Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Kang Asep

Halaman: [1] 2 3 ... 617
1
Cerpen / Gaj Ahmada Yayat
« pada: Agustus 20, 2017, 10:55:08 AM »
Daftar Isi
====================
1. Obers
2. Gaj Ahmada Yayat <<<<<
====================


2. Gaj Ahmada Yayat
Edisi : 20 Agustus 2017, 10:51:47

Teman saya masa kecil, mempunya nama yang unik. Orang tuanya memberi nama seperti nama seorang tokoh sejarah Maha Patih Gajah Mada. Naman teman saya itu serupa tapi agak beda, namanya Gaj Ahamda Yayat. Kalau diucapkan sama saja dengan Gajah Mada, hanya ditambahi dengan Yayat. Entah apa maksudnya dinamai seperti itu. Tapi dengan namanya yang gagah seperti itu, saya membayangkan bahwa kelak Yayat akan menjadi orang besar dan hebat seperti maha patih Gajah Mada. Setidaknya, mungkin itu pula yang diharapkan oleh orang tuanya. Seperti seorang ayah yang menamai anaknya dengan nama Muhammad, berharap anaknya memiliki akhlak mulia seperti nabi Muhammad saw. Walaupun faktanya, tidak sedikit orang yang bernama Muhammad, tetapi perilakunya tidak sesuai dengan kebesaran nama Muhammad itu sendiri. Akan tetapi, nama adalah doa dan harapan. Tuhanlah yang memperkenankan segala sesuatunya.

Nama panggilannya Yayat. Bersama Yayat di waktu kecil, saya main bersama, hujan-hujanan bareng, main layang-layangan, lumpur-lumpuran di tanah becek. Ketika pulang, kami sama-sama dimarahi orang tua masing-masing. Terkadang kami juga berkelahi, dan pulang ke rumah masing-masing dalam keadaan berlumuran darah. Tapi dua hari kemudian, kami main bareng lagi. Itulah kenangan yang saya ingat tentang Yayat.

Setelah lulus SMA tahun 1997, saya tak pernah jumpa lagi sama Yayat. Dia menikah dengan seorang gadis Bandung, kemudian pergi ke Jakarta untuk bekerja di sana.

Tak disangka, setelah 20 tahun berlalu, saya berjumpa lagi dengan Yayat. Kamipun saling melepas rindu, bercengkrama diteras rumah diselingi canda tawa, mengenang indahnya masa lalu yang telah dilewati bersama. Di akhir perbincangan, Yayat berterus terang bahwa maksud kedatangannya adalah untuk pinjam uang kira-kira 5 juta rupiah. Dia terdesak oleh suatu kebutuhan. Saya kasihan, tapi boro-boro uang segitu, seratus ribu rupiah juga saya tak punya. Hidup saya pas pasan. Anak saya yang SMK hampir tak pernah jajan di sekolah, karena tak ada uang. Yayat tampak sedih dan kecewa. Tapi apa boleh buat, sayapun tak mampu menolong.

Hari telah senja, Yayat permisi hendak pulang. Dia minta diantar, karena tadi dia datang naik angkot,  gak pake motor. Ya sudah, sayapun bersedia mengantar sambil ingin tahu, di mana rumah Yayat sekarang. Katanya sih tinggal di Majalaya.

Sepanjang jalan, saya memboncengi Yayat sambil asyik mengobrol. Sampai tiba-tiba sampai di pinggir sungai Citarum yang sepi, hal tak disangka-sangka terjadi. Entah setan apa yang merasuki Yayat, tiba-tiba Yayat menempelkan pisau belati ke rusuk saya dan menyuruh saya berhenti. Dia berkata, "Maaf kawan, pikiranku gelap, aku jkalut,  sangat butuh uang, aku pinjam motor mu, kalau nanti aku sudah sukses, aku akan ganti." Yayat merampok.

Saya hampir tak percaya dengan apa yang terjadi. Saya turun dari motor sambil mengangkat kedua tangan, menandakan bahwa saya tidak akan melakukan perlawanan. Saya sedih, mengapa Yayat menempuh jalan yang salah dalam menyelesaikan masalah.

"Yat .... Kamu telah salah langkah. Jangan seperti ini. Cara begini tidak akan dapat membuat hidupmu lebih baik. Bersabarlah ! Dan carilah jalan keluar yang halal. Jangan hanya butuh uang sedikit, kau mengorbankan harga diri, mengorbankan kebahagiaan hidupmu sendiri." saya mencoba menyadarkan Yayat.

"ah.. Gak tau.... Saya gak bisa mikir sekarang. Mana kuncinya, berikan padaku !" bentak Yayat sambil mengacungkan pisau.

"Yat ... Kalau kita berkelahi, berarti aku mempertahankan harta bendaku. Wajib hukumnya bagi muslim mempertahankan harta benda. Jika aku mati, aku mati syahid. Karena aku berada di jalan yang lurus. Sedangkan bila kau mati, kau mati sia-sia, kelak masuk neraka, karena kau mati di jalan yang sesat. Bertobatlah Yat ! Jangan kamu mempermalukan dirimu yang memiliki nama seperti tokoh yang dihormati oleh segala bangsa, Gajah Mada." demikian kata saya.

Tapi Yayat sudah benar-benar kerasukan setan. Dia mencoba merbut kunci motor dari tangan saya. Tentu saya berkelit. Sejenak kami bergulat berebut kunci motor. Akhirnya dia berhasil menangkap saya dari arah belakang, mendekap erat dengan mengrahkan pisau belati, "berikan kunci itu atau kau mati sekarang juga."

Bagaimanapun, saya adala seorang yang dari kecil belajar seni beladiri, dan sekarang saya adalah seorang pelatih beladiri, sehingga tidak terlalu bingung dengan situasai yang dihadapi. Kaki kanan saya melangkah satu langkah ke arah belakang, melwati kaki Yayat. Tangan kiri menahan tangan kanan Yayat yang memegang pisau, sementara sikut saya memukul lambung Yayat dengan keras. Seketika Yayat terhuyung, berjalan mundur. Yayat mundur terlalu jauh, tak sadar kalau dibelakangnya adalah sungai Citarum yang mengalir deras. Saya terhenyak saat melihat Yayat terjuangkal dan tercebur ke sungai. Saya berteria memanggil namanya, "Yayaat !" hendak menolong namun terlambat. Yayat tercebur dan hanyut.

Ternyata saya tidak berteriak sendirian memanggil nama Yayat. Di belakang saya tiba-tiba muncul sorang perempuan yang juga berteriak memanggil nama Yayat. Perempuan itu mendekat, dia tampak shock. Ketika saya perhatikan, ternyata perempuan ini adalah Nur Aisyah, kawan saya semasa kami di SMA. Dengan pandangan yang heran, saya bertanya, "Nur .... Kok kamu ada di sini ... Memangnya di ...." saya menunjuk ke arah sungai di mana Yayat tenggelam.

"Dia itu suamiku ..." teriak Nur dengan putus asa. Sejenak kemudian pandangannya beralih padaku dengan penuh kemarahan. "Kamu telah membunuh suamiku." air mata Nur berderai-derai.

Nur dikuasai oleh api amarah. Dia mengambil balok kayu yang ada di pinggir sungai, lalu dia mendekatimu dengan sorot mata seperti setan. Yakinlah saya, kalau dia hendak menyerang untuk membalas dendam.

"Nur ... Sabar Nur ... Sabar .... Dengar dulu .... Suami kamu itu tadi hendak membunuh saya. Saya tidak bemaksud menceburkan dia ke sungai ..." saya mencoba memberi pengertian. Tapi Nur sudah dikuasai oleh amarah, ... Dia tidak tampak hendak menghentikan serangannya.

Sejenak teringat dalam bayangan, kenangan masa lalu. Nur Aisyah adalah seorang gadis sekelas yang pernah saya cintai. Perawakannya agak gemuk, tapi dia gadis manis nan baik hati. Saya mengaguminya. Kadang-kadang saya mencubit pipinya yang tembem, dan Nur diam saja, tidak marah. Malah senyum tanda suka terlihat di wajahnya. Akhirnya, setelah sekian lama menyelidiki perasaannya, saya yakin Nur pun mencintai saya. Sehingga di tengah keramaian anak-anak SMA yang sedang istirahat belajar, saya menarik bahu Nur dan berbisik, "Nur, aku mencintai kamu. Bagaimana Nur ?"

Nur tersenyum, ... Dan menutup wajahnya dengan kerudung dan berkata, "Aku juga ... Aku terima cinta mu."

Rasa hati saya berbunga-bunga. Tapi sejak jadian, nyaris tak ada yang kami lakukan. Saya tidak mengajaknya makan di warung bakso, jalan-jalan ke taman, apalagi boncengan pake motor.  Bukannya tak ingin seperti para pemuda lainnya, yang gegayaan boncengin pacar, atau jalan-jalan ke mall. Tapi saya ini hanya pemuda miskin, yang bahkan tak mampu membeli sendal jepit. Ke mana-mana pergi tanpa alas kaki dan tanpa celana dalam. Bagaimana dapat memanjakan pacar dengan main-main ke mall ? Akhirnya pacaran terasa hampa. Nur pun pernah mengeluh, "katanya kita pacaran, tapi kok kayak gak pacaran." apa boleh buat, nasib pemuda miskin. Akhirnya selepa lulus SMA kami berpisah tanpa pernah ada kata "putus".

Tak disangka, setelah 20 tahun berlalu kini Nur hadir di hadapan saya dengan sebongkah balok kayu yang ingin dia gunakan untuk membunuh saya. Saya menyesal dan sedih, tak ada lagikah rasa cinta itu di hatinya ? Tak terlalu menyakitkan seandainya dia telah lupa dengan rasa cinta nya pada saya, tapi sekarang dia bukan hanya lupa, tapi melihat saya seperti seekor binatang menjijikan yang harus dibunuh.

Walaupun pikiran saya melayang ke masa lalu, tapi mata saya tetap waspada, meihat balok kayu itu melayang tepat ke arah batok kepala saya. Secara refleks, saya merunduk menghindari hantaman. Tak disangka, Nur terbawa oleh ayunan balok kayu yang cukup besar itu. Dia tidak dapat mengendalikan diri dan tercebur ke sungai Citarum bersama balok kayu, menyusul suaminya.

Saya berlari sekencang-kencangnya ke arah sungai untuk menolong Nur. Segera turun dan mencari sesuatu yang kiranya dapat dijadikan pelampung. Tapi tak ada. Saya bermaksud melepaskan baju saya untuk diraih oleh Nur, dan saya tarik ke daratan. Tapi gak jadi. Percuma, dengan cepat Nur teseret ke tengah oleh arus sungai yang sedang deras. Saya mencoba berteriak, "tolong... Tolong..." tapi itu tempat yang sepi. Tak ada orang yang mendengar.  Saya terus berlari, berlari dan berlari mengikuti Nur Aisyah yang terhanyut. Saya terjatuh berapa kali, kaki saya terluka tapi tak peduli, saya bangkit lagi dan berlari mengejar kembali Nur, berharap Nur menepi dan saya bisa menolongnya.

Akhirnya Nur tenggelam ditelan air. Dan saya tak dapat melihatnya kembali. Saya ambruk di tanah dengan rasa penyesalan. Hari ini, saya telah membunuh dua orang yang saya cintai. Mengapkah ini harus terjadi.

Hari mulai gelap, .. Bagaimanapun saya harus pulang. Anak dan istri saya tentu menunggu saya di rumah. Hati saya gelisah, akankah anak dan istri kehilangan saya, karena saya harus mendekam dalam bui ? Tapi saya yakin bahwa saya tak bersalah.

Saya berjalan dengan lunglai. Mencari jalan keluar dari sungai tersebut. Tetapi, saya terkejut saat melihat sesosok orang di tepian sungai. "Ya Allah, itu Yayat ..." saya segera menghampirinya. Dia pingsan, tapi denyut nadinya masih terasa. Segera saya menolongnya, menyeretnya ke tempat kering, menekan perutnya, mengeluarkan air, serta memberinya nafas buatan. Tak lama Yayat tersadar, dan saya mengucap syukur alhamdulillah.

Saya membimbing Yayat untuk berjalan ke tempat yang lebih nyaman. Setelah duduk dengan nyaman, Yayat memadangi saya dengan perasaan bersalah. Lalu dia mengucap maaf. Tentu saya memaafkan dia. Sebaliknya saya mohon maaf padanya, karena tak dapat menyelamatkan istrinya yang juga tercebur ke sungai. Mendengar itu, Yayat menangis sesenggukan. Saya mencoba menenangkannya, "Sabarlah Yat ... Seperti kamu telah diselamatkan, ... Mudah-mudahan Nur juga selamat ..."

2
Proposisi / Delapan Kebenaran
« pada: Agustus 19, 2017, 08:56:37 PM »


Untuk membantu mempermudah dalam mempraktikan Dialektika Logika, maka silahkan pelajari tabel delapan kebenaran.



selengkapnya saya sajikan dalam bentuk file pdf. dapat anda download di sini : Download tabel delapan kebenaran.

3
Komentari Gambar / Sore Yang Cerah
« pada: Agustus 19, 2017, 04:07:59 PM »

4
Komentari Gambar / Kajol
« pada: Agustus 17, 2017, 06:43:44 PM »

5
Keranjang Sampah / Aishwarya Rai
« pada: Agustus 15, 2017, 07:40:35 AM »

6
Filsafat / Di Luar Jangkauan Pengalaman
« pada: Agustus 14, 2017, 08:01:51 AM »
Daftar Isi
====================
1. Ikhlas Berbuat
1.1. Tujuan Perbuatan
1.2. Di Luar Jangkauan Pengalaman <<<<<
====================



1.2. Di Luar Jangkauan Pengalaman
Edisi : 14 Agustus 2017, 07:50:25

Saya membagi kebenaran ke dalam tiga jenis, yaitu kebenaran ilmiah, kebenaran logika dan yang terakhir disebut kebenaran bathiniah. Yang terakhir ini disebut kebenaran sejati atau kebenaran yang paling luhur. Untuk mencapai kebenaran yang luhur tersebut, setiap orang harus berpijak pada kebenaran ilmiah dan logika. Jadi, ketiga jenis kebenaran tadi bagaikan tiga anak tangga, di mana untuk mencapai anak tangga ketiga, harus melewati anak tangga pertama dan kedua.

Anak tanggap pertama, yaitu anak tangga ilmiah berpijak pada kebenaran empirisme, bersumber pada tangkapan panca indera. Tetapi, problemnya apa yang disaksikan oleh panca indera selalu bersifat partial.  Kita selalu mendengar ayam jantan berkokok. Dan tidak mendengar sesuatu yang berkokok kecuali ayam jantan. Karena itu, kemudian kita mendefinisikan bahwa "ayam jantan adalah ayam yang berkokok". Padahal kita tidak pernah melihat seluruh ayam jantan yang ada di dunia ini saat ini saja, apalagi ayam jantan yang pernah hidup sejak zaman purba hingga sekarang dan ayam jantan yang akan hidup sejak hari ini hingga masa yang akan datang, tetapi kita berani untuk mengatakan "setiap ayam jantan berkokok".  Bagaimana kalau pernah hidup di dunia ini, seekor ayam jantan yang berkotek ? Atau sebaliknya, bagaimana kita tahu bahwa di seluruh penjuru dunia saat ini tak ada seekor ayam betina yang berkokok ? Kita berani menyatakan "semua", padahal kita menyaksikan hanya "sebagian".

Menetapkan sifat universal pada suatu term adalah suatu keharusan.  Karena apabila tidak demikian, maka segala sesuatu tak dapat didefinisikan dan tak ada yang namanya logika. Karena kebenaran logika bergantung pada definisi dan distribusi term-termnya. Karena itu, metoda ilmiah tidak lagi memadai utnuk memahami kebenaran, semua manusia dengan terpaksa atau sukarela pasti melangkah ke tangga berikutnya, yaitu tangga logika, di mana kita akan menetapkan hal-hal yang terlihat partial sebagai "universal".

Kebenaran suatu konklusi logis bergantung pada distribusi term-termnya. Ini berarti menetapkan peniapan pada objek yang kita ketahui, semisal "setiap kelinci berekor".

Sebagian anggora adalah kelinci
setiap kelinci berekor
jadi, sebagian anggora berkor.

Yang dimaksud dengan distribusi term itu ada pada premis mayor, "setiap kelinci". Secara empiris, saya tidak pernah melihat kelinci yang tak berekor. Karena itu, proposisi "setiap kelinci berekor" merupakan kebenaran yang objektif dengan parameter empiris tadi.

Tetapi, bagaimana apabila ada orang yang mengaku bahwa dirinya pernah melihat kelinci tanpa ekor ? Apakah pengakuannya benar atau bohong ? Apakah mustahil ada kelinci tanpa ekor ?

Jika kita yakin bahwa mustahil ada kelinci tanpa ekor, maka kita tentu yakin bahwa pengakuan orang yang telah melihat kelinci tanpa ekor merupakan kebohongan. Tapi bagaimana kalau hal itu tidak mustahil benar ? Bagaimana bila benar-benar ada kelinci tanpa ekor ? Jika pengakuan tersebut benar, niscaya kebenaran proposisi "setiap kelinci berekor" menjadi batal. Yang benar, "sebagian kelinci tak berekor".  Tetapi sejauh ini, keberadaan kelinci yang tak berkor merupakan hal yang di luar jangkauan penglaman kita. Karena itu, kita menolak kebenaran pengakuan orang yang yang melihat kelinci tanpa ekor. Dan kita yakin, bila ada sesuatu yang mirip kelinci, tetapi tanpa ekor, itu adalah marmut, bukan kelinci. Ini berarti kembali kepada konsep "wilayah kewenangan definisi". Kita telah terikat oleh definisi yang kita sepakati sebelumnya.

Itu hanyalah contoh sederhana, akan tetapi di dunia filsafat hal sederhana tersebut seringkali menjadi pembicaraan yang pelik, rumit dan kompleks. Seperti halnya diskusi tentang "perbuatan tanpa tujuan" yang telah saya tulis dengan judul "Ikhlas Berbuat". Dalam jangakauan pengalaman sehari-hari, kita tidak pernah menyaksikan adanya suatu perbuatan tanpa tujuan.  Karena itu, menjadi mustahil rasanya "ada perbuatan tanpa tujuan". Jika ada sesuatu yang mirip perbuatan, tetapi tidak memiliki tujuan, berarti tanpa kehendak, maka itu kita anggap bukan perbuatan, melainkan hanya gerakan, seperti gerakan robot atau mesin. Hal ini semata-mata karena adanya bentuk perbuatan manusia yang tanpa suatu tujuan berada di luar jangkauan pengalaman kita. Tetapi para ahli mistik, yang telah mendalami suatu daya bathin yang disebut dengan "iljan" tidak terlalu sulit untuk menerima kebenaran adanya suatu perbuatan tanpa tujuan tadi, karena hal itu telah hadir di dan disaksikan dalam kehidupan sehari-harinya.

Persoalan di atas, akan saya coba perbuat dengan contoh lainnya. Kita tahu bahwa apabila jarum suntik ditusukan ke kulit kita, tentu jarum tersebut akan menembus kulit kita. Dan biasanya kita merasakan sedikit sakit.  Bagaimana ada yang berkata bahwa dia tidak dapat disuntik oleh dokter, karena tak ada jarum yang dapat menembus kulitnya ? Apakah hal itu mustahil ? Ketika kita menganggapnya hal itu mustahil, maka walaupun kita melihatnya langsung kebenarannya, niscaya kita tidak akan dapat menerimanya. Misalnya, orang itu menunjukan video bahwa jarum-jarum suntik malah melengkung saat ditusukan ke kulitnya. Dan kita akan menilainya bahwa itu adalah rekayasa editing video. Bahkan bila kita langsung melihatnya, maka kita hanya akan menganggapnya sebagai trik sulap belaka. Kita tidak akan bergeming sedikitpun dari keyakinan sebelumnya. Karena kita yakin benar, kulit manusia bukan besi maupun baja, jadi secara rasional mestilah dapat ditembus oleh jarum suntik.

Seorang lelaki bernama Dusman, dia sakit typus selama tiga bulan lamanya. Nyawanya dalam bahaya,  harus segera diinfus dan diberi suntikan obat. Tetapi, saat dokter kebingungan, karena jarum-jarum suntik tak dapat menembus kulitnya. Seseorang telah menceritakan kisah ini kepada saya. Dan saya tidak mengetahui kebenarannya. Bisa saja itu hanya kebohongan. Tidak mustahil juga benar. Apalagi zaman sekarang ini, zaman era digital, jika memang cerita tersebut benar, niscaya sudah viral di dunia maya. Tetapi mereka yang pernah terlibat dunia ilmu kanuragan, tidak terlalu sulit menerima kebenaran adanya seseorang yang tak tembus jarum suntik, bahkan di dunia ilmu kanuragan, menyaksikan orang kebal senjata tajam dan senjata api adalah hal biasa. Saya pernah menyaksikan seekor ayam yang diikatkan sebuah azimat kepadanya, lalu ditembak dengan senjata api. Ayam tersebut hanya terkejut, karena kaget dengan suara letusan senjata api, tetapi peluru tak menembus kulitnya. Jika telah ayam tak tembus senjata api, dan percaya dengan kebenarannya, tentu tak terlalu heran mendengar kabar ada orang yang tak tembus jarum suntik, walaupun tak pernah viral di dunia maya.  Karena, walau viral sekalipun, kalau kita pada dasarnya tak percaya, viralitas tidak akan pernah dapat menjadi bukti yang dapat mengubah keyakinan kita.

Belakangan ini, telah terjadi kasus penyiraman air keras kepada salah satu penyidik KPK Novel Baswedan, sehingga Novel mengalami kerusakan pada wajah, khususnya bagian mata.  Anda berpikir, "semua orang, jika terkena siraman air keras, pastilah kulitnya akan melepuh". Jika Anda berpikir demikian, maka demikian pula saya.  Tapi bagi saya, kata "semua" hanyalah mencakup antara saya, Anda dan orang-orang normal lainnya. Sehingga kalau ada orang yang kulitnya tak melepuh dengan siraman air keras, tidak dapat membatalkan term "semua orang", karena yang dimaksud dengan term "semua orang" ini hanya mencakup "orang-orang normal" tadi. Sehingga menetapkan sifat "universal" pada objek-objek yang "partial" bukan sebua manipulasi atau kebohongan, tetapi kita masuk ke wilayah definisi, di mana dengan definisi tersebut, sesuatu yang abnormal atau anomali-anomali dikeluarkan dari himpunan peniapan.

Kembali ke contoh kasus soal "perbuatan tanpa tujuan", secara logika keyakinan bahwa "setiap perbuatan pasti bertujuan" tidak dapat disalahkan, terutama apabila hal itu memang didasarkan pada kenyataan yang selalu disaksikan dalam hidup sehari-hari. Akan tetapi, ada sesuatu yang abnormal, di mana seseorang berbuat sesuatu tanpa tujuan apapun. Jika kenyataan ini dipaksa masuk ke dalam himpunan peniapan perbuatan tadi, niscaya akan menjadi kontradiksi.

A) setiap perbuatan pasti bertujuan
O) sebagian perbuatan tidak bertujuan

sebagaimana kita ketahui, apabila dihadapkan kepada suatu kontradiksi, maka mau tak mau, kita harus memilih satu yang benar, dan harus menyalahkan yang lainnya. Tetapi, bila pengalaman Anda belum menjangkau suatu perbuatan tanpa tujuan, dan definisi perbuatan telah anda sepakati, maka mustahil Anda akan menerima bahwa proposisi di atas bernilai false. Anda pasti meyakini bahwa itu benar, dan proposisi O bernilai salah.  Penyelesaian permasalah ini sebenarnya mudah, saya hanya perlu menamahkan sedikit variabel baru pada term "perbuatan", sehingga tidak ada lagi kontradiksi, tidak ada lagi pertentangan.  Saya bisa bersepakat dengan Anda bahwa benar "setiap perbuatan itu pasti bertujuan", sehingga jika anda perbuatan yang tidak bertujuan, maka itu adalah perbuatan yang tak normal. Dengan demikian dua proposisi berikut tidak lagi kontradiksi.

A ) Setiap perbuatan pasti bertujuan
O) sebagian perbuatan yang abnormal tidak tujuan

dua proposisi tersebut tidak dapat dikatakan kontradiksi, karena tidak memenuhi syarat kontradiksi akibat terdapat perbedaan term. Dengan demikian, Anda ataupun saya secara logika dapat tetap meyakini kebenaran satu proposisi di atas tanpa harus menyalahkan proposisi lainnya.

Karena itu, Pengetahuan yang diperoleh melalui jalan mistik menjadi tangga terakhir dari tangga pengetahuan. Seperti pengetahuan ilmiah yang tak memadai, dan harus beranjak ke tangga logika. Apa yang disaksikan oleh panca indera dapat menipu. Yang dapat mengetahui kebenaran sesungguhnya dari apa yang terlihat adalah logika. Demikian pula, setelah kita bergelut dengan logika, kita akan mengerti batas-batasnya yang tak memadai untuk memahami kebenaran sesungguhnya dari apa yang terlihat oleh indera maupun logika. Bahwa, di dunia ini selalu ada pengecualian, ada hal-hal yang membatalkan peniapan. Dulu kita meyakini bahwa "setiap A adalah B", tetapi kemudian kebenaran batiniah yang dicapai melalui perjalanan spiritual, membuat kita tahu bahwa apa yang kita yakini "setiap" ternyata bukan setiap. Seluruh kebenaran ilmiah dan logika seakan dihancurkan. Sebenarnya bukan dihancurkan, tetapi dilengkapi. Yang dihancurkan itu adalah kesombongan diri akibat kepercayaan terahadap kebenaran ilmiah dan logika. Setelah kita menyelami dunia mistik, kita akan mengerti bahwa kebenaran ilmih dan logika itu sejatinya dapat menipu. Logika tanpa ilmiah atau ilmiah tanpa logika, itu pincang.  Ilmiah harus dilengkapi dengan logika. Logika harus dilengkapi dengan ilmiah. Sebenarnya, logika dan ilmiah harus dilengkapi dengan kebenaran batiniah. Jika sampai di sini, berarti kita sampai pada kebenaran haqul yaqin. Tetapi karena ketidaktahuan, seorang berkata, "saya tidak melihat, Allah dan RasulNya menyuruh kita mencari kebenaran dengan cara mistik." tidak perlu saya bantah pernyataan ini, karena sebagai mana dibahas di atas, itu adalah jangkauan pengalamannya dia.


7
Komentari Gambar / Siapa Dia
« pada: Agustus 14, 2017, 05:06:38 AM »

8
Komentari Gambar / Baju Hitam
« pada: Agustus 13, 2017, 07:40:04 AM »

9
Komentari Gambar / Bird Women
« pada: Agustus 12, 2017, 12:06:10 AM »

10
Komentari Gambar / Para Gadis
« pada: Agustus 11, 2017, 03:49:34 PM »

11
Filsafat / Pelajar Sejati
« pada: Agustus 11, 2017, 03:36:49 PM »
Daftar Isi
====================
1. Kebijaksanaan Sokrates
2. Sokrates Dan Metoda Berfilsafatnya
3. Pelajar Sejati <<<<<
4. Seni Debat Dialektika Sokrates
5. Penyelidikan Definisi Dengan Metoda Dialektika Logika
6. Format Diskusi Dialektika Logika
7. Hanya Bertanya
7.1. Delapan Pertanyaan
8. Syllogisme Sebagai Alat Utama Dialektika Logika
9. Contoh Dialektika Logika
====================



3. Pelajar Sejati
Edisi : 11 Agustus 2017, 10:02:13

Ada ungkapan, "Guru yang bijksana adalah sahabat terbaik". Entah dari mana pertama kali saya membaca ungkapan ini. Tapi saya setuju dengan ungkapan tersebut dan terpahat dalam hati sanubari saya. Kemudian saya juga menyadari bahwa "Pelajar sejati sebenarnya dia adalah guru yang bijaksana". Dengan demikian, guru dan pelajar adalah sama. Terkadang kita menjadi guru bagi seorang pelajar dalam suatu bidang ilmu pengetahuan. Tetapi, jika kita guru yang bijaksana, niscaya kita akan banyak belajar dari pelajar tersebut. Karena itu, sejatinya pelajar tersebut adalah guru kita. Bila kita tidak banyak belajar dari seorang yang sedang belajar kepada kita, berarti kita ini kurang bijaksana.

Filsafat Pelajar sejati ini berasal dari Sokrates. Dia sebagai guru besar Filsafat, dan disebut sebagai orang yang paling bijaksana pada zamannya, beliau berkata, "batu dan kayu tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Maka aku pergi ke kota untuk belajar pada orang-orang."

Tidak sedikitpun Sokrates merasa pintar dan lebih tahu dari orang-orang, sehingga dia banyak ceramah, mengajari orang-orang.  Di Kota, Sokrates menemui orang-orang dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dengan cara itulah Sokrates belajar, tetapi sekaligus membuat orang-orang banyak belajar dari pertanyaan-pertanyaan Sokrates. Pertanyaan-pertanyaan Sokrtes itu seringkali berujung pada kesadaran akan ketidak-tahuan, kebodohan diri, hingga Sokrates berkata, "Anda tidak tahu, saya tidak tahu, jadi siapa yang tahu ?"

Sokrates menghadapi orang-orang yang so tahu, merasa paling tahu, atau disebut-sebut sebagai orang bijaksana. Tapi pertanyaan-pertanyaan Sokrates akhirnya melumpuhkan kesombongan, membuat kaum intelektual kemudian merasa malu untuk merasa tahu dan bijaksana. Setelah melalui banyak diskusi-diskusi, akhirnya Sokrates menyimpullkan bahwa ternyata orang yang bijaksana itu adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Jadi, jika seseorang belum sadar akan ketidak-tahuannya, tidak sadar akan kebodohannya, maka jauhlah orang itu dari disebut bijaksana. Bersama dengan itu, jika seseorang tahu bahwa dirinya tidak tahu, mengerti bahwa dirinya bodoh, maka bagaimana mungkin dirinya akan merasa pintar dan bijaksana ? Justru Sokrates mengajukan banyak pertanyaan, karena merasa dirinya tidak tahu. Dia belajar dengan tulus pada orang-orang. Dia berkata, "aku akan belajar pada orang-orang". Inilah pelajar sejati, sekaligus menjadi guru bangsa. Justru dengan cara seperti itulah kebijaksanaan Sokrates tak dapat dipungkiri. Orang bijaksana tidak akan pernah merasa dan mengaku bijaksana. Jika orang bijaksana mengaku bijaksana, maka pengakuan tersebut membatalkan kebijaksanaannya. Kejujuran seorang guru dapat dilihat dari pengakuannya akan ketidak-tahuannya, karena itu tidak ragu-ragu untuk menjawab tak tahu, bila memang tak tahu. Guru yang pandai dapat dilihat kepandaianya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. Guru yang mengajar dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dia itulah pelajar sejati.

Dengan kebijaksanaan dan keluasan ilmunya, bagaimana Sokrates tidak merasa paling tahu dan lebih bijaksana dari orang lain ? Bagaimana dia tidak sombong dan tidak gatal lidahnya  untuk langsung mengatakan kebenaran-kebenaran yang dia mengerti untuk disampaikan pada orang lain ? Itu karena Sokrates yakin, semua orang tahu kebenaran-kebenaran itu dan tidak perlu diajari lagi. Kebenaran itu ada di dalam pikiran setiap orang, seperti bayi yang ada di dalam kandungan setiap ibu hamil. Yang dilakukan Sokrates hanyalah belajar, bagaimana membantu orang-orang itu untuk mengeluarkan kebenaran itu dari dalam pikiran setiap orang, seperti seorang bidan yang bersungguh-sungguh membantu ibu hamil ketika saatnya mengeluarkan bayi dari dalam kandungannya.

Kita telah muak menghadapi orang-orang yang so tahu, so suci, so bijaksana, merasa paling benar dan merasa paling pintar.  Karena itu, mari mulai dari diri kita sendiri untuk tidak bersikap so tahu, so suci, so bijaksana, merasa paling pintar dan bijaksana. Caranya dengan menjadi pelajar sejati, dengan menempatkan semua orang sebagai guru, dengan tulus kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan, belajar sebanyak-banyaknya dari orang lain.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Sokrates bukanlah pertanyaan biasa, melainkan pertanyaan-pertanyaan luar biasa dan ajaib yang disebut dengan Dialektika Logika. Karena itu apabila Anda ingin menjadi pelajar sejati, maka mari kita pelajari apa dan bagaimana itu Dialektika Logika. Di mana Anda dapat mempelajari metoda tanya jawab Dialektika Logika ? Di medialogika.org .


Selanjutnya >>> Seni Debat Dialektika Sokrates


12
Komentari Gambar / Baby Shima
« pada: Agustus 10, 2017, 07:10:26 PM »


Ratu Smule

13
Renungan / Re:Memelihara Kebencian
« pada: Agustus 10, 2017, 07:03:43 AM »
dari Buddha.

14
Renungan / Re:Hukuman Untuk Pezina
« pada: Agustus 10, 2017, 05:58:58 AM »
ya. benar.

15
Komentari Gambar / Cantik dan Bercahaya
« pada: Agustus 09, 2017, 07:20:58 AM »

Halaman: [1] 2 3 ... 617