dipraktikan langsung, maka mengayuh sepeda itu adalah hal biasa dan sederhana saja. Menjelaskan trik meditasi melalui kata-kata, itu seperti anda menjelaskan pada anak anda tentang bagaimana cara bersepeda. Akan lebih mudah bagi Anda bila langsung mengajak anak anda ke lapangan dan membimbing anak anda untuk bersepeda.
Karena itu, untuk memudahkan pemahaman tentang tekik meditasi ini perlu melalui eksperimen.  Dari ekspreimen itulah kita akan mempelajari pengetahuan yang sesungguhnya. Apa yang saya jelaskan d sini hanyalah petunjuk. Dan anda tidak harus mempercayai petunjuk itu. Tetapi apa yang anda temukan dalam pengalaman anda sendiri, itulah yang perlu anda percayai. Karena anda sudah tidak dapat mengingkarinya lagi.

Praktik meditasi yang terasa rumit juga dapat diperumpamakan seperti usaha membuat sebuah mesin yang diperlukan untuk membantu mempermudah pekerjaan manusia. Misalnya mesin pemotong baja ringan. Saat pembuatannya tentu itu cukup rumit, lebih rumit dari pekerjaan memotong baja ringan itu sendiri yang dilakukan dengan gergaji besi. Tetapi, setelah mesin pemotong itu jadi, maka pekerjaan memotong baja 10 kali lebih cepat dan lebih mudah dari sebelumnya. Karena itu, jangan putus asa apabila dalam praktik meditasi yang terasa rumit. Perlu diingat bahwa setelah anda terampil dalam praktik ini, maka pekerjaan anda selanjutnya akan 10 kali lebih mudah dan cepat. Saya contohnya, tidak perlu waktu lama untuk menyadari moment berpikir melalui teknik meditasi, hanya butuh waktu hitungan menit atau bahkan detik. Juga tidak perlu waktu lama untuk mengatasi rasa sakit pada tubuh dengan teknik konsentrasi, hanya perlu waktu kurang dari 3 menit saja.  Sekarang hal tersebut terasa mudah. Tapi kemudahan tersebut adalah berkat hasil latihan selama belasan tahun lamanya.

Kemudian, sebelum Anda mencoba mempraktikan teknik meditasi yang akan saya paparkan, saya berpesan agar anda berhati-hati dalam mempraktikan teknik meditasi apapun. Karena teknik meditasi tertentu dalam menimbulkan suatu perubahan mental yang radikal kepada diri Anda. Bila anda tidak siap dengan perubahan yang radikal itu, maka itu dapat berbahaya. Bersikaplah seperti seekor Hap-Hap, hewan yang bentuknya seperti seekor cicak, namun dia dapat melompat seperti seekor bajing dan ada selaput yang merentang seperti sayap. Hap-hap ini selalu menggoyang-goyangkan batang pohon untuk menguji apakah pohon yang dipijaknya kuat atau tidak untuk dijadikan landasan melompat. Begitu pula Anda, setiap teori yang hendak anda praktikan itu Anda perlu mempertimbangkan terlebih dahulu secara matang-matang, apakah hal itu aman untuk anda praktikan atau tidak. Kemudian praktikan sedikit, coba sedikit dan berhenti dulu untuk mengevaluasi bagaimana hasilnya. Jika aman bagi Anda, maka silahkan melanjutkan.  Selalu waspada dan hati-hati, karena tidak ada yang lebih bertanggungjawab atas keselamatan diri Anda, kecuali diri Anda sendiri. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di dalam proses meditasi, belum tentulah saya akan dapat menolong. Ini butuh keberanian diri Anda sendiri, serta kesiapan Anda dalam menghadapi segala resikonya. Jika Anda ragu-ragu atau tidak siap, maka sebaiknya jangan dulu mempraktikan trik meditasi yang sebenarnya sederhana ini.


B. Teknik Meditasi

Apa itu moment berpikir ? Yaitu suatu kondisi di dalam pikiran Anda yang menunjukan saat-saat yang tepat untuk melakukan kegiatan berpikir. Moment berpikir ini selalu ada, bergulir setiap waktu, walaupun seringkali muncul dan lenyap dengan cepat. Tetapi, apabila anda selalu menyadari kemunculan Moment Berpikir, maka Anda dapat selalu berpikir aktif tanpa merasakan kelelahan akibat kegiatan berpikir ini.

Faktor-faktor yang diperlukan untuk dapat menyadari moment berpikir ini adalah "Konsentrasi". Anda tidak perlu memiliki kekuatan konsentrasi yang terlalu tinggi untuk persoalan ini, cukuplah dengan "sedikit usaha konsentrasi" yang menenangkan pikiran anda. Tentang bagaimana teknik mengembangkan konsentrasi, Anda dapat membaca tulisan saya berjudul : Empat Tahap Nafas.

Setelah usaha konsentrasi ini dilakukan, kemudian muncul faktor mental yang disebut dengan "Sadar Diri". Di sini, Anda memiliki kekuatan untuk menyadari hal-hal kecil yang terjadi pada tubuh dan mental anda. Tadinya anda tidak terlalu perduli dengan gerakan-gerakan kecil pada tubuh Anda. Tetapi setelah konsentrasi cukup berkembang, anda menjadi begitu menyadari gerakan-gerakan terkecil pada tubuh Anda. Anda mungkin akan mencoba untuk tidak memperdulikan kembali gerak-gerak tubuh anda atau sensasi-sensasi yang ada padanya. Tetapi, hal itu tidak bisa. Karena sekarang perhatian anda lebih tajam, sehingga gerak-gerak tubuh anda benar-benar terawasi kesadaran anda. Kondisi ini dapat menimbulkan perasaan tak nyaman, karena anda seperti agak terhalang dari memperhatikan dunia luar. Yang harus dilakukan dalam kondisi ini adalah "jangan melawan arus". Biarkan diri Anda tetap menyadari tubuh anda sendiri. Itu pertanda Anda masih dalam proses perkembangan mental. Akibat dari perhatian yang mendalam tersebut, kesadaran anda menjadi cepat, tetapi gerak-gerik tubuh anda menjadi lambat. Apabila tubuh anda bergerak terlalu cepat, Anda akan merasa kurang nyaman. Semakin cepat gerak kesadaran anda, maka gerakan tubuh anda akan menjadi semakin lambat. Jangan khawatir dengan kondisi ini. Selama anda dapat memperhatikan tubuh anda dengan nyaman, maka anda berada dalam proses meditasi yang benar.

Dengan usaha konsentrasi Anda akan menarik diri dari dunia luar, seperti kura-kura menarik diri ke dalam tempurungnya sampai merasa nyaman di dalam tempurung. Ketika Anda merasa nyaman dari gangguan luar, Anda akan diganggu oleh sensasi-sensasi pada jasmani. Anda akan menyadari sentuhan-sentuhan kecil sekalipun yang terjadi pada tubuh. Maka perhatikan sentuhan-sentuhan itu. Seluruh indera Anda juga akan diganggu oleh rangsangan-rangsangan dari luar. Tetapi Anda sudah tidak memperdulikan lagi objek-objek luar itu, melainkan fokus pada rangsangan-rangsangan itu sendiri. Seperti antara udara dan rasa dingin pada kulit. Anda sudah tidak peduli dengan udara, karena anda fokus pada sensasi rasa dingin yang menyentuh kulit anda. Ini adalah fase di mana Anda memperhatikan perilaku indera anda sendiri. Karena itu, untuk menguatkan fase ini, Anda perlu terus menerus memperhatikan perilaku indera Anda dengan cara membatin. Misalnya, jika Anda mendengar suara burung, maka Anda menyadari bahwa telinga anda sedang mendengar. Dan lalu Anda membatin, "mendengar, mendengar, mendengar." demikian pula ketika seekor semut terasa merayak di kulit tangan anda, maka anda dapat membatin, "terasa, terasa, terasa" atau "menyentuh, menyentuh, menyentuh". Yang anda katakan dalam hati itu adalah perilaku indera anda, dan bukan objek yang ditangkap oleh indera.

Bagi pemula, terkadang merasa kaget atau panik atas suatu pengalaman baru yang aneh. Dia merasakan heran, karena kesadarannya begitu cepat bergerak, sementara tubuhnya bergerak perlahan seperti kura-kura. Lalu dia mencoba untuk kembali kepada keadaan normal, tapi tidak bisa. Dia panik karena seolah mengalami keadaan seperti terjebak. Ini berbahaya dan dapat menimbulkan depresi. Karena itu, saya perlu memberikan solusinya sebelum hal itu Anda alami. Apabila anda merasa tidak nyaman dengan fase "sadar diri" ini, maka anda dapat kembali kepada kondisi normal dengan cara segera melakukan aktifitas fisik sehari-hari seperti berjalan-jalan, berkebun, bermain sepak bola, dll. 

Selanjutnya, apabila Anda bertahan dalam kondisi "Sadar Diri", maka akan muncul faktor mental lainnya, yaitu "Sadar Moment Berpikir".

Ini adalah fase di mana Anda berusaha mengalihkan perhatian anda dari objek panca indera ke perilaku panca indera. Apabila anda mendengar suara burung, kemudian anda membayangkan burung, lalu berpikir "burung ... Ini seperti suara burung perkutut ... Dulu.. Kakekku pernah memelihara burung perkutut yang berbunyi nyaring seperti ini." itu berarti Anda larut dalam suatu pemikiran untuk memikirkan soal burung. Jika pikiran Anda larut seperti ini, dan anda sadar bahwa Anda larut dalam suatu pemikiran, maka segera kembalikan kepada objek konsentrasi utama atau sekunder. Objek utama itu adalah nafas. Objek sekunder itu adalah perilaku indera tadi.

Setelah beberapa saat anda bertahan untuk fokus pada objek konsentrasi, maka Anda akan menyadari dengan jelas muncul dan lenyapnya faktor-faktor persepsi seperti imajinasi, kilesa, ingata-ingatan, kehendak untuk berpikir, bayangan-bayangan, khayalan-khayalan, ilusi atau halusinasi. Saat munculnya faktor-faktor persepsi ini, maka inilah yang dimaksud dengan "moment berpikir". Sebelum sampai pada fase ini, dorongan untuk berpikir dapat muncul, sehingga anda sering larut dalam pemikiran-pemikiran tertentu. Bedanya, jika anda larut dalam pemikiran, itu berarti pikiran Anda tidak terkendali. Anda akan terus memaksa pikiran anda untuk memikirkan sesuatu, karena tertarik oleh cinta dan benci. Tetapi apabila Anda berpikir pada fase moment berpikir, pikiran Anda benar-benar terkendali. Anda hanya akan memikirkan sesuatu, hanya jika Anda mengizinkan pikiran tersebut untuk berpikir. Karena itu, Anda akan berhenti berpikir, saat moment berpikir itu lenyap dan melanjutkannya saat moment itu muncul.

Semakin lama, kesadaran akan muncul dan lenyapnya moment berpikir ini semakin cepat. Dan Anda melihat bahwa munculnya moment berpikir ini adalah setiap saat, sehingga seolah-olah moment berpikir ini muncul tanpa henti. Itu seperti bunyi peluit kereta api yang panjang, seakan tanpa jeda. Tetapi, sebenarnya suara itu terputus-putus. Seperti halnya juga gambar di layar monitor, yang dapat ditampilkan selama berjam-jam. Padahal sebenarnya gambar tersebut muncul dan lenyap setiap saat, sebagai hasil dari pantulan sinyal elektrik yang dipancarkan terus menerus. Sejatinya gambar tersebut berkedip dengan sangt cepat. Karena saking cepatnya, mata manusia tidak sanggup untuk melihatnya, sehingga seolah-olah gambar tak pernah berkedip. Demikian pula cepatnya moment berpikir, itu muncul dan lenyap dengan sangat cepat. Tetapi kesadaran dapat bergerak lebih cepat dari kepakan sayap tawon, sehingg dapat menyadari muncul dan lenyapnya moment berpikir tadi.

Dengan berpikir pada saat moment yang tepat, itu berarti kita mendapatkan anugerah pikiran alami. Karena bersifat alami, maka tidak melelahkan sedikitpun. Seperti air yang mengalir. Dia tidak perlu mengeluarkan energi untuk mengalir, karena sifatnya sendiri akan membuatnya bergerak, mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Gambaran lain untuk memperjelas "moment berpikir" ini adalah seperti "mimpi indah". Saat anda bermimpi indah, di situ anda ada faktor kesadaran, perasaan, dan pengetahuan baru. Sementara tubuh anda beristirahat penuh. Orang yang bermeditasi itu melewati fase seperti "bermimpi indah" itu, tetapi dalam keadaan jaga.  Karena itu, walaupun pikirannya aktif berpikir, tubuhnya beristirahat penuh dan kegiatan itu tidak melelahkan tubuhnya sama sekali. Lain halnya dengan mimpi buruk, pada saat terbangun, orang yang bermimpi buruk dapat mengalami kelelahan secara fisik.

Hanya perlu sekali saja melewati prosedur meditasi yang tampak rumit tadi, selanjutnya, Anda tidak perlu melewati seluruh prosedur meditasi tadi karena Anda sudah mengenali dan menyadari adanya "Moment Berpikir" sehingga seperti alat yang sudah jadi, anda tidk perlu terus menerus membuat alat, sekarang anda tinggal mempergunakan alat tersebut untuk keperluan anda.

14
Cerpen / Jerit Hati Ummu Kultsum
« pada: September 30, 2017, 06:11:34 PM »
Daftar Isi
====================
1. Kisah Padang Karbala
1.1. Senja di Karbala
1.2. Mimpi Fatimah Binti Husain As
1.3. Syimr bin Dzil Jausyan
1.4. [Jerit Hati Ummu Kultsum]
====================

1.4 Jerit Hati Ummu Kultsum
Edisi : 30 September 2017, 18:04:36

Kepala manusia yang suci itu ditusuk di atas tombak, lalu diarak keliling negeri. Sementara, putri-putri nabi dirantai dan diseret bagaikan binatang. Lalu tibalah arak-arakan ini kota Kuffah. Penduduk Kuffah merasa iba, mereka menangis melihat apa yang terjadi pada putra putri Rasulullah saw. Lalu mulailah diantara mereka ada yang melemparkan koin dinar, dan yang lainnya melemparkan buah-buahan. Mereka pikir itu akan berguna bagi keluarga nabi yang sedang teraniaya itu. Tiba-tiba Ummu Kultsum menyeruak dari barisan dan berteriak lantang kepada penduduk Kuffah. "Wahai manusia ! Kami bukanlah pengemis ! Kami tidak membutuhkan iba dari kaum pengecut. Tidak perlulah kami dikasihani oleh para pengkhianat. Haram bagi kami menerima sedekah ! Kami adalah keluarga Ali." Lalu Ummu Kultsum memunguti buah-buahan yang berserakan ditanah dan melemparkannya kembali kepada orang-orang.

Ketika melihat sekompok wanita menangis, Ummu Kultsum berteriak, "Hai.. Hentikanlahlah tangisan kalian ! Tangisan kalian tidak akan menghentikan kekejaman suami-suami kalian, yang telah menyeret kami seperti gelandangan."

Di belakang rombongan putri-putri rasullah saw yang terikat rantai itu adalah barisan Ibnu Ziyad, di mana Umar bin Sa`ad mengangkat kepala Al Husein di atas tombaknya.

Setiap kali melihat kepala al Husein, jatuh air mata Ummu Kultsum. Malang nian nasib kakaknya itu.

Bagaimanakah kelak kalian menjawab nabi
jika ditanya,
apa yang kalian lakukan atas kami
betapa gegabah dan sungguh berani
mengaku menghormati nabi
tetapi menyiksa putra putri Ali
kalian laksana permaisuri
sedangkan kami bagaikan khuli
inikah cara kalian membalas budi ?
Bagaimana kalian menghadap kakek ku nanti

seperti itu kiranya, jerit hati Ummu Kultsum.

Sesampainya di istana,  Ubaidillah bin Ziyad bertanya dengan nada pongah, "Mana diantara kalian yang bernama Ummu Kultsum ?"

Semua diam.

Ubaidillah bertanya lebih keras lagi, "Siapa yang namanya Ummu Kultsum ?" jari telunjuk Ubaidillah menunjuk ke arah langit. Mata larak-lirik, seperti elang mencari mangsa. Tapi tak ada yang mau menjawab. Ubaidillah merasa tersinggung. "Hai, jawablah !"

Ummu Kultsum membuka suara, "Mengapa kamu perlu menanyakan hal itu ?"

"Ketahuilah ! Bahwa kakek kalian itu hanya pembual ! Kemenangan  kami, menunjukan bahwa kebenaran ada di pihak kami. Kini kami berkuasa." ujar Ubidillah.

"Hai musuh Allah !" bentak Ummu Kultsum, "bagianmu adalah nereka. Bersiap-siaplah untuk itu !"

Mendengar ucapan Ummu Kultsum, Ubaidillah tertawa terbahak-bahak, "ha..ha.. Aku tak perduli dengan nereka. Yang terpenting aku puas, kini dendamku terbalaskan."

Ummu Kultsum berkata, "Hai budak Yazid, akan lahir generasi yang membuktikan bahwa kebenaran pasti dimenangkan dan dimuliakan oleh Allah. Sedangkan kalian, para pemerkosa nurani akan terhina sepanjang sejarah."

Terbakarlah dada Ubaidilah dengan perkataan Ummu Kultsum, "Hai perempuan, seandainya kau lelaki, sudah kutebas lehermu !"

Berlinanglah air mata Ummu Kultsum, lalu dia berkata lirih, "Kalian telah membunuh saudaraku, kalian seperti penjagal. Sungguh menyesal ibu yang telah melahirkan kalian. Kalian menyiksa keluarga nabi. Tertawalah dan berpesta kalian. Tapi kelak, kalian akan sangat berharap setitik perlindungan, atas hukuman yang harus kalian terima."

__________
Bahan bacaan : "Huasin, Sang Kstaria Langit", Karya : Muhsin Labib. Hal. 204-210. Disadur dan diceritakan kembali oleh : A. Rochman.

15
Cerpen / Penjaga Anak Gadis
« pada: September 30, 2017, 07:42:46 AM »
Daftar Isi
====================
1. Obers
2. Gaj Ahmada Yayat
3. Membela Kehormatan Istri
4. [Penjaga Anak Gadis]
====================

4. Penjaga Anak Gadis
Edisi : 27 September 2017, 02:28:06

seorang pemuda yang menyukai seorang gadis, dan ingn berkenalan atau kenal dekat dengannya, terkadang harus berhadapan dulu dengan penjaga nya, yaitu bapaknya. Ini pengalaman saya sewaktu muda.

Sejak saya duduk di bangku SMP, saya sering berkunjung ke rumah paman Dusman, untuk belajar pencak silat. Untuk sampai ke rumah paman, saya harus berjalan  kaki hingga 5 km, melewati kampung-kampung. Perjalanan seperti ini sudah merupakan kegiatan rutin bagi saya. Bahkan setelah saya lulus SMA dan tak lagi belajar Pencak Silat, saya masih terus berkunjung ke rumah paman.

Tapi suatu hari, setelah bertahun-tahun saya sering berjalan melewati kampung Pasir Pari, hati saya tertegun melihat seorang gadis yang cantik jelita dengan rambutnya dikepang satu. Saya menyapanya, "Hai... Hallo !" tapi gadis ini tidak memperdulikan sapaan saya, dia terus saja berjalan dengan cepat menuju suatu tempat. Sayapun mengikutinya dari belakang sambil terus mencoba memanggil. "Hai... Bolehkah saya berkenalan ?" gadis itu tidk menggubris dan terus berjalan.

"Cepat sekali jalannya !" demikian saya pikir, ketika saya kehilangan jejak. Gadis tadi menghilang di suatu tempat. Saya tengak-tengok, ternyata dia sudah berada dalam suatu rumah. "Oh.. Itu dia rupanya." sayapun segera menuju rumah tersebut.


Tok... Tok... Tok....! "Assalamualaikum !" saya mengetok pintu rumah. Berharap gadis tadi yang membukakan pintu. Tapi ternyata yang buka pintu wanita setengah baya, rupanya itu ibunya.

"Mau ke siapa ya ?" tanya si ibu.

Aduh... Saya bingung.... Saya mau menemui gadis tadi.. Tapi ... Saya gak tau namanya. "Eu.... Saya mau ketemu.... Eu... Itu....?"

"Mau ke Stephanie ...?" tanya wanita itu.

"Nah.. Itu bu, Stephanie." saya girang. Mudah-mudahan benar, yang disebut Stephanie itu adadalah gadis yang tadi.

"Stephanie.... Ini ada temennya...!" teriak ibu tadi.

Datanglah seorang gadis memakai busana kaos serba hitam. Benar, ini adalah gadis yang tadi. Dan rupanya Stephanie itulah namanya.


"Siapa ya ?" tanya gadis itu.

Saya menyodorkan tangan, "Perkenalkan, nama saya Asep."

Stephanie menerima jabat tangan saya sambil berkata, "Asep....Asep mana ya... Rasanya saya gak kenal ?"

saya tersenyum, "makanya barusan saya memperkenalkan diri, supaya kenal. Bolehkan saya masuk dan duduk, supaya enak ngobrolnya ?"

"Oh.. Silahkan... !" Stephanie mempersilahkan.

Setelah duduk, Stephanie masuk ke dalam. Saya pikir, dia sekedar hendak mengambil air untuk menyuguhi saya sebagai tamu. Tapi lama ditunggu, Stephanie gak keluar-keluar, "Aduh.. Kemana nih.. Stephanie."

Lama ditunggu, eh.. Yang keluar seorang bapak berkumis tebal, berperawakan kekar. Dia menghampiri saya di ruang tamu dan berkata dengan suara garang, "Dari mana nih ...?"

"Saya dari Cipadung, pak !"

"Terus... Kenal anak saya di mana ?" tanya pria ini. Tak salah lagi, dia bapaknya Stephanie.

"Saya kenal anak bapak, barusan saja di sini pak. Barusan kami berkenalan." jawab saya.

"hmmm... Jadi kamu ngikutin anak saya dari jalan ke sini, pengen kenalan sama anak saya, begitu ya ?" tanya si bapak.

"Betul pak."

"memangnya, kamu suka, apa.. Sama anak saya ?" tanya si bapak bertubi-tubi.

"Iya.. Pak, saya menyukainya dan ingin kenal dengannya." jawab saya datar.


"kok bisa baru kenalan langsung suka ?" tanya si bapak.

"oh enggak pak, bahkan saya menyukainya sebelum kenalan." jawab saya.

Si bapak kumis tebal tersenyum menyeringai. "he..he... Jadi.. Kamu lihat di jalan, kamu suka, kamu ikutin, kamu datang ke sini trus kenalan gitu ?"

"Betul" jawab saya.

"Gak biasanya ada anak muda kayak kamu. Biasanya anak-anak muda, kalau pengen kenalan sama gadis gak kayak gini, sampe nyusul-nyusul ke rumahnya. Biasanya kenalan di jalan, dikenalkan temannya atau gimana kek." kata si bapak heran.

Saya berkata, "tadinya saya juga gak akan ke sini pak, Cuma anak bapak itu tadi saya  panggil-panggil gak nyahut-nyahut.. Jalannya cepet... Jadi ya saya terpaksa ke sini."

"Hmm... Trus.. Kamu gak takut apa,.. Kalau misalnya si Stephanie itu ada suaminya ?" tanya si bapak.

Saya terkejut. Tak terpikir oleh saya, kalau misalnya perempuan tadi sudah bersuami. "OH.. Maaf pak,..saya tidak tahu.. Tidak terpikir... Memangnya anak bapak itu sudah punya suami, pak ? Mohon maaf kalau kiranya sudah bersuami."

"ho..ho... Enggak, ... Anak saya masih gadis, belum bersuami. Kamu orangnya gentle juga ya... Saya suka." kata si bapak.

Oh.. Syukurlah... Bapak yang terlihat garang ini, ternyata suka dengan karakter saya. Selanjutnya, si bapak ini nanya ini itu banyak sekali. Dia seorang penggemar olahraga bulu tangkis. Dia nanya-nanya ke saya, seolah mengetes pengetahuan nasional tentang olah raga bulu tangkis. Tapi kebanyakan saya jawab, "gak tau".

"lha... Katanya suka bulu tangkis, tapi ditanya ini itu kamu gak tau, gimana ?" tanya si bapak.

"iya... Pak,saya suka bulu tangkis maksudnya sering main bulu tangkis bersama teman-teman. Tapi kalau soal wawasan nasional, atlet-atlet nasional bulu tangkis, itu saya gak ngerti pak. Sama juga halnya saya hobby pencak silat, tapi kalau ditanya-tanya soal atlet pencak silat nasional, saya gak ngerti. Saya belajar pencak silat untuk keperluan bela diri saja." jawab saya.

Dalam hati saya bergumam, "duh.. Lama amat sih bapak ini ngajakin ngborol. Saya kan pengen ketemu anaknya, bukan bapaknya." Tapi saya harus menghormati orang tua ini, sehingga masih terus menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Dan kadang-kadang saya menanggapi sesuatu untuk menunjukan bahwa saya menaruh minat pada pembicaraannya dan agar membuatnya senang. Berkali-kali saya melirik ke arah ruangan dalam, berharap melihat Stpehanie, tapi tak terlihat. Saya masih harus berhadapan dengan sang penjaga anak gadis, bapaknya, si kumis tebal.

Setelah hampir selesai mengobrol dengan bapak itu, tiba-tiba muncul paman si gadis, ikut nimbrung ngobrol. Pembicaraan jadi panjang lebar lagi. Jadi, kayak bapak-bapak ngerumpi di pos Ronda.

Satu jam berlalu, entah akan kapan pembicaraan itu akan berakhir. Akhirnya saya memberanikan diri berkata dengan hati agak kesal, "Jadi pak, bolehkah saya berkenalan dengan anak bapak ?"

"Oh.. Boleh.. Boleh... Stephanie... Ini temennya..." si bapak memanggil anaknya.

Anak yang penurut, dipanggil langsung datang. "Ayo duduk di situ !" kata bapaknya, menyuruh Stephanie duduk di kursi yang berhadapan dengan saya.

Lalu si bapaknya berkata lagi, "Ini Asep... Katanya dia mau berkenalan sama kamu. Bapak tadi udah ngobrol-ngobrol, kayaknya si Asep ini anak yang baik, bapak suka. Gak apa-apa kalau kamu mau berteman dengannya."

Hore... Saya lulus uji rupanya.

Setelah itu, bapak dan pamannya meninggalkan kami berdua untuk berbincang di ruang tamu. Senang sekali rasanya, kami berbincang ke sana kemari, tentang sekolah, tentang masa depan, tentang rencana-rencana dan sebagainya. Kebetulan, sama seperti saya, setelah lulus SMA, Stephanie tidak melanjutkan pendidikan, karena terbatasan biaya. Dia juga masih jauh dari rencana menikah dan katanya belum lama ini putus dengan pacarnya.

Tidak terasa, hari menjelang sore. Saya harus pamit pulang. Jika tidak, saya akan berjalan di tengah kegelapan menuju rumah. Hari yang indah, dan berharap kami bertemu kembali untuk membuat hari menjadi lebih indah lagi. Tapi, ... Harapan tak pernah terjadi. Karena itu adalah pertama dan terakhir saya berjumpa dengan Stephanie. Selanjutnya, entah mungkin saya dilupakan oleh kesibukan atau karena hal lainnya, saya tak ingat. Yang jelas, saya tak pernah berkunjung kembali ke rumah Stephanie dan bahkan tak pernah melihatnya kembali, walaupun dari jauh.

Halaman: [1] 2 3 ... 622