Penulis Topik: Berdebat Dengan Para Dewa  (Dibaca 25032 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Berdebat Dengan Para Dewa
« pada: Pebruari 04, 2013, 10:17:22 PM »
Dalam dunia Islam tidak dikenal dengan istilah Dewa-Dewi. Tapi apakah Dewa (Sansekerta:Deva) ada padanannya dalam istilah Islam? Apakah mungkin Deva itu sebangsa jin atau malaikat? Ataukah dalam pandangan Islam, Dewa itu hanya sebentuk tahayul belaka? Silahkan Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, bila merasa tahu jawabannya!

Bagi kaum muslimin pada umumnya, adanya Dewa Dewi akan dianggap sebagai takhayul belaka. Bahkan, bagi sebagian kelompok Islam, meyakini adanya Dewa Dewi mungkin akan dikategorikan sebagai kemusyrikan. Oleh karena itu, sudah pasti, apabila ada orang yang mengkau pernah berjumpa dengan Dewa Dewi, tentulah akan dianggap “Berkhayal”. Dan apabila ada yang mengkau telah berjumpa dengan malaikat, sudah pasti akan dianggap “Berdusta”. Tetapi para logicer, memiliki undang-undang tersendiri untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau salah, jujur atau dusta. Undang-undang itu adalah logika. Oleh karena itu, jika bukan dihadapan para logicer, maka saya tidak berani menuturkan kisah ini, di mana saya akan berkata, “saya telah berjumpa dengan para Dewa, dan banyak hal yang kami bicarakan di dalam banyak pertemuan.”

Bagi Anda yang belum mengerti Rule of Logic, anggaplah saja kisah ini sebagai “cerpen fiksi” atau “karangan bebas” dari saya, sehingga Anda bebas menuduh saya berkhayal. jika Anda menuduh saya berkhayal, maka tidak perlu diingkari. Karena sebuah cerita fiksi, terlahir dari daya imajinasi. Dan Anda tidak perlu lagi menuduh saya berdusta, karena sebuah karya fiksi, bukanlah sebuah kedustaan.

Tetapi bagi Anda para Logicer, yakni yang sepakat bahwa berpikir harus menggunakan Rule Of Logic, tidaklah pantas Anda menuduh orang lain berkhayal, tanpa bukti-bukti logic yang diketengahkan. Tidak layak pula menuduh orang lain berdusta, tanpa premis-premis yang bisa dipertanggung jawabkan. Karena hal-hal seperti itu hanyalah karakter kaum fanatik, bukan karakter para Logicer.

Berdasarkan pengalaman yang bersifat pribadi, saya berkali-kali berjumpa dengan makhluk cerdas. Mereka semacam bangsa jin, tetapi memiliki keperkasaan, keelokan, keunggulan dalam hal-hal tertentu, memiliki ilmu pengetahuan, berfilsafat, dan sebagaian dari mereka menghendaki agar manusia menjadi pengikut dan berbakti terhadap mereka. Mungkin inilah yang disebut dengan para Dewa oleh kaum Hindu Buddha. Saya sendiri tidak dapat memastikan apakah memang mereka yang dimaksud dengan Dewa, hanya apabila menimbang ciri-cirinya, maka mereka identik dengan Dewa. Oleh karena itu, dalam kisah ini, saya menyebut mereka Para Dewa. Selain itu juga, penggunaan istilah “Dewa” dimaksudkan untuk menarik perhatian pembaca.

Para Dewa bukanlah malaikat. Karena, dalam pengalaman lain, saya pernah berjumpa dengan dua orang  makhluk yang membawa saya ke suatu tempat bernama Illiyin, yakni perpustakaan langit yang besar. Mereka berdua bersayap dan terbang, tidak menampakan ciri laki-laki ataupun pria. Berbeda dengan para Dewa tadi yang jelas-jelas, ada pria dan juga ada wanita.

Salah satu ciri dari para Dewa ini, mereka seringkali menawarkan hadiah-hadian yang menggiurkan kepada manusia. Di sisi lain, mereka juga memberikan ancaman-ancaman yang menakutkan. Tampaknya hal ini tidak jauh beda dengan kabar dari Agama yang memberikan kabar gembira (sorga) dan kabar menakutkan (neraka). Bedanya, dalam agama, kabar gembira dan kabar menakutkan tersebut bertujuan agar kita berbakti kepada Allah, Tuhan semesta Alam. Sementara, pada Dewa berkehendak agar manusia berbakti kepada mereka. Oleh karena itu, tidak heran apabila di beberapa belahan bumi, ada banyak manusia yang menyembah Dewa. Sedangkan dalam al Quran diberitakan ada manusia yang menyembah jin.

Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu". (Q.S 34:41)

Mungkin Dewa-dewa ini adalah bangsa Jin yang memiliki kecerdasan tinggi tadi.

Ada tujuh Dewa yang menjumpai saya, dan hanya tiga orang yang memperkenalkan namanya. Dewa yang pertama, bernama Pancasona. Mungkin ini Dewa dari India, soalnya namanya pakai bahasa sansekerta. Yang kedua bernama Mayangsari. Mungkin ini dewi dari tanah Jawa atau berkebangsaan Sunda. Soalnya namanya itu mengingatkan saya kepada kawan SD saya, si Sari. Yang ketiga, bernama Abdul Aziz. Mungkin dewa yang ketiga ini, merupakan dewa yang diimpor dari Timur Tengah. Namanya itu sudah akrab di telinga kaum muslimin. Saya hampir terjebak oleh tipu muslihat mereka, untunglah masih ada pertolongan Allah melalui kasih sayang Sang Guru dan seorang murid saya yang nomor wahid.

Kisah ini, amatlah panjangnya. Saya melompat ke bagian akhir kisah. Setiap menjelang fajar, saya dibangunkan oleh para Dewa ini, mereka duduk dihadapan saya, dan mengajak saya dialog Filsafat. Hal itu terjadi, setelah saya memutuskan untuk lari dari cengkraman mereka.

Jauh sebelumnya Mayangsari berkata, “Tahukah kamu, bahwa guru yang engkau agung-agungkan selama ini, dia sebenarnya orang yang bergelimang dosa, ia membohongi dan mengkhianatimu? Aku tidak perlu mengabsen dosa dia satu persatunya, karena hanya akan membuatmu bersedih belaka, tapi aku hanya akan memperlhatkan kesaktian-kesaktianku, keunggulan filsafatku, dan menawarkanmu untuk berlepas dari gurumu itu, segera berguru kepadaku, akan mendidimu selama 40 hari 40 malam lamanya, dan setelah itu engkau akan menjadi orang yang  paling masyhur di dunia.”

Tawaran yang amat menggiurkan. Dan saya tertarik untuk menjajal. Satu persatu kesaktian yang diajarkan oleh guruku dikerahkan. Dan semuanya dikalahkan. Seluruh filsafat dikemukakan, dan semua terbantahkan. Segenap Logika digunakan, dan semua terpatahkan. Betapa semua itu sangat mengagumkan. Dan sayapun setuju untuk berguru kepada para Dewa ini.

Akan tetapi, saya melarikan diri dari mereka sebab saya mengintip mereka, ketika mereka sedang bermusyawarah. Mengejutkan, bahwa mereka sedang merundingkan perihal diri saya. Mayangsari berkata, “Mengapa kita sulit menguasai pemuda ini sepenuhnya, selalu saja kita gagal mencapai inti hatinya, sehingga sepenuhnya ia menghadap kepada kita?”

Pancasona menimpali, “Benar, saya tahu apa yang membuat kita sulit untuk menguasainya, yaitu dia selalu menyebut-nyebut sebuah nama di dalam hatinya, dan ia tidak berhenti menyebut nama itu. itulah yang membuat kita sulit untuk menguasai dia sepenuhnya.”

Sungguh mengejutkan, dan saya berpikir, “Apa yang selalu saya sebut-sebut dalam hati? Tiada lain kecuali Asma Allah.” Inilah ajaran yang selalu diwasiatkan oleh Sang Guru kepada segenap muridnya, bahwa agar kami harus senantiasa mengingat Tuhan melalui asmaNya, dalam setiap tarikan dan hembusan nafas.

Benar saja, bahwa yang mereka bicarakan adalah tentang diriku. Buktinya, keesokan harinya mereka meminta saya untuk berhenti menyebut-nyebut Allah di dalam hati saya, dengan alasan, “Itu cara dzikir yang salah. Harus dibenahi, harus diformat ulang. Nanti kami ajari cara dzikir yang lebih baik.” Demikian katanya. Saya tidak bisa terima itu, tapi saya tidak bisa membantah mereka. Mereka tahu semua fislafat saya, mereka hafal segenap dalil yang saya hafal, dan mereka dapat membaca seluruh isi pikiran saya, seakan-akan mereka dapat merayap ke dalam setiap sudut otak saya, mereka dapat menemukan rahasia-rahasia kelemahan yang saya sembunyikan dalam memori otak saya. Dan saya panik, ketika menyadari bahwa tubuh saya tidak lagi sepenuhnya di kuasai oleh saya. Ada kekuatan lain yang mengendalikan tubuh saya, seperti dalam film-film alien yang aliennya berbentuk ubur-ubur dan menempel dibagian tengkuk orang, mencengkeram syaraf otak dan syaraf punggung, sebagai syaraf utama yang mengendalikan tubuh dan pikiran.

Saya kabur, melarikan diri dari mereka, mencari Sang Guru, perlindungan. Tapi Sang Guru tidak bisa ditemukan, karena sedang bekerja di luar kota, pulangnya diperkirakan larut malam.

Dalam keadaan bingung dan terdesak kebutuhan, bertemulah saya dengan Muwahid, murid saya yang utama. Dia mendapati keadaan saya sangat memprihatinkan. Segenap ilmu dan keterampilan yang pernah saya ajarkan kepada dia, digunakannya untuk menolong saya. Malam harinya, barulah berjumpa dengan Sang Guru. Dia terkejut mendapat keadaan saya yang sekarat. “Untunglah kamu masih hidup!” Demikian kata Sang Guru, lalu dia memberikan wasiat dan membekali diri saya untuk menghadapi makhluk-makhluk itu.

Singkat cerita, saya dapat mengalahkan mereka dalam adu kekuatan yang terakhir. Tapi mereka tidak mau berhenti menggoda saya. Mereka datang kembali pada setiap fajar menjelang. Mereka membangunkan saya, dan mengajak dialog seputar filsafat dan agama. Tapi saya sudah tidak mau melayani mereka. Saya katakan kepada mereka, “Apa yang kalian katakan itu benar, tapi untuk tujuan yang batil. Kalian seorang seorang Guru Ngaji gadungan, yang mengajarkan anak perempuan mengaji Al Quran. Yang kalian ajarkan itu benar, tapi di sisi lain, kalian melakukan hal cabul terhadap si anak perempuan tadi. Kejahatan kalian sudah tampak jelas di mataku. Kalian selalu berbicara hal baik, benar dan indah. Tapi memiliki tujuan jahat tersembunyi, dan melakukan kejahatan tanpa teori yang dibicarakan. Sehingga makhluk-makhluk lain dapat kalian bodohi, bahwa kalian bijaksana dan melakuan kebajikan. Maka saat ini, tidak ada lagi yang perlu kita diskusikan. Pergilah dari sini, dan aku tidak sudi berbicara lagi dengan kailan!”

Isi perdebatan saya dengan para Dewa itu tidak saya muat di sini, karena selain terlalu panjang, juga mengingat isi perdebatan itu seperti menorehkan kembali luka lama dalam hati saya. Bahkan untuk menceritakan kembali kisah ini, saya harus mengumpulkan segenap keberanian saya. Ini bukan hal yang mudah. Semoga di lain kesempatan, saya mempunyai cukup banyak kebenarian untuk memaparkan isi perdebatan tersebut.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline arya

Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #1 pada: Pebruari 04, 2013, 11:49:13 PM »
Mungkin ini OOT kang,

Kang asep kan dikaruniai kelebihan seperti yang diuraikan diatas. Pernah gak bertemu dengan (RUH-nya) para imam dan bagaimana tanggapan para imam terhadap pengikutnya sekarang.
« Edit Terakhir: Pebruari 04, 2013, 11:50:55 PM oleh arya »
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #2 pada: Pebruari 05, 2013, 02:19:53 AM »

Jauh sebelumnya Mayangsari berkata, “Tahukah kamu, bahwa guru yang engkau agung-agungkan selama ini, dia sebenarnya orang yang bergelimang dosa, ia membohongi dan mengkhianatimu? Aku tidak perlu mengabsen dosa dia satu persatunya, karena hanya akan membuatmu bersedih belaka, tapi aku hanya akan memperlhatkan kesaktian-kesaktianku, keunggulan filsafatku, dan menawarkanmu untuk berlepas dari gurumu itu, segera berguru kepadaku, akan mendidimu selama 40 hari 40 malam lamanya, dan setelah itu engkau akan menjadi orang yang  paling masyhur di dunia.”


Mengapa mereka memilih Kang Asep untuk dijadikan pengikutnya?  bukan Sang Guru sedangkan mereka merasa mampu untuk menundukkan Beliau? Kemungkinan lebih mudah untuk menjadikan Akang sebagai pengikutnya seandainya saja sebelumnya sang Guru sudah bergabung sebelumnya. Ataukah ada hal-hal khusus pada diri Akang menurut mereka? sehingga mereka ngotot unutk menundukkan Akang dan menjadikan Akang sebagai pengikutnya?


Sungguh mengejutkan, dan saya berpikir, “Apa yang selalu saya sebut-sebut dalam hati? Tiada lain kecuali Asma Allah.” Inilah ajaran yang selalu diwasiatkan oleh Sang Guru kepada segenap muridnya, bahwa agar kami harus senantiasa mengingat Tuhan melalui asmaNya, dalam setiap tarikan dan hembusan nafas.


^Itukah yang namanya dzikir qalbu ya Kang? yang sering diajarkan guru-guru thoreqoh? bagaimana cara membiasakannya? sebab melihat dari pengalaman Akang ternyata besar sekali manfaatnya.
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #3 pada: Pebruari 05, 2013, 05:43:18 AM »
Quote (selected)
Mungkin ini OOT kang,

Kang asep kan dikaruniai kelebihan seperti yang diuraikan diatas. Pernah gak bertemu dengan (RUH-nya) para imam dan bagaimana tanggapan para imam terhadap pengikutnya sekarang.

^ belum pernah

tapi ketika dulu, ruh saya terbang ke langit, saya melihat di arah barat daya bumi , di situ saya melihat cahaya yang sangat terang, di mana seluruh cahaya bertumpu pada cahaya itu. kemungkinan, itulah cahaya sang imam. tapi, kalau saya lihat peta, arah barat daya dari Indonesia itu hanyalah lautan, atau mungkin jauh ke sana adalah Afrika. apakah mungkin sang Imam berada di lautan atau di Afrika. saya tidak mengetahuinya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #4 pada: Pebruari 05, 2013, 05:49:35 AM »
^ belum pernah

tapi ketika dulu, ruh saya terbang ke langit, saya melihat di arah barat daya bumi , di situ saya melihat cahaya yang sangat terang, di mana seluruh cahaya bertumpu pada cahaya itu. kemungkinan, itulah cahaya sang imam. tapi, kalau saya lihat peta, arah barat daya dari Indonesia itu hanyalah lautan, atau mungkin jauh ke sana adalah Afrika. apakah mungkin sang Imam berada di lautan atau di Afrika. saya tidak mengetahuinya.

^kalau menurut intuisi Akang bagaimana?
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #5 pada: Pebruari 05, 2013, 06:07:09 AM »
Kutip dari: Ratna
Mengapa mereka memilih Kang Asep untuk dijadikan pengikutnya?  bukan Sang Guru sedangkan mereka merasa mampu untuk menundukkan Beliau? Kemungkinan lebih mudah untuk menjadikan Akang sebagai pengikutnya seandainya saja sebelumnya sang Guru sudah bergabung sebelumnya. Ataukah ada hal-hal khusus pada diri Akang menurut mereka? sehingga mereka ngotot unutk menundukkan Akang dan menjadikan Akang sebagai pengikutnya?

kalau dari pihak Mayangsari sendiri, alasannya adalah karena kasih sayang mereka jatuh kepada saya akibat mereka tersentuh oleh sifat belas kasih, keikhlasan dan kesabaran yang saya miliki. sedangkan kata dia, Sang Guru adalah orang yang keras hati, lagi dipenuhi kepalsuan. dan katanya, dia ingin menyadarkan sang Guru melalui saya. inilah dosa saya kepada Sang Guru, karena si Mayangsari tadi berhasil membuat saya terkecoh, sehingga saya sempat mempercayai kata-katanya kepada Sang Guru. ternyata, kta-kata Mayangsari itu tak lain hanyalah fitnah yang besar saja.

ketika hal itu dikemukakan kepada Sang Guru, ia berkata, "Ini tak lain hanyalah dendam lama, musuh bebuyutan dari sejak zaman para guru dahulu, kini datang kepadaku. mereka sudah kenal siapa saya, saya kenal siapa mereka. jangan heran, setiap muridku yang menjadi pewaris ilmu ini, akan menghadapi fitnah mereka. kini, jangan kamu berbaik-baik hati dengan mereka, bila mereka datang menjumpaimu kembali, katakan kepada mereka dengan bahasa yang kasar, `kamu tak lain hanyalah jin kafir, Anjing!`" demikian kata Sang Guru. tapi saya tidak suka berkata kasar, oleh karena itu nasihat Sang Guru yang itu tak pernah saya laksanakan.

jadi, kalau dari pihak Sang Guru, apa yang saya alami juga pernah dialami oleh Sang Guru. makhluk-makhluk itu dahulu pernah berkali-kali datang untuk menggoda Sang Guru, tapi sang Guru selalu membongkar kebusukan mereka, dan mempermalukan mereka di hadapan orang-orang yang sudah menjadi pengikut mereka. itulah mengapa mereka menyimpan dendam kesumat. mereka melihat, Sang Guru dan murid-muridnya yang telah mewarisi ilmu dari beliau merupakan ancaman dan bahaya besar bagi mereka, kelompok mereka dan gerakan mereka di dunia. oleh karena itu mereka selalu berusaha menggagalkan gerakan kami dengan cara mengelabui murid-muridnya, mencoba menarik murid-murid sang Guru untuk menjadi pengikut mereka. dan mereka mengharpkan, kelak murid murtad akan menjadi lawan yang tangguh bagi sang Guru.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #6 pada: Pebruari 05, 2013, 06:13:02 AM »
^kalau menurut intuisi Akang bagaimana?

kalau menurut intuisi saya, cahaya tersebut memanglah Sang Imam. beliau dikelilingi oleh murid-muridnya yang mulia, dan didampingi oleh Nabi Khidir a.s. dan beliau tidak berada dalam kelompok syiah. beliau berada dalam kelompok tertentu yang suci. orang-orang yang telah berhasl mencapai kesucian akan berjumpa dengan beliau. atau beliau akan menjumpai orang-orang suci dengan kehendaknya. beliau tidak dapat dijumpai dengan menempuh perjalanan kaki, melainkan harus dijumpai dengan perjalanan batin.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #7 pada: Pebruari 05, 2013, 06:19:14 AM »
Kutip dari: ratna
^Itukah yang namanya dzikir qalbu ya Kang? yang sering diajarkan guru-guru thoreqoh? bagaimana cara membiasakannya? sebab melihat dari pengalaman Akang ternyata besar sekali manfaatnya.

kalau menurut nasihat Sang Guru, ya menyebut asma Allah dalam setiap tarikan dan hembusan nafas. mulanya, itu hanya saya lakukan di waktu-waktu luang saja, atau ketika bermeditasi. tapi lama-kelamaan, secara otomatis, setiap tarikan dan hembusan nafas merupakan Dzikrullah. selanjutnya, saking terbiasa, dzikir itu mengalir dalam batin, tanpa bergantung kepada tarikan dan hembusan nafas. ketika saya berjalan, seiring dengan irama langkah kaki saya, hati saya berkata, "Allah, Allah, Allah". ketika saya mengulurkan tangan, hati saya berkata, "Allah", memegang gela, "Allah", menarik tangan "Allah", menyentuhkan gelas ke mulut "Bismillah", ketika air itu menyentuh lidah saya, hati saya bergumam, "subhanallah", ketika air itu mengalir ke kerongkongan, dan merasakan kesegarannya, hati saya berujar, "ya rahman". ketika air itu sampai di perut, saya berujar, "Alhamdulillah", lalu saya menyesut asma Allah tiga kali, "Allah, Allah, Allah" dan barulah meyimpan gelas itu. tidak hanya nafas, tapi setiap gerakan tubuh yang saya lakukan, setiap sentuhan yang dirasakan saya selalu menyebut asma Allah.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #8 pada: Pebruari 05, 2013, 09:00:17 AM »
kalau menurut nasihat Sang Guru, ya menyebut asma Allah dalam setiap tarikan dan hembusan nafas. mulanya, itu hanya saya lakukan di waktu-waktu luang saja, atau ketika bermeditasi. tapi lama-kelamaan, secara otomatis, setiap tarikan dan hembusan nafas merupakan Dzikrullah. selanjutnya, saking terbiasa, dzikir itu mengalir dalam batin, tanpa bergantung kepada tarikan dan hembusan nafas. ketika saya berjalan, seiring dengan irama langkah kaki saya, hati saya berkata, "Allah, Allah, Allah". ketika saya mengulurkan tangan, hati saya berkata, "Allah", memegang gela, "Allah", menarik tangan "Allah", menyentuhkan gelas ke mulut "Bismillah", ketika air itu menyentuh lidah saya, hati saya bergumam, "subhanallah", ketika air itu mengalir ke kerongkongan, dan merasakan kesegarannya, hati saya berujar, "ya rahman". ketika air itu sampai di perut, saya berujar, "Alhamdulillah", lalu saya menyesut asma Allah tiga kali, "Allah, Allah, Allah" dan barulah meyimpan gelas itu. tidak hanya nafas, tapi setiap gerakan tubuh yang saya lakukan, setiap sentuhan yang dirasakan saya selalu menyebut asma Allah.

indah sekali Kang!
 

Offline Sandy_dkk

Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #9 pada: Pebruari 05, 2013, 10:43:03 AM »
dewa-dewa ini adalah setan dari bangsa jin yang memiliki kecerdasan tinggi.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #10 pada: Pebruari 05, 2013, 11:43:37 AM »
dewa-dewa ini adalah setan dari bangsa jin yang memiliki kecerdasan tinggi.

benar! bayangkan, bagaimana kita akan berdebat dengan seseorang yang dapat merasuk ke dalam otak kita serta dapat membaca seluruh hal yang kita ketahui? argumentasi mana lagi yang bisa kita gunakan sebagai dalil terhadap mereka, padahal mereka telah memperisapkan semua jawabannya? mereka tahu apa yang bisa membuat saya malu, takut dan gelisah. mereka bisa menyebut satu persatu dosa-dosa saya di masa silam, bermaksud mempermalukan saya dengan dosa-dosa itu, membuat mental saya down dan tertunduk malu. dengan cara itulah mula-mula para setan ini mencoba menguasai diri saya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #11 pada: Pebruari 05, 2013, 12:00:20 PM »
benar! bayangkan, bagaimana kita akan berdebat dengan seseorang yang dapat merasuk ke dalam otak kita serta dapat membaca seluruh hal yang kita ketahui? argumentasi mana lagi yang bisa kita gunakan sebagai dalil terhadap mereka, padahal mereka telah memperisapkan semua jawabannya? mereka tahu apa yang bisa membuat saya malu, takut dan gelisah. mereka bisa menyebut satu persatu dosa-dosa saya di masa silam, bermaksud mempermalukan saya dengan dosa-dosa itu, membuat mental saya down dan tertunduk malu. dengan cara itulah mula-mula para setan ini mencoba menguasai diri saya.

setan2 dari bangsa jin yang ditugaskan menggoda manusia, memang disesuaikan dengan keilmuan dan keahlian manusia tsb.

tapi saya masih yakin, hal2 apa yang terpikirkan oleh manusia, selama hal itu belum pernah diwujudkan dalam bentuk tulisan, perkataan, atau pun perbuatan, maka apa yang terpikirkan tsb masih lah merupakan barang ghaib bagi makhluk lain walau dari bangsa jin sekalipun.
yang bisa diketahui oleh para jin tsb hanyalah apa2 yang pernah kita lakukan, ucapkan, atau tuliskan. selebihnya tidak.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #12 pada: Pebruari 05, 2013, 12:08:15 PM »
Kutip dari: sandy
tapi saya masih yakin, hal2 apa yang terpikirkan oleh manusia, selama hal itu belum pernah diwujudkan dalam bentuk tulisan, perkataan, atau pun perbuatan, maka apa yang terpikirkan tsb masih lah merupakan barang ghaib bagi makhluk lain walau dari bangsa jin sekalipun.
yang bisa diketahui oleh para jin tsb hanyalah apa2 yang pernah kita lakukan, ucapkan, atau tuliskan. selebihnya tidak.


begitu ya kang? :)
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #13 pada: Pebruari 05, 2013, 12:19:30 PM »
begitu ya kang? :)

tapi saya masih yakin, hal2 apa yang terpikirkan oleh manusia, selama hal itu belum pernah diwujudkan dalam bentuk tulisan, perkataan, atau pun perbuatan, maka apa yang terpikirkan tsb masih lah merupakan barang ghaib bagi makhluk lain walau dari bangsa jin sekalipun.
yang bisa diketahui oleh para jin tsb hanyalah apa2 yang pernah kita lakukan, ucapkan, atau tuliskan. selebihnya tidak.

perbuatan yang saya maksud, bisa jadi hanyalah perbuatan mimik muka atau gerak gerik kecil tubuh yang bisa menggambarkan apa yang kita fikirkan. yang gambaran ini sering tidak tertangkap dan tidak disadari oleh indera yang tidak terlatih.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Berdebat Dengan Para Dewa
« Jawab #14 pada: Pebruari 05, 2013, 12:32:04 PM »
bukankah pikiran itu sendiri merupakan perbuatan.

perbuatan manusia itu diwujudkan dalam bentuk pikiran, perkataan dan perbuatan tubuh. benar atau tidak kang?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 
The following users thanked this post: shekinah

 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
3287 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2013, 11:02:53 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
3499 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 18, 2013, 12:33:53 PM
oleh Awal Dj
2 Jawaban
2108 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 24, 2015, 04:55:17 PM
oleh gumalta
4 Jawaban
1012 Dilihat
Tulisan terakhir November 14, 2013, 03:56:41 PM
oleh kang radi
1 Jawaban
1301 Dilihat
Tulisan terakhir September 29, 2014, 10:27:28 PM
oleh aten
1 Jawaban
2258 Dilihat
Tulisan terakhir November 25, 2015, 11:04:32 PM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
995 Dilihat
Tulisan terakhir April 24, 2015, 09:06:15 PM
oleh hamaslover
0 Jawaban
501 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 20, 2015, 12:46:10 AM
oleh Bennyamin
0 Jawaban
224 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 27, 2016, 04:20:30 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
475 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 02, 2016, 07:29:55 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan