Penulis Topik: Benar, tapi salah  (Dibaca 941 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Benar, tapi salah
« pada: Juli 20, 2013, 07:46:48 AM »
Kepada Haji Muhammad Abdullah (HMA),

 

Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena saya bermaksud mengkritik Anda. saya belum mengetahui, apakah Anda orang yang menerima kritikan atau tidak, apakah Anda orang yang wellcome terhadap masukan atau tidak. Setelah ini, mungkin saya akan mengetahuinya.

 

Penilaian dan kritikan saya terhadap Anda adalah bersifat subjektif, yang belum tentu benar, tapi juga belum tentu salah. Jika tidak karena berharap suasana diskusi myquran yang lebih baik, dan jika saya tidak menyayangi dan menghormati Anda, niscaya saya tidak akan menyampaikan penilaian, kritik dan saran saya ini. Apabila penilaian dan kritikan saya salah, saya minta maaf kepada Anda dan mohon ampunan kepada Allah. Tapi apabila benar, maka semoga Anda bisa menjadi orang yang lebih baik lagi.

 

Tentu saja, sayapun sebagai manusia, punya banyak salah dan dosa. Saya hanyalah manusia yang bodoh dan hina, tapi bermaksud menyampaikan kritikan dengan segala kebodohan saya ini. Oleh karena itu, jika kemudian Anda  ingin membalas penilaian saya dengan menilai saya, silahkan! Jika ingin membalas kritikan saya dengan mengkritik saya, silahkan! Saya nantikan, penilaian, kritik dan saran dari Anda, semoga bisa membuat saya menjadi manusia yang lebih baik dan pintar.

 

Pendahuluan

 

Dalam logika, suatu essensi dan nilai sebuah proposisi itu adalah “benar” atau “salah”. Mustahil sebuah proposisi mempunyai nilai ganda, yaitu “benar” dan “salah”. Adapun sebuah pertanyaan, tidak pernah bernilai benar maupun salah. Tapi dalam etika dan estetika, sebuah pertanyaan bisa bernilai salah. Sebagai contoh, pertanyaan “Apakah Anda mencuri dompet saya?” kalau pertanyaan ini ditanyakan kepada seorang terdakwa dalam sidang pengadilan, mungkin pertanyaan tersebut baik untuk diajukan. Tapi bagaimana kalau ada sepasang kekasih sedang makan malam disebuah restoran, lau kita menghampirinya dan bertanya kepada si pria, “Apakah Anda telah mencuri dompet saya?” Anda pasti bahwa hal itu salah, dan sudah bisa memperkirakan bagaimana reaksi sepasang kekasih itu. Pertanyaan tidak pernah salah, tapi penempatannya bisa salah. Kita harus sadar ini. Kenapa? Karena banyak orang yang suka menempatkan pertanyaan secara keliru.

 

Bayangkan, Anda punya seorang atasan wanita yang cantik. Tiba-tiba di kantor, ketika pagi-pagi Anda bertemu dia, tiba-tiba Anda bertanya, “Bu, apa tadi malam ibu bermasturbasi?” mungkin Anda akan ditamparnya. Oleh karena itu, kalau bertanya, jangan asal bertanya, perhatikan situasi dan kondisinya, ajukan pertanyaan yang memang penting untuk ditanyakan, dan kalau bisa harus menyenangkan.

 

Demikian pula dengan sebuah kalimat. Kalimat yang menurut logika adalah kalimat yang benar, bisa salah menurut etika dan estetika bila diucapkan atau disampaikan pada situasi dan kondisi yang tidak tepat atau bahkan untuk tujuan yang batil. Sehingga dikatakan “kalimat itu benar tapi salah”. Sebagaimana kaum khawarij yang berkata, “Laa hukma ilallah” (tiada hukum selain Allah) dengan maksud untuk menentang Ali bin Abi Thalib. Imam Ali berkata, “Kalimatnya benar, tapi untuk tujuan yang batil. Memang tidak ada hukum selain hukum Allah, tapi al Quran butuh penafsir.”

 

Kesalahan-kesalahan penempatan pertanyaan dan kalimat-kalimat secara etika dan estetika, sangat sering pula terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita saat ini. Keyakinan adalah hak setiap orang. Mempromosikan keyakinan juga merupakan hak setiap orang. Saya menghormati keyakinan kaum wahabi yang menganggap tahlilan itu hal yang bid`ah. Tapi saya tidak menaruh hormat, apabila keyakinan tersebut didakwahkan dengan cara frontal. Contoh, bagaimana kiranya bila seorang wahabi tiba-tiba datang pada sekumpulan orang yang sedang bertahilan, lalu berkata, “Lagi pada ngapain kalian ngumpul di sini? Ini bid`ah tahu! Bubar! Bubar!” Anda pasti tahu, bahwa itu adalah adalah cara yang salah. Ini hanya perumpamaan, bukan kejadian sebenarnya. Tapi kejadian yang sebenarnya, cara-cara seperti itu banyak dilakukan oleh banyak orang diantara kita, bukan hanya oleh kaum wahabi, tapi juga oleh mazhab-mazhab lainnya termasuk mazhab syiah. Coba saja perhatikan!

 

Penilaian, Kritik dan Saran pada HMA

 

Tulisan saya ini, terinspirasi oleh postingan Haji Muhammad Abdullah (HMA) di myquran.org yang saya pandangan kalimat-kalimatnya itu benar.- Benar di sini berdasarkan Quran dan Hadits menurut tafsir syiahisme - . walaupun begitu, penempatan kalimat-kalimat yang disampaikannya seringkali tidak benar, kurang memperhatikan etika dan estetika, dan bahkan saya menyebut postingan HMA bersifat egois, asal senang sendiri, seperti mastsurbasi. Dakwah HMA di myquran, sepertinya melestarikan perselisihan.

 

Penilaian dan kritkan saya tentu tidak menyenangkan bagi HMA, juga bersifat subjektif, dan belum tentu benar, tapi juga belum tentu salah. Tapi perlu saya kemukakan, perlu saya sampaikan, karena barangkali bisa bermanfaat bagi saya sendiri, bagi pak Haji dan bagi member yang lainnya. Sebenarnya saya berharap HMA mengubah cara dakwahnya kepada cara dakwah yang lebih baik lagi. Oleh karena itu, apabila penilaian saya salah, saya mohon maaf kepada pak HMA dan juga meminta ampun kepada Allah. Tapi apabila penilaian saya benar, semoga HMA mau mengubah ke cara yang lebih baik. Banyak member lain yang jauh lebih buruk dalam cara diskusinya, tapi saya lebih memilih mengkritik HMA, karena saya menganggap HMA saudara saya, dan saya menghormatinya. Jikalau tidak berlandas kepada kasih sayang, tentu saya tidak akan mempedulikan dia.

 

Haji Muhammad Abdullah adalah member myquran.org bermazhab syiah. Sejak lama dia selalu menebarkan syiahisme, dan memperoleh perlawanan sengit dari para member lain. Dari tahun ke tahun, tampaknya HMA tidak belajar dari pengalaman, bahwa cara diskusi seperti itu tidak pernah membuahkan hasil. Mungkin saja kita menemukan satu dua orang yang menerima dan tercerahkan oleh tulisan-tulisan HMA, tapi di sisi lain, saya rasa, postingan-postingan HMA malah mendorong orang untuk semakin membenci syiah dan ajarannya. Jika benar, tentu ini merugikan HMA sendiri dan komunitas syiah pada umumnya.

 

“Kepada Saudara Fulan yang pintar dan terhomat”, itu adalah style diskusi pak Haji. Sebuah pembukaan yang menyenangkan. Tapi seringkali di susul dengan kata “Antum malas membaca al Quran.” Pernyataan yang tidak menyenangkan. Lalu menguraikan kelemahan-kelemahan kaum sunni dan menguraikan keutamaan-keutamaan kaum syiah. Tidak menyenangkan lagi. Kalau dari sisi sunni, dari 10 pernyataan, tampaknya hanya 1 yang menyenangkan, dan 9 pernyataan tidak menyenangkan.

 

Nah, perhatikan contohnya :

 

Kutip dari[1] : HMA

============================================

Kepada Andirja yang pintar dan yang terhormat

============================================

 

Tapi sebelumnya :

===========================================

Sok Suci

===========================================

 

Sesudahnya :

===========================================

Iblis menghina seorang Muslim yaitu nabi Adam satu kali, kemudian Allah langsung menghukum Iblis, kerena kesombongan Iblis sendiri.

 

 

Antum rajin menghina Kaum Syiah, karena antum tidak suka kepada Kaum Syiah, sehingga antum berulang-ulang menghina Kaum Syiah, karena kebencian antum kepada Kaum Syiah, kesombongan antum jauh lebih teruk dari pada kesombongan Iblis.


============================================

Tentu saja, postingan HMA ini merupakan reaksi dari postingan Andirja yang juga mungkin dipadang tidak menyenangkan oleh HMA :

 

Kutip dari : Andirja

===========================================

Sebagian myQer Syiah ada yang menyebut Wahabi dengan sebutan :

- sebagian Suni

- Suni takfiri

- Suni ekstrem

- Suni radikal

- Suni teroris

 

 

Kalo gw bilang, sebutlah mereka Wahabi atau salafiwahabi atau wahabisalafi.


============================================

 

Tidak terlihat Andirja menghina kaum syiah, melainkan hanya “meminta” kaum syiah untuk tidak menyebut wahabi sebagai “sunni”. Tapi bagaimana HMA lalu menafsirkannya sebagai penghinaan? Kemungkinan akibat dari kesan postingan Andirja pada thread-thread sebelumnya, sehingga hal-hal yang sebenarnya tidak menghina pun dirasakan oleh HMA sebagai bentuk penghinaan. Inilah akibat menjalin diskusi dengan cara yang tidak sehat.

 

“Balaslah keburukan dengan kebaikan!” inilah pesan yang ingin saya sampaikan pada HMA. Kalau kita membalas keburukan dengan keburukan, maka di mana kelebihan mazhab syiah dari mazhab sunni yang selalu disangkal oleh HMA sendiri? ketika Qanbar, pembantu imam Ali, hendak membalas caci maki orang lain terhadap nya, Imam Ali mencegahnya, “Jangan membalasnya! Diamlah! Karena orang bodoh akan merasa tersiksa, apabila ia tidak dijawab.” Kenapa HMA tampaknya kurang memperhatikan pesan Imam Ali kepada Qanbar, yang sebenarnya untuk kita?

 

Sebenarnya, apa tujuan HMA berdakwah di myquran? Untuk membela syiah kah? Untuk menyangkal kebohongan-kebohongan sunni terhadap kaum syiah? Apabila HMA tidak menyadari bahwa menurut sebagian orang, post-postnya itu malah membuat citra syiah semakin buruk? Apakah pula tidak menyadari bahwa penyangkalan-penyangkalan HMA membuat orang lain semakin bersemangat mengungkapkan hal-hal buruk tentang syiah?

 

Sekarang ini, ada ribuan umat syiah yang membutuhkan pembinaan, membutuhkan orang berilmu seprti HMA. Ada banyak majelis syiah yang terlantar, karena kekurangan tenaga Mubaligh. Mereka adalah kaum yang akan senang hati dengan ilmu yang dibagikan oleh HMA, mereka membutuhkan ilmu dari HMA, tapi mengapa HMA tampaknya malah bersikukuh mengajari orang-orang yang tidak merasa membutuhkan ilmu dari dia? Jadi, apa sebenarnya motivasinya? Bagaimana kiranya seroang bapak yang punya anak yang sangat membutuhkan bimbingannya dalam belajar, tapi bapaknya malah sibuk berdebat dengan orang-orang yang tidak menyukainya, akibatnya prestasi si anak merosot jauh, dan bahkan hingga tidak naik kelas? Bagaimana kalau ribuan umat syiah membutuhkan bimbingan yang serius dari para ulamanya, tapi para ulamanya sibuk berdebat dengan wahabi yang tidak butuh kepada ilmu syiah? Apakah pantas?

 

Baik syiah, sunni maupun wahabi, tidak seorangpun yang bisa menjamin dirinya akan mendapat ridha Allah dan pasti masuk sorga, melainkan hanya bermodal pada keyakinan dan harapan bahwa dirinya memperoleh ridha Allah dan kelak masuk sorganya Allah. Lalu, bagaimana bisa kaum syiah menyombongkan diri terhadap kaum sunni? Atau sebaliknya, bagaimana bisa kaum sunni menyombongan diri terhadap kaum syiah?

 

Diskusi adalah usaha saling membantu sesama untuk memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi atas dasar kasih sayang dan rasa hormat. Oleh karena itu, apabila tidak berpijak pada kehendak untuk saling membantu, dan tidak dilandasi oleh kasing sayang, mustahil diskusi akan terjadi, yang ada hanyalah perdebatan dan pertengkaran. Dan kemudian kalau memang kita membantu, hendaklah kita membantu orang yang kiranya bisa dibantu atau yang memang membutuhkan bantuan kita. Bagaimana kiranya bila kita bersikukuh ingin membantu seseorang, tapi yang dibantu bersikukuh enggan menerima bantuan kita, lalu kita marahi dia, dan dia balik memarahi kita, maka sebenarnya siapa yang bodoh, kita atau dia?

 

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan mengajari orang yang tidak mau belajar, untuk membantu orang yang tidak butuh bantuan. Bagaimana kiranya bila kita menemukan seribu orang yang ingin belajar, dan satu orang yang enggan belajar, dan kita malah mengejar yang satu orang itu, lalu kita bersikukuh untuk mengajarinya, bernafsu membuatnya mengerti sementara kita mengabaikan seribu orang yang sedang menunggu untuk kita ajari, bukankah ini sebuah kebodohan? Bagaimana bila kita menemukan seribu orang yang membutuhkan bantuan kita, tapi kita mengabaikannya, malah kita mengejar satu orang, memaksanya menerima bantuan dari kita, sampai dia jengkel, dan kita dongkol kepadanya, bukankah ini juga merupakan sebuah kebodohan? Saya kwahatir, diskusi-diskusi kita di forum online itu seperti orang yang mengejar yang satu, mengabaikan yang seribu. Yang kita katakan memang benar, ayat-ayat al Quran dan sabda-sabda nabi saw, tapi cara, tempat, situasi dan kondisinya tidaklah tepat. Benar, tapi salah.


[1] http://www.myquran.org/forum/index.php/topic,87279.msg2315743.html
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
2367 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 11, 2015, 10:53:55 AM
oleh Monox D. I-Fly
4 Jawaban
1347 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 29, 2012, 10:28:48 PM
oleh ratna
4 Jawaban
2160 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 02, 2013, 05:38:18 PM
oleh kang radi
3 Jawaban
1666 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 02, 2013, 10:24:53 PM
oleh Sandy_dkk
1 Jawaban
911 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 29, 2014, 03:15:05 PM
oleh Kang Asep
89 Jawaban
10496 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 31, 2015, 06:20:50 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
584 Dilihat
Tulisan terakhir September 10, 2015, 06:23:26 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
507 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 12, 2016, 08:40:07 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
323 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 31, 2016, 12:06:44 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
546 Dilihat
Tulisan terakhir September 16, 2016, 07:23:58 PM
oleh Sultan

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan