Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Topik - Sultan

Halaman: [1] 2 3 ... 7
1
Keranjang Sampah / Re:Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« pada: November 18, 2017, 08:23:19 AM »
Mas Sultan:
Begitulah Kang Asep apabila kita berbicara tentang hal - hal yang bersifat tinggi bagi kalangan umum pada orang - orang yang tingkat keilmuannya tidak selevel dengan kita. Apalagi di dalam kehidupan sehari - hari.
Orang - orang yang kita ajak bicara akan cenderung sok mengerti, sok paham, sok pragmatis, terlebih lagi apabila mereka membantah perkataan - perkataan mereka dengan pernyataan - pernyataan sok pragmatis seperti pada obrolan antara Kang Asep dengan Indri.
Terkadang tindakan kita ini menimbulkan rasa bersalah dan penyesalan yang sering muncul dikemudian;
"Harusnya tadi itu aku tidak membicarakan persoalan ini ke dia. Soalnya dia bukan orang yang cocok untuk membicarakan persoalan ini",
" Lebih baik mengalah saja lah... daripada nantinya obrolan ini malah mengganggu hubungan baik kita berdua. Ternyata dia bukan orang tepat buat masalah ini",
"Biar aku simpan sendiri saja pengetahuan berharga ini. Percuma bila dibicarakan pada orang - orang ini; tidak ada yang bisa mengerti".

Kebanyakan orang itu hanya memfokuskan pikiran, dan hidup mereka secara lebih meluas lagi, pada hal - hal yang bersifat pragmatis semacam uang, pekerjaan, pasangan, dan persoalan - persoalan kehidupan sehari - hari lainnya.
Dengan begitu secara sendirinya mereka telah mengkondisikan diri untuk cenderung berpikir pragmatis dan berpandangan pragmatis pula terhadap sesuatu; menjadikannya sebagai bagian dari diri mereka; karakter mereka.
Kebiasaan untuk cenderung berpikir dan berpandangan pragmatis tersebut sedemikian menyatu dengan diri mereka hingga mereka sulit untuk memahami berbagai hal idealis - filosofis yang kita sampaikan padanya.


Hal - hal yang bersifat filosofis - idealis adalah sesuatu yang "tak biasa" bagi kaum pragmatis.
Berbicara mengenai persoalan - persoalan filosofis - idealis pada mereka lebih banyak berakhir dengan cara - cara yang buruk; ketidaknyambungan, pertengkaran, perdebatan, penyesalan, rasa bersalah, dan lain sebagainya.

2
Komentari Gambar / Kontradiksi Kebenaran
« pada: November 17, 2017, 07:00:48 PM »



3
Komentari Gambar / Struktur Kebenaran
« pada: November 17, 2017, 11:29:37 AM »



4
Komentari Gambar / Menampilkan Diri
« pada: November 17, 2017, 11:24:48 AM »



5
Komentari Gambar / Seni Menulis Saya
« pada: November 17, 2017, 11:18:49 AM »



6
Komentari Gambar / Berbuat Baik atau Tidak Berbuat Jahat
« pada: November 17, 2017, 11:14:24 AM »



7
Komentari Gambar / Cerdik dan Tulus
« pada: November 17, 2017, 11:05:04 AM »



8
Komentari Gambar / Hidup dan Kesenangan
« pada: November 17, 2017, 11:00:11 AM »



9
Fallacy / Kunci Untuk Terhindar Dari Circular Argumen
« pada: November 17, 2017, 09:34:29 AM »
Apakah bentuk formal dari circular argumen dan petitio principi adalah seperti ini :

Circular Argumen :

- X adalah Y sebab X bukan Z

- X adalah Y sebab X adalah Z

- Jika X bukan Z, maka X adalah Y

- Jika X adalah Z, maka X adalah Y

Petitio Principi :

- X adalah Y. Sebab jika X, maka Z

- X bukan Y. Sebab jika tidak X, maka tidak Z

- Jika (jika X, maka Z), maka X adalah Y

- Jika (jika tidak X, maka tidak Z), maka X bukan Y

???

Apakah ini adalah syarat atau kriteria dari Circular Argument dan Petitio Principi :

Circular Argument :

- Sebab dan konsekuensi di-isi dengan variabel subjek yang sama dalam sebuah pernyataan kausalitas

Petitio Principi :

- Menggunakan hipotetical proposition pada sebab dalam sebuah pernyataan kausalitas

- Tidak memiliki kejelasan mengenai mana salah satu subjek yang hendak dibuktikan di antara 2 atau lebih subjek dalam sebuah pernyataan kausalitas

???

Menyimak ????.

Atau bukan seperti itu bentuk formal dan syarat atau kriteria dari Circular Argument dan Petitio Principi ?

Bila bukan seperti itu bentuk formal dan syarat atau kriteria dari Circular Argument dan Petitio Principi, maka saya akan menanyakannya kepada anda seperti apa bentuk formal dan syarat atau kriteria dari Circular Argument dan Petitio Principi dan saya tidak akan meralat pernyataan saya.

Salah satu tujuan dari pertanyaan di atas adalah untuk melengkapi catatan saya mengenai berbagai tes yang pernah dilakukan oleh Kang Asep pada saya.

Seingat saya berbagai tes yang pernah dilakukan oleh Kang Asep pada saya selama saya bergabung dengan grup Logika Filsafat ini adalah :

1. Tes Definisi
2. Tes Kontradiksi
3. Tes Tautology
4. Tes Petitio Principi
5. Tes Circular Argumen

Saya pun berasumsi bahwa tidak menutup kemungkinan pada kesempatan - kesempatan selanjutnya Kang Asep akan menguji saya dengan berbagai tes baru.
Oleh sebab itu catatan ini menjadi penting bagi saya untuk menjadi bahan kewaspadaan serta bahan perkiraan mengenai tes - tes baru apa lagi yang akan dilakukan pada saya oleh Kang Asep pada kesempatan - kesempatan selanjutnya.
Jadi, saya tidak perlu merasa kaget lagi karenanya.

Selain itu, jawaban dari pertanyaan ini menjadi penting untuk mengetahui bentuk pokok/baku dari sekian banyak Circular Argument dan Petitio Principi yang ada.
Dan tidak menutup kemungkinan terdapat sebagian orang yang bingung mengenai penjelasan Circular Argument :

X : "Mengapa tidak B bukan C ?"

Y : "Karena B adalah C".

X : "Mengapa B adalah C"

Y : "Karena tidak B bukan C".

Bagaimana jika kemudian ada yang bertanya :

"Bagaimana jika B adalah C karena A ?"

Kutip dari: Kang Asep
Bukan Circular

Sultan :
—-------------
 X adalah Y sebab X bukan Z
===========

Pernyataan tersebut bukan cirular. Tetapi ignoratio elenchi. Karena antara konklusi dan argumen tidak nyambung. Prinsip dasar logika yang ke-5 menyatakan bahwa bila salah satu premis menidak,maka konklusi harus menidak pula.  Dalam pernyataan tersebut, konklusi tidaklah menidak, sehingga ignore, kecuali bila term "bukan Z" bersifat meniada.

Contoh 1 :

X = saya
Y = akan menjadi presiden
Z = politikus

 A tidak Y, karena X bukan Z

itu berarti

X bukan Z
Setiap Z bukan Y
Jadi, X adalah Z

argumentasi tidak valid, konklusinya tidak logis.

Contoh 2 :

saya adalah laki-laki, karena saya bukan perempuan.

Saya bukan perempuan
setiap perempuan bukan laki-laki
Jadi, saya adalah laki-laki

argumentasi tidak valid. Pasal no. 6 aturan dasar syllogisme menyebut, premis yang sama-sama menidak tidak dapat melahirkan kesimpulan apapun.

Tapi seperti yang saya katakan, bila ""bukan perempuan" bersifat meniada, maka argumentasinya valid.

Saya adalah yang bukan perempuan
setiap yang bukan perempuan adalah laki-laki
Jadi, saya adalah laki-laki

konklusi logis.

Tetapi syllogisme yang sah dan logis tersebut menjadi circular argumen, jika kemudian argumentasinya dibolak-balik.

Saya laki-laki karena saya bukan perempuan. Saya bukan perempuan, karena saya laki-laki.

Saya adalah laki-laki
setiap laki-laki bukan perempuan
jadi, saya bukan perempuan.

Valid dan logis, tapi dibolak-balik dengan yang pertama tadi, makanya disebut dengan circular.

Bentuk sederhananya dari circular argument adalah :

Contoh 3 :

Kenapa A ?
Karena B
kenapa B ?
Karena A

terus begitu tanpa ujung. Kata Joeseof Souyb di dalam bukunya, "bagaikan menghasta kain sarung".

Kadang lingkarannya pendek, kadang panjang. Tapi intinya tetap melingkar.

Contoh 4 :
Kenapa A ?
Karena B
kenapa B ?
Karena C 
Kenapa C ?
Karena D
kenapa D ?
Karena A

balik lagi ke argumen yang pertama, itu melingkar.

Tentu saja, manusia tidak dapat mengetahui seluruh sebab ilmiah dari segala sesuatu. Karena itu, tentu tidak dapat selalu menjawab pertanyaan "mengapa" Tapi, pertanyaan "mengapa" dalam dialektika logika, tidak selalu menanyakan sebab ilmiah dari suatu pernyataan, melainkan menyakan premis-premis. Dan pertanyaan mengapa dapat ditanyakan terus hingga menemukan aksioma atau atom-atom logic, di mana suatu kebenaran sudah jelas, bersifat analitis, sehingga tidak diperlukan argumentasi atau pembuktian apapun lagi untuk diterima sebagai kebenaran.

Secara aturan, circular argumen tidak melanggar hukum syllogisme. Karena itu bukannya tidak logis, akan tetapi tidak berguna. Karena sejatinya antara argumen dan kesimpulan adalah itu-itu juga, seperti hubungan terjemah.

Contoh 5 :

Ini adalah buku. Mengapa ?
Karena itu the book
mengapa itu the book ?
karena itu buku

tidaklah keliru, memang benar , buku = the book. Tapi tidak berguna, karena yang ditanyakan bukanlah terjemahan, melainkan argumen. Tentu hal itu berguna, bila si penanya menanyakan padanan kata atau terjemahan.

10
Filsafat / Konsep vs Konsep : Prima Causa vs Non-Causa
« pada: November 17, 2017, 03:16:26 AM »
Kutip dari: The Legend
Sebab awal tidak mungkin bisa ditemukan. Karena itu berhenti mencari sebab awal.

Sebab awal atau dalam istilah Aristoteles adalah "Prima Causa" yang memiliki kesepadanan dengan istilah tersebut, dapat ditemukan melalui pencarian akal ; rasionalisme, nalar, dan logika.

Siap - siap berdiskusi lagi.

Satu per satu pernyataan Kang Legend akan saya jawab.

Kutip dari: fajri dwiyama
Silahkan !!!

Kutip dari: The Legend
Silahkan Baca Baik2 tentang Ketuhanan dan Alam Semesta dalam Buddhisme

Tidak ada penciptaan dan Sang pencipta dalam buddhisme. Ada penciptaan berarti ada awal. Sedangkan Buddha mengatakan : samsara tanpa awal yang dapat ditemukan.

Alam semesta bisa ada karena  adanya proses..... lahir- berlangsung- mati begitu seterusnya..alam semesta ini sangat luas. 1 galaksi aja isinya triliunan bintang. 1 bintang/matahari ada satu gugusan planet yang mengitarinya.. misal planet2 yg mengitari matahari kita adalah merkurius, venus, mars, bumi dst... itu baru 1 bintang ya.. sedangkan dalam 1 galaksi ada triliunan bintang. Dan alam semesta kita ini ada milyaran galaksi pula.. jadi tidak terbayang luasnya alam semesta. Dan bintang itu ada siklusnya. Bisa lahir dan mati. Ketika satu bintang/matahari mati, dia meledak. Begitu pula gugusan planet yang mengitarinya. Di sebelah sini satu bintang mati, sebelah sana satu bintang baru lahir dan memulai prosesnya.. begitu seterusnya alam semesta kita ini berproses.

Dalam Buddhisme tidak awal artinya tidak ada pencipta. Dalam Buddhisme pandangan adanya pencipta termasuk dalam salah satu pandangan salah dari total 62 pandangan salah. Dalam Buddhisme pandangan adanya pencipta termasuk kebodohan batin atau moha/delusi.

Trus yang mengatur alam semesta? Dalam Buddhisme ada namanya panca niyama yaitu 5 hukum alam/kosmos. ( utu niyama, bija niyama, citta niyama, kamma niyama dan dhamma niyama) dan panca niyama ini tidak ada yang menciptakan.

Dalam buddhisme segala sesuatu bisa ada karena ada kondisi2 pembetuknya. Contoh : bayangan bulan bisa ada karean ada bulan dan air, kolong meja bisa ada karena ada meja. Lumpur bisa ada karena ada air dan tanah, molekul air bisa ada krn ada 2 atom H dan 1 atom O Dst.. jadi bukan karena ada yang menciptakan.

Jika Tuhan dalam pengertian umum adalah sebagai Pencipta dan mempunyai sifat2 seperti manusia (bisa marah, bisa benci, bisa memusnahkan suatu kaum), maka jelas tidak ada tuhan seperti itu di dalam agama Buddha. Bukan tidak dibicarakan tentang tuhan seperti itu, melainkan jelas ditolak dan dianggap tidak tepat konsep tuhan seperti itu karena tidak nyata (Sumber: Brahmajalasutta). Jadi, Jika tuhan diartikan sebagai pencipta, agama Buddha jelas menolak tuhan (artinya tidak ada tuhan seperti itu dalam ajaran Buddha)

dan Jika tuhan diartikan sebagai pengatur kehidupan manusia, agama Buddha menolak tuhan seperti itu (artinya menurut agama Buddha tidak ada pengatur kehidupan manusia/makhluk hidup.)
Byangkan bencana Tsunami apakah kerjaan tuhan?? bayi yang baru lahir pun tewas seketika..

Bencana setiap hari ada dengan berbagai macam bentuknya apakah rencana tuhan yang kejam??

Menurut ajaran Buddha, ada sebab ada akibat.contoh: apabila saya mati, tentu ada sebab dan kondisi2 yang mendukung. misal karma buruk masa lalu didukung dengan kondisi tidak menjaga kesehatan, didukung dengan sikap hidup yang tidak sehat, dll. jadi semua akibat yang terjadi ada sebab, seringkali kita tidak mengetahui sebabnya. Sebagian orang karena tidak tahu kemudian mengatakan dewa/tuhan sebagai penyebab.)

Jika pengertian tuhan sebagai suatu pribadi (ada sosok), maka agama Buddha juga tidak sependat (artinya menurut agama Buddha, tidak ada yang seperti itu)

Jika konsep tuhan diartikan sebagai sesuatu yang tidak terpikir, tidak terjangkau pikiran, maka mungkin bisa ditemukan (dicari dan dicocokan) konsep ketuhanan seperti itu dalam agama Buddha.

"Ajaran Buddha sangat mengutamakan etika dan moralitas. Tanpa perlu diperintah2, umat Buddhis sejati mengembangkan cinta, belas kasih, kepedulian atas nama kemanusiaan. Karena setiap orang tidak mau menderita, maka jangan melakukannya kepada yang lain. Begitulah ajaran Buddha. Sangat Sederhana. "

Buddha sendiri mengatakan :
[Tradisi Theravada]
“Apabila, O para bhikkhu, para makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issara-nimmanahetu), maka para Nigantha (petapa telanjang) ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan".

11
Diskusi Umum / Menyembunyikan Konteks
« pada: November 17, 2017, 02:34:51 AM »
Sebelumnya saya ingin menegaskan terlebih dahulu kepada Kang Asep bahwa isi tulisan sesungguhnya secara setulus - tulusnya sampai dasar hati tidak bertujuan dan tidak berniat untuk menyinggung anda. Sebab saya menghormati anda. Isi tulisan ini hanyalah ungkapan dari semua "unek - unek" saya terhadap kejadian tadi.


Saya pernah diberi pertanyaan oleh beberapa orang seperti ini :

"Angin apa yang iramanya semilir - semilir ?"

"Cicak - cicak apa yang merayap di dinding ?"

"Kuda apa yang sangat kuat ?"

Lalu saya jawab dengan jujur seperti ini :

"Angin sepoi - sepoi !"

"Cicak biasa seperti yang kita lihat !"

"Menurut saya kuda perang !"

Tetapi kemudian apa sebenarnya jawaban yang dimaksud oleh orang - orang tersebut ?

"Angin yang sedang berhembus padaku.."

"Cicak - cicak di dinding.. Diam - diam merayap.. Datang seekor nyamuk..
Hap, hap, lalu ditangkap.."

"Kuda - kuda yang diajarkan perguruan silatku.."

Sesungguhnya jawaban - jawaban tersebut memang benar. Tetapi antara jawaban saya dengan pertanyaan orang tersebut ternyata berbeda konteks.
Saya menjawab pertanyaan orang tersebut dalam konteks sesungguhnya, namun ternyata pertanyaan dari orang tersebut berada dalam konteks "tebak - tebakan" dan "main - main". Terlebih lagi, orang tersebut menyembunyikan konteks yang ia maksud dari saya, dan tidak menegaskan konteks yang ia maksud dari awal.
Jawaban saya benar dalam konteks yang saya maksud, tetapi salah dalam konteks yang dimaksud oleh orang tersebut dan jawaban orang tersebut benar dalam konteks yang ia maksud sendiri, tetapi salah dalam konteks yang saya maksud.
Ini memang serba terbalik tetapi sama - sama benar dan salah dalam konteksnya masing - masing ????..

Ilmu Logika pun sebenarnya bisa juga bertujuan untuk menjebak orang lain terutama dalam persoalan kontradiksi dan definisi, dengan menyembunyikan konteks Logika Murni yang dimaksud, lalu baru mengatakannya setelah terdapat kekeliruan dalam konteks Logika Murni pada jawaban lawan diskusi.
Bagaimana bila kemudian teknik ini menjadi tradisi diskusi di grup Logika Filsafat ini ?
Sudah tentu akan menimbulkan keambiguan dalam diskusi. Sebab akan terdapat 2 konteks yang berbeda dalam diskusi.
Dan saya sebenarnya juga tidak ingin teknik ini menjadi tradisi diskusi di grup ini. Sebab, efeknya juga sama seperti inkonsistensi konteks, diskusi zig - zag, dan semacamnya. Terutama bagi pembuat pertanyaan. Sebab, si pembuat pertanyaan akan lolos dari kesalahan dengan mengatakan "kamu salah, sebab saya bertanya dalam konteks A, sedangkan kamu menjawab dalam konteks B" .

Konsistensi dalam konteks itu perlu, tetapi menegaskan konteks yang akan dibahas kepada lawan diskusi sejak awal itu juga perlu seperti perlunya menegaskan definisi dari term - term yang hendak dibahas bersama lawan bicara. Untuk menghindari terjadinya inkonsistensi dan alur "zig - zag" dalam diskusi, akibat dari inkonsistensi konteks dan definisi.
Dari kejadian tadi, ternyata saya dapat mengambil banyak pelajaran tentang diskusi...

12
Puisi / Adam Menyesal
« pada: November 17, 2017, 02:29:22 AM »
Daku tak butuh manis cium-mu
Daku tak butuh geli cupangmu
Daku tak butuh empuk pelukmu
Bahkan daku pun tak perlu nikmat cumbumu
Daku tak memperlukannya

Ini keterpisahan
Daku tidak ingin
Yang daku mau kesatuan

Yang daku kehendaki
Kembalilah jadi tulang rusuk-ku
Menyatulah pada tubuh ini
Tubuhku dan tubuhmu satu
Ini kesatuan sejati


(Muhamad Sultan Amarru, 24 Februari 2000)

13
Puisi / Kitab Tuhan
« pada: November 17, 2017, 02:25:39 AM »
Ku buka lembaran - lembaran Alkitab
Didampingi sebunyi lekukan - lekukan kertas dalam sebuah irama
Permainan cantik dari petikan - petikan jemari

Ku hayati ukiran ayat - ayat Tuhan
Yang tergores dengan indahnya
Dalam sucinya kertas

Maka basahlah segenggam hati ini
Tenggelam, dalam lautan makna ketuhanan
Yang dalam tak berdasar
Yang luas tak berujung

Teramat elok ruang hati ini
Bagaikan sucinya alam Ilahi
Dalam sejuknya keasrian
Dalam syahdunya cinta kasih
Dalam kesilauan agungnya cahaya
Dalam, dalam, dalam, dan benar - benar dalam

Kentalnya suasana kasih
Yang menyentuh dasar hati yang paling dalam
Lembutnya sentuhan hati
Yang mencakar perasaan dengan begitu keras
Kepenuhan limpahan spiritualitas
Yang mewarnai setiap sudut makna
Menghujamku dengan bertubi - tubi
Dalam lingkupan firman-Nya

Ku dengar suara lembut-Mu disitu
Ku alami segala curahan hati-Mu disitu
Kau gambarkan segala kehendak-Mu disitu
Dan aku menyambutnya

Engkau masukan kebenaran - kebenaran ke dalam hati ini
Hingga benar - benar merasuk dan menusuk
Dan penuh limpahlah ruang kecil ini
Dengan kebenaran-Mu

Namun bukanlah sekedar itu yang ku mau
Bukanlah sekedar indahnya rangkaian kata - kata-Mu
Bukan pula sekedar keelokan bicara-Mu
Tetapi suburnya sabda - sabda-Mu di dalam diriku

Sebab apalah arti sebuah firman ?
Bila hanya setulis hitam di atas putih
Namun tidak tertulis di dalam hati ?
Apalah arti sebuah ajaran?
Bila hanya terkandung di dalam buku
Namun tidak terkandung di dalam hayat ?
Apalah arti sebuah moral??
Bila hanya dikata dalam ucapan
Namun tidak terbicara dalam tindakan ?
Apalah arti nama-Mu ?
Bila hanya terucap di lidah
Tetapi bisu di hati ?
Apalah arti kehendak-Mu ?
Bila cuma indah dalam tulisan
Tetapi busuk dalam tindakan ?
Ingin ku buang segala kemuakan ini

Ku ingin rasaku menjadi rasa-Mu dan rasaku menjadi rasa-Mu
Ku ingin sakitku menjadi sakit-Mu
Ku ingin hidupku jadi kehendak-Mu
Ku ingin setulis cerita hidupku
Adalah setulis firman-Mu
Akhirnya ku ingin kembali ke dalam pelukan-Mu

Ajaklah daku !
Berilah uluran tangan-Mu untuk ku genggam
Dan tuntunlah daku ke tempat-Mu

Walau tergoda dosa
Setiaku tetap pada-Mu
Walau ternoda hina
Suciku selalu menunggu
Walau terbuai goda
Diri-Mu tetap dihadapku
Walau terlenyap lupa
Wajah-Mu tetap dalam bayangku
Walau terlena dunia
Rumah-Mu tetap impianku
Walau depresi menjangkit
Kitab-Mu tetap dalam genggamku



(Muhamad Sultan Amarru, 24 Februari 2000)

14
Puisi / Dosa dan Pertobatan
« pada: November 15, 2017, 05:29:03 PM »
Lusuh dan kotorlah sudah diri ini
Berlumpur, dan berlumut
Penuh dengan kejijikan

Sungguh ku hina dihadap-Mu
Sungguh ku malu dalam pintaku pada-Mu
Sungguh ku khayal untuk bersama-Mu

Namun tak mau ku berlepas dari-Mu
Sungguh tak mau ku lupakan-Mu
Benar - benar ku tak mau tanpa-Mu

Dalam kejatuhan nan kelumpuhan
Dengan terseok - seok nan terkesot - kesot
Diri ini berjalan ke hadap-Mu
Dalam rangkulan najis tangan ini yang membelenggu kaki-Mu
Dengan kehinaan kepala ini yang bersujud di bawah-Mu
Di atas kaki-Mu, ku pinta permohonan
Dalam ratapan yang menyesakan dada
Dalam kebanjiran air mata yang membasuh muka

Bukanlah dunia ini yang ku pinta
Bukan pula nyawa ini yang ku sayang
Hanya kasih setia-Mu yang ku harap
Hanya uluran tangan-Mu yang ku ingin
Hangat kemurahan-Mu yang ku mohon

Tak butuh daku Kau angkat sebagai raja
Pula tak butuh daku Kau angkat sebagai penguasa dunia
Kau basuh daku yang ku butuh
Dan Kau dandani daku yang ku ingin
Supaya layak diri ini disanding-Mu
Agar pantas diri ini dalam gaul-Mu

Dalam kebutaan masih ku lihat Engkau
Dalam kegilaan masih ku pikir Engkau
Dalam kegelapan masih bersinar Engkau
Tak ada ku cari Engkau di dunia
Pun tak ada ku lihat Engkau di sorga
Alangkah bodoh sekali diri ini
Dalam ketelatan sadar ku
Baru ku sadar
Dalam hati Daku Engkau bersemayam
Ku lupa memeriksa diri ini
Ternyata disitu Engkau berdiri

Tiada terlena daku dengan puji - pujian manusia
Kudus dihadap-Mulah yang daku ingin
Tiada silau mata ini dengan gelimang harta
Berkat Ilahi-Mulah yang daku pinta
Tiada terpikat daku dengan percintaan manusia
Cinta dan kasih setia-Mulah yang daku harap
Tiada berhasrat daku dengan pangkat duniawi
Menjadi anak-Mulah yang daku impikan
Tiada terbius daku dengan lagu - lagu dunia
Merdunya firman-Mu yang ingin daku dengar

Akan matilah manusia dalam hidup duniawi
Tetapi hidup dalam kehendak-Mu, manusia akan selalu hidup
Bukan kerana kemuliaan duniawi Ia menganggap mulia engkau
Tetapi kerana kemuliaan Ilahi Ia akan menganggap mulia engkau
Sebab, bukan dengan mata duniawi Ia memandang-Mu
Namun dengan mata Ilahi engkau dipandang-Nya
Yang bersujud di bawah kaki-Nya, alangkah lebih mulia
Daripada yang duduk di atas singgasana

Ingin ku rujuk dengan-Mu
Dalam kelunasan piutang yang mengganjal hati
Maka ingin ku basuh diriku
Ku ingin tanggalkan kasut dekilku
Ingin ku lepas segera baju lusuh ini
Lalu ku kenakan pakaian baru
Ku pasang kasut baru di kaki ini
Dan jadilah diri yang baru
Serta tinggalah riwayat - riwayat kelam masa lalu
Dalam tempat sampah bersama sampah - sampah lain
Lalu kembali pada-Mu
Dengan ikatan kasih dan kesetiaan
Tobat, tobat, dan tobat
Daku ingin tobat !

(Muhamad Sultan Amarru, 24 Februari 2000)

15
Puisi / Komentar Untuk Puisi Ujang Ti Bandung
« pada: November 15, 2017, 05:25:26 PM »
Puisi | Balada Sepatu - Sepatu

Puisi | Sang Waktu

Perenungan, perenungan, dan perenungan. Yah, itulah corak, nuansa, kesan, dan "rasa" yang saya tangkap dari kedua puisi kang Ujang di atas.

Saat saya membaca kedua puisi kang Ujang di atas dari awal, pertama - tama saya diajak untuk secara perlahan - lahan masuk ke dalam alam perenungan kang Ujang.
Kemudian, saya "dipersilahkan" untuk melihat corak - corak renungannya dan merasakan nuansa dan rasa dalam alam pikiran kedua puisi tersebut. Yang berarti, saya mulai diajak lagi, untuk memasuki alam batin (hati) kang Ujang dalam kedua puisinya tersebut.
Sampai saya keluar dari keduanya, pada penghabisannya.
Tetapi kedua puisi tersebut meninggalkan tapak - tapak "sentuhan" dalam hati dan pikiran saya.

Itulah sekian komentar saya untuk kedua puisi kang Ujang di atas. Dan saya pun juga berkeinginan untuk menulis puisi yang serupa.

Sebuah puisi, memang mengandung suatu daya mistik tertentu. Karena sang penulis, menulis puisi - puisinya dalam "kondisi batin" tertentu. Dan puisi - puisinya adalah manifestasi dan representasi dari kondisi batin penulisnya. Yang semuanya tertuang dan "tertumpah" di dalam puisi - puisi yang ditulisnya. Sehingga kita dapat menangkap, dan ikut merasakannya juga.

Halaman: [1] 2 3 ... 7

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan