Penulis Topik: Didatangi Orang Sakti  (Dibaca 3701 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Didatangi Orang Sakti
« pada: April 09, 2013, 05:03:40 AM »
Suatu hari, ketika para murid saya melakukan aksi demonstrasi keterampilan beladiri, tiba-tiba saja seorang murid perempuan bernama Keisya tidak mampu memecahkan tumpukan bata yang dipukulnya. Tentu hal ini merupakan hal yang memalukan. Maka Muwahid, murid saya yang nomor wahid segera mengambil alih Keisya, memecahkan bata itu.

Kegagalan aksi demonstrasi tersebut tidak saya lihat secara langsung. Hanya sesudah pertunjukan itu, beberapa murid melaporkannya kepada saya. Ketika kami berkumpul, tiba-tiba datanglah seorang pemuda sambil tertawa-tawa. Dia berkata, “ha..ha… kalian tadi tidak bisa memecahkan bata ya? ya gak akan bisa, karena saya sudah memagari bata itu dengan ilmu saya!”

Mendengar dan melihat perkataan dan tingkah pemuda yang tampak menantang dan melecehkan itu, beberapa murid saya naik pitam. Hampir saja mereka menyerang pemuda ini. Tapi saya menenangkan mereka. “Tahan-tahan!” kata saya pada mereka. Sedangkan kepada pemuda itu saya berkata, “Mari saudara! Silahkan duduk bersama kami!”

Setelah duduk dan memperkenalkan diri bernama Bonang, pemuda ini terus mengoceh tentang kehebatannya, tentang gurunya, tentang berbagi kesaktian yang telah dia pelajari. Beberapa murid saya tampak memadangnya dengan sorot mata yang marah. Tapi saya memberi mereka isyarat agar mereka tetap tenang. Terlihat sekali mereka tidak menerima, mengapa saya membiarkan orang ini menghina dan melecehkan kami.

Setelah Bonang berhenti mengoceh, saya bertanya, “Saudara, apakah guru Anda mengizinkan Anda mempergunakan ilmu yang diajarkannya untuk menjahili orang lain?”

“Oh tidak! Kalau guru saya tahu, pasti saya dimarahi oleh guru saya.” Jawabanya.

“Kalau begitu, Anda bukan murid yang patuh pada diri Anda.”

“Ya.” katanya.

“Kalau begitu Anda bukan murid yang baik, Anda bandel dan membangkang guru Anda!” lalu pandangan saya diarahkan kepada  murid-murid saya sendiri,”Murid-murid di sini pun, apabila membangkang, tidak patuh, bandel, jahil, sombong, ujub, riya dan takabur, berarti tidak lebih bagus dari orang ini!” kata saya, sambil menunjuk hidung Bonang.

“Wah… tapi saya penasaran kang! Saya ingin tahu, sampai di mana kesaktian Akang dan murid-murid di sini! Makanya tadi saya menggunakan ilmu saya untuk membuat batu bata tidak bisa dipecahkan.” Kata  Bonang dengan angkuhnya.

“laa haula walaa kuwata, illaa billah. Saudara, kami tidak merasa memiliki suatu kekuatan apapun, kecuali atas pertolongan Allah. Mungkin Anda orang yang sakti, tapi kami tidak tertarik dengan kesaktian Anda, tidak kagum apalagi menghendakinya. Kami tidak hormat kepada orang yang kaya, cerdas ataupun sakti. Kami hanya hormat kepada mereka yang shaleh, yang rendah hati, jauh dari sifat ujub, riya dan takabur. Sekarang apa yang Anda harapkan? Apakah Anda ingin menunjukan kesaktian Anda pada kami, lalu kami kagumi, dan kami memuji Anda? sekarang kami sudah melihatnya, dan kami katakan Anda hebat. Apakah Anda sudah merasa cukup dengan pujian ini?” kata saya kepada Bonang.

“Sebenarnya sih, saya ingin berguru lagi, mencari guru yang lebih hebat dari guru saya. Tadi saya melihat murid-murid Akang mendemonstrasikan ilmu tenaga dalam. Kalau saya tidak menguji dulu, apakah ilmu tenaga dalam murid-murid Akang itu lebih hebat dari saya, bagaimana saya bisa tahu kalau perguruan ini adalah tempat yang cocok untuk saya melanjutkan belajar ilmu tenaga dalam.” Kata Bonang.

Saya menjawab, “tampaknya, ada banyak hal yang berharga untuk bisa Anda pelajari di perguruan ini. Tadi Anda sudah menjelaskan panjang lebar, tentang apa saja yang telah diajarkan oleh guru Anda kepada Anda. tampaknya, masih banyak yang belum diajarkan oleh guru Anda. Tapi rupanya, perguruan kami bukan tempat yang cocok untk Anda, sebab Anda mash mengejar kesaktian, sedangkan kami mengejar sesuatu dibalik kesaktian itu.”

“Apa itu?” tanya dia.

“Kebijaksanaan” jawab saya.

“Oh, kalau itu sih sama dengan yang diajarkan oleh guru saya. Gak ada yang beda!”

“Apakah cukup bijaksana mencoba mempermalukan orang lain di hadapan umum?” tanya saya.

“kan sudah saya katakan, saya memang salah, dan kalau guru saya tau, pasti saya dimarahi olehnya.” Jawab bonang.

“kalau begitu, berarti Anda masih belum cukup belajar kebijaksanaan. Kalau masalah sakti, rupanya iblis lebih sakti dari kita. Tapi dia sombong, angkuh terhadap manusia. Maka jadilah ia makhluk terkututk. Untuk apalah kita menjadi sakti, kalau kesaktian kita ini akhirnya menjerumuskan kita ke dalam jurang neraka.” Kata saya.

“Iya sih, Kang!” kata Bonang. Lalu suasana hening sejenak.

“Sekarng saya tanya, jika apa yang Anda lakukan tadi adalah salah menurut pandangan Anda sendiri, sebenarnya Anda bersalah pada siapa? Pada guru Anda, pada Allah, pada orang tua Anda, pada publik, pada saya, atau pada para murid saya?” tanya saya.

“Saya bersalah pada Akang dan pada para murid Akang.”

“Jadi, menurut ajaran guru Anda itu, bagaimana seharusnya kalau kita bersalah pada sesama manusia?”

“O ya Kang! Saya minta maaf!” Lalu Bonang menyalami saya, seraya mencium tangan saya, meminta maaf. Dia juga menyalami murid-murid saya semuanya sambil meminta maaf.

Selepas dia pergi, saya bertanya pada para murid, “Apakah kalian marah ketika pemuda tadi datang dengan segala ocehannya?”

“Ya tentu saja, Kang! Mungkin, kalau gak ada Akang, kami sudah memukulinya.

“kalau saya malah merasa geli. He..he..!”

“kenap, Kang?”

“Ketika Dani melaporkan kejadian tadi pada saya, langsung saja saya teringat dengan peristiwa dua tahun lalu. Ketika saya menyaksikan ada pertunjukan ilmu tenaga dalam dari perguruan lain. Mereka bermaksud memecahkan es balok. Saya tertarik untuk menguji kemampuan mereka. Lalu saya menstranfer energi saya ke dalam es balok tersebut. maka es balok itu tak bisa pecah. Orang yang berusaha memecahkannya silih berganti hingga sepuluh orang seniornya. Mereka bingung dan mulai curiga ada pihak luar yang jahil. Saya merasa kasihan juga, dan di sisi lain merasa menang. Lalu saya melepaskan energi saya dari es balok tersebut. akhirnya pecahlah oleh orang yang ke sebelas. Ketika sekarang hal ini menimpa murid-murid saya, mungkin ini balasan terhadap apa yang saya lakukan dua tahun lalu. Tentu bukan hanya kalian yang dipermalukan, tapi saya dan sang guru sebagai guru kalian. Peribahasa mengatakan hana caraka data sawala, anaknya celaka, bapaknya terbawa-bawa. Demikian pula sebaliknya, akibat dosa orang tua, anaknyapun mendapat petaka. Oleh karena itu, bukan hanya si Bonang tadi yang perlu minta maaf pada kalian, tapi saya juga minta maaf pada kalian, dan jangan sampai kalian mengulangi kesalahn seperti ini, karena pasti ada balasannya.” Saya menjelaskan panjang lebar.

Muwahid berkata, “Alhamdulillah, Wasyukurilah. Hari ini kami mendapat pelajaran berharga dari Kang Asep.”

“ini juga pelajaran berharga bagi saya.” Balas saya.

Sungguh kejadian itu bukan yang pertama kali. Di lain waktu, ada seorang berpenampilan ala jawara pasar tiba-tiba datang ke rumah dengan membawa golok. Namanya Tanu. Tentu saja saya merasa kaget dan risih. Tapi hati saya menjadi lebih tenang, ketika saya tahu ternyata dia hanya bermaksud untuk menunjukan ilmu kebalnya kepada saya.

“Sebenarnya saya ke sini ingin berguru pada Akang!” katanya pura-pura. Saya dengar, Akang guru yang hebat.”

“Bohong itu! saya biasa aja kok!” timpal saya.

“Pasti Akan bisa melakukan seperti ini…” orang tiba-tiba mengeluarkan goloknya dan menggesekan bagian tajam golok itu ke kulit tangannya.

Mata saya terbelalak dan berkata, “ow… saya tidak bisa. Kata siapa saya bisa? Saya tidak kebal senjata tajam, tidak punya ilmu kebal. Kalau mengenai saya, tentulah saya akan terluka.” Saya khawatir, kalau dia percaya bahwa saya kebal, lalu mencobakan golok itu pada saya, celakalah saya.

“Ah masa sih Kang! Kemarin saya dengar, murid Akang dibacok di Jl. Manisi, tapi katanya tak mempan, bahkan seperti mengenai besi?”

Benar saja! Orang ini gak mau percaya, kalau saya tak punya ilmu kebal. “Wah, kalau itu sih cerita murid saya sendiri pada saya. Benar atau tidaknya sih saya tidak tahu. Kalaupun iya, itu bukn karena ilmu kebal. Karena saya tidak mengajarkannya pada murid saya. Mungkin itu ada pertolongan Allah saja.”

“Coba dong, Kang! Dikit aja!” kata orang itu sambil menyodorkan golok tajamnya, membuat hati saya makin gak karuan.

“Kirain Akang itu orang sakti, ternyata gak ada apa-apa nya!” kata dia mulai meledek.

“iya. Saya juga tidak tahu, siapa yang menyebarkan cerita bohong itu, saya juga tidak tahu. Saya bukan orang sakti kok. Saya tidak ingin sakti, soalnya rugi” Kata saya.

“Rugi gimana kang?”

“ya rugi, lah. Coba lihat, baru desas desus saja, sudah banyak orang yang menganggu hidup saya, kehidupan keluarga saya terganggu. Di sini para tetangga, kalau menemukan ular di dalam rumahnya teriak-teriak minta tolong pada saya, Cuma karena dengar desas desus saya bisa menaklukan ular. Padahal baru saja saya makan satu suap, mesti lari ke rumah tetangga, mengusir ular itu, bukannya saya punya ilmu penakluk ular, saya Cuma khawatir ular itu akan membahayakan manusia. Di waktu lain, pernah ada pemuda mengamuk membabi buta menggunakan balok kayu memukuli orang-orang yang mendekatinya di waktu tengah malam, bukannya lapor ke polisi, warga malah lapor ke saya, menggedor rumah saya. Padahal saya sedang asyik tidur hangat dalam selimut bersama istri saya. Saya bukan superman, bukan spriderman, kenapa orang minta bantuan saya? Hanya karena saya seorang guru krachtology, tidak berarti saya bisa melakukan semuanya. Kadang, saya kerja hingga larut malam. Baru lima menit terlelap dalam tidur, tetangga menggedor, katanya ada sanak saudaranya yang kerasukan atau kena santet. Suatu kehidupan yang berat dan melelahkan bagi saya dan keluarga saya. Belum lagi saya harus dihadapkan kepada orang seprti Anda, yang datang ingin menguji ilmu kebal saya, padahal saya tak memiliki ilmu kebal, saya hanya ada sedikit teori, kalau Anda tidak menyarungkan golok Anda, maka saya akan menelpon polisi sekarang juga, agar Anda ditangkap. Karena saya takut. Kalau mau dibilang kesaktian, ya mengadu ke polisi itulah kesaktian saya. Coba Anda pikirkan, jangankan menjadi orang sakti beneran, dianggap sakti saja sama orang lain bukankah begitu berat, membebani dan merugikan?”

Orang itu segera menyarungkan goloknya kembali. “Waduh maaf, Kang! Saya tidak bermaksud membuat Akang takut! Saya Cuma ingin tahu.”

“Tapi Anda juga harus mengerti, rasa keingin tahuan Anda itu menakutkan orang lain. Dan rasa keingin tahuan orang, selain bisa mencelakan orang lain, juga bisa mencelakakan diri kita sendiri.” kata saya.

“iya Kang, saya mengerti!”

“Lagi pula, saya ini tidak tertarik dengan ilmu kebal. Kenapa? Karena ternyata, walaupun orang itu kebal senjata tajam, tapi dia tidak kebal dengan penyakit. Demikian pula seperti Anda. benar kan?” kata saya.

“Lha, kok Akang seperti tau, saya punya penyakit?” tanya dia. Saya tersenyum saja, membiarkan dia percaya kalau saya bisa mengetahui penyakitnya secara mistik. Padahal, saya Cuma mengatakan bahwa setiap orang itu tidak luput dari sakit dan penyakit. Sudah pasti si Tanu itu juga, karena dia juga “orang”. Mungkin kebetulan saja, dia mempunyai keluhan penyakit.

Sudah faham bahwa dia punya keluhan penyakit, saya langsung berkata, “Penyakit Anda itu bukanlah penyakit ringan, Anda sering gelisah dan merasa pusing?”

“Betul sekali, Kang! Bagaimana Akang tau?” tanya dia.

He..he.., dalam hati saya bilang, gelisah dan pusing itu kan penyakir mayoritas orang. Saya Cuma tebak-tebakan saja. Dia mengira saya orang “weruh”.

“Coba kemarikan kaki Anda, akan saya periksa!” pinta saya.

Si Tanu nurut saja. Dia menyelonjorkan kakinya. Dan saya segera meraba-raba, menemukan titik syaraf yang bisa membuat dia teriak kesakitan dan minta ampun. Setelah menemukannya, saya tekan kuat-kuat. Si Tanu berteriak, “Aw… ow… aduh… sakit Kang! Panas banget! Aduh ampun! Pelan-pelan, Kang!”

Saya terkekeh, pemuda tinggi besar, bertato, dan kebal senjata tajam ini teriak ampun-ampunan Cuma ditotok syaraf pada jari manis kakinya. Biarlah dia nyadar, kalau kita, manusia ini hanyalah tubuh yang rapuh. Tiadalah yang bisa dibanggakan dan disombongkan darinya. Seharusnya dia belajar tentang kelemahan tubuhnya, agar mampu memahami kekuatan Tuhannya.

Itulah dua kisah, di mana saya pernah dijumpai oleh orang sakti yang merepotkan. Saya tidak ingin lagi didatangi orang sakti seperti itu. lebih baik bagi saya dijumpai orang shaleh yang membawa berkah, yang membawa kabar gembira dan kebahagiaan, dari pada orang sakti yang merepotkan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Didatangi Orang Sakti
« Jawab #1 pada: April 09, 2013, 11:49:19 AM »
Quote (selected)
Tapi rupanya, perguruan kami bukan tempat yang cocok untk Anda, sebab Anda mash mengejar kesaktian, sedangkan kami mengejar sesuatu dibalik kesaktian itu.”

“Apa itu?” tanya dia.

“Kebijaksanaan” jawab saya.

kebijaksanaan.
apakah kebijaksanaan selalu berada dibalik kesaktian? sehingga hanya orang2 yang telah melampaui kesaktian yang dapat meraih kebijaksanaan?
atau, apakah seseorang yang telah meraih kebijaksanaan, dapat dipastikan dia juga memiliki kesaktian sebagai efek dari kebijaksanaan tsb?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Didatangi Orang Sakti
« Jawab #2 pada: April 09, 2013, 12:08:34 PM »
tentu tidak. orang sakti belum tentu bijaksana. orang bijaksana belum tentu sakti. tetapi hukum alam mengharuskan orang-orang sakti tunduk pada orang yang bijaksana. mungkin perumpamaannya seperti sun go kong dengan biksu tong. si kera sakti itu terpaksa tunduk kepada manusia yang suci itu.

orang bijaksana adalah pemiliki segala kesaktian. tapi bisa jadi ia tidak sakti, karena tidak mempergunakan kesaktiannya. sepertinya hebat, orang yang mempelajari ilmu kebal. tapi kalau dilihat dari sisi kebijaksanaan, sesungguhnya Allah menjadikan manusia bisa dilukai senjata tajam karena hal itu membawa faedah. kalau kebal senjata tajam seprti paman saya, waktu dia sakit tipes, jaruk suntik gak ada yang tembus, patah semua. akhirnya, proses pengobatan menjadi sulit. dilihat dari ilmu hakikat, setiap seseorang diberi kelebihan yang bersifat duniawi, sesungguhnya ia di kurangi di sisi yang lain. jadi, di sisi orang bijaksana, kesaktian itu tidak tampak hebat, tidak pula mengagumkan.

kesaktian disebut "baju makrifat". maksudnya, setelah seseorang mempelajari kesaktian secara terus menerus, akhirnya ia menemukan bahwa semua itu adalah tiada artinya. nihilism. lalu dia melepaskan kesaktian dan tinggalkan kebijaksanaan. sudah tidak ada selera terhadap bentuk-bentuk kesaktian. ia melihat, mereka yang masih terobsesi oleh bentuk-bentk kesktian, adalah yang masih memiliki selera duniawi yang rendah.

kesaktian, dapat menjadi jalan kebijaksanaan. hal ini dengan suatu syarat, kalau guru yang mengajarnya juga merupakan ornag bijaksana. kalau seseorang berlatih ilmu kesaktian dibawa orang yang sesat, mungkin sesat saja selamanya.

pada para wali, kesaktian itu disebut karamah. dalam riwayat babad tanah jawi, ketika seorang raja terihat berjalan di atas lautan, sunan Gunung Djati menegur sang Raja, "Janganlah Anda menampakan kesaktian Anda dihadapan umat awam, karena itu akan mengundang murka Allah!".

kebijaksanaan berbanding lurus dengan pengetahuan. Bagaimana orang akan disebut bijaksana apabila ia menduduki makanan yang sedang disantap oleh orang-orang. demikian pula, manusia yang mata batinnya tumpul, seringkali tidak menyadari bahwa dia telah mengganggu ketentraman sekumpulan jin. Bagaimana pula seseorang dianggap bijaksana, apabila ia menyksa seorang jin, padahal ia sudah dalam kondisi sengsara?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Didatangi Orang Sakti
« Jawab #3 pada: Desember 09, 2015, 11:43:29 AM »
Saya terkekeh, pemuda tinggi besar, bertato, dan kebal senjata tajam ini teriak ampun-ampunan Cuma ditotok syaraf pada jari manis kakinya. Biarlah dia nyadar, kalau kita, manusia ini hanyalah tubuh yang rapuh. Tiadalah yang bisa dibanggakan dan disombongkan darinya. Seharusnya dia belajar tentang kelemahan tubuhnya, agar mampu memahami kekuatan Tuhannya.

Apa orang yang kebal senjata tajam tidak kebal terhadap tangan kosong?
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Didatangi Orang Sakti
« Jawab #4 pada: Desember 09, 2015, 06:45:29 PM »
maksudnya kebal itu, kulitnya sulit robek. pake jarum, silet, golok gak bisa robek. tapi kalo dipukul ya tetap kesakitan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Didatangi Orang Sakti
« Jawab #5 pada: Desember 10, 2015, 12:06:36 AM »
maksudnya kebal itu, kulitnya sulit robek. pake jarum, silet, golok gak bisa robek. tapi kalo dipukul ya tetap kesakitan.

Berarti cuma oleh senjata tajam? Dipukul pakai tongkat, tonfa, atau nunchaku tetep mempan?
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Didatangi Orang Sakti
« Jawab #6 pada: Desember 10, 2015, 09:38:22 AM »
mempan kang!

misalnya, jika urat nadi di leher di tekan, maka orang kebal senjata tajam juga tetep aja bakal koit.
« Edit Terakhir: Desember 10, 2015, 09:40:22 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Didatangi Orang Sakti
« Jawab #7 pada: Desember 10, 2015, 10:21:55 AM »
Kalau digigit atau digores kuku?
 

 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
2081 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 30, 2013, 05:18:07 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
1903 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 25, 2012, 02:10:32 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
838 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 21, 2013, 01:17:21 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
13783 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 23, 2013, 02:05:10 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
1660 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 22, 2013, 03:03:13 PM
oleh Awal Dj
2 Jawaban
1857 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 15, 2015, 01:00:05 PM
oleh gumalta
0 Jawaban
1742 Dilihat
Tulisan terakhir April 25, 2013, 10:47:27 AM
oleh Abu Zahra
1 Jawaban
1159 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 04, 2015, 07:55:17 PM
oleh Ziels
3 Jawaban
2012 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 25, 2014, 05:44:40 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
673 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 02, 2015, 08:22:39 AM
oleh hamaslover

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan