Penulis Topik: Tujuan Menceritakan Pengalaman Mistik  (Dibaca 30 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9276
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Tujuan Menceritakan Pengalaman Mistik
« pada: Desember 05, 2017, 11:26:16 AM »
SB : mensikapi bisikan gaib dengan logika
====================
1. Logika dan Mistik
1.1. Tujuan Menceritakan Pengalaman Mistik

Jumlah Karakter : 22.687
Kira-kira : 11 halaman A5
====================

1. Logika Dan Mistik
Edisi : 05 Desember 2017, 07:09:51

Sejatinya, saya adalah seorang praktisi Mistik. Tetapi kemudian saya menemukan fakta bahwa kaum yang mengaku intelek dan logis seringkali menuduh hal-hal yang bersifat mistik itu sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ilmiah dan logika. Bahkan tak jarang kaum misik dituduh “gila”, “pengkhayal” dan tak bernalar logika. Lihat salah satu contohnya komentar-komentar sdr. Arang Maya pada link berikut : http://bit.ly/2fgv2Fp

Untuk menjawab kaum intelek ini, maka saya seperti “pertapa yang turun gunung”, meninggalkan segala praktik mistik untuk menyelami apa yang disebut oleh kaum intelek sebagai Logika dan Ilmiah. Setelah menyelami semua itu, terbukalah kebenaran bahwa sejatinya mereka yang dulu menuduh “tidak logis” kepada cara berpikir kaum mistik, membuat tuduhan yang gegabah hanya karena  mereka yang tidak memiliki keterampilan sebagaimana yang dimiliki oleh kaum mistik. Dan sebenarnya pula mereka tidak benar-benar mengerti tentang apa yang mereka katakan tentang Logika.

Kejadian banyak terjadi yang menyayat hati adalah ketika beberapa tahun lalu, saya saksikan di televisi, di mana beberapa kelompok masa melakukan tindakan main hakim sendiri terhadap orang-orang yang dianggap sebagai praktiksi mistik dengan isue “dukun santet”. Rumah-rumahnya dibakar dan anak istrinya diusir dari rumah dan kampung halamannya sendiri tanpa suatu proses pengadilan yang memberi kesempatan kepada para praktisi mistik itu untuk “berdalil”.

Peristiwa-peristiwa pembantaian itu membuat saya merasa khawatir, bahwa para pembenci juga akan menggunakan isue “dukun santet” kepada diri saya yang juga belajar dan mengajarkan hal-hal yang bersifat mistik kepada orang-orang. Walaupun saya bukan seorang ahli atau spesialis santet, tetapi ilmu ini termasuk kepada salah satu kurikulum pengajaran di perguruan kami. Maksud saya, kami tidak mengajarkan ilmu  agar orang-orang dapat melakukan santent pada orang lain, melainkan suatu ilmu agar orang-orang dapat menangkal pengaruh santet.

Guru saya mengajarkan bagaimana membuat seseorang kesakitan dengan cara menusuk boneka. Dalam sebuah praktik yang ditunjukan kepada para murid, ketika guru saya menusuk sebuah boneka, tiba-tiba seseorang perempuan yang ada beberapa meter di depan sang guru menjerit kesakitan. Ketika tangan boneka tersebut dipelintir, maka tangan perempuan itupun menjadi terpelintir. Beliau mengajarkan semua itu tidak dalam maksud agar murid-muridnya menjadi tukang santet, melainkan untuk menjelaskan bagaimana cara kerja ilmu santet. Faktanya, tidak ada seorangpun dari murid-muridnya yang kemudian menjadi dukun santet. Beliau sangat tidak menyukai praktik perdukunan dan tak berharap ada muridnya yang menjadi paranormal.

Walaupun sebenarnya pelajaran mistik kami adalah sebatas “mengenal hukum-hukum mistik”, tetapi para pembenci menuduh kami dengan tuduhan keji dan tanpa alasan. Saya maupun guru saya kemudian dituduh menyantet seorang perempuan, kami dituduh bersekutu dengan jin dan menyuruh para jin untuk menganggu perempuan itu, membuat si perempuan selalu kerasukan siang maupun malam hari. Dan si penuduh tak tanggung-tanggung, ia bergelar “kyai” yang dengan gelarnya saja sudah membuat banyak orang jadi mudah percaya. Fitnah-fitnah seperti ini yang dulu sering kami alami, membuat hidup kami berada dalam kesusahan.

Dengan mempelajari Logika, maka kemudian dapatlah saya menantang orang-orang pembuat fitnah itu dengan menggelar “Dialog Atas Nama Logika”. Beragam fitnah yang ditujukan kepada kami tidak saja dapat kami ingkari, tapi dapat kami buktikan secara Logika bahwa tuduhan-tuduhan itu tidak sejalan dengan akal sehat. Inilah manfaat Logika bagi saya sebagai praktisi mistik.

Bagi saya, sebenarnya Logika itu sendiri sangatlah dangkal, dibanding dengan kebenaran-kebenaran yang bisa dicapai melalui berbagai praktik mistik. Tetapi Logika dibutuhkan justru untuk menjawab orang-orang berpikiran dangkal.

Dengan mempelajari Logika, maka kemudian dapatlah difahami bahwa kesalah-fahaman menjadi faktor utama dari segala bentuk perselisihan. Kaum mistik yang tidak bisa berbicara dengan bahasa logika kepada kaum yang mengaku intelek, dan tidak bisa berbahasa retorika kepada publik, berpotensi untuk menimbulkan kebingungan, kesalahfahaman dan fitnah dari orang-orang yang awam terhadap mistik. Karena apa yang seringkali ditunjukan oleh kaum mistik seringkali sulit dicerna oleh pikiran.

Pada suatu hari, saya menangkap seekor ular yang sedang kawin. Salah satunya berhasil meloloskan diri. Ular itu saya masukan ke dalam kantung kain dan menaruhnya di bawah tempat tidur. Lalu saya lupa.

Seminggu kemudian, ketika saya terjaga dari tidur, saya mendengar suara yang memelas, “Tolong...! Haus, haus, haus! Berilah saya air!” saya mencari-cari, dari mana sumber suara itu. Ketika saya melihat ke bawah tempat tidur saya, saya melihat si ular sedang meronta berupaya untuk keluar. “Ular inikah yang berbicara?” demikian tanya saya dalam hati.

Saya membuka kantung kain itu. Sementara suara yang memelas tadi sudah tidak terdengar. “Wahai ular, apakah kamu yang memelas minta air?” sang ular tidak menjawab. Tapi saya teringat bahwa sudah seminggu lamanya sang ular saya taruh di bawah tempat tidur, adalah sangat mungkin bila ia kehausan. Segeralah saya membawanya ke jamban, dan melepaskannya di sana.

Benar sekali, sang ular langsung menyedot air yang tergenang dilantai jamban. Bahkan ketika lantai jamban itu sudah tak berair, sang ular masih terus berusaha menyedot. Kasihan sekali, tentu sang ular sangat kehausan. Lalu saya memberinya air yang banyak, sampai si ular tampak merasa kenyang.

Saya membawa kembali si ular ke dalam kamar. Si ular menangis yang tangisannya itu membuat hati saya merasa pilu. Lalu dia berkata, “Tuan, mengapa anda memisahkan saya dari kekasih saya? Apakah tuan tidak takut dengan hukum karma? Bagaimanakah kiranya perasaan tuan, bila kelak tuan dipisahkan secara paksa dari istri yang sangat tuan cintai?” lalu si ular memohon untuk dilepaskan, karena ia akan mencari suaminya.

Saya terkejut mendengar perkataan ular tersebut. Lalu saya berkata, “Ternyata kamu ular betina. Maafkan saya. Apa yang saya lakukan memang salah. Tapi, sungguh saya tidak dapat melepaskan kamu, karena saya sangat senang memelihara ular.”

“Tuan, janganlah sampai saya mati ditangan tuan! Memang saya akan mati, tapi jika saya mati ditangan tuan, tentulah berat karma yang akan tuan terima. Maka, lepaskanlah saya. Bila saya harus mati dengan tangan manusia, biarlah saya mati di tangan orang lain saja!” Demikian pinta sang ular.

Saya memang kasihan kepada ular itu. Tapi saya berat hati untuk melepaskan ular itu. Maklum, waktu itu saya masih berusia 18 tahunan. Maka, si ular saya masukan lagi ke dalam kantung kain. Mengikatkan kain itu dan melemparkannya kembali ke bawah tempat tidur.

Siang hari, sepulang dari suatu tempat, sang ular sudah raib. Rupanya saya mengikatkan kantung kainnya tidak cukup ketat, sehingga sang ular bisa meloloskan diri. Hati saya bersedih, tapi kemudian saya berharap bahwa sang ular akan menemukan suaminya. Dua hari kemudian ular tersebut ditemukan mati. Kepalanya remuk, karena dipukul oleh tetangga saya dengan sebuah balok kayu. Sejak saat itu, saya tak mau lagi menangkap dan memelihara ular.

Pengalaman saya berdialog dengan ular tersebut merupakan salah satu contoh kejadian mistik yang biasa dialami oleh orang-orang yang menggeluti dunia mistik. Tapi apabila hal-hal seperti itu kemudian diceritakan kepada orang-orang, maka tuduhan-tuduhan negatif saja yang saya terima. Tuduhan gila, pengkhayal, pembohong adalah tuduhan-tuduhan yang seringkali dilontarkan oleh mereka yang sebenarnya tidak mengerti. Jika tidak menghina, mereka meminta bukti-bukti bahwa yang saya ceritakan itu benar. Bukti itu ada tapi mereka tidak melihatnya.

“Oh, jadi kamu menanggap dirimu lebih hebat dari nabi sulaiman ya, bisa berbicara dengan binatang gitu?” begitu salah satu cemoohan orang.

Sesekali orang datang membawa marmutnya dan berkata kepada saya, “Tolong tanya marmut saya, apakah ia betina atau jantan. Tanya juga, makanan apa yang paling dia sukai.” Tentu saja, saya tidak dapat melakukannya. Lalu orang itu berkata, “Nah, terbukti kan bahwa kamu gak bisa berbicara dengan hewan?”

Salah faham. Itu intinya. Saya tidak pernah mengaku bisa berbicara dengan semua hewan, tapi mengatakan bahwa seekor ular telah berbicara kepada saya, dan saya dapat mendengarnya, lalu saya berbiara kepada ular itu. Ular itu meresponnya. Adalah sebuah bentuk kesalahan logika, ketika kemudian pernyataan saya dikonversi seolah saya menyatakan bahwa saya memiliki kemampuan berbicara dengan setiap  hewan. Logikanya adalah sebagai berikut :

Saya dapat berbicara dengan ular
Ular adalah hewan.
Jadi, saya dapat berbicara dengan hewan.

Dalam Logika, ketiga proposisi itu berbentuk A. Dan setiap proposisi berbentuk A memiliki sifat meniap-tak meniap. Artinya term “hewan” yang ada di dalam itu haruslah bermakna “sebagian hewan”. Term “ular” pun berarti “sebagian ular”, dan bukan “semua ular”.  Jadi, merupakan hal yang salah apabila kebenaran “kisah dialog dengan ular” itu kemudian harus dibuktikan dengan menyuruh saya berbicara dengan seekor marmut milik tetangga.

Sekarang saya dapat membela diri dan menunjukan kesalahan logika para penuduh itu dengan tuduhannya. Sedangkan dulu, ketika saya dianggap gila, dituduh pengkhayal, ataupun pendusta, maka tidak ada yang dapat saya katakan, tak dapat menjelaskan “kegoblgokan cara berpikir mereka” itu dengan rumus-rumus logika, melainkan hanya bersedih dan berdoa “semoga mereka itu mengalami hal-hal sebagaimana hal yang saya alami.”

Tak jarang, orang-orang yang merasa dirinya “ahli psikologi” menganalisa pengalaman mistik saya itu dari sudut pandang psikologi dan kemudian menyimpulkan bahwa saya telah mengalami “sebuah gangguan jiwa”. Tapi sekarang, bermodal pengetahuan Logika, saya dapat menantang para psikolog gadungan itu untuk menggelar “dialog Logis” tentang apa itu “gangguan jiwa”.

Menurut saya, mengenali dunia mistik adalah keharusan bagi setiap orang. Belum dapat saya rinci argumen-argumen mengenai keharusan tersebut dalam kesempatan ini, karena harus dibahas dalam topik yang tersendiri. Tetapi dalam kesempatan ini saya ingin menjelaskan, bahwa saya menawarkan “peta dunia mistik” kepada siapa saja yang sudah berminat untuk menempuhnya. Tetapi saya hanya akan memberikan peta ini hanya kepada mereka yang telah memiliki kemapanan dalam Logika, sehingga kelak mereka akan mampu membela diri dari beragam fitnah dan tuduhan tak berdasar kepada dirinya.

Logika sama sekali tidak menghalangi atau bertentangan dengan mistisisme, sebagaimana anggapan orang-orang yang katanya “kaum intelek” dan “terpelajar”. Justru sebenarnya Logika menjadi pengantar kepada alam-alam mistik. Pengetahuan ilmiah saja tidak akan dapat membuat seseorang mampu menembus alam-alam gaib, tapi logika dapat menembusnya. Walaupun hanya sebatas pada hipotesa, tetapi hipotesa ini merupakan pintu gerbang logika menuju dunia mistik.

Pengetahuan apapun memang harus diajarkan secara bertahap. Apakah itu ilmiah, Logika maupun misitsisme, semua harus disampaikah secara bertahap. Kesalahan fatal yang dilakukan oleh saya dulu adalah karena ketidak sabaran dalam menyimpan rahasia, sehingga menyampaikan hal-hal yang belum waktunya disampaikan pada orang lain. Inilah yang menjadi faktor utama terjadinya fitnah. Tetapi dengan mempelajari Logika, kemampuan untuk menyimpan rahasia dan kemampuan untuk menyampaikan pengetahuan secara bertahap itu muncul dengan sendirinya. Dan mereka yang telah mapan dalam keterampilan berpikir logic akan dengan mudah mencerna mistisisme. Pengajaran Logika merupakan tahap pendahuluan yang harus diterima oleh seseorang sebelum ia menerima pengajaran mistisisme.

1.1. Tujuan Menceritakan Pengalaman Mistik
 Edisi : 05 Desember 2017, 09:53:34

Seringkali saya menceritakan pengalaman-pengalaman mistik saya, termasuk di forum-forum online, seperti pengalaman mati suri, pengalaman berdialog dengan jin, pengalaman di dunia santet, persoalan kerasukan makhluk halus, dan lain sebagainya. Dengan berbagai cerita yang saya sampaikan, kemudian saya mendapatkan banyak respon negatif,seperti dikatai bodoh, pengkhayal atau gila. Kemudian ada yang bertanya, "Apa tujuan Anda menceritakan itu semua ? Apa gunanya bagi Anda dan apa gunanya bagi orang lain ?" Yang ini bukan respon negatif, melainkan sekedar pertanyaan yang perlu untuk saya jawab.

Pengalaman-pengalaman mistik saya ceritakan dengan empat alasan :

1) sebagai argumentasi
2) sebagai teladan, pesan moral, renungan atau hikmah
3) sebagai rumusan masalah
4) gambaran awal bagi orang yang hendak memasuki dunia supranatural

Sebagian orang begitu tertarik dengan dunia mistik, dan berminat untuk menyelami lebih jauh dunia supranatural. Dan diantara mereka "mendesak" saya untuk mengajarkan ilmu-ilmu supranatural padanya. Tapi saya enggan, karena semangat mereka digerakan oleh persepsi yang keliru dengan ilmu-ilmu supranatural. Mereka tidak tahu, apa yang akan terjadi, apa yang akan dialami setelah dia menggeluti dunia mistik. Karena itu, cerita-cerita yang saya sampaikan diharapkan menjadi gambaran awal, bagi mereka yang bermaksud untuk mempelajari ilmu-ilmu supranatural, sehingga mengetahui itulah manfaatnya, begitulah dampaknya, itu bahayanya, kira-kira itu yang akan terjadi, itu yang akan dialami. Dengan demikian, dia dapat berpikir ulang, mempertimbangkan lebih matang, akankah dia melangkah lebih jauh ke dunia mistik ataukah akan berhenti.

Contoh kisah "Putri Mila", saya tidak berharap hal itu terulang lagi. Saya mengajarkan Putri Mila teknik membuka indera keenam.  Lalu, .. Setelah indera keenmanya terbuka, dia mengalami hari-hari yang berat, karena selalu melihat makhluk-makhluk yang menyeramkan. Salahnya saya, tidak memberitahu dulu sebelumnya, hal apa saja yang akan dia lihat, di alami dan bagaimana cara mensikapinya dengan benar. Ini menjadi penyesalan saya seumur hidup. Karena itu, di tahun-tahun berikutnya saya lebih berhati-hati dan mendorong orang lain untuk berpikir ulang, sebelum benar-benar memutuskan untuk memasuki dunia mistik. Jika tidak ada alasan yang kuat, lebih baik tidak perlulah masuk terlalu jauh ke dunia mistik.

Saya tidak ingin melakukan kesalahan serupa, karena itu kisah Putri Mila diangkat berulang kali. Dengan begitu, saya dan murid-murid saya tidak jatuh pada lubang yang sama. Tapi ternyata kesalahan serupa dilakukan oleh salah seorang murid saya bernama Sapta. Dia tidak belajar dari pengalaman masa lalu gurunya. Lihat dalam cerita "Resiko Terbukanya Indera Keenam".

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9276
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Tujuan Menceritakan Pengalaman Mistik
« Jawab #1 pada: Desember 05, 2017, 11:26:24 AM »
Selain sebagai "gambaran awal" bagi para siswa mistik, pengalaman-pengalaman pribadi juga saya ceritakan sebagai nasihat, pesan moral, sebagaimana disebutkan di atas.

Contoh kisah "dialog dengan ular"

Dalam kisah ini, saya menceritakan pengalaman berdialog dengan seekor ular betina, di mana ular itu bisa berbicara seperti manusia.

Pesan moral yang ingin disampaikan adalah "Janganlah menganiaya binatang".  Jadi, apakah benar saya pernah berbicara dengan seekor ular seperti berbicara dengan manusia, itu tidak perlu untuk diuji kebenarannya. Karena Anda tidak akan pernah dapat membuktikan benar-salahnya. Demikian pula saya. Tapi yang perlu direnungkan itu adalah benarkah "kita tidak boleh menganiaya binatang" ?

Contoh kisah "Pengalaman Mati Suri"
Dalam kisah ini, saya mencertakan bahwa saya pernah mengalami mati suri, ruh saya terbang ke langit ke -7 dan melihat banyak fenomena, salah satunya fenomena di mana ruh-ruh bergerak menuju ke alam surgawi, termasuk ruh orang-orang kristen dan juga ruhnya para binatang.

Pesan moral yang ingin disampaikan dalam kisah tersebut adalah "Pluralisme", "Jangan fanatik terhadap agama yang anda anut, jangan merasa pasti Anda masuk sorga karena memeluk agama tertentu, dan sombong terhadap penganut agama lain, meyakini mereka pasti masu sorga. Karena sorga tidak dapat dicapai dengan status agama di KTP, tetapi karena akhlak. Apapun status agama di KTP Anda, apabila Anda memiliki moralitas yang baik, maka ruh Anda akan terbang menuju sorga. "

Jadi, yang perlu didiskusikan dari kisah tersebut bukanlah benarkah "saya pernah mengalami mati suri". Karena tidak ada jalan untuk membuktikan benar-salahnya. Tetapi, benarkah para pemeluk agama lain dapat masuk sorga, di mana mereka mati dalam keadaan tetap memeluk agamanya tersebut ? Adakah bukti-bukti nash yang mendukung hal ini ? Ataukah hal ini bertentangan dengan nash-nash yang ada ? Ini berarti sebuah rumusan masalah untuk didiskusikan.

Ada orang yang menilai, saya menceritakan pengalaman-pengalaman mistik itu dengan tujuan-tujuan sebagai berikut :

1) untuk membesarkan diri saya sendiri
2) Untuk mendapatkan pujian
3) sekedar curhat

Jika benar tuduhan orang-orang itu, maka saya memohon ampun kepada Allah dan semoga ditunjukan jalan bagi saya untuk berhenti melakukan hal-hal yang buruk. Tapi jika tuduhan orang-orang itu keliru, semoga Allah mengampuni mereka dan semoga dapat mengambil hikmah dari apa yang saya sampaikan.

Dengan menceritakan pengalaman mistik, tidak terlintas dalam pikiran saya suatu kehendak atau tujuan untuk mendapat pujian, dianggap hebat, mencari popularitas atau dikagumi orang lain. Saya tidak menyukai popularitas. Murid saya dalam bidang mistik cukup banyak. Jumlah yang dapat saya perkirakan adalah 4.000 orang. Itu sama sekali tidak membuat saya merasa besar atau merasa bangga dengan hal itu. Seandainya murid saya bertambah 10 ribu orang lagi, itu tidak saya persepsikan sebagai hal menyenangkan dan membanggakan. Faktanya, kerabat-kerabat dekat saya, hampir tidak ada yang berminat untuk belajar ilmu-ilmu mistik kepada saya, seperti minatnya ribuan orang yang telah belajar. Bagi mereka, ilmu supranatural apapun tidaklah berharga, apabila tidak dapat membuat mereka menjadi kaya raya. Sayapun tidak berpikir mereka harus belajar, mereka harus tertarik. Karena saya tidak mencari pengikut atau murid, melainkan hanya mencoba memenuhi apa yang menjadi kewajiban saya, yaitu memberikan hak ilmu atas orang yang bertanya.

Dengan kemampuan-kemampuan supranatural yang telah saya capai, itupun tidak membuat saya merasa hebat atau bangga diri. Karena saya masih seperti dulu, sebagai manusia yang lemah. Buktinya, beberapa tahun lalu saya mengalami sakit keras dan menjadi begitu lemah. Bahkan untuk berjalan saja, harus berhenti setiap 20 meter sekali, karena merasa letih. Kemampuan supranatural saya bukan jaminan saya untuk hidup sehat. Di sisi lain, sayapun sering menghadapi problem keuangan yang sulit. Merupakan bukti bahwa ilmu-ilmu supranatural yang saya pelajari, tidak membuat saya bebas dari kesulitan keuangan. Dan sayapun bukan seorang jagoan. Saya pernah fight dengan seorang bernama Fajar, saya tumbang dan kalah. Saya pun pernah fight dengan salah seorang murid saya bernama Mardi, saya tumbang dan kalah. Karena itu, saya merasa risih dan enggan mengajari sseorang yang bermaksud belajar ilmu-ilmu supranatural, ketika mereka salah memeprsepsi bahwa ilmu-ilmu supranatural dapat membuat mereka menjadi kaya raya atau menajdi seorang yang sakti. Dengan kisah-kisah yang saya sampaikan, diharapkan mereka dapat melihat dengan benar, bahwa setelah bergelut puluhan tahun dalam dunia supranatural, saya masih saja sebagai manusia yang lemah dan tubuh yang rapuh. Demikian pula, jika Anda bermaksud mempelajari ilmu suprantural dari saya, Anda tidak akan dapat berubah menjadi power ranger. He..he....  Akan tetapi, kisah-kisah itu juga memuat alasan - alan yang tepat, mengapa seseorang perlu menyelami dunia mistik dan apa manfaat-manfaatnya.

Berlandas pada prinsip "pengalaman adalah guru terbaik", itu salah satu alasan dari penyampaikan kisah-kisah pribadi.   Belajar filsafat itu tidaklah mudah. Jika kita membaca buku-buku filsafat, istilah-istilah yang digunakannya asing, njelimet dan mumet. Tapi, kalau kita belajar fislafat dari hidup kita sehari-hari, itu jauh lebih mudah. Yang kita lakukan hanyalah perlu merenungi hakikat yang kita alami itu. Itulah mengapa, saya banyak menceritakan pengalaman-pengalaman pribadi, termasuk pengalaman mistik, karena itu merupakan argumentasi atau alasan dari konklusi-konklusi yang saya ambil atau tindakan yang saya perbuat.

Orang yang menyimak kisah-kisah saya, tidak akan bertanya-tanya lagi, tidak akan merasa heran lagi, jika melihat saya berkumpul bersama-sama orang kristen dan berdoa bersama, padahal saya seorang muslim. Karena di dalam kisah-kisah yang disampaikan tadi telah disampaikan argumentasinya. Setuju atau tidak setuju dengan argumentasi tersebut, itu sepenuhnya hak Anda. Tapi bila ingin mendiskusikannya, maka itu adalah salah satu tujuan dari saya menyampaikan kisah-kisah.

Orang-orang Kristen bertamu ke rumah saya dan saya suguhi makanan. Kebetulan saja, waktu itu ada rezeki yang cukup, sehingga saya bisa menyuguhi mereka makan. Lalu mereka meminta izin untuk berdoa. Saya izinkan. Lalu mereka berdoa, "Wahai Bapak, Tuhan kami di sorga, .... ", setelah mereka usai berdoa, saya mengangkat kedua tangan saya dan berdoa, "Allhumma bariklana... " setelah itu kami makan bersama. Lalu ada orang yang protes, "Lha..kenapa kang Asep berdoa dan makan bareng dengan orang Kristen ? Kenapa bukannya mengusir mereka?" asli.. Pertanyaan seperti ini ditanyakan kepada saya.

Saya jawab, "Karena kami sama-sama lapar dan saya punya rezeki. Jadi saya bagikan kepada mereka. mereka berdoa dengan cara mereka, saya berdoa dengan cara saya. Dan mereka datang ke rumah saya dengan maksud baik, maka saya tidak mengetahui alasan sehingga saya harus mengusir mereka. Apakah ada larangan dalam hukum Islam untuk berdoa dan makan bersama orang-orang Kristen ? Saya belum mengetahuinya."

Pengalaman Matisuri, perjalanan ruh ke alam-alam gaib, itu yang kemudian membuat saya menjadi seorang pluralis, mengetahui bahwa mengasihi sesama seharusnya tidaklah dibatasi oleh "yang seagama". Binatang dan tumbuhan pun harus kita kasihi, apalagi sesama manusia, walaupun mereka berbeda agama. Ketika mereka berbicara tentang al kitab, saya mendengar dan menyimak, menyetujui serta mengakui apa yang benar, meluruskan apa yang salah atau mendiamkannya. Saya tidak sungkan untuk mengambil pelajaran dari kaum Nasrani, Yahudi, Hindu atau Buddha. Setiap orang punya alasan atas perbuatannya. Alasan perbuatan saya ada di dalam pengalaman-pengalaman spiritual. Ada orang yang tidak perduli dengan alasan-alasan saya, ada yang perduli dan bahkan ada yang sangat ingin tahu. Karena itu, bagi yang ingin tahu, maka saya sampaikan kisah-kisah pengalaman pribadi saya, termasuk pengalaman-pengalaman mistik tadi.

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
9 Jawaban
12592 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 23, 2013, 03:12:25 PM
oleh kang radi
1 Jawaban
2872 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 13, 2016, 11:50:42 PM
oleh Tom Mirant
2 Jawaban
1757 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2014, 06:23:57 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
792 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 19, 2014, 04:51:09 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1490 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 22, 2014, 09:23:54 AM
oleh kang radi
0 Jawaban
878 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 13, 2015, 05:52:01 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1086 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 27, 2016, 07:51:38 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
238 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 26, 2016, 07:54:50 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
137 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 12, 2017, 05:13:18 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
16 Dilihat
Tulisan terakhir November 12, 2017, 07:31:12 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan