See likes

See likes given/taken


Your posts liked by others

Halaman: [1] 2 3 ... 31
Post info No. of Likes
Arti Kata dan Makna Kata Nomor : PST.KII/Log-060/2
Edisi : 24 Januari 2012
Judul : Arti Kata dan Makna Kata
Tujuan :
1) dapat membedakan antara arti kata dan makna kata
2) mengetahui tiga jenis makna kata
===============

Kita tentunya sudah tahu tentang dua istilah "arti" dan "makna". Umumnya orang menanggap bahwa "arti" dan "makna" itu adalah sama. Padahal tidak demikian. Kedua istilah itu mengandung pengertian yang berbeda.

Arti adalah denotasi. Sedangkan makna adalah konotasi. Kadang-kadang "makna" itu selaras dengan "arti" dan kadang tidak selaras. Apabila makna sesuatu itu sama dengan arti sesuatu itu, maka makna tersebut disebut Makna Laras (Explicit Meaning). Apabila maknanya tidak selaras dengan "arti", maka sesuatu itu disebut memiliki Makna Kandungan (Implicit Meaning) atau Makna Lazim (Necessary Meaning).

Sebagai contoh kata "Sapi", ia memiliki arti dan makna. "Sapi" sudah memiliki arti sebelum kata tersebut dimasukan ke dalam kalimat, tapi ia belum memiliki makna, karena makna hanya akan terbentuk apabila kata itu sudah dimasukan ke dalam kalimat.

Sebagai contoh :

1. Barja membeli sapi
2. Barja memukul sapi
3. Barja menarik sapi

"Sapi" pada Kalimat no. 1 itu memiliki makna yang sama dengan artinya, yaitu sapi. Pengertian yang menyeluruh tentang sapi tersebut itulah yang disebut Makna Laras (Explicit Meaning). Ketika Barja membeli sapi, tentu yang dibeli adalah keseluruhan tubuh sapi itu, mulai dari kepala, kaki hingga ekornya. Oleh karena itu, makna "Sapi" dalam kalimat tersebut adalah sama dengan arti "Sapi", sehingga disebut memiliki Makna Laras.

Berbeda halnya dengan kalimat No.2. yang dipukul oleh Barja adalah sebagian dari tubuh sapi itu, mungkin pantatnya, mungkin kakinya saja, atau mungkin kepalanya saja. Oleh karena itu "Sapi" dalam kalimat No.2 tersebut tidak selaras dengan artinya, melainkan hanya kandungan dari arti tersebut. Oleh karna itu "Sapi" dalam kalimat No.2 tersebut disebut memiliki Makna Kandungan (Implicit Meaning).

Adapun kata "Sapi" dalam kalimat No.3 adalah memiliki Makna Lazim (Necessary Meaning). Karena ketika Barja menarik sapi, sebenarnya yang dipegang adalah talinya. Dia menarik tali itu, tidak secara langsung menarik tubuh sapi. Kendatipun yang Barja pegang dan dia tarik secara lansung adalah tali kendali sapi dan bukan sapinya secara langsung, tetapi sudah lazim dikatakan bahwa bahwa hal itu disebut "menarik sapi". Itulah mengapa disebut "Makna Lazim".

Jadi makna kata itu hanya terdiri dari tiga :

1. Makna Laras (Explicit Meaning)
2. Makna Kandungan (Implicit Meaning)
3. Makna Lazim (Necessary Meaning)

Untuk menerampilkan diri memahami perbedaan arti dan makna, serta mampu membedakan setiap kata kepada golongan maknanya masing-masing, maka silahkan amati setiap kata dalam kalimat kemudian sebutkan golongan maknanya masing-masing.

Januari 24, 2012, 09:14:46 PM
2
Butuh Keterampilan Mental Untuk Menggunakan Logika Untuk dapat menggunakan logika, seseorang tidak hanya membutuhkan kemampuan menghafal dan memahami cara kerja syllogisme, melainkan juga membutuhkan keterampilan mental tertentu, dimana pada suatu tahap mental tertentu secara otomatis pikiran mampu mengingat dan memahami keterkaitan satu hal dengan hal lainnya.

Seseorang yang menguasai ilmu logika, tapi tahapan batinnya masih rendah, pikirannya akan bergerak secara lokal. Dia dapat menggunakan logika dengan benar, tapi pikirannya tidak akan mampu "ngelink" ke berbagai persoalan lain yang relevan dengan persoalan yang sedang dipikirkan ketika itu. Dia seperti hanya dapat melihat "dunia yang kecil". Tapi apabila kemampuan mentalnya berkembang, maka ia akan dapat melihat dunia yang lebih luas.

Sumber : A. Rochman, Logika, No. 12081

Pebruari 01, 2012, 02:43:45 PM
2
transfer logika ke dalam dunia Islam karya Aristoteles dalam bidang ilmu berpikir itu disalin ke dalam bahasa Arab pada masa pemerintahan Daulat Abbasiyah &50-1258 M) di Baghdad, diberi nama : Ilmu Al-Mantiq. Bermula disalin oleh Al-Kindi(801-886 M) dan disempurnakan istilah-istilahnya (dalam bahasa Arab) oleh Al-Farabi (874-950 M). Nama yang diberikan kepada ilmu itu bermakna : Ilmu Tentang Alat Berpikir. (Joesoef Sou`yb, Logika, hal. 4)
Pebruari 13, 2012, 06:40:36 PM
1
Dosen NII Rojali, seorang pria berumur 27 tahun. Dia memperoleh beasiwa dari pemerintah hingga bisa kuliah di salah satu universitas di Bandung. kendatipun seratus persen dibiayai oleh pemerintah, tapi Rojali terpaksa berhenti bekerja sebagai accounting manejer di sebuah perusahaan, karena jadwal kuliahnya sangat padat. Bagi Rojali,  itu merupakan suatu pengorbanan yang besar, berhubung tidak mudah untuk mencari pekerjaan. Tapi karena Rojali sangat ingin kuliah, ia berani mengorbankan pekerjaannya. Istri Rojali pun mengdukung.

Rojali, yang sudah punya 2 anak, kini jadi anak sekolahan lagi. dia duduk di bangku kuliah bersama anak-anak ABG. Pasti itu menyenangkan. terlebih lagi, banyak dosen muda dan cantik. seperti Salma, dosen statistik yang baru berumur 24 tahun, membuat Rojali sangat bersemangat menjalani perkuliahan.

Dosen cantik bernama Salma itu sering memanggil Rojali ke ruangannya. Mula-mula bincang-bincang biasa aja. ternyata lama-lama itu dosen itu ingin mengajarkan doktrin NII kepada Rojali. Rojali menanggapi aja. Sebenarnya Rojali juga seorang mantan NII. Cuma karena seneng diajak ngobrol sama dosen cantik, ya Rojali pura-pura  bodoh, gak tau apa-apa soal NII. Seolah-olah Rojali mau-mau aja diajak bergabung ke NII.

Kawan-kawan kuliah Rojali mulai curiga, kenapa Rojali begitu dekat dengan itu dosen cantik. digosipkan ada kedekatan khusus, Rojali makin suka. dia bilang, "gw sering dipanggil ke rumahnya lho, kalau malam."

"Ah, yang bener!?" Agus.

Pada waktu istirahat kuliah, Rojali dan Salma sering tampak duduk berdua di perpustakaan, di mushola atau di kantin. Gosip pun makin panas. Rojali makin senang hatinya.

Satu semester sudah berlalu. Sudah banyak hal yang dijelaskan Salma kepada Rojali. Salma sangat berharap Rojali mau mengikuti jejak langkahnya untuk masuk NII. Akhirnya Salma mendesak Rojali untuk bersyahadat ala NII. tapi Rojali selalu menolak. Salma akhirnya kesal dan bertanya, "Kenapa sih kang, Akang menolak terus menerus? padahal semua dalil kebenaran NII kan sudah saya jelasin semuanya?"

Rojali tersenyum geli. dan menjawab, "Bu dosenku yang cantik, mohon maaf beribu maaf, saya ini dulu adalah dedengkot NII. Nah tuh yang ngebangun gedung markas NII itu saya sama teman-teman. Maksudnya, saya ikut serta membangun gedung itu. saya tau nama tokoh-tokoh NII, dan tau markas-markas NII di mana saja. " Bahkan Rojali menyebutkan nama-nama dan tokoh-tokohnya. Salma terkejut. Dia tidak menyangka, bahwa orang yang selama ini "diasuhnya" dan "dibujuk" untuk masuk NII, ternyata mantan orang NII.

Lalu Rojali menyuguhkan argumen-argumen, mengapa ia keluar dari NII. semua argumen itu cukup menggoyangkan keimanan Salma. lalu, Salma dengan sedih menemui para ustadz NII tentang keraguan hatinya. Hendra, salah satu ustadz NII itu berkata, "Nah, sudah, tinggalkan saja mahasiswa mu yang itu, gak usah dipikirin, cari mahasiswa yang lainnya yang bisa kita rekrut. Trus, kamu harus segera menikah, agar kamu tentram dalam menjalani ibadah."

Salma memutuskan untuk menjauhi Rojali. Rojali mengerti dengan sikap dosennya itu. Akhir semester, seperti biasanya dia masih memperoleh Nilai A. Teman-teman kuliahnya protes, "bu, kenapa si Rojali dapat nilai A, padahal nilai statistika dia itu selalu jeblok."

bu Salma yang cantik itu berkata, "itu karna saya menghargai perjuangannya. dia memang nilainya selalu jeblok, tapi usaha keras."

itulah terakhir kali Rojali melihat Salma. Setelah itu Rojali hanya mendengar kabar bahwa Salma telah menikah, dan Rojali pun out dari kampus tanpa lulus.


Maret 03, 2012, 04:09:01 PM
1
Bukan Untuk Pemalas Logika bukanlah hukum yang berguna bagi orang-orang yang malas untuk berpikir. Mengapa? Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, untuk dapat menggunakan logika dibutuhkan konsentrasi, semangat dan kemauan mengingat-ngingat. Faktor kemalasan akan membuat seseorang gagal dalam menggunakan logika yang mengandung hukum yang kompleks.

Berguna artinya bisa dimanfaatkan. Orang yang malas berpikir, tentu tidak akan dapat memanfaatkan Logika. Hukum-hukum yang berlaku pada Logika tidak akan dimanfaatkan. Tidak hanya logika, mungkin pemalas cenderung tidak dapat memanfaatkan segala sesuatu yang seharusnya bisa dimanfaatkan. Demikian pula halnya dengan Logika. Sebagus-bagus Logika, bagi orang yang malas menggunakannya tentu logika tidak akan ada gunanya sama sekali.

Semangat dan kemauan, itu adalah pondasi untuk bisa menggunakan logika. Tapi semangat dan kemauan saja tentunya belum cukup. Seseorang harus memiliki pengetahuan yang cukup di bidang logika itu sendiri. Adanya pengetahuan yang ditunjang dengan semangat dan kemauan, itulah yang akan membuat seseorang bisa menggunakan logika. 

Sumber : A. Rochman, FILSAFAT,  No.12410

Maret 04, 2012, 04:24:18 PM
1
Tabel Logika Tabel Logika

Sebelum membaca table Logika (Modus syllogisme), sebaiknya difahami terlebih dahulu 4 bentuk categorical proposition, sebagai berikut :

(A) . Setiap A adalah B
(E) . Setiap A bukan B
(I) .  Sebagian A adalah B
(O). Sebagian A bukan B

Contoh :
(A) . Setiap emas adalah logam
(E) . Setiap kayu bukan logam
(I) .  Sebagian logam adalah emas
(O). Sebagian logam bukan emas

Jika bentuk-bentuk proposisi tersebut digabung-gabungkan, maka akan melahirkan kesimpulan-kesimpulan. Misalnya, jika bentuk A digabungkan dengan bentuk A, maka akan melahirkan keterangan bentuk A pula. Contoh :

(A). Setiap emas adalah logam.
(A).Setiap logam adalah benda padat.
 (A). setiap emas adalah benda padat

Bentuk I, jika digabungkan dengan bentuk E, maka akan melahirkan bentuk O. Contoh :
(I). Sebagian logam adalah emas
(E). Setiap emas bukanlah kayu
 (O). Sebagian logam bukan kayu

Kesimpulan tersebut adalah kesimpulan yang benar. Walaupun dalam bahasa sehari-hari ada kemungkinan bahwa kesimpulan tersebut dianggap salah. Karena bila kita mengatakan bahwa “Sebagian logam bukan kayu”, maka pihak pendengar biasanya mengasumsikan bahwa itu berarti kita menyatakan “sebagian logam adalah kayu”. Tetapi dalam bahasa logika tidak demikian. Jika kita menyatakan bahwa sebagian logam bukan kayu, tidak mengandung arti kita menyatakan sebagian logam adalah kayu. Jadi, kita harus membedakan antara bahasa awam dengan bahasa logika.

Setiap bentuk psoposisi dapat digabungkan dengan bentuk lainnya. Seluruh penggabungan tersebut adalah 16 bentuk, seperti tampak pada table berikut :

    

16 belas ikat pikiran (Modes) tersebut diterapkan pada 4 bentuk kerangka berpikir (figure), jadi jumlah seluruhnya ada 64 buah ikat pikiran (Modes). Mengenai keranga berpikir (figure) dibahasa pada bab lain.

Agar setiap kesimpulan tersebut tidak salah, maka harus mematuhi 6 hukum logika. (lihat pada bab : Hukum Aristoteles). Berdasarkan hokum logika, maka modus syllogisme itu hanya sebagian saja  yang lolos sebagai modus yang sah. Tampak pada tabal berikut :










Sumber : A. Rochman, LOGIKA,  No.12412

Maret 05, 2012, 12:12:14 PM
2
Keharusan Menggunakan Logika


Munculnya fatwa haram untuk mempelajari logika dari beberapa ulama terkemuka seperti Ibnu Tiamiyah dan Ibn As-Shalah, merupakan hal yang aneh dan tidak masuk akal. Karena Logika adalah suatu kemestian rasional. Manusia wajib menggunakan logika. Menggunakan Logika berarti menggunakan akal yang sehat.

Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya (Yunus : 100)
Orang yang waras mustahil menolak logika.

Kutip
Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat niscaya atau mesti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan yang mungkin (all possible intelligebles). Contohnya, sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya. Prinsip berfikir ini telah tertanam secara niscaya sejak manusia lahir. Tertanam secara spontan. Dan selalu hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh, prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud (the very property of being). Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan seluruh bagunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia. (Dimitri Mahayana, http://filsafatislam.net/?p=44)

menurut pandangan Russel, seluruh pengetahuan hanya dapat difahami apabila diungkapkan dalam bentuk bahasa logika (Drs. Rizal Mustansyir, Filsafat Analitik, Hal. 45)

Logika adalah hukum berpikir tepat, berguna untuk menghindarkan diri dari kesalahan berpikir. Logika merupakan bagian dari ilmu bahasa. Tapi anehnya, Logika seringkali menjadi musuh yang sengit bagi kelompok-kelompk tertentu. Apalagi ketika logika mulai mengusik keyakinan mereka yang tidak sejalan dengan logika, maka kemudian sejarah membuktikan, tidak saja muncul fatwa haram untuk logika, melaikan juga usaha melarang peredaran buku-buku logika, pusat-pusat pendidikan logika dibakar, serta para guru logika dibunuh. Nasib para guru besar ilmu logika, seperti nasibnya para nabi, dianiaya oleh umat yang merasa keyakinannya terusik. Itu semua tercatat dalam literatur sejarah ilmu logika.

Terkadang orang menentang sengit terhadap ilmu logika hanya karena ilmu logika ditemukan dan disusun oleh filsuf Yunani yang bernama Aristoteles pada tahun 400 SM, di mana Aristoteles tidak tercatat sebagai umat kristen ataupun umat Islam.  Maka kaum agamis yang fanatik berpikir “tidak mungkin kebenaran datang selain dari golongan kami. Kebenaran itu datang hanya dari kami, karena Tuhan bersama kami.” Inilah ideologi dasar yang mendasari penentangan sengit kaum tertentu terhadap logika. Padahal tak seorangpun yang dapat melepaskan diri dari persoalan logika, sebagaimana yang dinyatakan oleh Russel dan Dimitri Mahayana, bahwa seluruh pengetahuan hanya bisa difahami melalui bahasa logika dan menolak logika berarti meruntuhkan seluruh bangunan agama, filsafat, teknologi dan ilmu pengetahuan.

Pemikiran lain yang cukup menggelitik adalah, diantara mereka ada yang berpikir bahwasannya ajaran Islam adalah ajaran yang sempurna. Untuk memahami kebenaran, serta untuk keselamatan dunia dan akhirat cukuplah dengan mempelajari Islam yang sempurna itu, yang diajarkan oleh Rasul Allah, dan bukannya mempelajari Ilmu Logika yang justru diajarkan oleh kaum kafir (non muslim). Tampaknya ini pemikiran yang benar. Tapi pertanyaannya, apakah dengan mempelajari Islam berarti harus menolak logika? Lebih dari itu, apakah dengan mempelajari Islam seseorang akan dapat menolak logika? Jawabanya “mustahil”.

Mereka berkata, “Jika saja logika itu merupakan bagian yang begitu penting dalam hidup, maka pastilah nabi Muhammad akan memberi tahu kita atau menyuruh kita untuk mempelajari ilmu itu?” Tampaknya ini hal yang benar. Tapi pertanyaannya, apakah setiap segala sesuatu yang nabi tidak memberi tahu, tidak mengajarkan atau tidak memerintahkan kita untuk mempelajari berarti hal itu, berarti tidak penting dalam kehidupan kita? Jawabannya “tidak demikian”.

Logika adalah Hukum Alam, yang manusia harus tuntuk kepada hukum ini. Pelanggaran terhadap hukum ini berarti merusak hubungan harmoni antara alam dengan dirinya. Aristoteles bukanlah pencipta Logika yang sebenarnya, ia hanya mencatat hukum-hukum yang terjadi pada alam ini, serta menciptakan istilah-istilah baru bagi hukum-hukum yang teramatinya itu. Hanya karena itulah kemudian ia disebut pencipta logika. Akan tetapi, semua manusia termasuk para nabi dan orang-orang shaleh berpikir dengan cara logika itu sendiri, logika yang tanpa istilah. Seperti ketika nabi saw berdialog dengan para pendeta tentang ketuhan Yesus, nabi saw bertanya, “kenapa kalian menganggap Isa putra Maryam sebagai anak Tuhan?” para pendeta itu menjawab, “karena Isa tidak mempunyai ayah. Maka tidak lain ayahnya itu adalah Allah.” Kemudian nabi bertanya, “Adam a.s juga tidak mempunyai ayah. Mengapa kalian tidak menyebutnya anak Allah?”

Itulah nabi muhammad. Jikalau dipulangkan ke dalam Logika Aristoteles, maka bentuk sebagai berikut :

Isa a.s adalah yang tidak mempunyai ayah
Setiap yang tidak mempunyai ayah adalah anak Allah
Jadi, isa adlah anak Allah.

Sang nabi kemudian menguji premis mayor, “Adam tidak punya ayah. Apakah adam anak Allah?” tapi para pendeta tersebut tidak dapat mengakui kalau adam a.s adalah anak Allah. Dengan demikian batalah premis mayor dari para pendeta itu.  Hal serupa itu dilakukan oleh nabi-nabi lainnya sebelum nabi Muhamad. Oleh karena itu merupakan hal yang konyol apabila orang menolak logika dengan alasan bahwa logika tidak diajarkan olh nabi saw. Faktanya para nabi seluruhnya berdakwah dengan logika itu. Bedanya mereka tidak menyebut ini premis mayor dan ini premis minor, yang itu Konklusi dan yang ini Definisi.

Yang dimaksud ilmu Allah bukanlah saja apa yang tertulis di dalam kitab Quran dan Hadits, sehingga menganggap selainnya bukan ilmu Allah. Sesunguhnya matematika, ilmu bahasa, Filsafat, biologi, fisika, kimia, dan seluruh bangunan ilmu yang haq adalah dari Allah, tidak terkecuali dengan Logika itu sendiri. Oleh karena itu merupakan hal yang konyol lagi bila menolak logika dengan alasan bahwa logika diajarkan oleh non muslim. Apalagi sementara itu, dia mempelajari ragam ilmu dan teknologi di tempat pendidikan tak lepas dari jasa-jasa orang-orang non muslim. Albrert Esntein, Thomas Alpa Edison, James Watt, dll, mereka telah mengajarkan pengetahuan-pengetahuan yang begitu penting untuk kita pelajari saat ini, tak terkecuali dengan apa yang diajarkan oleh Aristoteles.

Kemampuan berpikir logis, memang tidak selalu harus atas dasar logika Aristoteles. Secara alami, seseorang yang berpikiran jernih mampu melahirkan pemikiran-pemikiran yang logis. Ada perbedaan antara logika dengan ilmu logika. Tidak masalah jika orang enggan mempelajari dan menggunakan ilmu logika karya Aristoteles. tapi, menggunakan logika itu sendiri merupakan kemestian. jika orang menggunakan logika dengan benar, mustahil pula dia menyangkal kebenaran ilmu logika yang diajarkan oleh Aristoteles.

Maret 07, 2012, 02:58:44 PM
1
Argumentasi Yang Mematahkan

Dalam suatu perdebatan, satu pihak dengan pihak lainnya seringkali berupaya saling mematahkan argumentasi orang lain, mencoba menunjukan kesalahan-kesalahan di dalam pendapat, keyakinan atau pemikiran orang lain. Terlepas dari baik buruk, benar salah tindakan tersebut, tapi perlu dicermati, dengan apa seseorang dapat mematahkan argumentasi orang lain?

Argumentasi yang dapat mematahkan argumentasi orang lain bukanlah argumen milik yang kita yakini kebenarannya, tapi justru yang diyakini kebenarannya oleh oranng lain. Dalam berdebat, seorang logicer hendaknya tidak mengeluarkan pendapatnya sendiri, melainkan hanya berupaya menggali pemikiran dari lawan bicara untuk memeriksa adakah pertentangan di dalam pemikiran lawan bicara itu? Jika tidak ada, artinya tidak ada suatu argumentasipun yang bisa digunakan untuk mematahkan argumentasi lawan bicara. Jika ada, maka pertentangan itulah yang menjadi argumentasi untuk mematahkan argumentasi lawan bicara. Dengan kata lain, argumentasi orang lain hanya bisa dipatahkan oleh dirinya sendiri. Adapun tugas logicer hanyalah sebagai pembantu, pelayan, atau pembimbing kesadaran dari lawan bicara itu.

Kemampuan menemukan pertentangan di dalam pemikiran orang lain bukanlah suatu hal mudah. Hampir tidak ada seorangpun yang merasa dirinya memiliki pemikiran yang bertentangan, kendatipun sebenarnya dia memiliki banyak pemikiran yang saling bertentangan. Butuh suatu cara dan latihan untuk menerampilkan diri menemukan pertentangan di dalam pemikiran orang lain. Dua faktor mental “mengingat” dan “menghubungkan”, itulah perangkat yang dibutuhkan untuk membantu orang lain menemukan pertentangan di dalam pemikiranya sendiri.

Selain cara, dalam upaya menemukan pertentangan di dalam pemikiran orang lain harus dilandasi dengan niat yang baik, yaitu niat membantu orang lain menemukan kesalahan di dalam pemikirannya sehingga dia bisa memperbaiki diri. Tidak boleh dengan niat jahat, seperti untuk mempermalukan orang lain atau menjatuhkan kehormatannya. Perbedaan niat ini akan memberikan arahan yang berbeda di dalam tindakan.

Apakah yang sedang dinyatakan oleh seseorang saat ini? Perlulah dicermati dengan sebaik-baiknya. Dan setiap termnya dihubungkan ke seluruh pernyataan yang pernah dia nyatakan sebelumnya. Apakah pernyataan yang ini bertentangan dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya atau tidak. Kemudian, Jikalau ditemukan term yang sama, disitulah conclusi mungkin terjadi dan pemeriksaan dimulai, apakah conclusi tersebut diakui kebenarannya dan apakh bertentangan dengan seluruh proposisi yang telah dikemukakannya atau tidak?



Maret 11, 2012, 12:19:22 AM
1
Marisa dan Astuti Cewek Lesbi sewaktu "masih nakal" saya sering chating di MiRC dengan menyamar diri sebagai perempuan. maksudnya ingin mengetahui bagaimana para lelaki hidung belang menyapa dan menggoda perempuan. Hasilnya, wuih... begitu login langsung ditembaki hai hallo dari para user pria. Waktu itu saya menyamar dengan nama Cewex.

ada juga user peremuan yang menyapa saya dengan nick Ce_Lesbi. tentu saya, sebagai pria saya lebih suka mengobrol dengan wanita. jadi, akhirnya saya abaikan semua user pria dengan segala rayuan gombalnya dan mulai asyik larut dalam perbincangan dengan user Ce_Lesbi. Pembicaraan terus menjuru ke hal-hal yang berbau sex. Dia mengaku penyuka sesama perempuan alias lesbian dan mengaku nama aslinya Marisa. Diapun memperihatkan foto-foto dirinya di friendster, cantik dan seksi. dan hal yang membuat saya berdebar-debar adalah foto-fotonya yang vulgar, porno. "Itu adalah foto-foto asli saya". Demikian kata Marisa.

Sudah pukul 12 malam. kami masih asyik mengobrol. tak disangka itu si Marisa mengajak bertemu langsung untuk bercinta. sebagai cewex yang mengaku nama asli Astuti, saya menyatakan bersedia untuk memenuhi keinginannya. "aduh, bagaimana nih, ntar saya ketauan kalau saya ini laki-laki". Demikian pikir saya. tapi saya tetap menyatakan bersedia karena sangat penasaran ingin melihat kecantikan Marisa secara langsung. kamipun bertukar nomor HP. lalu sms-an.

Janjian, besok bertemu langsung. Marisa akan menunggu di Gazeebu Bandung, tepat depan monumen jam sepulu pagi. Esok harinya, dengan bersemangat saya langsung ngebut menuju Gazeebu. sesampainya di sana, belum terlihat ada seorang cewek sedang menunggu. sayapun sms "Marisa, kamu masih di mana, kok belum datang?"

"Sabar sayang, ini saya masih di jalan!" Demikian jawaban dalam SMS tersebut.

lima belas menit kemudian, masih belum datang juga. rasanya tak sabar ingin melihat cantiknya wajah Marisa. sms-an tak ada hentinya, tanya ini dan itu. "nati kamu pakai baju apa, biar saya mudah mengenalinya?" lalu Marisa membalas, "saya pakai baju merah jambu."

Setengah jam kemudian Marisa sms lagi, "Astuti sayang, saya sudah di Gasibu, kamu sebelah mana?"

sayapun membalas, menjelaskan posisi dan ciri-ciri palsu saya. ditunggu-tunggu, tak ada seorangpun cewek yang tampak datang kesitu mencari seseorang. Setiap ada cewek lewat, saya terprangah, jangan-jangan itu adalah Marisa. tapi tak kunjung terlihat seorangpun dengan ciri-ciri seprti Marisa. Kesel juga menunggunya.

Dari pada bosan, saya menyapa seorang pria yang sedang duduk tak jauh dari tempat duduk saya. Dia juga tampak sedang sms-an. Pria itu memang sudah agak lama duduk di situ, beberapa menit setelah saya tiba di situ. "Sedang apa A? lagi refreshing ya?"

"Oh, ini sedang menunggu teman." Demikian jawab pria itu.

"ow... cewek atau cowok?"

"cewek". Jawabnya.

"emank temannya asal dari mana?"

"Dari cibiru. saya janjian di sini, tapi udah lama dia belum datang juga." tutur pria itu.

saya terkejut, jangan-jangan .... tapi saya sebunyikan rasa keterkejutan saya dan berusaha tersenyum ramah

"Oh.. kebetulan saya juga dari Cibiru. emank nama temannya siapa, barangkali saya kenal dia?" kata saya.

"Namanya Astuti ..."

Jeder .. rasanya kepala saya dikatepel.

"O ya. saya gak kenal tuh. eh, permisi ya. saya harus cepat pulang!" kata saya. dongkol seengah mati. ternyata itu si Marisa cowok yang sama-sama nyamar jadi cewek. cabut, langsung pulang.

di tengah jalan si Marisa gadungan berkali-kali sms, "sayang aku udah nunggu dari tadi, kamu di mana, katanya udah nyampe duluan?"

gak saya jawab. hanya dalam hati "Brengsek luh!" dongkol banget.

sekarng kalau ingat pengalaman itu, kadang saya merasa ingin tertawa terbahak-bahak.

Maret 14, 2012, 12:37:12 AM
1
Re:Cantik Banget, Gan! namanya kotakoti.  dapet dari sini >> http://www.ruanghati.com/2012/03/28/kotakoti-cewek-bening-ini-nyaris-100-persen-seperti-boneka-barbie/





kok bisa ya, perempuan secantik itu? bagaimana kalau bidadari ?



kalau udah tua, keriput juga tuh kayaknya. he.. he..





kecantikan yang memukau, gan!




duh duh ... anak siapa sih itu, kok cantik banget!



biar cantik juga, punya orang gan, gak ada rasanya.



bagaimana kalau agan punya istri secantik itu?



mau enggak gan, punya pacar secantik itu?



di sekitar agan, ada enggak yang lebih indah dari itu?



ingat pada sang pencipta, Gan!



siapakah yang dapat menciptakan makhluk seindah itu?



hati-hati Gan, ntar terbayang-bayang terus, kagak bisa tidur. he..he..



cantik wajahnya, bagaimana dengan hatinya, apa pasti cantik?



nah tuh, ngedipin agan. he.. he..



Ssst! jangan godain dia, ntar bapaknya marah!



kalo agan udah klepek2, istigfar aja!



kayaknya gw nih yang klepek2.




waduh, tambah mabok nih gw .. ha.. ha...



waduh, harus segera meditasi asubha nih ....



lahir, sakit, tua dan mati. semua orang akan segera menjadi tulang belulang. yang cantik, yang jelek. semuanya sama saja, akan tertimbun tanah pekuburan.



kalau dia cantik, manfaatnya buat agan apa?



kalo kepala agan jadi puyeng, itu artinya kecantikan tuh bocah merugikan agan. he.. he..



udah gan ah, .. ntar pingsan .. he.. he..





April 02, 2012, 05:04:55 PM
1

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan