Penulis Topik: Dialog Interperson  (Dibaca 728 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Dialog Interperson
« pada: Desember 05, 2014, 04:11:14 AM »
Di waktu fajar aku terbangun, bermunajat kepada Tuhan untuk memohon sebuah kekuatan yang sangat penting untuk aku miliki, yaitu kekuatan kejujuran. “Ya Allah, kuatkanlah diriku untuk berkata jujur dan bertindak jujur.”

Bencana adalah apabila aku sudah terdesak untuk melakukan kebohongan-kebohongan. Aku sangat merindukan Tin Hayatin dan ingin berjumpa dengannya. Tapi, bila aku jujur dan mengatakannya kepada istri, maka istriku tidak akan pernah mengizinkan, dan aku tidak akan pernah mendapatkan apa yang aku inginkan. Satu-satunya cara untuk mendpatkan apa yang aku inginkan adalah dengan cara berbohong. Tapi aku tidak mau berbohong.Dilemma.

Pikiranku menemukan jalan buntu dan membingungkan. Bila sudah begini, Bagaikan kura-kura masuk tempurung, saya memasuki adalam persemedian, mengheningkan cipta, memohon petunjuk yang Maha Kuasa.

Baru saja lima menit bermeditasi, terdengar suara yang tidak terlihat wujudnya, yang berkata, “Bersabarlah dalam menahan keinginanmu! Bertahanlah untuk selalu jujur dan jangan pernah berbohong! Kelak, istrimu akan merelakan kamu meraih apa yang kau inginkan.”

Terhenti dari Meditasi dan mulai merenung kembali, mengandalkan Pikiran untuk menggali kebenaran. Sebelumnya, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Sekarang, ada yang memberi tahu aku, sehingga menjadi jelas apa yang harus aku lakukan. Ya... aku dapat bersabar untuk tidak bertemu dengan Tin, sampai istriku merelakan aku untuk menemuinya. Semua ini, mungkin hanyalah ujian bagi kesabaranku. Jawaban dari persoalan pertama, telah aku dapatkan.

Tetapi, ada persoalan kedua yang aku belum mengetahui jawabannya. Aku ingin berkomunikasi dengan Tin, walaupun hanya melalui dunia maya. Aku mengambil jalan rahasia. Sebab, jika istriku atau suami dia mengetahuinnya, niscaya kami tidak akan diizinkan untuk berkomunikasi. Saya tahu dan mengerti bahwa apa yang kami lakukan, walaupun tidak terlarang menurut hukum agama dan negara, tapi terlarang dalam pandangan dan keinginan pasangan kami. Apakah saya harus patuh pada pandangan dan keinginain istriku dengan mengorbankan keinginanku sendiri ataukah aku boleh mengabaikan pandangan dan harapan istriku untuk sekedar bisa berkomunikasi  dengan Tin ? sungguh, aku seperti berada di ruangan gelap. Walaupun aku menggunakan kaca mata untuk membaca, tapi aku tidak melihat tulisan yang harus aku baca.

Kembali bermeditasi, ini selalu menjadi jalan terakhir dalam setiap kebingunan yang aku hadapi. Baru saja dua menit aku bermeditasi, suara itu kembali muncul, mengatakan, “Kamu boleh mengambil jalan rahasia itu”, tapi pikiran saya menyangkal dan berkata, “Jika aku boleh berahasia untuk bisa komunikasi dengan Tin melalui dunia maya, mengapa aku tidak boleh berhasia untuk bertemu Tin secara langsung ?”

“Pertemuanmu itu, jika tidak dilakukan atas kerelaan istrimu, akan melemahkanmu di sidang pengadilan. Semua alasanmu menjdi seperti bangunan yang tidak memiliki pondasi. Tetapi, pembicaraanmu dengannya, justru jalan untuk membangun pondasi itu.” demikian suara yang kudengar.

Saya mengajukan sebuah pertanyaan, “Mengapa kau tidak melarangku untuk berhenti dari semua ini, melupakan Tin untuk selama-lamanya ?”

“Karena aku tahu, upayamu untuk meraih cinta Tin adalah jalan yang kau tempuh untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, walaupun jalan yang kau pilih ini tidak dimengerti orang-orang, tapi aku mengerti, maka tempuhlah jalan itu jangan kau meragukannya!.” Demikian suara yang kudengar.

Aku bertanya lagi, “Bagaimana kalau aku nanti diperlsahkan banyak orang ?”

Dia menjawab, “Tidak ada seorangpun yang tidak dipersalahkan. Para nabi dan orang-orang shaleh dipersalahkan oleh orang-orang yang menentangnya. Biarkan mereka semua menyalahkanmu, agar kau kemukakan alasan.”   

“Aku takut, aku akan melangkah ke jalan yang salah dan terjerumus dalam dosa.” Keluhku.

“Maka bangunkan kekuatan keyakinan!” suara itu.

“Aku takut, semua yang aku lakukan ini adalah untuk mengikuti hawa nafsuku semata.” Aku.

“Maka waspadalah!”

“Aku takut bahwa aku tidak akan dapat menahan diri untuk berjumpa dengan Tin, sehingga semua argumentasiku di sidang pengadilan menjadi bagaikan rumah tak berpondasi.” Aku masih mengaduh.

“Kekuatanmu untuk menahan diri, bergantung kepada kehendakmu. Itu pilihanmu. Kau dapat menahan diri, jika kau mau.” Demikian suara yang kudengar.

“Apakah yang akan terjadi kelak antara aku dengan Tin Hayatin ?” tanyaku penasaran.

“Hal besar, mari aku perlihatkan padamu tentang apa yang akan terjdi, tetapi rahasiakanlah semua ini, kecuali dari ahlinya ..” suara itu.

Setelah itu munculah suatu gambaran tentang apa yang akan terjadi antara saya dengan Tin. Gambaran itu sangat jelas, seakan saya sedang menonton sebuah tayangan film di televisi. Peristiwa-peristiwa yang kulihat membuat perasaanku berkecamuk. Sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Dan aku berjanji untuk merahasiakannya.

“Apakah semua itu pasti terjadi ? ... bagaimana kalau umurku tidak sampai pada masa itu ? ataukah bagaimanakah bila saya mengharapkan semua itu tidak terjadi ?” tanya saya.

“Semua itu pasti terjadi. Tapi kepastiannya bergantung kepada pilihanmu. Seperti sorga dan kehidupannya, jika kau memilih jalan kebajikan, .. kau akan melihat gambaran dirimu hidup di alam sorgawi. Dan itu pasti terjadi. Tapi, jika ternyata kau menyimpang dari jalan kebenaran, maka gambaran kehidupan sorgawi itu hanyalah gambaran yang tidak akan kau jalani.” Demikian suara yang kudengar.

“Jadi, gambaran peristiwa yang akan terjadi antara saya dengan Tin itu tidak akan terjadi, bila saya memilih jalan yang berbeda ?” tanya saya.

“Benar ..!”

“Apakah kau tahu, jalan mana yang akan aku pilih ? dan apakah aku akan mengubah pilihan itu ?” tanya saya penasaran.

“Aku tau, jalan mana yang akan kau pilih. Lalu kau akan mencoba untuk mengubah pilihanmu di tengah jalan, tapi itu terlambat ... kau sudah memasuki jalan itu, dan tidak ada pilihan kecuali melanjutkannya.”

“Bagaimana bila pernyataanku itu meleset dari kenyataan, dan aku memilih jalan yang berbeda mulai dari sekarang ?”

“Silahkan mencoba, dan kamu akan gagal!”

“Jika demikian, sama saja kau meramalkan aku akan berumur panjang, sampai pada peristiwa yang kau gambarkan tadi ?” tanyaku.

“Benar!”

“menurutku, bisa saja kau salah, dan mungkin saja saya mampu memilih jalan yang berbeda dari yang kau ramalkan.” Bantahku.

‘Keyakinanmu itu dipengaruhi oleh pengetahuan alamiah. Dan ketahuilah, pengetahuan alamiah itu dipengaruhi oleh keyakinanmu. Kepastian apa yang akan terjadi besok dipengaruhi oleh keyakinanmu. Dan keyakinamu dipengaruhi oleh apa yang kau ketahui. Apakah menurut keyakinanmu, sebatang kayu dapat berubah menjadi emas hanya dengan cara kamu meludahinya ?”  tanya dia.

“Tentu tidak mungkin.”

“itulah, keyakinan akan ketidak mungkinan itu yang menyebabkan sebatang kayu tidak mungkin berubah menjadi sebatang emas. Jika kamu yakin tanpa ragu, dengan meludahi sebatang kayu, seketika ia berubah menjadi emas. Maka bagaimana menurut keyakinanmu tentang gambaran yang aku perlihatkan kepadamu, apakah itu pasti terjadi, mustahil terjadi ataukah tidak mungkin terjadi ?”

Saya menjawab, “Mungkin terjadi, tidak pasti terjadi.”

Suara itu terdengar lagi, “keyakinan itu berlandaskan hukum yang kau ketahui dan menjadi hukum.”

Masih penasaran, “Kenapa kau tidak menampakan wujudmu ?”

“Aku berwujud, kenapa kau tidak melihatnya ?” dia balik tanya.

“Mana... aku hanya mendengar suara, dan tidak melihat wujudmu ..?” kata saya.

“Wujudku jika kau ludahi, maka wajahmu akan basah, jika kau pukul, maka kau akan terjatuh. Aku serupa dengan dirimu.” Jawabanya.

“Apakah kau sama dengan aku ?” tanyaku. 

“Benar.”

“Tapi jelas-jelas aku mendengar seseorang berbicara, dan itu bukan aku. Aku berbeda pendapat denganmu, bagaimana kau bisa mengaku sebagai diriku ?” tanyaku.

“Yang bingung, yang berpikir, yang berpendapat, yang belajar dari tidak tahu menjadi tahu, itulah pikiranu.  Pikiran itu memiliki kemungkinan untuk salah dan tersesat, tapi jiwamu, ia telah dibekali pengetahuan sejak azalinya, pengetahuan tentang kebenaran, kaadilan, kebaikan. Oleh karena itu, apa yang dikatakan oleh hati sanubarimu, bisa bertentang dengan apa yang dikatakan oleh pikiranmu.” Kata suara itu.

Aku beranjak dari Meditasi. Saya pikir, memang banyak hal yang aneh dan membingunkan dari dunia mistik. Oleh karena itu, bukanlah mitos bila tersebar berita banyak orang yang menggeluti dunia kebatinan menjadi gila. Hal itu karena dihadapkan pada hal-hal yang membingungkan. Untungnya, saya mempunya cara tersendiri untuk menguraikan hal-hal membingungkan itu, yaitu dengan metodologi Logika.

“Sumber suara itu adalah diri saya sendiri”. Menurut hukum logika, pernyataan tersebut bukanlah sebuah Proposisi, karena belum jelas benar atau salah nya. Bukanlah pula sebuah konklusi, karena tidak ada premis-premisnya. Oleh karena itu, tidak perlu saya ambil pusing, apakah yang berbicara itu mau diri saya sendiri ataupun bukan, yang terpenting adalah apakah isinya informatif, berisi kebenaran atau tidak, bermanfaat atau tidak. Itu saja.

Jika benar sumber suara yang berbicara itu adalah "diri saya sendiri", maka istilahnya disebut "Dialog Interperson". saya mengenal istilah ini sejak SMA dari buku-buku psikologi. Dan saya tahu, dialog interperson itu "batin yang mengobrol dengan dirinya sendiri", mirip dengan dialog di atas. Semua orang terbiasa "mengobrol dengan dirinya sendiri". seperti ABG yang bermaksud hendak menyatakan perasaan cintanya, dia berkata dalam hatinya, "Akan kunyatakan perasaan cintaku saat ini juga ..", tapi di sisi lain hatinya juga berkata, "Bagaimana kalau nanti aku ditolak oleh dia". kalimat pertama dan kedua sama-sama dikatakan oleh hatinya/pikirannya. tapi kadang, salah satunya dipersonifikasikan dengn orang lain, dan kalimatnya sedikit berubah, "Bagaimana kalau kau ditolaknya ?" dia menyebut dirinya sendiri "kau" agar terjadi dialog interperson itu. Semua itu jelas dilakukan secara sadar oleh diri sendiri. Berbeda dengan dialog saya dengan sumber suara yang juga menyatakan "diri saya sendiri", benar-benar terdengar sebagai pihak lain. dalam dunia mistik, lebih esktrim lagi, "diri sendiri" ini berwujud nyata duduk dihadapan dan lalu berdialog. sehingga terlihat seperti dua orang kembar sedang mengobrol.

ki amar[1], kakek saya itu menceritakan, ketika dia sakit keras, datanglah seorang yang menjenguknya. tapi wujudnya sama persis dengan dirinya. dia berkata, "Kenapa kamu ini, sakit ? obatilah bila kau sakit!" lalu orang itu mengusap telapak kakinya. tak lama kemudian Ki Amar sembuh.

Adapun bibi saya, ketika dia sakit keras, dia melihat ada yang orang yang keluar dari dirinya berjalan menjauhi dirinya. orang itu sangat mirip dengan dirinya, hingga lima orang.

satu lagi, pengalaman salah seorang murid saya, dia melihat dirinya berjalan mondar-mondir di dalam mesjid. Dia sadar bahwa itu adalah dirinya. tapi dalam waktu yang sama, dirinya juga mengamati yang mondar mandir itu dari sudut mesjid yang berbeda.  Kejadian itu membingungkan dirinya. lalu dia mengkonsultasikan hal itu kepada saya. saya tidak heran dengan kejadian seperti itu, dalam dunia mistik, hal itu biasa terjadi.

Ketika Imam Ali bin Abi Thalib ditanya tentang jiwa, beliau balik bertanya, "Jiwa mana yang kau maksud, jiwa itu ada empat .... " dan di dalam filsafat jawa dikenal dengan "sedulur papat" atau saudara yang empat. seorang mistikus dianggap mapan apabila sudah dapat menemukan "empat sudara kembar" tersebut.

dalam Islam, dikenal juga keyakinan tentang adanya Qarin, yaitu "jin pendamping" yang suka menirukan bentuk dan perilaku kita secara persis. Pertanyaannya, apakah makhluk yang menyerupai kita itu Qarin atau jiwa kita sendiri ? silahkan Anda temukan sendiri jawabannya!
 1. lihat : Ajaran Ki Amar
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
4 Jawaban
1830 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2012, 02:39:32 PM
oleh Kang Asep
66 Jawaban
14995 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 25, 2013, 12:45:47 AM
oleh Kang Asep
10 Jawaban
3133 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 07, 2013, 08:43:01 PM
oleh arya
5 Jawaban
2941 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 12, 2012, 08:25:05 AM
oleh Ratno Golan
0 Jawaban
1030 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 04, 2013, 07:06:57 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
756 Dilihat
Tulisan terakhir April 30, 2014, 03:51:13 PM
oleh Asep
0 Jawaban
708 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 02, 2016, 11:10:48 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
242 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 25, 2016, 05:24:07 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
299 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 03, 2017, 07:57:47 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
40 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 19, 2018, 05:49:22 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan