Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Kang Asep

Halaman: [1] 2 3 4
1
My Journal / Registrasi kursuslogika.com
« pada: Juni 18, 2017, 10:12:04 AM »
Daftar Isi
====================
1. Registrasi
1.1. Cara Mudah Registrasi Kursuslogika.com
====================

1. Registrasi
Edisi : 17 Juni 2017, 08:48:39

Bagaimana cara melakukan registrasi di kursuslogika.com ? Langkah-langkahnya sebagai berikut :

1. Bukalah link berikut : http://kursuslogika.com/
2. Klik Log In pada sudut kanan atas.
3. Muncul halaman log in
4. Perhatikan sebelah kanan, terdapat pertanyaan, "Is this your first time here?", klik tombol di bawahnya yang bertulisnya "Create New Account".

( Anda dapat melewati langkah 1-4 dengan klik link sign up berikut : http://kursuslogika.com/login/signup.php )

Username : nama user, harus unik. Jika username sudah digunakan orang lain, proses registrasi akan gagal.
Password : buat password , minimal 8 karakter
Email adress :  masukan email addres yang anda miliki. Nanti anda harus membuka email tersebut untuk verifikasi.
Email again : masukan alamat email yang sama.
Fisrt Name : Nama Depan
surname : Nama Belakang
City/Town : Kota
Country : pilih negara tempat tinggal Anda sekarang.

Lihat contoh pengisian form regsitrasi berikut :



5. setelah selesai, klik "create my new account" !
6. setelah itu muncul pemberitahuan bahwa sebuah email telah dikirim ke alamat email anda.
7. Buka inbox email anda, dan cari email yang dikirimkan oleh kursuslogika.com
8. ikuti instruksi untuk melakukan konfirmasi
9. setelah itu, kembali ke halaman depan kursuslogika.com
10. Klik login, masukan username dan password.
11. Anda sudah masuk dan siap mengikuti kursus.

Setelah registrasi, akun Anda perlu diverikasi. Ada dua cara Untuk verfikasi akun :

1) diverifikasi oleh Anda sendiri dengan cara klik link verifikasi yang dikirim ke alamat email anda oleh kursuslogika.com
2) diverifikasi oleh Admin.

Dengan demikian, apabila akun anda saat ini belum aktif dan anda tidak dapat melakukan verifikasi sendiri, maka silahkan menunggu selama 1 x 24 jam, Admin untuk memverifikasi akun email Anda. Apabila dalam 1 x 24 jam akun anda belum diverisikasi oleh Admin, Anda dapat meminta admin untuk segera memverifikasi.

Admin : Asep (081214781977)

1.1. Cara Mudah Registrasi Kursuslogika.com
Edisi : 18 Juni 2017, 01:13:41

Setiap member yang hendak registrasi harus melakukan verifikasi email. Jika tidak melakukan verifikasi sendiri melalui link verifikasi yang dikirimkan via email, maka Anda dapat menunggu admin memverifikasi akun anda. Ini adalah prosedur registrasi "Email-based self-registration". Admin perlu menerapkan prosdur ini untuk menghindari spam. Tapi bisa jadi admin menerapkan prosedur registrasi yang lebih mudah karena dianggap tidak banyak gangguan spam, yaitu dengan prosedur "No Authentication Registration", di mana Anda tidak perlu lagi melakukan konfirmasi email. Karena itu perhatikan pada halaman log in, apabila terdapat tombol "Create New Account", itu berarti prosedur pendaftarannya Email-based self-registration. Tapi apabila tidak terdapat tombol Create New Account, maka itu artinya prosedur yang digunakan adalah "No Authentication Registration"

Produser "No Authentication Registration" adalah sebagai berikut :

1) bukan link kursuslogika.com
2) klik login
3) isi username baru dan password baru untuk regsitrasi.
4) Klik tombol login.
5) Anda akan langsung login dan mengakses kursus.
     (Tetapi sebaiknya, lengkapi dulu profile Anda, termasuk foto. Setelah itu, silahkan menjelajah atau mulai mengikuti kursus).
6) Apabila anda gagal login dan muncul tulisan berwarna merah "Invalid login, please try again", itu menunjukan bahwa username yang anda tulis sudah digunakan terdaftar, dan anda keliru menulis passwordnya. Cobalah sekali lagi,dan pastikan unsername nya unik, belum pernah terdafar di kursuslogika.com

The following users thanked this post: kang radi

2
Mistisisme / Uzlah
« pada: Juni 05, 2017, 08:15:18 PM »
Daftar Isi
====================
1. Uzlah
1.1. Orang Yang Dilarang Uzlah
2. Tajrid
3. Infirad
4. Hijrah
5. Khalwat
====================

1. Uzlah
Edisi : 30 Mei 2017, 21:44:40

Uzlah yaitu mengasingkan diri dari masyarakat banyak, terutama masyarakat yang di dalamnya terdapat banyak maksiat dan kejahatan. Karena ahi tarekat menganggap masyrakat yang demikian itu mengganggu pikiran seseorang dari mengingat Tuhan. Dalam istilah sufi dikatakan dapat membimbangkan hati dari berdzikir kepada Allah.  Begitu juga karena mereka berkeyakinan, bahwa pergaulan dengan masyarakat yang demikian itu dapat menjatuhkan ke dalam kejahatan dan kebinasaan. (Prof. Dr. Abu Bakar Aceh, "Ilmu Tarekat", Hal. 136)

1.1. Orang Yang Dilarang Uzlah
Edisi : 02 Juni 2017, 00:41:37

tidak semua orang diperbolehkan uzlah. Orang yang memiliki peranan sangat penting dimasyarakat, jasanya sangat dibutuhkan seperti seorang guru sekolah, guru ngaji, dokter, kepala desa dan lain sebagainya, mereka ini tidak diperkenankan untuk melakukan uzlah. Karena pekerjaannya menyangkut hajat hidup orang banyak.

Kutip : [1]
---------------
Dalam ilmu tareka dijelaskan bahwa tidak jarang bertemu orangyang akan melakukan uzlah itu seorang peimpin dalam suatu pengajaran dan ilmu pengetahuan agama, yang dibutuhkan masyarakat penrangannya, untuk membasmi bid`ah atau melakukan dakwah kebajikan dengan perbuatan atau perkataan, dsb. Orang seperti itu tidak diperkenankan uzlah dari manusia, tetapi dianjurkan bergaul ters untuk memberikan nasihat-nasihat yang perlu, yang dilaukan dengan pernuh kesabaran, dengan pandangan dan sikap yang lembah lembut, sambil meminta kepada Allah dapat bertahan dalam jihadnya.
===========


----------------
1. Prof. Dr. H. Abu Bakar Aceh, "Ilmu Tarekat", Hal. 136

2. Tajrid
Edisi : 30 Mei 2017, 22:03:55

Tajrid artinya menghilangkan dalam diri segala sifat-sifat dan sebab-sebab yang dapat mengikat seseorang kepada dunia, dan menghadapkan seluruh nasibnya dan tawakal kepada Tuhan semata-mata. (Prof. Dr. Abu Bakar Aceh, "Ilmu Tarekat", Hal. 136)

Dalam praktiknya tajrid itu seperti menahan diri dari sifat serakah terhadap makanan, bicara gosip, tidur berlebihan dan banyak bersendagurau. Dalam bertajrid, seseorang tidak harus memisahkan diri dari pergaulan atau mengasingkan diri. Dapat dikatakan bahwa tajrid ini suatu bentuk pengendalian diri secara sungguh-sungguh di dalam kehidupan sehari-hari.

3. Infirad
Edisi : 31 Mei 2017, 21:42:29

Infirad adalah memisahkan diri dari masyarakat, bukan saja secara batiniah, melainkan juga berikut secara jasmaniah. Tujuannya adalah agar tidak tertular oleh keburukan yang ada dalam masyarakat tertentu.

Tentu saja, tidak setiap masyarakat memiliki keburukan yang menjadi sebab seseorang menjadi perlu untuk infirad.  Apabila seseorang tidak khawatir akan terpengaruh buruk oleh orang lain atau bahkan mampu memberi pengaruh baik pada orang lain, maka dia tidak peru untuk berinfirad.

Misalnya, jika seseorang hidup di tengah masyarakat yang pergaulannya buruk, gemar mabuk-mabukan, berjudi, dan sebagainya, dan orang tersebut khawatir dirinya terpengaruh, maka memilih untuk tidak bergaul dengan masyarakat tersebut disebut dengan infirad. Tentu ini maksudnya "untuk sementara waktu", sampai dia siap untuk menghadapi masyarakat dan memberi pengaruh baik, setidaknya dapat memilih yang baik diantara masyarakat atau bahkan siap memberi pengaruh baik pada masyarakat.

Apa bedanya infirad dengan uzlah ? Kalau uzlah, tidak hanya memisahkan diri dari pergaulan, tetapi pergi menyendiri dan mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat tersebut.

4. Hijrah
Edisi : 31 Mei 2017, 22:07:17

Hijrah ialah pindah dari suatu kondisi yang buruk kepada kondisi yang baik.  Hijrah dapat pula diartikan meninggalkan suatu tempat, karena keburukan yang terdapat dalam tempat tersebut.

Ketika seseorang beruzlah, maka orang tersebut juga meninggalkan suatu tempat menuju tempat lain untuk mengasingkan diri. Lalu apa perbedaannya dengan hijrah ? Uzlah dilakukan bisa karena melihat adanya keburukan dalam kehidupan masyarakat, tapi bisa pula karena mengharapkan suatu keadaan yang lebih baik. Uzlah berarti pengasingan diri. Tetapi hijrah, tidak berarti pengasingan diri. Seperti ketika kaum muslimin hijrah dari Mekkah ke Madinah. Di Madinah mereka tetap hidup bermasyarakat. Sedangkan uzalah, berarti keluar dari kehidupan masyarakat tersebut.

Makna hijrah, tidak hanya meninggalkan sesuatu secara fisik, tetapi secara batiniah juga bisa disebut hijrah. Seperti seseorang yang memiliki kebiasaan berbohong, tetapi dia kemudian berjihad dengan bersungguh-sungguh untuk melawan sifat bohong, dan dia berhijrah dari kebiasaan sifat bohong kepada sifat kejujuran. Di dalam praktiknya, agar orang dapat berpindah dari suatu kondisi buruk kepada kondisi baik, dari sifat buruk kepada sifat baik, dari tempat buruk kepda tempat baik, terkadang dibutuhkan suatu metoda tertentu. Diantara metoda itu diantaranya uzalah, tajrid dan infirad. Tajrid dan infirad tidak berarti harus meninggalkan tempat. Uzlah, meninggalkan tempat sementara. Tapi, bila semua itu tidak dapat membuat seseorang  hijrah dari keburukan kepada kebaikan, maka jalan terakhir dalam hijrah secara tempat, meninggalkan suatu masyarakat yang ada di tempat tertentu, karena keburukannya menuju kehidupan masyarakat lain yang baik, sehingga bersama pindahnya tempat, maka secara batiniah pun pindah dari kondisi buruk  kepada kondisi baik.

5. Khalwat
Edisi : 31 Mei 2017, 22:27:32

berbeda dengan uzlah, tajrid, infirad, hijrah, ketika seseorang tidak saja memisahkan diri dari pergulan masyarakat, tidak saja pindah dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengasingkan diri dari semua orang, dia menyendiri di tempat yang gelap dan sunyi, yang demikian itu disebut berkhalwat. Ketika menyendiri ini, hanya diisi dengan kegiatan dzikir.  Ini adalah suatu cara meruqiyah diri sendiri atau dalam bahasa orang Sunda, "ngaruwat diri sorangan", sebagai suatu cara radikal untuk melakukan perubahan diri dari keadaan buruk kepada suatu keadaan yang baik. Dalam kelompok tarekat, seseorang berkhalwat harus dengan bimbingan dan pengawasan seorang mursyid atau guru.

The following users thanked this post: arhtant64

3
Kupas Logika / Intisari Dialektika Logika
« pada: Maret 13, 2017, 02:30:54 PM »

Record and upload audio >>

Kategori : Logika
Edisi : 13 Maret 2017
Media : Audio
Judul : Intisari Dialektika Logika
Link : http://bit.ly/2mAUODy
Uraian tersebut menjawab pertanyaan :
- apa itu dialektika logika ?
- bagaimana cara kerja dialektika logika ?
- apa manfaat dialektika logika bagi diri sendiri dan orang lain ?
The following users thanked this post: Junotdarus

4
Kupas Logika / Logika Tanpa Rasa
« pada: Oktober 13, 2016, 11:31:07 PM »
Logika Tanpa Rasa

gagal menjegal ahok dngan berbagai cara, akhirnya para penentang Ahok  menemukan celah dalam isu sara. kalo isu sara ini adalah yang paling sulit dilawan. itu adalah Kekuatan Ad Hominem.

sekarang kekuatan masa Islam sangat besar untuk menyerang ahok. jika ahok bisa menghadapinya dan bisa selamat dari kasus ini, itu sangat di luar dugaan saya, dan sekaligus berarti ajaib dan luar biasa. Perasaan saya mengatakan peluang ahok untuk selamat dari kasus penistaan agama ini kecil. karena berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya. kasus reklamasi dan yang lain-lain itu, ahok masih bisa mengimbangi opini publik. tapi sekarang, "sudah tidak ada logika". karena isu sara itu menyetuh rasa ke-akuan yang paling dalam rakyat mayoritas.

Perktaan Ahok di pulau seribu itu, saya sebut "Logika tanpa Rasa". saya memandang, dikupas dari sudut logika, omongan Ahok tidaklah salah. hanya saja, Ahok ngomong kurang mempertimbangkan unsur perasaan masyarakat.

seperti misalnya, jika saya berkata pada sseorang pria, "Jika bapak anda korupsi, berarti anda anak maling."

kemudian orang itu lalu tersinggung dan marah, mengangap saya menuduh bapaknya korupsi dan menyebut dia maling.  padahal saya hanya ngomong "jika". orang logika pasti tau artinya "jika". bukan mengatakan sesuatu yang real, tetapi suatu "khayal". tapi kalo orag sudah tersinggung, tidak peduli dengan logika. faktanya "tersinggung". karena itu jadi pelajaran bagi kita, bahwa kalo ngomong jangan asal benar, tapi juga perhatikan efek perasaan yang akan ditimbulkannya. walaupun benar, tapi menyinggung, orang akan menilainya salah, seribu kali salah. Logika itu harus pake rasa juga.

seperti zaman Gus Dur, dia bertanya di depan banyak anggota DPR di gedung DPR, "apa bedanya Gedung DPR ini dengan taman kanak-kanak?" reaksinya, banyak anggota Dewan yang marah besar ketika itu juga, dan minta Gus Dur mencabut ucapannya. setelah itu bergulir kepada tuntutan lengsernya Gus Dur.

dalam [[ilmu logika]], pertanyaan itu tidak bernilai salah maupun benar. karena yang bernilai benar-salah itu adalah proposisi. tetapi, pertanyaan itu sudah dianggap pernyataan. bahwa Gus Dur telah menyatakan gedung DPR sama dengan taman kanak-kanak. ini keliru. selain itu, walaupun benar Gus Dur menyamakan gedung DPR dengan taman kanak-kanak, ada prinsip, "setiap dua hal itu memiliki persamaan dan perbedaan". persamaan gedung DPR dan taman kanak-kanak, ya sama-sama gedung. beda dalam fungsinya.

Gus Dur hanya menimbang sisi logikanya saja. tampaknya kurang dipertimbangkan bahwa pertanyaannya akan menimbulkan perasaan tersinggung yang berat. demikian, dengan kasus yang menimpa Ahok. dan ini, jadikan pelajaran bagi kita, saya khususnya, bahwa publik itu lebih mengedepankan perasaan dari pada logika. karena itu, kalo bicara ke publik, kedepankan Argumentum Ad Verecundiam dan ad hominem. kalo dialog dalam komunitas kecil atau ngobrol berdua, baru gunakan dialektika logika.
The following users thanked this post: ike adriani

5
Filsafat / Re:Minat Menyimak
« pada: Oktober 09, 2016, 06:17:35 AM »
sementara saya belum bisa menanggapi. hanya ingin saya katakan, "lanjutkan !"
The following users thanked this post: shekinah

6
Syllogisme / TKBT AAI
« pada: September 25, 2016, 09:52:51 PM »
Bentuk Umum TKBT AAI

Setiap A adalah B
Setiap C adalah A
jadi, Sebagian B adalah C

Contoh :

Setiap makhluk hidup itu bernafas
Setiap manusia adalah makluk hidup
jadi, sebagian yang bernafas adalah manusia.

ini adalah salah satu modus berpikir yang sah dari 19 modus berpikir yang sah. namun, karena ada yang meragukan keabsahan modus TKBT AAI, maka saya sampaikan ulasan berikut :


Nilai Proposisi adalah "benar" atau "salah", bukan "logis" atau "tidak logis", bukan pula "baik" atau "buruk", juga bukan "tepat atau "tidak tepat".

Logis atau tidak logis adalah nilai konklusi. tapi, konklusi itu juga berbentuk proposisi, sehingga proposisinya bernilai benar atau salah. karena itu ada yang disebut Logis dan Benar ada juga logis tapi tidak benar atau benar tapi tidak logis. contohnya dalam kasus berikut :

Setiap A adalah B
Setiap B adalah C
jadi, sebagian A adalah C

konklusinya benar, tapi tidak logis.

lho kok tidak logis ? karena term yang meniap berubah menjadi tak meniap dalam konklusi. sedangkan dalam Hukum Aristoteles, Term yang tidak meniap tidak boleh meniap dalam Konklusi.  dan sebaliknya. artinya, "term" yang meniap harus meniap dalam konklusi.

A = Setiap A adalah B
I = Sebagian A adalah B

jika A benar, maka I benar.
ternyata I benar,
tapi, belum tentu A benar.

K.A = Konklusi Propsisi A
K.I = Konklusi Proposisi I

Jika K.A benar, maka K.I pasti benar
Ternyata K.I benar
tetapi, belum tentu K.A benar


A) Setiap A adalah B
A) Setiap B adalah C
I) Jadi, sebagian A adalah C


konklusi tersebut melanggar hukum dasar logika atau tidak ? sedangkan modus berpikir KTTB AAI dikeluarkan dari kelompok modus berpikir yang sah. di dalam kerangka berpikir KTTB, hanya terdapat 4 modus berpikir yang sah, yaitu : AAA, AEE, IAI, IEO. jadi, tidak ada modus AAI.

tapi ada yang bertanya, "Jika K.A benar, maka K.I pasti benar." dengan demikian, semestinya konklusi I juga benilai benar pada ikat pikiran AA. bagaimana ?"

jawaban saya : ya, konklusi I juga bernilai benar dan pasti benar pada kerangka berpikir KTTB-AAI. Tetapi, harus diingat kembali, benar belum tentu logis. adapun sebuah konklusi yang sah wajib logis.

tapi bagaimana dengan kasus TKBT AAI ?

A) Setiap A adalah B
A )Setiap C adalah A
jadi, I) sebagian B adalah C

dimana peniapan para proposisi I adalah P-P (partial-partial). dengan demikian, dalam TKBT AAI term C yang di dalam premis bersifat meniap, tapi dalam konklusi tak meniap. bukankah ini pelanggaran terhadap hukum distribusi ke-2 ?

tidak, karena term C dalam konklusi di atas bersifat meniap. Kok bisa ?

Setiap mamalia itu hewan
Setiap yang memamah biak itu mamalia
jadi, sebagian hewan itu memamah biak

"memamah biak" pada konklusi di atas bersifat meniap, sehingga bila dibalik "setiap yang memamah biak adalah hewan".

contoh lagi

setiap benda pasti memiliki bentuk
setiap materi adalah benda
jadi, sebagian yang memiliki bentuk adalah materi

kalo dibalik, "setiap materi pasti memiliki bentuk".

jadi, terbukti bahwa proposisi I pada TKBT AAI bersifat Partial - Universal. dan itu merupakan proposisi A yang dibalik.

Penjelasan tambahan :

berdasarkan perbedaan peniapannya propsisi itu ada dua :

1) Prosisi I - PP, yaitu yang subjek dan predikatnya sama-sama partial
2) Propsisi I - PU, yaitu yang subjeknya Partial dan predikatnya Universal

tetapi, di dalam hukum peniapan tidak disebutnya adanya proposisi I - PU. kenapa ? karena ketika orang membut pernyaaan dalam bentuk proposisi I, tidak serta merta dapat diketahui bentuk I-PU, sehingga berdasarkan bentuknya diambil prinsip umum bahwa proposisi I bersifat PP (partial-partial). Tetapi, bila dapat diketahui bahwa proposisi itu bersifat PU, maka term predikat tidak perlu dianggap partial, dan bahkan harus dinyatakan sebagai universal.

contohnya :

A) Setiap A adalah B

bila propsisi tersebut dibalik, tapi maknanya tetap sama, maka bentuknya menjadi :

I) Sebagian B adalah A

term A yang tadinya "meniap" tentu harus tetap "meniap" ketika dibalik. karena itu, predikat pada proposisi I di atas bersifat universal. hal ini diketahui dari kalimat asalnya. (K/A) sehingga ketika propsisi berbentuk I tadi dibalik kembali, mesti kembali ke bentuk A lagi.

bandingkan dengan pernyataan "sebagian L adalah M". term M, tidak dapat dianggap meniap, karena tidak ada dasar untuk mengetahui peniapannya.



The following users thanked this post: Sandy_dkk

7
Term / Tabayun
« pada: September 25, 2016, 08:09:11 PM »
dalam ilmu mantiq, Tabayun adalah nama jenis hubungan antara dua term yang tidak memiliki kesamaan misdaq sama sekali.

contoh yang sederhana : Emas bukanlah plastik

dan selanjutnya adalah contoh kasus yang agak pelik.

Jika konklusi X adalah proposisi I
dan setiap proposisi I adalah Proposisi A
maka, konklusi X adalah proposisi A

dengan demikian :

jika Setiap A adalah B
dan setiap A adalah C
maka, sebagian B adalah C

konklusinya harus dianggap sama dengan Setiap B adalah C

tentu hal ini akan menimbulkan kekeliruan.

karena itu, hubungan antra mafhum kulli "Proposisi A" dan "Proopsisi I" harus Tabayun.

berarti Propsisi I bukan proposisi A. artinya, Propsoisi I bukan bagian dari Propsisi A.

demikian pula antara "Tasawi" dengan "'Um Khos Mutlaq" harus dinyatakan sebagai Tabayun.
The following users thanked this post: Sandy_dkk

8
Renungan / Zakat Ilmu
« pada: September 16, 2016, 05:19:26 PM »
Imam Nurhasan, pendiri LDII berkata, "jika kita tidak menginfaqi rezeki yang kita dapatkan, itu seperti makan ayam sampe ke tahi-tahinya."

terlepas dari pandangan apakah ajaran LDII sesat atau tidak, tapi ajarannya yang satu ini adalah benar. di dalam rezeki yang diberikan Allah pada kita terhadap hak orang lain. perumpamaannya pak Nurhasan tentang "makan ayam" tadi tepat sekali. tentu kita merasa jijik, bila kita makan ayam sampai bulunya, paruhnya, hingga tahinya dimakan. seperti itu pula kita harus merasa jijik, bila kita harus tidak menzakati harta yang kita miliki. keluarkan zakat harta kita. di situ terdapat hak kaum dhuafa. jika kita tidak mengeluarkannya, niscaya jadi bibit penyakit untuk diri kita. jika kita sadar bahwa infaq, zakat, sedekah itu seperti "buang penyakit", niscaya kita ikhlas melakukannya semampu kita.

tetapi, janganlah kita berbuat tidak adil terhadap diri sendiri dan keluarga kita dengan mensedekahkah harta sehingga menyengsarakan diri sendiri dan keluarga. lihat dalam artikel berjudul : Tak Berdaya.

demikian pula dengan ilmu yang telah Allah anugerahkan pada kita, di situ terhadap hak orang lain, yaitu hak kaum yang bertanya. maka bagikanlah ilmu kepada pihak yang berhak mendapatkannya.  jika kita tidak menzakati ilmu kita, niscaya jadi bibit penyakit bagi kita.

Imam Zainal Abidin berkata, "dan adapun orang yang kamu bimbing dengan ilmu, kamu mesti memahaminya bahwa Allah azza wajalla telah menjadikanmu sebagai guru dalam bidang ilmu yang telah Allah berikan kepadamu,dan gudang-gudang pengetahuan yang telah Allah bukakan untukmu. Apabila kamu mengajar mereka dengan baik, tidak mengoyak perasaan mereka dengan ajaran yang membingungkan, niscaya Allah akan menambahmu dengan karuniaNya.  tetapi bila kamu mencegah orang dari pengetahuanmu, tidak peduli dngan mereka saat menuntut ilmu, maka hak Allah untuk mengambil kembali ilmu darimu berikut kemuliaannya. dan Dia akan menggugurkan tempatmu dari dalam qalbu-qalbu (manusia)."

tetapi, jangan kita membagikan ilmu hingga menyengsarakan diri sendiri. jangan menghabiskan waktu sekedar untuk berbagi ilmu hingga menyita waktu diri Anda dan keluarga. Beri waktu bagi diri sendiri, untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab Anda bagi diri Anda dan keluarga. selesaikan pekerjaan sehari-hari Anda. Bila Anda lelah, beri kesempatan pada diri Anda untuk beristirahat. setelah itu, bila semua tugas dan tanggung-jawab telah usai dikerjakan, keluarkan zakat ilmu Anda untuk orang lain. 

jika Anda meniati berbagi ilmu seperti "buang penyakit", niscaya Anda tidak mengharapkan balasan apa-apa dari orang yang menerima, ilmu. karena itu adalah beban yang baru saja Anda lepaskan.
The following users thanked this post: shekinah

9
Mistisisme / Jin dalam Tubuh Manusia
« pada: September 06, 2016, 09:45:55 AM »
Seusai saya mengikuti salah satu pengajian syiah, jamaah ngobrol-ngobrol santai. tiba-tiba enah dari mana mulainya, seorang jamaah berkata, "kalo menurut saya, mustahil jin bisa masuk ke dalam tubuh manusia. tubuh manusia itu kan materi padat. jin juga materi. maka tidak ada ruang di tubuh kita yang bisa dimasuki materi lain. maka bagaimana bisa jina masuk ke dalm tubuh manusia ?"

saya berkata, "apakah Anda percaya bahwa kandungan tubuh Anda berisi 70% air ?"

"percaya" jawabanya.

"Tapi bagaimana bisa Anda memasukan air ke dalam tubuh Anda ? " tanya saya.

dia terperangah, "oh .. iya ya .."

"apakah Anda pernah masuk angin ?" tanya saya lagi.

"ya pernah."

"Angin adalah materi. bagaimana dia bisa menyelinap ke dalam tubuh Anda ? sedangkan materi jin lebih halus dari angin." saya menjelaskan.

dia bertanya, "tapi bagaimana jin masuk ke dalam tubuh kita dengan ruhnya, sedangkan tubuh ini hanya bisa ditempti oleh satu ruh saja ?"

"apakah Anda percaya di dalam usus Anda bisa hidup sedikit atau banyak cacing ?" tanya saya lagi.

"percaya" jawabnya.

"Cacing memiliki ruh dan dia dapat tinggal di dalam perut Anda. bagaimana Anda tidak percaya jin yang lebih halus wujudnya dari cacing, dapat hidup dalam tubuh Anda ?" tanya saya.

dia berkata, "Oh .. bener juga ya."
The following users thanked this post: SHABRI

10
Mistisisme / Keseimbangan Pengetahuan
« pada: September 04, 2016, 10:13:10 PM »
dalam menyerap pengetahuan, dibutuhkan keseimbangan antara pengetahuan inderawi, logika dan batiniah. ketidak-seimbangan penyerapan pengetahuan tersebut berarti "penyakit", baik secara jasmani maupun ruhani. ketiga jenis pengetahuan tadi, ibarat tiga anak tangga yang tidak terpisahkan. pengetahuan inderawi merupakan anak tangga pertama, pengetahuan logika merupakan anak tangga kedua. sedangkan pengetahuan batiniah merupakan anak tangga ketiga.

Pengetahuan manusia setelah lahir ke alam dunia dimulai dari apa yang disaksikan oleh panca indera. lalu, manusia berpikir, yang dengan kemampuannya berpikir, menemukan fakta-fakta yang tidak terlihat oleh panca indera. dengan kemampuan berpikirnya, manusia dapat mengenali Tuhan, walaupun Tuhan tidak dapat disaksikan oleh panca inderanya. Imam Ali bin Abi Thali berkata, "Tuhan terlalu suci untuk dijangkau oleh mata." Jika manusia hanya menyerap pengetahuan dari panca indera saja, maka hidupnya tidak ubahnya seperti binatang saja. ciri azasi yang membedakan manusia dari makhluk lainnya justru terletak pada kemampuan berpikirnya. dan berpikir ini berarti menggunakan Logika. karena itu, tidaklah dapat dipisahkan dari kehidupan manusia antara pengetahuan inderawi dengan pengetahuan logis. tetapi, ada kalanya orang "banyak meihat" tapi kurang berpikir, jadinya salah kaprah. dia disesatkan oleh apa yang dibaca atau dilihatnya. ini yang disebut dengan "tidak seimbang".

Demikian pula dengan Pengetahuan Batiniah, batin kita harus digunakan untuk menyerap pengetahuan, mengimbangi pengeahuan inderawi dan pengetahuan logis. jika kita tidak menggunakan batin untuk menyerap pengetahuan, maka munculah ketidak-seimbangan. Saat kita melakukan sesuatu yang buruk atau salah, batin kita mengetahuinya secara otomatis. Tetapi, sebagian orang tidak mengindahkannya karena beranggapan, "belum saya baca ayatnya, kalau ini adalah sesuatu yang salah". pedomannya tentang benar-salah, baik dan buruk hanyalah teks-teks yang dia baca dalam kitab suci. dia tidak mendengarkan suara hatinya. karenanya dia jadi tersesat jalan.

seseorang tidak butuh nash untuk tahu bahwa menolong nenek-nenek menyeberang jalan adalah tindakan yang baik. batinnya sendiri yang memberi tahu. setiap manusia akan mengenali secara otomatis, bahwa berbohong adalah sebuah kesalahan. tidak perlu diajarkan kitab apapun padanya. batinnya sudah tahu tentang itu. mereka yang mendengarkan nuraninya, menuju jalan keselamatan. "Faalhamaha fujuraha wa takwaaha".  pengetahuan tentang benar dan salah, baik-buruk,  tidak hanya Allah sampaikan pada nabinya melalui wahyu, tetapi juga diilhamkan pada setiap orang. Dia adalah "'alamal insaana maa lam ya'lam" (Yang mengajar manusia dengan apa-apa yang belum diketahuinya). karena itu, jangan hanya berpedoman kepada apa yang disaksikan oleh panca indera Anda, tetapi juga dengarkan pula suara nurani anda, suara yang ada di dalam jiwa Anda, karena Allah memberitahu manusia melaui ilham. dan kadang, Tuhan megilhamkan sesuatu melalui mimpi. Perhatikan, tidak sedikit ilmuwan yang dapat menemukan hal-hal besar berawal dari mimpinya. Bahkan kabarnya, rumus cerdas Enstein tentang E=MC2, diawali dari mimpi beliau.

Kutip
Niels Bohr merupakan ahli fisika dari Denmark yang lahir pada 7 Oktober 1885. Dia pernah meraih Nobel Fisikan pada tahun 1922 terkait penelitiannya mengenai atom. Bohr melakukan penelitian tentang bentuk dan struktur atom yang pada saat itu belum ada yang bisa menjelaskan secara detail dalam konsep yang nyata. Pada saat itu Bohr sukses menjelaskan tentang struktur atom tersebut.


Konsep atom yang bisa dipahami banyak orang tersebut ternyata dia peroleh dari hasil tidur, Pada suatu ketika saat Bohr kelelahan dan akhirnya tertidur dia mendapat gambaran unik dalam mimpinya. Dalam mimpi ia melihat sebuah struktur tata surya yang terus bergerak. Berbekal gambaran mimpi tersebut dia berusaha menariknya menjadi suatu konsep atom, dan hebatnya konsep melalui mimpi tersebut telah menjadikannya sebagai salah satu penemu yang sangat hebat. Hasil penemuan Bohr tersebut merupakan cikal bakal ilmu yang membahas lebih mendetail tentang atom sampai sekarang ini.

Apakah teman pernah belajar kimia? Jika pernah pasti tahu tentang unsur kimia yang terdapat pada tabel periodik unsur. Tabel periodik unsur diciptakan oleh Dmitri Mendeleev, ilmuan besar yang berasal dari Rusia. Ternyata ilmuan kelahiran 8 Februari 1834 ini menciptakan tabel unsur kimia tersebut diawali dari mimpi.

Mendeleev membuat tabel unsur kimia dengan menggolongkan berdasar komponen dan juga berat. Namun dalam penelitian penggolongannya tersebut dia mengalami beberapa kesalahan dan hampir putus asa karena tidak menemukan apa yang dia cari. Akhirnya karena kelelahan dan merasa frustasi Mendeleev pun tidur untuk mengistirahatkan pikirannya. Dan tidak disangka dalam tidurnya dia bermimpi melihat visualisasi dari penelitian yang sedang dia jalani. Saat terbangun Mendeleev lalu menggambar seperti yang dia lihat dalam mimpinya tersebut. Akhirnya terciptalah Tabel Periodik Unsur seperti yang kita pakai saat pelajaran kimia sekarang ini.

[1]

apakah kisah-kisah tersebut belum cukup meyakinkan Anda bahwa ada pintu lain selain pintu indera dan logika sebagai tempat datangnya ilmu pengetahuan ? Saat Nabi Nuh as. membuat perahu di dalam hutan, siapakah yang mengajarinya ? Segala penemuan besar para ilmuwan itu sebenarnya berasal dari Tuhan yang Maha Tahu, yang mengajarkan manusia dengan apa-apa yang belum diketahuinya. Dengarkan suara hati Anda, maka Anda akan tahu bagaimana cara Tuhan mengajar Anda.

Mereka yang hidup hanya berpedoman pada pengetahuan inderawi dan logika, berarti menjalani hidup dengan cara yang tidak seimbang. pola perilakunya hanya didasarkan pada apa yang dilihat dan didengarnya secara dzahir saja. ini mengakibatkan kerusakan pada jasmani,terutama ruhani. sebagai contoh kecilnya. secara alami, manusia akan makan hanya bila lapar. tetapi keserakahan membuat batin manusia merasa lapar terus menerus, ingin mengunyah-mengunyah dan mengunyah. Bahkan tidak peduli perutnya sudah penuh sesak, dan batinnya sudah memberi perintah , "berhentilah makan ! berhentilah makan ! perutmu sudah penuh sesak." tapi sebagian orang seperti tuli, tidak mau mendengar suara hatinya. maka, akibatnya sakitlah tubuhnya. berbagai penyakit mengancamnya. jiwanya menjadi rapuh.

semoga uraian di atas, memberi gambaran yang jelas, bagaiman seseorang yang "tidak menggunakan mata batin" menjalani kehidupan secara tidak seimbang. dan ajakan saya pada diri sendiri dan pada Anda adalah "marilah kita berusaha mensucikan diri, agar batin kita menjadi jernih, sehingga mampu melihat kebenaran dengan jelas. Dengan menyampaikan hal ini, tidak berarti saya sendiri telah benar-benar dapat menyeimbangkan pengetahuan dan menjalani kehidupan yang seimbang, tetapi saya berupaya untuk mencapai keseimbangan tersebut. Saya hanya mengungkapkan apa yang saya ketahui, dalam paktiknya, bisa jadi Anda lebih baik dari saya. Sebagaimana saya memiliki teman, bukan sseorang ahli agama, bukan pula ahli filsafat maupun kebatinan. namun, saya kagum dengan kemampuannya dalam berdisiplin dalam hal makan dan minum, sehingga kondisi jasmaninya tampak selalu bugar. Sementara saya hanya bahkan tahu betul pentingnya kedisiplinan dalam pola makan dan tidur, belum mampu melakukannya dengan baik. karena itu, uraian ini terutama sebagai nasihat bagi diri saya sendiri.

 1. http://www.anehtapinyata.net/2015/07/penemuan-dari-mimpi.html
The following users thanked this post: shekinah

11
Filsafat / Dasar Keyakinan Pluralisme
« pada: Agustus 26, 2016, 05:44:47 PM »
Pluralisme

Sebelumnya saya mohon maaf, karena mungkin saya akan menyampaikan pendapat yang bertentangan dengan keyakinan Anda atau bahkan mengusik keyakinan Anda. saya meyakini bahwa "melaksanakan ritual ibadah agama tertentu bukanlah jaminan keselamatan seseorang dari api neraka. apapun agamanya, berkesempatan memperoleh ridha Tuhan dan menikmati kehidpuan bahagia di dunia maupun di akhirat." Ini bertentangn dengan keyakinan "hanya orang Kristen saja yang akan masuk sorga" atau "hanya orang Islam saja yang akan masuk sorga". Tuhan tidak melihat label, julukan dan pengakuan agama seseorang. tapi dia melihat kepada hati hamba-hambaNya. Mereka yang suci jiwanya, itulah yang akan diperkenankan masuk ke dalam sorgaNya. Sedangkan jalan untuk mencpai kesucian ini adalah sebanyak hembusan nafas makhlukNya. Saya tidak beranggapan bahwa jika seseorang tidak shalat, maka Tuhan akan murka kepadanya, atau dia pasti akan dilemparkan ke dalam neraka. Karena ada sebab-sebab yang membuatnya dapat dimaafkan, walaupun tidak shalat. misalnya, karena tidak pernah datangnya dalil yang jelas baginya tentang kewajiban shalat. saya setuju dengan kaidah ushul fiqih, bahwa  "asal ibadah itu haram, hingga ada dalil yang membolehkannya." serta firman Allah, "laa taqfuu ma laisa laka bihi ilm." (jangan mengikuti apa-apa yang tidak ada ilmunya). dan inilah yang menjadi saya menjadi seorang pluralisme. walaupun saya meyakini bahwa hal itu benar, tetapi juga meyakini bahwa tidak mustahil keyakinan saya tersebut salah. hanya saja, saya akan tetap meyakininya sebagai hal benar sampai ada dali-dalil yang menunjukan bahwa hal itu keliru. Karena itu, jika Anda memiliki bukti bahwa keyakinan saya keliru, silahkan Anda koreksi, boleh Anda membantahnya dan tunjukan dalil-dalilnya bahwa argumentasi saya salah. Lihat pula tulisan saya berjdul : Pluralisme.

walaupun saya seorang plural, tetapi saya memilih Islam sebagai agama saya, sehingga saya memenuhi kewajiban saya sebagai muslim seperti shalat, puasa dan membayar zakat.

Berdasarkan nash, saya tidak akan mampu membuktikan bahwa "keyakinan pluralisme" adalah keyakinan yang benar. Nash itu multitfsir. dan secara akal, saya hanya bisa menyampaikan dalil berupa implikasi sebagai berikut :

  • Jika Anda dapat melihat pengaruh perbuatan terhadap kesucian jiwa, maka Anda dapat menilai benar-salahnya suatu perbuatan berdasarkan efek yang dihasilkannya pada jiwa. dan meyakini, perbuatan yang menyucikan jiwa itulah yang disebut dengan amal shaleh atau perbuatan yang benar.
  • Jika Anda dapat melihat secara langsung kehidupan negeri akhirat, maka Anda juga akan tahu mana agama yang benar dan mana yang salah. agama yang menjadi sebab kebahagiaan hidup di negeri akhirat, itulah agama yang benar

Pertanyaannya,

  • apakah Anda dapat melihat pengaruh perbuatan terhadap kesucian jiwa ?
  • Apakah Anda dapat melihat kehidpuan akhira secara live ?

jika jawabannya "dapat", maka Anda saya dapat menunjukan bukti bahwa "pluralisme" adalah keyakinan yang benar.
jika jawabannya "tidak dapat", maka saya tidk dapat menunjukan bukti bahwa "pluralisme" adalah keyakinan yang benar.

Jika dalam kesempatan kali ini saya tidak dapat meyakinkan Anda bahwa pluralisme itu benar, maka setidaknya saya dapat menjelaskan bagaimana gambbarannya pluralisme tersebut. tapi saya coba berikan dalil-dalil yang mungkin bisa anda terima.

Asal Mula Keyakinan Pluralisme Pada Diri Saya

Keyakinan saya tersebut muncul setelah saya pertama kali mengalami "matisuri". Ketika matisuri, sukma saya berkelana ke alam-alam gaib. banyaklah pengetahuan yang di dapat, bahkan hingga melihat "sorga" dan "neraka". dari pengalaman tersebut, munculah pengetahuan bahwa ternyata mereka yang memperoleh kehidupan sorgawi, bukan saja dari kelompok agama tertentu, tapi bisa dari kelompok agama mana saja. bukan saja mereka yang tekun melaksanakan ritual ibadah seperti shalat dan puasa, bahkan mereka yang tidak pernah shalatpun bisa memperoleh kehidupan bahagia di alam lain.

Pengalaman mistik saya, ketika saya mengalami matisuri, tentu bukanlah dalil bagi Anda untuk membenarkan pendapat saya, juga bukan argument yang tepat untuk menyalahkannya. ini bukanlah dalil, hanya menceritakan kronologinya, kenapa keyakinan plural itu ada pada diri saya. dalil-dalilnya adalah pengetahuan yang saya saksikan di alam-alam gaib tadi yang selaras dengan akal anda serta nash-nash yang Anda yakini kebenarannya. Jika dalil-dalil yang akan saya sampaikan tidak sesuai akal sehat, serta tidak sesuai dengan nash-nash suci, Anda tidak harus mempercayainya sebagai kebenran.


Tidak ada Jaminan Sorga Atas Ritual Ibadah Kita

Ada banyak yang tampaknya ahli ibadah, tapi dikupas dari sudut kebatinan, sebenarnya dia ahli neraka. sebaliknya, tidak sedikit yang tampaknya ahli maksiat, tapi sejatinya dia ahli sorga. Karena manusia banyak tidak tahunya tentang seseorang dari pada tahunya. tentu saja, lebih banyak yang tampaknya ahli maksiat dan memang dia ahli neraka. Ketika berhaji, imam Jakfar Shadiq berkata, "banyak orang yang thawaf, tapi sedikit yang berhaji." sahabat imam merasa heran dan menanyakan maksud dari perkataannya. lalu imam mengusap wajah orang itu, dan seketika terlihatlah banyak orang-orang yang thawaf itu berwujud binatang. ada yang berwujud anjing, babi, monyet dan lain sebagainya. wujud binatang tadi sebenarnya menunjukn tabiat orang tersebut, bahwa bila dilihat dari mata batin, banyak yang berthawaf seakan beribadah mukhlis karena Allah, tetapi sejatinya riya, ujub, thoma', dan lain sebagainya. serta tidaklah thawafnya itu menambah kebaikan sedikitpun padanya, melainkan menambah keburukan saja. Demikian pula, tidak mustahil orang dengan shalatnya, tidak menambah kebaikan, tapi hanya menambah keburukan saja. Dalam hal ini, tentu yang salah bukan ritual shalat, tapi niat dan cara orang tersebut yang keliru. Imam Jakfar Shadiq berkata, "Banyak orang shalat, tapi tidak patuh pada shalatnya. sesungguhnya shalat mencegah pada perbuatan keji dan munkar."

Ketika saya menyampaikan dalil-dalil imam di hadapan para orang tua di mesjid, ada seorang kakek berumur 70 tahun, dia berkata, "saya kagum kepada Anda karena dapat menyampaikan dalil-dalil secara gamblang. tapi terpikir oleh saya, jika Anda begitu pandai berdalil, pandai beramar makruf nahi munkar, kenapa Anda tidak mendakwahi bapak Anda sendiri. karena saya tahu, bapak Anda bukan seorang muslim yang tha'at. bahkan dia tidak pernah terlihat pergi jum'atan."

Saya langsung mengajukan pertanyaan, "Tentu, yang pertama-tama kali saya dakwahi sebelum Anda adalah keluarga saya sendiri. apa yang membuat Anda berpikir bahwa saya belum menyampaikan dalil-dalil pada keluarga sendiri? saya kumpulkan keluarga saya setiap hari rabu malam, ayah, ibu, paman, bibi, adik, sepupu dan segala kerabat yang bisa saya undang, lalu saya sampaikan dalil-dalil. saya jelaskan kebenaran, saya ajak pada kebaikan. semoga Allah memberi hidayah pada mereka. tapi, bila ayah saya belum rajin beribadah seperti Anda, mungkin karena ayah saya tidak sepandai Anda. Anda seorang yang terpelajar, berpendidikan tinggi. sedangkan ayah saya, dia sekolah SR pun tidak tamat. orang tuanya tidak memberangkatkan dia ke pesantren, dan tidak pula mampu membiayai sekolahnya. tapi dia ingin anaknya menjadi anak yang baik, pintar dan shaleh. Anda kira, saya bisa hadir di sini, berbicara agama, dengan dalil-dalil yang gamblang sperti Anda bilang, itu karena siapa ? itu karena jasa-jasa ayah saya. beliau, tidak hanya memberi saya makan, tetapi juga menyekolahkan saya sekuat tenaganya, menyuruh saya pergi mengaji dan menitipkan saya di pondok pesantren. jika saya menjadi orang yang mengerti agama, rajin beribadah, mendapatkan ridho Allah hingga diperkenankan masuk sorga, apakah Anda kira saya akan senang masuk sorga sendirian tanpa mengajak bapak saya ? Apakah Tuhan akan melupakan jasa-jasa ayah saya terhadap saya ? maka saya akan berkata pada Tuhan, 'ya Tuhan seandainya saya masuk sorga karna shalat saya, maka ajaklah bapak saya. karena saya tidak akan tahu cara shalat, jika bapak tidak sungguh berharap anaknya menjdi anak yang shaleh dan beribadah padaMu'. " Sekarang, Anda yang rajin beribadah, rajin shalat berjamaah, saya tanya, Apakah Anda dapat menjamin bahwa Anda akan masuk sorga ?"

"ya tidak, tapi ..."

saya memotong, "atau apakah Anda dpat memastikan bahwa ayah saya pasti masuk neraka ?"

orang itu menanggapi, "tidak juga, ... tapi kan kalo orang shalat saja belum tentu masuk sorga, maka apalagi yang gak pernah shalat."

saya jawab, "benar. tapi intinya, Anda tidak yakin bahwa orang yang rajin shalat akan masuk sorga dan orang yang tidak pernah shalat pasti masuk neraka."

Alhamdulillah. di akhr hayat, ayah saya bertaubat, rajin shalat berjamaah di mesjid. sehingga warga menyaksikannya sebagai orang yang khusnul khatimah.

Hidup penuh misteri, kisah wali Barsisho yang tekun beribadah sepanjang hidupnya, tapi akhir hayatnya bersujud kepada iblis. Tidak sedikit pula orang yang hampir sepanjang hidupnya brmaksiat, tapi akhir hayatnya bertaubat dan khusnul khotimah. karena itu, jangan seseorang menyombongkan diri karna merasa diri ahli ibadah, serta merendahkan orang lain karena menganggapnya ahli maksiat. sebab, hidup belum berakhir. kita tidak tahu, bagaimana akhir hidup kita. semoga kita semua khusnul khatimah.

saya rasa, Anda setuju bahwa kita tidak bisa menyombongkan ibadah ritual dan tidak dapat menjamin diri sendiri pasti masuk sorga atas ibadah-ibdah yang kita lakukan. demikian pula tidak sepatutnya kita merendahkan orang lain, karena dia seorang palacur atau pencuri. Karena di hadapan Allah, belum tentulah kita lebih baik dari mereka. apakah ada yang tidak setuju ?

Amal Shaleh Yang Menyucikan

yang menyelamatkan seseorang dari api neraka bukanlah ilmu agamanya, bukan pula ritual ibadahnya, tetapi "kesuciannya". tujuan mengamalkan ilmu agama adalah "kesucian". Tetapi, untuk mencapai kesucian ini tidak satu jalan, tapi bnyak jalan. ritual agama hanyalah "salah satu" jalan saja. di antara banyak jalan tadi, ada kesamaan faktor, misalnya faktor X. maka faktor x inilah yang disebut satu-satunya jalan. contohnya, agama manpun di dunia ini, mengajarkan kejujuran dan keadilan, maka kejujuran dan keadilan adalah satu-satunya jalan. seseorang tidak bisa sampai pada kebahagiaan sorgawi bila tidak melaksanakan kehidupan yang jujur dan adil. kejujuran dan keadilan inilah yang akan menyucikan jiwanya.

Kutip
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ * فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ * كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan” [QS. Ath-Thuur : 17-19].
[1]

Kutip
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan” [QS. Az-Zukhruf : 72].
[2]

dalam ayat tersebut jelas disebut bahwa sorga diwariskan karena amal perbuatan. amal yang bagaimana ? tentunya amal shaleh yang menyucikan.
                       
لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ  ۚ  وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ


Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, dan menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.[3]

Ilmu agama tidak berguna bila tidak diamalkan. dan amal tidak berguna bila tidak menyucikan. Tetapi, ada juga orang yang belajar dalil hanya untuk bahan debat, bukan untuk diamalkan. adan juga orang beramal, tapi tidak pernah tahu, apakah amalannya menyucikan jiwanya atau tidak. Amal shaleh yang tampaknya shaleh, sebnarnya tidak shaleh, bila tidak menyucikan. dia beribadah hanya mengikuti upacara ritual saja, seremonial, tanpa memperhatikan bagaimana hasilnya. Bahkan kadang tidak sadar ketika ritual ibadah itu malah menjauh dari tujuannya untuk menjadi suci, sebaliknya malah mengotori jiwanya. benar salah dilihat dari prosedurnya, bukan hasailnya. semestinya, benar salahnya ibadahnya dilihat dari hasilnya. Jika seseorang tampak melakukan prosedur yang salah dalam ibadah, tapi dengan cara itu jiwanya menjadi suci, maka berarti prosdur tadi sebenarnya benar. dan ibadah yang tampak benar, tapi tidak berdampak pada kesucian jiwanya, berarti prosedur ibadah tadi sebenarnya salah. Lihat tulisan saya berjudul : Cara Ciri, Ciri Cara

Bukti Nash Ibadah Untuk Kesucian


Kutip
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »
“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu,
مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». قَالَ قَالَ الْحَسَنُ وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدَّرَنِ
“Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah suangi yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668).
[4]

       
 لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ  ۚ  وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, dan menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.[QS. Ali 'Imran: Ayat 164]

saya rasa, pada tahap ini juga Anda setuju bahwa ibadah maupun amal shaleh berfungsi untuk meraih kesucian. ada yang tidak setuju ?

Jelas, dalil menunjukan bahwa fungsi shalat adalah untuk menyucikan jiwa. tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Pertanyaannya, syiah shalat, sunni shalat, wahabi juga shalat dengan cara yang berbeda-beda. manakah yang menyucikan ? apakah sama-sama menyucikan ? apakah kesucian itu dapat diidentifikasi dan dibuktikan ?

jawaban atas pertanyaan tersebut telah saya tulis dalam artikel berjudul : melihat kehidupan akhirat secara live.

 1. http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2014/07/masuk-surga-karena-amal-atau-rahmat.html
 2. http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2014/07/masuk-surga-karena-amal-atau-rahmat.html
 3. [QS. Ali 'Imran: Ayat 164], * Via Al-Qur'an Indonesia: http://goo.gl/abm6jp
 4. https://rumaysho.com/3775-orang-yang-rutin-shalat-5-waktu-ibarat-orang-yang-mandi-di-sungai.html
The following users thanked this post: Ardi lg

12
Kajian Islam / Berguru
« pada: Juli 25, 2016, 12:38:47 AM »
Dalam mempelajari sesutu adanya guru mutlak dibutuhkan. Belajar otodidak juga merupakan keharusan. Peribahasa mengatakan bahwa "tidak ada yang tahu tanpa guru". Adapun guru yang sejati itu adalah Allah, Tuhan semesta Alam. Jadi, kenapa siapa kita harus berguru ? Kepada Allah. Tetapi untuk berguru kepada Allah, orang tidak dapat melakukannya secara langsung. Karena Allah dalam mengajarkan makhluknya melalui perantara, yaitu perantara para nabi dan RasulNya dan orang-orang berilmu, yaitu ulama. dan ulama tidak lain adalah "pewaris para nabi". Jadi, pada saat kita berguru kepada ulama, berarti kita berguru kepada Allah. Karena itu, niat yang benar saat kita berguru pada seseorag adalah "berguru pada Allah". Artinya untuk memperoleh ilmu, kita harus menjadi murid. apa itu murid ? imam Ja'far Shadiq mengatakan bahwa murid adalah "man Yuridullaha tabaraka wata'ala an yah diyahu", yaitu yang sangat menghendaki Alllah tabaraka wata'ala memberinya petunjuk. Ingatlah bahwa Allah adalah Maha Pemilik Ilmu. jika Dia tidak ridha pada kita, maka sejenius apapun kita, maka ilmu yang kita harapkan tidak akan diwariskan oleh seseorang pada kita, dan kitapun tidak akan mampu menemukannya sendiri. Allah akan menutup jalan ilmu tersebut, karena kita sendiri tidak memenuhi syarat untuk terbukanya ilmu tersebut.

Di dunia ini banyak sekali ulama, kepada ulama mana kita harus berguru ? tergantung, ilmu apa yang ingin kita pelajari. Jika kita ingin belajar matematika, maka bergurulah pada ahli matematika ! jangan berguru ilmu matematika pada ahli joget, karena itu gak relevan. Kepada ulama manapun kita belajar, jika kita benar-benar mengharapkan ilmunya, maka kita harus memahami hak dan kewajiban guru-murid. Imam Ja'far Shadiq menjelaskan 13 kewajiban murid, yaitu :

  • Ta'dzim : menghormatinya
  • Tauqir : menghidupkan majelisnya
  • Hunsul Istima' : menyimak dengan baik
  • Iqbalu Ilaihi : Hadir, menghadap. Jangan membuat guru kita menunggu-nunggu atau membuat dia merasa kita telah hilng dari majlisnya
  • La Tarfa'a : tidak mengangkat diri untuk lebih menonjol dari guru kita di dalam majelisnya
  • La Tujib : tidak menjawab pertanyaan orang lain yang ditujukan untuknya, kecuali bila Anda tahu bahwa sang Guru menginginkan kita membantunya menjawab
  • Laa Tagtab : tidak menggunjing orang lain di dalam majelisnya
  • Tadfa'a : kita membelanya, jika dia dijelek-jelekan di hadapan kita
  • Tastura : kita menutupi aibnya
  • Tudhira : menampaka keutamaan-keutamaannya (manaqibnya)
  • La Tujaliu lahu 'Aduwan : tidak bersahabat dengan musuhnya
  • La Tu'adiyu Lahu Waliyan : tidak memusuhi sahabatnya
  • Tasaluhum ma Jahilta : bertanyalah tentang sesuatu yang belum diketahui. bertanya untuk tahu, bukan bertanya untuk membebani dan membuatnya bingung

kemudian imam Ja'far berkata,"faidza fa'alta dzalik. syahida laka malaikatullahi bi annaka Qasadtahu wa ta'alamta ilmahu lillahi, la linnas."

artinya : jika kamu melakukan yang demikian (memenuhi kewajiban sebagai murid), maka malaikat akan bersaksi untuk bahwa kamu bermaksud berguru dan mempelajari ilmu adalah karena Allah, bukan karena manusia.

Saya sendiri memegang prinsip ini ketika saya berguru kepada seseorang. Dan itu menjadi rahasia kesuksesan saya dalam belajar. sebagai contoh, ketika saya berguru pada kang Irman saya beritikad bahwa sesungguhnya ilmu itu milik Allah. karena itu, jika saya menghendaki ilmu yang dimilikinya diwariskan pada saya, maka saya tentu perlu memohon kepada Allah. karena tanpa pertolonganNya, sehebat apapun guru saya itu, niscaya tidak akan mampu mengajarkan apapun pada saya. Karena itu, di malam-malam sunyi saya terbangun untuk memohon kepada Allah dan bedoa, "jika ilmu ini benar dari sisiMu, akan bermanfaat bagi saya, maka ya Allah, wariskanlah ilmu ini kepada saya."

tentu berdoa saja tidaklah cukup. saya harus membuat Allah ridha untuk mewariskan ilmu tersebut pada saya. karena itu, saya harus mencri keridhaannya. dan muslim meyakini bahwa ridha Allah ada pada ridhanya orang tua. Karena itu, untuk mendapatka ridha Allah, sayapun harus membuat orang tua ridha pada saya dengan cara berbuat baik padanya. Lalu, bagaimana bila kita dapat membut ornag tua ridha, tapi tidak membuat guru kita ridha ? sama saja, Allah juga tidak akan ridha pada kita. Misalnya, bila kita menghina guru kita, tentu guru kita tidak akan ridha. maka bagaimana seorng guru mau memberikan ilmunya pada kita ? mustahil. Iimam Jakfar Shadiq berkata, "siapa yang menghinakan seorang ulama yang berserah diri (kepada Allah), niscaya dia berjumpa Allah pada hari kiamat sedang Allah murka kepadanya."

Menghormati setiap orang adalah kewajiban kita. maka apalagi terhadap guru kita. Hanya ada perbedaan saja di dalam cara menghormatinya. kita dapat menempatkan setiap orang sebagai guru, sehingga kita dapat menghormati setiap orang. Siapapun yang mengajarkan kebaikan dan kebenaran, itu dapat kita anggap sebagai guru. tetapi di antara para guru, itu ada yang benar-benar ilmunya kita harapkan diwariskan pada kita, dan kita benar-benar mengharapkan bimbingannya. maka kepada guru inilah kita harus memberikan hak-haknya, yaitu dengan melaksanakan apa yang menjadi kwajiban kita. dengan memenuhi 13 kewajiban murid sebagaimana yang dsebutkan di atas, hal itu akan memaksa seseorang untuk memberikan ilmunya pada kita.

Imam Zainal Abidin berkata, "dan adapun orang yang kamu bimbing dengan ilmu, kamu mesti memahaminya bahwa Allah azza wajalla telah menjadikanmu sebagai guru dalam bidang ilmu yang telah Allah berikan kepadamu,dan gudang-gudang pengetahuan yang telah Allah bukakan untukmu. Apabila kamu mengajar mereka dengan baik, tidak mengoyak perasaan mereka dengan ajaran yang membingungkan, niscaya Allah akan menambahmu dengan karuniaNya.  tetapi bila kamu mencegah orang dari pengetahuanmu, tidak peduli dngan mereka saat menuntut ilmu, maka hak Allah untuk mengambil kembali ilmu darimu berikut kemuliaannya. dan Dia akan menggugurkan tempatmu dari dalam qalbu-qalbu (manusia)."

dengan demikian, seorang gurupun memiliki kewajiban yang tidak ringan untuk dijalankan. seorang guru harus melayani muridnya, menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Sebab, bila seorang guru enggak menjawab dan tidak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan para muridnya, maka dia diancam dengan ancaman yang berat, yaitu dicabutnya ilmu darinya. semua orang tentu gentar, bila diancam ilmunya akan dicabut. Tetapi, seorang siswa yang tidak menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai murid, maka dia hanyalah seorang siswa, seorang pelajar dan bukan seorang murid. dan kepada para siswa atau pelajar, seorang guru bebas untuk memberikan ilmunya, dan boleh menahannya bila tidak ingin memberikan. tidak ada dosa baginya. pertanyaan-pertanyaan para pelajar ini boleh dijawab, diacuhkanpun tidak mengapa. tapi bila siswa dan pelajar itu telah menjadi murid,maka wajib bagi seorang guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Allah berfirman, "maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui,  ............ (Q.S 16:43)"

Rasulullah saw bersabda, "Akulah ad-dzikir (Sang Dzikir). dan keluargaku adalah ahli dzikir"

Imam Zainal Abidin berkata,"kamiah ahli dzikir. kepada kamilah manusia diperintah untuk bertanya,". lalu seseorang berkata, "apakah wajib bagimu menjawab pertanyaan manusia ?"

Imam Zainal as menjawab, "tidak. kami menjawabnya bila kami ingin. kami menahannya, bila tidak ingin menjawab."

demikian pula para ulama, tidak ada kewajiban mereka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kita. hanya jika, kita memenuhi syarat sebgai murid, maka mustahi para ulama ini membiarkan kita dalam kebodohan dan ketidak-tahuan.
The following users thanked this post: shekinah

13
Kajian Ilmiah / Hukum Kausalitas Ilmiah
« pada: Juli 20, 2016, 01:04:40 AM »

Penting banget untuk diingat, karena merupakan pedoman dalam berpikir ilmiah.


Nomor : PST-KI/Log-022/6280
Edisi : 13 Nopember 2016
Judul : Hukum Kausalitas Ilmiah
Tujuan :
1) memahami hukum kausalitas ilmiah
2) dapat memberikan contoh-contoh kasus yang membuktikan ketidak-ilmiahan sesuatu.
3) dapat menguji kebenaran sebab-akibat secara ilmiah
=========

rumus ilmiah yang paling sederhana tetapi paling penting untuk diingat adalah hukum kausalitas ilmiah, rumusnya sebagai berikut :

Jika X ditemukan pada pada saat Y tidak terjadi, atau tidak ditemukan pada saat Y terjadi, maka X bukan sebab dari Y.

rumus itu dapat digunakan untuk menguji, apakah suatu pernyataan tentang sebab-akibat itu itu dapat dikatakan ilmiah atau tidak.

Seringkali orang menghubungkan dua hal sebagai hubungan sebab akibat, tetapi setelah diuji dengan hukum tersebut, ternyata tidak terbukti bahwa keduanya memiliki hubungan sebab akibat.

Contoh 1 :

ada yang mengeluh, "mengapa orang-orang yang bersahabat dengan saya selalu tertimpa musibah. apakah saya ini pembawa sial?"

dia berpikir bahwa dirinya yang menjadi sebab orang lain terkena musibah. Seseorang bertanya padanya, "Apakah semua orang yang dekat dengan anda tertimpa musibah atau hanya sebagian ?"

dia menjawab, "hanya sebagian".

"jika demikian, Anda bukan pembawa sial." kata si penanya tadi.

jadi, berdasrkan prinsip ilmiah, tidaklah mungkin orang itu yang menjadi sebab musibah yang menimpa orang lain.

Contoh 2 :

Ada seorang yang mengaku guru spritual dan mengikuti banyak pengikut, sebut saja namanya Bahrudin. Dia menakut-nakuti pengikutnya, bahwa apabila tidak patuh pada perintahnya, maka akan menjadi miskin. Lalu dia mencontohkan banyak kasus, di mana orang-orang menjadi miskin karena menentangnya. dia berkata pada saseorang yang menentangnya, "kamu juga, karena tidak percaya pada saya, maka kamu akan mengalami hidup miskin." sebut saja namanya, Rijal.

Rijal menjawab, "saat ini saya sudah miskin, jadi anda tidak sah repot-repot mengutuk saya."

Rijal miskin, walaupun Bahrudin tidak mengutuk Rijal, jadi tidaklah mungkin "Kutukan Bahrudin, merupakan sebab kemiskinan Rijal."

Contoh 3 :

seseorang melaporkan :
"di keluarga saya, setiap lelaki merokok, kecuali saya. Tapi tidak ada yang mengalami ganggguan jantung, kecuali saya"

jika laporan tersebut benar, maka berdasrkan prinsip ilmiah di atas, pernyataan "merokok menyebabkan gangguan jantung" tidaklah ilmiah.

Contoh 4:

Ketua Gerakan Wanita Indonesia Tanpa Rokok dalam debat di TVone tentang "Perang Rokok: Bisnis atau Kesehatan?", Selasa, 10 Juli 2012, menyatakan bahwa "Rokok adalah pintu gerbang Logika. karena 99 % pecandu narkoba adalah perokok."

jika 100 % orang pecandu narkoba adalah pengguna rokok, maka apakah secara otomatis "rokok menjadi pintu gerbang narkoba" ? Bagaimana kalau 100% pecandu narkoba itu juga adalah  pemakan nasi, apakah "nasi merupakan pintu gerbang narkoba" ?

jika yang dimaksud "pintu gerbang" adalah "sebab", maka berdasarkan hukum kausalitas ilmiah, tidaklah terbukti benar bahwa rokok merpakan pintu gerbang orang menjadi pecandu narkoba.

Prinsi-prinsip logika dan ilmiah tidak boleh diabaikan, dan kita butuh argumentasi yang lebih cerdas, untuk tujuan-tujuan yang dianggap baik seperti kampanye anti rokok.

silahkan mencoba untuk menguji kebenaran kausalitas ilmiah pada berbagai kasus yang anda temukan !
The following users thanked this post: Bauentooth

14
Mistisisme / Re:Belajar Ilmu Meraga Sukma
« pada: Juli 19, 2016, 06:57:25 AM »
kalau saya tidak mengungkapkan nama si Penanya, berarti orang tersebut tidak ingin namanya disebut.
The following users thanked this post: Sandy_dkk

15
Komentari Gambar / Re:FLAT EARTH Proof: High Altitude Balloon Experiment
« pada: Juli 18, 2016, 09:34:41 PM »
videonya sudah saya tampilkan. gunakan kode HTML. sebelumnya klik kanan pada video  di youtube, trus piilh kode semat. paste di sini dengan diapit oleh kode HTML. contoh :

[html]<iframe width="750" height="400" src="https://www.youtube.com/embed/u1xFcyBN8Vs" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>[/html]
The following users thanked this post: kang radi

Halaman: [1] 2 3 4

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan