Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Kang Asep

Halaman: [1] 2 3 ... 653
1
Kupas Logika / Kontradiksi Karena Perbedaan Klasifikasi
« pada: Hari Ini jam 08:34:25 AM »
Terhadap kelompok orang yang melakukan serangan terhadap TNI - POLRI di Papua, ada yang mengelompokannya ke dalam TERORIS dan ada juga yang mengelompokannya kepada BUKAN TERORIS. Hidayat Nurwahid mengelompokannya kepada teroris[1]. Sedangkan pemerintah atau media menyebutnya "Kelompok Kirminal Bersenjata" (KKB), serta tidak memasukannya ke dalam kelompok Teroris. Perbedaan klasifikasi ini, berarti kontradiksi :

A) KKB adalah Teroris
E) KKB bukanlah Teroris

Mana yang benar ?

Sah-sah saja orang membuat klafisikasi yang berbeda, selama definisinya berbeda. Definisi yang sama, mestilah klasifikasinya sama.Dan kita sebagai bangsa Indonesia, tentu harus mengklasifikasikan teroris atau bukan teroris menurut definisi yang ditetapkan oleh undang-undang yang sah. Jika menggunakan definisi yang sama, tapi bentuk proposisinya bertentangan, maka itu sah sebagai kontradiksi, di mana mustahil dua-duanya bernilai benar.  Karena itu, mari kita selidiki, mana yang klasifikasi yang benar dan mana yang keliru.

Direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC) Robi Sugara, KKB tidak dapat dikelompokan ke dalam terorisme karena dilihat dari dampak dan sasarannya. Jika KKB melakukan aksi teror di wilayah lainnya selain papua serta menyamaratakan aparat, maka barulah disebut terorisme[2].

Jika demikian, apa dong definisi teroris dan terorisme ?

Menurut Hidayat Nurwahid, berdasarkan UU terorisme yang baru saja disahkan, semestinya KKB ini masuk ke dalam kelompok terorisme. Lalu bagiamana definisi terorisme menurut UU yang baru saja disahkan tersebut ? Berikut definisinya :

"Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan," bunyi definisi itu sebagaimana dibacakan oleh Muhammad Syafi`i[3].

Dengan demikian pendapat Hidayat Nurwahid benar,  KKB papua adalah teroris. Di dalam definsisi tersebut, tidak ditemukan syarat "melakukan aksi teror di wilayah lain" dan "menyamaratakan aparat" seperti yang dikatakan oleh Robi Sugara. Jika tidak ingin mengelompok KKB ke dalam terorisme, berarti undang-undangnya harus direvisi.

_________
1) 2) http://news.akurat.co/id-84351-read-mengapa-kelompok-bersenjata-di-papua-tak-disebut-teroris
3) Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul UU Antiterorisme Disahkan, Akhirnya Begini Definisi Terorisme yang Disepakati, http://jateng.tribunnews.com/2018/05/25/uu-antiterorisme-disahkan-akhirnya-begini-definisi-terorisme-yang-disepakati. Editor: iswidodo

2
Politik / Chat Porno
« pada: Hari Ini jam 07:53:55 AM »
Chat Porno
(Mencoba Menyelami Struktur Berpikir Polisi)
Edisi : 18 Juni 2018, 07:49:48

"Ada permintaan resmi dari pengacara untuk di-SP3, lewat surat. Setelah itu dilakukan gelar perkara. Maka kasus tersebut dihentikan karena menurut penyidik kasus tersebut belum ditemukan peng-uploadnya," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal kepada detikcom, Sabtu (16/6/2018)[1].

Pertanyaannya, jika memang ditemukannya pengupload merupakan syarat sah untuk mengkasuskan chat porno HRS, maka mengapa HRS harus dijadikan tersangka sebelum ditemukannya pengupload tsb ?

Rizieq sendiri ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan chat porno pada Mei 2017. Polisi menetapkan Firza Husein sebagai tersangka kasus yang sama pada 15 Mei 2017. Keduanya menjadi tersangka setelah chat antara diduga Rizieq dan Firza tersebar melalui situs baladacintarizieq.com. Keduanya membantah tuduhan skandal tersebut[2].

Saya jadi bertanya, ini struktur berpikir polisi itu bagaimana ? Untuk mengetahui jawaban pertanyaan tersebut, saya butuh jawaban atas pertanyaan tentang kontradiks-kontradiksi berikut :

Kontradiksi pertama :

A) Penetapan HRS sebagi tersangka adalah sah
E) Penetapan HRS sebagai tersangka tidaklah sah

Mana yang benar ?

Jika E benar, sedangkan polisi telah menetapkan HRS sebagai tersangka, berarti polisi telah bersalah. Jika E benar, padahal penguploadnya tidak ditemukan, maka "tidak ditemukannya pengupload" tidak dapat dijadikan alasan penghentian kasus chat porno tsb. Logika ini benar, bukan ?

Kontradiksi kedua :

1) Jika ditemukan penguploadnya, maka penetapan HRS sebagai tersangka adalah sah
2) ditemukan penguploadnya, tapi penetapan HRS sebagai tersangka tidaklah sah

mana yang benar ?

Kontradiksi ketiga :

1) Jika tidak ditemukan penguploadnya, maka penetapan HRS sebagai tersangka tidaklah sah
2) tidak ditemukan penguploadnya, tapi penetapan HRS sebagai tersangka adalah sah

Mana yang benar ?

Adakah yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ? Belum ada. Jawaban yang saya temukan malah seperti berikut : "tanya aja ke google, gratis kok". Sudah saya tanyakan. Faktanya, google tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tersebut. Bisakah Anda bantu saya menjawab pertanyaan tersebut ? Apakah google dapat membantu Anda menjawab pertanyaan tersebut ? Silahkan dicoba !
__________
1) https://news.detik.com/berita/4070949/ini-alasan-polisi-hentikan-kasus-chat-porno-habib-rizieq
2) https://news.detik.com/berita/4070949/ini-alasan-polisi-hentikan-kasus-chat-porno-habib-rizieq

3
Kupas Logika / Disoraki
« pada: Juni 17, 2018, 09:12:51 AM »
Ini adalah satu contoh lagi tentang anlisis logika ...

Saat mendengar kabar bahwa Djarot disoraki, Anies berkomentar, "Kalau kita menghormati, pasti kita dihormati juga.[1]" Kalimat ini menimbulkan asumsi bahwa Anies menganggap tindakan warga yang menyoraki Djarot merupakan sikap tak hormat warga pada Djarot sebagai akibat dari sikap tak hormat Djarot pada warga. Apakah asumsi ini benar ?

Pada kesempatan lain, Anies Baswedan juga disoraki oleh warga, seperti yang terjadi di Istana Bogor[2]. Anies tidak mempermasalahkan hal itu, dan menganggapnya sebagai hal biasa saja[3]. Tapi apakah Anies tidak berpikir bahwa sorakan tersebut merupakan "sikap tak hormat warga sebagai akibat sikap tak hormat dia pada warga", sebagaimana rule yang dia terapkan pada kasus Djarot ?

Jika menghormati, maka pasti dihormati. Dengan demikian, jika warga tidak menghormati seorang pejabat, berarti pasti pejabat tersebut tidak menghormati warganya. Dan jika warga  meyoraki pejabat, berarti warga tidak bersikap hormat pada pejabat tersebut.  Dan ternyata warga menyoraki Anies yang merupakan pejabat. Dengan demikian berarti Anies tidak menghormati warga. Atau warga tidak menghormati pejabat.  Apakah argumen ini valid ?


Mari kita ubah konsep tersebut ke dalam bentuk ekspresi logika :

Variabel :

A = pejabat menghormati warga
B = warga menghormati pejabat
C = Warga menyorki pejabat

Argumen :

(A→B)∧(¬B→¬A)∧(C→¬A) ∧ (C) ⊨ B  ∨  ¬A


Mari uji validitas argumentasinya dengan tablo :



Argumentasi terbukti valid.  Pertanyaan, siapa yang mengakui bahwa sorakan warga itu merupakan "sikap tak hormat warga akibat sikap tak hormat pejabat" ? Jika ada yang tidak mengakuinya, berarti dia memiliki argumen lain. Nah.. Itu yang saya ketahui, apa argumen lainnya itu ?

Hidayar Nurwahid menafsirkan sorakan warga itu sebagai sikap tak adil dari Istana. "Ketika Pak Jokowi dikasih kartu kuning kan langsung diambil (diamankan) tuh. Ini kenapa (Anies dan Sandiaga disoraki warga) dibiarkan. Padahal itu juga jelas sangat mencederai Istana," kata Hidayat saat menggelar acara open house di rumah dinasnya, Kemang, Jakarta Selatan[4].

Sama seperti para logicer, Hidayat mencoba mengungkap kontradiksi untuk untuk menunjukan ketidakonsistenan. Semua orang menggunakan kontradiksi sebagai alat untuk mengkritik. Namun bagaimanakah kebenaran kontradiksi tersebut dibuktikan dengan metodologi yang benar ? Bagaimana metoda yang harus dilakukan agar hasil uji validtas argumen tidak dapat lagi dibantah ?

Dengan tablo semantik, Anda dapat mencoba mengalisis konsep serta menguji argumentasi pada kontradiksi-kontradiksi yang diungkap oleh para politisi seperti yang diungkapkan oleh Hidayat Nurwahid. Namun sebelum melangkah kepada kasus kontradiksi-kontradiksi lainnya, catat dulu kontradiksi-kontradiksi berikut :

Kontradiksi Pertama :

A) sorakan warga menunjukan sikap tak hormat warga
I) sorakan warga tidak menunjukan sikap tak hormat warga

Kontradiksi Kedua :

A) sikap tak hormat warga menunjukan sikap tak hormat pejabat
I) sikap tak hormat warga tidak menunjukan sikap tak hormat pejabat

Anda harus menegaskan, diantara kontradiksi-kontradiksi tersebut, mana yang Anda yakini benar. Karena dua keyakinan yang kontradiksi, mustahil sama-sama benar. Penegasan keyakinan-keyakinan ini, akan menjadi dasar untuk melakukan analisis logika selanjutnya.

Metoda ini tidak membawa kita untuk mudah memvonis orang lain, melainkan membawa kita untuk tabayun, berusaha untuk mengerti orang lain, memperjelas konsep, menegaskan keyakinan, serta membuat keyakinan kita bergerak dalam alur pemikiran yang pasti, serta dapat menilai , siapa diantara politisi kita yang konsisten dalam perkataannya dan siapa yang tak konsisten, dengan suatu penilaian yang dapat dibuktikan dengan metoda logika, bukan dengan penilaian yang bersifat subjektif. Semua orang juga bisa menuduh orang lain inkonsisten. Tapi tidak semua orang dapat membuktikan tuduhannya dengan baik.
________
1) 2) http://www.tribunnews.com/nasional/2018/06/16/anies-disoraki-orang-berseragam-suryo-prabowo-seperti-itu-kelakuan-tamu-yang-ngaku-pancasilais
3) https://nasional.inilah.com/read/detail/2462585/disoraki-warga-anies-buat-saya-biasa-saja
4) https://www.suara.com/news/2018/06/16/145705/anies-disoraki-warga-pks-sayangkan-sikap-istana

4
Komentari Gambar / Rumah Antik
« pada: Juni 17, 2018, 07:02:21 AM »

5
Diskusi Umum / Re:Menangkal Faham Radikal
« pada: Juni 15, 2018, 12:21:46 AM »
itu melaksanakan apa memaksakan? sengaja ya?

memaksakan.

6
Proposisi / Mengidentifikasi Kontradiksi
« pada: Juni 15, 2018, 12:15:18 AM »
Semboyan yang sering saya ulang-ulang dalam kajian-kajian Logika adalah "Logika Bekerja mulai dari kontradiksi-kontradiksi".  Oleh karena itu, mengidentifikasi kontradiksi merupakan langkah yang paling awal dalam melakukan analisis logis. Karena pertama, setiap keyakinan itu memiliki kontradiksinya. Kedua, perdebatan yang benar mesti berdasrakan kepada suatu kontradiksi.

Terkadang saya menemukan suatu perdebatan, tapi tidak mengetahui kontradiksi yang menjadi dasar perdebatan itu. Bagi pihak yang sedang berdebat itu sendiri, tentu saja sudahsemestinya tahu sejak awal. Tapi saya, ibarang orang yang sedang berjalan melewati orang yang sedang berdebat ketika perdebatan sudah berjalan cukup lama, maka di situ saya perlu suatu metoda untuk mengetahui pokok yang menjadi dasar perdebatan dari mereka, apabila saya tertarik untuk menyimak dan mengetahui dalam perdebatan tersebut, siapakah yang argumentasinya valid.

Contoh perdebatan antara Rocky Gerung dengan Teddy Gusnaidi.

Debat [1]
--------------
Rocky :  Benar harus benar. Tak boleh ada keraguan. Tidak boleh ada kecuali.
Tedy : Anda malah ragu, bahkan tidak bernyali ketika diminta patahkah argumen hukum saya. Begitu cara menyusun argumen hukum. Bahkan sejak dari judul.
===========

Dari dialog tersebut, dapatkah Anda temukan, dapat ditarik beberapa proposisi :

1) Nilai kebenaran suatu pendapat itu  boleh ada kecuali
2) Anda ragu
3) Anda tidak bernyali
4) cara menyusun argumen

Setiap proposisi di atas, pasti memiliki kontradiksinya. Namun, kontradiksi mana yang menjadi pokok perdebatan antara Tedy dengan Recky ? Apakah mereka berdua berdebat tentang "Cara Menyusun Argumen". Saya dapat menggunakan asumsi bahwa pokok perdebatan mereka bukan tentang "cara menyusun argumen". Dan dari empat proposisi di atas, tidak ada yang merupakan pokok dari perdebatan. Untuk dapat melakukan analisis logika, maka saya terlebih dahulu harus menemukan, kontradiksi yang merupakan pokok perdebatan mereka. Karena itu, kemudia saya menelusuri kembali dialog mereka. Kemudian saya menemukan tuduhah Teddy yang ditujukan pada Rocky, tercantum dalam judul tulisan Teddy, "ROCKY GERUNG CS, SELAIN TIDAK PUNYA LEGAL STANDING, MEREKA JUGA TIDAK BERHAK MENGKLAIM ATAS NAMA RAKYAT UNTUK UJI MATERI UU PEMILU".

Tuduhan itu bernada negatif, dan ini diketahui sebagai awal dari pertentangan-pertentangan pendapat selanjutnya. Misalnya pertentangan pendapat tentang "Anda ragu" dengan "Anda tidak ragu" terlihat tidak lebih penting dari soal "Anda berhak uji materi" atau "Anda tidak berhak uji materi". Dan yang terakhir ini, merupakan pertentangan pendapat yang terjadi lebih awal, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kontradiksi yang menjadi pokok perdebatannya adalah sebagai berikut[2] :

 A) ROCKY GERUNG BERHAK UJI MATERI UU PEMILU
 E) ROCKY GERUNG TIDAK BERHAK UJI MATERI UU PEMILU

Sekarang kontradiksi telah terindentifikasi. Namun, status dari hasil identifikasi tersebut tetaplah sebagai "asumsi" yang menjadi bahan untuk dikonfirmasikan serta diklarifikasikan kepada pihak yang bersangkutan. Jika dapat saya tanyakan, maka saya akan bertanya kepada mereka "benarkah ini yang menjadi dasar pokok perdebatan kalian ?" Konfirmasi dan Klarifikasi selalu diperlukan untuk kepastian.  Tetapi, apabila tidak dapat saya tanyakan langsung karena satu dan lain hal, maka saya dapat menjadikan asumsi tersebut sebagai dasar untuk penyelidikan selanjutnya.

Saya bukan ahli politik, bukan pakar hukum tata negara, tidak tahu siapa itu Rocky Gerung, tidak tahu isi UU Pemilu, tidak mengerti aturan soal UU Pemilu, bagaimana itu UJI Materi UU,  dan banyak hal lagi yang tidak saya ketahui. tetapi saya adalah ahli logika, yang tahu caranya mengidentifikasi kontradiksi, serta tahu cara menguji validitas argumen-argumen. Tetapi dalam kesempatan ini, tujuan dari tulisan ini adalah memberikan contoh dari cara mengidentifikasi kontradiksi yang menjadi pokok perdebatan, bukan untuk memberikan contoh soal uji validitas argumen. Untuk teori dan contoh-contoh uji validitas argumen, Anda bisa membacanya pada tulisan-tulisan saya berjudul :

1)> Validitas Argumen
2)> Menguji Validitas Argumen Pada Ungkapan Filsafat
3)> Menguji Validitas Argumen Politik Dengan Counter Model
4)> Sintaksisme

_____________
1) 2)

7
Diskusi Umum / Re:Menangkal Faham Radikal
« pada: Juni 14, 2018, 11:01:50 PM »
Yang memaksanakan keyakinan beragama dengan cara kekerasan.

8
Proposisi / Memperjelas Konsep
« pada: Juni 14, 2018, 09:31:15 PM »
Salah satu manfaat ilmu logika dalam kehidupan sehari-hari adalah untuk memperjelas konsep. Seseorang seringkali menyampaikan ide-ide atau konsepnya, kemudian orang lain terburu-buru menilainya benar atau salah, walaupun konsepnya belum jelas, terutama dalam segi kamiyah nya, yaitu apakah yang dimaksud oleh seseorang dari term yang disebutkan itu "seluruh" atau "sebagian". 

Sebagai contoh, Fahri Hamzah berkata, "Siapa yang radikal dalam sejarah ? Bukan orang beragama. Radikalisme itu produk komunis dan sekuler. Tuduhan bahwa orang beragama (Islam) radikal, muncul belakangan." Sampai di sini, apakah konsep Fahri Hamzah ini sudah jelas ? Belum. Untuk memperjelasnya, Fahri Hamzah perlu menjawab pertanyaan khas logika tentang kamiyah qadhiyah (kuantitas proposisi) berikut :

E ) Setiap orang beragama itu tidaklah radikal
I ) Sebagian orang beragama itu radikal

Untuk itu, kemudian saya menanyakan hal itu kepada Fahri, sekaligus membuat survei juga untuk mengetahui pendapat twips lainnya[1]. Fahri tidak menjawab pertanyaan tersebut. Tapi survei dipilih oleh tiga orang, di mana 2 dari 3 orang, meyakini bahwa (I) sebagian orang bergama itu radikal. Dengan demikian, menurut mayoritas orang (dalam survei) pendapat pertama (E) adalah pendapat yang salah.

Jika Fahri menjawab pertanyaan tersebut, maka Fahri memperjelas konsepnya tentang "siapa radikal". Tapi karena Fahri tidak menjawabnya secara langsung, maka tidak diketahui jelasnya konsep Fahri itu yang mana. Karena belum mendapatkan jawaban langsung, saya dapat menggunakan asumsi bahwa pendapat Fahri adalah proposisi (E). Sehingga semestinya dia tidak akan mengakui adanya seorang yang beragama, namun dia bertindak radikal.

_________

10
Komentari Gambar / Kerjane Terbukti
« pada: Juni 14, 2018, 09:05:34 AM »

11
Politik / Gerakan Dialektika Logika Masyarakat
« pada: Juni 14, 2018, 04:34:23 AM »
Gerakan Dialektika Logika Masyarakat
Edisi : 14 Juni 2018, 04:30:25

Salah satu dari Gerakan Dialektika Logika adalah membentuk masyarakat yang peka terhadap kontradiksi-kontradiksi politik. Pernyataan-pernyataan calon pemimpin tentang janji-janji atau rencana-rencana mereka yang akan dilakukan apabila terpilih jadi calon pemimpin dapat dikelompokan kepada pernyataan-pernyataan politik. Tetapi, seringkali tampak terjadi pertentangan pernyataan mereka sebelum dan sesudah terpilih, sehingga pertentangan itu disebut sebagai kontradiksi politik. Sederhananya yang dimaksud kontradiksi politik di sini adalah kontradiksi pernyataan politikus secara internal atau eksternal. Kontradiksi Internal berarti dengan dirinya sendiri. Sedangkan kontradiksi eksternal berarti dengan pihak luar.

"Logika bekerja mulai pada kontradiksi-kontradiksi". Karena itu, untuk dapat menerapkan Logika pada bidang politik, tentu langkah awalnya adalah dengan mengamati politik serta pernyataan-pernyataan para politikus. Karena teori politik dan pernyataan-pernyataan politikus merupakan material syllogisme, yang diperlukan untuk untuk melahirkan konklusi-konklusi, juga untuk mengidentifikasi kontradiksi politik.

Tidak semua orang peka terhadap adanya kontradiksi politik. Walaupun seorang politikus membuat pernyataan yang bertentangan dengan pernyataannya sendiri sebelumnya, namun orang-orang seolah tidak peduli, tidak tahu, lupa dengan pernyataan sebelumnya atau tidak sadar akan adanya pertentangan tersebut. Ini namanya tidak peka terhadap kontradiksi politik.  Namun sebagian orang lagi sangat peka dengan adanya kontradiksi-kontradiksi tersebut, sehingga lahirlah masyarakat yang berdialektika logika, yakni mereka yang mengajukan pertanyaan dengan mengkonfirmasikan kontradiksi-kontradiksi politik tadi. Gambaran dialektika logika masyarakat ini dapat dilihat dalam sebuah film komedi yang diperankan Aamir Khan berjudul PK.

Apa yang tampak kontradiksi, belum tentulah kontradiksi. Sebelum dikonfirmasikan kebenarannya dan diklarifikasi, maka hal yang tampak kontradiksi tadi harus dianggap sebagai asumsi saja[1]. Misalnya, saya mendapati informasi bahwa sebelum menjadi gubernur, Anies Baswedan menyatakan menolak reklamasi[4].

Kutip[2]
--------------
Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, pada masa kampanye Pilkada DKI 2017 telah dengan tegas menyatakan bahwa mereka menolak reklamasi di pantai utara Jakarta.
==========

Tetapi, setelah menjadi gubernur, Anies malah melanjutkan proyek reklamasi itu[3].  Sehingga saya mengidentifikasi adanya kontradiksi. Walaupun Anies tidak menyatakan "tidak menolak reklamasi", namun ini dapat diambil dari fakta yang dilakukan. Faktanya Anies melanjutkan proyek Reklamasi. Dengan melanjutkan berarti dapat disimpulkan "tidak menolak reklmasi", sehingga terbentuknya kontradiksi.

A]> Anies Baswedan menolak reklamasi
E]> Anies Baswedan tidak menolak reklamasi

Pernyataan tersebut bukanlah pernyataan Anies Baswedan, melainkan disimpulkan dari pernyataan maupun tindakan Anies.

Mana yang benar, menolak atau tidak menolak ? Tentu pertanyaan ini butuh jawaban. Kita mengidentifikasi hal tersebut sebagai kontradiksi, tapi tunggu dulu ... Identifikasi tersebut bukan untuk memvonis bahwa Anies Baswedan tidak konsisten atau memiliki konsep yang kontradiktif, tapi sebagai landasan untuk konfrimasi dan klarifikasi. Karena telah melakukan tindakan yang tampak tidak selaras dengan pernyataan sebelumnya, maka Anies perlu memberikan klarifikasinya terkait hal itu. Ini agar tidak membingungkan masayarakat dan juga agar Anies sendiri terlihat clear dan konsisten.

Empat Hal yang perlu Diperhatikan dalam Gerakan Dialektika Logika Masyarakat adalah sebagai berikut :

Pertama-tama, informasi yang saya terima tersebut belum tentu benar. Tetapi juga belum tentu salah.

Kedua. Walaupun belum tentu benar-salahnya, dugaan adanya kontradiksi politik perlu diungkapkan dalam bentuk pertanyaan, sehingga membentuk masayarakat yang berdialektika logika.

Ketiga, jika memang apa yang diduga kontradiksi tadi memang kenyataan kontradiksi, maka hal itu diharapkan menjadi bahan koreksi, mengarahkan orang-orang untuk konsisten atau memperbaiki keyakinan-keyakinannya yang kontradiksi.

Keempat, pertanyaan kritis tentang kontradiksi-kontradiksi sebaiknya ditanyakan langsung kepada pihak yang bersangkutan. Tetapi jika tidak, pertanyaan-pertanyaan itu dapat diajukan kepada siapapun yang bersedia mendengarkan, karena barangkali mereka dapat memberikan jawabannya atau menyimpannya dan menjadikan pertanyaan dia pula, sehingga akhirnya suatu pertanyaan menjadi pertanyaan masal. Inilah yang dimaksud dengan Masyarakat Yang Berdialektika Logika.

____________
1) Lihat dalam tulisan berjudul Asumsi Kontradiksi
2) Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Janji Anies-Sandi Hentikan Reklamasi dan Perkembangan Terkini", https://megapolitan.kompas.com/read/2017/10/10/15281411/janji-anies-sandi-hentikan-reklamasi-dan-perkembangan-terkini.
Penulis : Andri Donnal Putera
3)

12
Komentari Gambar / Putri Cantik
« pada: Juni 13, 2018, 08:56:57 AM »

13
Diskusi Umum / Sulit Diidentifikasi
« pada: Juni 13, 2018, 08:30:20 AM »

kalau sudah begini, susah kan diidentifikasinya ?

14
Komentari Gambar / Segenggam Bunga
« pada: Juni 13, 2018, 07:44:31 AM »

15
My Journal / Menulis karena Cinta
« pada: Juni 12, 2018, 12:54:16 PM »
Gembira kami rasakan saat kami berjumpa kembali, setelah 20 tahun lamanya berpisah.

Wina, dia adalah sahabat saya semasa sekolah dahulu. Dialah yang mencomblangi saya dengan Giawitri, sehingga terjadilah kisah cinta antara saya dengan Gia.

Melepas rindu, kami berbincang, bercanda ria, seperti masa masa sekolah dahulu. Kami ungkap kembali cerita-cerita lama, hingga tiba-tiba Wina berkata,"Dulu aku comblangi kamu sama Gia. Aku jadi tukang pos, nganterin surat-surat kamu ke dia, surat dia ke kamu. Sekarang kalau dipikir aku heran, kok mau-maunya aku kalian suruh-suruh begitu. Padahal dikasih upahpun tidak. He..he.."

Saya mengeluarkan dompet, mengeluarkan uang 100 rb dan memberikannya pada Wina, dengan nada canda saya bilang,"Nih upah kamu jadi mak Comblang."

Wina mengambil uang itu sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dalam hati saya bergumam,"Hah.. Dasar ibu-ibu, sekarang aja semuanya dinilai uang. Cinta adalah uang. Uang adalah cinta. Dulu kamu tak mengerti soal uang. Dan setelag kamu ngerti soal uang, kamu lupa tentang bagaimaba itu cinta. Kamu comblangi kami, karena kamu suka itu, kamu cinta itu. Kamulah sebenarnya penulis skenario kisah cinta saya dengan Giawitri. dan kamu sendiri yang pertama kali menikmati kisah cinta kami. Kamu menikmati kelucuan dan romantisme cinta kami berdua."

Sepeti Wina, ketika dia remaja melakukan sesuatu untuk saya karena cinta. Sama sekali, tidak berpikir soal upah. Demikian pula saya, sejak dahulu saya menulis bukan dengan harapan akan suatu upah, tapi semata karena cinta. Apabila cinta ini sirna, niscaya pena saya akan berhenti dan tertegun karena dihadang tanya,"Mengapa aku harus menulis ? Untuk apa menulis ? Berapa untungnya ? Adakah upah yang aku dapatkan ? Berapa banyak orang memberi apresiasi pada tulisan saya ? Mengapa saya saya harus bersusah payah menulis dan membagikannya pada orang lain ?" Tapi saya tidak atau belum kehilangan cinta ini, sehingga tak perduli dengan semua tanya itu.Saya menulis tidak untuk apapun, melainkan hanya karena Cinta. Dan semoga saya tak pernah kehilangan cinta ini.

Halaman: [1] 2 3 ... 653

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan