Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Topik - Taufik Mario

Halaman: [1]
1
Kajian Islam / Sekedar Ilustrasi
« pada: Juni 09, 2018, 08:17:13 PM »
Sekedar Ilustrasi
       Ada anjuran, kalau ada perintah terlebih-lebih perintah itu datang dari agama maka kita harus:
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَ
(dengar dan taat/amalkan/laksanakan), tidak usah dipikiri lagi.  Kalau Kita lapar diperintah makan bukan? boleh makan, boleh..... sami’naa wa atha’naa, dengar boleh..., telan saja buktinya tidak bisa ya...? begitu wel....lep,  begitu wel...lep..., bagi yang mau berpikir, tiga kepal memakan waktu itu. Artinya pantas tidak dielep/dieleg.?
       Jadi walaupun jelas perintah itu harus pikirkan, jangan begitu sami’naa lep...lep... lep....sebab antara  sami’naa wa atha’naa ada abstan, yakni masukkan kepada femahaman/ditanggapi dahulu, jangan terburu-buru atau gegabah. Dengan kata lain harus penuh kehati-hatian, pikirkan dahulu segala-galanya.
       Contohnya Nabi Ibrahim diperintah Allah menyembelih Ismail dipikiri dahulu tidak langsung main sembelih, Allah berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
         “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Q.37:102).
          Karena semua yang kita dengar dan amalkan semuanya dimintai pertanggungan jawabnya, sebagaimana firman Allah,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”(Q.17:36).
“Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya, dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak difahami, dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya.”
(Ali bin Abi Thalib).
Catatan:
Hati-hati diera medsos ini, banyak orang yang suka merintah (menyuruh share), harus pikirkan dahulu..?
Wallahu a’lam bishawab.


2
Kajian Islam / Pancasila Wajib Syar'i
« pada: Juni 04, 2018, 09:12:20 PM »
PANCASILA WAJIB SYAR’I
UMAT ISLAM HARUS JADI PELOPOR IDEOLOGI PANCASILA

Yahudi,  Nasrani, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, menerima  Pancasila, dan lantaran menerima Pancasila tentu mereka siap mengamalkannya bukan..?
Tidak menanyakan cara pengamalannya, tidak. Menurut mereka sila: “Ketuhanan Yang  Maha Esa” itu cara mengamalkannya bagaimana.? silahkan dengan cara mereka.
Cuma yang ditanyakan bagaimana dia mengamalkan Pancasila itu,... dapat ganjaran tidak..? begitukan persoalannya..? Kalau Islam kan sudah sreg, sudah sedap yah,
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
 Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. (112:1)
Lantas saya berkata begini: Orang Islam juga kalau mengamalkan Pancasila demi Pancasila, terlebih-lebih karena  diperintah oleh Yamin, Soepomo, Soekarno, Hatta dan oleh para founding fathers lainnya atau Soeharto maka  tidak dapat ganjaran.
Kita mengamalkan ajaran Quran ini, apa karena Quran atau apa karena Allah..? tentu karena Allah. Quran mah tidak bisa mengganjar wong ajaran, karena Allah-lah yang mengajar dan mengganjar.
Nah begitu pula Allah sudah mengajarkan kepada kita:
1.   Kamu harus mempunyai sikap hidup dan kehidupan itu atas dasar Tauhid; perintah Allah bukan..? tentu perintah Allah...!
2.   Dan kamu harus menjadi manusia yang adil dan beradab perintah bukan...? Perintah...!
3.   Harus kamu mempersatukan bangsa; perintah...!
4.   Harus kamu mengatur negara ini bermusyawarah; perintah...!
5.   Dan harus kamu meratakan keadilan sosial; perintah tidak..? Perintah juga..!
Kita jalankan perintah itu tidak ada niat apa-apa menjalankan perintah saja, atau terlebih-lebih karena diperintah oleh Presiden menjalankannya karena itu tok..., tidak ingat karena Allah dapat ganjaran..? tentu tidak saudara. Presiden walaupun berkuasa tidak punya syurga kan..?
Kalau kita niatnya itu karena thoat kepada pemerintah tapi lepas hati kita hubungan kepada Allah, maka tidak dapat ganjaran. Tetapi kalau kita niat thoat kepada pemerintah, karena Quran memerintah:
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Thoati Allah, thoati Rosuul, thoati ulil-amri diantara kamu.” (QS. 4:59)
Ulil-amri itu orang/uwong/pemerintah. Kalau merintah kepada kita itu benar maka thoati, dan thoatnya kita kepada pemerintah itu bukan mengharap ganjaran kepada pemerintah, tapi karena diperintah Allah. Jadi sadar hati kitanya, bahwa ini diperintah Allah. Tampaknya kita thoat  karena negara yah...? padahal hati kita kesana kaitannya pada perintah Allah.
Jadi kalaulah kita mengamalkan Pancasila semata-mata karena Pancasila tanpa niat karena Allah, yakni ada perintah dari Allah maka tidak ada ganjaran.
Suatu amalan yang baik, sebaik dan se-sholih apapun amal itu, kalau tidak didasari oleh “Iman yang Benar”, maka amal itu sia-sia bagaikan debu yang berterbangan sebagaimana firman Allah:
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS.25:23).
             Atau amal-amal yang bagaikan fatamorgana:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS..24:39) 
            Yang demikian itu, amal-amal teu aya  wawadahnaaa..kata suku sunda maaah.., boten ono wadahhee...kata suku jawa. Dengan kata lain, kalau amal-amal yang baik, bagus, sholih ingin diberi ganjaran oleh Allah maka harus ada kantong/wadahnya yakni iman yang benar.
Mohammad Natsir (1908-1993) adalah dari tokoh Masyumi seorang intelektual, dan mantan Perdana Menteri. Menulis di majalah Hikmah 29 Mei 1954 berjudul:
“Apakah Pancasila Bertentangan dengan Ajaran Al-Qur’an?”
Bagi Natsir, perumusan Pancasila adalah hasil musyawarah para pemimpin pada saat taraf perjuangan kemerdekaan memuncak di tahun 1945. Natsir percaya di dalam keadaan yang demikian, para pemimpin yang berkumpul itu, yang sebagian besar beragama Islam, pastilah tidak akan membenarkan sesuatu perumusan yang menurut pandangan mereka, nyata bertentangan dengan asas dan ajaran Islam.
Dengan nada retorik, Natsir bertanya, bagaimana mungkin Al-Qur’an:
1.   .....yang memancarkan Tauhid, dapat apriori bertentangan dengan ide Ketuhanan Yang Maha Esa?
2.   .....yang ajaran-ajarannya penuh dengan kewajiban menegakkan adalah ijtima’iyah bisa apriori, bertentangan dengan Keadilan Sosial?
3.   .....yang justru memberantas sistem feodal dan pemerintahan istibdad (diktatur) sewenang-wenang, serta meletakkan dasar masyarakat dalam susunan pemerintahan, dapat apriori dengan apa yang dinamakan  Kedaulatan Rakyat?
4.   .....yang menegakkan istilah islahu bainan nas (damai diantara manusia) sebagai dasar-dasar yang pokok yang harus  ditegakkan oleh umat Islam, dapat apriori, bertentangan dengan apa  yang disebut Perikemanusiaan?
5.   .....yang mengakui adanya bangsà-bangsa dan meletakkan dasar-dasar yang sehat bagi kebangsaan, apriori dapat dikatakan bertentangan dengan Kebangsaan?   
Natsir sangat yakin dalam pangkuan Al-Quran, Pancasila akan hidup subur. Satu dengan yang lain tidak apriori. (M. Natsir, Capita Selecta 2, halàman 211).
Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah  atau lebih di kenal dengan julukan Hamka adalah seorang ulama, sastrawan, sejarawan, dan juga politikus. Buya Hamka, beliau  mengatakan: “Landasi Pancasila itu dengan Qur’an, sehingga apabila kita tidak mengamalkannya merasa berdosa”.
Dan saya punya guru/al Ustadz Maryani  (alm), melanjutkan apa yang diucapkan Buya Hamka itu, dengan mengatakan: “Apa artinya berdosa kalau bukan wajib”.
Kalau mau diuraikan agak panjang, kata beliau apakah mengamalkan Pancasila itu hukumnya: Wajibkah..?, Sunnahkah...? Makruhkah...?, Mubahkah,...? atau Haramkah...?
 Jadi tentu saja wajib. Akhirnya beliau berkesimpulan bahwa,
“Mengamalkan Pancasila itu Hukumnya Wajib Syar’i.” Artinya orang yang tidak mengamalkan Pancasila kena hukum berdosa.
Saya sebagai murid yang masih ingusan, atau bau kencur tentang agama/Islam saat itu, dan in sya Allah sekarang dan yang akan datang akan terus belajar dan belajar/thalabil ’ilmi, mencoba mendebat beliau, dengan mata agak melotot dan sedikit kurang sopan, maklum darah muda ha...ha...ha..., saya mengatakan begini kepada beliau:  “Och... kalau begitu Ustadz ini mau meng-Al-Qur’an-kan Pancasila, dan mem-Pancasila-kan Al-Qur’an ..!!?”
Lalu beliau pun menjawab tidak, tidak sama sekali, masa iya Pancasila di-agamakan dan agama di-Pancasilakan, ya ga nyambung. (Ya kalau bahasa/istilah sekarang gagal faham). Selanjutnya beliau mengingatkan saya: Itulah pentingnya suatu “definisi/ta’rif” tentang sesuatu. Apa  Pancasila itu, apa Agama itu, apa Qur’an itu, dan apa Islam itu..?. lalu kita mencari bagaimana hubungan/korelasi/nisbat antara Pancasila, Agama/Islam dan Quran itu.
Sebagai murid/santri, lalu saya merenungkan ucapan beliau dan ucapan beliau-beliau para tokoh Bangsa/Nasional diatas itu, agar tidak gegabah untuk cepat-cepat menarik kesimpulan membenarkan atau menyalahkan.
Akhirnya setelah saya fikirkan/renungkan secara tenang dan mendalam, sampailah kepada kesimpulan, bahwa ternyata hubungan Pancasila dan agama Islam itu sangat pas, sangat sreeg, dan sangat mesra sekali. Semesra api dan panasnya.
 Maka dari itu saya berkesimpulan pula: “Umat Islam adalah umat yang paling berhak menjadi pelopor/baris terdepan dalam Pengamalan Ideologi Pancasila”. 
Kita umat Islam bersyukur bahwa, “Ketuhan Yang Maha Esa/Tauhid/Asas Islam,  dijadikan Asas Negara. Kalaulah masih ada, mabuk-mabukan, narkoba, perzinahan, pencurian, korupsi dan lain-lain, ini  memerlukan waktu dan kesabaran. Para pakar memperkirakan memerlukan waktu 100 tahun.
Kita memang sangat jengkel/mangkel, dan kecewa atas perbuatan-perbuatan pidana tersebut di atas, malah dilakukan sudah sangat brutal dan abnormal, sepertinya perangkat-perangkat hukum yang ada sudah tidak bisa lagi membuat sipelaku jera atau justru pelaku baru berani melakukannya, bahkan sampai ada yang mengulanginya, belum lagi kejahatan teroris yang meggelobal.
  Hukum pidana kita ini memang sudah lapuk, perlu perbaikan, setidaknya harus sudah berkompilasi dengan hukum Islam, sebagaimana kompilasi hukum Islam tentang Perkawinan, Kewarisan dan Perwakapan. (Intruksi Presiden R.I. No. 1 Tahun 1991).
Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL. M. Seorang akademisi, diplomat, mantan menteri Kehakiman dan menteri Luar Negeri RI. Mengatakan: “Hukum sebagai sarana (instrument) untuk membangun masyarakat.”  Dan hukum juga harus menjadi sarana pembaharuan masyarakat, maka lahirlah “Teori Hukum Pembangunan” dari beliau. Hukum kalau hanya sebagai alat/tool (teori hukum dari Roscoe Pound) hanya melahirkan “legisme”. Tapi kalau hukum dijadikan juga sebagai sarana pembangunan maka akan dapat mengantisipasi perubahan-perubahan yang begitu cepat di dalam masyarakat.
Mudah-mudahan Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), bersama badan-badan hukum lainnya, akademisi, praktisi, menata kembali Hukum Nasional kita. Sekali lagi kita perlu perjuangan, waktu dan kesabaran, sebagaimana Allah berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Q.3:142).
Prof. Dr. KH. Din Syamsudin, MA, Mantan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah,  mengatakan: “Islam di  Indonesia itu merupakan harapan terakhir dunia akan wajah Islam yang toleran, dan mampu hidup berdampingan dengan umat beragama lainnya”. Lanjutnya harapan itu wajar lantaran negeri-negeri Islam di Timur Tengah yang dulunya menjadi representasi wajah Islam dunia kini tengah bergolak. Sehingga umat Islam di dunia pun mencari representasi Islam yang memancarkan kedamaian dan itu berada di Indonesia.
Karena itu Ia berharap umat Islam di Indonesia mampu menjaga wajah Islam yang toleran dan dikenal ramah. Meski demikian Din mengakui saat ini wajah Islam di Indonesia tengah diuji dengan kemunculan kelompok radikal yang kerap memprovokasi umat Islam terutama saat terjadi konplik dan mengeluarkan isu agama untuk memanaskan situasi.
“Karena itu kita semua harus menjaga wajah Islam di Indonesia yang toleran dan ramah ini, kalau Islam di Indonesia berubah jadi intoleran, habis sudah,” papar Din”. (Saat diwawancarai di Kantor Centre for Dialogue and Cooperation along Civilisations) di Jakarta 4/8/2016. Bukan hanya Din, banyak pula tokoh-tokoh dunia yang menyatakan harapan seperti itu.
Tulisan ini saya hadirkan  dalam rangka  mengenang kembali/napak tilas sejarah lahirnya Pancasila, yang sudah disepakati sebagai Ideologi bangsa Indonesia, dan sudah “Taken for granted.” Oleh karena itu, fungsi pokok Pancasila sebagai dasar negara didasarkan pada Ketetapan MPRS No.XX/MPRS/1966 (jo Ketetapan MPR No.V/MPR/1973, jo Ketetapan MPR No.IX/MPR/1978) yang menjelaskan bahwa Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum Indonesia yang pada hakikatnya adalah merupakan suatu pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kebatinan serta watak dari bangsa Indonesia.
Walaupun kelak Indonesia memberlakukan hukum Islam, namun dalam hal berbangsa dan bernegara tetap berideologikan Pancasila. Karena Pancasila dan Islam tidak bisa dipisahkan.
Apabila ada kesalahan dan kekhilafan mohon maaf. Kritik dan saran yang konstruktif  sangat diharapkan. Semoga manfaat.
“Tak ada gading yang tak retak. Walaupun retak dia berharga, maka jangan dibuang”.
 Wallahu’alam bishawaab.
 Selamat Hari Kelahiran Pancasila ke-73
1 Juni 2018
Taufik Mario Tholi

3
Ayat-ayat Al Quran Akan Diperlihatkan Bukti Kebenarannya
(Surat Ustadz Kepada Santrinya)

Ayat-ayat Al Quran yang belum dapat dibuktikan kebenarannya memang masih banyak. Tapi nanti akan diperlihatkan bukti kebenarannya itu, satu persatu, sebagaimana telah dijanjikan oleh Allah Swt. sehingga nyata bagi manusia bahwa Al Quran itu benar-benar kitab yang diwahyukan.
Namun manusia yang sudah membatu hatinya tetap tidak akan menerimanya. Dia tidak akan puas, kecuali baginya jahanam, demikian kata Allah Swt. :

حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا (QS. 58:8)

Inilah Janji Allah:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi, dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS. 41:53).

Jadi, semua orang bakal melihat, bahwa Al Quran itu benar, kecuali orang buta atau orang yang tidak mau melihat. Mereka yang dimaksud Al Quran itu tentunya orang-orang yang belum iman, sebab orang-orang yang sudah iman tahu yakin, bahwa Al Quran adalah haq dan benar, malahan berani bertaruh dan memang jiwanya sudah dipertaruhkan untuk memenangkan imannya itu.
Betapa bangganya seorang mukmin ketika menyaksikan momentum yang berisi ayat kebenaran Tuhan. Bangga iman yang dipertaruhkannya itu menang. kebanggaan yang mengandung kelezatan ruhani yang tidak dapat dinilai dengan uang dan benda lainnya, karena alamnya. Kelezatan seakan-akan mencapai syurga demikikian.

Seorang mukmin yang merasa bertaruhan merasa bangga ketika manusia menyaksikan Apollo-11 mencapai sukses. Mereka bangga yang bukan main nikmat dan lezatnya, karena telah menyaksikan betapa ilmu dan teknologi telah memmperlihatkan bukti kebenaran Al Quran. Membuat imannya teguh dan segar. Kecintaannya terhadap Al Quran semakin tebal dan mesra.

Demikianlah Allah mengajar manusia akan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dibuatnya manusia Amerika berani mengeluarkan harta dan tenaganya, padahal perjalanan sangat berbahaya dan harta benda yang dibelanjakan tidak sedikit.
Perlu diketahui, bahwa seluruh biaya dana proyek Roket Appolo-11 (dari Apollo-1 s.d-17) Amerika telah mengeluarkan uang $ 24.000 juta waktu itu. Sungguh suatu dana pembiayaan yang tak terkirakan besar jumlahnya, namun tak sia-sia, akhirnya tercapailah sudah apa yang dicita-citakannya itu. Di samping dana yang begitu besar tingginya tidak luput pula pengorbanan yang harus diberikan, sungguh betapa tak terkirakan dan tak terperkirakan resikonya. Namun kesemua itu, apabila kita serius dan terutama yakin optimis,  maka usaha dan kegiatan-kegiatan itu berjalan lancar tanpa hambatan yang tak seberapa. 

Rupa- rupanya orang-orang Amerika itu, setelah mempelajari sumber berita dari  Al Quran yang dipegang oleh orang-orang Islam, terbesitlah timbul perangsang dan animo besar  untuk mencobanya, yang semula dari kecil-kecilan tapi berhasil dan terbukti kenyataannya.

Bukankan setiap perjuangan memerlukan pengorbanan maka malapetakapun telah terjadi, terbakarnya Apollo-1 yang  menewaskan  tiga astronoutnya yakni, Virgil I. “Gus” Grissom, Edward H. White II, dan Roger B. Chaffee. Pada 27 Januari 1967 (Harian Abadi).
Ucapan Presiden Nixon: “Seperti yang kalian lakukan adalah seperti syurga-syurga yang dapat kita capai semua”
Saya dapat memahami: “Sebagai  terjemahan dari kelezatan semacam  itu, namun berbeda sumbernya. Sumber yang memancarkan rasa bangga bagi saya ialah: “Taruhan kita dalam beragama dan keyakinan kita dalam beragama itu.”

Marilah kita simak dalam-dalam: “Nanti akan Kami perlihatkan pada mereka itu, tanda-tanda Kami di jagad-jagad raya itu”.
Sahabat... semota Tuhan curahkan rakhmat-Nya atas sahabat dan kita semua. Kita sedang menyaksikan bahwa di abad angkasa luar sekarang ini, orang-orang bumi sedang meraba-raba dengan tangan dan mata yang dibuatnya dari berkat ilmu dan teknologi menggerayangi benda-benda langitl dengan peralatan Sputnik, Lunik, Skyllab, Voyager, Apollo, Soyuz, Viking, Challenger, Pesawat Ulang-alik untuk mengumpulkan fakta dan data yang akan diolah  menjadi pengetahuan yang matang dan mantap, sehingga dengan bantuan teknologi dan kekuatan-kekuatan lainnya menjadi sulthaan/kekuasaaan yang memungkinkan manusia bisa naik ke langit.

Sementara itu bukankah kita telah didatangi oleh manusia langit? Dengan adanya UFO dan Piring Terbang, Benda Aneh dan Benda Asing (BETA). Siapa tahu memang di planet-planet, baik masih dalam tata surya kita, ataupun dalam galaksi tetangga kita ataupun di planet bintang Alpha Centauri (bintang sirus atau bintang lainnya), terdapat manusia angkasa/planet.
Kita sedang menyaksikan mereka sedang berikhtiar dan berusaha dengan segala daya dan dana untuk bisa naik dan mi’raj ke langit, bisakah terjadi usaha dan ikhtiar itu lahir di kalangan manusia, sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini tanpa qadla dan qadr, yang tanpa kehendak dan penentuan Allah? mustakhil bukan?

Memang demikianlah sudah taqdir. Tujuannya untuk menjelaskan huruf-fhuruf Al Quran menjadi huruf-huruf alam yang dapat dibaca oleh segenap manusia, baik mukmin ataupun bukan, walaupun penghayatannya bisa jadi berlainan.
Demikian: “Nanti akan Kami perlihatkan pada mereka itu, tanda-tanda Kami di jagad-jagad itu”, atar nyata bagi manusia bahwwa Al Quran itu benar.”

والله أعلمُ بالـصـواب

Halaman: [1]

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan