See likes

See likes given/taken


Your posts liked by others

Halaman: [1] 2 3 ... 42
Post info No. of Likes
Arti Kata dan Makna Kata Nomor : PST.KII/Log-060/2
Edisi : 24 Januari 2012
Judul : Arti Kata dan Makna Kata
Tujuan :
1) dapat membedakan antara arti kata dan makna kata
2) mengetahui tiga jenis makna kata
===============

Kita tentunya sudah tahu tentang dua istilah "arti" dan "makna". Umumnya orang menanggap bahwa "arti" dan "makna" itu adalah sama. Padahal tidak demikian. Kedua istilah itu mengandung pengertian yang berbeda.

Arti adalah denotasi. Sedangkan makna adalah konotasi. Kadang-kadang "makna" itu selaras dengan "arti" dan kadang tidak selaras. Apabila makna sesuatu itu sama dengan arti sesuatu itu, maka makna tersebut disebut Makna Laras (Explicit Meaning). Apabila maknanya tidak selaras dengan "arti", maka sesuatu itu disebut memiliki Makna Kandungan (Implicit Meaning) atau Makna Lazim (Necessary Meaning).

Sebagai contoh kata "Sapi", ia memiliki arti dan makna. "Sapi" sudah memiliki arti sebelum kata tersebut dimasukan ke dalam kalimat, tapi ia belum memiliki makna, karena makna hanya akan terbentuk apabila kata itu sudah dimasukan ke dalam kalimat.

Sebagai contoh :

1. Barja membeli sapi
2. Barja memukul sapi
3. Barja menarik sapi

"Sapi" pada Kalimat no. 1 itu memiliki makna yang sama dengan artinya, yaitu sapi. Pengertian yang menyeluruh tentang sapi tersebut itulah yang disebut Makna Laras (Explicit Meaning). Ketika Barja membeli sapi, tentu yang dibeli adalah keseluruhan tubuh sapi itu, mulai dari kepala, kaki hingga ekornya. Oleh karena itu, makna "Sapi" dalam kalimat tersebut adalah sama dengan arti "Sapi", sehingga disebut memiliki Makna Laras.

Berbeda halnya dengan kalimat No.2. yang dipukul oleh Barja adalah sebagian dari tubuh sapi itu, mungkin pantatnya, mungkin kakinya saja, atau mungkin kepalanya saja. Oleh karena itu "Sapi" dalam kalimat No.2 tersebut tidak selaras dengan artinya, melainkan hanya kandungan dari arti tersebut. Oleh karna itu "Sapi" dalam kalimat No.2 tersebut disebut memiliki Makna Kandungan (Implicit Meaning).

Adapun kata "Sapi" dalam kalimat No.3 adalah memiliki Makna Lazim (Necessary Meaning). Karena ketika Barja menarik sapi, sebenarnya yang dipegang adalah talinya. Dia menarik tali itu, tidak secara langsung menarik tubuh sapi. Kendatipun yang Barja pegang dan dia tarik secara lansung adalah tali kendali sapi dan bukan sapinya secara langsung, tetapi sudah lazim dikatakan bahwa bahwa hal itu disebut "menarik sapi". Itulah mengapa disebut "Makna Lazim".

Jadi makna kata itu hanya terdiri dari tiga :

1. Makna Laras (Explicit Meaning)
2. Makna Kandungan (Implicit Meaning)
3. Makna Lazim (Necessary Meaning)

Untuk menerampilkan diri memahami perbedaan arti dan makna, serta mampu membedakan setiap kata kepada golongan maknanya masing-masing, maka silahkan amati setiap kata dalam kalimat kemudian sebutkan golongan maknanya masing-masing.

Januari 24, 2012, 09:14:46 PM
3
Kesempurnaan Logika Immanuel Kannt (1724-1804) M), Ahli Pikir Jerman terbesar itu, di dalam karyanya Critique of pure reason cetakan 1950 halaman 8 menulis sebagai berikut :

"Logika itu berkembang dalam jalur yang pasti, bahkan sejak masa mulanya sekali. Hal itu jelas dari kenyataan bahwa sejak masa Aristoteles, ilmu tersebut tak dapat ditambah agak sedikitpun. Karena langsung mencapai kesempurnaannya."

Demikianlah penilaian Immanuel Kant. Berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, yang dari abad ke abad makin bertambah sempurna, tapi ilmu berpikir Aristoteles itu telah sempurna sejak semula. 

Sumber : Joesoef Sou`yb, Logika, hal. 5 / 231

Januari 24, 2012, 09:18:58 PM
1
Butuh Keterampilan Mental Untuk Menggunakan Logika Untuk dapat menggunakan logika, seseorang tidak hanya membutuhkan kemampuan menghafal dan memahami cara kerja syllogisme, melainkan juga membutuhkan keterampilan mental tertentu, dimana pada suatu tahap mental tertentu secara otomatis pikiran mampu mengingat dan memahami keterkaitan satu hal dengan hal lainnya.

Seseorang yang menguasai ilmu logika, tapi tahapan batinnya masih rendah, pikirannya akan bergerak secara lokal. Dia dapat menggunakan logika dengan benar, tapi pikirannya tidak akan mampu "ngelink" ke berbagai persoalan lain yang relevan dengan persoalan yang sedang dipikirkan ketika itu. Dia seperti hanya dapat melihat "dunia yang kecil". Tapi apabila kemampuan mentalnya berkembang, maka ia akan dapat melihat dunia yang lebih luas.

Sumber : A. Rochman, Logika, No. 12081

Pebruari 01, 2012, 02:43:45 PM
2
transfer logika ke dalam dunia Islam karya Aristoteles dalam bidang ilmu berpikir itu disalin ke dalam bahasa Arab pada masa pemerintahan Daulat Abbasiyah &50-1258 M) di Baghdad, diberi nama : Ilmu Al-Mantiq. Bermula disalin oleh Al-Kindi(801-886 M) dan disempurnakan istilah-istilahnya (dalam bahasa Arab) oleh Al-Farabi (874-950 M). Nama yang diberikan kepada ilmu itu bermakna : Ilmu Tentang Alat Berpikir. (Joesoef Sou`yb, Logika, hal. 4)
Pebruari 13, 2012, 06:40:36 PM
1
Aristoteles dan Kesempurnaan Logika Logika adalah hukum-hukum berpikir untuk menghindari kekeliruan dalam berpikir. Logika pertama-tama disusun oleh Aristoteles sehingga tercipta disiplin ilmu baru yang belum ada sebelumnya, yang diberi nama Logicae, yang kini kita sebut Logika.
Kutip
Logika itu adalah sebuah ilmu tentang hukum-hukum berpikir guna memelihara jalan pikiran dari setiap kekeliruan. Logika itu membimbing dan menuntu seseorang supaya berpikir teliti.
Ilmu itu mula-mula disusun oleh Aristoteles (384-322 SM), ahli pikir Grik terbesar itu yang memperoleh gelar Guru Pertama di dunia ini sampai kepada masa kini.
Sumber : Joesoef Sou`yb, Logika, Hal.  231
Prof. Dr. Will Durrant dalam bukunya The Story Of Philosofy menyebutkan bahwa salah satu ketistimewaan Aristoteles adalah dengan tanpa ada yang mendahuluinya, Aristoteles menciptakan sebuah ilmu baru yang disebut Logika, sepenuhnya bergantung kepada kekuatan pemikirannya sendiri. Sifat kebaruan pada disiplin logika ini berarti penciptaan istilah-istilah baru yang belum pernah ada sebelumnya termasuk istilah Logica itu sendiri. Istilah-isitlah yang diciptakan oleh Aristoteles itu lestari hingga saat ini. Dapat dikatakan tiada satupun manusia yang tidak menggunakan istilah yang diciptakan oleh Aristoteles ini. Sebagai contoh istilah “logika” itu sendiri. Semua orang menggunakan istilah itu. Tapi tidak semua orang tahu bahwa istilah itu pertama-tama diciptakan oleh Aristoteles, berasal dari kata Logos.
Logika memang bukanlah hal baru. Ia ada sejak manusia itu ada. Karena Logika adalah cara berpikir manusia yang sehat.  Logika merupakan sesuatu yang alamiah, fitrah manusia. Tetapi pada abad 400 sm, Aristoteles melakukan penyelidikan terhadap sesuatu yang alamiah itu untuk diabadikan dalam tulisan. Ini adalah bantuan besar bagi umat manusia. Sehingga manusia bisa lebih mudah menyadari, mengenali, memahami dan  mengembangkan potensi yang alamiah itu pada dirinya sendiri.
Plato dan Socrates memberikan sumbangan yang besar terhadap Aristoteles. Keduanya merupakan peletak dasar pemikiran Logika Aristoteles. Plato yang walaupun tidak mempergunakan syllogisme ala Aristoteles, tapi dia terkenal dengan metoda komunikasinya yang disebut dialektika.
Plato terinspirasi oleh ibunya yang seorang bidan yang senantiasa membantu para ibu yang hendak melahirkan dengan segenap kekuatannya. Demikian pula ia menganggap dirinya sebagai bidan filsafat. Sehingga menurutnya, belajar adalah proses mengingat-ngingat. Oleh karena itu dimanapun ia berada selalu mendorong  orang lain untuk berpikir dengan benar dengan cara mengajukan “pertanyaan yang memburu”. Intisari dari metodanya ini adalah “tak perlu ajarakan orang lain mengenai apapun, tapi dorong orang lain agar mereka mau berpikir dan mengingat-ingat sesuatu secara bersungguh-sungguh”. Metoda Plato ini sangat efektif sejauh mereka yang diajak bicara tidak malas dalam berpikir dan mengingat-ngingat.
Cara Plato mengajukan pertanyaan merupakan dasar-dasar Logika bagi Aristoteles. Ia memahami bagaimana plato mendorong semua orang untuk mendefinisikan segala sesuatu yang perlu didefinisikan, seperti apa itu keberanian, apa itu moral, apa itu malu, dll. Lalu plato menguji kebenaran definisi-definisi itu dengan contoh-contoh. Jika ada orang mengatakan bahwa keberanian itu begini dan begitu, maka plato menyodorkan contoh-contoh dan bertanya “apakah ini adalah keberanian? Apakah itu adalah keberanian?” mendorong orang lain untuk mengevaluasi ulang makna keberanian yang telah didefinisikannya. Inilah hal-hal yang mendasari pemikiran Aristoteles.
Dengan bekal ilmu yang dipelajarinya di akademi Socrates, Aristoteles menyusun dan menciptakan Logika yang sempurna dan sampai masa kini tiada bandingannya. Menurut Immanual Kant, berbeda dengan disiplin ilmu lainnya,   Logika tidak dapat ditambahkan agak sedikitpun, karena sudah sempurna sejak pertamakali diciptakannya.
Kutip
Immanuel Kannt (1724-1804) M), Ahli Pikir Jerman terbesar itu, di dalam karyanya Critique of pure reason cetakan 1950 halaman 8 menulis sebagai berikut :
"Logika itu berkembang dalam jalur yang pasti, bahkan sejak masa mulanya sekali. Hal itu jelas dari kenyataan bahwa sejak masa Aristoteles, ilmu tersebut tak dapat ditambah agak sedikitpun. Karena langsung mencapai kesempurnaannya."
Demikianlah penilaian Immanuel Kant. Berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, yang dari abad ke abad makin bertambah sempurna, tapi ilmu berpikir Aristoteles itu telah sempurna sejak semula. 
Sumber : Joesoef Sou`yb, Logika, hal. 5 / 231


Sumber : A. Rochman, SEJARAH LOGIKA,  No.12389

Pebruari 15, 2012, 10:10:30 AM
1
Re:menjawab kritikan ibnu taimiyah terhadap definsi
Kutip dari: yusufmuslim
SAya tidak tahu dengan anda, tetapi kalau saya menjadi anda, saya akan berusaha menjelaskan hal di atas dengan lebih mendalam.
Mohon dielaborasi lebih lanjut.

Kalau yang saya tangkap dari bacaan-bacaan saya: konsep itu adalah ide umum mengenai sesuatu hal/benda baik yang abstrak maupun yang kongkret. Dalam dunia akademik, kita menjumpai kata-kata/ucapan seperti "konsep musyawarah adalah...", "konsep 1 meter adalah...", "dia tidak memahami konsep fisika..." dll.

Dari sudut pandang ini, konsep memang adalah hal yang dijelaskan oleh definisi. Bahkan sering antara definisi dan konsep dikacaukan/tidak dibedakan penggunaannya.
Dari yang saya baca adalah bahwa kita memahami fenomena "big bang"--misalnya--melalui konsep yang disampaikan atas "big bang" itu. Dan pada gilirannya, kita juga menerangkan pemahaman kita atas big bang dalam bentuk konsep yang kita sampaikan kepada orang lain.

Intinya, saya tidak melihat adanya perlunya apa yang anda anggap sebagai pelurusan pemahaman Ibn Taimiyyah atas logika, yakni pembedaan konsep dan hakikat.

Syaikh Akram NAdwi yang saya kutip di atas saya rasa menyebutkan konsep dalam pengertian pemahaman atas sesuatu hal/benda yang sedang didefinisikan. Karena memang ini yang dikritik Ibn Taimiyyah: bahwa definisi dipandang sebagai satu-satunya cara untuk memahami sesuatu hal/benda yang sedang didefinisikan itu.

Ini terlihat dengan bantahannya bahwa ada cara lain untuk memahami sesuatu hal/benda. Misalnya jika ada yang bertanya: apa itu "tangan"? maka orang yang ditanya tinggal tunjukkan "tangan" dan orang yang bertanya akan memahami "tangan" itu.

Intinya, dari sudut pandang ini apa yang anda namakan sebagai "hakikat" adalah merupakan hal yang sama dengan yang dinamai ahli logika arab dan dikutipkan Ibn Taimiyyah dengan "konsep".

Jikalau mau bersikukuh bahwa konsep itu sama dengan hakikat, maka itu silahkan saja. Saya sudah menjelaskan perbedaan dan persamaan antara konsep dan hakikat. Kalau mau bersikeras bahwa itu sama, maka penjelasan apapun pasti tidak akan ada gunanya.
Bukan untuk yang mau bersikeras, melainkan untuk yang mau memahami,  saya akan menjelaskan kembali untuk kedua kalinya persamaan dan perbedaan antara konsep dan hakikat.
Konsep adalah ide/pemahaman/pengertian yang ada di dalam pikiran.
Hakikat adalah essensi suatu diri.
Definisinya saja sudah beda.
Lalu di mana letak persamaan atau hubungan antara konsep dan hakikat? Seperti hubungan manusia dengan benda, seperti hubungan kalimat dengan paragraf. Apakah manusia itu termasuk kepada benda? Ya benar. Tapi benda tidak hanya manusia. Apakah sebuah paragraf merupakan kumpulan kalimat? Ya benar. Tapi tidak bisa dikatakan bahwa kalimat sama dengan paragraf.
Demikian pula halnya hubungan konsep dengan hakikat. Apakah sebuah hakikat itu adalah konsep? Ya. Hakikat itu adalah konsep. Setiap hakikat pastilah konsep. Tapi tidak setiap konsep berarti hakikat.
Ada seorang anak kecil sedang menonton sebuah karnaval bersama ayahnya. Si ayah berkata, “sebentar lagi akan ada rombongan anak sd lewat.” Si anak tertarik ingin menarik serombongan anak sd lewat.
Kemudian munculah rombongan anak sd itu berbaris perkelas. Si ayah berkata kepada anaknya, “ini adalah barisan kelas 1, ini adalah barisan kelas 2, ......ini ada barisan kelas 6.” Setelah rombongan habis berlalu, si anak kecil bertanya, “ayah, manakah barisan anak sd nya?” si anak tidak mengerti kalau barisan kelas 1 sd. Kelas 6 tadi, ya itulah yang dimaksud dengan anak sd. Kadang-kadang dijelaskan dengan berbagai cara pun si anak belum dapat mengerti, karena sudah terlebih dahulu si anak mempersepsi bahwa rombongan sd itu adalah rombongan yang terpisah dari rombongan kelas-kelas. Haruskah dipaksakan untuk mengerti? Tidak. Butuh waktu bagi si anak untuk lebih dewasa pemikiran dan mampu menerima penjelasan sang ayah.
Seperti itulah perbedaan konsep dan hakikat. Hakikat berada dalam wilayah konsep. Dan konsep memiliki lingkungan yang lebih luas dari pada hakikat.
Di dalam logika, sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya, ada tiga bab utama, yaitu term, proposisi dan syllogisme.
Di dalam term, terdapat bab tentang :
1.   Konsep
2.   Kategori
3.   Klasifikasi
4.   Dichotomi
5.   Definisi

Konsep merupakan sub dari term yang berbeda dari sub-sub lainnya. Konsepsi dibedakan dari definisi. Di dalam definisi itulah terdapat pengajaran tentang hakikat. Terdapat 9 pasal yang harus diepelajari untuk dapat memahami  bab konsep. Dan ada 4 pasal yang harus difahami untuk bisa memahami definisi, salah satunya adalah pasal mengenai hakikat. Dari penyusunan kurikulum ini saja sudah bisa menandakan adanya perbedaan makna antara konsepsi dan hakikat.
Kutip dari: yusufmuslim
Karena itu, dalam dunia ilmiah, penggunaan fallacy ini jarang dilakukan. Terutama karena penyebutan "Kan para ahli bilang gitu..." atau kalimat yang semacamnya saja menunjukkan kesan yang nyata bahwa si pembicara tidak benar-benar menguasai hal yang dibicarakan (kelihatan keawamannya) dan karenanya patut diragukan pernyataannya.
Atau mungkin yang berbicara bercundus karena sulit menjelaskan bahasa ilmiah kepada orang awam atau menganggap yang diajak bicara tidak cukup pintar untuk bisa mengerti isi pembicaraannya.
Kutip dari: yusufmuslim
Begitu ya?
Ada tulisan bagus untuk anda di sini http://www.questia.com/PM.qst?a=o&d=59675405 yang menerangkan SEJARAH DAN PERKEMBANGAN logika.

Btw. anda pernah mendengar Karl Popper?

Dalam dunia ilmiah, konsep falsifiability Popper sering dikutip untuk menentukan apakah sesuatu pengetahuan merupakan ilmu (yang ilmiah) atau tidak. Menurut dia, dan ini kesepakatan umum dalam dunia ilmiah, suatau bentuk pengetahuan, khususnya suatu teori, baru dikatakan ilmiah apabila IA BISA DIBANTAH/DITUNJUKKAN KESALAHANNYA.
Faktanya, tidak ada satupun ilmuwan yang dapat membantah teori-teori aristoteles dalam bidang logika. Termasuk ibnu taimiyah. Tak satupun kritikan ibnu taimiyah itu yang dapat dianggap mampu menunjukan kelemahan logika.
Bandingkan dengan kritikan Galileo Galilei terhadap kesimpulan Aristoteles. Gelileo dapat membuktikan kesalahan kesimpulan Aristoteles dengan bukti-bukti yang nyata. Dan itu dapat diakui para ahli logika di seluruh dunia. Sedangkan ibnu taimiyah, siapa yang dapat mengakuinya bahwa itu adalah kritikan yang benar dan mampu mematahkan teori aristoteles? Tidak ada, kecuali para pengagumnya yang fanatik.
Perlu diketahui bahwa kritikan Galileo pun hanya kepada kesimpulan ilmiah Aristoteles, tapi tidak menyentuh kepada persoalan teori logika.
Kutip dari: yusufmuslim
Artinya, kalau anda menganggap logika sebagai ilmu, ia mestilah memenuhi syarat harus bisa dibantah/ditunjukkan kesalahannya.

Kalau tidak, logika mestilah cuma dogma.
Logika bisa dan boleh dibantah. Tapi sejauh ini, tidak ada bantahan yang bisa menunjukan bahwa itu adalah teori yang salah. Segala sesuatu memiliki keterbatasan dan kelemahan. Itulah yang membuat sesuatu itu dapat ditunjuken kelemahannya. Salah satu kelemahan logika premissenya mesti bergantung keapda ilmiah. Untuk melahirkan kesimpulan yang benar dalam bidang ilmiah, premisse akhirnya harus bersifat ilmiah. Logika tidak bisa berdiri sendiri, memisahkan diri dari ilmiah. Ini batas logika. Ini adalah kelemahan logika. Dapat diakui oleh para ahli logika di manapun. Tapi apa yang dilakuakn oleh ibnu taimiyah, sama sekali tidak dapat disebut “menunjukan kelemahan” atau “kesalahan logika”.
Kutip dari: yusufmuslim
Sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, saya rasa anda-lah yang mestinya "melihat kepada apa yang disampaikan, bukan kepada siapa yang menyampaikan".

Kritikan Ibn Taimiyyah tidak ada sangkut pautnya dengan "melihat kepada siapa yang menyampaikan" tetapi kepada fakta bahwa tidak ada seorangpun yang bebas dari kesalahan DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KE-ESESNSIAL-AN LOGIKA UNTUK MEMAHAMI HAL-HAL BENDA-BENDA MENURUT LOGIKA YUNANI KUNO.
Pengetahuan anda dengan pengetahuan sdr. Sahabat itu berbeda. Hal-hal yang dikutip oleh sdr. Sahabat dari ibnu taimiyah adalah berbeda dengan hal-hal yang anda kutip dari ibnu taimiyah. Oleh karena itu, lupakan saja pembahasan tentang “ibnu taimiyah melihat siapa yang berkata” karna ini adalah informasi yang luput dari pengetahuan anda. Silahkan bahas hal-hal lain yang jelas informasinya bagi anda.
Kutip dari: yusufmuslim
Kita terapkan pada kasus yang anda bawakan saja, yakni definisi "manusia adalah hewan yang berfikir".

BAgaimana "hewan yang berfikir" bisa membedakan manusia dengan anjing atau simpanse sementara menurut perkembangan ilmu psikologi akhir-akhir ini bahwa hewan ternyata juga bisa berfikir. Cek di http://www.psychologytoday.com/articles/199911/do-animals-think?page=3 atau di http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,978023,00.html.
Terlepas dari itu, bagaimana kalau orang lain tidak setuju dengan definisi "manusia sebagai hewan yang berfikir" tetapi "manusia sebagai hewan yang bisa tertawa", misalnya?
Definisi “manusia adalah hewan yang bisa tertawa” disebut definisi eksidentil. Kenapa? Karena “tertawa” bukanlah essensi dari manusia. Essensi dari sesuatu itu adalah apabila ia ada, maka sesuatu itupun ada. Dan jika ia tidak ada, maka sesuatu itupun tidak ada. Jika essensi manusia adalah “yang berpikir”, maka manusia ada hanya jika ia berpikir. Bila ia tidak berpikir, maka manusia itupun tidak ada. Maka socrates mengatakan “aku ada karena aku berpikir”. Sedangkan tertawa, kendatipun ia menjadi sifat pemisah dari lain-lain golongan hewan yang memang tidak bisa tertawa, tapi tertawa bukan essensi. Ia disebut sifat khusus. Tertawa dalah sifat khusus yang dimiliki manusia, tapi bukan essensi manusia. Maka definisinya disebut definisi eksidentil, bukan definisi essensil.
Untuk membantu memudahkan memahamkan definisi aristoteles tentang manusia, maka sekali lagi saya anjurkan kepada anda untuk mencoba mendefinisikan dua hal berikut :
1.   Tumbuhan
2.   hewan
kalau orang membantah bahwa manusia itu bukanlah hewan, dan yakin bahwa bantahannya itu benar, berarti dia yakin bahwa dia itu tau apa itu manusia dan apa itu hewan ? kalau tidak tau apa itu hewan, bagaimana bisa membantah bahwa manusia itu bukan hewan?
Kalaulah ibnu taimiyah masih hidup, maka tentu saya akan bertanya kepada beliau “apa itu hewan?” tapi karena beliau sudah tidak ada, yang ada adalah anda dan para pengagum belieu, maka hanya bisa tanya kepada anda, para pengagum beliau dan orang yang setuju dengan bantahan beliau “apa itu hewan?” Jikalau tidak tau jawaban dari pertanyaan tersebut, berarti dia  telah membantah sesuatu yang tidak dia fahami.
Mengatakan sesuatu seperti “anda tidak bisa memahami ini karena anda belum mempraktikan sesuatu” dalam logika bisa merupakan sebuah fallacy. Tetapi sekali lagi, fallacy tidak berarti salah. Jikalau orang mendiskusikan “dua batu, besar dan kecil, bila dijatuhkan dari atas menara tinggi, manakah yang akan sampai ke permukaan bumi terlebih dulu?” Tentu saja orang boleh berteori. Tapi ujung dari teori itu, untuk memsatikan, ya perlu dipraktikan dengan benar-benar mencoba menjatuhkan dua batu besar dan kecil dari atas menara. Itu namanya percobaan ilmiah. Mengajak orang kepada praktik seperti itu berarti mengajak untuk melakukan percobaan ilmiah, bukan fallacy. Seperti kata ibnu taimiyah “tinggal mengangkat tangan kanan dan menunjuk ke arah telinga” demikian cara untuk memahami “konsep telinga”. Seperti itu pula untuk memahami kebenaran definisi Aristoteles, coba praktikan terlebih dahulu dengan mendefinisikan “apa itu hewan”.

Kutip
Kalaupun anda keberatan dengan perkembangan terbaru di atas, tetap saja fair kalau kita katakan bahwa "cuma manusialah hwan yang bisa berfikir" masih diperdebatkan dan karenanya "hewan yang berfikir" tidak bisa digunakan untuk mendefinisikan manusia.
Sesuatu yang diperdebatkan bukanlah suatu faktor yang menyebabkan sesuatu itu tidak bisa digunakan sebagai definisi. Ada 4 syarat agar sesuatu itu secarah sah disebut definisi. Yang paling inti adalah jika luas lingkungan definiens sama dengan luas lingkungan definiendum, maka ssuatu itu sah disebut definisi, apakah ia diperdebatkan atau tidak.   




Pebruari 20, 2012, 03:18:20 PM
1
Dosen NII Rojali, seorang pria berumur 27 tahun. Dia memperoleh beasiwa dari pemerintah hingga bisa kuliah di salah satu universitas di Bandung. kendatipun seratus persen dibiayai oleh pemerintah, tapi Rojali terpaksa berhenti bekerja sebagai accounting manejer di sebuah perusahaan, karena jadwal kuliahnya sangat padat. Bagi Rojali,  itu merupakan suatu pengorbanan yang besar, berhubung tidak mudah untuk mencari pekerjaan. Tapi karena Rojali sangat ingin kuliah, ia berani mengorbankan pekerjaannya. Istri Rojali pun mengdukung.

Rojali, yang sudah punya 2 anak, kini jadi anak sekolahan lagi. dia duduk di bangku kuliah bersama anak-anak ABG. Pasti itu menyenangkan. terlebih lagi, banyak dosen muda dan cantik. seperti Salma, dosen statistik yang baru berumur 24 tahun, membuat Rojali sangat bersemangat menjalani perkuliahan.

Dosen cantik bernama Salma itu sering memanggil Rojali ke ruangannya. Mula-mula bincang-bincang biasa aja. ternyata lama-lama itu dosen itu ingin mengajarkan doktrin NII kepada Rojali. Rojali menanggapi aja. Sebenarnya Rojali juga seorang mantan NII. Cuma karena seneng diajak ngobrol sama dosen cantik, ya Rojali pura-pura  bodoh, gak tau apa-apa soal NII. Seolah-olah Rojali mau-mau aja diajak bergabung ke NII.

Kawan-kawan kuliah Rojali mulai curiga, kenapa Rojali begitu dekat dengan itu dosen cantik. digosipkan ada kedekatan khusus, Rojali makin suka. dia bilang, "gw sering dipanggil ke rumahnya lho, kalau malam."

"Ah, yang bener!?" Agus.

Pada waktu istirahat kuliah, Rojali dan Salma sering tampak duduk berdua di perpustakaan, di mushola atau di kantin. Gosip pun makin panas. Rojali makin senang hatinya.

Satu semester sudah berlalu. Sudah banyak hal yang dijelaskan Salma kepada Rojali. Salma sangat berharap Rojali mau mengikuti jejak langkahnya untuk masuk NII. Akhirnya Salma mendesak Rojali untuk bersyahadat ala NII. tapi Rojali selalu menolak. Salma akhirnya kesal dan bertanya, "Kenapa sih kang, Akang menolak terus menerus? padahal semua dalil kebenaran NII kan sudah saya jelasin semuanya?"

Rojali tersenyum geli. dan menjawab, "Bu dosenku yang cantik, mohon maaf beribu maaf, saya ini dulu adalah dedengkot NII. Nah tuh yang ngebangun gedung markas NII itu saya sama teman-teman. Maksudnya, saya ikut serta membangun gedung itu. saya tau nama tokoh-tokoh NII, dan tau markas-markas NII di mana saja. " Bahkan Rojali menyebutkan nama-nama dan tokoh-tokohnya. Salma terkejut. Dia tidak menyangka, bahwa orang yang selama ini "diasuhnya" dan "dibujuk" untuk masuk NII, ternyata mantan orang NII.

Lalu Rojali menyuguhkan argumen-argumen, mengapa ia keluar dari NII. semua argumen itu cukup menggoyangkan keimanan Salma. lalu, Salma dengan sedih menemui para ustadz NII tentang keraguan hatinya. Hendra, salah satu ustadz NII itu berkata, "Nah, sudah, tinggalkan saja mahasiswa mu yang itu, gak usah dipikirin, cari mahasiswa yang lainnya yang bisa kita rekrut. Trus, kamu harus segera menikah, agar kamu tentram dalam menjalani ibadah."

Salma memutuskan untuk menjauhi Rojali. Rojali mengerti dengan sikap dosennya itu. Akhir semester, seperti biasanya dia masih memperoleh Nilai A. Teman-teman kuliahnya protes, "bu, kenapa si Rojali dapat nilai A, padahal nilai statistika dia itu selalu jeblok."

bu Salma yang cantik itu berkata, "itu karna saya menghargai perjuangannya. dia memang nilainya selalu jeblok, tapi usaha keras."

itulah terakhir kali Rojali melihat Salma. Setelah itu Rojali hanya mendengar kabar bahwa Salma telah menikah, dan Rojali pun out dari kampus tanpa lulus.


Maret 03, 2012, 04:09:01 PM
1
Bukan Untuk Pemalas Logika bukanlah hukum yang berguna bagi orang-orang yang malas untuk berpikir. Mengapa? Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, untuk dapat menggunakan logika dibutuhkan konsentrasi, semangat dan kemauan mengingat-ngingat. Faktor kemalasan akan membuat seseorang gagal dalam menggunakan logika yang mengandung hukum yang kompleks.

Berguna artinya bisa dimanfaatkan. Orang yang malas berpikir, tentu tidak akan dapat memanfaatkan Logika. Hukum-hukum yang berlaku pada Logika tidak akan dimanfaatkan. Tidak hanya logika, mungkin pemalas cenderung tidak dapat memanfaatkan segala sesuatu yang seharusnya bisa dimanfaatkan. Demikian pula halnya dengan Logika. Sebagus-bagus Logika, bagi orang yang malas menggunakannya tentu logika tidak akan ada gunanya sama sekali.

Semangat dan kemauan, itu adalah pondasi untuk bisa menggunakan logika. Tapi semangat dan kemauan saja tentunya belum cukup. Seseorang harus memiliki pengetahuan yang cukup di bidang logika itu sendiri. Adanya pengetahuan yang ditunjang dengan semangat dan kemauan, itulah yang akan membuat seseorang bisa menggunakan logika. 

Sumber : A. Rochman, FILSAFAT,  No.12410

Maret 04, 2012, 04:24:18 PM
1
Tabel Logika Tabel Logika

Sebelum membaca table Logika (Modus syllogisme), sebaiknya difahami terlebih dahulu 4 bentuk categorical proposition, sebagai berikut :

(A) . Setiap A adalah B
(E) . Setiap A bukan B
(I) .  Sebagian A adalah B
(O). Sebagian A bukan B

Contoh :
(A) . Setiap emas adalah logam
(E) . Setiap kayu bukan logam
(I) .  Sebagian logam adalah emas
(O). Sebagian logam bukan emas

Jika bentuk-bentuk proposisi tersebut digabung-gabungkan, maka akan melahirkan kesimpulan-kesimpulan. Misalnya, jika bentuk A digabungkan dengan bentuk A, maka akan melahirkan keterangan bentuk A pula. Contoh :

(A). Setiap emas adalah logam.
(A).Setiap logam adalah benda padat.
 (A). setiap emas adalah benda padat

Bentuk I, jika digabungkan dengan bentuk E, maka akan melahirkan bentuk O. Contoh :
(I). Sebagian logam adalah emas
(E). Setiap emas bukanlah kayu
 (O). Sebagian logam bukan kayu

Kesimpulan tersebut adalah kesimpulan yang benar. Walaupun dalam bahasa sehari-hari ada kemungkinan bahwa kesimpulan tersebut dianggap salah. Karena bila kita mengatakan bahwa “Sebagian logam bukan kayu”, maka pihak pendengar biasanya mengasumsikan bahwa itu berarti kita menyatakan “sebagian logam adalah kayu”. Tetapi dalam bahasa logika tidak demikian. Jika kita menyatakan bahwa sebagian logam bukan kayu, tidak mengandung arti kita menyatakan sebagian logam adalah kayu. Jadi, kita harus membedakan antara bahasa awam dengan bahasa logika.

Setiap bentuk psoposisi dapat digabungkan dengan bentuk lainnya. Seluruh penggabungan tersebut adalah 16 bentuk, seperti tampak pada table berikut :

    

16 belas ikat pikiran (Modes) tersebut diterapkan pada 4 bentuk kerangka berpikir (figure), jadi jumlah seluruhnya ada 64 buah ikat pikiran (Modes). Mengenai keranga berpikir (figure) dibahasa pada bab lain.

Agar setiap kesimpulan tersebut tidak salah, maka harus mematuhi 6 hukum logika. (lihat pada bab : Hukum Aristoteles). Berdasarkan hokum logika, maka modus syllogisme itu hanya sebagian saja  yang lolos sebagai modus yang sah. Tampak pada tabal berikut :










Sumber : A. Rochman, LOGIKA,  No.12412

Maret 05, 2012, 12:12:14 PM
2
Keharusan Menggunakan Logika


Munculnya fatwa haram untuk mempelajari logika dari beberapa ulama terkemuka seperti Ibnu Tiamiyah dan Ibn As-Shalah, merupakan hal yang aneh dan tidak masuk akal. Karena Logika adalah suatu kemestian rasional. Manusia wajib menggunakan logika. Menggunakan Logika berarti menggunakan akal yang sehat.

Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya (Yunus : 100)
Orang yang waras mustahil menolak logika.

Kutip
Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat niscaya atau mesti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan yang mungkin (all possible intelligebles). Contohnya, sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya. Prinsip berfikir ini telah tertanam secara niscaya sejak manusia lahir. Tertanam secara spontan. Dan selalu hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh, prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud (the very property of being). Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan seluruh bagunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia. (Dimitri Mahayana, http://filsafatislam.net/?p=44)

menurut pandangan Russel, seluruh pengetahuan hanya dapat difahami apabila diungkapkan dalam bentuk bahasa logika (Drs. Rizal Mustansyir, Filsafat Analitik, Hal. 45)

Logika adalah hukum berpikir tepat, berguna untuk menghindarkan diri dari kesalahan berpikir. Logika merupakan bagian dari ilmu bahasa. Tapi anehnya, Logika seringkali menjadi musuh yang sengit bagi kelompok-kelompk tertentu. Apalagi ketika logika mulai mengusik keyakinan mereka yang tidak sejalan dengan logika, maka kemudian sejarah membuktikan, tidak saja muncul fatwa haram untuk logika, melaikan juga usaha melarang peredaran buku-buku logika, pusat-pusat pendidikan logika dibakar, serta para guru logika dibunuh. Nasib para guru besar ilmu logika, seperti nasibnya para nabi, dianiaya oleh umat yang merasa keyakinannya terusik. Itu semua tercatat dalam literatur sejarah ilmu logika.

Terkadang orang menentang sengit terhadap ilmu logika hanya karena ilmu logika ditemukan dan disusun oleh filsuf Yunani yang bernama Aristoteles pada tahun 400 SM, di mana Aristoteles tidak tercatat sebagai umat kristen ataupun umat Islam.  Maka kaum agamis yang fanatik berpikir “tidak mungkin kebenaran datang selain dari golongan kami. Kebenaran itu datang hanya dari kami, karena Tuhan bersama kami.” Inilah ideologi dasar yang mendasari penentangan sengit kaum tertentu terhadap logika. Padahal tak seorangpun yang dapat melepaskan diri dari persoalan logika, sebagaimana yang dinyatakan oleh Russel dan Dimitri Mahayana, bahwa seluruh pengetahuan hanya bisa difahami melalui bahasa logika dan menolak logika berarti meruntuhkan seluruh bangunan agama, filsafat, teknologi dan ilmu pengetahuan.

Pemikiran lain yang cukup menggelitik adalah, diantara mereka ada yang berpikir bahwasannya ajaran Islam adalah ajaran yang sempurna. Untuk memahami kebenaran, serta untuk keselamatan dunia dan akhirat cukuplah dengan mempelajari Islam yang sempurna itu, yang diajarkan oleh Rasul Allah, dan bukannya mempelajari Ilmu Logika yang justru diajarkan oleh kaum kafir (non muslim). Tampaknya ini pemikiran yang benar. Tapi pertanyaannya, apakah dengan mempelajari Islam berarti harus menolak logika? Lebih dari itu, apakah dengan mempelajari Islam seseorang akan dapat menolak logika? Jawabanya “mustahil”.

Mereka berkata, “Jika saja logika itu merupakan bagian yang begitu penting dalam hidup, maka pastilah nabi Muhammad akan memberi tahu kita atau menyuruh kita untuk mempelajari ilmu itu?” Tampaknya ini hal yang benar. Tapi pertanyaannya, apakah setiap segala sesuatu yang nabi tidak memberi tahu, tidak mengajarkan atau tidak memerintahkan kita untuk mempelajari berarti hal itu, berarti tidak penting dalam kehidupan kita? Jawabannya “tidak demikian”.

Logika adalah Hukum Alam, yang manusia harus tuntuk kepada hukum ini. Pelanggaran terhadap hukum ini berarti merusak hubungan harmoni antara alam dengan dirinya. Aristoteles bukanlah pencipta Logika yang sebenarnya, ia hanya mencatat hukum-hukum yang terjadi pada alam ini, serta menciptakan istilah-istilah baru bagi hukum-hukum yang teramatinya itu. Hanya karena itulah kemudian ia disebut pencipta logika. Akan tetapi, semua manusia termasuk para nabi dan orang-orang shaleh berpikir dengan cara logika itu sendiri, logika yang tanpa istilah. Seperti ketika nabi saw berdialog dengan para pendeta tentang ketuhan Yesus, nabi saw bertanya, “kenapa kalian menganggap Isa putra Maryam sebagai anak Tuhan?” para pendeta itu menjawab, “karena Isa tidak mempunyai ayah. Maka tidak lain ayahnya itu adalah Allah.” Kemudian nabi bertanya, “Adam a.s juga tidak mempunyai ayah. Mengapa kalian tidak menyebutnya anak Allah?”

Itulah nabi muhammad. Jikalau dipulangkan ke dalam Logika Aristoteles, maka bentuk sebagai berikut :

Isa a.s adalah yang tidak mempunyai ayah
Setiap yang tidak mempunyai ayah adalah anak Allah
Jadi, isa adlah anak Allah.

Sang nabi kemudian menguji premis mayor, “Adam tidak punya ayah. Apakah adam anak Allah?” tapi para pendeta tersebut tidak dapat mengakui kalau adam a.s adalah anak Allah. Dengan demikian batalah premis mayor dari para pendeta itu.  Hal serupa itu dilakukan oleh nabi-nabi lainnya sebelum nabi Muhamad. Oleh karena itu merupakan hal yang konyol apabila orang menolak logika dengan alasan bahwa logika tidak diajarkan olh nabi saw. Faktanya para nabi seluruhnya berdakwah dengan logika itu. Bedanya mereka tidak menyebut ini premis mayor dan ini premis minor, yang itu Konklusi dan yang ini Definisi.

Yang dimaksud ilmu Allah bukanlah saja apa yang tertulis di dalam kitab Quran dan Hadits, sehingga menganggap selainnya bukan ilmu Allah. Sesunguhnya matematika, ilmu bahasa, Filsafat, biologi, fisika, kimia, dan seluruh bangunan ilmu yang haq adalah dari Allah, tidak terkecuali dengan Logika itu sendiri. Oleh karena itu merupakan hal yang konyol lagi bila menolak logika dengan alasan bahwa logika diajarkan oleh non muslim. Apalagi sementara itu, dia mempelajari ragam ilmu dan teknologi di tempat pendidikan tak lepas dari jasa-jasa orang-orang non muslim. Albrert Esntein, Thomas Alpa Edison, James Watt, dll, mereka telah mengajarkan pengetahuan-pengetahuan yang begitu penting untuk kita pelajari saat ini, tak terkecuali dengan apa yang diajarkan oleh Aristoteles.

Kemampuan berpikir logis, memang tidak selalu harus atas dasar logika Aristoteles. Secara alami, seseorang yang berpikiran jernih mampu melahirkan pemikiran-pemikiran yang logis. Ada perbedaan antara logika dengan ilmu logika. Tidak masalah jika orang enggan mempelajari dan menggunakan ilmu logika karya Aristoteles. tapi, menggunakan logika itu sendiri merupakan kemestian. jika orang menggunakan logika dengan benar, mustahil pula dia menyangkal kebenaran ilmu logika yang diajarkan oleh Aristoteles.

Maret 07, 2012, 02:58:44 PM
1

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan