Penulis Topik: Fokus Pada Tujuan Belajar  (Dibaca 466 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9465
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 472
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Fokus Pada Tujuan Belajar
« pada: November 16, 2014, 02:04:37 PM »
Sekarang, walaupun saya sudah bekerja dan berpenghasilan cukup, tetapi keinginan untuk belajar tidak pernah mati. Kehendak untuk terus menggali ilmu pengetahuan fitrah alami yang selalu ada selama hayat dikandung badan. Ini bukti bahwa tujuan belajar bukanlah sekedar agar kita dapat bekerja dan berpenghasilan. Jika tujuannya sekedar untuk bisa bekerja, niscaya semangat belajar akan mati setelah kita memperoleh pekerjaan yang kita butuhkan. Jadi, sekarang untuk apa lagi saya belajar ?

Selama hidup, kita menghadapi problem-problem yang butuh penyelesaian. Untuk menyelesaikan problem-problem itu, kita butuh pengetahuan. Oleh karena itu kita butuh untuk terus belajar. Dengan demikian, pengetahuan mana yang kita butuhkan bergantung kepada masalah apa yang kita hadapi, yang ingin kita atasi. Tentu saja, hal ini berbeda bagi masing-maing orang sehingga menimbulkan perbedaan minat kepada bidang ilmu pengetahuan yang ingin dipelajari.

Belajar butuh fokus pada tujuan, bukan sekedar belajar untuk menina-bobokan kita dari problem kehidupan, seperti Sadako, gadis Jepang dengan seribu bangau kertas. Sebagimana dikatakan Socrates, berfilsafat memang merupakan terapi hidup sehari-hari, lebih mujarab dari obat penenenang untuk dapat menenangkan hidup kita yang gelisah. Tapi jika berfilsafat ditujukan hanya untuk itu, maka kita akan menjadi seperti musafir yang kehilangan arah tujuan, yang hanya berjalan, berjalan dan terus berjalan tanpa ada suatu tempat yang hendak dicapai. Akankah kita belajar dengan cara seperti itu ?

Problem yang telah saya lihat, dan saya rasakan sangat penting untuk diselesaikan adalah problem agama dan filsafat. Saya selalu prihatin dengan kehidupan umat manusia yang tersesat karena mereka diajari agama yang sesat, sehingga mereka membentuk kekuatan-kekuatan organisasi yang sesat dan mengajak orang-orang lain kepada jalan yang sesat. Tetapi, tentu saja mereka mengaku sebagai orang yang benar, kelompok yang benar dan menganut ajaran yang benar. Dan bahkan sebaliknya, sayalah yang mereka tuduh sesat. Seolah-olah soal tuduhan “sesat” ini merupakan sesuatu yang subjektif. Lalu munculah sebuah pertanyaan, siapakah yang sebenarnya sesat “saya” atau “mereka” ? Dengan cara apa hal ini dapat dibuktikan dan siapa yang akan menjadi hakimnya ? inilah pertanyaan penting yang akhirnya menentukan, pengetahuan apa saja yang saya minati untuk dipelajari.

Logika adalah ilmu pengetahuan yang dapat menjamin saya dari kesesatan berpikir. Dengan logika itu, saya mencoba menguraikan benang kusut dalam agama dan filsafat, menyelesaikan problem orang-orang, membuktikan kebenaran sebuah keyakinan dan membantu orang-orang yang tersesat untuk sadar dengan kesesatannya. Dan untuk ini, saya tidak bisa hanya belajar sekedar belajar, tapi harus belajar dengan semangat. Sayapun tidak dapat sekedar mempraktikan ilmu logika, tapi dengan penuh perjuangan yang besemangat. Hal ini, sangat berbeda dengan mayoritas  mahasiswa yang belajar ilmu logika di jurusan filsafat, yang belajar logika sekedar untuk mendapat nilai, atau sekedar untuk tahu belaka. Semangat mereka mejadi rapuh karenanya, dan bahkan raib tanpa bekas dari batinnya setelah masa kuliah berlalu. Ilmu logika tidak teraplikasikan oleh mereka dalam kehidupan sehari-hari.


Setelah belajar ilmu logika, lalu saya maju ke “medan perang” untuk mengalahkan musuh logika, yaitu “kebodohan nalar”. Jika saya tidak maju ke “medan perang”, maka saya tidak akan tahu, apakah lagi yang mesti saya pelajari dari ilmu logika. Tapi berlandas kepada pengalaman di “mendan perang”, maka saya mengetahui, hal-hal apa saja yang perlu saya pelajari selanjutnya dari logika. Saya jadi sadar, apa yang belum saya fahami dan apa yang sudah saya fahami tapi belum terampil saya terapkan sebagai senjata untuk menghadapi musuh. Fokus pada tujuan belajar, dengan cara itulah kemudian saya membangun semangat belajar.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
9 Jawaban
12934 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 23, 2013, 03:12:25 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
1009 Dilihat
Tulisan terakhir November 04, 2013, 07:26:15 AM
oleh Kang Asep
9 Jawaban
4939 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 10, 2015, 11:59:52 PM
oleh kang radi
4 Jawaban
1700 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 22, 2014, 11:34:34 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1578 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 22, 2014, 09:23:54 AM
oleh kang radi
0 Jawaban
493 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 24, 2015, 01:38:08 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
456 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2015, 12:26:00 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1060 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 13, 2015, 05:52:01 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1127 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 27, 2016, 07:51:38 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
260 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 26, 2016, 07:54:50 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan