Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Sultan

Halaman: [1] 2 3 ... 14
1
Filsafat / Segala Sesuatu Adalah Keseluruhan Dari Bagian - Bagiannya
« pada: April 20, 2018, 07:34:38 PM »
Jika tidak ada rambut dalam dzat Tuhan yang Maha Ada dan Maha Kaya, maka bagaimana manusia sebagai ciptaan-Nya, yang berasal dari-Nya atau disebabkan oleh-Nya dapat memiliki rambut ?

Mungkinkah dari "ketiadaan rambut" dapat memunculkan rambut ?

Kutip dari: Kang Asep 16-02-2018, 1.46 PM
tidak tahu.

Pertanyaan saya,
apakah rambut ekuivalen dengan zat rambut ?
apakah berambut = memiliki zat rambut ?
apa bedanya dzat dengan zat ?

Rambut adalah keseluruhan atau himpunan yang terdiri dari banyaknya elemen atau zat penyusun rambut (zat rambut).
Rambut tidak lain adalah elemen atau zat penyusun rambut itu sendiri.
Tak ada rambut tanpa elemen atau zat penyusun rambut dan tak ada elemen atau zat penyusun rambut tanpa ada rambut.
Rambut ekuivalen dengan zat rambut.

Saat kita sedang "menunjuk" rambut, tidak lain kita sedang "menunjuk" elemen atau zat - zat penyusun rambut.
Saat kita sedang "menunjuk" elemen atau zat - zat penyusun rambut, tidak lain kita sedang "menunjuk" rambut.

Seperti samudera yang merupakan keseluruhan dari banyaknya setetes air.

Apakah berambut = memiliki zat rambut ?
Ya.

Apa bedanya antara dzat dengan zat ?

Dzat itu bersifat keseluruhan sementara zat itu bersifat partikular.

Kutip dari: Kang Asep 16-02-2018, 9.00 PM
dzat adalah tempat berdirinya sifat. zat adalah materi.

jika rambut ekuivalen dengan zat rambut, bagaimana dengan rumah dan zat rumah, apakah ekuivalen ?

Ya

====================

Kutip dari: Hamid Assagaf 16-02-2018, 2.56 PM
Jika karena manusia punya rambut maka Tuhan punya rambut itu keliru.
JIka mengatakan karena manusia memilki rambut maka Tuhan punya zat rambut juga keliru. Tuhan Tunggal tidak bisa dibagi bagi.

Kepemilikan rambut pada manusia bukanlah "penyebab" bagi kepemilikan rambut pada Tuhan.
Kepemilikan rambut pada manusia tidak berhubungan secara korelatif (biimplikasi) dengan kepemilikan rambut pada Tuhan.
Tetapi kepemilikan rambut pada manusia berhubungan secara implikatif (implikasi) dengan kepemilikan rambut pada Tuhan.

Jika ada rambut pada manusia, maka ada rambut manusia pada Tuhan dan jika tidak ada rambut manusia pada Tuhan, maka tidak ada rambut pada manusia.
Hal ini benar dan selaras dengan aksioma kausalitas bahwa segala sesuatu tidak dapat menjadi penyebab atau akibat dari negasinya sendiri dengan ekspresi tautologi ¬(A⇔¬A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika A, maka bukan A, ekuivalen dengan tautologi, atau ¬(¬A⇔A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika bukan A, maka A, ekuivalen dengan tautologi (selama Tuhan ditetapkan sebagai penyebab bagi keberadaan manusia).

Jika ada rambut pada manusia, maka ada elemen atau zat - zat penyusun rambut manusia pada Tuhan dan jika tidak ada elemen atau zat - zat penyusun rambut manusia pada Tuhan, maka tidak ada rambut pada manusia.
Hal ini benar dan selaras dengan aksioma kausalitas bahwa segala sesuatu tidak dapat menjadi penyebab atau akibat dari negasinya sendiri dengan ekspresi tautologi ¬(A⇔¬A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika A, maka bukan A, ekuivalen dengan tautologi, atau ¬(¬A⇔A)≡1 = Bukan jika dan hanya jika bukan A, maka A, ekuivalen dengan tautologi (selama Tuhan ditetapkan sebagai penyebab bagi keberadaan manusia).

Tuhan itu bersifat tunggal dan tak terbagi - bagi dalam artian Ia "hanyalah diri-Nya sendiri"; Tuhan adalah Tuhan dan bukanlah bukan Tuhan (contoh dari Hukum Non-Kontradiksi).
Tiada Tuhan selain Tuhan itu sendiri.
Ini adalah pemahaman ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan yang saya yakini secara 100%.
Pemahaman ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan ini merupakan kebenaran mutlak dan bersifat aksiomatis (terbukti dari dirinya sendiri dan jelas dengan sendirinya), selaras dengan hukum non-kontradiksi, dan bukan sekedar spekulasi belaka.

Pemahaman ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan seperti apa yang mustahil ?
Yaitu pemahaman tentang ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan dengan pengertian bahwa Tuhan tidak memiliki bagian - bagian.
Kenapa pemahaman tentang ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan dengan pengertian bahwa Tuhan tidak memiliki bagian - bagian itu mustahil ?
Karena pemahaman tentang ketunggalan dan ketakterbagi - bagian Tuhan dengan pengertian bahwa Tuhan tidak memiliki bagian - bagian itu bertentangan dengan aksioma bahwa "segala sesuatu adalah keseluruhan dari bagian - bagiannya".

Sesuatu tidak lain adalah keseluruhan dari bagian - bagiannya dan keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu tidak lain adalah sesuatu itu sendiri.
Tak ada sesuatu tanpa keseluruhan dari bagian - bagiannya dan tak ada keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu tanpa ada sesuatu itu sendiri.
Sesuatu ekuivalen dengan keseluruhan dari bagian - bagiannya.

Bila tidak ada keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu, maka tidak ada sesuatu.
Bila tidak ada sesuatu, maka tidak ada keseluruhan dari bagian - bagian sesuatu.
Meyakini bahwa sesuatu itu ada tetapi tidak ada bagian - bagiannya, sesuatu itu ada tetapi tidak memiliki bagian - bagian, atau sesuatu itu ada tetapi tidak ada keseluruhan dari bagian - bagiannya ekuivalen dengan meyakini bahwa sesuatu itu ada sekaligus tidak ada alias kontradiksi.

Perumpamaannya itu seperti sebuah garis.
Garis itu terdiri dari banyaknya titik - titik dan garis adalah keseluruhan dari banyaknya titik - titik.
Garis tidak lain adalah keseluruhan dari banyaknya titik - titik.
Meyakini adanya garis sekaligus meyakini tidak ada banyaknya titik - titik atau keseluruhan dari banyaknya titik - titik ekuivalen dengan meyakini bahwa garis itu ada sekaligus tidak ada alias kontradiksi.

Atau perumpamaannya seperti bilangan 10.
Tak ada 10 tanpa 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 dan tak ada 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 tanpa ada 10.
10 tidak lain adalah 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 dan 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 tidak lain adalah 10.
10 ekuivalen dengan 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1.
Meyakini 10 itu ada sekaligus meyakini tidak ada 1atau tidak ada 1+1+1+1+1+1+1+1+1+1 ekuivalen dengan meyakini 10 itu ada sekaligus tidak ada alias kontradiksi.

2
Filsafat / Membedakan "Ketiadaan" dengan "Ketidakhadiran"
« pada: Pebruari 19, 2018, 06:28:50 PM »
Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 6.30 PM

Mungkin sebenarnya banyak dari kita susah membedakan antara mencipta dengan mempengaruhi.
Kutip

Menurut definisi "mencipta" dan "mempengaruhi" yang akang miliki, apa perbedaan antara "mencipta" dengan "mempengaruhi" ???? ?

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 6.35 PM
Mengubah batang kayu menjadi kursi, itu contoh mempengaruhi.
Kutip

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 6.35 PM
Itu bukan mencipta
Kutip

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 6.37 PM
Salah satu kata kunci mencipta adalah penguasaan penuh, bahkan termasuk mengadakan-meniadakan
Kutip

Penciptaan yang seperti ini merupakan sebuah kemustahilan dan bersifat kontradiktif.

Definisi dari "Penciptaan","mencipta", dan "Ciptaan" yang saya gunakan adalah :

Penciptaan = Pengadaan sesuatu dari sesuatu yang lain
Menciptakan = Mengadakan sesuatu dari sesuatu yang lain
Ciptaan = Sesuatu yang diadakan dari sesuatu yang lain

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 6.58 PM
Selain sang Pencipta hakikatnya tak dapat mencipta. Yang dapat kita berikan adalah gambaran mencipta. Dan, hakikatnya, tak sama dengan mempengaruhi.
Gambaran mudah dari mencipta adalah menghadirkan, apapun, dalam kesadaran. Pengetahuan, gambaran, pernyataan, khayalan.
Saat kita menghadirkan sesuatu dalam kesadaran maka kita menciptanya. Sifat-sifat dari apa yang kita hadirkan berada dalam kuasa kita sepenuhnya. Bahkan termasuk ada-tiadanya dalam kesadaran kita.
Kutip

Tuhan tidak menciptakan sesuatu dari ketiadaan.
Prinsip yang berlaku dalam penciptaan bukanlah Creatio Ex Nihilo.
Tetapi Creatio Ex Deo.

Bentukan - bentukan mental yang muncul di dalam pikiran kita sendiri pun tidaklah berasal dari atau tidak bertitik tolak dari ketiadaan bentukan - bentukan mental tersebut (negasi dari bentukan - bentukan mental; bukan bentukan - bentukan mental). Namun berasal dari atau bertitik tolak dari pikiran kita sendiri (keberadaan dan bukan ketiadaan).

Tegasnya, bentukan - bentukan mental yang kita ciptakan di dalam pikiran kita tidak tercipta dari ketiadaan. Tetapi tercipta dari pikiran kita sendiri; imajinasi, memori, dan sebagainya.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 7.18 PM
Saya tak menyebutkan menghadirkan sesuatu ke dalam ada. Menghadirkan sesuatu dalam kesadaran, itu yang saya maksudkan. Kita memang seringkali mampu mengadakan-meniadakan apapun ke dan dari semesta kesadaran kita.
Kutip

Bahasa sehari - sehari terkadang memang memiliki makna yang bila diselidiki secara filosofis akan tampak memiliki anomali.

Secara mendasar, analitis, dan radikal, mengadakan sesuatu dari ketiadaan atau meniadakan sesuatu dari keberadaan adalah sebuah kemustahilan dan kontradiksi.
Hukum Kontradiksi berbunyi :

"Setiap hal bukanlah bukan hal itu sendiri".

Berdasarkan hukum kontradiksi, meniadakan sesuatu dari keberadaan atau mengadakan sesuatu dari ketiadaan adalah kemustahilan.
Karena meniadakan sesuatu dari keberadaan atau mengadakan sesuatu dari ketiadaan
mensyaratkan adanya suatu transisi kontradiktif (Ada-Tidak Ada atau Tidak Ada-Ada) antara sesuatu dan bukan sesuatu itu sendiri.
Atau dengan kata lain terdapat suatu titik dimana sesuatu dan negasi dari sesuatu tersebut dapat "bersatu" atau "bertemu" sedemikian rupa hingga sesuatu tersebut dapat dari Ada menjadi Tidak Ada atau dari Tidak Ada menjadi Ada.
Hal ini adalah sebuah kontradiksi yang amat nyata.

Padahal jika sesuatu bukanlah bukan dirinya sendiri, maka mustahil sesuatu tersebut dapat menjadi bukan dirinya sendiri dimana pun atau kapan pun; waktu atau tempat tidak dapat menjadikan sesuatu menjadi bukan sesuatu itu sendiri atau menjadikan bukan sesuatu menjadi sesuatu itu sendiri.

Apa yang dalam bahasa sehari - hari disebut sebagai "meniadakan sesuatu dari keberadaannya" sebenarnya bukanlah meniadakan sesuatu dari keberadaannya dalam arti yang sesungguhnya dan apa yang dalam bahasa sehari - hari disebut sebagai "mengadakan sesuatu dari ketiadaan" bukanlah mengadakan sesuatu dari ketiadaannya dalam arti yang sesungguhnya.
Frasa - frasa tersebut atau berbagai frasa yang semacam dengan frasa - frasa tersebut digunakan dalam kehidupan sehari - hari demi kepentingan praktis.

Kutip dari: Saban Subiadi 14-02-2018, 7.52 PM
Tapi anda mungkinlupa menambahkan "pada semesta tertentu". Sesuatu yang tiada dari sebuah semesta dapat diadakan pada semesta itu. Dan ia bisa kembali ditiadakan dari semesta yang sama.
Kutip

Tiadanya sesuatu pada suatu titik tetapi ada pada titik lain bukanlah ketiadaan sesuatu itu sendiri.
Hal tersebut hanyalah ketidakhadiran sesuatu pada titik yang dimaksud.

Kita hanya dapat menghadirkan bentukan - bentukan mental di dalam pikiran kita dari tempat asalnya pada titik tertentu di dalam pikiran kita sendiri atau "mengendapkan" bentukan - bentukan mental tersebut dari munculnya mereka di dalam pikiran kita.
Tetapi kita tidak dapat menciptakan bentukan - bentukan mental tersebut dari ketiadaannya atau meniadakan bentukan - bentukan mental tersebut dari keberadaannya.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 8.09 PM
Katakan A berpindah dari posisi 1 ke posisi 2. A pada posisi 1 tadinya ada, kemudian tiada. A pada posisi 2 tadinya tiada menjadi ada. Adanya A1 kemudian tiada, tiadanya A2 kemudian ada, itu hakiki, bukan gambaran mental semata.
Kutip

Entitas X berpindah dari Titik A ke titik B.
Perpindahan X dari titik A ke titik B itu hanyalah perpindahan X dari satu titik ke titik lain, kehadiran X di satu titik dan ketidakhadiran X di titik lain, dan bukan kemunculan X dari ketiadaan X (bukan X) atau ketiadaan X dari keberadaan X. Dan ini memang bukan gambaran mental semata.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 8.30 PM
Saya menyampaikan A1 dan A2 sebagai ada dan tiada, bukan A.
Kutip

Saya menyampaikan perpindahan entitas X dari titik A ke titik B dan tidak menyampaikan A1 dan A2 sebagai ada dan tiada.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 8.33 PM
Dalam bahasa anda XA dan XB, bukan X.
Kutip

XA dan XB, bukan X, bukan dalam bahasa saya.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 8.38 PM
X dengan posisi titik A tadinya ada jadi tiada, X dengan posisi titik B tadinya tiada jadi ada. Itu maksudnya????
Kutip

Bukan.
X berpindah dari titik A ke titik B dan bukan berpindah dari bukan X ke X, X ada dari tidak adanya X (bukan X), atau X tidak ada dari adanya X.
Ini maksudnya.

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 8.51 PM
Berkali2 coba saya jelaskan, tapi tampaknya anda blum dapet...
Kutip

Tampak belum "dapet" belum tentu benar - benar tidak "dapet".
Apakah anda sudah paham dengan maksud saya setelah berkali - kali saya jelaskan kepada anda dengan segenap penjelasan saya atas persoalan ini ?

Kutip dari: Saban Subiadi, 14-02-2018, 9.20 PM
Percobaan terakhir. Asumsikan saja bahwa A ada, posisi 1 ada, posisi 2 ada. Namun perpaduan antara A dengan posisi 1, atau A dengan posisi 2, berubah dari ada ke tiada dan sebaliknya. ????
Kutip

Tidak beradanya A di titik 1 tetapi A berada di titik 2 atau tidak beradanya A pada titik 2 tetapi A berada pada titik 1 bukanlah perubahan atau kontradiksi dari "adanya A" ke "tidak adanya A" atau perubahan dari "tidak adanya A" ke "adanya A".
A tetap ada namun hanya berada di titik 1 atau titik 2.

3
Filsafat / Re:Realitas
« pada: Pebruari 14, 2018, 04:07:57 PM »
        la maujuda illa Allah
(Tiada yang eksis kecuali Allah).

Tidak ada saya dan Kang Asep tetapi yang ada hanyalah Allah.
Sirnalah saya dan akang, maka hanya Allah yang ada.

Bagai sirnanya es yang melebur menjadi air.
Es adalah aktualisasi dari air dan kepada airlah es kembali.
Ketika es mencair hanya airlah yang ada.

Kita adalah bayangan dan aktualisasi dari potensi-Nya yang Maha Ada dan Maha Kaya.
Inalillahi Wa Inailahi Roji'un; Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nyalah kita kembali.
Aktualisasi akan kembali pada potensinya.
Saat kita melebur di dalam-Nya, hanya dialah yang ada.
Saat setetes air melebur ke dalam samudera nan luas, hanya samuderalah yang ada.

Ini adalah kalimat - kalimat hikmat yang saya turunkan dari alam hakikat lalu saya tuangkan ke dalam seposting komentar ini.


Mohon maaf kang Asep kalau kata - kata saya sedikit ngaco.
Saya terpaksa harus mengeluarkan kata - kata ini disini karena kata - kata ini terus memberontak dari alam pikiran saya untuk keluar dan menunjukan eksistensinya.

4
Filsafat / Tidak Dapat Terlepas Dari Kesadaran
« pada: Pebruari 14, 2018, 03:33:34 PM »
Pengamat tidak dapat terlepas dari kesadarannya.
Pada titik mana pun pengamat berada atau sejauhmana pun pengamat berada, ia selalu bersama - sama dengan kesadarannya.
Semua objek atau pengetahuan yang diamati atau diketahui oleh pengamat, tidak dapat terlepas dari pengamatan atau kesadaran.
Artinya dimana pun suatu objek atau pengetahuan itu diamati atau diketahui, pengamatan atau kesadaran selalu melandasi pengetahuan atau objek tersebut.
Objek atau pengetahuan apa pun yang kita amati atau kita cerap berada dalam batasan pengamatan atau kesadaran kita.

Kita tidak dapat keluar dari batasan dan sistem kesadaran kita.
Dimana pun kita berada atau sejauh mana pun kita berada, kita selalu berada di dalam batasan atau sistem kesadaran kita.

Keluarnya kita dari batasan dan sistem kesadaran kita sendiri adalah hal yang mustahil.
Sebab kita tidak dapat terpisah dari diri kita sendiri atau kita selalu bersama - sama dengan diri kita sendiri.

Hukum identitas berbunyi :
"Setiap hal adalah hal itu sendiri".
Berdasarkan hukum identitas, kita adalah diri kita sendiri dan mustahil kita bukanlah diri kita sendiri.
Dalam segi apa pun kita adalah diri kita sendiri dan mustahil kita memiliki suatu elemen dalam diri kita yang bukan diri kita sendiri atau niscaya elemen tersebut adalah diri kita sendiri dan mustahil elemen tersebut bukanlah diri kita sendiri.

Keluar dari diri sendiri mensyaratkan keterpisahan antara diri kita dengan diri kita sendiri.
Ini adalah sebuah kemustahilan karena hal ini bertentangan dengan hukum identitas.
Apabila kita dapat keluar dari diri kita sendiri, maka kita bukanlah diri kita  sendiri.
Tetapi karena kita adalah diri kita sendiri, maka kita tidak dapat keluar dari diri kita sendiri.

Kesadaran kita adalah bagian dari diri kita.
Kesadaran kita tidak dapat terpisah dari diri kita namun senantiasa bersama - sama dengan diri kita.
Dimana pun kita berada atau sejauh mana pun kita berada kesadaran kita selalu bersama - sama dengan diri kita.

Kita hanya dapat mengetahui sejauh yang dapat kita ketahui dan kita hanya mengetahui sejauh yang kita ketahui. Kita hanya tidak mengetahui sejauh yang tidak kita ketahui.
Kita tidak dapat mengetahui hal apa pun yang tidak dapat kita ketahui dan kita tidak dapat mengetahui hal apa pun yang tidak kita ketahui.

Bila kita mengetahui suatu hal, maka kita tahu akan hal tersebut dan jika kita tidak tahu akan hal tersebut, maka kita tidak mengetahui suatu hal.
Jika kita tidak mengetahui suatu hal, maka kita tidak tahu akan hal tersebut dan bila kita tahu akan hal tersebut, maka kita mengetahui suatu hal.
Mustahil kita mengetahui suatu hal tetapi kita tidak tahu akan hal tersebut dan mustahil kita tidak mengetahui suatu hal tetapi kita tahu akan hal tersebut.

Kita hidup di dunia kesadaran kita masing - masing.
Masing - masing orang hidup di dunia kesadarannya sendiri - sendiri.
Kita tidak dapat terpisah atau keluar dari dunia kesadaran kita sendiri dan kita senantiasa berada dalam dunia kesadaran kita sendiri.
Menyelami kehidupan kita masing - masing, artinya menyelami dunia kesadaran kita masing - masing.

5
Sentuhan Hati / Nasehat Dari Diri Sendiri dan Untuk Diri Sendiri
« pada: Pebruari 13, 2018, 01:43:44 AM »
Jangan hanya berbuat baik pada diri sendiri saja. Tetapi berbuat baiklah terhadap sesama makhluk Tuhan.

Tidak cukup hanya dengan membebaskan diri sendiri dari kemelekatan.
Tidak cukup hanya dengan menjaga kesucian diri sendiri.
Tidak cukup hanya dengan membijaksanakan diri sendiri.
Ketiga hal tersebut hanyalah kebaikan yang berlaku untuk dirimu sendiri saja.

Jika kau ingin bermanunggal dengan-Nya, maka kasihilah musuh - musuhmu dan berbuat baiklah terhadap pembencimu.
Bila kamu hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu apalagi hanya mengasihi dirimu sendiri saja, lalu apa hebatnya dirimu ?
Bukankah orang - orang yang berdosa pun juga berlaku demikian ?

Tetapi jadilah sempurna seperti Ia yang ada di sorga; yang menurunkan hujan untuk orang yang berdosa kepada-Nya dan juga orang yang tidak berdosa kepada-Nya serta memberi bumi untuk orang yang berdosa kepada-Nya dan juga untuk orang yang tidak berdosa kepada-Nya.

6
Proposisi / Kontraposisi
« pada: Pebruari 07, 2018, 10:44:44 PM »
• (A ↔️ B) → (~A ↔️ ~B)≡1

• (A ⊕ B) → (~A ⊕ ~B)≡1

• (A → B) → (~B → ~A)≡1

• (A ← B) → (~A → ~B)≡1

• (A↛B) → (~B ↛ ~A)≡1

• (A↚B) → (~B ↚ ~A)≡1

7
Proposisi / Implikasi Yang Inkonsisten
« pada: Pebruari 07, 2018, 10:38:36 PM »
1. P → ~P≡~P
2. ~P → P≡P

2 prinsip dari kedua implikasi di atas :

• Penegasan pengantar menghasilkan negasi dari pengantar
• Negasi dari penggiring menghasilkan pengantar

Hukum implikasi kedua; Negasi dari penggiring menegasikan pengantar, tidak berlaku bagi kedua implikasi tersebut; negasi dari penggiring tidak menegasikan pengantar.
Sebab khusus untuk kedua implikasi tersebut, negasi dari penggiringnya justru menegaskan pengantarnya.

8
Definisi / Relativism Paradox
« pada: Pebruari 07, 2018, 10:28:05 PM »
Definisi : Paradoks yang berupa penyangkalan terhadap bentuk - bentuk absolutisme.

Contoh - contoh :

"Tidak ada hal yang pasti"

Jika tidak ada hal yang pasti, maka ketidakpastian itu sendiri tidak pasti.
Jika ketidakpastian itu sendiri itu pasti, maka ada hal yang pasti.

"Tidak ada yang kekal"

Jika tidak ada yang kekal, maka ketidakkekalan itu sendiri tidak kekal.
Jika ketidakkekalan itu sendiri kekal, maka ada hal yang kekal.

"Tidak ada yang mutlak"

Jika tidak ada yang mutlak, maka ketidakmutlakan itu sendiri tidak mutlak.
Jika ketidakmutlakan itu sendiri mutlak, maka ada yang mutlak.

"Segalanya bersifat relatif"

Jika segalanya bersifat relatif, maka relativitas itu sendiri bersifat relatif.
Jika relativitas itu sendiri tidak bersifat relatif, maka segalanya tidak bersifat relatif.

9
Proposisi / Penyederhanaan Xor (⊕)
« pada: Pebruari 07, 2018, 10:13:11 PM »
Operasi penyederhanaan terhadap A⊕B dengan menggunakan Hukum De Morgan dan Hukum Negasi Ganda :

•A⊕B

¬(¬A v ¬¬B) v ¬(¬B v ¬¬A)

¬[(¬A v ¬¬B) ^ (¬B v ¬¬A)]

¬(A ^ ¬B) v ¬(B ^ ¬A)

¬[(A ^ ¬B) ^ (B ^ ¬A)]

¬(¬A v B) v ¬(¬B v A)

¬[(¬A v B) ^ ( ¬B v A)]

¬¬(A ^ ¬B) v ¬¬(B ^ ¬A)

¬[¬(A ^ ¬B) ^ ¬(B ^ ¬A)]

(¬A v ¬B) ^ (¬¬A v ¬¬B)

¬[¬(¬A v ¬B) v ¬(¬¬A v ¬¬B)]

(¬A v ¬B) ^ (A v B)

(¬A ^ B) v (¬B ^ A)

10
Proposisi / De Morgan's Law
« pada: Pebruari 07, 2018, 10:08:22 PM »
● De Morgan's Law of ¬A v B and A ^ ¬B

• ¬A v B≡¬(A ^ ¬B)
• A ^ ¬B≡¬(¬A v B)

● De Morgan's Law of A ^ B and ¬A v ¬B

• A ^ B≡¬(¬A v ¬B)
• ¬A v ¬B≡¬(A ^ B)

● De Morgan's Law of ¬A ^ ¬B and A v B

• ¬A ^ ¬B≡¬(A v B)
• A v B≡¬(¬A ^ ¬B)

11
Proposisi / Re:Problem Konversi
« pada: Januari 03, 2018, 02:15:28 AM »
Konversi hukum kausalitas ilmiah ke dalam bahasa logika :

C = A adalah sebab bagi B
-C = A bukanlah sebab bagi B

• ((A → B)↑(-A → -B)) → -C
• ((A → B)^(-A → -B)) → C

Konversi ke dalam bahasa sehari - hari :

• Jika bukan ((jika A maka B) dan (jika bukan A maka bukan B)), maka A bukan sebab bagi B
• Jika (jika A maka B) dan (jika bukan A maka bukan B), maka A adalah sebab bagi B

12
Renungan / Re:Haram Merasa Salah
« pada: Januari 03, 2018, 02:12:51 AM »
Perbudakan yang dibungkus dengan baju "membela kebenaran" tentunya bukanlah pembela kebenaran.
Di dalam term "pembela kebenaran" terdapat kalimat "kebenaran"; suatu hal yang sudah pasti bernilai benar.
Bila dirangkaikan dengan kalimat "pembela", maka hasilnya adalah "pembela suatu hal yang sudah pasti bernilai benar.
Seseorang baru dapat disebut pembela kebenaran jika ia membela suatu hal yang sudah pasti bernilai benar atau sudah dipastikan kebenarannya.
Bila seseorang membela suatu hal yang belum jelas kebenarannya atau bahkan membela suatu hal yang hakikatnya bernilai salah, maka dapatkah ia disebut sebagai pembela kebenaran ?
Tidak tentunya.

Jika kita ingin menjadi pembela kebenaran, maka sebelumnya kita harus menganalisa dan mengkritik pendapat - pendapat kita sendiri terlebih dahulu dengan berbagai pendekatan; "apakah pendapat - pendapat ini sudah benar berdasarkan parameter kebenaran yang telah ditetapkan ?"
"Apakah pendapat - pendapat ini sudah logis; selaras dengan kaidah dan hukum - hukum logika ?"
Bila jawabannya adalah "Ya", maka pendapat - pendapat kita yang bersangkutan sudah siap, layak, wajar, dan patut atau pantas untuk dibela.
Bila jawabannya adalah "Tidak", maka pendapat - pendapat kita yang bersangkutan tidak layak dan patut atau pantas untuk dibela.

Misalnya kita telah berpegang pada satu aksioma yang kebenarannya bersifat mutlak atau niscaya dan "gamblang" atau "jelas" dengan sendirinya bagi akal kita yaitu hukum non-kontradiksi (salah satu hukum logika formal);
"Setiap hal adalah hal itu sendiri dan bukanlah bukan hal itu sendiri"
Atau dengan ungkapan lain :
"Setiap hal itu sama dengan dirinya sendiri dan pasti memiliki perbedaan dengan sesuatu yang selain dari dirinya sendiri".
Kita akan pantas dan layak untuk disebut sebagai pembela kebenaran jika kita berpegang teguh pada aksioma ini dan menepis berbagai sanggahan keliru yang mencoba untuk membantah aksioma ini.

Berdasarkan pemaparan ini, saya lebih berkenan untuk menyebut kritikan tersebut sebagai "Kritikan terhadap perbudakan yang dibungkus dengan baju "membela kebenaran"" daripada menyebutnya sebagai "kritik terhadap pembela kebenaran" meskipun ini hanyalah masalah perbedaan penyebutan dan rasa perkenan atau tidak perkenan terhadap penyebutan yang digunakan bila masih berada dalam "satu makna".
Namun dalam sudut pandang yang lebih luas persoalan ini berada dalam "wilayah kewenangan definisi".

13
Kupas Logika / Re:Kesatuan Wujud Makhluk dengan Khalik
« pada: Januari 02, 2018, 06:42:14 PM »
Sebagian filosof meyakini bahwa tiada wujud selain Tuhan. Dengan kata lain, segala sesuatu selain itu sebenarnya tidak ada, kecuali ilusi belaka.

Kutipan [1]:
==========================================
Sebagian filosof mengatakan bahwa sujud hanya berlaku bagi Tuhan, sedangkan selainnya bukanlah wujud.

==========================================

Tetapi Mulla Shadra menyangkalnya[2] :
============================================
Menanggapi hal ini, Shadra memberikan sebuah jawaban, oleh karena “wujud” merupakan realitas satu-satunya yang real, maka negasi dari wujud itu sendiri adalah tidak ada (not being). Oleh sebab itu, bila segala sesuatu selain Tuhan itu bukanlah wujud, maka sudah tentu segala sesuatu itu tidak mungkin ada. Jelaslah ini sebuah kontradiksi yang nyata.
============================================

Dengan demikian, Shadra menyatakan bahwa sesuatu selain Tuhan adalah juga wujud, berarti makhluk itu wujud. Sedangkan Shadra telah menyakinib ahwa wujud adalah realiatas tunggal.

Realitas wujud adalah satu-satunya yang tunggal .[3]

Tuhan adalah wujud
Makhluk adalah wujud

Apakah dapat disimpulkan bahwa makhluk adalah Tuhan atau Tuhan adalah makhluk? Tentu tidak. Karena penyimpulan seperti itu melanggah hukum logika dasaryang ketiga, dimana midlte term seharusnya bersifat universal, setidak-tidaknya dalam salah satu premis. Atau, apakah Tuhan dan Makhluk merupakan satu kesatuan wujud? Secara logika hal ini mustahil. Siapakah yang dapat menjelaskan pertentangan dalam filsafat Mulla Shadra ini?
 1. M. Said, Mulla Shadra,  hal. 35
 2. M. Said Marsaoly, Mulla Shadra,  hal. 35
 3. Mulla Shadra,  hal. 34

• Tuhan adalah Wujud
• Makhluk adalah Wujud

Tuhan adalah Wujud dan makhluk adalah Wujud = Tuhan dan makhluk adalah Wujud.

Wujud = Ada sehingga selain dari wujud/ada adalah "bukan ada" atau "tidak ada"; negasi dari wujud/ada.


1. A : Setiap ada adalah ada
2. E : Setiap ada bukanlah tidak ada (ketiadaan)
3. A :  Setiap yang tidak ada adalah yang tidak ada
4. E : Setiap yang tidak ada bukanlah ada

Keempat proposisi di atas adalah kebenaran aksiomatis; mustahil terdapat pertentangan atau kontradiksi di dalamnya dan keempat proposisi di atas juga merupakan turunan dan perpanjangan dari 4 hukum atau aksioma logika formal; hukum identitas, hukum kontradiksi, hukum non-kontradiksi, dan hukum tiada jalan tengah.
Selama "ketunggalan wujud" atau suatu gagasan bahwa "wujud adalah realitas tunggal atau wujud adalah "satu - satunya yang ada"" yang berasal dari Mulla Sadra dipahami berdasarkan keempat proposisi di atas, maka konsep Mulla Sadra yang bersangkutan niscaya benar dan mustahil salah serta mustahil pula berkontradiksi atau bertentangan.
Sebab postulat - postulat aksiomatis bersifat niscaya benar dan mustahil salah serta mustahil berkontradiksi atau bertentangan.
Tegasnya, jika konsep Mulla Sadra yang bersangkutan ditafsirkan menurut pengertian saya di atas, maka tidak ada pertentangan atau kontradiksi di dalamnya. Dan jika konsep Mulla Sadra yang bersangkutan tidak ditafsirkan menurut pengertian saya di atas, maka bisa jadi terdapat kontradiksi atau pertentangan di dalamnya dan bisa juga tidak.

Apakah Tuhan = Makhluk dan Makhluk = Tuhan ?
Tentu saja "tidak" berdasarkan keyakinan - keyakinan yang telah kita sepakati.
Namun Tuhan dan Makhluk berada dalam satu kategori, yaitu "Ada"/Wujud :

• Tuhan itu Ada
• Makhluk itu Ada
• Tuhan itu Ada dan Makhluk itu Ada
• Tuhan dan Makhluk itu Ada

Hendak ditafsirkan seperti apa gagasan tentang "kesatuan wujud antara Tuhan dengan Makhluk" yang berasal dari Mulla Sadra ini ?
Apakah bermakna Allah = Makhluk dan Makhluk = Allah ?
Jika tafsirannya seperti demikian, maka tentu saja hal ini adalah sebuah kekeliruan dan kemustahilan berdasarkan keyakinan - keyakinan yang telah kita sepakati.
Apakah bermakna Allah dan makhluk berada dalam satu kategori yaitu "Ada" atau dengan ungkapan lain Allah dan Makhluk itu sama - sama Ada ?
Jika tafsirannya seperti demikian, maka hal ini bernilai benar sesuai dengan keyakinan - keyakinan yang kita sepakati. Tidak ada kekeliruan logis dan pertentangan atau kontradiksi di dalamnya.

Dengan demikian keliru atau tidaknya dan bertentangan atau berkontradiksi atau tidaknya gagasan tentang "kesatuan wujud antara Tuhan dengan Makhluk" dari Mulla Sadra tersebut bergantung pada interpretasi - interpretasinya.

14
Komentari Gambar / Re:Letto - Permintaan Hati (Time Traveller)
« pada: Januari 02, 2018, 02:57:36 AM »
Apakah dunia itu paralel tapi kesadaran cuma ada 1? Artinya, walaupun terdapat "saya yang lain" pada dunia paralel yang jamak, namun hanya ada 1 pengalaman yang dapat disadari?

Kesadaran hanya dapat berpijak pada "saat ini".
Sejauh mana pun kesadaran berpijak tetaplah berada dalam batasan "saat ini".
Kesadaran tidak dapat berada di luar saat ini sebab hal apa pun yang berada di luar batasan "saat ini" bukanlah apa yang tengah kita persepsi. Sementara kesadaran tidak dapat menyadari hal - hal yang tak tersadari (di luar saat ini).
Menyadari hal - hal yang tak tersadari adalah sebuah kemustahilan karena hal tersebut adalah kontradiksi :

A = Menyadari
-A = Tidak menyadari

• A ^ -A = Menyadari dan tidak menyadari = kontradiksi : absurditas

Bila ada seseorang yang dapat kembali ke masa lalu sehingga seluruh kesadarannya berpijak pada masa lalu, sesungguhnya apa yang dianggap oleh pengamat lain sebagai masa lalu sebenarnya adalah masa kini bagi dirinya. Sebab dimana pun kesadaran kita berpijak, di situ adalah masa kini bagi kita.
Dengan demikian masa lalu, masa kini, dan masa depan hanyalah konsep dan berada dalam batasan persepsi.
Sesuatu disebut sebagai masa lalu atau masa depan, karena kesadaran kita tidak sedang berpijak pada ruang lingkup masa lalu atau masa depan.
Sedangkan sesuatu disebut masa kini, karena kesadaran kita berpijak pada objek - objek yang tengah kita persepsi.

Secara umum waktu terasa berjalan secara linier; dari masa lalu kemudian bergerak secara lurus ke depan secara kontinu.
Padahal, hakikatnya hanyalah lompatan kesadaran dari satu kuanta ke kuanta lain dan dari satu frame ke frame lain.
Tiap - tiap kesadaran berpijak pada satu kuanta. Atau dengan kata lain "satu kesadaran untuk satu waktu" atau "rangkaian waktu yang terdiri dari satu masa kini".


15
Kupas Logika / Re:Menurut Ilmuwan
« pada: Januari 02, 2018, 02:26:46 AM »
 
Benarkah itu merupakan ad Judiciam bagi ilmuwan yang menggeluti dunia astronomi?

Benar.

Kutip
Kira-kira observasi semacam apa yang dilakukan ilmuwan tsb sehingga bisa menjadi ad Judiciam baginya?

Entahlah. Yang pasti Hukum Gravitasi Universal Newton menjadi argumentum Ad Judiciam bagi Sir Isaac Newton karena rumus hukumnya :

F=G∙m1m2r2

Hukum Gravitasi Universal Newton

Kutip
Teori disusun dengan metode induksi, meneliti sebagian kasus untuk digeneralisasi pada kasus-kasus lainnya. Apakah tehnik semacam ini pantas disebut ad Judiciam?
Sudah dijawab oleh Kang Asep.

Halaman: [1] 2 3 ... 14

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan