Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Kang Asep

Halaman: [1] 2 3 ... 632
1
Komentari Gambar / Diculik Setan
« pada: Hari Ini jam 04:57:48 AM »

2
Proposisi / Pendapat
« pada: Hari Ini jam 03:53:46 AM »
SK : Proposisi
====================
1. Pernyataan
1.1.Nilai Pernyataan
1.2. Pendapat
1.2.1. Pendapat Subjektif
2. Tiga Jenis Proposisi
2.1. Proposisi Kategori
2.1.1. Empat Bentuk Proposisi
2.2. Proposisi Hipotesa
2.3. Proposisi Disjungsi

Jumlah Karakter : 13.531
Kira-kira : 7 halaman A5
====================

1.2. Pendapat
Edisi : 13 Desember 2017, 03:46:57

Apa bedanya pendapat, proposisi dan keyakinan ? Ketiganya serupa tapi tak sama. Pendapat, proposisi dan keyakinan memiliki perbedaan dalam posisi. Misalnya, walaupun pendapat dinyatakan sama saja dengan proposisi, tetapi berpendapat tidak bisa dikatakan berproposisi, juga tidak bisa disebut berkeyakinan. Ini menunjukan adanya perbedaan.

Ketika seseorang menyatakan pendapatnya, maka tidak lain pendapat yang diungkapkan tersebut berasal dari keyakinannya, serta bentuk dari pendapat tadi disebut proposisi.

Ketika kita menyebut "Proposisi", maka pengertiannya mengacu pada sintak kalimat. Proposisi adalah pernyataan yang bernilai benar atau salah. Tapi ketika ketika menyebut "pendapat", kita akan menghubungkan proposisi dengan pemiliknya. Pendapat adalah ungkapan atas keyakinan seseorang. Ketika menyebut "keyakinan", itu mengacu kepada nilai-nilai yang diterima atau diputuskan oleh seseorang tentang suatu pendapat. Keyakinan adalah sikap setuju atau tidak setuju dari seseorang atas hubungan satu term dengan term lainnya.


"Setiap A adalah B"

Apakah pernyataan ini merupakan pendapat ? Bukan. Itu adalah propsisi. Setiap proposisi pasti bernilai benar atau salah. Ketika pernyataan tersebut dinilai benar, maka pertanyaannya "benar menurut siapa". Ketika disebut "salah", maka "salah menurut siapa". Penetapan nilai benar-salah oleh seseorang terhadap suatu proposisi, maka itu adalah pendapat. Nilai benar-salah itu sendiri merupakan wujud dari keyakinan seseorang.

Setiap pendapat adalah proposisi. Tapi tidak setiap proposisi adalah pendapat. Setiap pendapat adalah keyakinan.


3
Meditasi / Tester Dosa
« pada: Desember 12, 2017, 01:57:36 PM »
SB : Mengapa Bermanfaat
====================
1. Mengatasi Kekhawatiran
1.1. Obat Kegelisahan Orang Miskin
1.2. Tester Dosa
2. Mengatasi Kesedihan
3. Mengatasi Kekecewaan
4. Mengatasi Rasa Bosan
4.1. Bosan

Jumlah Karakter : 25.244
Kira-kira : 13 halaman A5
====================

1.2. Tester Dosa
Edisi : 12 Desember 2017, 13:48:11

Bagaimana kita dapat mengidentifikasi, apakah seseorang menjalani hidup yang benar atau salah ? Ada banyak cara. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan praktik meditasi. Praktik meditasi ini dapat menjadi tester, alat untuk mengukur cara hidup kita sehari-hari.  Saat seseorang memusatkan perhatiannya pada objek meditasi seperti nafas, maka di situ ada "nikmat", dan selamanya ada "nikmat", nikmat yang kekal ada sejak zaman azali dan tidak akan pernah berakhir. Nikmat ini akan membuat anda merasa cukup, puas dengan apa yang ada dan apa yang terjadi. Tidak ada yang melenyapkan nikmat ini, kecuali dosa.

Jadi, cobalah duduk dengan tenang, pejamkan mata anda. Lalu pusatkan perhatian Anda pada jalan keluar masuknya nafas Anda. Lakukan itu selama dua menit saja. Amati apa yang anda rasakan ? Apakah Anda merasa tenang atau gelisah, merasa nyaman atau sedih, Anda menemukan nikmat di dalam proses keluar masuknya nafas tadi atau tidak menemukan apapun ? Jika Anda tidak menemukan apapun, atau bahkan merasa sedih dan gelisah, maka itu berarti Anda berdosa. Anda harus memeriksa, kesalahan apa yang telah anda perbuat sehingga Anda kehilangan "nikmat".

Tester meditasi seperti itu telah saya ungkapkan di forum-forum online sejak belasan tahun lalu. Reaksi orang beragam. Sebagiannya menertawakan saya dengan mengatakan, "kok bisa ya, dosa tidaknya seseorang dites dengan cara seperti itu". Dan lainnya seperti biasanya, menanyakan dalilnya, "mana dalilnya, dosa bisa dilihat dengan cara demikian, Rasulullah aja gak begitu." dan semacamnya.

Jawaban saya, jika Anda ingin percaya sesuatu itu salah, maka percayalah bahwa sesuatu itu salah. Jika Anda ingin percaya sesuatu itu benar, maka percayalah sesuatu itu benar. Tapi jika Anda ingin menguji kebenaran sesuatu, silahkan lakukan penyelidikan terlebih dahulu sebelum Anda membuat kesimpulan dan penilaian.


4
Meditasi / Obat Kegelisahan Orang Miskin
« pada: Desember 12, 2017, 01:52:23 PM »
SB : Mengapa Bermanfaat
====================
1. Mengatasi Kekhawatiran
1.1. Obat Kegelisahan Orang Miskin
1.2. Tester Dosa
2. Mengatasi Kesedihan
3. Mengatasi Kekecewaan
4. Mengatasi Rasa Bosan
4.1. Bosan

Jumlah Karakter : 25.244
Kira-kira : 13 halaman A5
====================

1.1. Obat Kegelisahan Orang Miskin
Edisi : 12 Desember 2017, 13:47:49

Kemiskinan adalah hal yang menggelisahkan mayoritas manusia. Hampir semua orang takut menjadi miskin. Kemudian kegelisahan ini membuat mereka bergerak, bekerja keras mengejar kekayaan. Prinsipnya selama kegelisahan itu mendorong orang untuk berbuat kebaikan, maka ia adalah baik. Tetapi mayoritas manusia, tidak pernah merasa cukup kendatipun ia telah sampai pada kekayaan yang dahulu diimpikan. Mereka tidak pernah puas. Dengan demikian, kegelisahan tidak akan pernah berakhir. Maka apakah ini hal yang baik ?

Seandainya ada orang yang menyimpan segudang emas, dia masih akan gelisah karena mengharapkan dua gudang emas. Bila sudah memiliki dua gudang emas, maka kegelisahannya adalah bagaimana kalau emas-emas itu habis, bagaimana kalau dicuri orang, bagaimana kalau ia mati, sehingga tidak bisa menikmati kekayaannya. Dan dia masih menginginkan gudang emas yang ketiga. Buddha berkata, "Di dunia ini kita bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan, tapi tidak ada sesuatu yang bisa dapatkan untuk memuaskan apa yang kita inginkan."

Banyak orang miskin berkeluh kesah, "kapankah aku menjadi kaya." Membayangkan hidup dalam kekayaan itu bagaikan mimpi indah. Mereka berpikir, letak kebahagiaan tidak lain kecuali pada kekayaan yang didambakannya itu.  Mereka tidak pernah memperhatikan, bahwa mayoritas orang kaya itu juga tidak bebas dari kegelisahan. Lihat saja, para koruptor itu tidak lah termasuk pada kategori orang-orang miskin, tetapi mereka masih saja mencuri agar hartanya menjadi lebih banyak.  Berarti mereka itu tidak merasa cukup dengan kekayaan yang telah dimilikinya.

Tidak ada orang yang merasa dirinya kaya karena harta benda yang dimilikinya. Semua orang merasa dirinya miskin, kecuali mereka yang qanaah. Siapa yang merasa belum cukup dengan apa yang sudah dimilikinya, maka dia merasa miskin. Tidak ada hal yang dapat membuat seseorang merasa kaya, kecuali qanaah.

Qanaah, ridha dengan apa yang telah Tuhan berikan , bukan sebagai sebuah cara untuk melakukan sulap mental, sehingga orang miskin merasa dirinya kaya raya. Tetapi, itu merupakan jalan yang benar yang harus dilakukan oleh setiap orang.  Dengan demikian, siapa yang merasa tidak cukup atas apa yang telah didapatkannya, maka dia telah menyimpang dari jalan kebenaran. Bagaimana Tuhan akan ridha kepada kita, apabila tidak ridha kepada apa yang telah diperbuatan Tuhan kepada kita ?

Saya banyak menerima keluhan, "Mengapa saya selalu hidup miskin, mengapa selalu hidup dalam kesulitan, kapankah dapat menjadi kaya seperti teman-teman saya." Sudah sejak lama, pikiran-pikiran semacam itu tidak lagi terlintas di dalam pikiran saya. Karena saya menganggap munculnya pikiran-pikiran yang demikian adalah dosa. Damba menjadi orang kaya, dan lalu merasa rendah diri di hadapan orang-orang kaya, itu saya anggap sebagai tindakan terkutuk.  Kita harus menyadari bahwa itu merupakan hal salah, sehingga kita menjauhinya, bukan malah menganggapnya sebagai hal wajar apalagi benar, sehingga kita terus menerus melakukannya.

Tidak ada hal yang membuat seorang manusia untuk berbahagia, karena merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Tuhan, kecuali dosa. Karena itu, apabila saya mulai merasakan kesedihan akibat kemiskinan atau menyesali keadaan, atau damba untuk menjadi kaya seperti orang lain, maka pastilah saya telah melakuan perbuatan dosa. Saya harus memeriksa diri, apakah kiranya perbuatan dosa yang telah saya lakukan, sehingga saya mendapat hukuman dengan "merasa miskin". Tidak lah mungkin saya merasa miskin, bila saya tidak berdosa. Kemudian, bila saya sudah sadar dengan dosa-dosa yang saya lakukan, segera bertobat. Dan tanda diterimanya tobat adalah munculnya apa yang disebut dengan "manisnya iman", yang berarti juga merasa cukup, merasa puas, dengan apa yang telah diberikan Tuhan kepada saya.  Siang malam kita berdoa, "Ihdina shiraathal mustaqim...." , "tunjukanlah kami kepada jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang diberi nikmat ." Lantas bagaimana doa tersebut akan dapat dikabulkan apabila kita tidak qanaah ?

Tidak ada yang lebih menggelisahkan, kecuali kegelisahan itu  sendiri. Tidak ada hal yang lebih menakutkan, kecuali ketakutkan itu sendiri. Tidak ada yang dapat membuat kita merasa kaya, kecuali qanaah.

Bersikap qanaah, menerima dan puas dengan apa yang telah dimiliki, apakah ini tidak menjadikan seseorang bersikap malas ? Bagaimana kiranya peradaban manusia akan mengalami kemajuan, bila manusia sudah merasa cukup dengan apa yang sudah didapatkannya ?

Ketika saya mengajak seseoranguntuk bersikap qanaah, mereka menilai itu merupakan prinsip hidup yang salah, yang bisa membuat mereka semakin jauh dari cita-cita hidup kaya. "Bukan seperti itu, justru kita harus gelisah, tidak boleh merasa puas dengan apa yang sudah kita dapatkan, dengan begitu kita akan bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan dan sukses."

Saya diam. Tapi dua puluh tahun kemudian, saya berjumpa kembali dengan orang tersebut.  Kini keadaan menjadi lebih buruk. Dia telah kehilangan rumah dan banyak harta bendanya karena ditipu orang.  Saya berkata kepadanya, "sejak dulu sampai sekarang, Anda seorang pekerja keras, bekerja membanting tulang mengejar kekayaan, sekarang saya tanya, apakah kekayaan itu telah Anda dapatkan ?"

Dia menjawab, "tidak. Sebaliknya ... Hidup saya semakin hancur."

"Sekarang kita sama-sama miskin. Tapi saya tidak merasa miksin, tidak merasa hancur, tidak merasa gagal. Karena sejak dulu saya tidak mengejar kekayaan seperti mu, tidak bercita-cita menjadi kaya, tapi saya mengejar pengetahuan dan bercita-cita menjadi bijaksana. Saya telah belajar tentang apa itu kematian, apa yang akan dihadapi dalam kematian, apa yang harus dpersiapkan untuk kematian, mengapa orang takut mati, bagaimana agar kita rela dengan kematian. Dan sekarang pengetahuan itu telah saya dapatkan, serta tidak akan pernah habis untuk dibagikan. Bahkan jika Anda mau, akan saya bagi sebanyak-banyaknya." demikian saya katakan. Lalu saya membacakan hadis dari imam Ali kepada Kumayl, "Wahai Kumayl, ilmu itu lebih baik dari pada harta. Karena harta haruslah kau jaga. Sedangkan ilmu itu akan menjagamu. Hartamu akan habis bila kau bagikan. Tapi ilmu akan bertambah bila kau bagikan."

Makin kaya, seseorang makin gelisah karena takut kehilangan, makin takut pada kematian. Karena kematian baginya berarti perpindahan dari kemakmuran kepada kehancuran. Sedangkan orang yang kehidupanya di dunia ini sabar dalam kehancuran, maka kematian seolah perpindahan dari kehancuran itu kepada kemakmuran. Ini bukanlah konsep anti kaya, tapi obat bagi semua orang yang merasa dirinya miskin. Bahwasannya menjadi kaya atau miskin bukanlah masalah dalam hidup. Yang menjadi maslah dalam hidup adalah tersesat jalan, sehingga menyimpang dari jalan yang lurus. Selalu merasa takut akan kehilangan harta benda, damba untuk menjadi kaya, menolak menjadi miskin, khawatir tidak makan, ini merupakan tanda-tanda menyimpang dari jalan yang lurus.


5
Krachtology / Menguapkan Sampah Intelektual
« pada: Desember 12, 2017, 04:49:47 AM »
Manfaat pertama yang bisa saya rasakan dari praktik Krachtology adalah dapat membersihkan diri dari "sampah intelektual".  Apa itu sampah intelektual ?

Sepanjang waktu, manusia itu berpikir, berpikir dan terus berpikir. Di dalam proses berpikir itu serinkali muncul pikiran-pikiran negatif atau pikiran yang kotor, seperti sombong, sedih, marah, merasa rendah diri, benci, dongkol dan lain sebagainya. Lihat contohnya dalam dunia diskusi di gru-grup diskusi atau di medsos, selain mengatakan hal-hal yang baik, sebagian orang juga gemar mengatakan hal buruk, kadang menghujat, menghina dan mencaci maki. Pikiran-pikiran negatif seperti itu tidak hanya muncul ketika diskusi, tetapi juga dapat muncul ketika merenung sendirian atau bahkan ketika membaca buku. Setiap bentuk pikiran, ketika ia berlalu tidaklah benar-benar lenyap, namun meninggalkan jejak. Misalnya, jika Anda berpikir tentang seseorang "bren*gsek ni orang, dia menghina aku." itu hanya beberapa detik saja Anda pikirkan, setelah itu Anda melupakannya. Akan tetapi, walaupun sudah melupakannya, arus energi negatif yang ditimbulkan oleh pikiran semacam itu belum tentu lekas menghilang. Bisa jadi ia bersemayam lama di dalam tubuh dan merugikan diri Anda sendiri. Inilah yang saya maksud dengan "Sampah Intelektual". Dengan praktik krachtology yang memadukan sistem nafas, gerak dan konsentrasi, sampah intelektual seperti itu dapat segera menguap dan lenyap.

Fungsi yang sama terjadi pada shalat. Ini dapat menjelaskan makna dari sabda Rasulullah saw bahwa shalat itu seperti "mandi lima kali sehari".

“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)

Ada yang bertanya, "kalau shalat dapat membersihkan diri dari sampah intelektual", lalu mengapa harus praktik krachtology. Tidakkah cukup dengan shalat ?

Cukup. Persoalannya, sebagian orang tidak mempercayai sesuatu kecuali ada nash-nash yang mendukungnya. Jadi, kalau saya ngomongin masalah energi negatif, sampah intelektual dan sebagainya, paling mereka akan berkata, "mana ada di dalam al Quran yang demikian itu ? Mana hadis nya." segala sesuatunya mesti pakai dalil yang berbahasa arab. Itu saya bukan ahlinya. Itu domainnya para ulama, para ustadz. Kalau saya ngajarin shalat, khawatir salah. Ustadzah yang salah nulis ayat di metroTV aja dibully abis-abisan, maka apalagi kalau salah menjelaskan dali-dalil shalat. Karena itu, biarlah itu diserahkan kepada ahlinya, yakni para ulama. Saya hanya mengajarkan krachtology. Setalah mengerti hukum-hukum  krachtology dan manfaatnya, dengan sendirinya dia akan melihat, mengetahui dan merasakan bahwa "Shalat is an amazing". 

Krachtology tidak menggantikan syariat Islam, tapi dapat dikatakan sebagai "cara berbeda untuk memahami keluhuran dan kemuliaan ajaran Islam", salah satu contohnya tadi dalam soal "menguapkan sampah intelektual" berkaitan dengan sabda nabi "Shalat bagaikan mandi lima kali sehari".

6
Komentari Gambar / Berenang
« pada: Desember 12, 2017, 04:12:55 AM »

7
Humor Tak Bohong / Haram
« pada: Desember 11, 2017, 03:35:01 PM »

8
Filsafat / Cara Berfilsafat
« pada: Desember 11, 2017, 03:14:45 PM »
SK : Cara Berfilsafat
====================
1. Logika Sebagai Alat Filsafat
2. Membangun Kekuatan Berfilsafat Dengan Praktik Mistik
3. Metoda Mengajar Filsafat
====================

3. Metoda Mengajar Filsafat
Edisi : 19 Juli 2017, 18:42:08

Tujuan :
1)   Dapat mengajarkan filsafat dengan metoda yang baik dan tepat
2)   Memenuhi 5 ciri yang baik dalam mengajarkan filsafat
3)   Melakukan 3  Pemeriksaan Keyakinan terhadap Filsafat
4)   Dapat mengajarkan filsafat dengan cara bertahap melalui 2 langkah.
5)   Memiliki niat yang baik dalam mengajarkan filsafat
=================

Setiap orang berfilsafat. Dan setiap orang seringkali mengajarkan filsafatnya pada orang lain. Tetapi kemudian muncul problem yang ditimbulkan akibat penyangkalan orang atas kebenaran filsafat yang diajarkan tersebut. Penyangkalan tersebut mungkin akibat 3 hal :  1) memang filsafatnya salah dan perlu disangkal . Atau 2) metoda pengajarannya tidak tepat, sehingga orang lain tidak dapat memahami kebenarannya. 3) faktor mental negatif pada diri orang lain, seperti kesombongan, kemalasan dan gemar menyangkal.  Jika tidak ditemukan faktor mental negatif pada diri orang lain, dan anda yakin bahwa filsafat anda itu benar, maka satu faktor lagi yang anda perlukan, yaitu metoda pengajaran yang baik dan tepat.

Metoda pengajaran filsafat yang baik dan tepat itu terdiri dari 5 ciri, yaitu :

1)   Bahasa yang menyenangkan
2)   Benar
3)   Baik
4)   Bermanfaat
5)   Bertahap

Mengapa kita harus menggunakan bahasa yang menyenangkan ?

Alasan Pertama, Mayoritas orang akan menilai sesuatu menurut perasaannya. Jika sesuatu itu menyenangkan baginya, maka mereka akan menilai sesuatu itu benar. Semakin menyenangkan sesuatu itu, maka semakin benar baginya. Sebaliknya, jika sesuatu itu terasa tidak menyenangkan, maka sesuatu ituakan dinilainya salah. Semakin tidak menyenangkan, maka semakn salah baginya. Tentu saja, ini bukan cara penilaian yang objektif. Dengan ilmu logika, kita dapat menuntun orang-orang kepada suatu pemikiran yang objektif.  Tetapi, apabila di awal bahasa yang kita gunakan sudah dirasakan tidak menyenangkan, maka mereka akan menilai bahwa filsaat kita salah, ilmu logika kita salah. Dan mereka akan menolak filsafat kita sebelum mereka mengerti isinya.
Alasan kedua, sejatinya kebenaran itu indah. Tidak ada yang lebih indah dari pada kebenaran itu sendiri. Dan keindahan itu pastilah menyenangkan. Karena itu, jika orang berbicara kebenaran, pastilah indah dan menyenangkan.

Sebelum kita mengajarkan filsafat pada orang lain, kita juga harus memastikan bahwa filsafat yang akan kita ajarkan itu benar, baik dan bermanfaat. Ini berarti diperluan tiga keyakinan :

1)   Yakin bahwa filsafat yang hendak kita bagikan itu benar
2)   Yakin bahwa mengajarkan filsafat tersebut merupakan kebaikan
3)   Yakin bahwa filsafat yang hendak diajarkan itu bermanfaat.

Tanpa adanya keyakinan akan ketiga hal tersebut, sebaiknya menahan diri untuk tidak mengajarkan filsafat apapun pada orang lain. Ini disebut Tiga Pemeriksaan Keyakinan terhdap Filsafat.

Setelah memiliki tiga keyakinan tentang filsafat yang hendak diajarkan, diperlukan pula metoda pengajaran yang tepat, yaitu dengan cara bertahap melalui 2 langkah berikut :

1)   Menemukan argumentasi yang diakui kebenarannya
2)   Menunjukan konsekuensi logisnya

Berfilsafat berarti menemukan konsekuensi logis dari nilai-nilai keyakinan yang telah diakui benar atau salahnya. Dan mengajarkan filafat yang benar, mengandung arti menyampaikan konsekuensi logis dari hasil analisa terhadap suatu keyakinan yang telah diakui kebenarannya. Salah satu konsekuensi logis itu adalah konklusi.

Konklusi adalah kesimpulan dari suatu argumentasi. Kebenaran pendapat yang terkandung dalam wajib diterima oleh semua pihak yang mengakui kebenaran argumentasinya. Karena itu merupakan konsekuensi logis dari keyakinannya sendiri. Barangsiapa yang mengkui kenaran argumentasinya, tetapi menolak konklusinya sebagai konsekuensi logis, mengandung arti dia menyangkal dirinya sendiri, alias mengakui sekaligus membantah kebenaran suatu pendapat. Tindakan seperti ini, tentu tidak akan dilakukan oleh siapapun yang berpikiran waras.

Kegagalan dalam mengajarkan kebenaran filsafat dapat terjadi karena filsuf hanya menyampaikan pendapat akhir atau kesimpulan dari suatu argumentasi, tanpa menjelaskan argumentasi yang nilai kebenarannya diakui oleh pihak yang belajar.  Ini berarti metoda pengajaran secara tidak bertahap. Pengajaran secara tidak bertahap ini disebabkan oleh dua kemungkinan, yaitu :

1)   Ketidak-sabaran
2)   Ketidak-tahuan

Karena itu, agar tidak gagal dalam mengajarkan filsafat, pertama-tama harus sabar. Jangan mengatakan apapun yang kiranya tidak akan mampu dicerna, dimengerti dan diakui kebenarannya oleh orang lain. Kedua, hilangkan hambatan ketidak-tahuan tentang cara pengajaran bertahap dengan menekuni belajar ilmu logika.

Dengan demikian, untuk dapat mengajarkan filsafat dengan metoda yang tepat, sebagaimana dijelaskan di atas, ilmu logika sangatlah diperlukan. Karena dengna ilmu logika itulah kita akan menganaliisa dan menunjukan konsekuensi-konsekuensi logis dari nilai-nilai kebenaran yang telah diakui orang lain yang ingin belajar.   

Selain metoda yang tepat, pengajaran filsasafat juga perlu didukung oleh niat yang baik, yaitu :

1)   Atas dasar kasih sayang
2)   Bukan demi keuntungan duniawi

Mengapa kita repot-repot mengajarkan filsafat pada orang lain ? Karena kita ingin berbagi keyakinan. Kenapa kita ingin berbagi keyakinan ? Karena kita ingin berbagi kebahagiaan. Kenapa kita ingin berbagi kebahagiaan ? Karena kita bebelas kasihan pada orang yang menderita dan berharap mereka mengalami kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan yang kita alami.

Pada dasarnya ilmu pengetahuan dan filsafat diajarkan demi membebaskan manusia dari penderitaan menuju kebahagiaan. Penderitaan umat manusia bisa diakibatkan oleh kedzaliman. Kedzaliman muncul dari kebodohan. Kebodohan melahirkan keyakinan yang salah. Keyakinan yang salah menimbulkan kejahatan.

Peperangan, penindasan, kriminalitas, korupsi dan segala bentuk kejahatan itu sangatlah memprihatinkan. Kebodohan menjadi raja di dunia. Kedzaliman menjadi panglima. Semua kejahatan tersebut menimbulkan penderitaan umat manusia. Tetapi tidak akan ada yang lebih menderita dari pada mereka yang melakukan tindakan jahat itu sendiri. Mereka yang melakukan tindakan jahat, batinnya akan menderita karena hukum alam. Karena itu sudah sepatutnya orang-orang yang hidup dalam kebahagiaan berbelas kasihan pada mereka yang menderita dengan menuntun mereka kepada jalan yang benar melalui filsafat yang benar, demi kebahagiaan mereka sendiri. Itulah niat yang baik dalam pengajaran Filsafat, atas dasar kasih sayang, demi kebahagiaan umat manusia serta kesejahteraan dunia.

Filsafat yang luhur tidak akan pernah diajarkan dengan tujuan niat untuk memperoleh keuntungan dunia. Sebab mereka yang masih hidup dalam amarah, kebencian, dan dan keserakahan akan hidup duniawi tidak mungkin dapat mengajarkan filsafat yang luhur. Filsafat yang luhur, hanya dapat diajarkan oleh mereka yang suci, yang telah sampai pada kebahagiaan, hidup dalam penuh kenikmatan batiniah, telah merasa cukup dengan apa yang telah didapatkan, Sehingga tidak mungkin lagi baginya melakukan sesuatu demi keuntungan duniawi.

9
Politik / Umat Yang Tidur
« pada: Desember 11, 2017, 02:52:29 PM »

10
Komentari Gambar / Tukang Lompat
« pada: Desember 11, 2017, 05:02:54 AM »

11
Filsafat / Logika Yang Hidup
« pada: Desember 11, 2017, 04:23:17 AM »
Mati Logika adalah kondisi di mana logika seseorang tidak berfungsi. Ada dua kelompok orang yang “Mati Logika”. Pertama, orang yang logikanya mati karena tidak mengetahui hukum-hukum logika. Contohnya orang ini tidak dapat mengambil konklusi dari premis-premis.

Robot adalah benda
Setiap benda adalah ciptaan Allah

Karena Mati Logika, maka seseorang tidak dapat mengambil kesimpulan dari dua proposisi di atas.

Kelompok kedua, logika seseorang mati bukan karena tidak mengerti hukum-hukum logika. Boleh dikata, dia menguasai teori-teori ilmu logika, tapi teori-teori logika yang dikuasainya itu hanya sepeti file yang ada di dalam otaknya dan tidak berguna baginya. Memang ada orang yang demikian ? sepanjang pengalaman saya, banyak orang yang mengatakan kepada saya seperti, “saya delapan tahun mempelajari ilmu logika, dan saya tidak tahu apa gunanya bagi kehidupan.”

Ada logika matematika, logika elektroniika, logika filsafat dan sebagainya. Sebagian orang mempelajari ilmu logika untuk diterapkan pada bidang elektronika. Kemudian, ketika dia berhenti bekerja di bidang elektro, nyaris logika nya “mati kutu”.  Misalnya, saya seorang akuntan yang di PHK dari sebuah perusahaan. Lalu bekerja sebagai sopir truk, nyaris ilmu akuntan yang telah saya kuasai jadi “mati kutu”. Kira-kira begitu gambarannya orang yang “mati logika”.

Ada juga orang mempelajari ilmu logika untuk diterapkan pada bidang filsafat. Namun sumber filsafatnya tidak lain hanyalah buku-buku saja. Sementara “api filsafat” di dalam dirinya tidak menyala. Maka dia hanyalah penggemar buku filsafat, dan menyalin pengetahuan filsafat ke dalam ingatannya, dan tidak dapat menjadi filsuf. Ini juga kelompok yang saya sebut “Mati Logika”. Logika yang hidup meniscayakan pada perkembangan batin.

Logika dapat diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu apapun, sejarah, matematika, kimia, politik, psikologi, agama, filsafat dan lain sebagainya. Dapat dikatakan, seluruh disiplin ilmu membutuhkan logika itu. Jika logika dipergunakan dalam berbagai disiplin tersebut, maka itu adalah setara. Artinya, sama saja, seperti kita punya berbagai senjata, pistol, golok, pisau, panah, rudal atau bahkan bom. Mempergunakan semua itu sama saja, tujuannya untuk melumpuhkan musuh.  Sedangkan kita membutuhkan alat lain seperti alat kesehatan, alat transportasi, alat makan, dan lain sebagainya. Demikian pula, ada pengetahuan lain yang sangat kita butuhkan, selain dari pada fisika, kimia, matematika, dan sebagainya, yaitu pengetahuan batin. Oleh karena itu, seandainya logika hanya diterapkan pada bidang ilmu selainnya, maka saya katakan stagnan/statis, tidak berkembang ke arah yang lebih tinggi, yaitu pengetahuan batin, yakni Mistisisme. Sebab itu pula, saya menyebut mistisisme sebagai tantangan logika.

Untuk mengembangkan kemampuan batin, tidak perlu sempurna terlebih dahulu dalam mempelajari ilmu logika. Bahkan sebagian penempuh spiritual, dapat mengembangkan kemampuan batinnya tanpa pernah belajar ilmu logika sedikitpun. Yang jelas, mereka tetap menggunakan akal. Tetapi, banyak mistikus yang tersesat jalan, akibat kesalahan-kesalahan di dalam proses berpikir, atau para ahli batin yang teraniaya karna mereka tidak mampu menyampaikan pengetahuan batin melalui argumentasi logis. Karena itulah mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah, Logika Aristoteles bagi saya adalah suluk pengantar menuju dunia mistik[1]. Bila tidak sampai pada dunia mistik, maka saya menyebutnya “Logikanya mati” sebelum sampai pada tujuan yang sebenarnya, atau tidak naik pada anak tangga yang lebih tinggi.

Saya selalu melakukan pemeriksaan tentang “Apakah logika ini hanya mengembangkan pengetahuan-pengetahuan saja” ataukah juga “mengembangkan batin”. Pemeriksaan ini berguna untuk mencegah “Mati Logika”.  Salah satu ciri yang mudah dilihat dari “Logika yang Hidup” adalah “semangat”. Orang yang “Logikanya Hidup” akan menjalani hari-hari nya dengan penuh semangat. Dan semangat itu dilandasi dari proses berpikirnya. “Semangat Dalam Berpikir”, ini ciri khusus dari “LogikaYang Hidup”.

Malas, gelisah, ragu-ragu, bingung, faktor-faktor mental seperti ini menunjukan “Logika yang mati”.

-------------------
 1.    Lihat : Metodologi Belajar Tiga Tangga dan tiga alat penangkap ilmu

12
Komentari Gambar / Bulan
« pada: Desember 10, 2017, 05:50:22 PM »
====================
1. Bulan
1.1. Bulan Sabit
1.2. Bulan Tepi Pantai
====================

1. Bulan
Edisi : 09 Nopember 2017, 07:02:13


1.1. Bulan Sabit
Edisi : 08 Juni 2017, 10:36:18

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (Q.S 2:189)

1.2. Bulan Tepi Pantai
Edisi : 10 Desember 2017, 17:48:30



13
Kupas Logika / Hipotesa KH. Shidiq Al Jawi
« pada: Desember 10, 2017, 03:17:33 PM »
Hipotesa KH. Sihidiq Al Jawi
============================
Created Minggu 10 Desember 2017

Tulisan ini mengulas tanggapan KH. Shidiq Al Jawi terhadap pendapat Prof. Dr. Mahfud MD tentang "sistem khilafah yang tak baku". Anda dapat membaca tulisan KH. Shidiq tersebut di sini => http://medialogika.org/kajian-islam/cacat-epistemologis

Pada kesempatan ini, saya bermaksud memberikan sedikit ulasan dari sisi logika terhadap tulisan KH. Shidiq tersebut. Tidak semua isi tulisan tersebut saya ulas, melainkan sebagian kecil nya saja.

Kutip dari tulisan : KH. M. Shiddiq Al Jawi, S.Si, MSI 
-----------------------------------------
Jika memang benar demikian yang dimaksud Prof. Mahfud MD dengan istilah “sistem baku khilafah”, maka memang benar seperti yang disimpulkan sendiri oleh Prof. Mahfud MD, bahwa sistem khilafah yang baku ”…tidak pernah ada, tuh.”
=======================

Mari kita kupas pernyataan tersebut dengan bahasa Logika. Sebelumnya, untuk mempermudah kita dalam menyelami struktur pemikiran dalam tulisan KH.Shidiq, saya buatkan diagram berikut :



Dalam bidang ilmu logika, pernyataan KH. Shidiq disebut sebagai implikasi atau hiothetical proposition. Untuk ditelaah, para logicer biasa mengubahnya ke dalam bentuk variabel ABC, seperti berikut :

A = pengertian "Sistem baku" menurut pak Mahfud MD berdasarkan kamu KBBI
B = ada sistem khilafah yang baku

Jadi, menurut KH. Shidiq,  jik A benar, maka ~ B benar.

atau

"Jika benar - pengertian "sistem Baku" menurut pak Mahfud MD berdasarkan KBBI - maka pak Mahfud benar, bahwa tidak sistem khilafah yang baku.

Rule yang perlu difahami untuk sebuah implikasi, dapat dilihat pada tabel implikasi.

Untuk sampai pada suatu kesimpulan yang pasti, kita butuh penegasan tentang mana yang benar ? Jika tidak, maka selamanya pemikiran kita akan berpijak pada perandai-andaian saja.  Seperti pernyataan, "Jika A , maka B, karena jika C, maka D, itu pun bila X adalah Y". semuanya hanyalah "jika". dan ini disebut dengan hipotesa. Dengan demikian, pernyataan KH. Shidiq adalah sebuah hipotesa, apriori. Untuk mengubahnya menjadi aposteriori, maka perlu ada jawaban atas sebuah pertanyaan, "Benarkah penertian "Sistem Baku" yang dimaksud pak Mahfud MD berdasarkan KBBI ?"

Selama pertanyaan ini belum ada jawaban, maka tidak akan pernah ada kesimpulan. Lalu siapa yang akan menjawab pertanyaan, Pak Mahfud atau KH. Shidiq ? siapapun boleh menjawab. dengan adanya jawaban , maka konklusi bisa dibuat.  Anda pun bisa menjawab, "benar" atau "salah" ? jika proposisi A tersebut benar, maka Anda harus menerima konskuensinya, bahwa kesimpulan pak Mahfud itu benar.  Tapi, saya, Anda dan juga KH Shidiq belum dapat sampai pada suatu kesimpulan, baru hipotesa-hipotesa, hanya menduga, karena tidak ada yang memberikan jawaban sebagai premis minor untuk melengkapi suatu kesimpulan.

Bentuk syllogisme formalnya sebagai berikut :

Jika A, maka ~ B
Tapi, A atau ~ B ?
Misalnya, ternyata A,
jadi pasti ~ B

Anggaplah Anda menilai  A benar. dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa memang "tidak ada sistem khilafah yang baku". Kesimpulan ini jelas diakui kebenarannya oleh KH. Shidiq dengan mengatakan "Dari contoh di atas, jelaslah bahwa sistem khilafah yang baku, memang tidak ada. Prof. Mahfud MD dalam hal ini benar. Karena faktanya memang terdapat beberapa versi pendapat dalam cabang-cabang hukum dalam pembahasan khilafah." KH. Shidiq tidak menyangkal kesimpulan ini, tetapi menyangkal pendapat "Jika tak baku, mak tak wajib" atau "setiap yang tak baku adalah tak wajib", sehingga pokok yang pertanyaannya adalah "apakah benar, jika tak baku, maka tak wajib ?" Jika pertanyaan ini dijawab dengan "ya. benar", maka akhir berakhir pada suatu konsekuensi yang fatal, yaitu "menyatakan shalat tidak wajib", karena shalat juga tidak baku. "Sesungguhnya, jika penalaran Prof. Mahfud MD tentang “sistem yang baku” itu diikuti, niscaya akan gugurlah banyak kewajiban syar’i yang ada dalam ajaran Islam. " demikian tulis, KH. Shidiq. Dalam paragraf selanjutnya ditulis "jika wudhu, sholat, puasa, dan haji itu tidak baku, lantaran banyak khilafiyah dalam cabang-cabang hukumnya, maka menurut penalaran Prof. Mahfud MD, berarti wudhu, sholat, puasa, dan haji hukumnya tidak wajib semuanya, atau mungkin hukumnya mubah (boleh) dan boleh diganti sendiri oleh manusia dengan tatacara ibadah lain bikinan manusia sendiri." Tetapi kita semua yakin, bahwa Prof. Mafud MD menilai shalat itu wajib. Dengan demikian, KH. Shidiq mengidentifikasi adanya kontradiksi di dalam pendapat Prof. Mahfud MD. Kontradiksinya sebagai berikut :

E - Setiap yang tak baku tidaklah wajib, contohnya khilafah
I - Sebagian yang tak baku adalah wajib, contohnya shalat

Ini berarti KH. Shidiq di sini sedang mencoba membatalkan premis mayor dari sebuah syllogisme. bentuk syllogisme formalnya sebagai berikut :

Syllogisme pertama :
Sistem khilafah adalah yang tak baku
setiap yang tak baku itu tidak wajib
------------------>
jadi, sistem khilfah itu tidak wajib

Syllogisme kedua :
Shalat adalah yang tak baku
Setiap yang tak baku itu tidak wajib.
----------------- >
Jadi, Shalat itu tidak wajib

Jika menyangkal kewajiban shalat, maka harus menyangkal argumentasi "setiap yang tak baku adalah tak wajib". jika mengakui kebenaran argumentasi "setiap yang tak baku adalh tak wajib", maka harus pula mengakui "shalat tidaklah wajib". Tidak lah mungkin pak Mahfud mengingkari wajibnya shalat, karena itu pak Mahfud harus mengingkari kebenaran argumentasinya, yang juga berarti harus mengingkari kebenaran kesimpulan "sistem khilafah tak wajib". KH. Shidiq menganggap argumentasinya tidak valid. Dengan kata lain, KH. Shidiq mencoba membatalkan syllogisme pertama dengan tertolaknya syllogisme kedua,, "apabila tidak dapat diterima kesimpulan bahwa - shalat tidak wajib - maka harus ditolak pula argumentasi yang mengatakan bahwa - Setiap yang tak baku tidaklah wajib." Inilah premis mayor yang ingin dibatalkan oleh KH Shidiq.

Pertanyaannya, benarkah proposisi E dan I tadi itu merupakan pendapat pak Mahfud MD ? jika "ya", maka tentu Prof. Mahfud telah memegang suatu keyakinan yang kontradiktif. tetapi jawabannya belumlah tentu "ya". Saya meyakini tidaklah mungkin orang sekelas Prof. Mahfud MD meyakini "Setiap yang tak baku tidaklah wajib" sekaligus meyakini "sebagian yang tidak baku adalah wajib". Karena itu, sebelum melangkah terlalu jauh, maka perlu jawaban dari Prof. Mahfud, mana yang benar dari dua proposisi tersebut menurut beliau, A atau I  ?

Misalnya, Prof Mahfud menegaskan bahwa "jika tak baku, maka tak wajib" atau benar "setiap yang tak baku tidaklah wajib", lalu bagaimana ini dapat dianggap membawa pada konsekuensi "shalat tak wajib, karena tidak baku" ? Apakah Prof. Mahfud MD telah menyatakan bahwa "shalat" termasuk pada kategori yang "tak baku" ? jika "tidak", maka tidak ada kontradiksi di dalam pendapat Prof. Mahfud. tetapi kontradiksi itu adalah pendapat Prof. Mahduf dengan KH. Shidiq,apabila beliau yang mengklasifikasikan "shalat" kepada yang tidak baku.

Kajian ini akan terus bergulir dengan "Jika", "jika", "jika", "apabila" dan seterusnya, hanya berupa apriori. Tapi kajian ini dapat menjadi bahan pertanyaan, apa yang harus Anda tanyakan pada Prof. Mahfud MD, sehingga bisa menguba kajian apriori ini menjadi posteriori, sebagaimana semboyan yang selalu saya gunakan "semuanya butuh konfirmasi dan klarifikasi", walaupun sebenarnya tidak semua harus dikonfirmasikan dan diklarikasikan, tetapi semboyan ini untuk menguatkan pesan bahwa "betapa pentingnya konfirmasi kepada sang pemilik pendapat", yang kalau dalam bahasa Islam disebut dengan tabayun. Karena itu, analisa-analisa logis, penilaian-penilaian, serta kesimpulan-kesimpulan yang ada dalam kajian ini bukan untuk menghakimi, tetapi sebagai bahan untuk evaluasi dan rancangan pertanyaan-pertanyaan untuk dapat mengetahui realitasnya.

14
Kajian Islam / Cacat Epistemologis
« pada: Desember 10, 2017, 01:49:04 PM »
tulisan ini di posting oleh Fuad Burhani di grup Logika Filsafat Pada [09.12.17 13:22]


CACAT EPISTEMOLOGIS DALAM ISTILAH “SISTEM BAKU KHILAFAH” PROF. MAHFUD MD

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi, S.Si, MSI
(Pimpinan Pesantren Hamfara Jogjakarta; Anggota Komisi Fatwa MUI Propinsi DIY; Mahasiswa Doktoral Prodi Dirasah Islamiyah UIN Sunan Ampel Surabaya)

Sudah tersebar luas tantangan Prof. Mahfud MD via akun twitter beliau agar para penyeru khilafah menunjukkan sistem baku Khilafah. Prof. Mahfud MD menulis di akun twitter-nya,”Kalau mereka bisa menunjukkan sistem baku khilafah dari Qur`an dan Hadits maka saya akan langsung mempejuangkan khilafah bersama mereka. Ayo.” Dalam tweet beliau yang lain,”Sy bilang, ayo siapa yg bs tunjukkan sistem khilafah yg baku saya akan jd pengikutnya. Tapi tdk pernah ada, tuh.”
Istilah “sistem baku” nampaknya menjadi satu terminologi kunci (keyword) dalam pernyataan Prof Mahfud MD di atas. “Sistem yang baku” secara etimologis dapat dimaknai sebagai sistem yang pokok dan utama, atau sistem yang menjadi tolok ukur, atau sistem yang standar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata baku diartikan sebagai berikut; 1. Pokok; utama; 2. Tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas dan kualitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan; standar. (Lihat : https://www.google.co.id/amp/s/kbbi.web.id/baku.html, diakses 9 Desember 2017, pukul 01.35 WIB).

Maka dari itu, “sistem khilafah yang baku” kurang lebih dapat diartikan sebagai sistem khilafah yang standar yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Dengan demikian, mafhum mukhalafah-nya (pengertian sebaliknya), jika dalam sistem khilafah terdapat suatu hukum atau opini yang tidak standar, atau tidak disepakati, yakni terdapat khilafiyah alias beberapa versi hukum atau opini dalam sistem khilafah, maka sistem khilafah itu dikatakan tidak baku.

Jika memang benar demikian yang dimaksud Prof. Mahfud MD dengan istilah “sistem baku khilafah”, maka memang benar seperti yang disimpulkan sendiri oleh Prof. Mahfud MD, bahwa sistem khilafah yang baku ”…tidak pernah ada, tuh.” Sebab siapapun yang mengkaji fiqih khilafah secara detail, pasti akan menjumpai banyak hukum atau opini yang khilafiyah alias tidak baku. Sebagai contoh, persyaratan seorang khalifah apakah dia harus orang Quraisy atau tidak, ada khilafiyah di sini. Jumhur ulama mewajibkan khalifah harus orang Quraisy. Sementara sebagian ulama, seperti Qadhi Abu Bakar Al Baqilani, Ibnu Khaldun, dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, tidak mewajibkan khalifah dari suku Quraisy. Identitas Quraisy bagi khalifah hanya dianggap sebagai keutamaan (afdhaliyah) saja, bukan kewajiban. (Lihat Muqaddimah Ibnu Khaldun, III/527; Fathul Bari, XVI/237).

Contoh lain, persoalan apakah khilafah harus tunggal (satu) untuk seluruh dunia atau tidak, yaitu boleh berbilang (ta’addud) alias lebih dari satu, juga ada khilafiyah di sini sehingga tidak baku. Ada dua versi pendapat ulama dalam masalah ini. Jumhur ulama seperti imam mazhab yang empat, yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad, mewajibkan khilafah yang tunggal untuk seluruh dunia. Sementara sebagian ulama, seperti Imam Abu Ishaq Al Isfarayini, Abdul Qahir Al Baghdadi, dan Imam Al Haramain (Al Juwaini) berpendapat boleh-boleh saja ada lebih dari satu khilafah untuk seluruh dunia. (Lihat Mahmud Abdul Majid Al Khalidi, Qawa’id Nizham Al Hukm fi Al Islam, Kuwait : Darul Buhuts Al ‘Ilmiyah, 1980, hlm. 314).

Dari contoh di atas, jelaslah bahwa sistem khilafah yang baku, memang tidak ada. Prof. Mahfud MD dalam hal ini benar. Karena faktanya memang terdapat beberapa versi pendapat dalam cabang-cabang hukum dalam pembahasan khilafah. Tapi pertanyaan kritisnya adalah, apakah ketika sistem khilafah yang baku itu tidak ada, kemudian khilafah itu tidak wajib secara syar’i? Apakah adanya perbedaan pendapat dalam cabang-cabang hukum khilafah itu artinya khilafah hanya berstatus mubah (boleh) saja, sehingga boleh saja khilafah ditinggalkan dan diganti dengan sistem pemerintahan yang lain, semisal sistem republik?

Sesungguhnya, jika penalaran Prof. Mahfud MD tentang “sistem yang baku” itu diikuti, niscaya akan gugurlah banyak kewajiban syar’I yang ada dalam ajaran Islam. Karena adanya khilafiyah tentu tidak hanya ada dalam pembahasan khilafah, tapi juga ada dalam pembahasan bab-bab fiqih yang lain, seperti wudhu, sholat, puasa, haji, dan sebagainya. Dalam wudhu, misalnya ada perbedaan pendapat ulama mengenai apakah menyentuh perempuan membatalkan wudhu atau tidak. Mengikuti logika Prof. Mahfud MD, berarti wudhu itu tidak baku. Dalam sholat Shubuh, ada yang membaca Qunut ada yang tidak. Artinya, menurut logika Prof. Mahfud MD, sholat Shubuh tidak baku. Dalam puasa Ramadhan, Imam Malik mencukupkan niat satu kali untuk seluruh bulan Ramadhan, sementara jumhur ulama mewajibkan niat untuk setiap hari pada bulan Ramadhan. Maka mengikuti penalaran Prof. Mahfud MD, puasa Ramadhan tidak baku. Dalam haji, mazhab Syafi’I dan Maliki membolehkan wanita yang berangkat haji meski tanpa disertai mahram atau suaminya. Sedang mazhab Hanafi dan Hambali, wanita wajib disertai mahram atau suami. Walhasil, kalau menuruti Prof. Mahfud MD, haji tidak baku.

Nah, jika wudhu, sholat, puasa, dan haji itu tidak baku, lantaran banyak khilafiyah dalam cabang-cabang hukumnya, maka menurut penalaran Prof. Mahfud MD, berarti wudhu, sholat, puasa, dan haji hukumnya tidak wajib semuanya, atau mungkin hukumnya mubah (boleh) dan boleh diganti sendiri oleh manusia dengan tatacara ibadah lain bikinan manusia sendiri. Tapi apakah memang Prof. Mahfud MD memang ingin menggugurkan atau bahkan menghapuskan kewajiban wudhu, sholat, puasa, dan haji dari agama Islam? Tentunya jawabannya adalah negatif. Tidaklah mungkin Prof. Mahfud MD akan berani dan lancang menggugurkan kewajiban wudhu, sholat, puasa, dan haji, dengan dalih tidak ada sistem yang baku untuk masing-masingnya.

Dari sinilah nampak ada cacat atau kejanggalan dalam konstruksi argumen Prof. Mahfud MD yang menggunakan kata kunci “sistem baku khilafah”. Jika ditelusuri secara mendalam cara berpikir Prof. Mahfud MD, kecacatan argumen itu nampak dalam aspek epistemologisnya. Prof. Mahfud MD menggunakan logika silogisme, padahal seharusnya kalau bicara hukum Islam menggunakan pendekatan penalaran ushul fiqih. Di sinilah cacat epistemologis yang ada dalam penalaran Prof. Mahfud MD mengenai istilah “sistem baku khilafah”.
Epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat ilmu yang bicara mengenai asal usul (source) dari suatu pengetahuan dan bagaimana metode (method) yang dipakai untuk menemukan suatu pengetahuan. Jika bicara hukum Islam, misalnya untuk menentukan status suatu perbuatan apakah ia wajib, atau sunnah, atau mubah, maka penalaran yang digunakan, yaitu proses istinbath (penyimpulan) hukum dari sumber hukumnya, semestinya menggunakan penalaran ushul fiqih. Inilah epistemologi yang benar, bukan menggunakan logika sebagaimana Prof. Mahfud MD.

Dalam istilah “sistem baku khilafah”, nampaknya Prof. Mahfud MD menggunakan salah satu cara inferensi (penarikan kesimpulan) yang ada dalam ilmu logika (manthiq), yaitu silogisme. Premis mayor (muqaddimah kubra) yang ada adalah : segala sesuatu yang tidak baku berarti hukumnya tidak wajib. Sedang premis minor (muqaddimah shughra)-nya : khilafah tidak baku. Maka kesimpulan (conclusion, natijah) yang diperolah adalah : sistem khilafah tidaklah wajib. Demikianlah kira-kira proses penalaran yang digunakan Prof. Mahfud MD.

Sebenarnya, penggunaan logika (termasuk silogisme) tidaklah selalu salah. Penggunaan logika termasuk silogisme boleh-boleh saja, tetapi ada syaratnya. Syekh Taqiyuddin An Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir) dalam kitabnya At Tafkiir (1973 : 13-14) menerangkan bahwa penggunaan logika disyaratkan premisnya haruslah berupa suatu proposisi yang diyakini kebenarannya atau harus merupakan suatu realitas yang terindera (al waqi’ al mahsuus). Jika tidak memenuhi syarat ini, maka suatu penalaran dengan logika akan dapat menimbulkan kesalahan penalaran atau kesesatan (qaabiliyah al dhalaal), dan bahkan dapat menimbulkan kontradiksi (at tanaaqudh) dalam satu persoalan. Sebagai contoh, dalam persoalan apakah Al Quran itu makhluk atau kalamullah, bisa jadi seseorang berargumen begini, premis mayor : Al Quran itu adalah kalamullah. Premis minornya : kalamullah itu qadiim (terdahulu, bukan makhluk). Kesimpulannya, Al Quran itu qadiim (terdahulu, bukan makhluk). Pada saat yang sama, orang lain dapat pula menggunakan cara penalaran logika yang sama, tapi kesimpulannya dapat sangat bertolak belakang. Premis mayornya: Al Quran itu berbahasa Arab. Premis minornya : bahasa Arab itu sesuatu yang baru (hadits). Kesimpulannya, Al Quran adalah sesuatu yang baru (hadits) alias makhluk. (Taqiyuddin An Nabhani, At Tafkiir, hlm. 13-14).

Kembali pada logika yang digunakan Prof. Mahfud MD. Nampak jelas bahwa logika yang digunakan Prof. Mahduf MD ternyata menggunakan premis yang salah, yaitu premis mayornya yang berbunyi : segala sesuatu yang tidak baku berarti hukumnya tidak wajib. Inilah sumber masalahnya. Premis ini sudah dijelaskan kecacatannya di atas. Bisa kita uji premis mayor itu dengan bertanya, apakah sesuatu yang tidak baku lantas hukumnya tidak wajib? Apakah wudhu yang tidak baku lantas hukumnya tidak wajib? Apakah sholat yang tidak baku lalu hukumnya tidak wajib? Apakah haji yang tidak baku lantas hukumnya tidak wajib? Tidak demikian, bukan? Nah, pertanyaan yang sama dapat pula diajukan untuk khilafah, apakah khilafah yang tidak baku berarti tidak wajib?

Dalam epistemologi hukum Islam, wajib atau tidak wajibnya suatu hukum tidaklah dilihat dari segi apakah sistem bakunya ada atau tidak ada, tetapi dilihat apakah amr (perintah) atau thalabul fi’li (tuntutan untuk berbuat) yang terdapat dalam suatu dalil (ayat Al Quran atau Hadits), apakah disertai indikasi (qariinah) yang menunjukkan kewajiban atau tidak. Jika amr atau thalabul fi’li yang ada disertai dengan qariinah (indikasi) yang menunjukkan wajib, misalnya ada kecaman atau celaan yang keras bagi yang meninggalkannya, berarti amr atau thalabul fi’li itu statusnya wajib. Jika tidak ada kecaman yang keras, status amr itu mungkin bisa sunnah atau mubah, bergantung pada qariinah-nya. (Taqiyuddin An Nabhani. Al Syakhshiyah Al Islamiyah, III/39).

Sebagai contoh, ayat Al Quran menunjukkan ada amr atau thalabul fi’li untuk melakukan sholat,”Aqiimush sholaata wa aatuz zakaata warka’uu maa’r raaki’iin” yang berarti,”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku`” (QS Al Baqarah [2] : 43). Ternyata amr untuk melakukan sholat ini disertai qariinah (indikasi petunjuk) berupa kecaman keras untuk orang yang meninggalkan sholat, yang berarti sholat itu wajib hukumnya. Misalnya firman Allah SWT yang berbunyi,”Maa salakakum fii saqar, qaaluu lam naku minal musholliin,” yang artinya,”(Malaikat penjaga neraka bertanya),’

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS Al Muddatstsir [74] : 42-43).
Inilah cara penalaran yang benar dalam proses istinbath hukum, yakni dengan menggunakan pendekatan ushul fiqih. Jadi, suatu hukum berstatus wajib atau tidak wajib, dilihat oleh seorang mujtahid dari segi amr yang ada, kemudian dilihat qariinah-qariinah yang ada, lalu ditarik kesimpulan hukum syara’-nya.

Penalaran tersebut sangat berbeda dengan pendekatan manthiq (logika) yang semestinya tidak digunakan dalam hukum Islam. Orang yang semata menggunakan logika, boleh jadi hanya akan menilai suatu ketentuan hukum itu baku atau tidak baku. Kalau baku, hukumnya wajib, sedang kalau tidak baku, berarti tidak wajib. Dengan penalaran yang demikian, orang ini dapat saja menyimpulkan sholat itu tidak wajib. Mengapa? Karena dia akan mendapatkan bahwa tatacara sholat ternyata tidak baku. Misalnya ada yang sholatnya pakai Qunut ada yang tidak Qunut. Ada yang menganggap tumakninah sebagai rukun sholat, ada yang tidak menganggap tumakninah sebagai rukun sholat (mazhab Hanafi). Ada yang menganggap membaca Al Fatihah itu rukun sholat, ada yang mengatakan yang rukun hanyalah membaca Al Qur`an (mazhab Hanafi). Lalu dia dengan gegabah akhirnya menyimpulkan, “Oh ternyata sholat itu tatacaranya tidak baku ya, kalau begitu berarti sholat itu hukumnya tidak wajib.” Jelas ini adalah kesimpulan yang sesat dan jauh dari kebenaran. Astaghfirullahal ‘azhiem, na’uuzhu billahi min dzaalik.

Jelas penalaran logika semata ketika bicara hukum Islam adalah penalaran yang cacat dan tidak pada tempatnya. Cacat epistemologis yang parah dan fatal ini sungguh tidak hanya menyesatkan orang itu sendiri, tetapi juga menyesatkan orang lain, bahkan dapat menyesatkan berjuta-juta manusia di sebuah masyarakat atau negara. Sungguh Allah SWT kelak di Hari Kiamat akan meminta pertanggung jawaban kepada orang zalim yang telah menyesatkan manusia-manusia lainnya. Firman Allah SWT (artinya),”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al Israa` [17] : 36).

Ya Allah lindungilah kami dari kesesatan. Tunjukilah kami selalu pada jalan-Mu yang lurus. Ya Allah, kami sudah menyampaikan, saksikanlah!

Yogyakarta, 9 Desember 2017

15
Kajian Islam / Menggunakan Istilah Kafir
« pada: Desember 09, 2017, 02:55:11 PM »
SK : kafir
====================
1. Landasan Definisi
2. Kebenaran Yang Diketahui
3. Ragam Jenis Kafir
4. Error Logic
5. Menggunakan Istilah Kafir
====================

1. Landasan Definisi
Edisi : 20 Juli 2017, 20:01:01

Layy_laa Hijab Malang, [20.07.17 07:55]
----------------
1.Dfnsi kg asp ap pijakanx? bsa dsbutkan?
2.jk muslm mlkkan kjhtn,apkh brarti dia kfir?
3.Ap fgsi islam sbgai satu 2x agma yg diridhoi n diterima Allah?
==========

Insya Allah, pertanyaan-pertanyaan Anda akan saya jawab. Tapi lain kali, mohon kata-kata ditulis dengan ejaan yang benar. Karena tanya jawab ini akan diarsipkan dan dibukukan. Jadi, mari saling membantu. Saya membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda. Anda bisa membantu saya dalam proses penyusunan buku dengan ejaan yang rapi.

Jawaban nomor 1 ...

Apa landasan dari definisi "Kafir adalah mengingkari kebenaran" ?

Menurut hukum logika, setiap orang berwenang untuk mendefinisikan apapun dengan apapun selama memenuhi syarat definisi. Penjelasan mengenai ini dapat dilihat dalam tulisan saya berjudul "Mengenal Definisi" dan "Wilayah Kewenangan Definisi".

Tetapi juga setiap proposisi itu ada pemiliknya. Dalam hal ini, ayat-ayat al Quran merupakan proposisi-proposisi milik Allah swt. Itu berarti yang berwenang mendefinisikan term-term yang terkandung dalam al Quran adalah Allah dan RasulNya. Misalnya definisi "kafir" yang termuat dalam ayat-ayat al Quran, jelas definisinya harus definisi menurut Allah dan RasulNya.

Pertanyaannya, apakah Allah dan RasulNya telah menyampaikan definisi Kafir secara langsung ? Tidak. Saya belum menemukan definisi "kafir" secara langsung baik di dalam ayat-ayat al Quran maupun al Hadis. Di dalam al Quran hanya disebutkan sifat-sifat atau ciri-ciri orang kafir, tapi tidak ada definisi langsung tentang kafir itu sendiri. Adapun para ulama juga memberikan definisi yang berbeda-beda, sehingga akhirnya kita tetap harus mencari tahu dan menyelidikinya sendiri apa yang dimaksud dengan kafir menurut Allah dan RasulNya agar kita mengetahui pendapat ulama mana yang benar.

Berikut adalah ayat-ayat yang menjadi landasan defini "Kafir adalah mengingkari kebenaran".

”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS Al-Baqarah ayat 147)

Semua muslimin sepakat, kebenaran itu pasti datang dari Tuhan.  Pengingkaran terhadap kebenaran tersebut, itulah kafir. Kata kafir sendiri, di dalam al Quran merupakan kata yang disandarkan pada suatu objek. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, itu merupakan kata kerja. Seperti "menendang" pada kalimat "Rifki menenang". Kalimatnya masih belum lengkap, "menendang apa ?" misalnya "Rifki menendang bola". Demikian pula kata "kafir", pada kalimat "Gordon kafir", kalimatnya belum lengkap. Kafir pada apa ? "Gordon kafir pada ayat-ayat Tuhan".

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.S 2:39)

Dalam ayat lain, kata "kafir" disematkan pada kata "nikmat".  Bukankah orang yang kafir terhadap nikmat itu banyak ditemukan dikelompok muslim sekalipun ?

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan kafir. (Q.S 14:34)

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (Q.S 16:53)

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu kafir (Q.S 2:152)

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kafir (terhadap nikmat), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (Q.S 14:7)

Kafir terhadap nikmat itu diistilahkan dengan kufur nikmat. Apa benar yang kufur nikmat itu hanyalah non muslim ?

Selain itu, adanya kisah pernikahan Nabi Muhammad dengan Maria Al Qibtiya yang merupakan penganut Kristen ortodok, juga merupakan salah satu dari landasan saya membuat definisi "kafir". Karena tidaklah mungkin Rasulullah saw menikahi perempuan kafir dan musyrik. Allah telah melarangnya.

"Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Dan sungguh wanita budak yang mu`min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu." [QS 2 : 221]

Adalah tidak mungkin Maria al Qibtiya seorang kafir dan musyrik. Tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa ketika menikah atau setelah menikah dengan nabi saw, Maria kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam.

Ada juga kisah pernikahan Zainab binti Muhammad saw yang menikah dengan Abu Al As Ar Rabi, yang juga seorang pemeluk Kristen. Rasulllah saw sendiri yang menikahkannya, dan tak pernah sekalipun Rasullah saw menyebut menantunya tersebut dengan "kafir", bahkan hingga Abu Al Ash berperang melawan kaum muslimin. Sebelum Abu Al Ash memerangi kaum muslimin, Rasulullah tidak mempermasalahkan rumah tangga putrinya. Tetapi karena Abu Al Ash ikut memerangi kaum muslimin, maka Rasululullah berkata kepada Abu Al Ash, "Masuklah Islam atau kembalikan putriku !" Kisah ini ditulis oleh seorang ulama Arab Saudi bernama Abdullah Yamani, mantan menteri penerangan Arab Saudi.  Dan saya pernah mempostingnya di medialogika.org dengan judul "Liontin Khadijah".

Ini juga menunjukan bahwa Kristen belum tentu kafir. Jika Abu Al Ash kafir, tidaklah mungkin Rasulullah merestui putrinya menikah dengan Abu Al Ash. Tetapi, kemudian kekafiran terjadi karena Abu Al Ash memutuskan ikut memerangi kaum muslimin, maka Rasulullah meminta Abu Al Ash menceraikan istrinya dan mengembalikannya kepada Rasulullah saw.

Kemudian untuk  pertanyaan nomor 2, "Apakah setiap orang yang melakukan kejahatan berarti dia kafir ?"

Jawabannya "tidak".

Tidak setiap orang yang melakukan kejahatan termasuk kafir. Karena orang yang melakukan kejahatan bisa karena kelalaian, ketidaktahuan, ketidaksengajaan atau keterpaksanaan. Mereka yang melakukan kejahatan karena faktor-faktor tersebut tidak termasuk kepada kafir.  Tetapi, mereka yang melakukan kejahatan atas dasar kesengajaan, karena kesombongan, karena kebencian, dan keserakahan, maka itulah kafir. Jadi, sebagian penjahat adalah kafir. Atau bila dikatakan "setiap", maka setiap penjahat yang dengan sengaja melakukan kejahatan  - tanpa ada paksaaan - atas dasar kehendak sendiri di dorong oleh hubudunya wa karahatul maut, sedangkan dia mengetahui bahwa tindakannya itu salah  maka dia itulah kafir.

Selanjutnya, jawaban nomor 3.

Apa fungsi Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai Tuhan ?

Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Q.S 3:19)

Maha Benar Allah degan segala firman Nya.

Saya meyakini bahwa Islam adalah agama yang diridhai Allah. Kebenaran apapun yang datang kepada kita, itu pastilah dari Tuhan.  Karena itu, apabila kita menemukan kebenaran di dalam kitab fisika, matematika, kimia, semua itu pastilah dari Tuhan. Demikian pula, seandainya ada kebenaran yang dapat kita temukan di dalam Veda, Tripitaka, dan Injil, maka pastilah semua itu datang dari Tuhan. Dan apakah sebuatan suatu kebenaran jikalau bukan Islam ?

Segala ilmu sains itu berbicara mengenai kebenaran alam semesta. Dan Ali bin Abi Thalib berkata, "langit, bumi dan segala isinya dirangkum dalam al Quran." dan al Quran adalah sumber ajaran islam. Maka kebenaran apakah selain Islam ?

Islam mengajarkan kita untuk berbuat jujur dan adil. Karena itu, siapapun yang melaksanakan kejujuran atau keadilan, berarti dia itu melaksanakan ajaran islam. Siapapun yang berbuat kejahatan, menipu, mencuri uang rakyat, berbuat aniaya, maka dia itu sedang melaksanakan ajaran setan.

Manusia itu tadinya satu jiwa, kemudian menjadi banyak.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (Q.S 4:1)

Agama juga satu. Kebenaran tak pernah berubah, sejak zaman nabi Adam hingga yaumal qiyamah. Satu kebenaran satu ajaran. Tetapi kemudian manusia itu sendirilah yang membuat sekat-sekat ajaran menjadi Islam dan non Islam.  Lebih dari itu, islam pun kemudian disekat-sekat lagi, menjadi sunni dan syiah. Sunni pun kemudian disekat-sekat lagi menjadi wahabi, ahmadiyah dan ahlu sunnah. Syiah pun sama juga, dipisah dengan banyak sekat, syiah zaidiyah, syiah imamiyah, syiah shatariyah, dll. Jadilah agama itu banyak dalam hitungan manusia. Tapi dalam pandangan Allah, tak ada agama, tak ada mazhab-mazhab, tak ada sekat-sekat, siapapun yang menjalankan kebenaran dan menegakan kedilan di muka bumi, maka dia itulah penganut ajaran Islam, satu-satunya agama yang diridhai Allah swt.

Ada orang yang rajin shalat dan puasa, tapi tidak juga berjudi dan gemar berbohong. Itu namanya melaksanakan sebagian ajaran Islam dan tidak melaksanakan ajaran Islam lainnya. Ada orang yang jujur, ramah dan tak pernah berjudi, tapi dia tidak shalat dan puasa, sama juga dia melaksanakan sebagian ajaran islam tapi tidak melaksanakan ajaran lainnya. Karena itu ada seruan, "ya ayyuhalladziina aamanuu udkhuluu fissilmi kaafah!", "masuklah ke dalam islam secara menyeluruh. Tapi siapa diantara kita yang Islamnya sudah kaffah ? Seseorang melaksanakan rukun islam yang lima, dermawan, jujur, ramah, penyantun, tapi sayangnya dia sombong. Itu sudah cukup membatalkannya dari islam kaffah. Bahkan iblis, yang dalam sekali shalatnya mencapai waktu hingga ribuan tahun, dia menjadi kafir karena satu hal, yaitu sombong.

Apakah islam saya kaffah ? Apakah Islam Anda kaffah ? Kita hanya sedang berusaha memasuki Islam secara kaffah. Jika kita sudah berhasil memasukinya, niscaya kita merupakan salah satu wali diantara wali-wali Allah. Karena itu, bagaimana kita akan meunduh pihak lain sebagai kafir hanya karena mereka baru dapat melaksanakan sebagian dari ajaran Islam, sedangkan diri kita juga tak jauh beda, baru bisa melaksanakan sebagian saja dari ajaran Islam ?

Muncul pertanyaan , "Benarkah setiap non muslim berarti mengingkari kebenaran islam ?"

tidak benar.

Orang tidak masuk Islam belum tentu karena mengingkari kebenaarnnya, melainkan bisa juga karna tidak mengeahui kebenarannya. Seperti disebutkan "karena adanya masa fatrah". Sebenarnya masa fatrah ini tidak hanya terjadi pada masa sebelum nabi saw, tetapi juga pada masa sesudahnya. Yang dimaksud masa fatrah di sini adalah di mana kebenaran Islam tidak sampai  pada seseorang atau sekelompok orang. Pada zaman sekarang misalnya, orang-orang di pedalaman amazon mengalami masa fatrah.  Tidak ada yang menyeru mereka kepada kebenaran Islam, tidak ada yang menjelaskan islam, bagaimana mreka akan dikatakan "mengingkari kebenaran islam" ?

Di tengah kota New York sekalipun, tidak mustahil seseorang mengalami masa fatrah. Kebenaran Islam tidak sampai kepadanya. Tak seorangpun mengajaknya pada islam, tidak ada yang memberi penjelasan mengenai kebenaran Islam. Walaupun sekarang zaman internet, tapi yang dia temukan hanyalah gambaran Islam yang bengis. Atau seseorang mencoba menunjukan Islam kepadanya, namun dengan wajah yang salah, Islam dengan wajah yang radikal, intoleran, ekstrim, dan sebagainaya, maka bagaimana dia akan dapat mengerti kebenaran islam dan dikatakan "mengingkari kebenaran Islam" ? Sebenarnya dia bukan saja mengalami masa fatrah, tetapi juga mengalami masa fitnah. Karena gambaran islam yang sampai kepadanya merupakan produk fitnah, terlihat buruk dan salah, sehingga akalnya mengatakan pada dirinya bahwa Islam seperti itu wajib untuk dia tolak.

2. Kebenaran Yang Diketahui
 Edisi : 20 Juli 2017, 23:08:23

saya telah menyebutkan bahwa syarat seseorang disebut kafir mesti ada faktor "pengingkaran terhadap kebenaran". Jika seseorang mengingkari kebenaran, maka dia itu kafir. Tetapi, yang dimaksud kebenaran di sini adalah kebenaran yang ditelah mengerti sebagai kebenaran. Islam agama yang benar. Karena itu mengingkari islam, berarti kafir. Ini betul. Tapi jika ada orang yang tidak mengetahui kebenaran Islam, maka tidak dapat disebut mengingkari kebenaran. Karena untuk bisa diingkari, sesuatu kebenaran itu harus diketahui terlebih dahulu.

Rian Yuda, [20.07.17 22:28]
Maksud saya selain islam itu bisa di katakan kafir kang padahal dia sudah tahu adanya islam.   Ini hanya analisa saya saja kang tpi jangan di asumsikan saya islam radikal????

Asep Rochman, [20.07.17 22:28]
Ok. saya sudah menjawab persoalan ini. apa yang anda ketahui dari argumentasi saya untuk menyangkal pendapat anda ini ?

Rian Yuda, [20.07.17 22:36]
Kafir tidaknya orang tidak ditentukan oleh status di ktp,label,busa dan pengakuan. Melainkan oleh perilaku dua syarat sehingga seseorang disebut kafir pertama mengingkari kebenaran kedua di berbuat kerusakan

Asep Rochman, [20.07.17 22:36]
adakah yang keliru dari argumentasi tersebut ?

Rian Yuda, [20.07.17 22:38]
Sebelumnya saya minta maaf klo menyinggung.

Mengakui nabi isa itu tuhan bagi islam benar atau salah kang.

Asep Rochman, [20.07.17 22:38]
salah.

Rian Yuda, [20.07.17 22:40]
Klo begitu mengakui nabi isa itu tuhan masuk kategori kafir tidak kang.

Asep Rochman, [20.07.17 22:45]
tidak tahu.

krn saya tidak mengerti maksud pertanyaannya. jika saya atau anda mengakui nabi isa sebagai Tuhan, niscaya saya dan anda kafir. karena saya dan anda mengetahui bahwa Isa as bukanlah Tuhan. menyangkal hal ini berarti menyangkal kebenaran. menyangkal kebenaran berarti kafir.

Adapun orang kristen yang mengakui isa sebagai Tuhan, tidak mengingkari kebenaran. atau tidak ber niat mengingkari kebenaran. apabila mereka tidak mengetahui kebenaran tentang keesaan Tuhan.

Sedangkan para pendeta Najran yang ditantang bermubahalah oleh Nabi saw, jelas-jelas mereka kafir. Karena mereka sudah mengerti kebenaran argumentasi rasulullah saw. Dan salah seorang dari mereka berkata, "Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Muhammad benar, celakalah kita kalau bermubahalah denganya." walaupun sudah mengerti bahwa Muhammad benar, tapi masih mengingkari kebenaran itu dengan enggan masuk Islam dan masih menuhankan Isa as agar tidak kehilangan umat.  Karena itulah mereka kafir.

3. Ragam Jenis Kafir
 Edisi : 20 Juli 2017, 23:34:31

Rian Yuda, [20.07.17 23:05]
Dalam Kitab Syarah Safinatun Najah dijelaskan :

Kafir itu ada empat macam :

Kafir inkar yaitu orang yang tidak mengenal Allah sama sekali dan tidak mau mengakui-Nya.Kafir Juhud yaitu orang yang mengenal Allah dengan hatinya, namun tidak mau mengakui / mengikrarkannya dengan lidahnya seperti kufurnya Iblis dan Yahudi.Kafir Nifaq yaitu orang yang mau berikrar dengan lisan namun tidak mempercayai-Nya dalam hatinya.Kafir ‘Inad yaitu orang yang mengenal Allah SWT dalam hatinya, dan mengakui dengan lidah-Nya, namun tidak mau melaksanakan ajaran-Nya, seperti Abu Thalib.

Merujuk kepada makna bahasa dan beragam makna kafir dalam ayat al-Quran, Kafir terbagi menjadi
beberapa golongan, berikut ini adalah kenis-jenis kafir :

1. KAFIR HARBI

Yaitu orang kafir yang memerangi Allah danRasulullah dengan berbuat makar diatas muka bumi.
(QS. Muhammad : 4)

2. KAFIR DZIMMI

Yaitu orang kafir yang tunduk pada penguasa islam dan membayar jizyah/upeti
(QS. At Taubah :29)

3. KAFIR MUAHAD

Yaitu orang kafir yang tinggal di Negara kafir, yang ada perjanjian damai dengan Negara islam.
(QS. Al Anfal : 58)

Sabda Rasulullah saw, Barangsiapa yang membunuh seorang muahid maka tidak akan mencium bau surga…” (HR. Bukhori)”

4. KAFIR MUSTA’MAN

Yaitu orang kafir yang masuk ke Negara islam,dan mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah.
(QS. At-Taubah : 6)

Penyebutan kata-kata kafir, tidak selamanya mempunyai konotasi berakhlak buruk, jahat, dan sifat-
sifat kotor lainnya. dan tidak juga pelecehan nilai-nilai kemanusiaan, karena semua manusia adalah ciptaan Allah. dan dari segi humaniti semua manusia adalah saudara. Akan tetapi penyebutan kata kafir lebih kepada masalah keimanan, dimana mereka tidak mau mengimani Allah Swt sebagai Tuhan, dan Muhammad Saw sebagai RasulNya serta mengingkari ajaran-ajarannya.

Sebenarnya jika mereka memahami arti dan konsekuensi dari kata non muslim, sebenarnya tanpa
disadari mereka rela dipanggil kafir dari perspektif islam, Hanya mungkin kedengarannya lebih halus, ketimbang disebut sebagai kafir. Orang-orang kafir ternyata berakhlak mulia ? Bisa saja orang-orang kafir berakhlak baik, seperti jujur, tidak korupsi, tidak berzina, berbuat baik dengan tetangga, menyantuni orang miskin, dll. Namun akhlak baik itu tidak cukup untuk menghapuskan status dia dari katagori orang kafir, manakala mereka tetap ingkar kepada Allah, atau ingkar kepada rasul-rasulnya termasuk Nabi Muhammad dan ajarannya.

Hanya allah yang maha tahu. Mohon maaf klo ada salah kata

Asep Rochman, [20.07.17 23:13]
Ada ragam jenis kafir. jadi, definisi kafir itu sendiri apa menurut Anda ?

Rian Yuda, [20.07.17 23:16]
Mengingkari allah dan rosul2 nya.

Asep Rochman, [20.07.17 23:17]
lalu, apa bedanya dengan definisi yang saya berikan ?

Rian Yuda, [20.07.17 23:32]
Maaf kang ternyata sama

4. Error Logic
 Edisi : 20 Juli 2017, 23:50:17

A) setiap kafir masuk neraka (benar)
O) sebagian musyrik bukan kafir (benar)
kesimpulan : tak ada.

KTBT-AOO merupakan modus berpikir yang tak sah, sehingga tidak dapat dan tidak boleh melahirkan kesimpulan apapun.

Sahl Abbad, [20.07.17 23:19]
Sahl Abbad:
konsekwensi diatas apa error logic kang?

Kang Asep:
benar.

Sahl Abbad :
maaf menyela diskusi nya kang.
letak error logic dari sisi mana?saya amati kok belum ketemu ketemu.bisa kang asep bantu?

Asep Rochman, [20.07.17 23:28]
A) Setiap kafir masuk neraka
O) sebagian musyrik tidak kafir

kesimpulan :  sebagian yang masuk nereka bukan musyrik

pelanggaran terhadap hukum peniapan yang kedua, term yang tak meniap seharusnya tidak meniap dalam kesimpulan. perhatikan term "musyrik", dalam premisnya "meniap", tapi dalam kesimpulan jadi "meniap", ini sebuah kekeliruan (error).

misalnya jika dibalik :

O) sebagian musyrik tidak kafir
A) setiap kafir masuk neraka

kesimpulan : sebagian musyrik tidak masuk neraka

perhatikan term "masuk neraka", dalam premisnya "tak meniap", tapi dalam kesimpulan "meniap". ini error logic.

Sahl Abbad, [20.07.17 23:42]
maaf satu lagi kang..

Sahl Abbad:
sebagian musyrik dan mereka yang tidak menyangkal Tuhan bukan kafir.jadi mereka tidak masuk neraka.benar begini kang?

^
sebenarnya error logic dari penyataan itu yang saya maksudkan,maaf tadi tidak saya copy kan.

Asep Rochman, [20.07.17 23:47]
E) sebagian musyrik yang tak menyangkal Tuhan bukan kafir
A) Setiap kafir masuk neraka
kesimpulan :  sebagian musyrik yang tak menyangkal Tuhan tidak masuk neraka

perhatikan term "masuk neraka", berubah dari "tak meniap", menjadi meniap. melanggar hukum peniapan kedua.

5. Menggunakan Istilah Kafir
 Edisi : 09 Desember 2017, 14:52:31



Halaman: [1] 2 3 ... 632

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan