See likes

See likes given/taken


Your posts liked by others

Halaman: [1] 2
Post info No. of Likes
Re:Teori Logika dalam Diagram Lingkaran I Mantap kang... dalam mengajarkan logika memang memerlukan kreatifitas dan keanekaragaman cara pengajaran.
Karena menurut saya, ada orang yang sulit untuk belajar logika dengan cara belajar A, tetapi mudah belajar logika dengan cara belajar B ada yang sulit belajar logika dengan cara verbal, ada yang mudah belajar logika dengan cara visual dan begitu juga sebaliknya..

Mei 24, 2016, 12:22:55 AM
2
Re:Kenangan di Waduk Gajah Mungkur


rajin-rajinlah mendokumentasikan riwayat kehidupanmu!

Waduk gajah mungkur itu dekat sekali sama tempat saya tinggal loh kang.
Cuma melewati beberapa kecamatan saja.
Kota tempat tinggal saya kan di Pracimantoro, nah Wonogiri itu kabupatennya.
Waduk gajah mungkur kan di wonogiri...

Mei 24, 2016, 01:08:00 AM
1
Perbedaan Antara Materialis Dengan Atheis

Seorang materialisme sudah tentu tidak akan mempercayai adanya Tuhan yg Maha Esa. Karena Tuhan adalah non materi. Jika ini benar, maka penganut materialisme pastilah atheisme. saya sudah sering bertemu atheis di dunia maya, tapi tidak yakin bahwa mereka adalah materialis. Jika setiap atheis adalah materialis, berarti tiada bedanya atheis dengan materialis. Tetapi saya rasa terdapat perbedaan antara atheis dan materialis. dapatkah Anda membantu saya mengidentifikasi perbedaan materialis dengan atheis ?

Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi[1].

Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap
teisme.Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan[2].

Berdasarkan kedua definisi ini, dapat dianalisa
bahwa perbedaan antara kaum materialis dan kaum atheis adalah titik fokus atau objek bahasannya.

Kaum materialis menjadikan " REALITAS " sebagai titik fokus atau objek bahasannya  .
Sedangkan kaum atheis hanya menjadikan TUHAN dan DEWA - DEWI sebagai titik fokus atau objek bahasannya.

Tetapi dari pengalaman saya berinteraksi dengan kaum atheis, saya mendapati sebagian dari mereka ada yang hanya menjadikan Tuhan dan Dewa - Dewi sebagai bahasannya, dan sebagiannya lagi menjadikan bahasan2 lain seperti surga - neraka,alam ghaib, dan jin/setan sebagai bahasannya yang cenderung kepada materialisme.
Sedangkan mereka(kaum atheis) yang hanya menjadikan Tuhan dan Dewa - Dewi sebagai titik fokus dan objek bahasannya cenderung acuh tak acuh terhadap masalah surga - neraka,alam ghaib, dan jin/setan mereka ini yang saya sebut sebagai kaum atheis murni.

Dari penjelasan di atas, garis besarnya dapat diringkas menjadi ungakapan :
" Materialis termasuk atheis.Tetapi atheis, belum tentu materialis "

[1].https://id.m.wikipedia.org/wiki/Materialisme?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C8136381820
[2].https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ateisme?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C4082799715

Mei 24, 2016, 10:07:56 AM
1
Apakah Segala Hukum - Hukum Yang Ada Itu Otonom ? * Pendahuluan

Hukum - hukum yang dibahas di dalam tulisan ini saya bagi menjadi 2 kategori; yaitu Hukum Ciptaan Manusia dan Hukum Alami.
Di dalam konteks tulisan ini, Hukum Ciptaan Manusia memiliki 1 sub-kategori ; yaitu Hukum Pidana yang juga sekaligus menjadi "Perwakilan" untuk hukum - hukum ciptaan manusia yang lainnya.
Sedangkan di dalam konteks tulisan ini, Hukum Alami memiliki 4 sub-kategori ; yaitu
Hukum Fisika, Hukum Matematika, Hukum Logika, dan Hukum Ilmiah yang juga menjadi "Perwakilan" untuk hukum - hukum alami yang lainnya.

A. Definisi dan Pengertian

1. Hukum Fisika

Hukum fisika adalah peraturan - peraturan atau undang - undang yang terdapat dan berlaku di dalam benda - benda fisik yang berada di seluruh alam semesta.

2.Hukum Matematika

Hukum matematika adalah peraturan - peraturan atau undang - undang yang terdapat dan berlaku di dalam ilmu matematika.

3.Hukum Logika

Hukum Logika adalah peraturan - peraturan atau undang - undang yang terdapat dan berlaku di dalam ilmu logika.

4.Hukum Pidana

Hukum Pidana adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang menentukan perbuatan apa yang dilarang dan termasuk ke dalam tindak pidana, serta menentukan hukuman apa yang dapat dijatuhkan terhadap yang melakukannya.

5. Hukum Ilmiah/Sains

Hukum sains adalah suatu pernyataan di dalam dunia ilmu pengetahuan yang bermula dari suatu hipotesis dan dibuktikan dengan percobaan-percobaan yang menyangkut teori-teori hipotesis.

B. Perwakilan Hukum - Hukum

• Hukum - Hukum Fisika

1. Hukum Archimedes

Bunyi Hukum Archimides :“Jika sebuah benda dicelupkan ke dalam zat cair, maka benda tersebut akan mendapat gaya yang disebut gaya apung (gaya ke atas) sebesar berat zat cair yang dipindahkannya”

2. Hukum Pascal

Bunyi Hukum Pascal :“Tekanan yang diberikan pada suatu zat cair didalam suatu wadah,akan diteruskan ke segala arah dan sama besar”.

• Hukum Matematika

1.Hukum Penjumlahan

Contoh :

1+1+1 = 3
2+2+2 = 6
3+3+3 = 9

Dan lain - lain.

2. Hukum Perkalian

Contoh :

1×1×1 = 1
2×2×2 = 8
3×3×3 = 27

Dan lain - lain.

3. Hukum Pengurangan

Contoh :

1-1 = 0
2-2 = 0
3-3 = 0

Dan lain - lain.

4. Hukum Pembagian

Contoh :

1 ÷ 1 = 1
4 ÷ 2 = 2
9 ÷ 3 = 3

Dan lain - lain.

• Hukum Logika

1.Hukum Identitas

"Segala sesuatu selalu sama dengan dirinya sendiri".

Contoh :

( A sama dengan A itu sendiri )

( B sama dengan B itu sendiri )

( Kambing X sama dengan Kambing X itu sendiri )

( Kerbau Y sama dengan Kerbau Y itu sendiri )

Dan lain - lain.

2. Hukum Kontradiksi

Hukum kontradiksi menyatakan bahwa "A bukanlah Non-A".

Contoh :

( Api bukanlah Air( Non-Api) )

( Air bukanlah Api( Non-Air) )

Dan lain - lain.

3. Hukum Kualitas

Hukum tersebut menyatakan "segala sesuatu hanya memiliki salah satu karakteristik tertentu". Jika A sama dengan A, maka A tidak dapat sama dengan Non-A.

Contoh :

( Jika Benda Padat sama dengan Benda Padat,
maka Benda Padat tidak dapat sama dengan Benda Cair( Non-Benda Padat )

( Jika Benda Cair sama dengan Benda Cair, maka Benda Cair tidak dapat sama dengan Benda Padat ( Non-Benda Cair )

Dan lain - lain.

• Hukum Pidana

1.Kitab Undang - Undang Hukum Pidana (KUHP)

KUHP atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana adalah kitab undang-undang hukum yang berlaku sebagai dasar hukum di Indonesia.

Contoh :
                               
KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)BUKU KEDUA TENTANG KEJAHATAN
                               
                                Bab XXII
                              PENCURIAN
                                 Pasal 362

Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

                                Pasal 363

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:

1. pencurian ternak

2. pencurian pada waktu ada kebakaran, letusan, banjir gempa bumi, atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau bahaya perang

3. pencurian di waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada di situ tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh yang berhak

4. pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih

5. pencurian yang untuk masuk ke tempat melakukan kejahatan, atau untuk sampai pada barang yang diambil, dilakukan dengan merusak, memotong atau memanjat, atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.

(2) Jika pencurian yang diterangkan dalam butir 3 disertai dengan salah satu hal dalam butir 4 dan 5, maka diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

                               Pasal 364

Perbuatan yang diterangkan dalam pasal 362 dan pasal 363 butir 4, begitu pun perbuatan yang diterangkan dalam pasal 363 butir 5, apabila tidak dilakukan dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, jika harga barang yang dicuri tidak lebih dari dua puluh lima rupiah, diancam karena pencurian ringan dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak dua ratus lima puluh rupiah.

                                 Pasal 365

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, terhadap orang dengan maksud untuk mempersiapkan atsu mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya, atau untuk tetap menguasai barang yang dicuri.

(2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun:

1. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, di berjalankan.

2. jika perhuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu.

3. jika masuk ke tempat melakukan kejahatan dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.

4.Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat.

(3) Jika perbuatan mengakibatkan kematian maka diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tuhun.

(4) Diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun, jika perbuatan mengakibatkan luka berat atau kematian dan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam no. 1 dan 3.
                                 
                                 Pasal 366

Dalam hal pemidanaan berdasarkan salah satu perbuatan yang dirumuskan dalum pasal 362, 363, dan 865 dapat dijatuhkan pencabutan hak berdasarkan pasal 35 No. 1 - 4.
                             
                                Pasal 367

(1) Jika pembuat atau pembantu dari salah satu kejahatan dalam bab ini adalah suami (istri) dari orang yang terkena kejahatan dan tidak terpisah meja dan ranjang atau terpisah harta kekayaan, maka terhadap pembuat atau pembantu itu tidak mungkin diadakan tuntutan pidana.

(2) Jika dia adalah suami (istri) yang terpisah meja dan ranjang atau terpisah harta kekayaan, atau jika dia adalah keluarga sedarah atau sesaudara, baik dalam garis lurus maupun garis menyimpang derajat kedua maka terhadap orang itu hanya mungkin diadakan penuntutan jika ada pengaduan yang terkena kejahatan.

(3) Jika menurut lembaga matriark kekuasaan bapak dilakukan oleh orang lain daripada bapak kandung (sendiri),maka ketentuan ayat di atas berlaku juga bagi orang itu.

Dan lain - lain.

• Hukum Ilmiah

1. Hukum Kausalitas

Kausalitas merupakan prinsip sebab-akibat yang ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan.

Bersambung pada thread "Apakah Segala Hukum - Hukum Yang Ada Itu Otonom ?(2)"





Juni 07, 2016, 05:41:40 AM
2
Apakah Segala Hukum - Hukum Yang Ada Itu Otonom ?(2) #Sambungan dari thread "Apakah Segala Hukum - Hukum Yang Ada Itu Otonom ?"#

Hukum Kausalitas memiliki 2 prinsip ; yaitu :

1) X bukan sebab bagi Y, jika X ditemukan pada saat Y tidak terjadi.

2) X bukan sebab bagi akibat Y, jika X tidak ditemukan pada saat Y terjadi.

Contoh 2 prinsip Hukum Kausalitas :

A = Saya makan terlalu kenyang
B = Saya akan tertidur

*) Jika A, maka B.

1) Jika ternyata A tetapi tidak B,
maka berarti A bukan sebab bagi B karena A ditemukan saat B tidak terjadi.

2) Jika ternyata B tetapi tidak A,
maka berarti A bukan sebab bagi B karena A tidak ditemukan pada saat B terjadi.

Contoh Hukum Kausalitas :

* Jika Batu adalah Benda, maka pastilah Batu memiliki bentuk.

Jadi, Batu memiliki bentuk, adalah akibat dari Batu adalah Benda.
Batu adalah Benda, adalah penyebab dari Batu memiliki Bentuk.

C. Eksistensi Dan Sifat - Sifat Hukum

• Hukum Alami

* Pendahuluan

Sebelum saya jelaskan lebih lanjut perihal Hukum Alami, perlu di ketahui terlebih dahulu bahwa di dalam uraian tentang hukum alami ini, Hukum Ilmiah, Hukum Fisika, Hukum Matematika, dan Hukum Logika saya bahas secara terpisah.
Hukum Ilmiah saya bahas bersama Hukum Fisika, dan Hukum Matematika saya bahas bersama Hukum Logika.
— — Akhir Pendahuluan — —

* Eksistensi Hukum Alami Bersifat Aksidental Dan Wujudnya Berupa Determinasi - Determinasi

Hukum Alami bukanlah eksisten yang keberadaannya bersifat otonom, independen, dan mandiri tanpa ketergantungan sama sekali.
Karena jika ditinjau secara ontologis, eksistensi Hukum Alami itu bersifat Aksidental dan keberadaannya tidak bersifat substansial .
Hukum Alami bukanlah eksistensi yang bersifat substansial karena ia tidak memiliki zat dan substansi seperti materi - materi yang eksis di alam semesta ini.
Karena eksistensi Hukum Alami itu bersifat aksidental, maka eksistensi Hukum Alami ditentukan oleh eksistensi substansial yang juga sekaligus menjadi "tempat tinggal" atau "wadah" baginya untuk berada yaitu Alam karena segala eksisten yang bersifat aksidental membutuhkan eksisten substansial untuk keberadaannya.
Wujud dan rupa Hukum Alam itu berupa ketetapan, ketentuan, batasan, atau determinasi - determinasi yang berlaku pada Alam Semesta dan berfungsi untuk mengatur "bagaimana Alam Semesta berperilaku".
Eksistensi Hukum Alami itu seperti sekeping koin yang memiliki 2 sisi.
Sisi yang satu ditempati oleh Alam dan sisi yang satunya lagi ditempati oleh Hukum Alam dan kedua sisi ini hanya bisa ada secara bersamaan dan mustahil hanya salah satu sisi saja yang eksis dan mustahil pula salah satu sisi dapat ada terlebih dahulu dan mendahului sisi yang satunya lagi.
Jika Alam eksis, maka hukum - hukumnya pun juga harus eksis — dan jika hukum - hukum alamnya eksis, maka "Alamnya" pun juga harus eksis.
Jika Alam tidak eksis, maka hukum - hukumnya pun juga harus tidak eksis — dan jika hukum - hukumnya tidak eksis, maka Alam pun juga harus tidak eksis.
Dan oleh karena itu, Hukum Alami memiliki sifat - sifat yang persis sama seperti eksisten - eksisten lain yang bersifat Aksidental misalnya seperti "Kualitas".

Kualitas, misalnya seperti warna, tidak dapat ada secara otonom atau terlepas dari eksisten - eksisten yang menjadi "tempat" atau "wadah" bagi keberadaannya.
Warna merah misalnya — manusia tidak bisa menjumpai "Merah" secara terlepas dari eksisten - eksisten yang menjadi "tempat" atau "wadah" bagi keberadaannya melainkan harus menjumpai "Merah" sekaligus menjumpai "tempat" atau "wadah" baginya untuk melekat dan berada juga misalnya seperti apel merah, cat merah, bibir merah dan lain - lain.
Jika eksisten - eksisten yang menjadi "tempat" atau "wadah" untuk melekat dan beradanya warna merah seperti apel merah, cat merah, bibir merah, dan lain - lain tidak eksis, maka warna merah pun tidak eksis.

Hukum Alami atau Hukum Alam, juga tidak bisa dijumpai secara terlepas dari eksisten - eksisten yang menjadi "tempat" atau "wadah" baginya untuk melekat dan berada.
Jika eksisten - eksisten yang menjadi "tempat" atau "wadah" baginya untuk melekat dan berada tidak eksis, maka Hukum Alami pun tidak eksis.

Analoginya seperti korek api, api, dan cahaya yang dipancarkannya.
Cahaya api, tidak dapat ada atau memancar tanpa eksisten yang membuat cahaya api itu ada, yaitu api itu sendiri.
Api, juga menjadi "tempat" atau "wadah" bagi keberadaan cahayanya.
Api tidak dapat menyala tanpa "Membawa" eksistensi aksidental yang melekat padanya yaitu cahayanya — dan cahayanya tidak dapat memancar tanpa "menumpang" kepada eksistensi substansial yang menjadi "tempat" atau "wadah"nya untuk ada dan melekat, yaitu api itu sendiri.
Api tidak dapat menyala dengan mendahului cahayanya, dan cahayanya tidak dapat memancar dengan mendahului apinya.
Kedua - duanya hanya bisa menyala dan memancar secara bersamaan.
Jika cahayanya kekal dan selalu ada, maka apinya pun juga harus kekal dan selalu ada.
Jika apinya kekal dan selalu ada, maka cahayanya pun harus kekal dan selalu ada.
Tetapi agar kedua - duanya (api dan cahayanya) ada dan tidak hanya menjadi potensi semata, maka harus ada yang menyalakan koreknya.
Api dan cahayanya tidak dapat ada tanpa ada yang membuatnya menyala dan memancar — dan jika korek api itu tidak ada yang menyalakannya, maka korek api itu hanya menjadi beberapa potongan kayu dan beberapa butir belerang semata dan api serta cahayanya yang "bertempat tinggal" di dalam korek api tersebut hanya akan menjadi eksisten potensial semata.

Di dalam analogi di atas Alam saya analogikan seperti api dan Hukum Alam saya analogikan seperti cahayanya.
Hukum Alam tidak dapat ada atau pun berlaku tanpa adanya Alam yang membuatnya ada atau pun berlaku.
Alam tidak dapat ada tanpa adanya Hukum yang menyertai dan mengaturnya seperti yang telah banyak diketahui oleh manusia saat ini bahwa tidak ada satu pun benda di alam semesta yang bebas dari Hukum yang menyertai dan mengaturnya.
Hukum Alam tidak dapat ada terlebih dahulu tanpa adanya Alam yang membuatnya ada dan berlaku.
Alam sebagai eksisten substansial dan Hukum Alam sebagai aksidennya hanya dapat ada secara bersamaan dan mustahil saling mendahului satu sama lain.
Jika Hukum Alam kekal, maka Alamnya pun juga harus kekal dan itu adalah hal yang mustahil — dan jika Alamnya kekal, maka hukum - hukumnya pun juga harus kekal dan itu juga adalah hal yang mustahil.
Karena Alam dan Hukum Alam hanya dapat ada secara bersamaan, maka kedua - duanya haruslah memiliki awal dan penyebab akan keberadaannya karena menurut ilmu pengetahuan ilmiah dan prinsip kausalitas, Alam atau lebih tepatnya Alam Semesta adalah eksisten yang membutuhkan penyebab agar ia ada terlepas dari apa dan siapa yang menyebabkannya karena titik penekanan yang paling penting adalah Alam Semesta haruslah memiliki sebab dan berawal.

Sampai disini pertanyaan yang menurut saya harus diajukan adalah :

1.Apakah Hukum Alam eksis dan berlaku sebelum adanya Alam Semesta ?

2.Bisakah Hukum Alam tetap berlaku jika keadaan jagad raya sebelum adanya Alam Semesta masih kosong dan belum ada eksistensi apa pun ?

Jawab :

1.Hukum Alam belum eksis sebelum Alam Semesta ada.
Karena seperti yang telah saya jelaskan di awal bahwa pertama, Hukum Alam adalah Aksiden dan eksistensinya bersifat Aksidental, dan setiap Aksiden eksistensinya bergantung kepada eksisten yang bersifat substansial.
Alam Semesta, misalnya seperti galaksi, bintang, planet, dan sebagainya menurut pengetahuan ilmiah adalah eksisten yang bersifat substansial karena di dalam dirinya berisi zat dan substansi yang menjadi komposisi dirinya.
Karena Hukum Alam adalah eksisten yang bersifat bersifat Aksidental, dan setiap eksisten yang bersifat Aksidental eksistensinya bergantung kepada eksisten yang bersifat substansial, sedangkan Alam Semesta adalah eksisten yang bersifat substansial yang dimaksud dan Hukum Alam hanya berlaku untuk Alam Semesta, sedangkan Alam Semesta yang eksistensinya bersifat substansial itu belum eksis, maka Hukum Alam belum eksis dan berlaku.

#Bersambung pada thread "Apakah Segala Hukum - Hukum Yang Ada Itu Otonom ?(3)"#
















Juni 09, 2016, 03:13:02 PM
1
Apakah Segala Hukum - Hukum Yang Ada Itu Otonom ?(3) #Sambungan dari thread "Apakah Segala Hukum - Hukum Yang Ada Itu Otonom ?(2)#

2.Tidak Bisa.
Jika keadaan jagad raya sebelum eksisnya Alam Semesta itu kosong dan tidak ada eksistensi apa pun, maka dapat di simpulkan bahwa sebelum eksisnya alam semesta di jagad raya ini tidak ada eksisten, substansi, gerak, dan perubahan.

Hukum Alam berlaku untuk Alam atau lebih tepatnya Alam Semesta, dan berperan sebagai Aksiden bagi Alam Semesta yang eksistensinya bersifat substansial.
Hukum Alam hanya bisa berfungsi ketika jagad raya ini sudah di-isi dan disinggahi oleh eksisten yang memiliki potensi untuk "bergerak" dan "berubah" yaitu Alam Semesta karena, jika jagad raya ini belum di-isi dan disinggahi oleh eksisten yang memiliki potensi untuk "bergerak" dan "berubah" yaitu Alam Semesta, maka Hukum Alam tidak akan bisa "me-realisasikan" atau "melaksanakan" ketetapan, ketentuan, atau undang - undang yang ada pada dirinya untuk "dilaksanakan" atau "dilakukan" oleh Alam Semesta — dan untuk "melaksanakan" atau "melakukan" ketetapan, ketentuan, atau undang - undang yang ada pada Hukum Alam, maka sudah menjadi suatu ketentuan jika Alam Semesta membutuhkan "gerak" dan "perubahan" karena untuk "melaksanakan" atau "melakukan" membutuhkan "Aksi", dan tidak bisa ada "Aksi" tanpa ada "gerak" dan "perubahan".
jika tidak ada "gerak" dan "perubahan", maka tidak ada "Aksi".
Jika tidak ada "Aksi", maka tidak bisa bagi Alam Semesta untuk "melaksanakan" atau "melakukan" ketetapan, ketentuan, dan undang - undang yang ada pada Hukum Alam karena untuk "melaksanakan" dan "melakukan" membutuhkan "Aksi".
Namun yang perlu diingat dari uraian saya di atas yang mengenai "pelaksanaan" ketetapan, ketentuan, dan undang - undang yang ada pada Hukum Alam untuk "dilaksanakan", "dilakukan"
atau "dijalankan" oleh Alam Semesta, jangan ditafsirkan sebagai uraian yang menjelaskan bahwa Hukum Alam adalah eksisten yang "terpisah" dari Alam Semesta dan kemudian memberikan ketentuan, ketetapan, dan undang - undang kepadanya (Alam Semesta) untuk "dijalankan" layaknya seperti pemerintah yang memberikan ketentuan, ketetapan, dan undang - undang untuk dijalankan oleh rakyat, melainkan itu hanyalah cara yang saya pilih untuk menjelaskan bagaimana dan seperti apa mekanisme berlakunya Hukum Alam untuk Alam Semesta dan juga untuk menjelaskan bagaimana Hukum Alam dapat tidak berfungsi ketika tidak ada "gerak" dan "perubahan" di Alam Semesta ini.

Hukum Alam berlaku untuk Alam Semesta dan Alam Semesta eksistensinya bersifat substansial.
Hukum Alam adalah eksisten yang eksistensinya bersifat Aksidental dan setiap eksisten yang eksistensinya bersifat Aksidental, eksistensinya bergantung secara eksistensial kepada eksisten yang eksistensinya bersifat substansial.
Jika Hukum Alam hanya berlaku untuk dan berperan sebagai Aksiden bagi Alam Semesta yang eksistensinya bersifat substansial sedangkan Alam Semesta yang eksistensinya bersifat substansial itu belum ada ketika jagad raya masih kosong dari eksisten dan substansi apa pun, maka Hukum Alam tidak berlaku dan juga sekaligus tidak eksis pada saat jagad raya masih kosong dari eksisten dan substansi apa pun karena Hukum Alam eksistensinya bersifat Aksidental dan setiap eksisten yang eksistensinya bersifat Aksidental, bergantung secara eksistensial kepada eksisten yang eksistensinya bersifat substansial sedangkan keadaan sebelum adanya Alam Semesta jagad raya masih kosong dari eksisten dan substansi apa pun.

* Analisis Perwakilan - Perwakilan Hukum Alami Berdasarkan Sifat Eksistensi dan Wujud Hukum Alami

* Hukum - Hukum Fisika

1. Hukum Archimedes

Bunyi Hukum Archimides :“Jika sebuah benda dicelupkan ke dalam zat cair, maka benda tersebut akan mendapat gaya yang disebut gaya apung (gaya ke atas) sebesar berat zat cair yang dipindahkannya”

Analisis :

* Di dalam bunyi Hukum Archimedes di atas, disitu tertulis bahwa hukum tersebut melibatkan 2 substansi ; yaitu benda dan zat cair.
Menurut Ilmu Pengetahuan Alam , di Alam Semesta ini hanya terdapat 3 jenis benda berdasarkan wujudnya ; yaitu benda padat, benda cair, dan benda gas dan di dalam kaitannya dengan "benda" yang disebutkan di dalam hukum tersebut, pastilah ketiga jenis benda tersebut yang dimaksud karena menurut ilmu pengetahuan ilmiah di Alam Semesta ini hanya terdapat ketiga jenis benda tersebut.

* Di dalam bunyi Hukum Archimedes di atas, terdapat 2 aksi yang menjadi faktor penentu apakah hukum tersebut dapat berfungsi atau tidak ; yaitu "tercelupnya benda ke dalam zat cair" dan gaya apung ( gaya ke atas ).

* Hukum Archimedes di atas hanya berlaku untuk 2 pasang substansi, 1 substansi wajibnya adalah zat cair atau substansi cair, dan 1 substansi lagi yang menjadi pasangannya adalah ketiga jenis benda yang terdapat di Alam Semesta ; yaitu benda padat, benda gas, dan benda cair itu sendiri.
Dalam berpasangan, hanya terdapat satu substansi dari jenis yang sama yang dapat berpasangan ; yaitu benda atau zat cair dengan zat cair — dan selain dari yang telah baru saja disebutkan mustahil dari jenis yang sama dapat berpasangan — mustahil dalam konteks berlakunya hukum tersebut benda padat dapat berpasangan dengan benda padat dan benda gas dapat berpasangan dengan benda gas.
Karena zat padat tidak dapat "dicelupkan" ke dalam zat padat dan menghasilkan gaya apung ( gaya ke atas) begitu juga dengan zat gas.

Berdasarkan sifat eksistensi Hukum Alam yang telah saya tulis pada thread kedua, Hukum Alam dan Alam berada di dalam satu "tubuh" akan tetapi keduanya memiliki sifat eksistensi yang berbeda.
Eksistensi Hukum Alam bersifat Aksidental dan eksistensi Alam bersifat substansial.
Dan setiap eksisten yang eksistensinya bersifat Aksidental bergantung secara eksistensial kepada eksisten yang eksistensinya bersifat substansial.
Hukum Alam eksistensinya bersifat Aksidental
dan Alam eksistensinya bersifat substansial.
Karena setiap eksisten yang eksistensinya bersifat Aksidental bergantung secara eksistensial kepada eksisten yang eksistensinya bersifat substansial, maka Hukum Alam bergantung secara eksistensial kepada Alam karena Hukum Alam eksistensinya bersifat Aksidental dan Alam eksistensinya bersifat substansial — dan setiap eksisten yang eksistensinya bersifat Aksidental bergantung secara eksistensial kepada eksisten yang eksistensinya bersifat substansial.

Hukum Archimedes adalah Aksiden bagi 2 substansi ; yaitu benda ( padat, cair, atau gas) dan zat cair sebagai substansi wajibnya.
Jika benda ( padat, cair, atau gas ) dan zat cair sebagai substansi wajibnya tidak ada, maka "ketentuan" dan "ketetapan" seperti yang tertulis pada Hukum Archimedes di atas pun juga tidak ada karena 2 substansi yang menjadi "pemilik" ketentuan dan ketetapan tersebut tidak ada seperti tidak adanya "bentuk" jika tidak ada "benda".

Jika benda ( padat, cair, atau gas ) dan zat cair yang menjadi substansi wajibnya tidak ada, maka aksi "tercelupnya benda ke dalam zat cair" pun juga tidak akan pernah terjadi karena kedua eksisten sekaligus substansi ( benda dan zat cair ) yang berperan menjalankan aksi tersebut tidak ada.

Jika benda ( padat, cair, atau gas ) dan zat cair yang menjadi substansi wajibnya tidak ada, maka gaya apung ( gaya ke atas ) yang dihasilkan melalui proses tercelupnya benda ke dalam zat cair pun juga tidak ada karena, menurut hukum tersebut untuk menghasilkan gaya apung ( gaya ke atas ) di butuhkan 2 substansi ; yaitu benda ( padat, cair, atau gas ) dan zat cair — dan jika kedua substansi tersebut tidak ada maka proses "pencelupan benda ke dalam zat cair" dan menghasilkan gaya apung tidak akan bisa dilakukan.

Jika benda ( padat, cair, atau gas ) dan zat cair yang menjadi substansi wajibnya ada tetapi tidak ada "gerak" dan "perubahan", maka ketetapan dan ketentuan yang ada pada Hukum Archimedes tersebut menjadi tidak berfungsi karena untuk melakukan proses "pencelupan benda ke dalam zat cair lalu menghasilkan gaya apung" dan proses "pemindahan berat zat cair" dibutuhkan Aksi, dan tidak ada Aksi tanpa ada "gerak" dan "perubahan".
Jika tidak ada "gerak" dan "perubahan", maka tidak ada Aksi.

#Bersambung pada thread "Apakah Segala Hukum - Hukum Yang Ada Itu Otonom ?(4)#





































Juni 12, 2016, 11:46:28 AM
2
Apakah Segala Hukum - Hukum Yang Ada Itu Otonom ? (4) #Sambungan dari thread "Apakah Segala Hukum - Hukum Yang Ada Itu Otonom ?(3)#

Jika tidak ada Aksi, maka proses "pencelupan benda ke dalam zat cair lalu menghasilkan gaya apung" dan proses "pemindahan berat zat cair" tidak bisa dilakukan karena untuk melakukan kedua proses tersebut membutuhkan Aksi.
Jika proses "pencelupan benda ke dalam zat cair" dan proses "pemindahan berat zat cair" tidak bisa dilakukan, maka ketentuan dan ketetapan yang tertulis pada Hukum Archimedes tersebut tidak bisa berfungsi karena, agar ketentuan dan ketetapan yang tertulis pada Hukum Archimedes tersebut bisa berfungsi, kedua proses tersebut harus bisa dilakukan.

Dua pertanyaan :

1.Apakah Hukum Archimedes eksis sebelum adanya Alam Semesta ?

2.Bisakah Hukum Archimedes tetap berlaku pada saat keadaan jagad raya sebelum adanya Alam Semesta masih kosong dan belum ada eksistensi apa pun ?

Jawab :

1.Benda ( padat, cair, atau gas ) dan zat cair merupakan 2 substansi yang menjadi salah satu bagian, elemen, dan unsur dari totalitas keseluruhan wujud atau "diri" Alam Semesta yang di dalam "dirinya" terdapat dan berlaku ketentuan dan ketetapan seperti yang tertulis pada Hukum Archimedes — dan Hukum Archimedes ini, merupakan Aksiden bagi kedua substansi tersebut karena secara ontologis, sifat eksistensinya melekat, melapis, dan menyatu kepada zat/substansi tersebut yang eksistensinya bersifat substansial.
Oleh karena itu, Hukum Archimedes tidak
ber-eksistensi secara otonom atau "berdiri sendiri" secara terpisah dari zat atau substansi, melainkan "menjadi satu" dengan zat/substansi dan "berasal" dari zat/substansi karena ia ( Hukum Archimedes ) hanyalah ketentuan, ketetapan, dan determinasi yang ada pada zat/substansi tersebut ( benda dan zat cair ).
Eksisnya kedua zat/substansi tersebut ( benda dan zat cair ) "meniscayakan" eksistensi ketentuan, ketetapan, determinasi atau hukum - hukumnya dan tidak eksisnya kedua zat/substansi tersebut "me-negasikan" eksistensi ketentuan, ketetapan, atau hukum - hukumnya.

Hukum Archimedes hanyalah ketentuan dan ketetapan yang ada pada kedua zat/substansi tersebut ( benda dan zat cair ) dan kedua zat/substansi tersebut ( benda dan zat cair ) merupakan salah satu bagian, elemen, dan unsur dari totalitas keseluruhan wujud atau diri Alam Semesta dan oleh karena itu, ketika kita berbicara mengenai "Eksistensi Alam Semesta" maka secara tidak langsung kita juga berbicara mengenai eksistensi kedua zat/substansi tersebut ( benda dan zat cair ).
Maka dari itu, jika Alam Semesta belum eksis, maka kedua zat/substansi tersebut ( benda dan zat cair ) juga belum eksis.
Jika kedua zat/substansi tersebut ( benda dan zat cair ) belum eksis, maka ketentuan dan ketetapan Hukum Archimedes yang ada pada "wujud" atau "diri" kedua zat/substansi tersebut ( benda dan zat cair ) belum eksis karena kedua zat/substansi tersebut ( benda dan zat cair ) yang pada dirinya terdapat ketentuan dan ketetapan Hukum Archimedes belum eksis.

2.Kosongnya jagad raya dari eksistensi apa pun juga mewakili kosongnya jagad raya dari benda ( padat, cair, atau gas ) dan zat cair yang pada dirinya terdapat ketentuan dan ketetapan Hukum Archimedes.

Hukum Archimedes hanya berlaku untuk benda ( padat, cair, atau gas ) dan zat cair yang menjadi substansi wajibnya.
Ketetapan dan ketentuan yang tertulis pada hukum tersebut hanya terdapat pada 2 substansi yang berpasangan ; yaitu benda ( padat, cair, atau gas ) dan zat cair yang menjadi substansi wajibnya.
Karena ketetapan dan ketentuan yang tertulis pada Hukum Archimedes hanya terdapat pada 2 substansi yang berpasangan ; yaitu benda ( padat, cair, atau gas ) dan zat cair yang menjadi substansi wajibnya, maka Hukum Archimedes hanya berlaku untuk zat/substansi yang pada dirinya terdapat ketentuan dan ketetapan seperti yang tertulis pada Hukumnya, dan zat/substansi tersebut adalah benda ( padat, cair, atau gas ) dan zat cair itu sendiri.
Maka dari itu, Hukum Archimedes tidak berlaku untuk "kekosongan" dan"sesuatu lain" yang selain daripada kedua zat/substansi tersebut.

——— Akhir Bahasan ———

2.Hukum Pascal

Hukum Pascal berbunyi : "Jika suatu zat cair dikenakan tekanan, maka tekanan itu akan merambat ke segala arah dengan tidak bertambah atau berkurang kekuatannya".

Analisis :

* Zat cair merupakan 1 substansi/zat yang pada dirinya terdapat ketentuan dan ketetapan
seperti yang tertulis pada Hukum Pascal di atas dan hukum tersebut hanya berlaku untuk 1 substansi/zat tersebut ( zat cair ) karena ketentuan dan ketetapan yang tertulis pada Hukum Pascal hanya terdapat pada 1 substansi/zat tersebut ( zat cair ).
Zat cair adalah substansi/zat yang menjadi faktor penentu eksistensi Hukum Pascal karena Hukum Pascal hanyalah salah satu ketentuan, ketetapan, atau determinasi dari wujud atau "diri" zat cair itu sendiri dan setiap ketentuan, ketetapan, atau determinasi yang ada pada suatu zat/substansi, eksistensinya bergantung kepada eksistensinya zat/substansi yang pada dirinya ada ketentuan, ketetapan, atau determinasi tersebut.

* Terdapat 1 Aksi yang menjadi 1 faktor penentu apakah Hukum Pascal dapat berfungsi atau tidak ; yaitu "merambatnya tekanan ke segala arah" dan untuk melakukan atau menjalakan aksi tersebut, dibutuhkan "gerak" dan "perubahan" pada zat cair yang menjadi substansi/zat — yang memiliki ketentuan dan ketetapan Hukum Pascal.

Berdasarkan sifat eksistensi dan wujudnya, Hukum Pascal adalah Aksiden bagi zat cair yang eksistensinya bersifat substansial.
Wujud Hukum Pascal tidak berada secara "terpisah" dan "menyendiri" dari zat cair, melainkan "menjadi satu" dan berada pada zat cair itu sendiri karena Hukum Pascal hanyalah ketentuan, ketetapan, atau determinasi dari wujud atau "diri" zat cair itu sendiri.
Oleh karena itu, jika zat cair yang pada dirinya terdapat ketentuan dan ketetapan Hukum Pascal tidak eksis, maka ketentuan dan ketetapan Hukum Pascal yang ada pada dirinya pun juga tidak eksis karena, ketentuan, ketetapan, determinasi, atau hukum yang terdapat pada suatu eksistensi, adalah bagian dari totalitas keseluruhan "segala sesuatu" tentang eksistensi tersebut.
Dan tidak bisa eksis "segala sesuatu" tentang eksistensi tersebut, tanpa eksisnya "sesuatu" yang memiliki "segala sesuatu tentangnya".
Karena "segala sesuatu" tentang "sesuatu" tersebut adalah "keterangan - keterangan" tentang perihal eksistensi "sesuatu" tersebut.
Jika "sesuatu" tersebut tidak eksis, maka "segala sesuatu" tentang "sesuatu" tersebut juga tidak eksis karena "sesuatu" yang tidak eksis, tidak memiliki "segala sesuatu tentangnya".

Salah satu contohnya begini :

Air adalah sesuatu yang memiliki keterangan - keterangan atau "segala sesuatu tentangnya".
Berikut adalah sebagian dari keterangan - keterangan dari "segala sesuatu" tentang Air  :

- Air menempati ruang
- Air mempunyai/memiliki berat
- Air meresap melalui celah kecil
- Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah
- Air melarutkan beberapa zat
- Air dapat berubah wujud
- Permukaan air yang tenang selalu datar
- Air memiliki ketetapan dan ketentuan, salah satu ketentuan dan ketetapannya adalah Hukum Pascal

Dan lain - lain.

Sebagian keterangan - keterangan tentang Air yang ada pada substansi/zat Air seperti yang tertulis di atas adalah sebagian dari "segala sesuatu" tentang substansi/zat Air, dan sebagian keterangan - keterangan tentang Air seperti yang tertulis diatas adalah sebagian keterangan - keterangan dari "segala sesuatu" tentang "sesuatu" yang eksis (Air) dan keterangan - keterangan tersebut hanya akan eksis apabila substansi/zat yang "memilikinya" (Air) eksis.
Karena keterangan - keterangan atau "segala sesuatu" tentang "sesuatu", adalah "akibat" atau "konsekuensi" dari eksistensi "sesuatu" tersebut, dan hanya akan eksis apabila "sebab" atau "causa"nya (eksistensi sesuatu) eksis.
Maka dari itu, Hukum Pascal yang merupakan bagian dari "segala sesuatu" tentang Air yang merupakan "akibat" atau "konsekuensi" dari eksistensi Air, tidak dapat eksis terlebih dahulu tanpa eksisnya "sebab" atau "causa" yang menyebabkan eksisnya "segala sesuatu" tentang Air tersebut, yaitu eksistensi Air.

#Bersambung pada thread kelima#


























































Juni 16, 2016, 02:22:36 PM
1
Bisikan Ilahi Di saat aku tenggelam bersama dosa - dosaku padamu
Kau hidupkan cahaya kasihmu, jauh di dalam kegelapan hatiku
Tanda dari betapa besarnya kemuliaanmu padaku

Kau berseru dengan suaramu yang lembut
Namun menggugah hatiku dengan begitu keras

Kau bisikan kata - kata sayangmu padaku dengan mesra dan penuh kelembutan ;
"Basuhlah dirimu, perbuatlah yang baik, dan kembalilah padaku.."


(Muhamad Sultan Amarru, 24 Februari 2000)

September 14, 2017, 01:32:18 AM
1
Pikiran Kotor Hayal nafsu menyelimuti pandanganku
Menghayati kelembutan romansa erotismu
Dalam hening duduk ku

Membuatku kalut dalam bayang - bayangmu
Yang membelenggu gerak pikirku
Yang mendekap erat emosiku

Ingin ku lepas darimu
Yang selalu merangkulku dengan mesra
Namun menjerumuskanku dengan goda

Kau penggoda nakal
Yang menjanjikan kenikmatan sekaligus kesemuan
Dengan rupa molekmu

Kau beriku dosa berbungkus rasa
Dengan tangan putihmu yang najis
Bersama senyum manis

Namun akalku kadang menolak
Walau hasrat sering merayu
Dengan tubuh tak mampu


(Muhamad Sultan Amarru, 24 Februari 2000)

September 14, 2017, 06:25:44 PM
1
Pasif Mengapa kau hanya terdiam saja ?
Menikmati kegelisahan dan kekacauan
Yang sedang bermain di dalam benakmu

Janganlah kau dengarkan dia !
Bisikan - bisikan samar  itu
Yang beradu ribut di pikiranmu

Tegaskan kehendak akalmu !
Janganlah bergantung pada kemalasan rasamu !
Bergegaslah saja dengan spontan


(Muhamad Sultan Amarru, 24 Februari 2000)

September 14, 2017, 10:07:20 PM
1

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan