Penulis Topik: Butha  (Dibaca 1758 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9458
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Butha
« pada: Desember 10, 2013, 07:42:25 AM »
Pagi ini, saya teringat pada kejadian 10 tahun silam. Saya tidak ingat persis tahunnya, mungkin itu antara tahun 2001, 2002 atau 2003. Yang jelas, waktu itu saya masih membimbing Sudirman dalam bidang krachtology. Dia menjadi murid saya sejak tahun 1999.

Sebenarnya saya buru-buru mau pergi kerja. Tapi kalau nanti siang, mungkin saya sudah tidak berselera untuk menceritakannya. Jadi, mumpung lagi mud, lebih baik saya ceritakan sekarang saja.

Waktu itu, di kampung sebelah terjadi sebuah kehebohan. Yang menjadi penyebab adalah orang-orang melihat kembali ibu dan anak yang sudah 3 tahun meninggal. Si anak gadis meninggal pada usia 11 tahun, setelah ibunya meninggal terlebih dahulu 3 bulan sebelumnya. Bukan satu dua orang yang melihat penampakan tersebut, tetapi sangat banyak orang yang tidak mungkin berbohong, mulai dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, sampai kakek-kakek juga pernah berjumpa dengan sosok ibu dan anak yang telah lama meninggal itu, tetapi kalau sosok itu di dekati, mereka menghilang. Dan keduanya menampakan diri secara terpisah, pada waktu yang berbeda, tidak pernah bersamaan. Dan anehnya, sosok itu tidak menampakan diri hanya pada malam hari, seperti hantu-hantu lainnya, tetapi seringkali muncul di siang bolong atau senja hari.

Kejadian menghebohkan itu akhirnya membuat masyarakat bertindak. Para tokoh maysarakat, hingga para pemuda yang pemberani, berusaha untuk mengintip keberadaan sosok yang mereka percaya sebagai hantu orang mati itu. Dan mereka menemukan sosok wanita bermabut panjang sedang duduk-duduk di pohon jambu. Lalu penduduk kompak menyerbu pohon jambu itu. setelah mendekat, sosok wanita itu menghilang. Orang-orang jadi ketakutan. Para ahli batin yang memiliki jimat, mengeluarkan jimat mereka. Ada isim, pecut sakti, dan ada juga yang komat-kamit membacakan ajiannya.

Suasana perkampungan jadi mencekam. Anak-anak, bahkan orang tuapun jika tidak sangat perlu sekali, mereka tidak mau keluar di malam hari. Mereka takut bertemu dengan hantu itu, walaupun tidak ada cerita kalau hantu tersebut pernah mencakar atau mencekik. Tapi hanya dengan mendengar ceritanya saja, orang-orang sudah merindik bulu kuduknya. Mereka tidak tinggal diam, bahkan mengundang paranormal yang mereka anggap sakti untuk mengusir hantu itu. Ustadz dan kyai pun didatangkan. Berbagai upaya terus dilakukan. Tapi belum membuahkan hasil. Sampai akhirnya mereka membuat sayembara, bahwa barang siapa yang bisa menangkap atau mengusir hantu tersebut, akan mendapatkan imbalan uang yang jumlahnya cukup besar. Tapi saya tidak ingat, berapa jumlah yang mereka sediakan untuk itu.

Saya menyimak kejadian demi kejadian seraya berharap ada orang yang bisa mengatasi permasalahan di kampung sebelah. Tapi setelah kurang lebih enam bulan, masalah itu belum juga terselesaikan, saya jadi merasa kasihan. Kebetulan, salah seorang murid saya bernama Sudirman, pada waktu itu baru saja menyelesaikan pelajaran tentang bagaimana menaklukan makhluk-makhluk halus. Dan saya berniat menguji kemampuannya.

“Man,…!” panggil saya pada Sudriman. “Saya sudah mengajarimu mulai dari merasakan keberadaan makhluk halus, menajamkan pendengaran sehingga mendengar suara-suara mereka, meningkat ke cara melihat wujud mereka, bagaiaman berdialog dengan mereka, dan terakhir, bagaimana menghadapi dan menglahkan makhluk-makhluk halus yang jahat.”

“Benar sekali, kang!” jawab Sudirman.

“Sekarang saya ingin menguji kemampuanmu dengan suatu ujian yang berat dan mungkin akan mempertaruhkan nyawa kita. saya tidak akan memaksa, kalau kamu mau mari kita lakukan. Saya akan mendampingimu. Kalau tidak, maka tidak ada-apa. Semuanya terserah kamu.” Kata saya.

“Ujian berat bagaimana kang?” tanya Sudirman.

Sayapun menceritakan kejadian teror mistik yang dialami oleh masyarakat kampung sebelah. Mendengar cerita saya, Sudirman jadi tertegun. Dia berkata, “Jika para ahli kebatinan yang ada di sana, para ustadz dan para kyai saja tidak mampu mengatasi masalah tersebut, maka bagaimana kang Asep yakin, saya mampu menolong mereka?”

Saya menjawab, “Sebenarnya memang kita tidak mampu menolong, laa haula walaa quwwata, illah billah, kita tidak punya daya kekuatan, kecuali atas pertolongan Allah. Kita hanya perlu niat baik, niat karena Allah, ikhlas untuk menolong. Jangankan kita sudah belajar tentang ilmu-ilmu kejinan, seandainya kita tidak pernah belajar sedikitpun, usaha untuk menolong, sekecil apapun, tentu itu merupakan perbuatan yang mulia. Masalah keberhasilan, serahkanlah kepada Allah. Kita hanya berdoa dan berusaha, lalu bertawakal. Dan kita akan berdoa, semoga Allah melindungi kita dari marabahaya.”

Akhirnya Sudirman menyatakan sedia untuk mencoba menolong masyarakat di kampung sebelah.

Kami mendatangi seorang penduduk miskin yang kabarnya sering di teror oleh makhluk halus itu. di malam sebelumnya, keluarga ini diketuk-ketuk pintunya. Ketika pak Makmun - kepala keluarga itu - membuka pintu, hantu itu berdiri di depan rumah dengan kondisi wajah yang menakutkan. Pak Makmun pun pingsan saking takutnya.

Melihat kedatangan kami, pak Makmun kaget. Tapi kami segera mengutarakan maksud kedatangan kami. Tapi rupanya pak Makmun kurang percaya dengan kami. Dia terlihat agak mesem-mesem. Mungkin dia pikir, “Ah, mana mungkin anak-anak muda ini bisa menangkap hantu itu.” ya. umur kami pada waktu itu antara 22 atau 23 tahun. Dan kami tidak mengenakan sorban, atau pakaian serba hitam dan asesorin seperti kyai atau dukun. Karena itu mungkin, tidak terlihat meyakinkan. Akhirnya saya berkata, “Iya pak, kami sebenarnya tidak bisa apa-apa. Kami hanya pernah belajar sedikit ilmu dari guru, dan kini kami sedang belajar mempraktikannya. Mudah-mudahan ada ijabah dari Allah.”

“Kalau memang kamu berdua ingin menangkap hantu itu, biar bapak ajak ke pak RW. Siapa tahu, kalau berhasil kamu berdua dapat hadiahnya, he..he..” kata pak Makmun.

“Oh tidak pak! Saya tidak ingin hadiah itu. dan juga saya mohon, bapak jangan sampai memberitahukan hal ini kepada orang lain. saya datang ke sini karena saya butuh seorang saksi saja. Diharapkan bapak yang menjadi saksi kami. Yang kedua, untuk meyakinkan murid saya ini, Sudirman, bahwa memang hantu itu sudah meneror warga di sini.” Kata saya.

Singkat cerita, pak Makmun setuju untuk menyaksikan bagaimana kami menghadapi hantu itu.

Pukul delapan malam. Suasana mulai sunyi. Sudirman mulai bersemedi, seperti yang saya ajarkan. Ketika tengah bersemedi, tiba-tiba angin kencang berhembus, dan pintru rumbah terbuka dengan keras, “Brak!” terdengarlah suara tawa “ha..ha..ha..ha.”

Pak Makmun terkejut. Tapi bukan karena mendengar suara tawa itu, melainkan karena pintu yang terbuka tiba-tiba dengan keras. Suara tawa itu hanya terdengar oleh saya dan Sudirman, sedangkan pak Makmun, istri dan anak-anaknya tidak mendengar.

Tidak lama kemudian, munculah sosok Butha di depan pintu, perawakan tinggi besar, dan perut buncit, tidak jauh dengan gambaran Butha di dalam patung orang-orang bali. Disampingnya ada makhluk yang lebih kecil, seakan-akan itu adalah anaknya.

Sudirman membuka matanya dan mulai menatap tajam kepada sosok Butho itu. Sudirman berkata setengah membentak, “Rupanya kamu yang sudah mengganggu dan meresahkan masyarakat di sini!”

“Benar. Mau apa kau? Mau mati ? wha..ha…”

“Bangsat! Aku yang akan membunuhmu!” kata Sudirman.

Melihat Sudirman berkata seperti itu, saya memberi isyarat, “Ssst!” saya tidak pernah mengajarkan Sudirman untuk berlaku kasar terhadap makhluk lain. Sudirman mengerti isyarat saya. Lalu ia melanjutkan pembicarannya, “Pergilah kau dari perkampungan ini!”

Makhluk itu menolaknya. Dia berkata, “Tidak bisa. Kami datang ke sini karena ada yang mengundang. Kami adalah peliharaan tuan Anu.”

Ohw.. rupanya masyarakat di situ punya musuh dalam selimut. Ada seorang penganut ilmu hitam yang memelihara kedua Butha itu.

(Aduh.. kepanjangan nih  ceritanya …)

Singkat cerita, Sudirman berkelahi dengan kedua Butho itu. saya hanya menontonnya. Si Butho terdesak, lalu terkurung di belakang sumur. Keduanya menangis, bahwa kalau mereka pergi dari situ, mereka akan mati dibunuh tuannya. Menghadapi permasalahan itu, Sudirman berkata, “Kalau kau tetap di sini, kau tetap mati.”

Tampaknya Butha itu menghadapi dilemma, maju kena, mundur juga kena. Akhirnya saya mencoba memberikan solusi. “Begini, saya tahu, Tuanmu itu sebenarnya tidak ingin kamu berdua berkeliran. Dia hanya membutuhkan kalian pada saat-saat tertentu, ketika ia sedang menjalakan ritual mistiknya. Bila kau dipanggil, datanglah kepadanya. Kalau tidak dipanggil diamlah di suatu tempat yang tersembunyi. Saya akan menyembunyikanmu di hulu air.”

Butha itu setuju. Lalu kami memindahkan kedua Butha itu ke hulu air.

Setelah selesai, kami pun pulang. Sejak saat itu, pada penduduk tidak lagi melihat penampakan ibu dan anak yang sudah mati itu. sesungguhnya penampakan itu hanyalah fitnah yang dibuat jin Butha telah kami pindahkan. Apakah sekarang kedua Butha itu masih ada di hulu air atau tidak, entahlah. Sudah sepuluh tahun lebih kami tidak pernah kembali ke sana untuk memeriksanya. Bahkan sayapun  belum berjumpa lagi dengan Sudirman. Dia pulang ke kampung halamannya di Garut, dan tidak pernah ada kontak hingga sekarang.
Kalau mengenang Sudirman, terasa sedih hati saya. Dia adalah murid pertama yang paling saya sayangi sebelum kemunculan Muwahid. Saya tidak ingin berpisah dengannya. Dan saya tidak mau mengajar lagi, apabila dia pulang kampung. Tapi Sudirman berhasil menyodorkan adik seperguruannya kepada saya bernama Muwahid. Prestasi Muwahid ini sangat menggembirakan hati saya. Sehingga saya mau meneruskan mengajar, karena ada yang menggantikan posisi Sudirman. Setelah Sudirman menghilang, saya baru sadar, bahwa Muwahid bagi Sudirman, seperti alat untuk membujuk saya saja, dan tidak disangka, ia raib begitu saja, tidak pernah ada lagi kontak.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Butha
« Jawab #1 pada: Desember 11, 2013, 02:23:16 PM »
Luar biasa kisahnya pak, kebanyakan kisah seperti ini adie baca di novel2 waktu sekolah dulu
Semoga semakin mantap lagi pengalamannya pak
 

Tags:
 

GoogleTagged



Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan