Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Topik - Sultan

Halaman: [1] 2 3 ... 7
1
Filsafat / Segala Sesuatu Adalah Keseluruhan Dari Bagian - Bagiannya
« pada: April 20, 2018, 07:34:38 PM »
Jika tidak ada rambut dalam dzat Tuhan yang Maha Ada dan Maha Kaya, maka bagaimana manusia sebagai ciptaan-Nya, yang berasal dari-Nya atau disebabkan oleh-Nya dapat memiliki rambut ?

Mungkinkah dari "ketiadaan rambut" dapat memunculkan rambut ?

Kutip dari: Kang Asep 16-02-2018, 1.46 PM
tidak tahu.

Pertanyaan saya,
apakah rambut ekuivalen dengan zat rambut ?
apakah berambut = memiliki zat rambut ?
apa bedanya dzat dengan zat ?

Rambut adalah keseluruhan atau himpunan yang terdiri dari banyaknya elemen atau zat penyusun rambut (zat rambut).
Rambut tidak lain adalah elemen atau zat penyusun rambut itu sendiri.
Tak ada rambut tanpa elemen atau zat penyusun rambut dan tak ada elemen atau zat penyusun rambut tanpa ada rambut.
Rambut ekuivalen dengan zat rambut.

Saat kita sedang "menunjuk" rambut, tidak lain kita sedang "menunjuk" elemen atau zat - zat penyusun rambut.
Saat kita sedang "menunjuk" elemen atau zat - zat penyusun rambut, tidak lain kita sedang "menunjuk" rambut.

Seperti samudera yang merupakan keseluruhan dari banyaknya setetes air.

Apakah berambut = memiliki zat rambut ?
Ya.

Apa bedanya antara dzat dengan zat ?

Dzat itu bersifat keseluruhan sementara zat itu bersifat partikular.

Kutip dari: Kang Asep 16-02-2018, 9.00 PM
dzat adalah tempat berdirinya sifat. zat adalah materi.

jika rambut ekuivalen dengan zat rambut, bagaimana dengan rumah dan zat rumah, apakah ekuivalen ?

Ya

====================

Kutip dari: Hamid Assagaf 16-02-2018, 2.56 PM
Jika karena manusia punya rambut maka Tuhan punya rambut itu keliru.
JIka mengatakan karena manusia memilki rambut maka Tuhan punya zat rambut juga keliru. Tuhan Tunggal tidak bisa dibagi bagi.

Kepemilikan rambut pada manusia bukanlah "penyebab" bagi kepemilikan rambut pada Tuhan.
Kepemilikan rambut pada manusia tidak berhubungan secara korelatif (biimplikasi) dengan kepemilikan rambut pada Tuhan.
Tetapi kepemilikan rambut pada manusia berhubungan secara implikatif (implikasi) dengan kepemilikan rambut pada Tuhan.

Jika ada rambut pada manusia, maka ada rambut manusia pada Tuhan dan jika tidak ada rambut manusia pada Tuhan, maka tidak ada rambut pada manusia.
Hal ini benar dan selaras dengan aksioma kausalitas bahwa segala sesuatu tidak dapat menjadi penyebab atau akibat dari negasinya sendiri dengan ekspresi tautologi ¬(A⇔¬A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika A, maka bukan A, ekuivalen dengan tautologi, atau ¬(¬A⇔A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika bukan A, maka A, ekuivalen dengan tautologi (selama Tuhan ditetapkan sebagai penyebab bagi keberadaan manusia).

Jika ada rambut pada manusia, maka ada elemen atau zat - zat penyusun rambut manusia pada Tuhan dan jika tidak ada elemen atau zat - zat penyusun rambut manusia pada Tuhan, maka tidak ada rambut pada manusia.
Hal ini benar dan selaras dengan aksioma kausalitas bahwa segala sesuatu tidak dapat menjadi penyebab atau akibat dari negasinya sendiri dengan ekspresi tautologi ¬(A⇔¬A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika A, maka bukan A, ekuivalen dengan tautologi, atau ¬(¬A⇔A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika bukan A, maka A, ekuivalen dengan tautologi (selama Tuhan ditetapkan sebagai penyebab bagi keberadaan manusia).

Tuhan itu bersifat tunggal dan tak terbagi - bagi dalam artian Ia "hanyalah diri-Nya sendiri"; Tuhan adalah Tuhan dan bukanlah bukan Tuhan (contoh dari Hukum Non-Kontradiksi).
Tiada Tuhan selain Tuhan itu sendiri.
Ini adalah pemahaman ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan yang saya yakini secara 100%.
Pemahaman ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan ini merupakan kebenaran mutlak dan bersifat aksiomatis (terbukti dari dirinya sendiri dan jelas dengan sendirinya), selaras dengan hukum non-kontradiksi, dan bukan sekedar spekulasi belaka.

Pemahaman ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan seperti apa yang mustahil ?
Yaitu pemahaman tentang ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan dengan pengertian bahwa Tuhan tidak memiliki bagian - bagian.
Kenapa pemahaman tentang ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan dengan pengertian bahwa Tuhan tidak memiliki bagian - bagian itu mustahil ?
Karena pemahaman tentang ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan dengan pengertian bahwa Tuhan tidak memiliki bagian - bagian itu bertentangan dengan aksioma bahwa "segala sesuatu adalah keseluruhan dari bagian - bagiannya".

Sesuatu tidak lain adalah keseluruhan dari bagian - bagiannya dan keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu tidak lain adalah sesuatu itu sendiri.
Tak ada sesuatu tanpa keseluruhan dari bagian - bagiannya dan tak ada keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu tanpa ada sesuatu itu sendiri.
Sesuatu ekuivalen dengan keseluruhan dari bagian - bagiannya.

Bila tidak ada keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu, maka tidak ada sesuatu.
Bila tidak ada sesuatu, maka tidak ada keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu.
Meyakini bahwa sesuatu itu ada tetapi tidak ada bagian - bagiannya, sesuatu itu ada tetapi tidak memiliki bagian - bagian, atau sesuatu itu ada tetapi tidak ada keseluruhan dari bagian - bagiannya ekuivalen dengan meyakini bahwa sesuatu itu ada sekaligus tidak ada alias kontradiksi.

Perumpamaannya itu seperti sebuah garis.
Garis itu terdiri dari banyaknya titik - titik dan garis adalah keseluruhan dari banyaknya titik - titik.
Garis tidak lain adalah keseluruhan dari banyaknya titik - titik.
Meyakini adanya garis sekaligus meyakini tidak ada banyaknya titik - titik atau keseluruhan dari banyaknya titik - titik ekuivalen dengan meyakini bahwa garis itu ada sekaligus tidak ada alias kontradiksi.

Atau perumpamaannya seperti bilangan 10.
Tak ada 10 tanpa 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 dan tak ada 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 tanpa ada 10.
10 tidak lain adalah 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 dan 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 tidak lain adalah 10.
10 ekuivalen dengan 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1.
Meyakini 10 itu ada sekaligus meyakini tidak ada 1atau tidak ada 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 ekuivalen dengan meyakini 10 itu ada sekaligus tidak ada alias kontradiksi.

2
Filsafat / Membedakan "Ketiadaan" dengan "Ketidakhadiran"
« pada: Pebruari 19, 2018, 06:28:50 PM »
Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 6.30 PM

Mungkin sebenarnya banyak dari kita susah membedakan antara mencipta dengan mempengaruhi.
Kutip

Menurut definisi "mencipta" dan "mempengaruhi" yang akang miliki, apa perbedaan antara "mencipta" dengan "mempengaruhi" ???? ?

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 6.35 PM
Mengubah batang kayu menjadi kursi, itu contoh mempengaruhi.
Kutip

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 6.35 PM
Itu bukan mencipta
Kutip

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 6.37 PM
Salah satu kata kunci mencipta adalah penguasaan penuh, bahkan termasuk mengadakan-meniadakan
Kutip

Penciptaan yang seperti ini merupakan sebuah kemustahilan dan bersifat kontradiktif.

Definisi dari "Penciptaan","mencipta", dan "Ciptaan" yang saya gunakan adalah :

Penciptaan = Pengadaan sesuatu dari sesuatu yang lain
Menciptakan = Mengadakan sesuatu dari sesuatu yang lain
Ciptaan = Sesuatu yang diadakan dari sesuatu yang lain

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 6.58 PM
Selain sang Pencipta hakikatnya tak dapat mencipta. Yang dapat kita berikan adalah gambaran mencipta. Dan, hakikatnya, tak sama dengan mempengaruhi.
Gambaran mudah dari mencipta adalah menghadirkan, apapun, dalam kesadaran. Pengetahuan, gambaran, pernyataan, khayalan.
Saat kita menghadirkan sesuatu dalam kesadaran maka kita menciptanya. Sifat-sifat dari apa yang kita hadirkan berada dalam kuasa kita sepenuhnya. Bahkan termasuk ada-tiadanya dalam kesadaran kita.
Kutip

Tuhan tidak menciptakan sesuatu dari ketiadaan.
Prinsip yang berlaku dalam penciptaan bukanlah Creatio Ex Nihilo.
Tetapi Creatio Ex Deo.

Bentukan - bentukan mental yang muncul di dalam pikiran kita sendiri pun tidaklah berasal dari atau tidak bertitik tolak dari ketiadaan bentukan - bentukan mental tersebut (negasi dari bentukan - bentukan mental; bukan bentukan - bentukan mental). Namun berasal dari atau bertitik tolak dari pikiran kita sendiri (keberadaan dan bukan ketiadaan).

Tegasnya, bentukan - bentukan mental yang kita ciptakan di dalam pikiran kita tidak tercipta dari ketiadaan. Tetapi tercipta dari pikiran kita sendiri; imajinasi, memori, dan sebagainya.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 7.18 PM
Saya tak menyebutkan menghadirkan sesuatu ke dalam ada. Menghadirkan sesuatu dalam kesadaran, itu yang saya maksudkan. Kita memang seringkali mampu mengadakan-meniadakan apapun ke dan dari semesta kesadaran kita.
Kutip

Bahasa sehari - sehari terkadang memang memiliki makna yang bila diselidiki secara filosofis akan tampak memiliki anomali.

Secara mendasar, analitis, dan radikal, mengadakan sesuatu dari ketiadaan atau meniadakan sesuatu dari keberadaan adalah sebuah kemustahilan dan kontradiksi.
Hukum Kontradiksi berbunyi :

"Setiap hal bukanlah bukan hal itu sendiri".

Berdasarkan hukum kontradiksi, meniadakan sesuatu dari keberadaan atau mengadakan sesuatu dari ketiadaan adalah kemustahilan.
Karena meniadakan sesuatu dari keberadaan atau mengadakan sesuatu dari ketiadaan
mensyaratkan adanya suatu transisi kontradiktif (Ada-Tidak Ada atau Tidak Ada-Ada) antara sesuatu dan bukan sesuatu itu sendiri.
Atau dengan kata lain terdapat suatu titik dimana sesuatu dan negasi dari sesuatu tersebut dapat "bersatu" atau "bertemu" sedemikian rupa hingga sesuatu tersebut dapat dari Ada menjadi Tidak Ada atau dari Tidak Ada menjadi Ada.
Hal ini adalah sebuah kontradiksi yang amat nyata.

Padahal jika sesuatu bukanlah bukan dirinya sendiri, maka mustahil sesuatu tersebut dapat menjadi bukan dirinya sendiri dimana pun atau kapan pun; waktu atau tempat tidak dapat menjadikan sesuatu menjadi bukan sesuatu itu sendiri atau menjadikan bukan sesuatu menjadi sesuatu itu sendiri.

Apa yang dalam bahasa sehari - hari disebut sebagai "meniadakan sesuatu dari keberadaannya" sebenarnya bukanlah meniadakan sesuatu dari keberadaannya dalam arti yang sesungguhnya dan apa yang dalam bahasa sehari - hari disebut sebagai "mengadakan sesuatu dari ketiadaan" bukanlah mengadakan sesuatu dari ketiadaannya dalam arti yang sesungguhnya.
Frasa - frasa tersebut atau berbagai frasa yang semacam dengan frasa - frasa tersebut digunakan dalam kehidupan sehari - hari demi kepentingan praktis.

Kutip dari: Saban Subiadi 14-02-2018, 7.52 PM
Tapi anda mungkinlupa menambahkan "pada semesta tertentu". Sesuatu yang tiada dari sebuah semesta dapat diadakan pada semesta itu. Dan ia bisa kembali ditiadakan dari semesta yang sama.
Kutip

Tiadanya sesuatu pada suatu titik tetapi ada pada titik lain bukanlah ketiadaan sesuatu itu sendiri.
Hal tersebut hanyalah ketidakhadiran sesuatu pada titik yang dimaksud.

Kita hanya dapat menghadirkan bentukan - bentukan mental di dalam pikiran kita dari tempat asalnya pada titik tertentu di dalam pikiran kita sendiri atau "mengendapkan" bentukan - bentukan mental tersebut dari munculnya mereka di dalam pikiran kita.
Tetapi kita tidak dapat menciptakan bentukan - bentukan mental tersebut dari ketiadaannya atau meniadakan bentukan - bentukan mental tersebut dari keberadaannya.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 8.09 PM
Katakan A berpindah dari posisi 1 ke posisi 2. A pada posisi 1 tadinya ada, kemudian tiada. A pada posisi 2 tadinya tiada menjadi ada. Adanya A1 kemudian tiada, tiadanya A2 kemudian ada, itu hakiki, bukan gambaran mental semata.
Kutip

Entitas X berpindah dari Titik A ke titik B.
Perpindahan X dari titik A ke titik B itu hanyalah perpindahan X dari satu titik ke titik lain, kehadiran X di satu titik dan ketidakhadiran X di titik lain, dan bukan kemunculan X dari ketiadaan X (bukan X) atau ketiadaan X dari keberadaan X. Dan ini memang bukan gambaran mental semata.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 8.30 PM
Saya menyampaikan A1 dan A2 sebagai ada dan tiada, bukan A.
Kutip

Saya menyampaikan perpindahan entitas X dari titik A ke titik B dan tidak menyampaikan A1 dan A2 sebagai ada dan tiada.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 8.33 PM
Dalam bahasa anda XA dan XB, bukan X.
Kutip

XA dan XB, bukan X, bukan dalam bahasa saya.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 8.38 PM
X dengan posisi titik A tadinya ada jadi tiada, X dengan posisi titik B tadinya tiada jadi ada. Itu maksudnya????
Kutip

Bukan.
X berpindah dari titik A ke titik B dan bukan berpindah dari bukan X ke X, X ada dari tidak adanya X (bukan X), atau X tidak ada dari adanya X.
Ini maksudnya.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 8.51 PM
Berkali2 coba saya jelaskan, tapi tampaknya anda blum dapet...
Kutip

Tampak belum "dapet" belum tentu benar - benar tidak "dapet".
Apakah anda sudah paham dengan maksud saya setelah berkali - kali saya jelaskan kepada anda dengan segenap penjelasan saya atas persoalan ini ?

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 9.20 PM
Percobaan terakhir. Asumsikan saja bahwa A ada, posisi 1 ada, posisi 2 ada. Namun perpaduan antara A dengan posisi 1, atau A dengan posisi 2, berubah dari ada ke tiada dan sebaliknya. ????
Kutip

Tidak beradanya A di titik 1 tetapi A berada di titik 2 atau tidak beradanya A pada titik 2 tetapi A berada pada titik 1 bukanlah perubahan atau kontradiksi dari "adanya A" ke "tidak adanya A" atau perubahan dari "tidak adanya A" ke "adanya A".
A tetap ada namun hanya berada di titik 1 atau titik 2.

3
Filsafat / Tidak Dapat Terlepas Dari Kesadaran
« pada: Pebruari 14, 2018, 03:33:34 PM »
Pengamat tidak dapat terlepas dari kesadarannya.
Pada titik mana pun pengamat berada atau sejauhmana pun pengamat berada, ia selalu bersama - sama dengan kesadarannya.
Semua objek atau pengetahuan yang diamati atau diketahui oleh pengamat, tidak dapat terlepas dari pengamatan atau kesadaran.
Artinya dimana pun suatu objek atau pengetahuan itu diamati atau diketahui, pengamatan atau kesadaran selalu melandasi pengetahuan atau objek tersebut.
Objek atau pengetahuan apa pun yang kita amati atau kita cerap berada dalam batasan pengamatan atau kesadaran kita.

Kita tidak dapat keluar dari batasan dan sistem kesadaran kita.
Dimana pun kita berada atau sejauh mana pun kita berada, kita selalu berada di dalam batasan atau sistem kesadaran kita.

Keluarnya kita dari batasan dan sistem kesadaran kita sendiri adalah hal yang mustahil.
Sebab kita tidak dapat terpisah dari diri kita sendiri atau kita selalu bersama - sama dengan diri kita sendiri.

Hukum identitas berbunyi :
"Setiap hal adalah hal itu sendiri".
Berdasarkan hukum identitas, kita adalah diri kita sendiri dan mustahil kita bukanlah diri kita sendiri.
Dalam segi apa pun kita adalah diri kita sendiri dan mustahil kita memiliki suatu elemen dalam diri kita yang bukan diri kita sendiri atau niscaya elemen tersebut adalah diri kita sendiri dan mustahil elemen tersebut bukanlah diri kita sendiri.

Keluar dari diri sendiri mensyaratkan keterpisahan antara diri kita dengan diri kita sendiri.
Ini adalah sebuah kemustahilan karena hal ini bertentangan dengan hukum identitas.
Apabila kita dapat keluar dari diri kita sendiri, maka kita bukanlah diri kita  sendiri.
Tetapi karena kita adalah diri kita sendiri, maka kita tidak dapat keluar dari diri kita sendiri.

Kesadaran kita adalah bagian dari diri kita.
Kesadaran kita tidak dapat terpisah dari diri kita namun senantiasa bersama - sama dengan diri kita.
Dimana pun kita berada atau sejauh mana pun kita berada kesadaran kita selalu bersama - sama dengan diri kita.

Kita hanya dapat mengetahui sejauh yang dapat kita ketahui dan kita hanya mengetahui sejauh yang kita ketahui. Kita hanya tidak mengetahui sejauh yang tidak kita ketahui.
Kita tidak dapat mengetahui hal apa pun yang tidak dapat kita ketahui dan kita tidak dapat mengetahui hal apa pun yang tidak kita ketahui.

Bila kita mengetahui suatu hal, maka kita tahu akan hal tersebut dan jika kita tidak tahu akan hal tersebut, maka kita tidak mengetahui suatu hal.
Jika kita tidak mengetahui suatu hal, maka kita tidak tahu akan hal tersebut dan bila kita tahu akan hal tersebut, maka kita mengetahui suatu hal.
Mustahil kita mengetahui suatu hal tetapi kita tidak tahu akan hal tersebut dan mustahil kita tidak mengetahui suatu hal tetapi kita tahu akan hal tersebut.

Kita hidup di dunia kesadaran kita masing - masing.
Masing - masing orang hidup di dunia kesadarannya sendiri - sendiri.
Kita tidak dapat terpisah atau keluar dari dunia kesadaran kita sendiri dan kita senantiasa berada dalam dunia kesadaran kita sendiri.
Menyelami kehidupan kita masing - masing, artinya menyelami dunia kesadaran kita masing - masing.

4
Sentuhan Hati / Nasehat Dari Diri Sendiri dan Untuk Diri Sendiri
« pada: Pebruari 13, 2018, 01:43:44 AM »
Jangan hanya berbuat baik pada diri sendiri saja. Tetapi berbuat baiklah terhadap sesama makhluk Tuhan.

Tidak cukup hanya dengan membebaskan diri sendiri dari kemelekatan.
Tidak cukup hanya dengan menjaga kesucian diri sendiri.
Tidak cukup hanya dengan membijaksanakan diri sendiri.
Ketiga hal tersebut hanyalah kebaikan yang berlaku untuk dirimu sendiri saja.

Jika kau ingin bermanunggal dengan-Nya, maka kasihilah musuh - musuhmu dan berbuat baiklah terhadap pembencimu.
Bila kamu hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu apalagi hanya mengasihi dirimu sendiri saja, lalu apa hebatnya dirimu ?
Bukankah orang - orang yang berdosa pun juga berlaku demikian ?

Tetapi jadilah sempurna seperti Ia yang ada di sorga; yang menurunkan hujan untuk orang yang berdosa kepada-Nya dan juga orang yang tidak berdosa kepada-Nya serta memberi bumi untuk orang yang berdosa kepada-Nya dan juga untuk orang yang tidak berdosa kepada-Nya.

5
Proposisi / Kontraposisi
« pada: Pebruari 07, 2018, 10:44:44 PM »
• (A ↔️ B) → (~A ↔️ ~B)≡1

• (A ⊕ B) → (~A ⊕ ~B)≡1

• (A → B) → (~B → ~A)≡1

• (A ← B) → (~A → ~B)≡1

• (A↛B) → (~B ↛ ~A)≡1

• (A↚B) → (~B ↚ ~A)≡1

6
Proposisi / Implikasi Yang Inkonsisten
« pada: Pebruari 07, 2018, 10:38:36 PM »
1. P → ~P≡~P
2. ~P → P≡P

2 prinsip dari kedua implikasi di atas :

• Penegasan pengantar menghasilkan negasi dari pengantar
• Negasi dari penggiring menghasilkan pengantar

Hukum implikasi kedua; Negasi dari penggiring menegasikan pengantar, tidak berlaku bagi kedua implikasi tersebut; negasi dari penggiring tidak menegasikan pengantar.
Sebab khusus untuk kedua implikasi tersebut, negasi dari penggiringnya justru menegaskan pengantarnya.

7
Definisi / Relativism Paradox
« pada: Pebruari 07, 2018, 10:28:05 PM »
Definisi : Paradoks yang berupa penyangkalan terhadap bentuk - bentuk absolutisme.

Contoh - contoh :

"Tidak ada hal yang pasti"

Jika tidak ada hal yang pasti, maka ketidakpastian itu sendiri tidak pasti.
Jika ketidakpastian itu sendiri itu pasti, maka ada hal yang pasti.

"Tidak ada yang kekal"

Jika tidak ada yang kekal, maka ketidakkekalan itu sendiri tidak kekal.
Jika ketidakkekalan itu sendiri kekal, maka ada hal yang kekal.

"Tidak ada yang mutlak"

Jika tidak ada yang mutlak, maka ketidakmutlakan itu sendiri tidak mutlak.
Jika ketidakmutlakan itu sendiri mutlak, maka ada yang mutlak.

"Segalanya bersifat relatif"

Jika segalanya bersifat relatif, maka relativitas itu sendiri bersifat relatif.
Jika relativitas itu sendiri tidak bersifat relatif, maka segalanya tidak bersifat relatif.

8
Proposisi / Penyederhanaan Xor (⊕)
« pada: Pebruari 07, 2018, 10:13:11 PM »
Operasi penyederhanaan terhadap A⊕B dengan menggunakan Hukum De Morgan dan Hukum Negasi Ganda :

•A⊕B

¬(¬A v ¬¬B) v ¬(¬B v ¬¬A)

¬[(¬A v ¬¬B) ^ (¬B v ¬¬A)]

¬(A ^ ¬B) v ¬(B ^ ¬A)

¬[(A ^ ¬B) ^ (B ^ ¬A)]

¬(¬A v B) v ¬(¬B v A)

¬[(¬A v B) ^ ( ¬B v A)]

¬¬(A ^ ¬B) v ¬¬(B ^ ¬A)

¬[¬(A ^ ¬B) ^ ¬(B ^ ¬A)]

(¬A v ¬B) ^ (¬¬A v ¬¬B)

¬[¬(¬A v ¬B) v ¬(¬¬A v ¬¬B)]

(¬A v ¬B) ^ (A v B)

(¬A ^ B) v (¬B ^ A)

9
Proposisi / De Morgan's Law
« pada: Pebruari 07, 2018, 10:08:22 PM »
● De Morgan's Law of ¬A v B and A ^ ¬B

• ¬A v B≡¬(A ^ ¬B)
• A ^ ¬B≡¬(¬A v B)

● De Morgan's Law of A ^ B and ¬A v ¬B

• A ^ B≡¬(¬A v ¬B)
• ¬A v ¬B≡¬(A ^ B)

● De Morgan's Law of ¬A ^ ¬B and A v B

• ¬A ^ ¬B≡¬(A v B)
• A v B≡¬(¬A ^ ¬B)

10
Keranjang Sampah / Re:Keterbatasan Bahasa Lisan
« pada: Januari 02, 2018, 01:55:54 AM »
Untuk bahasa simbolis yang memuat tanda kurung biasannya tanda kurungnya dihilangkan dulu menggunakan hukum De Morgan dan Involusi agar lebih mudah diucapkan, walau mungkin tidak semua bisa diperlakukan begitu.

~ (A ∧ ~A)  ≡  ~A ∨ ~~A  ≡  ~A ∨ A

-(A ^ -A) = 1
-A ^ --A = 0
-A ^ A = 0

-A ^ --A ≡-A ^ A ≡0 ≡0
(-A ^ --A) ^ (-A ^ A)≡0 ^ 0

(-A ^ --A) dan (-A ^ A) adalah absurditas sehingga keduanya tidak ekuivalen dengan -(A ^ -A) yang merupakan tautologi.
Silahkan dicek sendiri tabel kebenarannya.

(-A ^ --A) dan (-A ^ A) tidak ekuivalen dengan -(A ^ -A) sehingga ketiga - tiganya tidak dapat diberlakukan Hukum De Morgan

11
Keranjang Sampah / Re:Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« pada: November 18, 2017, 08:23:19 AM »
Mas Sultan:
Begitulah Kang Asep apabila kita berbicara tentang hal - hal yang bersifat tinggi bagi kalangan umum pada orang - orang yang tingkat keilmuannya tidak selevel dengan kita. Apalagi di dalam kehidupan sehari - hari.
Orang - orang yang kita ajak bicara akan cenderung sok mengerti, sok paham, sok pragmatis, terlebih lagi apabila mereka membantah perkataan - perkataan mereka dengan pernyataan - pernyataan sok pragmatis seperti pada obrolan antara Kang Asep dengan Indri.
Terkadang tindakan kita ini menimbulkan rasa bersalah dan penyesalan yang sering muncul dikemudian;
"Harusnya tadi itu aku tidak membicarakan persoalan ini ke dia. Soalnya dia bukan orang yang cocok untuk membicarakan persoalan ini",
" Lebih baik mengalah saja lah... daripada nantinya obrolan ini malah mengganggu hubungan baik kita berdua. Ternyata dia bukan orang tepat buat masalah ini",
"Biar aku simpan sendiri saja pengetahuan berharga ini. Percuma bila dibicarakan pada orang - orang ini; tidak ada yang bisa mengerti".

Kebanyakan orang itu hanya memfokuskan pikiran, dan hidup mereka secara lebih meluas lagi, pada hal - hal yang bersifat pragmatis semacam uang, pekerjaan, pasangan, dan persoalan - persoalan kehidupan sehari - hari lainnya.
Dengan begitu secara sendirinya mereka telah mengkondisikan diri untuk cenderung berpikir pragmatis dan berpandangan pragmatis pula terhadap sesuatu; menjadikannya sebagai bagian dari diri mereka; karakter mereka.
Kebiasaan untuk cenderung berpikir dan berpandangan pragmatis tersebut sedemikian menyatu dengan diri mereka hingga mereka sulit untuk memahami berbagai hal idealis - filosofis yang kita sampaikan padanya.


Hal - hal yang bersifat filosofis - idealis adalah sesuatu yang "tak biasa" bagi kaum pragmatis.
Berbicara mengenai persoalan - persoalan filosofis - idealis pada mereka lebih banyak berakhir dengan cara - cara yang buruk; ketidaknyambungan, pertengkaran, perdebatan, penyesalan, rasa bersalah, dan lain sebagainya.

12
Komentari Gambar / Kontradiksi Kebenaran
« pada: November 17, 2017, 07:00:48 PM »


13
Komentari Gambar / Struktur Kebenaran
« pada: November 17, 2017, 11:29:37 AM »

14
Komentari Gambar / Menampilkan Diri
« pada: November 17, 2017, 11:24:48 AM »


15
Komentari Gambar / Seni Menulis Saya
« pada: November 17, 2017, 11:18:49 AM »



Halaman: [1] 2 3 ... 7

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan