Penulis Topik: Taqiyah Logika  (Dibaca 525 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Taqiyah Logika
« pada: Maret 27, 2015, 08:09:18 AM »
Kutip dari: hamaslover;2324787
Mohon maaf nimbrung dikit. Saya hanya ingin sedikit berbagi pengalaman.

Saya pernah melakukan eksperimen ketika berdiskusi dengan Nasrani, ringkasnya begini.

Pertama

Saya bereksperimen, dalam diskusi tersebut saya membawakan ayat-ayat Al-Quran terkait Yesus A.S dan Maryam A.S. Hasilnya Nasrani tersebut langsung menolaknya, karena dia tidak beriman kepada Al-Quran. Akhirnya saya kesulitan membantu orang tersebut memahami kebenaran yang saya yakini.

Kedua

Saya bereksperimen berdiskusi dengan orang Nasrani yang berbeda dari objek eksperimen pertama. Dalam diskusi tersebut saya berargumentasi secara ilmiah/logis (setidaknya berusaha ilmiah). Dan hasilnya saya berhasil memberikan pemahaman yang diimaninya sebagai kebenaran sampai pada tahap bahwa Yesus A.S adalah seorang Nabi yang diutus, tidak kurang dan tidak lebih.

Pada eksperimen kedua, sebenarnya saya juga mengkutip ayat" Al-Quran. Tetapi saya tidak mengatakannya kepada orang Nasrani bahwa yang saya sampaikan tersebut adalah ayat-ayat Al-Quran.

Selain itu saya juga pernah mencoba berdiskusi dengan orang yang anti logika. Dalam diskusi tersebut saya berargumen dengan tetap berusaha semaksimal mungkin tidak keluar dari aturan" berpikir tepat (Logika). Tetapi dalam diskusi tersebut kata "logika", "logis", "fallacy", dan istilah" lainnya dalam ilmu logika tidak pernah keluar dari mulut saya atau setidaknya saya berusaha semaksimal mungkin menghindari ucapan tersebut, karena lawan diskusi saya adalah seorang yang anti logika. Alhamdulillah diskusipun berjalan lancar.

Ya, itu namanya Taqiyah. atau, saya menamainya Taqiyah Logika.

Karena saya rasa Anda memiliki rasa hormat pada saya dan juga menyampaikannya atas niat baik, maka saya sampaikan rasa terima kasih atas masukan Anda.

Tetapi, ... bila saya masih menggunakan cara-cara saya, mohon tidak ditafsirkan bahwa saya tidak mengindahkan saran dan masukan dari Anda. Tapi karena saya mempunyai alasan-alasan tertentu yang mungkin belum Anda fahami.

Salah satu guru saya berkata, "Yang kita inginkan bukanlah mematahkan argumentasi orang lain yang kemudian patah pula hatinya, sehingga walaupun kebenarannya mereka akui, tetapi mereka tidak mau mengikuti kita." saya sadar betul, bahwa saya tidak hanya gemar mematahkan argumen dengan logika, tapi juga bersama patahnya argumen itu, orang jadi patah hati pula. he..he...

Abu Zahra seringkali mengingatkan saya, agar ketika membahas persoalan agama agar tidak menyebut-nyebut kata "syiah". beliau berkata, "Sudah jelas, kata pak Athian Ali juga syiah itu sesat". dan kadang beliau berkata, "Jangan jualan syiah, kita ini tidak jualan syiah." Dan bahkan, saking Taqiyahnya, beberapa ulama syiah menyarankan untuk tidak terlalu sering menyebut-nyebut nama imam Ali bin Abi Thalib. Sebab, banyak orang yang kalo mendengar seseorang banyak menyebut-nyebut Ali bin Abi Thalib, maka akan mengidentikannya dengan "syiah sesat". mereka berkata, "katakan saya `sahabat nabi yang paling dekat` atau `sepupu nabi`, atau `menantu nabi saw`". Dengan cara itu, syiah dapat diterima oleh masyarakat luas. lihat contohnya pesantren-pesantren syiah yang sudah berdiri dari sabang sampai merauke, hingga belasan tahun penduduk setempat tidak pernah nyadar kalo pesantren itu berbasis syiah. Bahkan orang-orang telah menjadi syiah tanpa dia sadari.

Tidak jauh beda dengan ilmu logika atau Aristotelism. Untuk berbicara menggunakan logika, tentu saja tidak harus menyebutkan istilah-istilah "logika", "fallacy" dan lain sebagainya, bahkan sebenarnya ilmu logika yang disusun Aristoteles tidaklah diperlukan. Karena, logika sudah ada pada akal setiap manusia. Logika hanyalah Hukum Akal Sehat yang dieksplisitkan. Para Nabi dan Para Imam, serta orang-orang yang suci sudah pasti menggunakan Logika tanpa menggunakan istilah "logika", "term", "fallacy" dan sebagainya. Tetapi, kemudian bila buku logika karya Aristoteles disebarkan ke seluruh dunia, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan istilah-istilahnya di gunakan dalam seluruh bidang ilmu pengetahuan, bukanlah tanpa sebab, melainkan ada sebab-sebab yang mengharuskannya. Demikian pula halnya saya, bila terlihat bersikukuh mempergunakan teori dan istilah-istilah Aristoteles dalam bidang Logika, itu bukan karena ketidak-tahuan terhadap metoda diskusi yang baik seperti yang Anda kemukakan, bukan pula karena mengikuti emosi atau kemauan, tapi karena ada sebab-sebab yang mengharuskannya yang mungkin belum Anda fahami. Tapi, saya menghargai sepenuhnya masukan dari Anda.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
6 Jawaban
2656 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 12, 2013, 04:22:24 PM
oleh Kang Asep
27 Jawaban
7936 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 04, 2015, 08:29:10 PM
oleh Ziels
17 Jawaban
5156 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 03, 2013, 11:13:50 AM
oleh Abu Hanan
4 Jawaban
1957 Dilihat
Tulisan terakhir April 05, 2013, 08:23:41 PM
oleh Sandy_dkk
6 Jawaban
1920 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 08, 2013, 10:43:59 PM
oleh Kang Asep
Taqiyah

Dimulai oleh ratna Kajian Islam

1 Jawaban
859 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 14, 2013, 08:09:15 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
843 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 25, 2015, 09:46:36 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
769 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 03, 2015, 05:36:14 AM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
537 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 15, 2015, 08:04:31 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
295 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2017, 11:06:59 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan