Penulis Topik: Tempat Aku Sembunyi dari Dunia Yang Menyakitkan  (Dibaca 1960 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline A.R

Tempat Aku Sembunyi dari Dunia Yang Menyakitkan
« pada: Agustus 06, 2012, 10:14:23 PM »
Bandung, 18 Juli 1992,
Cintaku pada Nurhayati bertepuk sebelah tangan. Kesedihanku sangatlah mendalam. Lalu aku menulis sebuah surat untuknya. Isinya tentang sebuah kepergian. “Mungkin, aku pergi dan tak akan pernah kembali.” Demikian sebaris kata-kata yang kutulis dalam surat itu. Sehabis shubuh akupun pergi dari rumah. Sebelum pergi, aku masuk ke kamar ibuku. “Mak, saya mau pergi, jangan cari saya, mungkin saya pergi dalam waktu yang lama.” Tampaknya ibuku ngantuk berat, dan tidak terlalu menangkap apa yang aku katakan. Dia menjawab, “H mmmh”.

Pergi berkelana, entahlah kemana, tak tentu arah tujuan. Naik gunung, turun gunung, melewati bukit dan lembah, masuk hutan keluar hutan, melewati perkampungan, kebun dan sawah.

Burung-burung bernyanyi sepanjang hutan, seperti nyanyain rindu dan cinta. Walaupun mungkin di dalam hutan itu ada srigala ataupun singa, tak ada rasa takut sedikitpun. Dari pagi saampai petang, bahkan hingga gelap malam, aku bersendirian, hanya ditemai oleh pohon dan binatang-bintang, tiada hatiku bimbang.

Saat malam tiba, gelap gulita. Hanya bulan dan bintang, menjadi penerang, apabila tidak ada pohon rindang menjadi penghalang. Akupun sudah berpasrah, kepada dinginnya angin malam, dan embun-embun yang mulai turun ketika pagi menjelang. Semalam suntuk tubuhku seperti ditusuk-tusuk, karena udara gunung yang dingin.

Pagi mulai bersinar. Terasa sinarnya mulai menghangatkan tubuhku yang rasanya mulai membeku. Hangatnya sinar matahari itu seperti hangatnya buaian ibuku. Akupun jadi merasa ngantuk. Di atas rerumputan yang embunnya mulai menguap, akupun tertidur lelap.

Sekitar pukul sepuluh pagi mereka terbangun dengan tubuh yang terasa lebih segar dan bertenaga. Aku segera pergi ke sungai untuk cuci muka dan minum. Tak ada sesuatupun yang tampaknya bisa aku makan. Akupun mengenyangkan perutku dengan air sungai yang mengalir dengan jernih itu. Lalu aku kembali duduk termenung, di atas rerumputan sambil merenung dan menikmati hangatnya sinar matahari.

Entahlah kemana selanjutnya aku harus melanjutkan perjalanan, tak punya arah tujuan. Tapi diam saja di tempat itu membuatku merasa tak nyaman. Akhirnya aku berjalan mengikuti alur kehendaknya hati, menaiki sebuah bukit.

Berjalan menunju puncak bukit, lalu berbalik sejenak. Kulihat bumi yang luas. Nun jauh di sana, kulihat perkotaan, gedung-gedung tinggi, dan pabrik-pabrik yang mengepul asapnya ke udara dari cerobong-cerobongnya.   Lalu pandanganku tertuju ke perkampungan di lembah-lemah, atau rumah-rumah yang berdiri di punggung bukit, indah nian dipandang mata. Di sana ada seribu satu jenis kehidupan manusia. Tapi di sudut desa lainnya, terdengar suaru sinden melantunkan lagu dengan suara yang merdu, dengan musik-musik pertanda sebuah pesta pernikahan yang bahagia. Sementara aku di atas bukit ini, sunyi sendiri, ditemani angin semilir yang berhembus.

Dipuncak bukit, ternyata ada sebuah rumah panggung yang panjang. Empat rumah panjang melingkari sebuah lapangan. Di tengah lapangan itu ada sekelompok pemuda sedang berlatih silat. Rupanya ini adalah sebuah perguruan beladiri. Ada orang yang memberi tahu kepada saya bahwa itu adalah perguruan tenaga dalam Kalimasada. Sungguh aku kagum pada mereka, yang sedang gigih berlatih ilmu kanuragan dengan penuh semangat. Tapi langkahku tidak berhenti di situ, akupun terus berjalan, memasuki hutan belantara yang letaknya tidak jauh dari bukit tersebut.

Pada beberapa area di pegunungan itu, tampak jelas kerusakan hutan yang memprihatinkan. Tentu itu adalah ulah tangan manusia. Saya menyesali perbuatan mereka, “tak sadarkah mereka, bahwa menebangi pohon secara sembarangan bisa menyebabkan bencana menipa diri sendiri?” demikian gumamku dalam hati.

Sampailah aku di sebuah desa bernama Palintang. Tentu aku mengenal desa itu, karena di desan itulah konon katanya aku dilahirkan. Sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan belantara. Banyak kerabatku yang tinggal di desa itu, termasuk paman dan bibiku.

Sesampainya aku di rumah paman, aku menyatakan maksud hati bahwa aku akan berkelana jauh ke dalam hutan, mencari tempat yang paling sunyi, guna bertapakur, menemukan hakikat diri, berkhalwat di dalam suatu gua, sebagaimana Nabiku pernah melakukannya di gua Hira. Tapi paman dan bibiku itu sangatlah khawatir. Mereka membujukku agar aku tidak masuk ke dalam hutan yang masih dipenuhi dengan monyet, babi, srigala bahkan harimau. Mereka membujukku bahwa jika memang aku hendak berkhalwat, hendaknya berkhalwa di dalam sebuah gubuk kosong yang tidak dihuni dan letaknya tidak terlalu jauh dari perkampungan. Akhirnya, aku setuju untuk bersemedi di gubuk itu.

Sesampainya di gubuk kosong itu, aku segera berbenah, dan memulai persemedian. Entahlah siapa yang mengajariku cara-cara seperti itu. Seingatku, tidak ada seorangpun yang mengajari ku, tapi apa yang aku lakukan sepertinya hanya melakukan suatu kebiasaan yang telah lama aku lakukan. Padahal itulah pertama kalinya aku melakukan semedi.

Dengan sikap tangan yang beranjali, aku mulai memejamkan mata. Dengan mulai memperhatikan nafas keluar masuk, lama-lama menjadi tetaplah ciptaku. Waktu seakan berhenti, dan diriku keluar dari semua bentuk ruang. Disinilah letak keindahannya, aku tidak tau dari mana dan hendak kemana, seakan aku berhenti di satu titik dan lupa akan segalanya. Tiada lagi kepedihan hati, tiada kerinduan, tiada lagi cinta dan harapan yang sesungguhnya menyiksa.

Entah berapa lama aku bersemedi. Tiba-tiba aku terdasar oleh harumnya bau kemenyan, serta isak tangis seorang perempuan. Aku membuka mata pelan-pelan. Ternyata ibu dan ayahku sedang duduk dihadapanku sambil membakar dupa. Ibuku tampak menangis. Ia berkata bahwa dirinya telah tiga hari mencari-cari aku, tidak mengetahui kepergianku, dan kini ia memintaku untuk pulang. “Maafkan saya Mak!, bukankah saya telah berpamitan sebelum pergi?”

“Emak tak mendengarnya.” Demikian jawab ibuku. “Jika kamu menyayangi Emak, maka pulanglah nak!”.

Betapa inginnya aku meneruskan persemedianku. Tapi aku juga mengasihani ibuku. Maka akhirnya aku setuju untuk pulang ke rumah. Karna cinta tak terbalaskan, aku telah pergi jauh dari rumah, berkelana ke hutan-hutan seakan hendak menantang maut. Demi menemukan obat bagi sakit hatiku, aku lari dari kehidupan, sembunyi dari kepedihan. Dan tiadalah tempat sembunyi yang lebih nyaman yang kurasakan, kecuali tempat persemedian. Tapi ku pikir, usiaku saat ini barulah 14 tahun. Secara usia, perjalanan hidupku masihlah sangat panjang. Jika saat ini cintaku tak balaskan, mungkin esok atau lusa, aku masih punya kesempatan. Maka dari itu, kemudian aku setuju untuk pulang, dengan harapan cinta yang kedua.

Hanya karena cinta, sengsaralah hidupku, susahlah ibuku, bahkan keluarga dan karib kerabatku. Lucunya, Nurhayati yang kepadanya aku jatuh cinta, tak pernah tau menahu tentang semua masalah yang aku hadapi ini. Setidaknya, cinta yang menyakitkan itu telah mengajari aku tentang bagaimana cara sembunyi darinya sampai aku memiliki kekuatan untuki menghadapi segala kepedihan. 
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
929 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 30, 2012, 08:10:48 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1297 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 29, 2013, 07:14:43 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1308 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 06, 2013, 04:52:40 AM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
1134 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 12, 2015, 08:41:24 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
381 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 20, 2015, 06:28:07 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
306 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 16, 2016, 11:35:37 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
700 Dilihat
Tulisan terakhir April 12, 2016, 04:52:56 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
195 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 24, 2016, 08:10:33 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
579 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 15, 2016, 11:29:19 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
262 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 30, 2016, 08:26:37 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan