Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Kang Asep

Halaman: [1] 2 3 ... 627
1
Pelajaran Bahasa / Re:Sarkasme
« pada: November 18, 2017, 06:27:51 PM »
Kutip : [1]
--------------
Kata "Sarkasme" berasal dari bahasa Yunani sarkasmos yang diturunkan dari kata kerja "sakasein" yang berarti "merobek-robek daging seperti anjing", "menggigit bibir karena marah" atau "bicara dengan kepahitan".

Bila dibandingkan dengan ironi dan sinisme, maka sarkasme in lebih kasar. Sarkasme adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan menyakiti hati. Ciri utama gaya bahasa Sarkasme ialah selalu mengandung kepahitan dan celaan yang getir, menyakiti hati dan kurang enak di dengar.
=========

Contoh 1:
setiap menjelang pemilu, janji-janjimu selalu manis. Bicaramua tentang kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan bagi rakyat. Sudah sepuluh tahun lamanya,  tapi aku masih saja dengan celana compang-camping, mengais botol-botol plastik bekas di tempat sampah.

Contoh 2:
Bila bicara, mulutmu hingga berusa-busa, tapi hampa dari makna.

Contoh 3 :
Dasar lelaki gombal, mudah sekali mengubar rayuan, tebar-tebar pesona, kejar-kejar gadis sampai dapat. Lalu habis manis, sepah dibuang.

Contoh 4 :
Hati-hati ! Bukan hanya rokok yang menyebabkan Anda terkenaserangan jantung, panggilan KPK juga dapat membuat Anda dilarikan ke rumah sakit.

Silahkan Anda membuat contoh sarkasme lainnya !


________
1) Prof. Dr. H. Guntur Tarigan, "Pengajaran Gaya Bahasa", Hal. 92

2
Komentari Gambar / Re:Seni Menulis Saya
« pada: November 18, 2017, 03:03:54 PM »
lihat petunjuknya di sini => Pengaturan Gambar

3
Komentari Gambar / Re:Seni Menulis Saya
« pada: November 18, 2017, 05:35:11 AM »
gambanya kecil. sebenarnya dapat ditampilkan lebih besar, seperti berikut :




4
Meditasi / Untuk Mengatasi Kesedihan
« pada: November 18, 2017, 05:31:43 AM »
Seorang pria, kira-kira berumu 50 tahunan, dia berkata, "Kang Asep, dapatkah kang Asep melihat dengan mata batin, apa dosa dan kesalahan saya kiranya, sehingga hidup saya selalu dalam kesulitan dan banyak mendapat musibah ?"

"Saya tidak dapat melihatnya," jawab saya."Tetapi kesulitan merupakan tanda dari seorang pejuang. Setiap orang yang berjuang, maka dia menghadapi kesulitan. Jika Anda berhenti memperjuangkan sesuatu, maka Anda tidak menghadapi kesulitan apapun. Saya, sama seperti halnya Anda juga menghadapi banyak kesuiltan dan tidak jarang mendapat musibah. Jika itu hukuman atas dosa-dosa saya di masa lalu, maka saya menerimanya. Karena tidak ada gunanya untuk sekedar menangis dan menyesalinya. Yang harus dilakukan sekarang adalah melakukan apa yang terbaik dari apa yang dapat kita lakukan."

Dia berkata, "Bagaimana saya akan dapat menerima keadaan ini ? Kenyataannya saya selalu sedih dengan kondisi yang saya alami ini ?"

"Setiap waktu yang kita lalui, harus selalu diisi dengan kebajikan, dengan bersemangat terus melakukan kebajikan demi kebajikan, jangan lalai ! Sibukanlah diri Anda dengan melakukan kebaikan, sehingga tertutup kesempatan untuk berbuat maksiat.  Karena maksiat itulah yang menyebabkan kesedihan di dalam hati kita. Karena dosa dan kesalahan kita sendiri, maka kesadaran kita menyentuh hal-hal yang menyakitkan. Lalu kita diingatkan kepada bayangan-bayangan yang menyedihkan dalam hidup. Tetapi, apabila kita melakukan banyak perbuatan yang bajik, maka kesadaran kita akan disentuh oleh hal-hal yang menyenangkan, sehingga hidup kita bergembira. Maa muiibatkum fabimaa kasabat aidiikum. Musibah yang menimpa adalah karena perbuatan kita sendiri. Kita adalah pewaris dari perbuatan kita, menanggung apa yang sudah kita lakukan, dan kita harus menuai apa yang kita tabur. Tidak ada hal yang dapat dilakukan untuk apa yang sudah kita lakukan di masa lalu, karena waktu tidak mungkin diputar kembali. Tapi ada yang dapat kita lakukan saat ini, yaitu untuk tidak menambah dosa dan kesalahan, memulai kembali pertobatan dan melanjutkan usaha untuk berbuat baik. Itu saja."

"Dengan apa yang disampaikan tersebut, saya cukup termotivasi, "kata dia, "Tapi terus terang, saya masih belum bisa mengatasi perasaan sedih saya. Bagaimana caranya agar saya dapat mengatasi rasa sedih ini dan menjadi gembira dalam hidup ?"

saya menjawab, "tidak seorangpun dapat menuangkan air kebahagiaan ke dalam diri anda. Rasa kebahagiaan juga tidak bisa ditransfer seperti uang di ATM. Kesedihan Anda berkurang, karena Anda gembira memahami kebenaran yang baru, pencerahan baru dari suatu diskusi. Tetapi, bila itu tidak cukup menggembirakan Anda, maka Anda harus mulai bangkit dari duduk dan mulai mengerjakan sesuatu yang berguna."

Pria itu terdiam sejenak, lalu berkata, "Itulah masalahnya, saya seorang pria pengangguran. Di usia saya seperti ini, saya memiliki banyak tanggungan. Dan sekarang saya tidak tahu apa yang harus saya kerjakan. Sudah saya coba untuk mencari pekerjaan, tapi untuk pria seusia saya, itu tidak mudah."

"Sesuatu yang berguna, tidak selalu berarti pekerjaan dengan nilai rupiah. Anda shalat, dzikir atau sekdar membantu-bantu istri mengerjakan sesuatu di rumah, itu juga merupakan kebaikan yang berguna." demikian saya menjelaskan.

Pria itu termenung dan berkata, "Saya dapat melakukan kebaikan-kebaikan seperti itu, seperti misalnya menyapu jalan, membersihkannya dari sampah. Itu juga kebaikan. Tapi apa gunanya melakukan kebaikan-kebaikan seperti itu, apbila tidak menghasilkan rupiah ?"

saya jawab,"Bila hal itu dapat membantu Anda bebas dari kesedihan, maka itu berguna. Ketenangan itu memang tidak berguna, bila tidak menghasilkan apapun. Tapi bila ketenangan itu dapat mencegah anda dari melakukan perbuatan jahat dan memberi Anda suatu kekuatan untuk bekerja, maka itu berguna."

"Mana yang harus saya lakukan, menenangkan diri dulu lalu mencari bekerja. Atau mencari kerja dulu lalu menenangkan diri ?" tanya dia lagi.

Saya katakan, "Mencari kerja dulu ! Jika Anda dapat mencari kerja dulu, maka carilah kerja dulu. Ketenangan dapat diperoleh karena Anda berbuat sesuatu. Tapi jika kekuatan semangat untuk mencari kerja itu menjadi lemah, sehingga Anda terhambat untuk melakukannya, maka tenangkan dulu diri Anda. Setelah memilki kekuatan untuk berbuat kebajikan, maka berbuatlah !"

"Bagaimana caranya menenangkan diri agar saya dapat berbuat kebajikan ?" tampaknya pria sangat mengharapkan pencerahan.

Saya masih sabar menjawab pertanyaan-pertanyaannya, "tariklah nafas pelan-pelan ! Tahan nafas beberapa detik, lalu hembuskan pelan-pelan ! Lalu silahkan rasakan perubahan yang terjadi pada perasaan Anda, apakah menjadi lebih buruk ataukah menjadi lebih baik !"

"Baik saya coba praktekan dulu.." hening beberapa detik. Saya memberi kesempatan padanya untuk praktik.

"Luar biasa ... perasaan saya merasa lebih baik. "pria itu tersenyum, "Kok bisa ya, hanya dengan cara seperti itu, membuat perasaan saya menjadi lebih baik ?"

saya jelaskan, "tidak terjadi pada semua orang. Anda lebih cepat memperoleh ketenangan dari yang lain dengan cara memusatkan perhatianhanya pada satu tarikan dan hembusan nafas, itu bukan hanya karena tarikan dan hembusan nafasnya saja, tapi karena kebaikan yang telah Anda lakukan sebelumnya."

"Sebenarnya, apa kebaikan saya itu ?" tanya pria itu penasaran.

"Saya tidak mengetahuinya. Tapi pasti Anda memiliki kebaikan, sehingga kekuatan kebaikan itu mendorong Anda mencari pencerahan. Lalu Anda berjumpa dengan saya dan bertanya. Seandainya Anda tidak memiliki cukup kebaikan, maka walaupun puluhan tahun anda bergaul dengan saya, Anda tidak akan pernah tertarik untuk bertanya, dan tiada jalan bagi saya untuk membantu Anda. Ilmu adalah hak nya orang yang bertanya. Walaupun saya ingin menuangkan air pencerahan kepada karib kerabat saya sendiri, tapi bila mereka tidak bertanya, tidak menginginkannya, maka saya seperti menuangkan air ke gelas yang terbalik. Air nya hanya akan tumpah sia-sia." Demikianlah akhir pembicaraan kami.

5
Meditasi / Bukan Untuk Menjadi Kaya atau Miskin
« pada: November 18, 2017, 03:31:03 AM »
Di salah satu forum ahteis, saya pernah diskusi soal manfaat meditasi untuk ketenangan. Salah seorang member di sana berkata, "Ketenangan yang diperoleh dalam meditasi itu semisal sulap batin."Dia bermaksud mengatakan bahwa ketenagan tersebut bersifat menipu. Bahwa menurutnya hidup ini tidak butuh bentuk ketenangan-ketenangan seperti itu. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Indri, salah seorang teman saya, ketika kami makan malam di sebuah restoran bersama suaminya. Usai makan-makan, kami berbincang-bincang. Gunawan, suami Indri senang sekali berdiskusi tentang teori-teori meditasi. Di tengah diskusi itu, Indri berkomentar, "Saya itu heran dengan perkataan-perkataan kang Asep, membicarakan persoalan ketenangan, kegelisahan, semangat, sebegitu ribetnya. Kalau hidup saya itu gak ribet begitu. Sewaktu sekolah saya belajar dengan baik, selalu dapat rangking satu. Lulus kuliah dengan nilai  yang cukup tinggi. Lalu bekerja, menghasilkan uang, beli tanah, beli rumah, hidup happy."

saya tersenyum dan berkata, "saya turut bergembira, bila hidupmu happy. Saya hanya ingin bertanya, kamu happy karena kamu sehat dan punya cukup uang. Benar ?"

"Benar." Jawab Indri.

"Dan saya adalah orang yang happy hanya karena dapat bernafas". Kata saya.

"Maksudnya ... ?" Indri mengerutkan dahi.

"Kamu butuh uang untuk membuat hidupmu happy. Dan saya hanya butuh bernafas." kata saya.

"Memangnya kalau kamu gak punya uang, kamu bisa tetap happy ?" tanya Indri.

Saya jawab, "tentu bisa, itulah hasil dari praktik meditasi."

Indri berkata lagi,"Untuk apa happy, kalau gak punya uang. Kayak orang gila, tertawa-tawa sendiri, walaupun dia gak punya uang. Orang punya uang, lalu dia happy, itu logis. Gak punya uang, tapi happy, kan kayak orang gila. Hidup itu tidak cukup hanya sekedar tenang."

"Betul... Sebagaimana hidup juga tidak cukup sekedar bergumul dengan kesedihan dan kegelisahan." balas saya.

"karena itu, supaya tidak sedih, kamu harus punya uang." kata Indri.

"Tapi saya tidak ingin kebahagiaan saya lenyap ketika saya punya uang atau ketika tak punya uang, ketika hidup maupun setelah mati, ketika sehat maupun sakit." demikian saya katakan.

Indri berkata lagi, "saya sungguh tidak mengerti jalan pikirannya kang Asep, untuk happy, kita itu harus kerja dan punya cukup uang. Lihat kami, bukan ahli meditasi seperti kang Asep, tapi kami lebih sukses dari kang Asep. Saya khawatir, jangan-jangan ketenangan-ketenangan meditasi yang kang Asep rasakan itu membuai hidup kang Asep, sehingga perekonomiannya tidak berkembang."

"Jika demikian, mengapa banyak teman dan saudara saya -dia tidk pernah terbuai dalam ketenangan-ketenangan meditasi, mereka bukan ahli meditasi seperti kamu-, tapi mereka tidak kaya seperti mu ?" tanya saya.

"Entahlah." indri mengangkat kedua bahinya sambil mencolek es krim dengan sendok.

"Itu merupakan bukti bahwa tidaklah benar Anda menjadi kaya karena tidak pernah melakukan praktik meditasi dan tidak benar saya miskin karena saya tukang meditasi." kata saya.

Setelah menyantap beberapa sendok es krim, Indri berkata,"saya hanya tidak mengerti, mengapa kita ini perlu meditasi gitu lho. Hidup kami aman, nyaman, sukses tanpa harus meditasi."

"Karena meditasi bukan suatu cara untuk menjadi aman, nyaman dan bahagia karena harta benda, bukan cara untuk menjadi gembira karena memperoleh sesuatu, tapi merupakan cara bergembira karena melepaskan sesuatu." demikian saya katakan.

"kata-kata yang menarik, tapi saya tidak dapat membayangkan bagaimana artinya. Menurut saya, apa yang sudah kami jalani selama ini sudah benar. Dan harusnya kang Asep mengikuti jejak kami. Tidak kah kang Asep ingin sukses seperti kami, kasihan sama anak dan istri, masa sampai sekarang hidup kalian masih begitu-begitu aja. Mungkin kang Asep terlalu banyak mendalami meditasi, sehingga tidak fokus untuk memikirkan hal-hal lain seperti bisnis." kata Indri.

"Jika demikian, lalu mengapa banyak ahli meditasi yang kaya raya ? Mengapa mereka tidak miskin seperti saya ?" tanya saya.

"Entahlah," jawab Indri pendek.

"itu menunjukan bahwa praktik meditasi, bukan sebab seseorang jatuh miskin." demikian kata saya.

"Lalu, mengapa kang Asep keadaannya masih begini-begini juga, setelah 10 tahun kita tidak berjumpa, padahal kami telah mengalami banyak perubhan ?" tanya Indri.

"Sebenarnya sayapun telah mengalami banyak perubahan. Tak seorangpun yang tidak mengalami perubahan. Saya merasa cukup dengan apa yang telah saya daptkan. Miskin dan kaya itu soal konsep manusia, soal sudut pandang. Saya sudah merasa kaya, lihat ini sepuluh jari saya, satu jari pun tidak akan saya jual dengan harga 1 triliun. Itu brarti, jari jemari saya lebih berharga dari harta triliunan rupiah," sejenak saya menarik nafas panjang dan menghembuskannya ke udara, "dan perhatikan, bagaimana saya bernafas dengan bebas. Semua ini sungguh menyenangkan. Udara di bumi ini adalah kekayaan yang tiada taranya. Mari kita renungi mereka yang terbaring di ruang ICU, di mana oksigen di udara ini tidak lagi memenuhi kebutuhannya, harus dibantu dengan oksigen tabung. Satu tarikan nafas, harus dibayar mahal di rumah sakit. Maka, dengan anugerah yang telah tuhan berikan kepada saya, bagaimana saya tidak merasa gembira ?"

Indri berkata, "Kalau kang Asep bisa sih seperti itu, bisa nyaman, bisa happy, hanya dengan cara berpikir seperti itu. Nah.. Trus.. Bagaimana dengan anak istrinya ? Ini mislanya aja ni, kalau kang Asep lapar, kang Asep bisa tetap bersabar dan bersyukur, tapi apa anak istrinya bisa menahan lapar ?"

segera saya menjawab, "lalu, bagaimana saya akan dapat menasihati anak dan istri saya untuk bersabar dan bersyukur, apabila diri saya sendiri tidak memiliki cukup kesabaran dan rasa syukur ? Bagaiman saya akan dapat mengajarkan anak istri saya untuk dapat menikmati nafas yang masuk dan berhembus, bila saya sendiri tidak dapat menikmatinya ? Saya hendak berjalan di jalan yang lurus dan dapat mengajak anak dan istri saya untuk mengikuti langkah kaki saya. Tetapi, bila mereka sendiri memutuskan untuk berbelok dari jalan yang saya tempuh, maka saya tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan tubuh dan jiwa orang lain. Setiap orang adalah pewaris dari perbuatannya sendiri, setiap orang bertanggung-jawab atas perilakunya, dan setiap orang akan memetik hasil dari perbuatanya."

Indri tersenyum berujar, "saya membayangkan, kalau saya jadi istrinya kang Asep, saya akan merasa kesal karena kang Asep hdupnya terlalu tenang. Gak punya apa-apa juga tenang. Kalau saya, gak bisa begitu kang. Coba aja tanya sama mas Gun, saya itu orangnya sangat rewel. Gak bisa lihat suami tenang-tenang di rumah, karena hidup itu harus kejar target. Waktu kami belum punya tanah, target saya tuh bisa beli tanah. Itu suami saya, gak mikir-mikir. Saya yang sering bawel, pikir dong... Gimana caranya biar kebeli tanah. Jangan santai-santai saja. Udah kebeli tanah, kami target beli rumah, mengembangkan bisnis dan terus begitu. Itu yang namanya hidup."

Saya tersenyum, "saya kenal kamu sejak kecil, sebagai seorang wanita yang cerdas. Kamu juga menyelesaikan kuliahmu dengan cepat. Jarang wanita cerdas seprti mu. Dan saya tidak secerdas kamu. Tidak semua orang dapat mengikuti jejakmu, seperti halnya tidak semua orang dapat mengikuti jejak saya. Kita telah menempuh jalan yang berbeda dalam hidup ini. Semoga kamu bahagia dengan jalan yang kamu tempuh, dan bila jalan yang saya tempuh adalah jalan yang salah, semoga saya mendapat kekuatan untuk melihat kesalahan itu dan memperbaikinya."

Meditasi bukanlah cara untuk menjadi kaya, bukan pula jalan untuk menjadi miskin. Meditasi memang merupakan salah satu cara untuk menangkan diri, tetapi bukan hanya mengejar ketenangan. Ketenangan hanyalah alat untuk mencapai kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan adalah hal yang penting untuk selalu dimiliki, dalam hidup sehat atau sakit, miskin ataupun kaya.

6
Filsafat / Re:Konsep vs Konsep : Prima Causa vs Non-Causa
« pada: November 17, 2017, 04:30:32 AM »
Yang namanya Kontrari, apabila salah satu proposisi bernilai benar, maka itu berarti kontradiksi. dengan kata lain, dalam kontrarari itu termuat kontradiksi. jadi, jangan mengatakan "tidak ada kontradiksi" dalam suatu kontrari, bila salah satunya bernilai benar. Kecuali bila baru diketahui salah satunya bernilai salah, tapi belum diketahui lainnya bernilai benar, atau dua-duanya tidak diketahui nilai benar-salahnya, maka tidak dapat dipastikan ada kontradiksi, juga tidak dapat dipastikan tak ada kontradiksi.

7
Budha / Todeyya
« pada: November 17, 2017, 04:12:24 AM »
SK : Tumimbal Lahir
====================
1. Lahir dan mati Berulang-ulang
2. Todeyya
====================

2. Todeyya
Edisi : 17 Nopember 2017, 04:05:14

Pada masa kehidupan Sang Buddha, hiduplah seorang brahmana bernama Todeyya. Dia sangat kaya, seorang jutawan. Namun dia tidak percaya akan kemurahan hati, akan pentingnya berdana. Todeyya selalu berkata, "jika engkau berdana, engkau akan menjadi miskin. Oleh karena itu janganlah berdana." Dia yang begitu kaya namun begitu kikir, akhirnya meninggal sebagai jutawan. Tetapi dia sangat melekat pada kekayaannya, sehingga setelah kematiannya dia terlahir kembali sebagai seekor anjing di rumahnya sendiri.

Pada suatu hari, Sang Buddha datang ke rumah tersebut. Anjing tersebut melihat Sang Buddha dan menyalak kepadanya. Sang Buddha berkata,"O, Todeyya! Ketika engkau masih hidup sebagai manusia, engkau tidak menghormati sesamamu, dan sekarang engkau kembali bersikap tidak hormat dengan menggongong kepadaku. Engkau akan terlahir kembali di alam neraka."

Anjing itu berpikir, "Oh.. Pertapa Gautama mengenaliku," Lalu anjing itu  membenamkan dirinya dlam tumpukan abu.

Sang brahmana mempunyai seorang anak laki-laki bernama Subha dan anjing tersebut -ayahnya - adalah kesayangannya. Subha memberikan tempat khusus untuk anjing tersebut, namun ketika dia melihat anjing kesayanganya membenamkan diri dalam tumpukan abu, dia menjadi tercengan. Seseorang memberi tahu bahwa pertapa Gautama telah mengatakan sesuatu yang membuat anjingnya tertekan. Oleh karena itu dia menemui Sang Buddha dan bertanya kepada Nya. Sang Buddha menceritakan apa yang terjadi.

Subha berkata pada dirinya, "Menurut ajaran para brahmana, seharusnya ayah sudah terlahir kembali sebagai brahma. Tetapi Sang Gautama mengaakan bahwa aya terlahi rkembali sebagai seekor anjing. Sang Gautama telah berbicara sembarangan."

Subha menemui Sang Buddha kembali untuk berargumentasi.  Sang Buddha bertanya apakah ada harta yang masih disembunyikan oleh ayahnya. Subha membenarkan bahwa memang ada  bahwa memang ada sejumlah besar uang yagn tidak diketahui keberadaannya. Sang Buddha memberi tahu Subha untuk memberi makan anjingnya pada malam hari dan menanyakan keberadaan harta tersebut.

Subha berpikir bahwa jika apa yang dikatakan oleh Sang Buddha benr, ia akan mendaptkan harta tersebut, dan jika tidak benar, dia bisa menuduh Sang Buddha berkata tidak benar.

Malam itu Subha memberi makan anjignya dan menanyakan tentang harta yang tersembunyi. Anjing tersebut bangkit dan membawanya ke tempat di mana harta tersebut disembunyikan. Subha menggali dan akhirnya menemukan harta tersebut.

____________
Sayadaw U. Silananda, "Kamma-Anatta", Hal. 3-5


8
Komentari Gambar / rumah tepi danau
« pada: November 17, 2017, 03:48:29 AM »
SK : Lokasi Rumah
====================
1. Rumah Di Ujung Tebing
2. Rumah Di Gunung
3. Di Atas Gunung
4. Rumah Tepi Danau
5. Rumah Di Tengah Danau
6. Rumah Tepi Kolam
7. Rumah Di Kaki Gunung
8. Di Rimbun Daun
9. Di Antara Pohon-pohon Berdaun Merah
10. Rumah Di Atas Kolam
11. Di Tepi Danau Biru

====================

4. Rumah Tepi Danau
Edisi : 03 Nopember 2017, 07:08:50



9
Politik / Pemilu
« pada: November 17, 2017, 03:41:07 AM »
SK : Pemilu
====================
1. Setelah Pemilu
1.1. Rukun Kembali
1.2. Luka Politik
1.3. Luka Yang Dalam

====================

1. Setelah Pemilu
Edisi : 17 Nopember 2017, 03:27:07



1.1. Rukun Kembali
 Edisi : 17 Nopember 2017, 03:27:22


1.2. Luka Politik
 Edisi : 02 Nopember 2017, 08:03:05


#politik

1.3. Luka Yang Dalam
 Edisi : 17 Nopember 2017, 03:32:48



10
Komentari Gambar / Ngedotin Kucing
« pada: November 16, 2017, 06:29:24 PM »

11
Budha / Lahir dan mati Berulang-ulang
« pada: November 15, 2017, 08:09:52 PM »
Sang Buddha berkata :
“ Aku mengingat kembali kehidupan-kehidupanku yang lampau, yaitu satu kelahiran, dua, tiga, empat, lima, sepuluh, dua puluh, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran….. demikianlah aku mengingat kembali kehidupan-kehidupanku yang lampau, terperinci berserta ciri-cirinya. Inilah pengetahuan sejati pertama yang kucapai pada malam jaga pertama…..”.

“ Aku melihat makhluk-makhluk mati dan lahir kembali, yang hina dan yang mulia, yang cantik dan yang buruk, yang bahagia dan yang malang. Aku melihat bagaimana makhluk-makhluk itu melanjutkan kehidupannya sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. Inilah pengetahuan sejati kedua yang kucapai pada malam jaga kedua… “.  (Majjhima Nikaya 36).

Dalam Dhammapada XI ; 153, Sang Buddha bersabda :
“Dengan melalui banyak kelahiran,
aku telah mengembara dalam samsara
(siklus kehidupan).
Terus mencari,
namun tak kutemukan pembuat rumah (Tubuh) ini,
Sungguh menyakitkan
kelahiran yang berulang-ulang ini ”.

Dari : http://tanhadi.blogspot.co.id/2009/09/tumimbal-lahir-rebirth.html

12
Kupas Logika / Dua Konteks
« pada: November 15, 2017, 08:05:42 PM »
SK : kontradiksi
====================
1. Kontradiksi atau Bukan
2. Kasus Kontradiksi
3. Tafsiran Kontradiktif
4. Hipothetical Proposisi Yang Kontradiksi
5. Kontradiksi Dengan Perbuatan
6. Kerancuan Konsep
7. Dua Konteks

Jumlah Karakter : 22.004
Kira-kira : 11 halaman A5
====================

7. Dua Konteks
Edisi : 15 Nopember 2017, 16:24:07

Fakor yang seringkali mengacaukan jalannya diskusi adalah adanya penggunaan dua konteks dalam satu topik diskusi. Penggunaan dua konteks ini mengakibatkan suatu pendapat tidak dapat dikoreksi benar-salahnya. Karena semuanya bisa menjadi benar, dan semuanya bisa menjadi salah.

Dalam dialektika logika, koreksi keyakinan dapat dilakukan dengan cara menunjukan adanya kontradiksi-kontradiksi. Kontradiksi merupakan bukti pasti akan adanya kesalahan dalam suatu pendapat. Tetapi dengan menggunakan dua konteks, maka setiap orang tidak dapat melihat adanya kontradiksi di dalam pendapatnya sendiri, tetapi sebaliknya pendapat orang lain selalu terlihat salah, karena kontradiksi dengan pendapatnya.

Penggunaan dua konteks terjadi di dalam berbagai kelompok diskusi. Dalam pengalaman saya, Contoh kasus yang sering terjadi dalam diskusi tentang "aku", apakah "aku" ini ada atau tiada. Ini diskusi tentang ajaran Buddhisme tentang Anatta. Bermula dari dua bentuk proposisi yang kontrari :

A. Aku itu ada
E. Aku tidak ada

Jika salah satu proposisi di atas bernilai benar, maka pastilah yang lainnya bernilai salah. Tapi karena dikatakan bahwa "aku" pada proposisi pertama dan kedua konteksnya berbeda, maka kedua proposisi tadi tidak lagi dianggap kontrari atau kontradiksi. Lalu, jika demikian, maka bagaimana kita dapat menemukan negasi dari sebuah proposisi ?

Setiap pendapat pasti ada negasinya. Jika benar Anda adalah laki-laki, maka pastilah keliru jika dikatakan bahwa Anda bukan laki-laki. Karena "bukan laki-laki", merupakan negasi dari "laki-laki".  Jika benar "aku itu ada", maka semestinya pernyataan "aku tidak ada" bernilai salah. Jika dikatakan keduanya bernilai benar, maka mana negasi dari proposisi "aku ada" ?

Dalam diskusi yang baik, seseorang tidak hanya dapat menunjukan mana yang benar, tapi juga dapat menunjukan negasi dari kebenaran itu, yakni pendapat yang bernilai salah. Tidak hanya dapat menunjukan mana yang salah, tetapi juga seseorang harus dapat menunjukan negasi dari kesalahan itu, yakni pendapat yang benar.

Mari kita perjelas permasalahan ini dengan kasus tentang Anatta !

Kutip : [1]
---------------
Anatta dalam bahasa pali berarti "Tiada-Aku". Sebagai konsep merupakan antipola dari kata Atta yang berati "Aku". Dalam falsafah buddhis Anatta menunjukkan bahwa segenap hal-ihwal sesunguhnya tidak mempunyai inti yang tetap dan makna yang inheren dan langgeng. Dalam praktik bersemedi Anatta ditunjukkan melalui pengamatan diri sendiri, di mana tubuh, perasaan, pikiran dan kondisi jiwa dapat timbul dan menghilang, bergerak dan berubah tanpa kemampuan pengamat untuk menghentikan atau menciptakannya.
============

"tiada aku" ini berarti "aku itu tak ada". Di dalam tubuh dan batin ini tidak ada faktor yang dpaat disebut dengan "aku". Ini tubuhku, ini mataku, ini perasaanku, ini pikiranku, dan sebagainya. Lalu, "aku" nya yang mana ? Tidak pernah ditemukan faktor yang disebut dengan "aku". Karena itu, kemudian dinyatakan bahwa "tiada aku" atau "aku tidak ada".  Ini adalah ajaran Buddhisme.

Pertanyaannya, apa negasi dari "aku tidak ada" ? Tentunya, negasinya adalah "aku ada". Dengan demikian, jika dikatakan "aku tidak ada" bernilai benar, maka seharusnya "aku ada" bernilai salah. Jika ini bernilai salah, lalu mengapa buddha menyebut dirinya sendiri "aku" ?[1] Bukankah itu menunjukan  Buddha mengakui  "aku ada" merupakan pendapat yang benar ? Tetapi jawabannya, perkataan Buddha tersebut benar, karena "aku" di sana beda konteks. Teman-teman Buddhis menyebutnya "aku" dalam kebenaran konvensional. Entah apa itu yang dimaksud konvensional. Tetapi dengan adanya konteks yang berbeda tadi, maka dua bentuk yang kontradiktif, "aku itu ada" dan "aku itu tak ada", keduanya sama-sama benar.

Sebenarnya, beda konteks itu berarti beda definisi. "tiada aku", ini bernilai benar, ketika definisi "aku" di sini adalah "inti diri". Buddha tidak mengakui adanya "inti diri" yang disebut "aku", sehingga menyatakan "tiada aku". Sedangkan dalam kalimat " aku mengingkat kembali kehidupan-kehidupanku yang lampau", maka "aku" dalam kalimat ini mengandung arti "panca khanda". Karena itu, secara logika dapat dimengerti bahwa "aku ada" dan "tiada aku" tidaklah kontradiktif. Akan tetapi, kembali lagi masalahnya, "bagaimana kita dapat menemukan negasi dari "aku ada", jika nilainya sama benar dengan "tiada aku" ?

Jelas sekali bahwa negasi dari "ada" itu "tiada", maka negasi dari "aku ada", itu pasti "tiada aku". Tetapi "tiada aku" ini tidak dapat dijadikan sebagai negasi "aku ada" dalam kalimat "aku mengingkat kembali kehidupan-kehidupanku yang lampau". Karena "aku" dalam kalimat ini jelas beda definisi. Kalau bahasa logika, itu pasti akan dibedakan dengan aku1 dan aku2, atau A dan B, sehingga variabelnya terlihat sama dan menimbulkan salah tafsir.

Logika dapat mengenali perbedaan definisi untuk satu istilah yang digunakan dalam dua konteks yang berbeda. Oke, .. Dapat dimengerti bahwa perkaaan Buddha tentang anatta tidak kontradiktif dengan perkataanya sendiri tentang "aku mengingat ...". Dan karena konteksnya berbeda, maka pernyataan Buddha tentang "aku mengingat .." harus dikesampngkan dulu, sehingga dalam  diskusi tidak menggunakan dua konteks untuk satu topik.

_____________
1) lihat pernyataan Buddha ketika menyebut dirinya "aku" dalam tulisan "Lahir dan mati Berulang-ulang".


13
Komentari Gambar / Havana
« pada: November 15, 2017, 06:57:53 PM »

14
Proposisi / Laws Identity
« pada: November 15, 2017, 03:51:21 AM »
SK : Proposisi Hipotesa
====================
1. Implikasi
1.1. Menguji Kebenaran Implikasi
1.2. Cara Membaca Tabel Implikasi
1.3. Membedakan Implikasi Dengan Biimplikasi
1.4. Ternyata
2. Ekuivalensi
2.1. Ekuivalensi Logis
2.1.1. Hukum Ekuivalensi
2.1.1.1. Identity Laws
3. Hukum Kausalitas
4. Hukum Kausalitas Ilmiah
4.1. Indikasi

Jumlah Karakter : 29.328
Kira-kira : 15 halaman A5
====================

2.1.1.1. Identity Laws
Edisi : 14 Nopember 2017, 23:59:14

1) A ∧ 1  ≡ A
2) A ∨ 0  ≡ A

Pernyataan di atas menunjukan hukum identitas dalam ekuivalensi.  Pernyataan pertama disebut identity of ∧, dan pernyataan kedua disebut Zero of ∨.

Pernyataan pertama dibaca "A dan benar ekuivalen dengan A".
Pernyataan kedua dibaca, "A atau salah ekuivalen dengan A"

Contoh kasus :

Saya jujur atau tidak jujur

Pernyataan ini disebut tautology yang pasti bernilai benar, karena itu diberi nilai 1.

A = hari ini, saya memulai bisnis baru.

A ∧ 1 ≡ A

hari ini,   saya memulai bisnis baru., dan saya jujur atau tidak jujur.

Itu berarti ekuivalen dengan " hari ini, saya memulai bisnis baru.".

Mari buktikan dengan tabel kebenaran bahwa pernyataan tersebut ekuivalen. Lihat pada tabel laws of identity !



Padal tabel tersebut urutan dan nilai pada kolom pertama dan ketiga sama persis. Itu menunjukan ekuivalensi.

Biasanya muncul pertanyaan, apa gunanya pemahaman tentang aturan identitas ini ? Apakah ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ?

Jawabanya, aturan-aturan ekuivalensi logis, termasuk laws of identity ini  berguna dalam analisa logic, terutama pada saat menggunakan tablo semantik. Apabila hukum-hukum ekuvalensi logis ini belum dimengerti, maka akan sulit mengikuti materi-materi tentang tablo semantik. Dan tablo semantik ini, bermanfaat untuk dapat melakukan analisa-analisa logis terhadap berbagai kasus, di mana biasanya untuk menguji validitas suatu argumen digunakan tabel kebenaran. Problem yang muncul saat menggunakan tabel kebenarannya, adalah besarnya tabel yang harus dibuat, apabila variabel yang digunakan banyak. Tablo semantik memberikan cara yang lebih mudah untuk menguji validitas argumen. Tetapi untuk itu, terlebih dahulu perlu difahami aturan-aturan ekuivalensinya.

Buktikan dengan tabel kebenaran bahwa pernyataan A ∨ 0  ≡ A benar merupakan ekuivalensi !

15
Meditasi / Menenangkan Pikiran
« pada: November 14, 2017, 05:08:29 AM »
SK : Perbedaan Teknis Meditasi Berdasarkan Perbedaan Tujuannya
====================
1. Membangun Semangat Berpikir
2. Menenangkan Pikiran

====================

2. Menenangkan Pikiran
Edisi : 14 Nopember 2017, 05:04:54

Latifah bertanya, "Ada istilah pikiran liar. Apa maksudnya pikiran liar ? Mengapa pikiran itu bisa liar ? dan bagaimana caranya supaya tidak liar ?"

saya jawab :
Pikiran liar itu pikiran yang sulit untuk dikendalikan. Dia berpikir ke sana kemari, membayangkan ini itu, tanpa izin tuannya. Seseorang tahu bahwa dia harus berhenti memikirkan sesuatu untuk fokus memikirkan hal yang lebih penting untuk dipikirkan, namun tidak bisa. Pikirannya terlalu gelisah, selalu ingin memikirkan hal serupa itu. Inilah yang dimaksud dengan pikiran liar.

Contohnya, pernah datang seorang gadis yang berkonsultasi, dia berkata, "siang malam saya tak enak makan dan tidur, badan hingga kurus kering, karena saya selalu memikirkan kekasih yang sekarang meninggalkan saya. Saya ingin melupakan nya, namun tidak bisa. Selalu saja teringat sama dia." ini adalah gambaran pikiran yang liar.

Adapun penyebab pikiran liar itu adalah melakat pada suka dan benci. Karena ada sesuatu yang disukai, lalu orang melekatinya. Atau ada sesuatu yang dibencinya, lalu melekatinya. Melekati pada yang disukai artinya, tidak rela sesuatu yang disukainya itu berlalu pergi. Dia merasa memiliki sesuatu, maka tidak rela kehilangannya. Dia dekat dengan yang dicintainya, dan enggan untuk jauh dengannya. Atau dia menolak, sesuatu yang membencikan datang kepadanya.

Cara agar pikiran tidak menjadi liar adalah dengan melepaskan kemelekatan itu, yaitu dengan empat cara :

1) dengan pengembangan pemahaman
2) dengan pengembangan persepsi yang baik
3) dengan pengembangan kesadaran
4) dengan pengembangan konsentrasi

Mengembangkan pemahaman, contohnya dengan memahami bahwa datang dan pergi, mendapat dan kehilangan, bertemu dan berpisah lagi, itu merupakan hukum kehidupan yang tidak dapat dihindari. Karena itu tidak perlu untuk dilekati dan disedihkan. Bagaikan musim kemarau dan musim penghujan, atau seperti siang dan malam, akan datang silih berganti. Tidak ada yang kekal abadi. Tidak mungkin malam, selamanya akan malam. Mustahil siang, selamanya akan siang. Kita hidup di bumi dengan perputaran bumi pada porosnya yang menyebabkan terjadinya siang malam. Karena itu, biarkan malam berlalu dan siang menjelang. Dan bila matahari terbenam, biarkan malam datang. Jangan sedih bila siang harus berlalu dan dunia menjadi gelap. Karena semua itu sudah tidak dapat dihindari lagi. Demikian pula, biarkan mereka yang ingin datang ke dalam hidupmu untuk datang. Dan biarkan siapapun yang mesti pergi untuk pergi. Tidak perlu menolak siapapun yang seharusnya  datang dan pergi. Karena memang, mereka yang seharusnya pergi tidak dapat ditahan. Dan mereka yang seharusnya datang tidak bisa ditolak.

Mengembangkan persepsi yang baik itu contohnya dengan membayangkan kepergian kekasih yang anda cintai itu akan menjadikan hidup anda lebih baik. Jika anda dipecat dari sebuah perusahaan, maka membayangkan bahwa itu adalah awal anda menemukan perusahaan yang lebih baik bagi Anda. Jika Anda miskin, maka anda membayangkan bahwa itu meringankan Anda pada hari penghisaban. Jika Anda sakit, maka anda membayangkan bahwa itu merontokan dosa-dosa anda. Dan sebagainya.

Dengan mengembangkan kesadaran itu adalah dengan mengamati objek-objek kesadaran yang selalu muncul, berubah dan berlalu. Melalui praktik ini, Anda akan melihat, menyadari dan benar-benar merasakan ketidakkekalan sesuatu, tidak ada yang anda pegang erat-erat, tak ada yang dapat anda pertahankan, juga tidak ada yang dapat anda kejar. Semua datang dan berlalu mengikuti jalurnya masing-masing. Sehinga anda sadar, bahwa berpegang erat-erat pada sesuatu, mempertahankan atau menolaknya adalah suatu pekerjaan sia-sia dan bodoh. Karena itu anda akan berhenti melakukan kebodohan tersebut.

Adapun dengan pengembangan konsentrasi, adalah dengan membangun kekuatan lupa dan ingat. Anda sulit melupakan sesuatu yang semestinya dilupakan karena lemahnya daya konsentrasi untuk mengingat apa yang semestinya anda ingat. Kekuatan konsentrasi akan terlihat dalam kemampuan lupa dan ingat. Duduklah dengan tenang, pejamkan mata, dan fokuskan perhatian anda kepada keluar masuknya nafas hingga 10 putaran. Bila pikiran masih terlalu liar, maka beri kesempatan kepada pikiran untuk memikikan hal-hal selama dua atau tiga menit. Lalu, Anda kembali kepada objek nafas. Bila Anda sudah cukup tenang, maka Anda dapt melakukannya dua putaran,tiga putaran atau bhkan sepuluh putaran. Jika Anda dapat melakukannya hingga sepuluh putaran, dengan tenang dan nyaman, tanpa hasrat yang kuat untuk memikirkan persoalan-persoalan lain, itu pertanda Anda sudah dapt mengendalikan dan menenangkan pikiran Anda.


Halaman: [1] 2 3 ... 627

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan