Penulis Topik: Membaca Pikiran  (Dibaca 2684 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Membaca Pikiran
« pada: Maret 22, 2013, 11:56:24 PM »
Telah banyak pengalaman mistik yang saya alami yang sebenarnya dari pengalaman itu bisa diambil hikmah atau pelajaran. Namun sayang sekali, banyak dari pengalaman-pengalaman tersebut yang terlupakan, apalagi sekarang saya sedang sibuk mempelajari teori-teori agama dari buku. Bahkan dengan terkadang saya merasa kesibukan saya mempelajari buku-buku membuat saya lupa dengan dunia mistik, tidak mempergunakan kemampuan-kemampuan mistik dan akhirnya keterampilan-keterampilan mistis tersebut menjadi agak tumpul. Hanya sekali-kali, apabila bersilaturaim kepada Sang Guru atau bila ditemui oleh para murid, maka saya tergugah membuka kembali pintu-pintu mistik yang agak menutup.

Bedanya dulu dengan sekarang, sekarang saya terinsiprasi untuk menuangkan pengalaman-pengalaman mistik yang saya alami dalam bentuk tulisan, serta mempublikasikannya. Sama sekali tidak bermaksud riya, atau dengan sombong menunjukan bahwa saya memiliki kemampuan-kemampuan mistik yang hebat dan mengagumkan. Sama sekali tidak. Dan semoga saya terhindarikan dari hal-hal seprti itu. Tidak ada hal yang bisa saya banggakan dari diri saya yang lemah dan hina. Tiadalah diri saya ini, kecuali daging dan tulang yang rapuh. Apabila saya berjalan tanpa alas kaki, dan saya menginjak benda tajam, maka kaki sayapun terluka dan berdarah. Tidak ada yang hebat pada diri saya. Tetapi sebagaimana pepatah mengatakan, pengalaman adalah guru yang terbaik. Oleh karena itu banyak pelajaran saya petik dari pengalaman-pengalaman tersebut, dan sebagaimana saya juga sering mengambil pelajaran dari penglaaman orang lain, barangkali saja ada orang lain yang bisa mengambil pelajaran dari pengalaman saya.  Itu saja  niat saya, tak lebih. 

Baru saja datang empat orang murid yang menemui saya. Terjadi interkasi mistis antara saya dengan mereka. Sebelum terlupakan oleh waktu, maka saya tuangkan pengalaman mistis tersebut ke dalam tulisan ini, mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran bagi mereka yang mau mengambil pelajaran.  Tapi berhubung hal ini masih hangat, baru saja terjadi, maka saya tidak bisa menceritakan secara rinci atas dasar menghormati kerahasiaan dan privacy mereka. Tapi mudah-mudahan tidak menjadi masalah, apabila saya menyebut nama-nama asli mereka.

Mereka adalah Budi, Dewi, Rini dan Rina. Budi adalah murid saya langsung. Dewi, Rini dan Rina adalah murid Budi. Secara tidak langsung, ketiganya adalah murid saya juga. Mereka telah setahun belajar kepada Budi. Tapi saya tidak ingat kalau pernah berjumpa dengan mereka. Oleh karena itu, saat berjumpa, saya bertanya, “Ini siapa namanya?” dan mereka memperkenalkan diri.

Kebetulan saya sedang berolahraga, mengajari dan melatih anak saya dan beberapa temannya seni bela diri  pencak silat. Saya persilahkan mereka untuk ikut serta bergabung berolahraga.

Usai berlatih pencak silat, saya menyuruh anak saya dan teman-temannya untuk bersiap pergi mengaji. Sebab, sebentar lagi waktu maghrib. Sementara murid-murid dewasa yang empat orang itu, melanjutkan kepada latihan krachtology.  Hanya berlangsung sekitar 10 menit saja, saya segera menghentikan latihan, berhubung hari menjelang maghrib.

Selama latihan, saya merasakan adanya getaran-getaran negatif dari arah belakang, terutama datangnya dari arah Dewi. Hal ini cukup mengganggu konsentrasi saya. Dalam hati saya berkata, “Diantara mereka ada yang sedang mengalami problem-problem mental, yaitu ini,  ini dan itu (hiden). Sebenarnya apabila latihan ini dilanjutkan sampai titik nadzir, tentulah problem-problem mereka akan terselesaikan dengan sendirinya. Tapi waktu tidak mencukupi, ditambah lagi pikiran mereka terus menerus “menyerang” dan “mendesak”,  meminta jawaban yang mencerahkan.” Karena itu kemudian saya segera menghentikan latihan.

Kami duduk bersama, sambil melepas lelah kami mengobrol, Sebelum mereka mengatakan apapun, saya memulai pembicaraan, “Baru saja latihan kita itu 15 %. Bila sampai pada 100 %, berarti kita telah mencapai titik nadzir. Dan saya dapat memperkirakan angka 15 % tersebut, karena sudah seringkali sampai pada titik itu, sehingga seperti kita menempuh suatu perjalanan, kita mengetahui kota mana yang menjadi tujuan, dan baru sampai mana kita saat ini. Latihan yang baik itu ya mesti tahu tujuannya mana. Latihan tanpa tujuan yang jelas, seperti orang yang menempuh perjalanan, tapi tidak pernah tahu, kota mana yang dituju, sudah sampai mana, dan berapa jauh lagi sampai pada tujuan. Tapi orang yang tidak tahu bisa mempercayakan kepada supir. Setidak-tidaknya sopir itulah yang mesti tahu kota tujuan, arah jalan dan jarak  yang ditempuh.”

Sementara itu, antara kami terjadi interaksi energi. “Salah satu cirinya latihan yang sempurna adalah munculnya ketenangan yang mendalam, semangat dan kegembiraan. Adapun kegembiraan yang dimaksud tidaklah disebabkan oleh faktor-faktor external, melainkan berasal dari faktor internal, yaitu akibat mapannya konsentrasi. Ketenangan, semangat dan kegembiraan internal tersebut disebut juga pencerahan konsentrasi. Tapi apabila latihan belum sampai pada titik nadzir, dalam arti belum sempurna, berhubung waktu yang tidak memadai seperti yang kita alami saat ini, maka pencerahan konsentrasi tersebut sementara dapat diganti dengan pencerahan intelektual, yaitu pencerahan yang muncul dari pemikiran, mengubah ketidak tahuan menjadi pengetahuan, yakni melalui penjelasan fislafat, perenungan, diskusi, atau pemaparan teori, sebagaimana yang kita lakukan saat ini.

Krachtology tidak akan matang hanya mengandalkan latihan di perguruan. Yang akan mematangkannya adalah praktik penggunaan krachtology dalam hidup sehari-hari. Belajar krachtology jangan seprti orang belajar kalkulus, lalu dia bekerja di bidang yang tidak mempergunakan disiplin ilmu kalkulus, maka jangankan ilmunya tersebut menjadi matang, bahkan akan semakin tumpul karena tidak digunakan. Demikian pula krachtology, untuk mematangkannya, kalian harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalian sebagai Mahasiswa, gunakan ilmu ini untuk membantu kalian dalam proses belajar, apabila kalian seorang pekerja, maka gunakan untuk membantu dalam persoalan pekerjaan. Bantuan yang paling penting dari ilmu ini adalah bagaimana membangun smangat belajar bagi pelajar dan bagaimana membangun semangat kerja bagi pekerja. Selain itu, bagaimana juga membangun ketenangan, sehingga mengalami kenyamanan dalam belajar maupun bekerja.

Dalam hidup, siapapun itu, apakah ia Mahasiswa, ataupun seorang pekerja, tentu mengalami banyak permasalahan. “ kemudian saya menjelaskan mengenai empat cara memulai menyelesaikan masalah[1] . Dan saya sampaikan semua ini bukan tanpa sebab, melainkan karena saya mengetahui bahwa kalian datang ke sini dengan membawa suatu beban masalah yang berat menurut mentalnya, dan sangat membutuhkan suatu pencerahan. Betul tidak, Wi?” saya menepuk lutut Dewi yang kebtulan duduknya berhadap-hadapan dengan saya. Dewi menutup wajahnya, dan memberikan isyarat bahwa benar dia sedang mengalami suatu problem yang membutuhkan penyelesaian segera. 

Kemudian saya menceritakan berbagai kisah yang serupa dengan persoalan-persoalan yang sedang dialami oleh Dewi. Dewipun tampaknya semakin merasa ketahuan dan yakin bahwa problem dirinya itu terlah sepenuhnya terbaca oleh saya. “Sesungguhnya, saya mengetahui masalahmu, Wi dan bagaimana penyelesaiannya. Tetapi untuk menuangkannya ke dalam kata-kata adalah tidak mudah. Lagi pula, kamu tentu tidak ingin bahwa masalah ini diketahui oleh kawan-kawanmu sendiri, karena bersifat sangat pribadi.”

Tampaknya Dewi merasa takjub, karena semua isi pikirannya seakan-akan menjadi transparan bagi saya[2]. Diapun membenarkan bahwa dia belum pernah memberitahukan masalah itu kepada siapapun, dan dia tidak ingin siapapun tahu masalah tersebut, tapi dia mengharapkan solusinya.

“itulah mengapa, saya tidak menceritakan detail pemasalahanmu. Walaupun saya dapat membaca isi pikiranmu, tapi pertama saya menghormati kerahasiaanmu. Kedua, sudah menjadi etika untuk tidak mengumbar apa-apa yang saya ketahui secara mistik dari pikiran orang lain.

 Dulu saya punya murid bernama Fatimah. Setiap apapun yang dia pikirkan, saya selalu membacanya dan mengumumkannya dihadapan kawan-kawannya. Saya bangga mampu menunjukn keterampilan saya membaca pikiran orang lain. Tapi bagi Fatimah, sebagai pihak yang pikirannya dibaca, merasa dipermalukan. Sehingga dia mengadu pada Sang Guru, dan Sang Guru kemudian menegur saya. Sejak saat itu, saya patuh pada kaidah, bahwa saya tidak akan mengatakan apapun isi pikiran orang lain, sampai orang itu mau mengakuinya sendiri. tetapi, pengetahuan saya tentang apa-apa yang ada di dalam pikiran orang lain menjadi landasan bagi saya untuk memutuskan mengenai pengetahuan mana yang harus saya jelaskan kepadanya.

Ketiga, kadang-kadang tidak selamanya pikiran saya jernih. Ketika pikiran saya ternoda oleh sesuatu, saya tidak menyadari bahwa pikiran saya telah ternoda dan akan keliru di dalam membaca pikiran orang lain. Pada saat saya telah salah membaca pikiran orang lain, maka barulah saya menyadari bahwa pikiran saya telah ternoda, memeriksa ke dalam dan berusaha membersihkannya kembali. Proses pembersihan ini tidak mudah. Tapi seandainyapun mudah dilakukan, tidak ada jalan bagi saya untuk mengulangi kalimat salah yang terlanjur saya lontarkan, sementara orang lain sudah menyimpulkan secara salah, bahwa karena saya telah salah membaca pikiran, berarti krachtology adalah ilmu yang salah. Ini adalah fitnah. Untuk menghindari fitnah, dan atas kehati-hatian, maka sekarang, saya tidak begitu saja mengatakan isi pikiran orang lain itu begini dan begitu.

Keempat, kebiasaan menunjukan keterampilan membaca pikiran itu seingkali membuat orang lain menyimpulkan secara keliru, yakni menangggap saya seperti tukang sulap di televisi yang mampu menebak angka-angka yang ditulis, sementara matanya ditutup. Tidak, saya tidak bisa melakukan hal itu. dan cara kerja ilmu ini tidak seperti itu. Pikiran seperti apa dan bagaimana yang bisa saya baca, kalau saya uraikan sekarang, tentu akan sangat penjang lebar. Tapi sekarang, tidak perlu diraukan lagi, kamu sendiri telah tahu dan melihat sendiri, bagaimana cara saya membaca pikiran kamu, dan pikiran seperti apa yang saya baca. “

Demikian panjang lebar saya memberi penjelasan di hadapan empat orang murid. Berkali-kali Dewi menunjukan sikap gusar dan perasaan yang berkecamuk karena seolah-olah saya sedang membongkar problematika batinnya. Tapi disisi lain, dia tampak menemukan harapan baru dari suatu penjelasan yang mencerahkan. Dan dalam hati, saya beryukur kepada Allah, serta berterima kasih kepada Sang Guru, atas ilmu yang beliau ajarkan kepada saya, kini saya dapat membaca pikiran orang lain secara terperinci, seperti membaca buku yang terbuka.

Karena sudah mulai gelap, Rina  dan Rini pulang diantar oleh Budi. Sambil menunggu Budi datang menjemput, Dewi berkata, “Seharusnya Akan tidak membukakan persoalan ini di hadapan kawan-kawan saya! Saya ingin mengkolsultasikannya empat mata saja.”

“Sebenarnya saya belum mengatakan bahwa masalahmu begini dan begitu, tapi semua kisah yang saya ceritakan sangat relevan dengan masalahmu, sehingga apa-apa yang saya katakan tembus ke dalam jantungmu, serasa benar-benar semua yang saya ceritakan adalah tentangmu. Kemudian, jika kamu hendak datang menemui saya untuk berkolsultasi, hendaknya kamu tidak datang sendirian. Bawalah teman seorang saja. Karena kamu seorang perempuan dewasa. Apabila kamu datang sendiri, saya khawatir akan terjadi fitnah. Sekarang ceritakanlah, bagaimana masalahmu, agar saya dapat melihat apa sama apa yang saya baca dari pikiranmu secara mistis dengan pengakuanmu sendiri!” Demikian kata saya.

“Benar sekali yang Akang katakan. Masalah saya, persis seperti yang tadi diceritakan. Dari kemarin saya ingin menangis, tapi saya tidak bisa menangis. Semua seperti terkurung di dalam, dan rasanya ingin meledak. Atas problem ini, apakah yang harus saya lakukan?” tanya Dewi kebingungan.

“Menyelesaikan persoalan seperti itu ada dua cara, pertama secara psikologi. Kedua secara krachtology. Kamu tahu, apakah bedanya psikolog dan krachtolog? Bila kamu datang ke psikolog, maka masalahmu akan dianalisa dengan cara psikolog itu mengajukan banyak pertanyaan yang harus kamu jawab, dan kamu akan diberi trik-trik psikologi, bagaimana mendorongmu untuk mengubah pola berpikir dan bersikap, sehingga problem-problem batinmu terselesaikan. Sedangkan krachtolog seperti saya, maka saya akan menganalisa masalahmu tanpa banyak tanya, dan akan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu tanpa kata-kata. Yang akan berbicara adalah hatiku, langsung ke hatimu. Jika batin gagal menembus batinmu, maka segala teori yang saya katakan hanya akan menjadi teori hampa, omong kosong.”

Kemudian saya duduk dalam sikap meditasi, kelima jemari tangan kanan saya disatukan seperti sedang mencomot nasi, dan saya menaruh di ulu hati saya, sambil memejamkan mata saya membaca “subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallah.” secara terus menerus.

Meditasi saya belum usai, ketika Budi datang. Saya meminta Budi untuk duduk, menunggu kami sebentar. Setelah batin saya menembus batin Dewi, sayapun menyampaikan sepatah dua patah kata kepada Dewi. Seketika Dewi menangis, bercucuran air mata. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata karena kesaksian batinnya akan benarnya semua yang saya katakan tentang dirinya, dan kini dia telah melihat jalan yang terang. Sayangnya, bentuk problem dan solusinya tidak bisa dirincikan di sini, atas rasa hormat atas kerahasiaan Dewi. Lalu saya berkata, “Menangislah bila ingin menangis. Kemarin hatimu keras, kering dan gersang oleh karena kemarahan yang mengeringkan air kasih. Oleh karena itu, seberat itu penderitaan batinmu, tapi kamu tidak dapat menangis. Kini rahmat Allah telah turun kepadamu, sehingga kamu dapat menumpahkan air mata, yang dengan air mata itu hatimu menjadi lembut, siap untuk menerima cinta dan siap dicintai. Maka penuhilah hatimu itu dengan cinta, belas kasih dan kasih sayang, semoga hidupmu bahagia!”
 1. Baca Dalam : empat cara penyelesaian masalah
 2. Baca Juga Cerita : Dia percaya saya bisa membaca pikiran
« Edit Terakhir: Maret 22, 2013, 11:57:56 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Membaca Pikiran
« Jawab #1 pada: Maret 23, 2013, 01:55:10 AM »
Wah jangan-jangan sebagian masalah saya juga sudah terbaca sama Kang Asep nih, soainya ada kecocokan dengan artikel diatas.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Membaca Pikiran
« Jawab #2 pada: Maret 23, 2013, 07:10:18 AM »
waktu awal2 tinggal di kotabaru ni, saya pernah bertemu dgn seseorg yang langsung tau bahwa saya adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. dia langsung menyebutkan begitu saja tanpa ditanya.
apakah yg seperti ini juga termasuk membaca pikiran? padahal waktu itu saya sama sekali tidak berpikir tentang anak keberapa saya dan ada berapa saudara saya...
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Membaca Pikiran
« Jawab #3 pada: Maret 23, 2013, 07:50:11 AM »
^ betul.

"membaca pikiran" itu hanyalah istiilah. tapi maksudnya adalah "membaca jejak cahaya" pada diri seseorang. sesungguhnya setiap diri manusia itu hakikatnya adalah cahaya. ketika seorang waskita hendak membaca diri seseorang, ia harus dapat melihatnya dalam wujud cahaya. seperti cahaya matahari, ketika ia diuraikan oleh bintik-bintik air, menjadi warna warni yang indah. setiap warnanya memberikan informasi yang berbeda. seperti itu pula manusia, ketika diuraikan oleh ketajaman kesadaran ia menjadi ragam warna yang masing-masing warna memiliki karakteristik dan informasi yang berbeda-beda.

adapun informasi yang terekam dalam  cahaya berwarna warni itu adalah riwayat seluruh kehidupan. tapi seorang yang waskita, belum tentu dapat membaca seluruh riwayat kehidupan. walaupun mereka bisa bisa melihat warna-warni tersebut, itu sama seperti kita berselancar di internet, ketika kita ingin mendapatkan suatu informasi yang kita butuhkan, belum tentu kita mendapatkannya, bergantung kepada kecerdikan kita sendiri menggunakan kata kunci di mesin pencari dan bagaimana penelusuran yang kita lakukan. seperti itu pula untuk mendapatkan informasi pada diri seseorang dengan menelusuri jejak cahaya, belum tentu semuanya bisa kita dapatkan. terkadang sayapun bisa mengetahui, seseorang itu anak keberapa di dalam keluarganya, berapa jumlah saudara perempuannya, berapa jumlah saudara laki-lakinya, dan konflik apa yang tengah di alami antara dirinya dan keluarganya. tapi itu hanya terkadang-kadang. kadang-kadang saya ingin menemukan informasi tentang hal posisi dia di keluarga, tapi justru informasi yang saya temukan adalah tentang kehidupan masa lalunya yang menyedihkan, dan lain sebagainya. kesimpulannya, kemampuan melihat cahaya (aura) adalah hal berbeda, dengan kemampuan menggali informasi dari cahaya itu.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
4 Jawaban
13986 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 20, 2013, 05:41:02 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
2246 Dilihat
Tulisan terakhir April 25, 2015, 11:26:16 AM
oleh Kang Asep
6 Jawaban
2430 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 19, 2013, 09:10:07 PM
oleh Kang Asep
7 Jawaban
2168 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 29, 2013, 04:40:10 PM
oleh Sandy_dkk
14 Jawaban
2869 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 01, 2014, 03:34:17 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2273 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 24, 2014, 05:29:17 AM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
992 Dilihat
Tulisan terakhir September 18, 2014, 04:52:48 AM
oleh wa2nlinux
3 Jawaban
824 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 12, 2015, 08:38:22 AM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
2436 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 22, 2015, 07:42:39 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1894 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 14, 2015, 02:59:06 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan