See likes

See likes given/taken


Posts you liked

Halaman: [1]
Post info No. of Likes
Teorema Godel Nomor : PST.KI/Mat-002/6802
Edisi : 1 Desember 2016
judul : Teorema Godel
Penulis  : Sandy   
Tujuan : Mengenal Teorema Godel
==================================

teorema Godel itu seperti sebuah kamus definisi, ambil suatu contoh Kamus Besar Bahasa Indonesia. setiap baris dari kamus tersebut mengandung dua unsur, yaitu definiendum (kata yang didefinisikan) dan definiens (kata-kata yang digunakan untuk mendefinisikan). definiendum dalam kamus tersebut adalah kata dalam bahasa Indonesia, definiensnya pun juga menggunakan kata-kata dalam bahasa Indonesia. kamus tersebut tak akan pernah bisa menjelaskan dirinya sendiri secara tuntas hanya menggunakan suatu sistem tertutup bahasa Indonesia saja. jika setiap kata dalam bahasa Indonesia didefinisikan dalam kamus tersebut, maka kamus tersebut lengkap namun tidak mungkin konsisten tanpa dimasuki bahasa non-Indonesia. tapi jika setiap definiensnya menggunakan kata-kata dalam bahasa Indonesia, maka dipastikan tidak setiap kata dalam bahasa Indonesia menjadi definiendum dalam kamus tersebut , tidak lengkap. jika kamus tersebut lengkap dan konsisten menggunakan bahasa Indonesia, maka kamus tsb tidak akan bisa dipahami.

ada dua kata kunci dalam teorema Godel, yaitu "incomplete" dan "inconsistent". "incomplete" saya rasa maksudnya sudah bisa dengan mudah kita pahami, tidak lengkap. namun "inconsistent" disitu perlu ada pelurusan makna, bukan berarti dalam suatu sistem logika maupun matematika terdapat kontradiksi di dalamnya, namun itu berarti bahwa untuk bisa menjadi sistem pemahaman yang lengkap maka harus mendapat infiltrasi dari luar sistem itu sendiri.

"aksioma" itu sendiri adalah bentuk infiltrasi, bukan sesuatu yang dibangun oleh landasan logis maupun matematis. dia adalah dasar argumen yang tidak lagi membutuhkan argumen, sementara yang dibangun oleh landasan logis (konklusi) dan matematis (teorema) pastinya memiliki argumen.

Desember 03, 2016, 02:03:53 AM
1
Re:Bilangan Prima Untuk mengetahui bilangan mana saja yang tidak bisa dibagi rata tanpa menghasilkan pecahan.
Oktober 12, 2017, 08:59:52 AM
1
Re:dua realitas ada yang salah.

"setiap yang tidak membutuhkan sebab adalah realitas".

ini proposisi yang salah.

November 30, 2017, 01:15:35 AM
1
Re:Menurut Ilmuwan
Jadi "teori" bukanlah produk ilmiah (murni), melainkan telah tergeneralisasi. Begitu kah?

bukan begitu. salah satu produk ilmiah adalah teori ilmiah. tetapi, "sesuatu yang digeneralisasi" bukanlah produk ilmiah. hanya saja kemudian, produk ilmiah ini seringkali digeneralisasi.

misalnya, penelitian pada seronga tersangka pidana, ketika ditanya polisi, terbukti bahwa dari 100 jawaban, 80 % jawabannya adalah bohong. jadi, yang merupakan produk ilmiah adalah "80 % jawaban tersangka tsb bohong". adapun, teori bahwa "jawaban-jawaban selanjutnya tersangka akan memberikan jawaban bohong", maka ini adalah produk analogi dan bukan produk metoda induksi.

untuk melihat metoda induksi ini, lihat pada Hukum Kausalitas Ilmiah, Metoda Persetujuan dan metoda sisa sisihan

November 30, 2017, 02:29:34 AM
1
Re:Law Of Double Negation Contoh Kasus :

Farhan : Utsman bin Affan meninggal karena dikeroyok oleh massa. pernyataan ini logis enggak ?
Ilham : bukan logis dan bukannya bukan logis

Desember 01, 2017, 03:30:06 PM
1
Re:Hukum Akal Sehat dari buku "Untaian Kecerdasan sayyidina Ali bin Abi Thalib", Karya Muhammad Ridha al Hakimi yang diterjemahkan oleh Hussain al Kaff dan diterbitkan oleh Yayasan Al Jawad.
Desember 02, 2017, 08:46:30 AM
1
Re:10 tipe manusia saya yang ke-10
Desember 02, 2017, 08:51:00 AM
1
Bahaya Berpegang pada Argumentum Ad Verecundiam SK : Argumentum Ad Verecundiam
====================
1. Contoh Argumentum Ad Verecundiam
1.1. Menurut Ilmuwan
1.2. Produk Ilmiah Yang Digeneralisasi
2. Humor Verecundiam
3. Berpegang Pada Argumentum Ad Verecundiam
3.1. Bahaya Berpegang Pada Argumentum Ad Verecundiam
4. Antara Argumentum Ad Verecundiam Dan Kedudukan Nash
5. Argumentum Ad Verecundiam Dalam Ayat Suci
6. Fanatisme Yang Merugikan
7. Hujjah Internal Dan Eksternal
8. mengenali kebenaran
9. Kesaksian
10. Kebenaran Ajaran Yang Bersanad

Jumlah Karakter : 47,705
Kira-kira : 24 halaman A5
====================

3.1. Bahaya Berpegang Pada Argumentum Ad Verecundiam
Edisi : 03 Desember 2017, 07:30:42

Jika dapat, tentu kita ingin seluruh keyakinan kita berlandas pada argumentum ad judiciam, suatu keyakinan yang kebenarannya dapat dibuktikaan saat ini di sini juga. Tetapi dalam kehidupan ini, kita tidak dapat menghindari dari argumentum ad verecundiam. Kita membutuhkan petunjuk para ahli. Karena itu, kita perlu mendengarkan pada para ahli untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang berguna dan dapat menjadi jalan keselamatan bagi kita. Tapi di sisi lain, jika kita salah mempercayai orang, maka kepercayaan kita terhadapnya mengandung bahaya besar.

Misalnya ada orang memberitahu Anda, bahwa Anda harus segera meninggalkan rumah Anda dan mengosongkan isinya. Jika tidak, maka rumah Anda akan roboh dan keluarga Anda akan celaka.

Jika orang itu berkata benar dan Anda tidak mempercayainya, atau orang itu berkata bohong sedangkan Anda mempercayainya, maka rugilah Anda. Jika orang itu berkata bohong, dan Anda tidak mempercayainya, atau orang itu berkata benar dan Anda mempercayainya, maka Beruntunglah Anda. Jika dapat, tentu Anda ingin menguji kebenaran setiap pernyataan. Tapi tidak akan dapat menguji kebenaran setiap perkataan orang. Dan dalam contoh kasus ini,  tidak ada jalan bagi Anda untuk menguji dan membuktikan kebenaran dari pernyataanya. Karena itu lah disebut argumentum ad verecundiam.

Anda dapat mengambil satu keputusan yang anda sangat yakini benar.  "Saya yakin, dia itu bohong, saya tidak percaya dengan perkataannya, maka saya tidak akan meninggalkan rumah saya." Tapi sekuat-kuatnya keyakinan Anda, secara logika itu tidak mustahil keyakinan dan keputusan Anda itu salah. Demikian pula, kita nyaman tidur di dalam rumah setiap malamnya, karena yakin dengan keamanan rumah. Walaupun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi hari esok. Karena tidak ada dalil yang memustahilkan sesuatu yang buruk terjadi. Akan tetapi, tidak hanya kebenaran-kebenaran logic, melainkan kita perlu menjuga menggunakan rasionalisme. Kita meninggalkan rumah, karena khawatir tertimpa longsor, sedangkan tak ada angin, tak ada hujan, tak ada tanda-tanda akan terjadinya longsor, maka kekhawatiran ini disebut tidak rasional. Walaupun secara logika, bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Dengan demikian logika dan rasional adalah hal yang berbeda.

Seperti cerita seekor tikus pembohong, dapat kita petik hikmahnya.

Judul Cerita : Mocky, Tikus Pembohong
---------------------------------
Ketika para tikus sedang asyik bermain, seekor tikus bernama Mocky berteriak, "ada kucing... Lari .. !" semua teman-temannya lari terbirit-birit masuk lubang. Si Mocky tertawa. Dia sendiri masih asyik bermain di luar. Barulah teman-temannya sadar, bahwa si Mocky telah berbohong. Lalu para tikus keluar lagi dengan rasa kesal.

Sedang asyiknya bermain, tiba-tiba si Mocky berlari ke dalam lubang, "Ada kucing... Ayo lari."

"Ah kamu bohong !" ujar teman-temannya.

"Aku tak akan lari, kalau aku bohong."

Mendengar itu, para tikus percaya, lalu lari ke dalam lubang. Setelah semua tikus ada di dalam lubang, dengan jantung berdebar-debar, si Mocky lompat ke luar dan tertawa, "tertipu kalian." teman-temannya kesal, menggerutu dan memukul si Mocky. Tapi si Mocky senang, merasa bisa ngerjain teman-temannya.

Setelah semua tikus keluar kembali, untuk ketiga kalinya si Mocky berteriak, "ada tikus .... Ayo lari.." si Mocky lari terbirit-biri ke dalam lubang.

Kawan-kawannya menggerutu, "Huh... Dasar pembohong... Aku tidak akan percaya lagi dengan ucapanmu." semua tikus setuju, kalau si Mocky pembohong dan tidak perlu dipercayai. Tapi tiba-tiba "tap!" seekor tikus tertangkap kucing. Kali ini si Mocky tidak berbohong, memang ada seekor kucing sedang mengintip. Setelah semua sadar bahwa si Mocky tidak berbohong, barulah semua tikus yang lain lari ke dalam lubang. Tapi seekor tikus lainnya tidak selamat. Kucing telah membawanya pergi dan akan memakannya. Hal itu membuat si Mocky dan para tikus lainnya merasa sedih.
================

Ketidak percayaan para tikus pada si Mocky adalah berdasarkan analogi. Berkali-kali si Mocky berbohong, maka kali ini juga si Mocky diyakini berbohong. Keyakinan ini rasional. Tapi secara logika, walaupun 999 kali si Mocky berbohong, tidak mustahil ucapannya yang ke 1000 itu jujur. Hal sebaliknya dapat terjadi, walaupun 999 kali orang berkata jujur, tidak mustahil perkataannya yang ke 1000 merupakan perkataan yang bohong. Demikian pula, ketika Anda hendak berpegang pada suatu argumentum ad verecundiam, Anda perlu menguji kredibiltas seseorang, terutama kejujurannya. Tapi Anda perlu mengingat masalahnya, bahwa pertama tidak mustahil Anda keliru menilai seseorang. Kedua, walaupun penilaian Anda tidak keliru, seseorang yang disebut pendusta tidak selamanya berdusta. Seseorang yang dikenal jujur, tidak mustahil kali ini melakukan kebohongan. Dengan demikian, saat Anda berpegang pada argumentum ad verecundiam, Anda tetap dihadapkan pada bahaya.

Mempertimbangkan kredibilitas sumber informasi merupakan bagian dari rasionalisme.  "perhatikan apa yang dibicarakan, bukan siapa yang bicara". Ini benar. Tapi dalam kasus lain, melihat siapa yang bicara, itu juga penting.  Jika saya hidup di kaki gunung tertentu, lalu ada orang gila berkata, "gunung ini akan meletus, ayo segera pindah". Maka tentu tidak saya gubris. Walaupun tidak mustahil perkataan orang gila tersebut benar, tapi tidak ada alasan bagi saya untuk mempercayai perkataan orang gila. Tapi kalau yang bicara itu adalah ahli vulkanologi yang sudah jelas ditunjuk oleh pemerintah, maka ini menjadi alasan bagi saya untuk mempercayainya, jika ia katakan gunung akan segera meletus. Karena tentu, orang ini tidak akan sembarangan bicara, melainkan atas dasar-dasar ilmu. Walaupun tidak menutup kemungkinan, yang disebut ahli vulkanologi pun salah prediksi. Sementara saya sebagai orang awam, tidak ada jalan untuk membuktikan sendiri kebenaran ucapannya, tetapi semua fakta yang dapat saya ketahui menunjukan bahwa orang  tadi merupakan seorang ahli, berpengalaman dan jujur, sehingga menimbulkan keyakinan bahwa ucapannya benar. Sedangkan pada orang gila, semua fakta menunjukan bahwa orang gila tersebut suka membual, sehingga menjadi dasar untuk tidak percaya pada perkataannya.

Jadi, dalam kehidupan ini kita tidak dapat menghindarkan diri dari argumentum ad verecundiam. Tetapi, kita dapat meminimalisir bahaya akibat berpegang pada argumentum ad verecundiam, dengan cara mencari fakta-fakta tentang seorang yang menjadi sumber informasi, apakah dia seorang ahli atu bukan, jujur atau pembohong, orang yang konsisten atau tidak, shaleh atau tidak, dan sebagainya.

Selanjutnya, mari kita mencoba menarik hikmah dari berbagai kisah berikut :

Kisah Nabi Nuh as
----------------------------
Seperti halnya bahtera nabi Nuh as, menjadi jalan keselamatan bagi orang-orang yang beriman, yang percaya pada seruan sang Nabi. Tetapi orang kafir, mentertawakan, tidak percaya dan enggan untuk naik ke dalam perahu Nuh as. Bagi mereka tidaklah masuk akal, bagaimana perahu besar dibuat di hutan di sebuah dataran yang tinggi, sehingga datangnya banjir besar dianggapnya tidak rasional. Kaum yang percaya kepada Nuh as dianggap kaum yang bodoh, yang percaya begitu saja pada ucapan sang Nabi. Tapi ternyata "kebodohan" mereka itulah yang menyelamatkan mereka, ketika banjir besar benar-benar terjadi.
=====================

Mengapakah keshalehan dan kejujuran nabi Nuh as tidak membuat mereka menyimpulkan bahwa perkataan Nuh as pasti benar ?

Beruntunglah mereka yang percaya kepada para nabi dan rasul Allah. Tidak perlu terlalu banyak mengasah otak, tidak perlu berpikir terlalu keras untuk menuju keselamatan, cukup menjalankan prinsip "sami`na wa atho`na mas tatho`na", kami mendengar, kami taat semampu kami. Tapi keaatan seperti ini, justru akan membawa celaka kalau ditujukan kepada seorang penipu. Seperti orang yang ditanya tentang suatu hukum, tapi ia tidak mengetahui jawabannya. Hanya saja, merasa malu untuk dianggap tidak tahu, lalu mengarang hukum. Seperti kisah seorang yang menabrak kucing.

Kisah Penabrak Kucing
----------------------------
Fulan menabrak seekor kucing. Lalu Fulan khawatir bahwa hal itu akan mengakibatkan sial baginya. Karena itu, dia bertanya pada Mbah Jaya, tentang apa yang harus dilakukan. Sebenarnya Mbah Jaya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi prestise nya akan turun bila dia katakan tidak tahu. Akhirnya dia mengarang cerita bahwa arwah kucing akan membalas dendam kepada si Fulan, apabila Fulan tidak menenangkan arwahnya dengan sedekah ke 40 orang miskin. Si Fulan ketakutan, lalu bersedia menyembelih sapi untuk menyelamatkan diri dari balas dendam arwah kucing. Semua prosesi upacara dipimpin oleh Mbah Jaya. Si Fulan tidak tahulah, kalau Mbah Jaya hanya membagikan empat potong daging ke pada empat orang tetangganya, dan sisanya dia miliki sendiri untuk dijual. Ini penipuan.
=======================

Si Fulan rugi, karena percaya kepada seorang penipu.

Bunuh diri Masal
---------------------
Kisah lainnya, seorang pemimpin sekte keagamaan mengajak semua pengikutnya untuk melakukan bunuh diri massal, untuk menuju dunia hidup baru. Mereka percaya pemimpin sekte tersebut seorang shaleh dan jujur, tetapi ternyata mereka dibawa melalui jalan sesat menuju jurang neraka. Mereka menderita kerugian besar karena mempercayai orang yang salah.
==============

Malpraktik
-------------------
Saya juga mendengar kisah seorang dokter yang menderita seumur hidupnya, karena kesalahan dalam proses operasi. Dia berprofesi sebagai dokter, namun dia juga mengidap suatu penyakit yang membutuhkan operasi. Lalu dia mempercayakan proses operasi itu kepada teman-temannya semasa kuliah, yang kini sudah sama-sama berprofesi sebagai dokter.  Namun, rupanya terjadi kesalahan di dalam porses operasi itu, sehingga ada bagian organ yang tidak seharusnya dipotong, malah dipotong. Satu penyakit terangkat dan muncul penyakit lain yang lebih parah, karena organ yang terpotong tersebut tidak ada cadangannya. Dia telah mempercayai orang yang salah.
==============

Kebal Air Keras
-----------------------
Juga kisah lain dari para penganut ilmu kanuragan, banyak kasusnya terjadi, mereka percaya telah diajari ilmu kebal air keras, sehingga bersedia untuk dimandikan air keras oleh gurunya. Tidak berapa lama, mereka kejang-kejang dan meninggal dengan kulitnya yang melepuh di sekujur tubuhnya. Mereka celaka karena mempercayai orang yang salah.
================

Untuk menghindari bahaya argumentum ad verecundiam, kita memang perlu mempertimbangkan kredibilitas sumber informasi sebagai bagian dari rasionalisme. Persoalannya, bagaimana kita mengetahui kredibilitas tersebut dengan benar ? Merupakan hal yang rasional, bila kita tidak akan mempercayai ucapan seseorang yang dikenal sebagai pembohong, tapi apa yang menutup kemungkinan bahwa kabar yang sampai pada kita tentang seseorang yang dituduh pendusta itu sebenarnya kabar bohong ? Kita cenderung untuk mempercayai ucapan orang yang dikenal shaleh dan jujur. Tetapi apa yang menutup kemungkinan bahwa kabar tentang kejujuran orang tersebut adalah bohong ? Intinya, tidak mustahil kita keliru menilai kredibilitas suatu sumber informasi. Persoalan ini juga yang mendasari saya mengkritisi soal kaidah sanad ilmu hadis.

Banyak wanita yang selama bertahun-tahun mengalami KDRT, sehingga mengalami penderitaan yang berat. Walaupun demikian, mereka tidak berani untuk mengajukan gugat cerai ke pengadilan. Karena setiap kali bertanya kepada Ustadz, maka para ustadz itu menerangkan bahwa merupakan dosa besar apabila seorang istri meminta cerai dari suaminya. Saya mendengar sendiri diantara mereka ada yang berkata, "langit pun pecah, apabila seorang istri meminta cerai dari suami." yang lainnya berkata, "seorang istri tidak dapat bercerai dari suami, sampai suaminya mau menceraikan. Karena hak talak itu ada pada suami. Selama suami tidak mau mengucapkan talak, maka pengadilan tidak akan pernah mengabulkan cerai." ada juga yang mengatatakan "cerai itu dibenci Allah, walaupun halal." Para wanita ini berpikir, "semua ustadz mengatakan hal yang sama. Ini berarti mutawatir, shaheh. Mereka adalah para ulama yang saya percayai. Karena itu, perkataannya pasti benar." dengan demikian, walaupun wajah mereka hancur babak belur karena sering diajar suaminya, mereka hanya diam dan pasrah.

Ketika diantara mereka mengadukan kesusahannya pada saya, maka saya hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti biasa, "tanyakan pada para ustadz itu, apabila perceraian itu halal, tetai dibenci Allah, maka apakah Allah membenci sesuatu yang halal ?"

lalu dikatakan, "katanya ada dalam hadis".

Saya katakan lagi, "pertanyaan saya, bukan ada atau tak adanya hadis, tapi apakah Allah membenci sesutu yang halal ? Pertanyaan lainnya, jika perceraian merupakan dosa besar, sampai-sampai langit pun hendak pecah, mengapa lalu Allah menghalalkannya ? Apakah Allah menghalalkan dosa besar ?"

Saya tidak perlu mengajari wanita ini tentang dalil ini dan itu. Saya hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan, yang dengan pertanyaan itu para wanita tadi mau berpikir secara kritis, dan menemukan kebenaran, sehingga dapat berlaku adil terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Karena pengetahuan yang benar itu saudaranya keadilan dan kebijaksanaan. Sedangkan kebodohan itu adalah saudaranya kedzaliman. Dengan cara seperti itu, akhirnya banyak diantara mereka yang akhirnya berani melawan kedzaliman -membebakan diri mereka dari penganiyaan yang dilakukan oleh suaminya selam bertahun-tahun - dengan cara menggugat cerai ke pengadilan. Satu-satunya yang membuat mereka bertahan dalam ketidakadilan itu hanyalah percaya pada kebohongan orang-orang yang dia yakini sebagai orang jujur dan mulia.

Argumentum ad Verecundiam, bukanlah sesuatu yang buruk ataupun baik. Baik buruk tergantung pada bagaimana menempatkannya. Kekeliruan dalam menempatkan argumentum ad vereundiam, itulah yang buruk. Bahkan saya melihatnya seperti "wabah penyakit" yang sudah menjangkiti umat manusia dari zaman ke zaman. Itulah mengapa, bangsa kita saat ini mudah sekali terprovokasi oleh hoax atau kabar bohong.

Kajian tentang hal ini, insya Allah akan saya lanjutkan dalam tuilsan berjudul "Problematika Sanad Hadis".


Desember 03, 2017, 10:17:31 AM
1
Mengapa Harus Belajar Logika SB : Cinta dan Logika
====================
1. Mengapa Harus Belajar Logika
1.1. Bahasa Logika

Jumlah Karakter : 9.626
Kira-kira : 5 halaman A5
====================

1. Mengapa Harus Belajar Logika
Edisi : 06 Desember 2017, 11:49:27

CAK IPUNG, [10.11.17 14:22]
Anak saya yang SMA kelas 2 bertanya pelajaran matematika.

Untuk apa mencari Y??? Untuk apa yang tidak ada itu dicari?

Padahal saya cuman mencari uang yang jelas di depan mata dan itu saya butuhkan?

Kang Asep, [10.11.17 14:33]
Pada kesempatan ini, saya tidak bemaksud untuk menjawab pertanyaan anak Cak Ipung. Lagi pula Cak Ipung tidak bermaksud mencari jawaban atas pertanyaan anaknya dari saya. Tapi pertanyaan anaknya Cak Ipung mengingatkan saya pada pertanyaan-pertanyaan serupa yang pernah diajukan pada saya . Pertanyaan serupa ini, sudah sering ditanyakan di grup Logika Filsafat, sejak yang versi whatsapp.  Dan ini juga merupakan pertanyaan yang sering saya ajukan dulu, ketika saya kuliah tentang kalkulus.  Dan pertanyaan seperti itu juga ditanyakan terhadap persoalan ilmu logika, ada yang bertanya, "mengapa kita harus belajar logika yang rumit ? Mengapa kita harus memikirkan vaiabel ABC dan tabel kebenarannya ? Tidakkah kita dapat hidup dengan sederhana, di desa, dengan damai, tetapi cukup sandang dan pangan ?

Sebenarnya sudah sering saya memberikan jawaban dari pertanyaan tersebut dengan jawaban yang panjang lebar. Dan mengulanginya lagi memberi jawaban dengan sabar pada kesempatan lain. Tapi, bila saya sedang tidak ingin menjawab dengan penjang lebar, maka jawaban saya pendek, "jika Anda belum mengerti mengapa kita harus belajar ilmu logika, maka tidak usahlah belajar. Jika Anda sudah mengerti di mana pentingnya ilmu logika bagi hidup Anda, maka silahkan datang kembali, temui saya, dan mari kita belajar bersama !"

Sebelum membeli sesuatu, sudah barang tentu orang mengetahui apa manfaat barang tersebut baginya sehingga dibeli. Apabila saya menawari anda sebuah barang untuk Anda beli, sudah pasti Anda ingin tahu dulu, apa manfaat barang itu untuk Anda. Karena Anda tidak ingin mengeluarkan uang Anda untuk sesuatu yang Anda tidak tahu gunanya. Tapi, ketika saya bekerja di sebuah toko ATK, saya tidak perlu banyak memberi penjelasan kepada pelanggan, tentang apa manfaat masing-masing barang di toko tersebut.  Pemilik toko hanya menyediakan barang-barang keperluan ATK. Mereka yang membeli barang-barang tersebut, berarti sudah mengerti kegunaannya. Tidak perlu saya jelaskan lagi. Tapi ada satu dua orang yang melihat benda asing baginya, lalu dia bertanya, "Ini fungsinya buat apa ya ?"

"Oh.. Membuka biji stapler." saya jawab.

"biji stpaler itu yang bagaimana ya ?" tanya dia lagi.

"Itu biji hekter, kan pake atom atau etona, digunakan untuk menjepit kertas. Nah, kalau mau dibuka lagi, bisa pakai itu." jawab saya.

"lho.. Kenapa harus pakai ginian, kan jepit kerjas gampang  tinggal cabut aja ?" tanyanya lagi.

"pake itu lebih gampang, tinggal tekan, capitannya terbuka dan cabut."

"Pake jari tangan juga bisa kan ? Lebih prakti malah."

"iya." jawab saya.

Dalam batin saya, "kalau tak mengerti gunanya, ya sudah gak usah beli. Ribet amat sih ni orang."

Intinya orang itu ingin mengerti apa kegunaan alat itu tapi dengan cara berusaha menunjukan bahwa alat itu tak berguna. Demikian pula, sebagian orang ada yang ingin mengerti kegunaan logika, tapi dengan cara berusaha menunjukan kalau logika itu tak berguna, sehingga mengajukan banyak pertanyaan yang tidak fungsinal dan efektif.

Apabila orang diajak untuk belajar ilmu logika, tentu ingin mengetahui dulu apa manfaat ilmu logika tersebut baginya. Karena itu, saya menyusun buku "Pengantar Ilmu Logika", yang berisi tentang gambaran manfaat-manfaat ilmu logika, motivasi belajar ilmu logika atau alasan-alasan mengapa harus belajar ilmu logika. Jika setelah membaca buku tersebut orang mengerti alasan "mengapa harus belajar ilmu logika" maka mari  lanjutkan "belajar bersama".  Tapi bila masih belum mengerti, maka dia tidak harus belajar atau bergabung dengan kami di komunitas para pemikir logic. Silahkan cari dan temukan alasan bagi dirinya sendiri, di mana pentingnya ilmu logika untuk hidupnya. Setelah menemukan alasan-alasannya tersebut, maka ingatlah pada komunitas Para Pemikir, di mana di situ para pemikir logic berkumpul, lalu bergabunglah !

1.1. Bahasa Logika
 Edisi : 06 Desember 2017, 11:00:34

Russel : dalam percobaan yang dilakukan secara serius  tidaklah selayaknya kita tempuh dengan menggunakan bahasa biasa. Sebab susunan bahasa biasa itu selain buruk, juga bermakna ganda arti. Oleh karena itu saya bermaksud meyakinkan bahwa sikap bersikeras atau kepala batu untuk tetap menggunakan bahasa biasa dalam mengungkapkan pemikiran kita adalah penghalang besar bagi kemajuan filsafat(3) (Drs. Rizal Mustansyir, Filsafat Analitik, Hal.  40)

Bahasa biasa juga disebut dengan "Bahasa Sehari-hari". Keterbatasn dalam bahasa sehari-hari, memaksa kita untuk berbicara dengan bahasa logika. Dalam bahasa sehari-hari, orang dapat berkata, "jika saya lapar, maka saya makan".  Tapi seperti kata Russel, itu bisa ganda arti atau ganda makna. Karena apabila dia tidak makan berarti dia tidak lapar. Tapi apabila dia makan, apakah sudah pasti dia lapar ? Belum tentu. Pernyataan "jika-maka" dalam bahasa sehari-hari selalu ganda makna. Karena itu, diperlukan bahasa logika, untuk menghindari kesalahan ungkapan dan penafsiran. Terkait dengan contoh tadi, ada dua makna :

1) jika saya lapar, maka saya makan. Tapi jika saya makan, belum tentu saya lapar.
2) jika saya lapar, maka saya makan. Dan jika saya makan, berarti saya lapar.

Untuk menyatakan meksud yang kedua, dalam bahasa logika digunakan "jika dan hanya jika", yakni "jika dan hanya jika lapar, maka saya makan".  Dalam bahasa sehari-hari, orang tidak terbiasa mengatakan "jika dan hanya jika". Bahasa seperti ini hanya ditemukan dalam bahasa logika dan matematika. Bisa saja bahasa logika ini diterapkan di dalam sehari-hari, terutama kalau lawan bicara adalah sesama logicer. Tapi penggunaan "jika dan hanya jika" tidak pernah saya dengar atau baca dalam  pidato-pidator resmi, orasi-orasi atau surat menyurat di perkantoran.

Contoh lainnya yang tidak ditemukan dalam bahasa sehari-hari adalah penggunaan "atawa", "Dan Atau", "Bukan Dan" serta "bukan atau".  Masih banyak bahasa-bahasa logika yang tidak ditemukan padanan katanya dalam bahasa sehari-hari, tapi kita ambil sedikit contoh saja.

Misalnya,

Rizal : Mana kah wanita cantik yang kau sukai, Nabilah Ratna Ayu atau Indiana Massara ?
Kang Asep : dua-duanya cantik dan saya sukai

Rizal : di mana kang Asep sekarang berada, di Bandung atau di Jakarta ?
Kang Asep : Di Bandung.

Pertanyaan pertama dan kedua sama-sama menggunakan kata "atau". Tapi itu bisa ganda makna, untuk pertanyaan pertama :

1) Rizal bermaksud mempersilahkan saya memilih salah satu dan tak bisa atau tak boleh keduanya saya pilih sebagai "yang cantikd an saya sukai".
2) Rizal bermaksud mempersilankan saya memilih salah satu atau keduanya.

Demikian pula untuk pilihan kedua, Bandung dan Jakarta, apakah dua-duanya bisa dipilih secara bersamaan ataukah tidak. Untuk memahaminya, dalam bahasa sehari-hari harus dilihat dari konteksnya. Dari dua pernyataan di atas, melihat konteksnya jelas bahwa maksud pertanyaan pertama itu adalah "dan atau", sedangkan pertanyaan kedua itu adalah "xatau" alias "Xor".  Tapi, konteks tidak selalu dapat dilihat. Seperti Contoh berikut :

Contoh Pertama :
ayah : ayah punya dua hadiah. Pertama dalam kemasan hijau. Dan kedua dalam kemasan merah. Mana yang kamu inginkan , dalam kemasan hijau atau merah ?

Anak terdiam, dia bertanya-tanya, apakah dia boleh memilih keduanya ?

Coba kalau dalam bahasa logika, si ayah berkata, "mana hadiah yang ingin kamu pilih, kemasan hijau xatau merah ?" maka itu pasti artinya "hanya dapat dipilh salah satu".

Contoh Kedua :

Tedi berkata, "Kang Asep, besok atau lusa saya akan mampir ke rumah kang Asep."

Saya bertanya-tanya, apa maksud Tedi. Apakah maksudnya jika esok ke rumah saya, maka lusa tidak datang. Jika lusa datang makan esok tidak. Atau bisa saja esok datang, pun juga lusa. Ataukah dia akan datang kapapun dia hendak datang ?

Ada banyak arti, ada banyak penafsiran.  Tapi kalau tedi berkata, "esok xatau lusa saya akan mampir ke rumah kang Asep", itu berarti jika esok datang ke rumah, maka lusa tak akan datang. Jika esok tak datang, maka lusa pasti datang. Jika esok dan lusa tidak datang, berarti Tedi berbohong.

Contoh ketiga :

"Saya adalah seorang guru atau seorang seniman".

Ternyata saya seorang guru, tapi bukan seniman. Maka pernyataan di atas tidaklah bohong.
Ternyata saya seorang seniman, dan bukan seorang guru. Maka pernyataan di atas tidak pula bohong.
Tapi bagaimana bila saya saya seorang guru sekaligus seorang seniman, apakah pernyataan di atas bohong ?

Itu bisa multitafsir. Bisa jadi dikatakan bohong, bisa jadi tidak bohong. Bahasa Logika berguna untuk menghindarkan kesalahan penafsiran seperti itu, dengan penggunakan "xatau" untuk pilihan ekslusif, serta "dan atau" untuk non ekslusif"

"Saya adalah guru xatau seniman".

Ternyata saya adalah guru sekaligus seniman. Berarti pernyataan di atas bohong.

Tapi istilah "xatau" juga "dan atau" tidak ditemukan dalam bahasa sehari-hari. Sedangkan mengetahui kejelasan maksud di dalam bahasa filsafat khususnya, sangatlah penting. Karena itu Russel mengatakan "sikap bersikeras atau kepala batu untuk tetap menggunakan bahasa biasa dalam mengungkapkan pemikiran kita adalah penghalang besar bagi kemajuan filsafat."

Jadi, untuk menyelami dunia filsafat lebih jauh, Anda harus terbiasa menggunakan bahasa logika dan jangan berkeras kepala untuk tetap menggunakan bahasa sehari-hari saja. Untuk mengerti bahasa logika, tentu kita perlu mempelajari logika tersebut.


Desember 06, 2017, 01:18:55 PM
1
Ilmu Logika SK : Ilmu Logika
====================
1. Term
{alt}

2. Proposisi
3. Syllogisme
====================



1. Term
Edisi : 05 Juli 2017, 04:48:54

tujuan :

1) mendefinisikan term
2) mengenal jenis-jenis term
3) dapat memberikan contoh term
=========

apa yang dimaksud dengan term ?


Term disebut juga pinggir kalimat, karena posisinya yang menempati pinggir kalimat yang terdiri dari term subjek dan predikat. Untuk dapat memahami mana term subjek dan predikat, harus dilihat posisinya pada kalimat. Di dalam kalimat terdapat term yang menerangkan dan diterangkan. Term yang menerangkan itu disebut predikat. Sedangkan yang diterangkan itu disebut subjek.

Bentuk Umum :

A adalah B

A => term subjek
B => term predikat

contoh

emas adalah logam

emas => term subjek
logam => term predikat

dalam kalimat di atas terdapat dua term, yaitu "emas" dan "logam". Adapun kata "adalah" merupakan Kopula.

Term juga dapat di bedakan dari posisinya dalam sebuah susun-kalimat, menjadi :

Term minor
Term mayor
midle term

Contoh :

Setiap A adalah B (premis minor)
Setiap B adalah C (Premis mayor)
Jadi, Setiap A adalah C (kesimpulan)
   

A = term minor       
C = term mayor
B = midle term

A disebut term minor karena menempati subjek pada kesimpulan.
C disebut premis mayor karena menempati predikat pada kesimpulan
B disebut midle term karena merupakan term yang sama yang terdapat pada premis minor dan mayor.

Joesoef Sou`yb telah mengubah istilah-istilah term berbahasa Inggris ke dalam istilah bahasa Indonesia sebagai berikut :

Term = > Pinggir
Term subjek => Pinggir Pokok
Term Predikat => Pinggir Sebutan
Term Minor => Pinggir Kecil
Term Mayor => Pinggir Besar

Evaluasi :

1) apakah yang dimaksud dengan term ?
2) apa saja jenis term itu ?
3) apa yang dimaksud dengan term subjek ?
4) apa yang dimaksud dengan term predikat ?
5) apakah perbedaan term minor dengan mayor ?
6) apa yang dimaksud dengan midle term ?

2. Proposisi
 Edisi : 11 Oktober 2017, 20:20:39

Tujuan :
1) memahami pengertian proposisi
2) mengetahui essensi dari proposisi
3) dapat membedakan pernyataan yang merupakan proposisi dan yang bukan proposisi
4) dapat memberikan contoh proposisi yang bernilai benar
5) dapat memberikan contoh proposisi yang bernilai salah
6) dapat memberikan contoh pernyaaan-pertanyaan yang bukan proposisi
7) mengenal bentuk kalimat yang tidak termasuk kepada pernyataan
==============

Setiap pernyataan yang bernilai benar atau salah disebut proposisi[1].

Proposisi mustahil bernilai benar dan salah secara bersamaan. Juga mustahil tidak benar dan juga tidak salah. Jika suatu proposisi itu bernilai benar, maka pasti ia tidak salah. Jika ia bernilai salah, maka mustahil bernilai benar.  Itulah sifat proposisi. Pernyataan yang tidak bernilai benar atau salah, disebut pernyataan saja, dan tidak termasuk kepada proposisi.

Contoh Proposisi bernilai benar:  "Setiap benda memiliki bentuk"

contoh proposisi yang bernilai salah : "sebagian benda tidak memiliki bentuk"

Tidak semua pernyataan merupakan proposisi.

Contoh :

1) Setiap A adalah B
2) X adalah bilangan genap
3) A = B

Pernyataan pertama tidak dapat disebut proposisi, karena tidak diketahui nilainya, benar atau salah. Setelah ditetapkan bahwa "setiap A adalah B" bernilai benar atau salah, maka menjadi proposisi.

Pernyataan kedua, belum ditetakan nilai yang masuk pada varibel. Sehingga bisa jadi benar, bisa salah. Selama belum ditetapkan nilainya bagi variabel X, maka bukanlah proposisi.

Pernyataan ketiga, tidak bernilai benar maupun salah, karena merupakan definisi.

Setiap proposisi terbagi kepada dua tharaf, yaitu subjek dan predikat.

Contoh : setiap benda memiliki bentuk

"benda" sebagi subjek
"memiliki bentuk" sebagai predikat

dua tharaf proposisi seringkali dihubungkan dengan Kopula, yaitu kata "adalah". Contoh : setiap emas adalah logam

kalimat yang bukan pernyataan adalah kalimat perintah dan pertanyaan :

contoh :

"berikanlah tanggapan !"
"Apakah anda telah mengerti mengenai pasal ini ?"

------------------------------------------------------------------------
 1 )    F.Soesianto & Djoni Dwijono, Logika Proposisional, Hal. 8

3. Syllogisme
 Edisi : 03 Oktober 2017, 18:52:03

Tujuan :
1) memahami pengertian dari syllgisme
2) dapat memberikan contoh syllogisme
3) dapat memberikan contoh susunan proposisi yang bukan syllogisme
4) dapat mengenali susunan proosisi yang memenuhi syarat sebagai syllogisme

apakah yang dimaksud syllogisme ? Syllogisme adalah susun pikiran yang terdiri dari Premis dan Konklusi.


Ciri Azasi dari syllogisme adalah terdiri dari :

1) 3 proposisi
2) 3 term

jika tidak memenuhi kedua syarat tersebut, berarti bukan syllogisme.

Contoh syllogisme :

1) Setiap A adalah B
2) Setiap B adalah C
3) Jadi, setiap A adalah C

susunan proposisi di atas disebut syllogisme, serta memenuhi Hukum Azas. Di situ terdapat 3 proposisi dan 3 term.

Proposisi pertama disebut premis minor
Proposisi kedua disebut premis mayor
proposisi ketiga disebut konklusi

Term A disebut minor term
Term B disebut midle term
Term C disebut mayor term

minor term adalah term yang menempati subjek pada konklusi (A). Mayor term  adalah yang menempati predikat pada konklusi (C). Sedangkan midle term adalah term yang terdapat pada premis minor dan mayor, tetapi tidak terdapat pada konklusi (B).

Contoh Susunan Proposisi yang merupakan syllogisme :

1) Setiap rasul adalah utusan
2) setiap utusan ada yang mengutus
3) jadi, setiap rasul ada yang mengutus

contoh  susunan proposisi yang bukan syllogisme :

contoh 1

1) ayam adalah unggas
2) kucing adalah hewan

dua proposisi di atas, bukan susun pikiran atau syllogisme, karena melanggar hukum azas :

Pelanggaran hukum pertama :

semestinya terdapat 3 proposisi. Terapi pada contoh di atas hanya ada 2 proposisi.

Pelanggara hukum kedua :

semestinya hanya ada 3 term, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Tetapi dalam susunan dua proposisi di atas, terdapat 4 term, yaitu : ayam, unggas, kucing dan hewan.

Jadi, terbukti susunan proposisi pada contoh 1, bukanlah syllogisme.

Contoh 2 :

1) Setiap emas adalah logam
2) setiap emas bukan logam

Pelanggara Hukum Pertama : hanya terdapat 2 proposisi
Pelanggaran Hukum Kedua : hanya terdapat 2 term, yaitu emas dan logam.

Jadi, contoh2 terbukti bukan syllogisme.

Contoh 3 :

1) Nurdin jatuh cinta pada Sinta
2) Sinta jatuh cinta pada Badru
3) Jadi, Nurdin jatuh cinta Badru

memenuhi hukum pertama: terdapat 3 proposisi. Tetapi melaggar hukum kedua, harus hanya terdiri dari 3 term. Tetapi di situ terdapat 4 term, yaitu : 1) Nurdin, 2)jatun cinta pada Sinta, 3)Sinta dan 4)jatuh cinta pada Badru


Desember 08, 2017, 03:12:48 PM
1

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan