Penulis Topik: memilah kepastian  (Dibaca 1143 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
memilah kepastian
« pada: Pebruari 20, 2013, 11:23:52 AM »
Untuk dapat berpikir benar, tidak hanya diperlukan pengetahuan tentang teori-teori logika belaka, tapi juga butuh kemampuan mental seperti ketenangan, kejernihan pikiran, dan konsentrasi. Bahkan bagi meditator, berpikir berarti membangun faktor-faktor mental positif ini di dalam dirinya, bukan semata-mata suatu jalan untuk melahirkan pengetahuan, atau mengubah kondisi dari tidak tahu menjadi tahu.

Saat ini, masyarakat dihadapkan kepada munculnya berbagai mazhab Agama yang menjelaskan teori-teori agama yang baru dan asing, mendorong masyarakat bergerak dari thesis, ke antithesis hingga menemuukan sinthesis, sehingga masyarakat harus berpikir keras memutar otak untuk memahami, memikirkan, menimbang, menyimpulkan dan memutuskan, mazhab agama mana yang benar dan patut untuk diikuti.

Tetapi, seringkali ajaran mazhab-mazhab agama itu bersifat misterius atau mengandung misteri-misteri yang sulit dipecahkan oleh pikiran manusia. Contohnya mengenai konsep mesinisme yang diyakini oleh seluruh agama-agama besar di dunia. Terhadap konsep ini, tidak mudah bagi pikiran kita untuk menimbang benar salahnya. Demikian pula ketika kita dihadapkan kepada konsep mazhab syiah imamiyah yang meyakini bahwa sang mesiah telah lahir ke dunia, yaitu Muhammad al Mahdi bin Hasan al Askari. Kita tidak bisa begitu saja menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang salah atau benar, sebelum kita menyelami seluruh argumentasinya. Tetapi ketika kita mencoba menyelami argumentasinya, itu akan membentuk rantai argumentasi yang panjang, yang meyulitkan pikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan akhir yang pasti, sehingga agama selalu menjadi sesuatu “yang belum difahami sepenuhnya” atau menjadi seperti “misteri yang tek pernah terpecahkan selama hayat dikandung badan”. Tentu hal ini akan menjadi sesuatu yang melelahkan, bila si pencari kebenaran berusaha mencapai kesimpulan seperti pelari yang mencoba garis finish, yang sayangnya garis finish tersebut tidak pernah kelihatan, sehingga ia terus belari, berlari dan berlari tak kunjung henti.

Dalam berpikir, meditator tidak “kelelahan mental” atau “keputus asaan” karena suatu misteri mazhab yang tidak terpecahkan. Karena apabila proses berpikir tadi telah membangun kemampuan-kemampuan mental positif di dalam dirinya, berarti proses berpikir tersebut telah mencapai tujuannya. Munculnya ketenangan, lenyapnya keragu-raguan, dan menyingkirnya kebingungan, inilah faktor-faktor mental yang dibangun oleh meditator.

Ketika seseorng dihadapkan kepada pertanyaan, “Dimanakah sekarang imam Mahdi berada?” pertanyaan ini, bisa disebabkan dan bisa mengakibatkan keraguan tentang dan terhadap kebenaran adanya Imam Maksum pada setiap zaman. Keraguan ini bisa merupakan keraguan yang benar, bila ia bersifat intelektual, tapi merupakan penyakit bisa ia merupakan persoalan mental.

Kemampuan memililah antara kepastian dan ketidak pastian, persoalan yang wajibm mustahil dan yang mungkin, muncul dari faktor mental “kejernihan pikiran”. Orang yang memiliki kejernihan pikiran ini, tidak berpijak pada keragu-raguan hatinya tentang sesuatu, tetapi pada objek pengetahuan yang pasti. Sebagai contoh dalam mensikap keyakinan adanya imam Mahdi yang telah terlahir itu, tidaklah perlu hati kita menjadi ragi-ragu. Kalau memang, kita tidak mempunyai argumentasi yang melahirkan kepastian keberadaan imam Mahdi saat ini, hendaknya kita berpikir bahwa “Adanya imam Mahdi yang telah terlahir itu merupakan hal yang tak pasti bagi saya. Tapi yang pasti, ulama-ulama syiah dan kaumnya meyakini bahwa Imam Mahdi telah terlahir ke dunia dan menjadi pemimpin mereka.” Ini berarti memilah antara kepastian dan ketidak pastian.

Setelah memilah, mana yang pasti dan mana yang tidak pasti, maka kita akan tahu, kemana pikiran kita seharusnya berpijak, yaitu kepada kepastian. Maka sebaiknya kita jangan kehilangan pijakan karena kita bernafsu untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang kita ajukan, “di manakah sekarang Imam Mahdi bersembunyi?” Yang pati kita tidak tahu di mana Imam Mahdi bersembunyi, apa tujuannya, apa sebabnya, dan memperoleh jawaban dari pertanyaan tersebut tidak lebih penting dari pada menjawab “hal-hal apa saja yang merupakan kepastian bagi kita, dan apa yang bukan kepastian?”

Sesekali, mungkin kita ingin menafikan keberadaan Imam Mahdi. Tapi kita tidak mempunyai argumentasi yang logis untuk mengingkari keberadaannya. Di sisi lain, kita juga tidak mempunyai argumentasi logis untuk memastikan keberadaannya. Ketika pikiran disandarkan kepada kehendak untuk menyangkal dan membenarkan, tanpa secara jernih dan objektif melihat hal pasti dan tidak pasti, maka disitulah terjadi penderitaan mental. Oleh karena itu, jika memang tidak memiliki argumentasi pasti untuk menyangkal atau membenarkan keberadaannya, maka hal paling tepat untuk menjadi sandaran pikiran kita adalah kepastian akan ketidak tahuan diri, dan pengetahuan tentang sumber mana yang meyakini adanya Imam Mahdi saat ini, dan sumber mana yang menyangkalnya. Dengan cara demikian, hati kita tidak dipersulit dan pikiran tidak dikeruhkan oleh keinginan pribadi.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
999 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 12, 2013, 02:21:36 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
431 Dilihat
Tulisan terakhir September 24, 2014, 04:18:43 PM
oleh Abimanyu
2 Jawaban
717 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 26, 2015, 07:21:52 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
873 Dilihat
Tulisan terakhir April 07, 2015, 09:27:08 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1052 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 19, 2016, 12:57:31 AM
oleh Kang Erik
0 Jawaban
566 Dilihat
Tulisan terakhir April 03, 2016, 12:29:58 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
491 Dilihat
Tulisan terakhir November 18, 2016, 08:21:34 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan